Anda di halaman 1dari 9

Badan Khusus Akan Tangani Malpraktik

Jakarta, Kompas - RUU Praktik Kedokteran akan mengatur suatu badan di dalam konsil
kedokteran, yang akan memilah persoalan apakah kasus malpraktik itu melanggar etik kedokteran
atau pidana. Badan ini yang kemudian menentukan apakah dokter yang bersangkutan melakukan
malpraktik atau tidak.
"Badan ini akan terdiri dari sembilan orang dan tidak semua anggotanya dokter. Ada juga yang dari
Departemen Kesehatan (Depkes), Ikatan Dokter Indonesia, dan tokoh masyarakat," kata anggota
Komisi VII DPR Tibrani Basri dari Palembang, Selasa (16/3).
Selain menentukan seorang dokter melakukan malpraktik atau tidak, juga akan diurai apakah
dokter tersebut melanggar etika atau sudah pidana. "Ada penegasan soal malpraktik ini melalui
sebuah pasal dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Praktik Kedokteran," ujarnya.
Sekarang ini yang terjadi, papar Tibrani, jika ada seorang dokter yang diduga melakukan
malpraktik, dokter itu akan dipanggil oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), dan setelah
memberikan penjelasan kepada MKEK, maka persoalan selesai begitu saja. Tibrani Basri tidak
ingin hal seperti itu terjadi lagi.
Apa pun namanya nanti, badan ini yang akan memilah-milah persoalan. Sebagai nondokter, Tibrani
tidak bisa menerima jika persoalan malpraktik tidak ada penegasannya. Apalagi korban malpraktik
ini sudah banyak. "Kemarin saya dengar ada dokter kolonel dari Jambi yang berobat di Jakarta dan
salah diagnosis. Dia kemudian dibawa ke Singapura, tapi tidak tertolong lagi dan meninggal," kata
Tibrani.
Melindungi pasien
Menurut Tibrani, hak-hak pasien melalui RUU Praktik Kedokteran sudah terlindungi. "Tujuan RUU
ini memang ada tiga, melindungi pasien, melindungi dokter, dan meningkatkan mutu pelayanan,"
katanya seraya menyebutkan bahwa draf RUU tersebut sudah dibicarakan dengan para pakar.
Wakil Ketua Komisi VII DPR Surya Chandra Surapaty juga menegaskan, soal malpraktik akan
diurus di konsil kedokteran, di mana ada sertifikasi, membuat standar pelayanan medik, dan juga
setiap lima tahun ada ujian apakah dokter itu masih mampu atau tidak.
Surya mengakui, sejauh ini pembahasan mengenai RUU Praktik Kedokteran di DPR sebenarnya
belum ada titik temu antara DPR dan pemerintah, yakni soal konsil kedokteran dan peradilan
profesi medis.
Lebih lanjut ia menjelaskan, DPR berharap agar konsil kedokteran lepas dari tanggung jawab
Depkes. Jadi, Depkes tidak lagi mengurus dokter, melainkan mengurus bagaimana mendidik
masyarakat dalam pencegahan penyakit.
Ia pun mengkritik Depkes yang menurut dia mengurus soal dokter pun tidak beres, baik soal dokter
pegawai tidak tetap (PTT) maupun kelanjutan dari dokter yang sudah mendapat pendidikan
spesialis. "Tidak ada kejelasan mereka mau dikemanakan," katanya.
Sedangkan pihak Depkes tidak sepenuhnya mau melepaskan. Depkes menginginkan konsil
kedokteran hanya sebagai badan koordinasi, jadi bukan sebagai badan operasional. Di RUU
Praktik Kedokteran versi pemerintah ini nanti akan dibentuk komite registrasi, komisi pendidikan,
sertifikasi, termasuk komisi untuk mengadili pengaduan. Hal inilah yang belum sampai pada titik
temu.

