Anda di halaman 1dari 27

ANALISI PROSES PEMBELAJARAN BAHSAN ARAB DI MTS ALHIDAYAH DENGAN TINJAUAN PSIKOLOGI BEHAVIORISTIK TAHUN

PELAJARAN 2014/2015
Proposal

Irman Abdurrahman Syakir


41032124091018

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB


Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Bahasa merupakan satu wujud yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
manusia, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa itu adalah milik manusia yang
telah menyatu dengan pemiliknya. Sebagai salah satu milik manusia, bahasa
selalu muncul dalam segala aspek dan kegiatan manusia. Tidak ada satu kegiatan
manusia pun yang tidak disertai dengan kehadiran bahasa. Sehingga definisi
bahasa pun sangat beragam seiring beragam sudut pandang yang dipakai, ibnu
Jinni mendefinisikan bahasa sebagai aswatun yuabbiru bihaa kullu qaumin an
agraadihim bunyi yang diekspresikan oleh semua kelompok masyarakat untuk
menyatakan maksud mereka, sedangkan para pakar linguistik mendefinisikan
bahasa sebagai satu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer (kebetulan), yang
digunakan

sekelompok

anggota

masyarakat

untuk

berinteraksi

dan

mengidentifikasi diri. Bahasa merupakan kebutuhan yang sangat fundamental bagi


setiap manusia karena selalu dipergunakan sehari-hari untuk berkomunikasi satu
sama lainnya. Oleh karena itu usaha-usaha untuk mengetahui dan menguasai
bahasa sangat ramai dibicarakan oleh para ahli bahasa di seluruh dunia., Busairi
(1994:24) Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa asing di dunia yang
tergolong sebagai bahasa yang tertua di dunia. Penggunaan bahasa Arab sebagai
bahasa komunikasi sudah ada sejak berabad-abad lampau. Dan pada tahun 1973
bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa resmi dalam lingkungan perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB), (Juwairia Dahlan,1992 :32)
Di samping itu pula, bahasa Arab digunakan sebagai alat pemersatu bagi umat
Islam sehingga banyak para ahli yang mengatakan bahwa bahasa Arab merupakan
bahasa Agama, bahasa persatuan dan bahasa ilmu pengetahuan. Sehubungan
dengan hal tersebut banyak lembaga pendidikan Islam yang memasukan bahasa
Arab kedalam kurikulum. Sehingga bahasa Arab menjadi bidang studi tersendiri
yang tidak kalah pentingnya dengan studi yang lain. Seiring dengan begitu
besarnya peranan bahasa Arab, Umar Asasuddin Sokkah di dalam bukunya
Problematika Pengajaran Bahasa Arab Dan Inggris mengatakan walaupun

sekarang sudah berkembang serta pandangan baru yang menempatkan bahasabahasa lain khususnya bahasa inggris sejajar dengan bahasa Arab dalam rangka
studi Islam namun hal ini tidak akan sampai menghilangkan arti pentingnya
bahasa Arab. Dengan kata lain bahwa sampai kapanpun umat Islam akan tetap
merasa berkepentingan dengan studi bahasa Arab, (Asokka 1982:98)
Pelajaran bahasa Arab di MTS AL-Hidayah merupakan salah satu pelajaran
utama karena ia mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi kelangsungan,
kelancaran, dan kemajuan pelajaran-pelajaran agama Islam seperti Fiqh, Akidah
Akhlak, Quran Hadist serta mata pelajaran agama yang lain.
Maka dalam hal ini MTS AL-Hidayah menetapkan suatu program pembelajaran
bahasa Arab berpedoman pada kurikulum KTSP(kurikulum tingkatan satuan
pendidikan) bagi kelas tujuh dan delapan sedangkan kelas sembilan masih
menggunakan kurikulum 2013. Dinyatakan bahwa tujuan pengajaran bahasa Arab
agar siswa mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab dengan baik
dan benar.
Pengajaran bahasa Arab merupakan proses pembelajaran agar siswa
mampu
menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Wawancara penulis dengan bapak
Muhammad Nuaim satu-satunya guru bidang study bahasa Arab di MTS ALHidayah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bahwa tujuan pengajaran dengan
menggunakan Kurikulum KTSP tidak jauh berbedah dengan Kurikulum 2013
yaitu agar siswa mampu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis yang
menjadi pembedah adalah pada kurikulum KTSP bahwa setiap pelajaran yang
disampaikan terpisah contoh pada bahasan muhadasah mempunyai bahasan
sendiri begitu juga pada bahasan istima> (mendengar), h}iwa>r (dialog),
qiro>ah (membaca) dan
tarki>b (kaidah) mempunyai cara penyajian yang berbeda-beda dalam
penyampaian bahan pengajaran sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi
dasar, indicator dan tujuan pembelajaran.
Dari empat kemahiran berbahasa memang menjadi target utama
pengajaran bahasa Arab di MTS AL-Hidayah, dan untuk mewujudkan harapan itu,
pihak madrasah telah mengupayakan proses belajar mengajar yang baik untuk

mengembangkan pengajaran bahasa Arab, pengajaran bahasa Arab adalah salah


satu hal yang memegang peranan penting bagi keberhasilan pengajaran, adalah
proses pelaksaan pengajaran, pelaksanaan pengajaran yang baik, sangat
dipengaruhi oleh perencanaan yang baik pula. Pengajaran berintikan interaksi
antara guru dengan siswa dalam belajarmengajar. Proses belajar mengajar
merupakan dua hal yang berbeda tetapi membentuk satu kesatuan, ibarat mata
uang yang bersisi dua. Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh siswa,
sedang mengajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru. Kegiatan belajar yang
dilakukan oleh guru sangat mempengaruhi kegiatan belajar siswa, (Ibrahim dan
Nana Syaodih, 2003:30).
Dalam kegiatan belajar mengajar seringkali terjadi proses saling
mempengaruhi antara murid dengan guru. Bukan hanya guru yang yang
mempengaruhi siswa, tetapi siswa juga dapat mempegaruhi guru. Perilaku guru
akan berbeda, ketika menghadapi kelas yang aktif ataupun kelas yang pasif, kelas
yang disiplin dengan kurang disiplin. Dalam proses belajar tidak terlepas dari
proses komunikasi di mana terjadi proses transfer pengetahuan. Maka dalam
interaksi antara guru dan murid dituntut adanya stimulus dan respon yang baik
untuk tercapainya pengajaraan yang diharapkan.
Dalam usaha mengoptimalkan pembelajaran seringkali disadari atau tidak,
dipengaruhi eklektic psikologic, melalui penelitian ini penulis ingin melihat
pengaruh behavioristik pada pembelajaran bahasa Arab di MTS AL-Hidayah.
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang terjadi karena adanya stimulus
dan respon yang dapat diamati. Teori behaviorisme ini sangat menekankan pada
apa yang dapat dilihat yaitu tingkahlaku. Pada teori ini yang terdapat tiga prinsip
yang

utama

yaitu

keluaran/output

yang

masukan/input
berupa

yang

gerak

berupa

balas

rangsangan

(response)

dan

(stimulus),
peneguha

(reinforcement).7

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan deskripsi latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang

telah dipaparkan di atas, permasalahan yang ada kemudian dirumuskan


sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pelaksanaan pengajaran bahasa Arab di MTS AL-Hidayah?


