Anda di halaman 1dari 5

Percobaan dengan Kursi Barany

A. Pendahuluan
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan kesetimbangan tubuh ketika
ditempatkan di berbagai posisi. Definisi menurut OSullivan, keseimbangan adalah kemampuan untuk
mempertahankan pusat gravitasi pada bidang tumpu terutama ketika saat posisi tegak. Selain itu
menurut Ann Thomson, keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan tubuh dalam
posisi kesetimbangan maupun dalam keadaan statik atau dinamik, serta menggunakan aktivitas otot
yang minimal. Keseimbangan juga bisa diartikan sebagai kemampuan relatif untuk mengontrol pusat
massa tubuh (center of mass) atau pusat gravitasi (center of gravity) terhadap bidang tumpu (base of
support). Keseimbangan melibatkan berbagai gerakan di setiap segmen tubuh dengan di dukung oleh
sistem muskuloskleletal dan bidang tumpu. Kemampuan untuk menyeimbangkan massa tubuh
dengan bidang tumpu akan membuat manusia mampu untuk beraktivitas secara efektif dan efisien.
Keseimbangan terbagi atas dua kelompok, yaitu keseimbangan statis : kemampuan tubuh untuk
menjaga kesetimbangan pada posisi tetap (sewaktu berdiri dengan satu kaki, berdiri diatas papan
keseimbangan) serta keseimbangan dinamis adalah kemampuan untuk mempertahankan
kesetimbangan ketika bergerak.1,2
Komponen-komponen pengontrol keseimbangan adalah1 :
Sistem informasi sensoris
Sistem informasi sensoris meliputi visual, vestibular, dan somatosensoris.
a. Visual
Visual memegang peran penting dalam sistem sensoris. Cratty & Martin (1969) menyatakan
bahwa keseimbangan akan terus berkembang sesuai umur, mata akan membantu agar tetap
fokus pada titik utama untuk mempertahankan keseimbangan, dan sebagai monitor tubuh selama
melakukan gerak statik atau dinamik. Penglihatan juga merupakan sumber utama informasi
tentang lingkungan dan tempat kita berada, penglihatan memegang peran penting untuk
mengidentifikasi dan mengatur jarak gerak sesuai lingkungan tempat kita berada. Penglihatan
muncul ketika mata menerima sinar yang berasal dari obyek sesuai jarak pandang. Dengan
informasi visual, maka tubuh dapat menyesuaikan atau bereaksi terhadap perubahan bidang
pada lingkungan aktivitas sehingga memberikan kerja otot yang sinergis untuk mempertahankan
keseimbangan tubuh.
b. Sistem vestibular
Komponen vestibular merupakan sistem sensoris yang berfungsi penting dalam
keseimbangan, kontrol kepala, dan gerak bola mata. Reseptor sensoris vestibular berada didalam
telinga. Reseptor pada sistem vestibular meliputi kanalis semisirkularis, utrikulus, serta sakulus.
Reseptor dari sistem sensoris ini disebut dengan sistem labyrinthine. Sistem labyrinthine
mendeteksi perubahan posisi kepala dan percepatan perubahan sudut. Melalui refleks vestibulooccular, mereka mengontrol gerak mata, terutama ketika melihat obyek yang bergerak. Mereka
meneruskan pesan melalui saraf kranialis VIII ke nukleus vestibular yang berlokasi di batang otak.
Beberapa stimulus tidak menuju nukleus vestibular tetapi ke serebelum, formatio retikularis,
thalamus dan korteks serebri. Nukleus vestibular menerima masukan (input) dari reseptor
labyrinth, retikular formasi, danserebelum. Keluaran (output) dari nukleus vestibular menuju ke
motor neuron melalui medula spinalis, terutama ke motor neuron yang menginervasi otot-otot
proksimal, kumparan otot pada leher dan otot-otot punggung (otot-otot postural). Sistem vestibular
bereaksi sangat cepat sehingga membantu mempertahankan keseimbangan tubuh dengan
mengontrol otot-otot postural.
c.