Menyangkut peradilan profesi, Komisi VII menyetujui usulan Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia bahwa jika ada sengketa kedokteran, peradilan profesi harus masuk peradilan umum
dengan membuat kamar sendiri, seperti peradilan niaga dan ada hakim ad hoc-nya.
Menurut Tibrani, RUU Praktik Kedokteran sebenarnya akan diselesaikan sebelum masa reses,
namun karena Menteri Kesehatan Achmad Sujudi ternyata sibuk luar biasa menangani demam
berdarah dengue, pembahasannya tertunda. (LOK)

UU Praktik Kedokteran dalam Perspektif Malpraktik Medis


Chrisdiono M Achadiat
Rancangan Undang-Undang Praktik Kedokteran (selanjutnya disebut RUU PK) kini sedang dibahas
di DPR dan banyak pihak menaruh harapan besar terhadap perangkat peraturan ini. Agak
mengherankan memang, karena ternyata sampai saat ini Indonesia adalah satu dari sedikit negara
yang belum memiliki UU untuk mengatur praktik kedokteran, sedangkan negara yang tergolong
"terbelakang" seperti Vietnam atau Myanmar telah memiliki UU seperti itu sejak lama!
Meskipun terkesan agak terlambat, apabila RUU ini bisa lolos nantinya pastilah akan merupakan
"terobosan" yang sangat bermakna bagi praktik kedokteran; apalagi belakangan ini ramai
diberitakan dalam media cetak maupun elektronik mengenai pelbagai kasus berkaitan dengan
perselisihan antara dokter dan pasiennya.
Bagaimana sebenarnya isi dari RUU itu, yang kini menjadi polemik hangat di kalangan profesi
kedokteran maupun masyarakat umum?
Latar belakang, filosofi, dan tujuan
Praktik kedokteran dalam pengertian luas pada hakikatnya adalah perwujudan idealisme dan spirit
pengabdian seorang dokter, sebagaimana yang diikrarkan dalam Sumpah Dokter dan Kode Etik
Kedokteran Indonesia (KODEKI). Dalam perkembangannya kemudian, seluruh aspek kehidupan di
dunia ini mengalami perubahan paradigma secara bermakna, termasuk dalam profesi kedokteran,
dengan akibat terjadi pula perubahan orientasi dan motivasi pengabdian tersebut pada diri
sebagian dokter. Sebagai dampak perubahan yang semakin global, individualistik, materialistik, dan
hedonistik tersebut, maka perilaku dan sikap tindak profesional di sebagian kalangan dokter juga
berubah.
Masyarakat kemudian juga semakin memandang negatif profesi kedokteran karena melihat dan
menyaksikan maraknya praktik-praktik kedokteran yang semakin jauh dari nilai-nilai luhur Sumpah
Dokter dan KODEKI. Masyarakat atau pasien (yang dalam terminologi bisnis kini disebut
konsumen, juga dalam konteks kontrak terapeutik!) merasa perlu "melindungi diri" terhadap perilaku
hedonistik dan unethical para dokter itu.
Materi Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mencerminkan
kekhawatiran tersebut dan profesi kedokteran adalah salah satu bidang yang tercakup di dalam UU
No 8/1999. Bahkan ditegaskan bahwa kontrak terapeutik antara dokter dan pasien adalah seperti
halnya kontrak-kontrak jasa atau dagang lainnya.
Setuju atau tidak, suka atau tidak suka, tetapi jelas bahwa bidang kedokteran (yakni kontrak
terapeutik) sudah termasuk dalam cakupan UU itu, sehingga pasien kemudian disebut sebagai
konsumen pelayanan kesehatan (health consumers) dan dokter atau rumah sakit sebagai produsen
jasa pelayanan kesehatan (health producers).
Karena itu, kalangan profesi kedokteran yang merasa sangat "terancam" dan keberatan dengan UU
Perlindungan Konsumen itu kemudian (secara kebetulan?) mengajukan RUU PK ini. Dengan
demikian, tak terhindarkan adanya kesan kuat bahwa RUU PK adalah reaksi belaka terhadap UU