2. Unsur-unsur psikologi behavioristik apa saja yang telah diterapkan dalam
C.
1.
a.
b.
2.
a.

b.

pengajaran bahasa Arab di MTS AL-Hidayah ?


Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan penelitian
Untuk memahami pelaksanaan pengajaran bahasa Arab di MTS ALHidayah.
Untuk mengetahui unsur-unsur psikologi behavioristik yang telah
diterapkan di MTS AL-Hidayah
Kegunaan Penelitian
Diharapkan pembahasan ini dapat memberikan masukan pemikiran bagi
ilmu pengetahuan khususnya psikologi behavioristik dan dapat dijadikan
bahan masukan bagi peneliti selanjutnya.
Diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan dan
peningkatan mutu pengajaran bahasa Arab disekolah-sekolah, khususnya
ditekankan pada pengembangan prinsipprinsip behavioristik.

D. Alasan Pemilihan Judul

Alasan pemilihan judul, judul pembelajaran bahasa Arab di MTS ALHidayah, (tinjauan psikologi behavioristik), adalah:
1. Teori behaviorisme ini sangat menekankan pada apa yang dapat dilihat

yaitu tingkahlaku, Gaya teori tingkah laku menumpukan bahwa


pembelajaran adalah perubahan terhadap tingkahlaku luaran yang dapat
diamati.
2. Karena bahasa Arab sebagai penunjang pelajaran-pelajaran lainnya seperti
fiqh, Quran hadist, aqidah akhlak dan pelajaran agama lainnya.
E. Kajian Pustaka

Penulis melakukan pengamatan di MTS AL-Hidayah dengna menggunakan


pendekatan psikologi humanistik dengan pengajaran dan pendekatan humanistik
yang menekankan pada perasaan, hubungan sosial, tanggung jawab, intelek, dan
aktualisasi diri. Dari sini penulis melihat pengajaran dengan pendekatan
humanistik lebih cenderung kearah afeksi yang meliputi perasaan, nilai dan sikap
peserta didik siswa, bertolak belakang dari hal tersebut psikologi behavioristik
menekankan pada tingkah laku pada diri siswa berkenaan dengan keterampilan

motorik atau gerak dari peserta didik yang menekankan pada hubungan stimulusrespon, kesiapan, kebiasaan, ulangan dan peneguhan.
Teori ini bersifat empiris (nyata) berdasarkan atas hal-hal yang objektif,
positif dan yang bisa diamati. Literatur dari buku sumber yang mengkaji tentang
behavioristik dalam Pengajaran bahasa adalah karya Drs. H. baharuddin, M. Pd. I,
dan Esa Nur Wahyuni, M. Pd. (AR- Ruzz Media Group: Yogyakarta 2007).
Mengkaji Tentang Teori dan Konsep Belajar Behaviorisme. Buku kedua yang
menjadi acuan adalah karya R. Ibrahim dan Nana Syaodih S. Perencanaan
Pengajaran, (PT. Asdi Mahasatya, Jakarta: 2003). Di sana mengkaji tentang
tujuan,
pendekatan, materi, metode, media, dan evaluasi/penilaian dan di dalam kajian
buku ini terdapat bentuk pengajaran behavioristik.

F.

Kerangka Teori

1. Teori Belajar dan Pembelajaran (Teori Behaviorisme)


a. Teori Belajar
Belajar merupakan proses untuk mengembangkan potensi-potensi yang
dimiliki manusia dan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam
kehidupan manusia. Masalah pengertian belajar ini, para ahli psikologi dan
pendidikan menengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan bidang
keahlian mereka masing-masing. Tentu saja mereka mempunyai alasan yang dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah (Hamalik, 2001: 27). Reber dalam kamus
susunannya yang tergolong modern, Dictionary of Psychology membatasi belajar
dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah The process of acquiring
knowledge, yakni proses memperoleh pengetahuan. Kedua, A relatively
permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinforced
practice, yaitu suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng
sebagai hasil latihan yang diperkuat (dalam Muhibbin, 2000 : 91). Jadi menurut
Reber, belajar adalah suatu proses memperoleh pengetahuan yang dapat
mengubah kemampuan bereaksi seseorang yang bersifat permanen jika dilakukan
dengan suatu latihan.

Belajar merupakan proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan


latihan baik menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap bahkan
meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Belajar adalah modifikasi atau
memperteguh kelakuan melalui pengalaman, juga merupakan suatu proses
perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya
(Hamalik, 2001: 27).

Belajar adalah aktivitas pengembangan diri melalui

pengalaman, bertumpu pada kemampuan diri sendiri di bawah bimbingan


pengajar (Tirtarahardja, 2000 : 51). Menurut Djamarah (2000 : 73), belajar adalah
berubah dan perubahan dalam belajar adalah disadari setelah berakhirnya kegiatan
belajar. Jadi, dengan belajar akan menjadikan perubahan dalam segala aspek
pribadi seseorang, sehingga siswa akan mampu dan sanggup menghadapi suatu
kesulitan untuk memecahkan masalah.
Gagne dalam Dimyati dan Mudjiono (2006 : 10) berpendapat bahwa
belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi
lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru. Belajar
merupakan peristiwa sehari-hari di sekolahdan belajar merupakan tindakan
perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh
siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar.
Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan
sekitar. Bagi seorang siswa belajar merupakan suatu kewajiban. Berhasil atau
tidaknya seorang siswa dalam pendidikan tergantung pada proses belajar yang
dialami oleh siswa tersebut (Tirtarahardja, 2000 : 51). Senada dengan hal tersebut,
Logan, dkk dalam Sia Tjundjing (2001 : 70) belajar dapat diartikan sebagai
perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan
latihan.

Belajar tidak hanya dapat dilakukan di sekolah saja, tetapi dapat

dilakukan di mana-mana, seperti di rumah ataupun di lingkungan masyarakat.


Belajar adalah bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang
dinyatakan dalam cara-cara berperilaku yang baru berkat pengalaman dan latihan
(Hamalik, 2001: 27). Belajar dibatasi dengan dua macam rumusan. Rumusan
pertama, belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap
sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan kedua, belajar ialah proses
memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus menurut James

Patrick Chaplin (Dictionary of Psychology 1985).

