Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 BAKTERI ACTINOMYCES SPP.


Bakteri Actinomyces spp. merupakan bakteri anaerob gram positif. Bakteri ini
tidak

menggunakan

oksigen

untuk

pertumbuhan

dan

metabolisme

tetapi

mendapatkan energinya melalui reaksi fermentasi. Definisi fungsional anaerob


adalah bakteri yang memerlukan tekanan oksigen yang rendah untuk tumbuh dan
tidak dapat tumbuh pada permukaan medium padat dalam udara yang mengandung
CO2 10% diudara.9
Pada pewarnaan gram, bakteri Actinomyces spp. sangat bervariasi ukurannya,
dapat berukuran pendek dan berbentuk panjang, tipis, filament bermanik-manik,
dapat bercabang atau tidak bercabang. Karena kelompok ini sering tumbuh perlahanlahan, inkubasi biakan yang lama mungkin diperlukan sebelum konfirmasi
laboratorium terhadap diagnosis klinis ditegakkan. Beberapa spesies Actinomyces
spp. dapat menoleransi oksigen (aerotoleran) dan tumbuh dengan adanya udara.
Spesies Actinomyces spp. sensitif terhadap penisilin G, eritromisin, dan antibiotik
lainnya.9
Actinomyces spp. merupakan salah satu spesies bakteri yang terdapat pada
saluran akar yang telah terinfeksi. Menurut Figdor dan Sundqivist10

Actinomyces spp. merupakan spesies bakteri yang ditemukan dalam jumlah yang
lebih besar setelah Lactobacillus.10

Tabel 2.1
Bakteri-bakteri yang ditemukan di dalam saluran akar

Studi
Moller

Jumlah
spesies
bakteri tiap
saluran akar
1.6

Enterococcus

Streptococcus

Candida

Actinomyces

sp.*

sp.*

sp.*

sp.*

29

16

TT

Molander et al.

1.7

47

20

Sundqvist et al.

1.3

38

25

13

Hancock et al.

1.7

32

21

27

Peciuliene et al.

1.6

64

18

Cheung & Ho

2.6 (1.8)

TT

50

17

TT

Pinheiro et al.

2.6 (1.8)

55

33

20

4.1

77

23

Siquiera &
Rocas +
*persentasi bakteri

+Identifikasi oleh PCR. dan berbagai studi lainnya


tidak termasuk pengisian saluran akar
TT : tidak terdeteksi
Sumber : Figdor D, Sundqvist G. A big role for the very small understanding the
endodontic microbial flora. Australian Dental Journal Supplement; 2007: 52(1): 38-51.

2.2 OBAT SALURAN AKAR


Obat saluran akar digunakan pada perawatan saluran akar dan merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan perawatan.11
Medikamen saluran akar digunakan untuk membantu meningkatkan keberhasilan
perawatan endodontik. Medikamen tersebut diharapkan dapat berpenetrasi ke dalam
tubulus dentinalis dan membunuh bakteri di dalamnya.7
Tujuan pemberian medikamen intrakanal, antara lain adalah mengurangi jumlah
bakteri, dengan mencegah pertumbuhan bakteri, mengeleminasi eksudat periapikal,
mencegah atau menahan resorpsi akar serta mencegah terinfeksi sistem saluran akar,
dengan bertindak sebagai barier kimia dan fisik. Bila restorasi sementara bocor,
dapat mengurangi peradangan periradikuler, sehingga dapat mengurangi rasa sakit.7

2.2.1 Rockles
Rockles merupakan agen antimikroba yang digunakan untuk merawat saluran
akar yang telah terinfeksi. Komposisi kimianya adalah Dexamethasone asetat 0,138g,
Fenol 45,285g, Gaiacol 6,790g.8

Gambar 2.1 Struktur kimia dexamethasone acetate


Sumber: Urban MCC, Mainardes RM, Gremiao MPD. Development and

validation of HPLC method for analysis of dexamethasone acetate in


microemulsions. Brazilian Journal of Pharmaceutical Sciences; 2009: 45(1):
87-92.
Dexamethasone asetat merupakan senyawa golongan steroid yang diindikasikan
untuk pengobatan dari beberapa jenis patologi karena efek anti inflamasi dan
immunosupresor yang terkandung di dalamnya.12

Gambar 2.2 Struktur kimia fenol


Sumber: Hornback JM. Organic chemistry second edition. Singapore: Thomson
brooks. 2006. p. 123