Perlindungan Konsumen. Akan tetapi, benarkah RUU PK tersebut disusun sebagai reaksi terhadap
UU No 8/1999 itu sebagaimana disinyalir banyak kalangan? Benarkah RUU PK itu semacam
"payung perlindungan" dokter atas maraknya tuntutan masyarakat/pasien terhadap para praktisi
kedokteran?
Disebutkan dalam RUU PK bahwa tujuan pengaturan, pengawasan, dan pembinaan
penyelenggaraan praktik kedokteran melalui UU ialah: (a) Memberikan perlindungan kepada
penderita atau masyarakat penerima jasa pelayanan kesehatan; (b) Mempertahankan dan
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan oleh tenaga medis (domestik atau asing); dan (c)
Memberikan kepastian hukum kepada penerima jasa pelayanan kesehatan (pasien) dan
penyelenggara pelayanan kesehatan (dokter dan dokter gigi).
Jadi, sangat jelas bahwa RUU PK ternyata bukan hanya sekadar reaksi terhadap adanya UU No
8/1999, melainkan lebih jauh dari itu adalah mengatur dan menyeimbangkan hak kewajiban dokter
dan pasien dalam konteks praktik kedokteran. Bukankah selama ini selalu menjadi polemik hangat,
siapa sebenarnya secara hukum memiliki kedudukan lebih tinggi/kuat? Dokter atau
pasien/masyarakat?
Kalangan dokter berpendapat pihak pasien terlalu/sangat kuat kedudukannya sehingga dapat
dengan begitu saja menuntut/menggugat dokter untuk suatu hasil pengobatan negatif atau tidak
memenuhi harapan pasien. Padahal, dampak dari tuntutan itu terkadang sudah merupakan
pembunuhan karakter atau character assassination terhadap dokter yang dituntut/digugat;
sedangkan pada kenyataannya tidak selalu hasil negatif itu merupakan kesalahan atau kelalaian
dokter yang merawat.
Sering kali, bahkan pihak pasien (melalui pengacaranya) telah memublikasikan kasus yang
digugatnya sebagai malpraktik, padahal hal tersebut dapat dikatakan sebagai pelanggaran atas
asas praduga tak bersalah, mengingat "stempel" malpraktik harus ditetapkan melalui proses
peradilan!
Sebaliknya, pihak pasien berpendapat bahwa dokter-dokter itulah yang "kebal hukum" dan selalu
berlindung di balik etika kedokteran agar terlepas dari tanggung jawab yang seharusnya dipikul.
Image negatif terhadap profesi kedokteran ini semakin mengental ketika pelbagai pengaduan oleh
masyarakat kepada organisasi profesi (yakni Ikatan Dokter Indonesia/IDI) sangat lamban
ditanggapi, kalau tidak mau disebut IDI bahkan sering kali kurang peduli dengan pengaduanpengaduan tersebut!
Keadaan itu diikuti dan diperparah lagi dengan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap IDI
(baca: profesi kedokteran) akibat lambannya respons (untuk tidak menyebut no response!)
terhadap pelanggaran-pelanggaran tadi. Bahkan yang paling "kasatmata" atau terang-terangan
sekalipun, IDI sepertinya bersikap sangat pasif! IDI terkesan selalu nongkrong di kantor menunggu
pengaduan dan bahkan lebih konyol lagi, tampaknya IDI berpegang pada prinsip "tidak ada
pengaduan berarti semuanya baik-baik saja!"
Pelbagai pelanggaran etika dan hukum yang begitu jelas, transparan, kasatmata, dan telah berjalan
bertahun-tahun, dilakukan oleh beberapa kalangan dokter (dan juga nondokter, tetapi
menggunakan atribut maupun idiom-idiom dokter/kedokteran) tanpa adanya teguran atau
peringatan dari siapa pun (termasuk IDI), sampai detik ini pun masih berlangsung dengan amanaman saja! IDI terkesan sangat "berpihak" kepada anggota-anggotanya (baca: para dokter!), nyaris
secara membabi buta! Tidak jarang masyarakat menjadi jengkel dan terheran-heran ketika
pengaduan-pengaduan pelanggaran etika kedokteran oleh dokter diputuskan "salah alamat" oleh
IDI/MKEK! Dengan begitu, pelanggaran-pelanggaran etika (dan juga hukum!) cenderung berlanjut
terus!

