Anda di halaman 1dari 5

Hukum Pengobatan Alternatif

Fiqih Kontemporer
3/12/2009 | 15 Zulhijjah 1430 H | Hits: 2.081
Oleh: Dr. Setiawan Budi Utomo

dakwatuna.com Risalah Islam membawa


rahmat bagi semesta alam dengan menanamkan jiwa harapan dan optimisme bagi setiap
insan dalam kondisi apapun. Semangat inilah yang menyelimuti pesan dan petunjuk
beliau tentang pengobatan sebagaimana dirangkum oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab
Zadul Maad (Juz IV) yang dikenal dengan At-Thibb An-Nabawi (Pengobatan Nabi). Di
antaranya sabda beliau: Setiap penyakit ada obatnya, maka jika obat telah mengenai
penyakit maka akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla (HR. Muslim)
Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali telah menurunkan untuknya
obat yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang
tidak mengetahuinya. (HR. Ahmad)
Ketika umat Islam salah paham tentang takdir dengan kepasrahan fatalis tanpa usaha
sehingga mereka bertanya kepada Nabi apa perlu berobat bila datang takdir sakit, beliau
menjawab: Ya. Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah, karena Allah Azza wa Jalla
tidak menaruh penyakit kecuali menaruh padanya obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu
kerentaan. (HR. Ahmad) Demikian pula Abu Khizamah menanyakan kepada Nabi
tentang ruqyah (bacaan doa dan al-Quran) untuk menyembuhkan, obat-obatan untuk
berobat dan pelindung untuk pengamanan apakah semua itu dapat menolak takdir Allah,
maka beliau menjawab bahwa semua ikhtiar itu juga termasuk takdir Allah.
Dalam sebuah kisah diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim pernah menanyakan kepada Allah
dari mana asalnya penyakit dan obat, dijawab oleh Allah dari-Ku, Nabi Ibrahim
menanyakan, Lalu bagaimana dengan seorang dokter/tabib? maka Allah menjawab: Ia
hanyalah seorang perantara yang dikirimkan melalui tangannya suatu obat Oleh karena
itu siapapun yang memberi obat, itu bukan masalah. Bisa saja dokter, tabib, sinshe
ataupun ahli pengobatan tradisional dan lainnya. Yang penting, misinya pengobatan dan
tercapainya kesembuhan. Kita bisa pilih sendiri mana yang berkenan di hati kita, sebab
obat mereka masing-masing biasanya berbeda, asalkan tidak mengandung bahan-bahan