Proses belajar, siswa

mengalami sendiri proses dari tidak tahu menjadi tahu, karena itu menurut
Cronbach (Suryabrata, 2002 : 231) sebagai berikut. Belajar yang sebaik-baiknya
adalah dengan mengalami dan dalam mengalami itu pelajar mempergunakan
pancainderanya. Pancaindera tidak terbatas hanya indera pengelihatan saja, tetapi
juga berlaku bagi indera yang lain. Belajar dapat dikatakan berhasil jika terjadi
perubahan dalam diri siswa, tetapi tidak semua perubahan perilaku dapat
dikatakan belajar karena perubahan tingkah laku akibat belajar memiliki ciri-ciri
perwujudan yang khas (Syah, 2000 : 116) antara lain sebagai berikut :
1) Perubahan Intensional

Perubahan dalam proses berlajar adalah karena pengalaman atau praktek


yang dilakukan secara sengaja dan disadari. Pada ciri ini siswa menyadari
bahwa ada perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan,
kebiasaan dan keterampilan.
2) Perubahan Positif dan aktif
Positif berarti perubahan tersebut baik dan bermanfaat bagi kehidupan
serta sesuai dengan harapan karena memperoleh sesuatu yang baru, yang
lebih baik dari sebelumnya, sedangkan aktif artinya perubahan tersebut
terjadi karena adanya usaha dari siswa yang bersangkutan.
3) Perubahan efektif dan fungsional
Perubahan dikatakan efektif apabila membawa pengaruh dan manfaat
tertentu bagi siswa, sedangkan perubahan yang fungsional artinya
perubahan dalam diri siswa tersebut relatif menetap dan apabila
dibutuhkan perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan lagi.
Ciri-ciri belajar yaitu belajar berbeda dengan kematangan, belajar dapat
dibedakan dari perubahan fisik dan mental, ciri belajar yang hasilnya
relatif menetap (Hamalik, 2008 : 48). Sesuai dengan pendapat di atas,
sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas
dari ciri-ciri tertentu yang membedakan belajar dengan kegiatan lainnya.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 42 - 49), prinsip-prinsip belajar
meliputi kesiapan belajar, perhatian, motivasi, keaktifan, keterlibatan
langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan, penguatan, dan
perbedaan individual. Prinsip-prinsip belajar meliputi sebagai berikut.

a) Kesiapan belajar

Faktor kesiapan, baik fisik maupun psikologis, merupakan kondisi


awal suatu kegiatan belajar. Kondisi fisik dan psikologis ini
biasanya sudah terjadi pada diri siswa sebelum ia masuk kelas.
b) Perhatian
Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu objek.
Dapat pula dikatakan bahwa perhatian adalah banyak sedikitnya
kesadaran yang menyertai suatu aktivitas yang dilakukan. Belajar
sebagai suatu aktivitas yang kompleks sangat membutuhkan perhatian
dari siswa yang belajar.
c) Motivasi
Motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif saat orang
melakukan suatu aktivitas. Motif adalah kekuatan yang terdapat
dalam diri seseorang yang mendorong orang tersebut melakukan
kegiatan tententu untuk mencapai tujuan (disposisi internal). Motif
ini tidak selalu aktif pada diri seseorang. Pada suatu ketika motif
itu aktif sehingga orang bersemangat melakukan suatu aktivitas,
atau siswa bersemangat belajar, tatapi pada ketika lain motif tidak
aktif artinya motivasi tidak timbul, sehingga siswa tidak terdorong
untuk beraktivitas atau bersemangat untuk belajar.
d) Keaktifan
Siswa adalah subjek yang melakukan kegiatan belajar. Oleh karena
itu, siswa harus aktif tidak boleh pasif.
e) Mengalami sendiri
Prinsip pengalaman ini sangat penting dalam belajar dan erat
kaitannya dengan prinsip keaktivan. Siswa yang belajar dengan
melakukan sendiri (tidak minta tolong orang lain) akan
memberikan hasil belajar yang lebih cepat dalam pemahaman yang
mendalam. Prinsip ini telah dibuktikan oleh John Dewey dengan
Learning by doing.

f) Pengulangan

Materi pelajaran ada yang mudah dan ada pula yang sukar. Untuk
mempelajari materi sampai pada taraf insight siswa perlu
membaca, berfikir, mengingat dan yang tidak kalah penting adalah

latihan. Dengan latihan berarti siswa mengulang-ulang materi yang


dipelajari sehingga meteri tersebut makin mudah diingat, dan
pengulangan tanggapan tentang meteri makin segar dalam pikiran
siswa sehingga makin mudah diproduksi.
g) Materi pelajaran yang menantang
Keberhasilan belajar sangat dipengaruuhi pula oleh rasa ingin tahu
anak (curiosity) terhadap suatu persoalan. Curiosity ini timbul bila
materi pelajaran yang dihadapannya bersifat menantang atau
problematic.
h) Balikan dan penguatan
Balikan (feed back) adalah masukan yang sangat penting baik bagi
siswa dan guru. Dengan balikan, siswa mengetahui sejauh mana
kemampuannya dalam suatu hal, dimana letak kekuatan dan
kelemahannya.
i) Perbedaan individual
Siswa-siswa dalam suatu kelas yang dihadapi oleh guru tidaklah
boleh disamakan kondisinya seperti benda mati. Masing-masing
siswa mempunyai karakteristik, baik dilihat dari segi fisik maupun
psikis. Dengan adanya perbedaan ini tentu kemauan, minat serta
kemampuan belajar mereka tidak persis sama.
Belajar bukanlah proses dalam kehampaan. Tidak pula pernah sepi dari
berbagai aktivitas, berikut ini beberapa aktivitas belajar yaitu: (1) mendengarkan,
(2) memandang,(3) meraba, membau, dan mencicipi/mengecap, (4) menulis atau
mencatat, (5) membaca, (6) membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggaris
bawahi, (7) mengamati tabel-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan, (8)
menyusun paper atau kertas kerja, (9) mengingat(10) berpikir, (11) latihan atau
praktek (Bahri , 2008: 38-45). Berdasarkan definisi tersebut di atas bahwa belajar
dapat diartikan sebagai merupakan proses pengembangan potensi sehingga terjadi
perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan. Ada beberapa hal
pokok dalam belajar antara lain, belajar merupakan suatu perubahan dalam
tingkah laku, belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau
pengalaman, belajar merupakan perubahan yang relatif mantap, dan tingkah laku
yang dialami karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian baik psikis
maupun fisik seperti perubahan dalam pengertian pemecahan suatu masalah,
ketrampilan, kecakapan, kebiasaan atau sikap.
10