Moralitas profesi
Walaupun yang mengajukan RUU PK adalah kalangan dokter dan profesional medis, seyogianya
tetap tidak meninggalkan nilai-nilai moralitas dan etika dari profesi ini, yakni kepentingan
masyarakat/pasien adalah di atas segala-galanya!
Namun, klausul "kepentingan pasien di atas segala-galanya" itu juga harus tetap dibaca dalam
konteks keadilan dan keseimbangan dengan hak-hak asasi sang dokter! Jadi, kalau dokter
melanggar hukum, ia harus diproses secara hukum dan (jika bersalah!) dikenai sanksi hukum,
sedangkan untuk pelanggaran etika kedokteran, sang dokter dikenai sanksi etika.
Masyarakat juga harus disadarkan bahwa sanksi maksimal untuk suatu pelanggaran etika adalah
dikeluarkan dari komunitas penganut etika profesi, tidak ada sanksi berupa kurungan/penjara,
denda atau ganti rugi bagi suatu pelanggaran etika! Bahkan, dokter yang tak terbukti melanggar
atau bersalah harus dipulihkan nama baiknya!
Dua substansi utama dalam RUU PK ialah mengenai Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan
Peradilan Disiplin Profesi Tenaga Medis (PDPTM). Sedikit keheranan penulis adalah mengapa
digunakan istilah Konsil (dari kosakata bahasa Inggris council), padahal kita telah memiliki
terjemahannya, yakni Dewan. Dalam konteks itu pula, agaknya akan lebih tetap disebut sebagai
Dewan Kedokteran Indonesia. Sebagai perbandingan, badan PBB Security Council tetap
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Dewan Keamanan, bukan Konsil Keamanan!
Dalam RUU PK disebutkan bahwa KKI adalah suatu lembaga negara nonstruktural dan bersifat
independen, "posisi"-nya di atas semua organisasi profesi kedokteran dan kedokteran gigi, serta
semua instansi pemerintah dan swasta yang terkait dengan pelayanan kesehatan. KKI bekerja
berlandaskan UU dan berfungsi mengatur, membina, dan menetapkan tenaga medis (dokter dan
dokter gigi) untuk menjalankan praktik profesinya dalam kerangka peningkatan mutu pelayanan
kesehatan secara keseluruhan. KKI diangkat dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
Rincian tugas KKI adalah (Pasal 6 RUU PK): (a) Melaksanakan registrasi terhadap semua tenaga
medis; (b) Menetapkan standar pendidikan bagi tenaga medis; (c) Menyaring, menapis dan
merumuskan arah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) medis dalam praktik
kedokteran; dan (d) Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap semua penyelenggaraan
praktik kedokteran.
Kewenangan dari KKI dalam Pasal 8 sebenarnya lebih bersifat "internal", yakni sepenuhnya
ditujukan kepada para penyelenggara pelayanan kesehatan (dokter dan dokter gigi). Sebagai
contoh, salah satu kewenangan KKI adalah menyetujui atau menolak permohonan registrasi tenaga
medis (Ayat 1), menerbitkan atau mencabut registrasi tenaga medis (Ayat 2). Selengkapnya
kewenangan KKI ini dapat dilihat pada Boks 1.
Kemudian, setiap tenaga medis yang berpraktik harus memiliki Sertifikat Registrasi Tenaga Medis
(SRTM) sebagaimana disebutkan dalam Pasal 19. Mereka yang tidak memiliki SRTM (dan Surat
Izin Praktik atau SIP) dalam berpraktik diancam dengan sanksi pidana penjara selama lima tahun
dan/atau denda paling banyak Rp 150 juta (Pasal 170). Memang banyak pihak yang
mempertanyakan mengapa sanksi untuk ini sangat "ringan" mengingat denda sedemikian ini dapat
"dilunasi" oleh kalangan dokter tertentu hanya dengan sebulan berpraktik!
Substansi kedua yang lebih dominan dalam RUU ini ialah pasal-pasal tentang peradilan profesi,
baik yang berupa Pengadilan Disiplin Profesi Tenaga Medis (PDPTM) maupun Pengadilan Tinggi
Disiplin Profesi Tenaga Medis (PTDPTM), mencakup 129 pasal dari keseluruhan 178 pasal RUU ini
(72,5 persen). Kedua lembaga peradilan ini pada akhirnya tetap bermuara pada Mahkamah Agung
(MA). Hal baru yang menarik dalam RUU PK ialah ditunjuknya hakim-hakim dalam PDPTM maupun

PTDPTM yang terdiri atas para ahli hukum dan juga tenaga medis (yang terakhir ini disebut
sebagai hakim ad hoc).