yang najis, haram ataupun membahayakan serta cara-cara yang haram. Rasulullah
berpesan: Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit sekaligus obat, dan telah
menciptakan obat bagi setiap penyakit, maka berobatlah dan jangan berobat dengan yang
haram. (HR. Abu Dawud)
Biasanya, praktek dokter yang banyak diatur secara ketat dalam kode etik dan peraturan
resmi untuk melindungi pasien meskipun demikian tidak jarang terjadi mal praktek
karena berbagai faktor, tetapi tidak demikian praktik pengobatan lainnya yang begitu
rawan, riskan, kurang terukur dan teruji secara klinis dan medis. Oleh karena itu
diperlukan kehati-hatian ekstra untuk berobat kepada selain kepada dokter. Betapa
banyaknya paranormal, dukun, oknum yang dianggap orang pintar, ahli pengobatan
alternatif, tempat bersyariat dan sebagainya yang sebenarnya penipu dengan berkedok
sakti, keramat, dan mujarab serta dalam iklan maupun opini yang digetoktularkan
mentahbiskan dirinya mampu mengobati berbagai macam penyakit dengan cara-cara
yang ghaib, supranatural atau dengan tenaga batin (baca; sihir), mantera, jampi, jimat,
hipnotis, magic, hawa murni aura dan lain sebagainya yang tidak ada sangkut pautnya
dengan ilmu kedokteran, meskipun ada sementara mereka setelah semua sesumbar itu
mencatut nama Allah dengan kiat klise untuk berkelit ataupun menuansakan kesan
agamis dengan izin Allah .
Berobat dengan cara ghaib, ajaib dan supranatural ini memang biasanya mudah menyeret
masyarakat awam kepada kemusyrikan. Hampir semua dukun dan paranormal memakai
kedok agama, dengan menekankan pada yang berobat bahwa yang memberi kesembuhan
hanyalah Allah. Kesesatan model begini tidak dilakukan oleh dokter. Tidak jarang dukun
meminta syarat atau imbalan berupa sesajen, misalnya meminta agar yang berobat
menyembelih ayam putih atau hitam, membawa telur ayam, menaburkan bunga dan
keanehan-keanehan lainnya serta berbagai pantangan dan petuah sakral yang hukumnya
jelas-jelas haram.
Rasulullah bersabda: Bukanlah dari golongan kami, seorang yang menggunakan
petunjuk setan atau burung dan sebagainya, atau praktek sihir untuk menerka nasib,
jodoh, penyakit dan obatnya. Maka barangsiapa mendatangi seorang dukun yang
melakukan praktek-praktek demikian lalu ia percaya akan keterangannya, orang ini
adalah orang yang telah mendustakan, dan tidak percaya dengan apa-apa yang
diwahyukan kepada Muhammad saw.
Ibnu Abbas mengomentari tentang orang-orang yang menggunakan ilmu huruf (rajah)
dan ilmu nujum untuk mengetahui ilmu ghaib bahwa mereka itu tidak akan menemui
nasib yang baik kelak di sisi Allah. Hal itu biasanya para orang pintar yang
mentahbiskan dirinya (secara lisan maupun perbuatan) mampu menyembuhkan segala
penyakit menganggap seakan dirinya suci dan kuasa meskipun diembel-embeli dengan
izin Allah. Janganlah kamu melagak-lagakkan dirimu orang suci. Dialah yang paling
mengetahui siapa yang lebih bertaqwa. (QS. An-Najm:32).
Seorang muslim yang kuat imannya tidak akan mungkin tergoda untuk penasaran dan
tergoyahkan oleh kepercayaan yang sesat kepada kemampuan dukun ataupun

paranormal. Sebab, seorang yang beriman kuat justru sebaliknya akan berharap dan
berlindung hanya kepada Allah serta memohon keselamatan dan pertolongan hanya
kepada-Nya sambil tetap optimis dan berikhtiar dengan cara-cara yang sudah ditentukan
al-Quran dan Sunnah Nabi, berobat dengan cara yang lazim dan wajar sesuai ketentuan
syariah, serta tidak menempuh jalan pintas melalui cara-cara ghaib dan supranatural yang
aneh-aneh dan sesat itu.
Banyak hadits yang melarang kaum muslimin melakukan pengobatan dengan tamaim
(tamimah), yaitu suatu jimat, isim, atau benda apapun yang digantungkan pada seseorang
untuk mengusir jin, penyakit mata, gangguan ghaib, sawan dan lain-lain. Nabi saw
bersabda: Sesungguhnya jampi-jampi, jimat dan tiwalah (guna-guna, susuk atau pelet)
adalah syirik. (HR. Ahmad, Abu Daud, Baihaqi dan Hakim)
Pengobatan yang sering dilakukan paranormal dengan rapalan, bacaan, mantera, dan
komat-kamit lainnya sambil kadangkala memegang bagian tertentu pasien ataupun juga
kadang dilakukan dari jarak jauh, maka jampi-jampi dan bacaan-bacaan semacam ini
terlarang hukumnya terutama yang tidak dimengerti artinya. Hal itu berbeda dengan
pengobatan ala sunnah yang dilakukan dengan bacaan yang dapat dimengerti artinya dan
berasal dari al-Quran ataupun hadits Nabi (matsur dari Nabi) apa yang lebih sering
dikenal sebagai metode ruqyah maka hal itu justru hukumnya sunnah dan terpuji tanpa
meninggalkan pengobatan klinis dan medis, seperti doa atau bacaan yang beliau ajarkan:
Ya Allah Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah, (karena) Engkaulah
Maha Penyembuh. Tidak ada penawar kecuali penawar-Mu, penawar yang tidak
meninggalkan penyakit. (HR. Ahmad dan Bukhari)
Para ulama mengatakan bahwa bacaan pengobatan atau jampi-jampi yang diperbolehkan
syariah harus memenuhi tiga syarat. Pertama, dengan menyebut nama Allah Taala.
Kedua, dengan bahasa Arab atau bahasa lainnya yang dapat dipahami maknanya, Ketiga,
dengan keyakinan bahwa jampi-jampi itu tidak berpengaruh kecuali dengan takdir Allah
Taala dan tidak menjerumuskan kepada syirik.
Pengobatan alternatif dan konsultasi supranatural melalui jimat-jimat yang digantungkan
ataupun dikenakan sebagai penangkal, penghilang penyakit atau pembawa berkah dan
perlindungan, dan sebagainya, semuanya dilarang oleh Islam, sebab hal itu telah
melakukan syirik dan bergantung kepada benda. Ketika sebuah rombongan yang terdiri
dari sepuluh orang menghadap Nabi saw untuk berbaiat kepada beliau dan menyatakan
masuk Islam, lalu beliau membaiat yang sembilan orang dan menahan yang seorang.
Ketika ditanya mengapa menahan yang seorang, beliau menjawab, di pundaknya
terdapat jimat. Kemudian laki-laki itu memasukkan tangannya ke dalam bajunya dan
memotong jimatnya. Setelah itu baru Rasulullah mau membaiatnya, seraya bersabda:
Barang siapa yang menggantungkan jimat, berarti ia telah melakukan perbuatan
syirik. (HR. Ahmad dan Hakim). Artinya, menggantungkan jimat dan hatinya
bergantung kepadanya berarti berbuat syirik.
Demikian pula ketika Nabi saw melihat gelang kuningan di pangkal lengan seseorang,
beliau mempertanyakannya, Apa ini? orang itu menjawab, saya memakai ini karena