Somatosensoris
Sistem somatosensoris terdiri dari taktil atau proprioseptif serta persepsi-kognitif. Informasi
proprioseptif disalurkan ke otak melalui kolumna dorsalis medula spinalis. Sebagian besar
masukan (input) proprioseptif menuju serebelum, tetapi ada pula yang menuju ke korteks serebri

melalui lemniskus medialis dan talamus. Kesadaran akan posisi berbagai bagian tubuh dalam
ruang sebagian bergantung pada impuls yang datang dari alat indra dalam dan sekitar sendi. Alat
indra tersebut adalah ujung-ujung saraf yang beradaptasi lambat di sinovia dan ligamentum.
Impuls dari alat indra ini darireseptor raba di kulit dan jaringan lain , serta otot di proses di korteks
menjadi kesadaranakan posisi tubuh dalam ruang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan1,2
a. Pusat gravitasi (Center of Gravity-COG)
Pusat gravitasi terdapat pada semua obyek, pada benda, pusat gravitasi terletak tepat ditengah
benda tersebut. Pusat gravitasi adalah titik utama pada tubuh yang akan mendistribusikan massa
tubuh secara merata. Bila tubuh selalu ditopang oleh titik ini, maka tubuh dalam keadaan seimbang.
Pada manusia, pusat gravitasi berpindah sesuai dengan arah atau perubahan berat. Pusat gravitasi
manusia ketika berdiri tegak adalah tepat di atas pinggang diantara depan dan belakang vertebra
sakrum ke dua. Derajat stabilitas tubuh dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu : ketinggian dari titik
pusat gravitasi dengan bidang tumpu, ukuran bidang tumpu, lokasi garis gravitasi dengan bidang
tumpu, serta berat badan.
b. Garis gravitasi (Line of Gravity-LOG)
Garis gravitasi merupakan garis imajiner yang berada vertikal melalui pusat gravitasi dengan
pusat bumi. Hubungan antara garis gravitasi, pusat gravitasi dengan bidang tumpu adalah
menentukan derajat stabilitas tubuh.
c.

Bidang tumpu (Base of Support-BOS)


Bidang tumpu merupakan bagian dari tubuh yang berhubungan dengan permukaan tumpuan.
Ketika garis gravitasi tepat berada di bidang tumpu, tubuh dalam keadaan seimbang. Stabilitas yang
baik terbentuk dari luasnya area bidang tumpu. Semakin besar bidang tumpu,semakin tinggi
stabilitas. Misalnya berdiri dengan kedua kaki akan lebih stabil dibanding berdiri dengan satu kaki.
Semakin dekat bidang tumpu dengan pusat gravitasi, mak astabilitas tubuh makin tinggi.
Aparatus vestibular merupakan organ sensoris untuk mendeteksi sensasi keseimbangan. Alat ini
terbungkus salam satu tabung tulang dan ruangan-ruangan yang terletak dalam bagian petrosus
(bagian seperti batu, bagian keras) dari tulang temporal, yang disebut labirin tulang. Di dalam sistem
ini terdapat tabung membran dan ruangan yang di sebut labirin membranosa yang merupakan bagian
fungsional aparatus vestibular.2
Labirin ini terdiri atas koklea (duktus koklearis), tiga kanalis semisirkularis dan dua ruangan besar
yang dikenal sebagai utrikulus dan sakulus. Koklea merupakan organ sensorik utama pendengaran
dan hampir tidak berhubungan dengan keseimbangan kanalis semirikularis, utrikulus dan sakulus,
semua ini merupakan bagian intragal dr mekanisme keseimbangan. Makula organ sensorik utrikulus
dan sakulus untuk mendeteksi orientasi kepala sehubungan dengan gravitasi. Makula pada utrikulus
terutama terletak pada bidang horizontal permukaan inferior utrikulus dan berperan penting dalam
menentukan orientasi kepala ketika kepala dalam posisi tegak. Sebaliknya, makula pada sakulus
terutama terletak dalam bidang vertikal dan memberikan sinyal orientasi kepala saat seseorang
berbaring. Setiap makula d tutupi oleh lapisan gelatinosa yang dilekati oleh banyak krista kalsium
karbonat kecil kecil yang di sebut statokonia, dalam makula juga didapati beribu-ribu sel rambut,
pangkal dan sisi sel-sel rambut bersinaps dengan ujung-ujung sensorik saraf vestibular. Dalam
aparatus vestibular terdapat kanalis semisirkularis, dikenal sebagai kanil semisrikularis anterior,
posterior dan lateral tersusun tegak lurus satu sama lain sehingga kanalis ini terdapat 3 bidang. 2
Bila kepala tunduk kira-kira 30 derajat ke depan, kanalis semirikularis lateral kira-kira aada pd
bidang horizontal sesuai dengan permukaan bumi, kemudian kanalis anterior ada pada bidang
vertikal yang arah proyeksinya ke depan dan 45 derajat ke luar, dan kanalis posterior ada pada
bidang vertikal yang berproyeksi ke belakang dan 45 derajat keluar. Pada setiap ujung kanalis