Terobosan hakim ad hoc ini sangat mengesankan, mengingat selama ini pelbagai keputusan
hukum dalam bidang kedokteran acap kali dilakukan oleh para hakim yang murni ahli hukum dan
dengan demikian sering pula tidak dapat memenuhi rasa keadilan (khususnya bagi para dokter).
Banyak nuansa profesi kedokteran yang hanya dapat dirasakan, dijelaskan, dan dihayati oleh
orang-orang yang paham dengan profesi ini.
Hakikat perikatan/perjanjian dalam kontrak terapeutik misalnya adalah berdasarkan usaha yang
sebaik-baiknya (inspanningverbintenis) dan bukan berdasarkan hasil semata (resultaatverbintenis)!
Jadi, yang menjadi fokus dalam perkara perselisihan hukum kedokteran bukanlah sembuh atau
tidaknya pasien (baca: hasil!), melainkan apakah dokter itu sudah menjalankan profesinya dengan
sebaik-baiknya (ukuran tertinggi)! Para hakim yang memutuskan perkara perselisihan hukum
kedokteran di negara-negara maju, misalnya, biasanya telah mendapat pengetahuan tambahan
mengenai etika dan hukum kedokteran mengingat sifat dan hakikatnya yang sangat khas dan "agak
berbeda" dengan hukum pada umumnya.
Mengenai gugatan atau tuntutan hukum terhadap para tenaga medis, timbul pertanyaan mengenai
siapa yang dapat mengajukan tuntutan/gugatan atas kerugian yang ditimbulkan oleh praktik tenaga
medis? Disebutkan dalam RUU PK bahwa "Setiap orang atau badan yang merasa dirugikan oleh
tindakan tenaga medis yang menjalankan praktiknya, dapat mengajukan tuntutan secara tertulis
kepada PDPTM" (Pasal 87).
Masih belum cukup jelas, apakah organisasi profesi kedokteran (seperti IDI) juga bisa mengajukan
tuntutan/gugatan terhadap anggotanya (baca: dokter!) yang melanggar UU ini? Jika hal ini bisa
terwujud, akan merupakan terobosan bermakna dalam rangka pengawasan dan pembinaan oleh
IDI terhadap perilaku para dokter atau tenaga medis lainnya. Hal ini mengingat selama ini IDI
terkesan hanya sebagai "macan ompong" bila berhadapan dengan pelanggaran-pelanggaran
KODEKI maupun pelanggaran hukum.
Klausul ini juga masih menyisakan sedikit pertanyaan, bagaimana dengan dokter yang bekerja di
suatu corporate atau rumah sakit? Apakah dokter itu bisa dituntut berdasarkan pasal ini jika ia
melakukan kesalahan ketika sedang bekerja di corporate tersebut dan bukan di tempatnya
berpraktik?
Masalah mendasar yang selama ini terjadi justru karena IDI tidak pernah merasa terusik atau
dirugikan kepentingannya oleh adanya pelbagai pelanggaran oleh anggotanya; sehingga IDI
terkesan sangat tidak peka dan tidak peduli, padahal yang terjadi adalah pelanggaran etika
kedokteran! Kalaupun ada kepedulian itu, kemudian IDI masih juga terjebak dalam paradigma
"konyol" bahwa IDI harus membela (kalau perlu secara all out!) para anggotanya! Sadar atau tidak,
sikap IDI yang seperti inilah yang "menjengkelkan" masyarakat dan sekaligus menghilangkan
kepercayaan kepada IDI sebagai organisasi kaum profesional/dokter!
Dalam pandangan penulis, seharusnyalah IDI membina, mengawasi, dan kalau perlu menegur atau
memperingatkan para anggotanya agar selalu berperilaku dan bertindak dengan berpedoman pada
KODEKI dan Sumpah Dokter sebagai landasan moral dan perilaku profesional. Jika teguran atau
peringatan itu tidak digubris, IDI dan organisasi profesi medik lain seyogianya diberi kewenangan,
keberdayaan, dan kesempatan untuk menuntut/menggugat tenaga medis/dokter tersebut (dan kini
hal itu dimungkinkan oleh RUU PK?), baik yang anggota maupun bukan anggota IDI.
Hakikat IDI sebagai moral and ethical guard profesi kedokteran harus selalu menjadi acuan dalam
kiprahnya "mengawal" profesi yang (konon) luhur dan mulia ini! Penulis berpendapat bahwa "gigi
taring" IDI untuk mencabut rekomendasi izin praktik yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan selama
ini terasa sangat tumpul dan tidak efisien, apalagi sekarang banyak dokter yang bukan anggota IDI!