terserang penyakit di pundak saya sebagai jimat. Kemudian beliau bersabda: Ingatlah,
sesungguhnya jimat itu hanya menambah lemah tubuhmu, karena itu buanglah segera!
Sebab jika engkau mati sedang jimat itu masih menempel di tubuhmu, engkau tidak akan
beruntung sama sekali. (HR. Ahmad)
Para sahabat juga sangat membenci jimat, sehingga ketika melihat seorang laki-laki yang
menggantungkan benang sebagai jimat, Hudzaifah membacakan ayat: Dan kebanyakan
mereka tidak beriman kepada Allah melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah
(dengan sembahan-sembahan lain). (QS. Yusuf:106) Said bin Jubair berkata:
Barangsiapa yang melepaskan satu jimat dari leher seseorang, maka (pahalanya) seperti
memerdekakan seorang budak. Ibrahim An-Nakhai, tokoh generasi tabiin berkata:
Para sahabat membenci semua bentuk jimat (isim dan lainnya), baik yang Al-Quran
maupun bukan dari Al-Quran..
Memang, masih ada beberapa ulama yang memperbolehkan penggunaan jimat bila
berasal dari ayat-ayat Al-Quran meskipun sebagian besar ulama tetap melarangnya dan
pendapat mayoritas ulama yang mengharamkan penggunaan segala bentuk jimat
termasuk dari jimat dari ayat al-Quran adalah yang lebih kuat alasannya berdasarkan
dalil-dalil di antaranya bahwa: 1. Hadits-hadits yang melarang tamaim (jimat-jimat) itu
bersifat umum, tidak membedakan antara berbagai jenis tamaim. Ketika menolak
seseorang yang memakainya, Nabi saw tidak menanyakan padanya apakah jimatnya itu
dari ayat Al-Quran atau tidak. 2. Pelarangan mutlak itu lebih logis sebagai upaya
antisipasi (saddan lidzdzariah) kemungkinan makin meluasnya penggunaan jimat yang
dapat menjerumuskan kepada syirik. Sebab orang yang menggantungkan Al-Quran
menjadi jimat suatu saat akan menggantungkan benda lain sebagai jimat pula. Sehingga
orang lain tidak tahu apakah jimat yang dipakainya dari Al-Quran atau bukan. 3.
Perbuatan seperti sama dengan merendahkan dan menghinakan Al-Quran secara materi
maupun maknawi, karena orang yang memakainya akan membawanya ke tempat-tempat
najis, tempat buang hajat, dalam kondisi jenabat, atau digunakan oleh wanita haidh di
samping merendahkan fungsi al-Quran untuk dibaca, diamalkan dan diajarkan guna
memberi petunjuk manusia dan bukan dieksploitasi fisik dan materi tulisannya untuk
kepentingan duniawi dan jasmani.
Karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa semua jimat itu terlarang sangat tepat.
Bahkan Nabi saw telah menyumpah orang-orang yang memakai jimat dalam doanya:
Barang siapa yang menggantungkan jimat, mudah-mudahan Allah tidak
menyempurnakan urusannya; dan barang siapa yang menggantungkan benda keramat
(sebagai penangkal), mudah-mudahan Allah tidak memberi perlindungan kepadanya.
Nabi saw justru menekankan pada pengobatan fisik dan terapi medis secara natural dan
bukan menganjurkan pengobatan alternatif supranatural dengan sabdanya:
Sesungguhnya penawar itu ada tiga perkara: minum madu, berbekam dan menempelkan
besi panas pada bagian yang sakit. (HR. Bukhari) Beliau tidak menyebutkan pengobatan
dengan jimat atau jampi, beliau justru hanya menyebutkan hal-hal yang alamiah (natural).
Pengobatan natural tersebut bisa melalui metode obat dalam melalui mulut, seperti madu,
yang sekarang dapat berupa injeksi atau sejenisnya, metode berbekam (mengeluarkan