semisirkualris terdapat pembesaran yang disebut ampula, dan kanalis serta ampula ini terisi oleh
cairan yang disebut endolimfe. Aliran cairan melalui canalis dan ampulanya merangsang organ
sensorik. Pada puncak krista ini terdapat jaringan longgar massa gelatinosa, yang disebut kupula.
Bila seseorang mulai memutar ke suatu arah, inersia cairan didalam satu atau lebih kanalis
semisirkularis akan mempertahankan cairan agar tetap seimbang sementara kanalis semisirkularis
berputar searah dengan kepala. Hal ini menyebabkan cairan mengalir dari kanalis menuju ampula,
membelokkan kupula ke satu sisi. Putaran kepala dalam arah yang berlawanan menyebabkan kupula
berbelok ke sisi yang berlawanan. Kedalam kupula terdapat ratusan penjuluran silia dari sel-sel
rambut yang terletak pada sepanjang krista ampularis. Kinosilia sel-sel rambut ini semuanya
beorientasi ke arah sisi yang sama dalam kupula,dan pembelokkannya ke arah yang berlawanan
mengakibatkan hiperpolarisasi sel rambut.2
Kemudian, dari sel-sel rambut sinyal-sinyal yang sesuai dikirimkan melalui nervus vestibular
untuk memberitahu sistem saraf pusat mengenai perubahan perputaran kepala dan kecepatan
perubahan pada setiap tiga bidang ruangan. Setiap kepala berputar tiba-tiba,sinyal yang berasal dari
kanalis semisirkularis menyebabkan, mata berputar dengan arah yang berlawanan dengan arah
putaran kepala. Keadaan ini timbul akibat adanya refleks yang dijalarkaan melalui nuklei vestibular
dan fasikulus longitudinalis medial menuju nuklei okulomotor.2
B. TUJUAN PRAKTIKUM
a. Tujuan Instruksional Umum
1. Memahami peran mata dalam pengaturan sikap dan keseimbangan tubuh.
2. Memahami peran alat vestibular dalam pengaturan sikap dan keseimbangan tubuh.
3. Memahami dasar-dasar 3 cara pemeriksaan pendengaran dengan menggunakan garpu
tala (penala), dan interpretasinya.
b. Tujuan Prilaku Khusus
1.1 Menjelaskan peran mata dan kedudukan kepala dalam mempertahankan sikap dan
keseimbangan tubuh.
1.2 Mendemonstrasikan peran mata dan kedudukan kepala dalam mempertahankan sikap dan
keseimbangan tubuh.
2.1 Menjelaskan pengaruh percepatan sudut pada sikap dan keseimbangan tubuh.
2.2 Mendemonstrasikan pengaruh aliran endolimfe pada krista ampularis dengan
mengggunakan model kanalis semisirularisnya.
2.3 Mendemonstrasikan pengaruh percepatan sudut pada sikap dan keseimbangan tubuh
dengan menggunakan kursi Barany
1.1 Menjelaskan perbedaan hantaran udara dan hantaran tulang pada pendengaran.
1.2 Menjelaskan gangguan hantaran udara dan hantaran tulang pada pendengaran.
1.3 Mendemonstrasikan perbedaan hantaran udara dan hantaran tulang pada pendengaran
dengan 3 cara pemeriksaan menggunakan garpu tala.
1.4 Mendemonstrasikan gangguan hantaran udara dan hantaran tulang pada pendengaran
dengan 3 cara pemeriksaan menggunakan garpu tala.
1.5 Menjelaskan kesimpulan hasil 3 cara pemeriksaan ketajaman pendengaran dengan
menggunakan garpu tala.
C. Alat dan Bahan
1. Model kanalis semisirkularis
2. Tongkat atau statif yang panjang
3. Kursi Barany
4. Penala berfrekuensi 512 Hz
5. Kapas