Selanjutnya, Pasal 87 juga menguraikan alasan-alasan bagi para pihak agar dapat mengajukan
gugatan/tuntutan (selengkapnya dapat dilihat dalam Boks 2). Pasal 89 menyebutkan "Pengaduan
hanya dapat diajukan dalam tenggang waktu paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak
dilakukannya tindakan medis tersebut". Sebagai alat bukti dalam mengajukan tuntutan tersebut,
Pasal 133 menyebutkan: (a) surat-surat atau tulisan (persetujuan tindakan medis, catatan medis
dan bukti-bukti tulisan lainnya); (b) keterangan ahli; (c) keterangan saksi; (d) pengakuan para pihak;
dan (e) pengetahuan hakim.
Secara keseluruhan, semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pelayanan
kesehatan tersebut diawasi dan dibina oleh suatu badan yang dibentuk khusus untuk keperluan itu,
terdiri atas Menteri Kesehatan (dan/atau aparat di bawahnya) dan organisasi profesi terkait (pasal
169). Kegiatan badan ini diarahkan kepada dua hal penting, yakni (1) mempertahankan dan
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, serta (2) melindungi masyarakat (baca: pasien) dari
tindakan yang merugikan oleh tenaga medis. Dalam konteks praktik kedokteran, maka butir kedua
ini menepis anggapan bahwa UU ini hanya membela kepentingan para tenaga medis, justru
sekarang terlihat bahwa masyarakat sangat terlindungi!
Siapakah yang dapat dipidana menurut RUU PK ini? Pasal 170: "Barangsiapa melakukan praktik
kedokteran (a) Tanpa memiliki SRTM (Sertifikat Registrasi Tenaga Medis) dan SIP (Surat Izin
Praktik); (b) Tidak memasang papan praktik kedokteran; (c) Tidak mengikuti SPM (Standar
Pelayanan Medis); (d) Memberikan janji terhadap keberhasilan suatu tindakan medis; dan (e) Tidak
melaksanakan atau memelihara CM (Catatan Medis); dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan atau pidana denda paling banyak Rp. 150.000.000,- (seratus limapuluh juta rupiah)".
Secara konotatif, kata "barangsiapa" menunjukkan individu (pola yang sama juga berlaku dalam
Kitab Undang-undang Hukum Pidana atau KUHP!) dan dengan demikian merujuk pada orang per
orang (baca: dokter!). Penulis berpandangan bahwa pelanggaran yang dilakukan (misalnya) oleh
dan dalam suatu corporate seperti rumah sakit tidak termasuk dalam pengertian Pasal 170 RUU PK
itu, tetapi individu dokternya (jika ia menjadi pelakunya!) bisa dituntut/digugat sebagai tenaga
medis.
Memang, rasanya untuk hal-hal seperti itu (berkaitan dengan soal corporate dalam bidang
pelayanan kesehatan) perlu disusun peraturan perundang-undangannya terpisah dari UU Praktik
Kedokteran. Sekali lagi terlihat bahwa RUU ini sama sekali bukanlah reaksi belaka atas UU
Perlindungan Konsumen karena pihak pasien tidak disebut-sebut (eksplisit atau implisit) sebagai
pihak yang dapat dipidana menurut RUU PK ini!
Sudah siap?
Setelah membahas RUU PK dalam garis besarnya, timbul pertanyaan mengenai kesiapan
masyarakat maupun kalangan dokter/tenaga medis. Harus diakui, bahkan di kalangan medis pun
sosialisasi RUU PK ini terkesan kurang serius dilakukan, apalagi untuk "masyarakat awam"!
Seorang dokter bedah senior menyatakan bahwa kalangan dokter dan dokter gigi telah siap secara
formal karena memang tak ada pilihan lain (mau atau tidak mau, setuju atau tidak setuju, suka atau
tidak suka!), tetapi secara kultural dan moral masih tetap menjadi pertanyaan besar!
Harus diakui, selama ini dokter dan tenaga medis lain sudah sangat terbiasa dengan iklim di mana
praktik-praktik yang tidak memiliki acuan etika, moral, dan hukum dapat dijalankan tanpa ada
peringatan, teguran, apalagi sanksi dari siapa pun (termasuk IDI!). Acap kali pula bentuk-bentuk
praktik yang diketahui (oleh kalangan awam sekalipun!) sebagai pelanggaran etika maupun hukum
toh dapat berjalan lancar tanpa pernah ada tindakan/teguran/peringatan atau sanksi apa pun dari
organisasi profesi (seperti IDI), aparat yang berwenang (Departemen Kesehatan atau Dinas
Kesehatan misalnya) maupun aparat penegak hukum lainnya.
Contoh-contoh itu misalnya dokter yang melakukan aborsi tanpa indikasi medis. Juga seseorang
yang mencantumkan gelar dokter (bahkan dokter ahli, walaupun dokter ahli penyakit dalam tenaga