2.1.2 Teori Pembelajaran


UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas menyebutkan bahwa
pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan sumber belajar.
Pembelajaran sebagai proses yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan
kreatifitas yang berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa,
serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai
upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.
Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa,
sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, dkk, 2000
22 : 24). Menurut Sudjana (2003 : 110), pengertian pembelajaran adalah kegiatan
belajar siswa dan kegiatan mengajar guru dalam mencapai suatu tujuan
pengajaran. Ada empat persoalan yang menjadi komponen utama yang harus
dipenuhi dalam pembelajaran. Keempat komponen tersebut tidak berdiri sendiri,
tetapi saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
Keempat komponen tersebut yaitu tujuan, metode dan alat serta penilaian.
Tujuan dalam proses belajar mengajar merupakan komponen pertama yang
harus ditetapkan dalam proses pengajaran, tujuan tersebut berfungsi sebagai
indikator keberhasilan pengajaran. Komponen yang kedua yaitu metode dan alat.
Metode dan alat digunakan dalam pengajaran dipilih atas dasar tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya. Komponen yang lain adalah penilaian, penilaian
dilakukan untuk mengetahui ketercapaian suatu tujuan pembelajaran, yaitu
menghasilkan perubahan seperti yang disebut dalam pengertian belajar. Peranan
guru dalam kegiatan belajar dan pembelajaran adalah membentuk siswa mencapai
tujuan belajar yang telah ditentukan. Untuk tujuan tersebut siswa melakukan
kegiatan belajar, dengan cara dan kemampuan masing-masing.
Siswa memiliki karakter yang berbeda satu sama lainnya, sesuai dengan
pendapat Darsono (2000 : 24) bahwa perbedaan antara siswa lainnya membawa
konsekuensi perolehan hasil belajarpun tidak sama. Dengan perkataan lain bahwa
dalam pengajaran yang menjadi persoalan utama ialah adanya proses belajar pada
siswa yakni proses berubahnya siswa melalui berbagai pengalaman yang
diperolehnya yang biasa disebut sebagai hasil belajar. Menurut Prawiradilaga
(2008 : 18) menyatakan pembelajaran adalah proses yang dapat dilakukan oleh

11

individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara


keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu tersebut dalam interaksi dengan
lingkungannya, oleh karena itu setiap rumusan tujuan pembelajaran selalu
dikembangkan berdasarkan kompetensi atau kinerja yang harus dimiliki oleh
peserta didik setelah selesai belajar. Apabila tujuan pembelajaran atau kompetensi
dianggap rumit maka tujuan pembelajaran atau kompetensi tersebutdapat dirinci
menjadi sub kompetensi yang mudah dicapai.
Dimyati dan Mudjiono (2002 : 227) berpendapat pembelajaran adalah
kegiatan guru secara terpogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa
belajar secara aktif yang menekankan kepada media sumber belajar dalam
pembelajaran, guru harus memahami hakekat materi pelajaran yang akan
diajarkannya sebagai suatu pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan
berfikir siswa dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat
memotivasi siswa untuk belajar. Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu
sistem atau proses membelajarkan subjek didik/pembelajar yang direncanakan
atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subyek
didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan
efisien. Dengan demikian, jika pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem,
maka berarti pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen yang terorganisir
antara lain tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi dan metode
pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga, pengorganisasian kelas, evaluasi
pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran (misalnya layanan pembelajaran
remedial bagi siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar). Sebaliknya, bila
pembelajaran dipandang sebagai suatu proses, maka pembelajaran merupakan
rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar. Proses
tersebut dimulai dari merencanakan program pengajaran tahunan, semester, dan
penyusunan persiapan mengajar (lesson plan) berikut penyiapan perangkat
kelengkapannya antara lain berupa alat peraga, dan alat-alat evaluasi (misalnya
soal-soal tes formatif). Persiapan pembelajaran ini juga mencakup kegiatan guru
untuk membaca buku-buku atau media cetak lainnya yang berkaitan dengan
materi pelajaran yang akan disajikannya kepada para siswa dan mengecek jumlah
dan keberfungsian alat peraga yang akan digunakan.

12

Setelah persiapan tersebut dilakukan secara matang, guru melaksanakan


kegiatan-kegiatan pembelajaran dengan mengacu pada persiapan pembelajaran
yang telah dibuatnya. Pada tahap pelaksanaan pembelajaran ini, struktur dan
situasi pembelajaran yang diwujudkan guru akan banyak dipengaruhi oleh
pendekatan atau strategi dan metode-metode pembelajaran yang telah dipilih dan
dirancang penerapannya, serta filosofi kerja dan komitmen guru yang
bersangkutan, persepsi, dan sikapnya terhadap siswa. Jadi semua itu akan
menentukan misalnya, apakah struktur pembelajarannya bersifat deduktif ataukah
induktif, pola penyajiannya secara ekspositori ataukah inkuiri, atau discovery.
Selain itu, juga perlu diperhatikan apakah situasi atau iklim pembelajarannya
bersifat joyfull ataukah menegangkan, atau bahkan menakutkan. Situasi kelasnya
apakah bersifat permisif ataukah demokratis, atau sebaliknya, siswa-siswa merasa
tercekam akibat sikap guru yang otoriter.
Setelah kegiatan pembelajaran tersebut di atas selesai dilaksanakan,
termasuk evaluasi formatif, maka apabila guru itu adalah guru yang baik, ia akan
menindaklanjuti

pembelajaran

yang

telah

dikelolanya.

Kegiatan

pasca

pembelajaran ini dapat berbentuk enrichment (pengayaan), dapat pula berupa


pemberian layanan Remedial Teaching bagi anak-anak yang berkesulitan belajar.
Kegiatan tindak lanjut ini sangat penting agar setiap individu pembelajar dapat
mencapai perkembangan yang harmonis dan optimal. Hal ini berkaitan erat
dengan pembinaan kualitas SDM sejak dini, dan kelasnyapun menjadi lebih
sehat dan dinamis karena tertanganinya kesulitan-kesulitan belajar yang dialami
oleh satu atau beberapa orang siswanya.
Berdasarkan beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
adalah proses pengembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap baru pada saat
seseorang berinteraksi dengan informasi dan lingkungan, pembelajaran terjadi
kapan saja dan dimana saja.
c.

Ciri Pembelajaran

Sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari


ciri-ciri tertentu, yang menurut Edi Suardi dalam makalahpedia sebagai berikut :
1) Pembelajaran memiliki tujuan , yakni untuk membentuk anak didik dalam

suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud kegiatan belajar

13

2)

3)

4)

5)

6)

7)

8)

d.

mengajar itu sadar akan tujuan, dengan menempatkan anak didik sebagai
pusat perhatian. Anak didik mempunyai tujuan, unsur lainnya sebagai
pengantar dan pendukung.
Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar dapat mencapai tujuan
secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur atau
langkah-langkah sistematik dan relevan.
Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan suatu penggarapan materi yang
khusus. Dalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupa, sehingga
cocok untuk mencapai tujuan. Sudah barang tentu dalam hal ini perlu
memperhatikan komponen-komponen yang lain, apalagi komponen anak
didik yang merupakan sentral. Materi harus sudah didesain dan disiapkan
sebelum berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
Ditandai dengan aktifitas anak didik. Aktifitas anak didik dalam hal ini
baik secara fisik maupun secara mental, aktif. Jadi, tidak ada gunanya
melakukan kegiatan belajar mengajar, kalau anak didik hanya pasif.
Karena anak didiklah yang belajar, maka merekalah yang harus
melakukannya.
Kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing. Dalam
peranannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan
memberikan motifasi, agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Guru
harus siap sebagai mediator dalam segala situasi proses belajar mengajar,
sehingga guru adalah merupakan tokoh yang dilihat dan ditiru tingkah
lakunya oleh anak didik.
Kegiatan belajar mengajar membutuhkan disiplin. Disiplin dan kegiatan
belajar mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur
sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh pihak guru
maupun anak didik dengan sadar.
Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam
sistim berkelas (kelompok anak didik), batas waktu menjadi salah satu ciri
yang tidak bisa ditinggalkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu
kapan tujuan itu sudah harus tercapai.
Evaluasi. Dan seluruh kegiatan di atas, masalah evaluasi merupakan
bagian penting yang tidak bisa diabaikan, setelah guru melaksanakan
kegiatan belajar mengajar. Evaluasi harus guru lakukan untuk mengetahui
tercapai tidaknya tujuan pengajaran yang telah ditentukan.
Komponen Sistem Pembelajaran