Fenol (C6H5OH) merupakan senyawa yang dapat mengganggu dinding sel dan
membran, mengendapkan protein dan menonaktifkan enzim-enzim. Senyawa ini
bersifat bakterisid (termasuk mikrobakteri), fungisid, dan mampu menonaktifkan
virus-virus lipofilik. Senyawa ini tidak bersifat sporasid.14 Fenol adalah racun

protoplasma nonspesifik yang efek antibakteri optimalnya pada 1-2%. Sediaan untuk
kepentingan dokter gigi berkisar 30%.7
2.2.2 Kalsium Hidroksida

Gambar 2.3 Contoh bahan yang mengandung kalsium hidroksida


Sumber : Carotte P. Endodontics: part 9 calcium hydroxide, root resorption, endo
perio-lesions. British Dental Journals; 2004: 197(12). pp. 735-43

Kalsium hidroksida (Ca(OH)2) merupakan bahan yang sudah sering digunakan


sejak diperkenalkan dalam bidang kedokteran gigi di awal abad ke-20. Kalsium
hidroksida yang murni memiliki substansi pH yang tinggi, dan memiliki keampuan
merangsang terjadinya mineralisasi serta memiliki sifat antibakteri.15
Kalsium hidroksida pada awalnya diperkenalkan dalam bidang endodontik
sebagai pulp cappning agent, namun saat ini penggunaan kalsium hidroksida sudah
digunakan dalam perawatan endodontik yang secara umum digunakan untuk
perawatan pulpa yang masih vital serta sebagai bahan dressing saluran akar.16

Kalsium hidroksida saat ini telah meningkat penggunaannya karena sifat


antimikroba yang dimilikinya, ditambah dengan beberapa bukti yang telah
menunjukkan bahwa medikamen ini dapat membantu dalam mengurangi inflamasi
periapikal.11
Kalsium hidroksida tersedia dalam berbagai bentuk dan kombinasi. Kalsium
hidroksida dapat digunakan sebagai bahan dressing saluran akar, khususnya pada
pulpa yang mengalami nekrosis.11

2.3 CARA KERJA OBAT ANTIMIKROBA


Cara kerja obat-obat yang mengandung antimikroba sebagai berikut:
1. Merusak DNA
Sejumlah agen antimikroba bekerja dengan cara merusak DNA; termasuk di
dalamnya adalah radiasi ionisasi, sinar ultraviolet, dan bahan kimia reaktif DNA.
Pada kategori terakhir adalah berbagai agen pengalkil dan senyawa lain yang
bereaksi secara kovalen dengan basa purin dan pirimidin sehingga bergabung
dengan DNA atau membentuk ikatan silang antaruntai. Radiasi merusak DNA
dengan beberapa cara: Sinar ultraviolet, misalnya, menginduksi ikatan silang
antarpirimidin yang berdekatan pada salah satu untai polinukleotida, membentuk
dimer pirimidin; radiasi ionisasi menyebabkan pecahnya untai tunggal dan ganda.
Lesi DNA yang diinduksi secara kimia dan radiasi akan membunuh sel terutama
dengan cara mengganggu replikasi DNA.9

2. Denaturasi Protein
Protein terdapat dalam bentuk tiga dimensi dan berlipat-lipat, yang ditentukan
dengan ikatan disulfida kovalen intramolekul dan sejumlah ikatan kovalen seperti
ikatan ionik, hidrofobik, dan hidrogen. Bentuk ini disebut struktur tersier protein;
yang mudah terganggu oleh sejumlah agen kimia atau fisik, menyebabkan protein
menjadi tidak berfungsi. Kerusakan struktur tersier protein disebut denaturasi
protein. 9
3. Kerusakan Membran atau Dinding Sel
Membran sel bekerja sebagai pembatas yang selektif, memungkinkan
beberapa zat terlarut untuk melewatinya dan menahan zat lainnya. Banyak
senyawa yang ditranspor secara aktif melalui membran, menjadi terkonsentrasi
dalam sel. Membran juga merupakan tempat enzim yang terlibat dalam
biosintesis komponen selubung sel. Zat yang berkumpul pada permukaan sel
dapat mengubah sifat fisika dan kimia membran berfungsi dengan normal
sehingga akan membunuh atau menghambat sel. 9
Dinding sel bekerja sebagai struktur pemberi bentuk sel, melindungi sel
terhadap lisis osmotik. Oleh karena itu, berbagai agen yang menghancurkan
dinding (misal: lisozim) atau mencegah sintesis normalnya (misal: penisilin)
dapat menimbulkan lisis sel. 9
4. Pembuangan Gugus Sulfihidril Bebas

10

Protein enzim yang mengandung sistein mempunyai rantai samping yang


berakhir pada gugus sulfihidril. Selain itu, koenzim seperti koenzim A dan
dihidrolipoat mengandung gugus sulfihidril bebas. Enzim dan koenzim semacam
ini tidak dapat berfungsi kecuali jika gugus sulfihidrilnya tetap bebas dan
tereduksi.