D. Cara Kerja

a. Nistagmus
1. Perintahkan OP duduk tegak di kursi Barany dengan kedua tangannya memegang
erat lengan kursi.
2. Perintahkan OP memejamkan kedua matanya dan menundukkan kepalanya 30 o ke
depan
3. Putar kusi kekanan 10 kali dalam 20 detik secara teratur tanpa sentakan
4. Hentikan pemutaran kursi dengan tiba-tiba
5. Perintahkan OP untuk membuka mata dan melihat jauh kedepan
6. Perhatikan adanya nistagmus. Tetapkan arah komponen lambat dan komponen
cepat nistagmus tersebut
b. Tes Penyimpangan Penunjukan (Past Pointing Test of Barany)
1. Perintahkan OP duduk tegak dikursi Barany dan memejamkan kedua matanya
2. Pemeriksa berdiri tepat didepan kursi Barany sambil mengulurkan tangan kirinya ke
arah OP
3. Perintahkan OP meluruskan lengan kanannya ke depan sehingga dapat menyentuh
jari tangan pemeriksa yang telah diulurkan sebelumnya
4. Perintah kan OP mengangkat lengan kanannya ke atas dan kemudian dengan cepat
menurunkannya kembali sehingga menyentuh jari pemeriksa lagi
Tindakan #1 s/d #4 merupakan persiapan untuk tes yang sesungguhnya, sebagai
berikut:
5. Perintahkan OP dengan kedua tangannya memegang erat kuyrsi. OP menundukkan
kepala 30o ke depan
6. Putar kursi ke kanan 10 kali dalam 20 detik secata teratur tanpa sentakan
7. Segera stelah pemutaran, kursi dihentikan dengan tiba-tiba dan instruksikan OP
untuk menegakkan kepalanya dan melakukan tes penyimpangan seperti yang telah
disebutkan diatas (langkah #1 sampai #4)
8. Perhatikan apakah terjadi penyimpangan penunjukkan oleh OP. Bila terjadi
penyimpangan, tetapkanlah arah penyimpangannya. Teruskan tersebut sampai OP
tidak salah lagi menyentuh jari tangan pemeriksa
c. Tes Jatuh
1. Perintahkan OP duduk dikursi Barany dengan kedua tangannya memegang erat
lengan kursi
2. Tutup kedua matanya dengan sapu tangan dan tundukkan kepala dan bungkukkan
badannya kedepan sehingga posisi kepala membentuk sudut 120 o dengan sumbu
tegak
3. Putar kursi ke kanan 10 kali dalam 20 detik secara teratur tanpa sentakan
4. Segera setelah pemutaran kursi dihentikan dengan tiba-tiba, instruksikan OP untuk
menegakkan kembali kepala dan badannya
5. Perhatikan kemana dia akan jatuh dan tanyakan kepada OP itu kemana rasanya ia
akan jatuh
6. Ulangi tes jatuh ini, tiap kali pada OP lain dengan
a. Memiringkan kepala kearah bahu kanan sehingga kepala miring 90 o terhadap
posisi normal
b. Memiringkan kepala kearah bahu kiri sehingga kepala miring 90 o terhadap
posisi normal
c. Memiringkan kepala kearah belakang sehingga membuat sudut 60o terhadap
posisi normal
d. Hubungkan arah jatuh pada setiap percobaan dengan arah aliran endolimfe
pada kanalis semisirkularis yang terangsang

d. Kesan (Sensasi)
1. Gunakan OP lain. Perintahkan OP duduk di kursi Barany dan tutuplah kedua
matanya dengan saputangan
2. Putar kursi tersebut ke kanan dengan kecepatan yang berangsur-angsur pula
sampai terhenti

3. Tanyakan kepada OP arah perasaan berputar:


a. Sewaktu kecepatan putar bertambah
b. Sewaktu kecepatan putar menetap
c. Sewaktu kecepatan putar dikurangi
d. Segera setelah kursi dihentikan
4. Berikan keterangan tentang mekanisme terjadinya arah perasaan berputar yang
dirasakan oleh OP
E. Hasil

OP

Posisi Kepala

Jenis & arah


nistagmus
(komponen cepat)

Arah
penyimpangan
penunjukkan

Hendri Saputra

30o ke depan

+, kanan

Ke kanan

Sujono

60o ke belakang

Ke atas

Subhan

120o ke depan

Ke kanan

Jovi

Miring 90o ke bahu kanan

Ke kanan

Andri

Miring 90o ke bahu kiri

Ke kiri

Gerakan
kompensasi
(arah jatuh)
Ke kiri,
berlawanan
Ke kiri, searah
Ke kanan,
searah
Ke kanan,
searah
Ke kanan,
searah

Daftar Pustaka:
1

Ganong WF. 2005. Review of medical physiology. 22nd Ed. USA: The McGraw-Hill
companies.

Guyton AC, Hall JE. Textbook of medical physiology. 11th ed. Philadelphia: Elsevier. 2006.

Sensasi