14

Sebagai sebuah sistem, kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah


komponen, sebagai berikut.
1) Tujuan

Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah suatu cita-cita yang bernilai
normatif. Dengan kata lain, dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus
ditanamkan kepadapeserta didik. Nilai-nilai tersebut nantinya akan mewarnai cara
peserta didik bersikap dan berbuat dalam lingkungan sosialnya, baik di sekolah
maupun di luar sekolah. Roestiyahdalam Aswan dan Syaiful (2010 : 42)
mengatakan suatu tujuan pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku
(performance) murid-murid yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan
pelajaran yang kita ajarkan. Suatu tujuan pengajaran mengatakan suatu hasil yang
kita harapkan dari pengajaran itu dan bukan sekedar suatu proses dari pengajaran
itu sendiri.
2) Bahan pelajaran

Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar
mengajar. Bahan pelajaran menurut Suharsimi dalam Aswan dan Syaiful (2010 :
43) merupakan unsur inti yang ada di dalam kegiatan belajar mengajar, karena
memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh anak didik.
Karena itu, guru khususnya atau pengembang kurikulum umumnya, tidak boleh
lupa harus memikirkan sejumlah mana bahan-bahan yang topiknya tertera dalam
silabus berkaitan dengan kebutuhan peserta didik pada usia tertentu dan dalam
lingkunga tertentu pula. Minat peserta didik akan bangkit bila suatu bahan
diajarkan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Maslow berkeyakinan bahwa
minat seseorang akan muncul bila sesuatu itu terkait dengan kebutuhannya
(Syaiful dan Aswan 2010 : 44).
3) Kegiatan pembelajaran

Kegiatan belajar mengajar, guru dan siswa terlibat dalam sebuah interaksi
dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi itulah siswa
yang lebih aktif, bukan guru. Guru berperan sebagai motivator dan
fasilitator. Dalam kegiatan pembelajaran, guru sebaiknya memperhatikan
perbedaan individual siswa yaitu aspek biologis, intelektual, dan

15

psikologis. Kerangka berpikir demikian dimaksudkan agar guru mudah


dalam melakukan pendekatan secara individual terhadap peserta didik.
Pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut akan merapatkan hubungan
antara guru dan siswa, sehingga memudahkan melakukan pendekatan materi
learning dalam mengajar. Mastery learning adalah kegiatan yang meliputi dua
kegiatan, yaitu program pengayaan dan program perbaikan dalam Syaiful dan
Aswan, (2010 : 45). Dalam kegiatan pembelajaran, guru akan menemui bahwa
peserta didik sebagian ada yang dapat menguasai bahan pelajaran secara tuntas
dan ada pula yang kurang menguasai bahan pelajaran secara tuntas (mastery).
4) Metode

Metode adalah suatu cara yag dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Menurut Surakhmad (2011 : 45), ada lima faktor yang mempengaruhi
metode mengajar, sebagai berikut.
a) Tujuan yang berbagai jenis dan fungsinya.
b) Anak didik yang berbagai tingkat kematangan.
c) Situasi yang berbagai keadaan.
d) Fasilitas yang berbagai kualitas dan kuantitasnya.
e)

Pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda.

5) Alat

Alat adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan dalam rangka


mencapai tujuan pembelajaran. Alat dapat dibagi menjadi dua macam,
yaitu alat dan alat bantu pengajaran. Yang dimaksud dengan alat adalah
berupa suruhan, perintah, larangan dan sebagainya. Sedangkan alat bantu
pengajaran adalah berupa globe, papan tulis, batu tulis, gambar, diagram,
slide, video, dan sebagainya. Ahli lain membagi alat pendidikan dan
pengajaran menjadi alat material dan nonmaterial.
6) Sumber pelajaran
Sudirman,dkk dalam Aswan et all (2010 : 49) mengemukakan sumber
belajar sebagai berikut.
a) Manusia
b) Bahan

Lingkungan
d) Alat dan perlengkapan
c)

16

e) Aktivitas
f) Pengajaran berprogram
g) Simulasi
h) Karyawisata
i)

System pengajaran modul.

Aktivitas sebagai sumber belajar biasanya meliputi sebagai berikut.


- Tujuan khusus yang harus dicapai oleh siswa.
- Materi (bahan pelajaran) yang harus dipelajari.
- Aktivitas yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan
pengajaran.
h. Evaluasi
Menurut Tyler dalam Eveline Siregar,et all (2010 : 142) evaluasi
merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana,
dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah dicapai. Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 menggariskan bahwa penilaian
hasil belajar siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada
prinsip-prinsip normatif sebagai berikut.
1. Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan

kemampuan yang diukur.


2. Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang
jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.
3. Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik
karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama,
suku,budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
4. Menggunakan prinsip-prinsip dasar teknis sebagai berikut.
a) Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu
komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
b) Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar
pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang
berkepentingan.
c) Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh
pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan
berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau
perkembangan kemampuan peserta didik.
17

d) Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan

bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.


e) Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran
pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
f) Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik
dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
Tahapan tersebut menurut Smaldino dalam Amanah (2011 : 1) merupakan

penjabaran dari ASSURE Model, adalah sebagai berikut:


a. Analisis Pembelajar (Analyze Learner)

Tujuan utama dalam menganalisa termasuk pendidik dapat menemui


kebutuhan belajar siswa yang urgen sehingga mereka mampu mendapatkan
tingkatan pengetahuan dalam pembelajaran secara maksimal. Analisis
pembelajar meliputi tiga faktor kunci dari diri pembelajar yang meliputi
sebagai berikut.
b. Karakteristik Umum (General Characteristics)

Karakteristik umum siswa dapat ditemukan melalui variable yang konstan,


seperti, jenis kelamin, umur, tingkat perkembangan, budaya dan faktor sosial
ekonomi serta etnik. Semua variabel konstan tersebut, menjadi patokan dalam
merumuskan strategi dan media yang tepat dalam menyampaikan bahan
pelajaran
c. Mendiagnosis kemampuan awal pembelajar (Specific Entry Competencies)
Penelitian yang terbaru menunjukkan bahwa pengetahuan awal siswa
merupakan sebuah subyek patokan yang berpengaruh dalam bagaimana dan
apa yang dapat mereka pelajari lebih banyak sesuai dengan perkembangan
psikologi siswa. Hal ini akan memudahkan dalam merancang suatu
pembelajaran agar penyampain materi pelajaran dapat diserap dengan
optimaloleh peserta didik sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya 33
d. Gaya Belajar (Learning Style)
Gaya belajar yang dimiliki setiap pembelajar berbeda-beda dan mengantarkan
peserta didik dalam pemaknaan pengetahuan termasuk di dalamnya interaksi
dengan dan merespon dengan emosi ketertarikan terhadap pembelajaran.
Terdapat tiga macam gaya belajar yang dimiliki peserta didik, yaitu: (1) gaya
belajar visual (melihat) yaitu dengan lebih banyak melihat seperti membaca,
(2) gaya belajar audio (mendengarkan), yaitu belajar akan lebih bermakna
oleh peserta didik jika pelajarannya tersebut didengarkan dengan serius, (3)