chi kung!), tetapi ia tidak pernah kuliah di FK dan kemudian menyelenggarakan praktik kedokteran
dengan metode sangat "aneh dan ajaib" yang tak dikenal dalam dunia kedokteran lazimnya.
Demikian pula dengan dokter umum (artinya tak pernah mengikuti pendidikan spesialisasi dan
dengan demikian tidak memiliki ijazah maupun brevet sebagai spesialis!) yang bertindak dan
berlaku sebagaimana dokter spesialis, termasuk melakukan pembedahan-pembedahan yang sama
sekali bukan kewenangannya ("Perlukah MKEK Bersidang Juga?", Kompas, 24/7/2002). Apakah
UU PK yang akan diberlakukan nanti juga akan mencakup kasus-kasus seperti itu, wallahualam
bisawab, karena sampai detik ini pun pelanggaran-pelanggaran seperti itu masih tetap marak
berlangsung, walaupun telah berjalan bertahun-tahun secara terang-terangan!
Di pihak lain, masyarakat juga tampaknya belum siap terhadap suatu prosedur hukum dengan
adanya lembaga peradilan seperti PDPTM dan PTDPTM, di mana nanti hakim-hakimnya termasuk
yang ad hoc (yakni tenaga medis!). Selama ini, masyarakat (dan media cetak/elektronik) sudah
terbiasa dengan street justice dan mengabaikan asas praduga tak bersalah (presumption of
innocent), yakni seringnya menyebut malpraktik untuk kasus yang belum diputuskan oleh
pengadilan, tanpa mempertimbangkan dampak yang timbul dari publikasi seperti itu. Seorang
dokter yang belum pernah menjalani proses peradilan (dan dengan demikian belum terbukti
bersalah atau tidak) terkadang telah mendapat "vonis" malpraktik dan sekaligus memperoleh
"hukuman" berupa character assassination!
Nah, hal-hal itulah yang sepertinya akan diupayakan untuk diakomodasi oleh RUU PK! Baik tenaga
medis maupun masyarakat/pasien diharapkan dan dimungkinkan dapat memenuhi hak dan
kewajiban masing-masing secara harmonis, jujur, fair, adil, dan seimbang.
Rangkuman
Para penyelenggara negara sebenarnya bisa belajar dari pengalaman keberadaan UU No 23/1992
tentang Kesehatan (atau lebih dikenal sebagai UU Kesehatan) yang sampai detik ini belum
terlaksana dengan utuh (dalam usianya yang 12 tahun), karena lambannya pembentukan dan
pengesahan peraturan pemerintah (PP) dan keputusan presiden (keppres) yang diperlukan sebagai
implementasi UU tersebut.
Dari sekitar 50-an PP dan keppres yang dibutuhkan, baru sekitar enam atau tujuh yang telah
rampung. Hingga sekarang, praktis UU No 23/1992 itu tidak bisa dilaksanakan alias macet karena
peranti dan perangkat pendukungnya ternyata tidak pernah siap! Belakangan, malah sudah
semakin keras suara-suara yang menghendaki UU No 23/1992 ini supaya diganti atau
diamandemen!
Memang wajar sekali jika pelbagai peraturan atau UU hanya akan menjadi bahan lelucon,
tertawaan, dan gunjingan belaka apabila tidak dilaksanakan dan diikuti dengan law enforcement
secara tegas dan lugas. Semua orang sudah mafhum bahwa kelemahan utama bangsa ini adalah
dalam melaksanakan dan mengimplementasikan suatu peraturan! Bangsa ini sangat unggul dalam
membuat peraturan atau UU yang bagus-bagus, tetapi menerapkannya dalam kehidupan seharihari adalah soal lain lagi!
Penulis sangat menaruh harapan atas RUU PK ini dan berharap dapat segera disahkan oleh DPR
menjadi UU. Paling sedikit, bagian yang mengandung substansi KKI atau Konsil Kedokteran
Indonesia tersebut ditetapkan dulu, sedangkan bagian yang mengandung substansi lain dapat
dikaji lebih mendalam dulu sebelum disahkan. Tak mungkin bagi siapa pun untuk membantah fakta
bahwa rambu-rambu etika saja ternyata tidak lagi mampu mengendalikan perilaku para dokter
sehingga diperlukan perangkat yang lebih tegas dan "represif", yaitu UU mengenai Praktik
Kedokteran!
Patut pula kita renungkan sebuah pepatah Cina kuno berikut ini: the more laws you make, the more
criminals are created! Benarkah demikian? Dalam pandangan penulis, pepatah itu hanya akan