darah) yang sekarang bisa diwujudkan dengan operasi dan metode menempelkan besi
panas pada bagian yang sakit, yang sekarang bisa dengan sistem penyinaran.
Semua pengobatan natural seperti itu dianjurkan oleh Islam dan disyariatkan oleh
Rasulullah. Kalau sedang menderita sakit beliau juga berobat seperti berbekam atau
memanggil tabib. Demikian pula para sahabat dan generasi sesudahnya. Jadi, yang lebih
utama bagi kita ialah mengikuti sunnah Rasulullah saw dan menjauhi cara-cara yang
bertentangan dengan syariah apalagi semua itu rekayasa para penipu untuk mengeruk
keuntungan dari orang-orang yang menderita dengan dalih jasa sosial. Adapun dalam
kasus tertentu ternyata pengobatan alternatif dapat menyembuhkan suatu penyakit, maka
seharusnya kita lebih percaya kepada ketentuan Allah dalam pengobatan melalui lisan
Rasul-Nya: Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kamu dalam hal yang
diharamkannya. (HR. Bukhari)
Kemanjuran dan kenyataan empirik ataupun pengalaman nyata sesuatu tidak otomatis
menjadi bukti kebenarannya, sebab hal itu boleh jadi merupakan ujian iman, istidraj
(perangkap Allah bagi orang-orang yang dimurkai-Nya melalui keberhasilan), atau
sebenarnya hal itu karena sugesti, obsesi, atau ilusi dan bukan sesuatu yang hakiki. Hal
itu sebagaimana pengalaman empiris sebelumnya dari beberapa sahabat yang
menggunakan khamer untuk diminum sebagai pengobatan, maka nabi melarangnya
dengan menegaskan: Sesungguhnya ia bukannya obat melainkan penyakit. (HR.
Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi) Bahkan dalam riwayat lain Nabi justru mendoakan
orang yang melakukan pengobatan haram tersebut agar Allah tidak menyembuhkannya.
(HR.As-Suyuthi)
Dengan demikian, jika orang yang dianggap pintar tersebut sebenarnya adalah orang
shalih, taat ibadah, aqidahnya lurus dan tidak komersial serta pengobatannya sesuai
dengan ketentuan tersebut di atas, maka hal itu dibolehkan dengan tetap meyakini bahwa
yang memberikan kesembuhan adalah Allah melalui perantaraan doa ikhlas dari orang
shalih maupun diri sendiri berdasarkan doa dan ayat-ayat al-Quran. Namun sebaliknya
jika pemberi jasa pengobatan alternatif atau yang dikenal dengan orang pintar adalah
tidak shalih dalam ibadah maupun akhlaq dan diragukan aqidah serta keterbebasannya
dengan dunia syirik ataupun jin, meskipun ia memberikan bacaan doa ataupun ayat alQuran maka hukumnya haram. Dalam hal berlaku untuk semua jenis pengobatan
alternatif termasuk masalah pengobatan santet dan sihir. Wallahu Alam Wa Billahit
Taufiq wal Hidayah. []