18

gaya belajar kinestetik (melakukan), yaitu pelajaran akan lebih mudah


dipahami oleh peserta didik jika dia sudah mempraktekkan sendiri.
2. Tinjauan Psikologi Behavioristik terhadap pengajaran bahasa
Dalam hal ini teori-teori behavioristik memegang peranan penting sebagai
tolak ukur peninjauan untuk menilai menganalisa pengajaran bahasa Arab di
Madrasah tersebut. Teori pengajaran bahasa Arab dan pendekatannya yang
didasarkan pada psikologi behaviorisme: conectionisme, classical conditioning,
dan operant conditioning.
a. Pengajaran Bahasa Menurut Teori Behaviorisme

Studi secara sistematis tentang belajar relative baru. Sampai akhir abad 19,
belajar masih dianggap masalah dalam dunia keilmuan. Dengan menggunakan
teknologi

yang

digunakan

oleh

ilmu

fisika,

para

peneliti

mencoba

menghubungkan pengalaman untuk memahami bagaimana manusia dan hewan


belajar. Beberapa para peneliti yang melakukan studi tentang belajar antara lain,
Edward L Thorndike, Ivan Pavlop dan burrhus Fredric skinner.
a. Teori Conectionisme(Thorndike)

Eksprimen Pavlov telah memberikan inspirasi bagi peneliti di Amerika yang


pertama kali seperti Thorndike. Thorndike adalah Psikolog Amerika yang pertama
kali mengadakan eksprimen hubungan S-R dengan hewan kucing melalui
prosedur yang sistematis. Eksprimennya yaitu:
1) Kucing yang lapar dimasukan dalam kotak kerangkeng(puzzle box) yang

dilengkapi dengan alat pembuka yang bisa disentuh;


2) Di luar kotak ditaruh daging. Kucing dalam kerangkeng bergerak kesana
kemari mencari jalan untuk ke luar, tetapi gagal. Kucing terus melakukan
usaha dan gagal, keadaan ini berlangsung terus;
3) Pada suatu ketika kucing tanpa sengaja menekan sebuah tombol sehingga
tanpa sengaja pintu kotak kerangkeng terbuka dan kucing dapat memakan
daging didepannya.
Percobaan Thorndike tersebut diulang-ulang, dan pola gerakan kucing sama
saja namun makin lama kucing dapat membuka pintunya. Gerakan usahanya
makin sedikit dan efisien. Pada kucing tadi terlihat ada kemajuan-kemajuan
tingkah lakunya. Dan akhirnya, kucing dimasukan dalam box terus dapat

19

menyentuh tombol pembuka(sekali usaha, sekali terbuka) hingga pintu terbuka.


Dari eksprimen ini menurut Thorndike, tingkah laku individu tidak lain dari suatu
hubungan antara rangsangan dengan jawaban, atau stimulus-respon sebanyak
banyaknya. Siswa yang menguasai hubungan stimulus-respon dari bahan yang
diajarkan di sekolah adalah siswa yang pandai atau berhasil di dalam belajar.
Pembentukan stimulus respon melalui ulangan-ulangan atau latihan. menurut dia,
belajar pada binatang yang juga berlaku pada manusia, adalah trial and error, atau
belajar coba-coba. Menurut teori ini belajar merupakan suatu upaya untuk
mengkondisikan pembentukan suatu prilaku atau respon terhadap sesuatu.
Kebiasaan mandi pada jam tertentu, kebiasaan berpakaian, kebiasaan belajar, dan
sebagainya, terbentuk
karena adanya pengkondisian.
Belajar menurut teori ini adalah membentuk kebiasaan, mengulang-ulang
sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan. Thorndike mengemukakan
tiga prinsip utama belajar. Pertama, law of edinees atau hukum kesipan, yang
menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila siswa atau individu yang belajar
telah memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut. Seseorang anak
akan bisa belajar berjalan, apabila dalam perkembangannya ia telah memiliki
kesipan atau kematangan untuk berjalan. Anak yang belum siap berjalan,
kalaupun dipaksa dilatih berjalan tidak akan membawa hasil, malah akan
merusaknya. Prinsip kedua adalah law of exercise atau hukum latihan, yang
menyatakan bahwa belajar memerlukan banyak latihan atau ulangan-ulangan.
Suatu kecakapan atau keterampilan akan dikuasai apabila banyak dilatih. Prinsip
yang ketiga adalah law of effect, atau hukum mengetahui hasil. Belajar akan lebih
bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil, apalagi
hasil yang menyenangkan yang dapat merupakan umpan balik dan berpengaruh
baik bagi usaha selanjutnya. Dalam mengajar, guru dianjurkan untuk segera
memeriksa semua hasil pekerjaan siswa, memberikan nilai dan segera
mengembalikannya kepada siswa. Dengan cara siswa mengetahui hasil dari usaha
belajarnya, dan akan meningkatkan semangat untuk belajar selanjutnya.
b. Teori Classical Conditioning (Pavlov).

20

Akhir abad ke18, Ivan Pavlov, ahli fisika rusia, mempelopori munculnya
proses kondisioning responden (respondent conditioning) atau kondisioning klasik
(classical conditioning), karena itu disebut kondisioning Ivan pavlop. Ivan Pavlop
melakukan eksprimen terhadap anjing. Pavlov melihat selama pelatihan ada
perubahan dalam waktu dan rata-ratanya keluar air liur pada anjing (salivation).
Pavlov mengamati, jika daging diletakan dekat mulut anjing yang lapar, anjing
akan mengeluarkan air liur. Hal ini tejadi karena daging telah menyebabkan
rangsangan kepada anjing, sehingga secara otomatis ia mengeluarkan air liur.
Walaupun tanpa latihan secara otomatis ia mengeluarkan air liur. Dalam
percobaan ini daging disebut dengan stimulus yang tidak terkondisikan. Kalau
daging dapat menimbulkan saliva pada anjing tanpa latihan atau pengalaman
sebelumnya, maka stimulus yang lain, seperti bel, tidak dapat menghasilkan
saliva. Karena stimulus tersebut tidak menghasilkan respon, maka stimulus (bel)
tersebut disebut dengan
stimulus netral. Menurut eksprimen Pavlov, jika stimulus netral (bel) dipasangkan
dengan daging dan dilakukan secara berulang-ulang, maka stimulus netral akan
berubah menjadi stimulus yang terkondisikan dan memiliki kekuatan yang sama
dengan daging. Hasil dari penelitian ini ternyata dapat diterapkan pada manusia,
seperti para siswa berbaris dan masuk kelas kalau lonceng berbunyi. contoh lain,
setiap pukul 7.00 pagi, 2.00 siang dan 7.00 malam, orang merasa lapar, kendaraan
berhenti ketika lampu spontan berwarna merah. Respon terhadap kondisi itu
terjadi karena telah merupakan suatu kebiasaan, yaitu prilaku yang dilakukan
secara berulang-ulang.
c.