menjadi benar adanya jika suatu peraturan atau UU tidak dapat, tidak mampu, atau tidak mau
dilaksanakan/diimplementasikan secara konsisten-konsekuen alias "mandul"

Kamis, 17 November 2005


Kesehatan
IDI Sumsel Akan Berikan Sanksi Berat bagi Dokter Mogok Kerja

Penulis: Yasland Aspani


PALEMBANG--MIOL: Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumatra Selatan (Sumsel)
Mahyudin NS menegaskan, akan menjatuhkan sanksi atau hukuman tertentu kepada para
dokter yang mogok kerja di Rumah Sakit Moehamad Hoesin (RSMH) Palembang.
Sejumlah dokter di rumah sakit itu mogok kerja, sejak beberapa hari lalu. Mereka
menolak Basri Palu sebagai Dirut RSMH Palembang yang baru.
Berdasarkan pantauan Media, Kamis (17/11) pelayanan kesehatan di rumah sakit itu
berangsur-angsur normal, meskipun para dokter penentang Basri Palu masih tetap tidak
mau menjalankan tugasnya. Para pasien dan warga yang berobat terpaksa dilayani dokter
bencana alam yang diterjunkan manajemen RSMH.
"Walaupun dokternya tak sesuai, tapi kami bisa berobat tanpa halangan seperti waktu
mogok kemarin," ujar Ruskan, 48, seorang warga yang berobat kontrol di bagian
Penyakit Dalam.
Hal yang sama dikatakan Wartini, 35, warga Sukabangun. "Saya berobat mata dan telah
diperiksa dengan baik. Tak ada antrean panjang," kata ibu berkacamata ini.
Ketua IDI Sumsel Mahyudin, yang juga Wakil Gubernur Sumsel menegaskan, aksi
mogok para dokter itu melanggar kote etik kedokteran dan sumpah dokter.
"Sebenarnya sesama dokter itu bersaudara dan dokter tak boleh menelantarkan pasien,
apalagi mogok. Ini kan sudah keterlaluan," ujar Mahyudin kepada Media usai membuka
Musda Gapensi II Sumsel di Hotel Swarna Dwipa, Palembang, Kamis.
Mahyudin menyebutkan, sebenarnya para dokter yang menentang kehadiran Basri Palu
itu merupakan hak asasi mereka, tapi para dokter sama sekali tak boleh mogok dan
menelantarkan pasien. "Sekarang kami masih beri toleransi. Tapi kalau sampai berlarutlarut para dokter mogok itu akan kami berikan sanki berat, seperti pencabutan izin
praktek."
Mahyudin menambahkan kondisi RSMH sudah kondusif. Dia menyarankan kedua belah
pihak duduk satu meja mencari solusi kemelut di rumah sakit pemerintah tersebut.

Sejauh ini IDI setempat belum menerima identitas dokter yang meogok kerja tersebut.
"Sampai sekarang siapa yang mogok itu kami belum tahu," ujar Mahyudin.
Seorang penentang Basri Palu, Prof Usman Said menegaskan tidak takut diberi sanksi
oleh siapa pun, termasuk oleh IDI Sumsel. "Saya tidak takut, kalau perjuangan itu benar
tentu ada resiko, ini yang kami tanggung. Lagi pula, saya ini bukan dokter Dinas
Kesehatan, tapi dokter dari Dikbud dan Perguruan Tinggi," jelas Usman Said yang juga
da'i terkenal di Palembang ini.
Usman menyebutkan, aksi mogok tersebut sebagai bentuk penolakan para dokter atas
kehadiran Basir Palu. Selama Basir Palu jadi Dirut RSMH, kata dokter ahli kandungan
itu, kami tetap menolak. (AY/OL-02)