Teori Operant Conditioning (Skinner).


Teori behavioristik skinner didasarkan pada perubahan perilaku individu.

Pembentukan perilaku ini biasa terwujud, melalui empat


langkah di bawa ini:
1) Daftar penguatan (schedules of reinforcement)

Kalau pada konditioning yang di beri kondisi adalah stimulusnya ,


sedangkan pada teori penguatan yang dikondisi adalah atau yang diperkuat
adalah responnya.

21

2) Pembentukan (Shaping) Pembentukan atau metode perkiraan silih

berganti, dapat membentuk perilaku pendorong yang sesuai dengan apa


yang diinginkan seseorang dan keinginan tersebut dapat terwujud setelah
dia melakukannya.
3) Stimulan Aversif (Aversive Stimuli)
Stimulan aversif adalah lawan kata dari stimulant penguatan yaitu sesuatu
yang tidak menyenangkan atau bahkan menyakitkan. Karena prilaku yang
diikuti stimulant aversif akan memperkecil kemungkinan diulanginya
prilaku tersebut pada masa-masa selanjutnya. Bentuk pengkondisiannya
yaitu dengan memberikan penguatan positif atau penguatan negative.
4) Modifikasi perilaku (behavior modification)
Modifikasi perilaku sering disebut B-mod adalah terapi yang didasarkan
pada karya-karya Skinner, cara kerjanya yaitu dengan menghentikan
perilaku yang tidak diinginkan (negatif) dan menggantinya dengan prilaku
(positif) yang diinginkan (menghubungkan atau mengadakan penguat).
Pendekatan-Pendekatan Aural-Oral di dalam pengajaran behavioristik.
Pendekatan aural-oral adalah merupakan terjemahan bahasa dari metode
yang mempunyai konotasi semakna dengan metode (samiyah dan safawiyah)
kata aural seperti dengan kata samiyah yaitu pendengaran, sedangkan oral
sepadan dengan kata sapawiyah, yang berarti berarti berbicara (mulut). Sehingga
tidak salah dalam pendiskripsian dan pemaknaan tentang pendekatan aural-oral
tidak terlepas dari pembahasan metode audio lingual. Hakikat bahasa yang
dimaksud aural-oral approach ini lebih cenderung mengatakan bahwa hakikat
bahasa itu adalah bunyi atau ujaran, dimana akan bermuara pada tujuan
komunikatif atau kemampuan aktif dalam berbahasa, karena penekanannya disini
adalah aspek mendengarkan dan
mengucapkan (meniru) dengan pola latihan (drill) dan pengurangan apa yang
diungkapkan oleh guru.
a) Karakteristik aural-oral approach
Untuk mengetahui lebih jauh karakteristik model apa yang dimiliki oleh atau
yang terkandung dalam pendekatan ini, bahwa pendekatan ini mempunyai
beberapa istilah lain yang pijakan dasarnya terhadap bahasa tidak jauh beda,
bahkan dikatakan tidak ada perbedaan istilah ini diciptakan oleh prof. Brrok AT
Toriqoh Samiyah AS Syafawiyah, dan informan method. Dari beberapa istilah

22

yang berbeda di atas, memiliki karakteristik yang sama yakni memberikan porsi
yang cukup besar dan intensif pada latihan keterampilan berbicara dan menyimak,
yang dilakukan dengan cara penyajian dialog, menghafal, meniru, dan latihan
(patten practice) metode atau pendekatan ini memiliki beberapa ciri pembeda:
1) Pemisahan keterampilan-mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis
2) Pemakaian dialog sebagai alat utama dalam menyuguhkan bahasa
3) Penekanan pada teknik latihan tertentu, peniruan, pengingatan, dan

latihan-latihan.
4) Penggunaan laboratorium bahasa
5) Memantapkan teori psikologi sebagai landasan metode mengajar.
Dari karakteristik di atas dapat disebutkan bahwa pendekatan ini mengadopsi
hukum- empiris yang dikemukakan oleh R.Lado dalam karya monumentalnya
yang berjudul Language Teaching: AS Scientific Approach yaitu:
1) Dasar yang menyatakan bahwa apabila dua pengalaman terjadi bersama-

2)

3)

4)

5)

sama maka kemunculan yang satu akan mengingatkan kita pada yang satu
lagi.
Hukum latihan yang menggunakan dengan tegas bahwa semakin sering
sesuatu dipraktekkan, maka semakin baik pula hal itu dipelajari dan
semakin lama pula untuk diingat.
Hukum intensitas, yang menyatakan bahwa setiap kondisi yang baru
terangsang justru sering menimbulkan response yang sama dengan yang
telah ditimbulkan oleh kondisi yang sama pada masa yang lalu.
Hukum asimilasi, yang menyatakan bahwa setiap kondisi yang baru
terangsang justru sering menimbulkan response yang sama dengan yang
telah ditimbulkan oleh kondisi yang sama pada masa yang lalu.
Hukum pengaruh, yang menyataknan bahwa apabila suatu respon itu
disertai atau diikuti oleh pristiwa-pristiwa yang memuaskan maka respon
itu semakin diperkuat, semakin diterima, dan sebaliknya apabila suatu
respon diikuti oleh peristiwa yang menjengkelkan maka respon itu justru
terhindarkan, tidak diterima, (Ali, 2005:78)

b) Prinsip-prinsip dasar aural-oral approach


Suatu bahasa dengan memberi tekanan pada ujaran bahasa tersebut, sedangkan
penulisan dikenalkan kemudian karena mengunakan proses belajar mengajar oleh
karena itu, biasanya pengajaran bahasa diajarkan dengan menghafal dialog
melalui peniruaan dan repetisi (pengulangan), apa yang diucapkan guru.
23

Pengajaran suatu bahasa adalah prihal suatu pembentukan kebiasaan


melalui latihan-latihan, melalui kemampuan native speaker. Ajarkan bahasa
sebagaimana native speaker (pemilik bahasa) tanpa merujuk pada bahasa-bahasa
siswa atau bahasa lain ataupun mengunakan terjemahan karena bahasa-bahasa itu
berbeda satu sama lain dan mempunyai ciri khas masing-masing.
c) Pola praktek disampaikan secara lisan dan induktif.
Alat Bantu pengajaran seperti gambar, film, tape recorder, dan Laboratorium.
Bahasa sering digunakan dalam memberikan pola praktek untuk mendapatkan
ungkapan siswa, dalam belajar bahasa tanpa menggunakan bahasa asli siswa, jadi
stimulus dapat diberikan dengan menitik beratkan pada benda-benda atau gambar
penganti penyajian secara verbal.
d) Pandangan aural-oral approach tentang pengajaran bahasa Arab Berbicara
tentang pengajaran bahasa tidak bisa terlepas dari pendekatan metode dan tehknik
ketiganya merupakan terminologi yang sering dicampur adukan satu sama
lainnya, hal itu wajar karena ketiganya memiliki keterkaitan yang erat dan saling
mempengaruhi satu sama lain, pendekatan pengajaran bahasa diperlukan guna
memberikan pijakan paradigmatic terhadap pengajaran bahasa. Di dalam
pengajaran bahasa asing ada banyak pendekatan antara
lain misalnya: Pendekatan aural-oral, Pendekatan humanistic,
Pendekatan komunikatif dll. Namun didalam hal ini penulis mempokuskan
pada pendekatan yang pertama dalam kaitannya dengan pengajaran bahasa,
karena aural-oral approach telah memberikan kontribusi yang cukup besar dan
positif terhadap perkembangan metode pengajaran bahasa asing yang dirancang
secara hirarkis dari latihan-latihan,menyimak,berbicara, membaca, dan menulis.
Muhammad Ali Khuly (2000:56)menyatakan bahwa; pengajaran bahasa asing
harus melalui dengan tahapan-tahapan yang berjenjang dan berkesinambungan
urutannya. Adalah menyimak, bebicara membaca dan menulis Tekhnologi audio
visual, film, tape proyektor, keuntungan dari tekhnologi ini siswa belajar melalui
rekaman dan sangat tepat bagi siswa yang kurang tanggap. Telah dikenalkan pula
istilah lain dari aural-oral approach yaitu: audio lingual method sebenarnya dapat
dijabarkan pula dengan mengunakan metode mim-mem,(mimiricy atau menirumemorizotium atau menghapal) dan metode pattrn practice karena kedua metode

24

ini mempunyai tujuan yang sama yaitu penguasaan kemampuan atau kemahiran
mengunakan bahasa secara aktif(lisan) dan memahami apa yang didengar dan apa
yang diucapkan.
Metode mim-mem sering pula dikenal sebagai informat driil method,
yaitu kegiatan belajar berupa demonstasi dan drill gramatika serta struktur kalimat
atau driil. Latihan ucapan (pronucation driil) dan latihan mengunakan kosa kata
dengan mengikuti atau menirukan guru dan native informat.
3. Pengajaran Bahasa Arab Sebagai Bahasa Asing
Bahasa Arab bagi bangsa Indonesia merupakan bahasa asing disamping
bahasa Inggris, Jerman, Jepang dan lain-lain.18 Sebagai Negara yang mayoritas
penduduknya muslim, Indonesia cukup memperhatikan perlunya pengajaran
bahasa Arab, karena sesungguhnya motivasi mempelajari bahasa Arab dan
mengembangkannya berkaitan dengan dua hal: Pertama, bahasa Arab adalah
bahasa Al-Quran dan al-hadist yang merupakan dasar agama Islam, serta bahasa
kebudayaan Islam seperti filsafat, ilmu kalam, ilmu hadist, tafsir, dan lain
sebagainya. Kedua, bahasa Arab merupakan bahasa persatuan bangsa Arab, juga
dipelajari untuk kepentingan ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, dan
kebudayaan, juga telah diakui sebagai bahasa resmi di PBB pada tahun 1973.
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
a. Lapangan: yaitu mempelajari secara itensif latar belakang, status akhir dan

interaksi lingkungan yang terjadi satuan kelompok, lembaga atau


komunitas. Dalam hal ini penelitian dilakukan di MTs
b. Deskriptif: bertujuan untuk mendiskripsikan apa-apa yang saat ini berlaku.
Di dalamnya terdapat upaya mendiskripsikan, mencatat, analisis dan
menginterprestasikan kondisi-kondisi sekarang. Denga kata lain bertujuan
untuk memperoleh informasi-informasi keadaan saat ini.
c. Kualitatif: adalah suatu analisa yang di gambarkan dengan kalimat yang
dipisakan menurut kategori untuk mendapatkan kesimpula
2. Sumber Data
Adapun yang menjadi sumber data untuk mendapatkan data dalam penelitian ini
adalah guru bidang studi bahasa Arab, pegawai bagian tata usaha, dan siswa MTS

25

AL-Hidayah Bagi siswa, penulis menggunakan penelitian dengan sample karena


jumlahnya lebih dari 100 orang. Hal ini dilakukan penulis dengan berpedoman
pada pendapat Siharsimi Arikunto:Untuk sekedar ancerancer, maka apabila
subyeknya kurang dari seratus, maka lebih baik diambil semua, sehingga
penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subyeknya besar,
dapat diambil antara 10-15% atau 20-25
atau lebih.
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Observasi

Jenis observasi yang dipilih dalam penelitian ini ialah observasi


terpusat/terkendali (controlled observasion) yang mana peneliti memposisikan
obyek pengamatan di dalam suatu ruangan khusus sehingga peneliti mudah
untuk mengamati dan melihat. Metode observasi ini digunakan untuk
mengadakan pengamatan supaya memperoleh data tentang proses belajar
mengajar (PBM) bahasa Arab di kelas serta keadaan siswa serta respon siswa
pada saat proses pembelajaran.
b. Wawancara
Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk
memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Wawancara ini digunakan
untuk mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam.
c. Dokumentasi
Dokumentasi ini digunakan dalam penelitian untuk memperoleh data mengenai
struktur organisasi dan keadaan guru serta keadaan siswa serta dokumentasi
yang dapat digunakan untuk kelengkapan data.
d. Angket
Angket dapat dipandang sebagai interview tertulis, dengan beberapa
pendekatan. Angket disebut juga questioner, sample dihubungkan dengan
pertanyaan tertulis. Angket yang digunakan di sini berupa pilihan ganda. Untuk
mengetahui pendapat siswa MTS AL-Hidayah tentang pengajaran bahasa Arab
di sana, juga untuk mengetahui unsurunsur behavioristik pada pengajaran
bahasa Arab.
H. Analisis Data
Analisis data yang digunakan kualitatif deskritif dan kuantitatif prosentase:
a. Kualitatif deskritif: yang artinya menganalisis hasil penelitian untuk tujuan

deskritif semata-mata, analisis menerima dan mengunakan teori da

26

rancangan organisasional yang telah ada dalam suatu disiplin.. Atas dasar
itu
penulis
menyusunnya
dengan
cara
menghubungkan
kategorikategorinya kedalam kerangka system kategori yang diperoleh
dari data.
b. Kualitatif prosentase: digunakan untuk menghitung hasil tanggapan siswa
(angket) dalam bentuk angka, yang nantinya dianalisa pula secara kulitatif.
Perhitungan secara kuantitatif ini mengunakan rumus prosentase sebagai
berikut:
P= f x100%
N
Keterangan:
P: Angka prosentase
F: Frekuensi yang dicari angka prosentase
N: Number of case (jumlah frekuensi).25

27