Dengan

demikian,

berbagai

agen

pengoksidasi

mengganggu

metabolisme dengan membentuk ikatan disulfida antar gugus sulfihidril yang


berdekatan. 9

5. Antagonisme Kimia
Gangguan suatu agen kimia terhadap reaksi normal antara enzim spesifik dan
substratnya dikenal sebagai antagonisme kimia. Antagonis bekerja dengan
beberapa bagian dari holoenzim (apoenzim protein, aktivator mineral, atau
koenzim), sehingga mencegah perlekatan substrat normal. 9
Antagonis bergabung dengan enzim karena daya tarik menarik kimianya
terhadap tempat penting pada enzim tersebut. Enzim melakukan fungsi
katalitiknya karena sifat tarik menariknya terhadap substrat alaminya; oleh
karena itu, setiap senyawa yang secara struktual menyerupai substrat pada aspek
penting ini juga mempunyai daya tarik-menarik terhadap enzim tersebut. Jika
daya tarik-menarik ini cukup besar, analog akan menggantikan substrat normal
dan menghalangi reaksi yang biasa terjadi. 9
Banyak holoenzim yang mengandung ion mineral berlaku sebagai suatu
jembatan antara enzim dan koenzim atau antara enzim dan substrat. Zat kimia

11

yang bergabung dengan mineral-mineral tersebut sekali lagi akan mencegah


perlekatan koenzim atau substrat; misalnya, karbn monoksida dan sianida
bergabung dengan atom besi dan enzim dan mencegah fungsinya dalam
respirasi.9

2.4 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVITAS OBAT ANTIMIKROBA


Kebanyakan zat antimikroba yang efektif kerjanya mengganggu sintesis,
penyusunan

atau

fungsi

komponen-komponen

makromolekul

sel,

seperti

penghambatan pembentukan dinding sel oleh polimiksin, penghambatan sintesis


protein oleh kloramfenikol.17
Aktivitas dari antimikroba dapat dievaluasi baik secara invitro maupun invivo. 8
Di antara banyak faktor yang mempengaruhi aktivitas antimikroba in vitro, hal-hal
tersebut di bawah ini perlu diperhatikan, karena sangat mempengaruhi hasil-hasil
pengujian.17
1. pH Lingkungan
Beberapa macam obat lebih aktif dalam pH asam (misalnya nitrofurantoin),
yang lain pada pH alkalis (misalnya streptomisin, sulfonamide). 17

2. Komponen-komponen Medium
Garam-garam sangat menghambat streptomisin. Para-Amino Benzoic Acid
(PABA) dalam ekstrak jaringan adalah antagonis dengan sulfonamida. Protein

12

serum pengikat penisilin dalam jumlah yang berbeda-beda, dari 40% untuk
metisilin sampai 96% untuk eksasilin. Metasilin adalah penisilin semisintetik
yang diberikan melalui suntikan. 17
3. Stabilitas Obat
Pada suhu inkubator, beberapa zat antimikroba kehilangan aktivitasnya.
Klortetrasiklin cepat menjadi nonaktif dan penisilin lebih lambat, sedangkan
streptomisin, kloramfenikol dan polimiksin B stabil untuk waktu yang lama.17
4. Takaran Inokolum
Pada umumnya semakin besar inokulum bakteri, maka kesensitifan
organisme akan semakin rendah. Populasi bakteri yang besar dapat menghambat
tumbuhnya bakteri lebih kurang cepat dan kurang sempurna dari pada populasi
yang lebih kecil. Di samping itu, kemungkinan terjadinya mutan resisten adalah
lebih besar.17
Semakin besar inokulum, daerah hambat akan semakin kecil. Oleh karena
itu, densitas dari inokulum harus disesuaikan sedemikian rupa, sehingga
pertumbuhan koloni tampak bersatu dan tidak sebagai suatu filum yang
bersinambungan. 17
Oleh karena hasil pengujian cara difusi berbeda berdasarkan pada jumlah dan
kondisi lingkungan bakteri yang ditanam dan sukar dibakukan, maka perlu
dievaluasi dengan cara membandingkan dengan pengujian kontrol yang
menggunakan organism baku yang telah diketahui sensitivitasnya. 17

13

5. Lamanya Inkubasi
Dalam banyak hal mikroorganisme tidak terbunuh dalam waktu kontak yang
pendek tetapi hanya terhambat. Semakin lama berlanjutnya inkubasi semakin
besar kemungkinan timbulnya mutan yang resisten, atau anggota populasi
bermultiplikasi, karena obat itu terurai. 17
6. Aktivitas Metabolisme Mikroorganisme
Pada umumnya organisme yang sedang aktif dan cepat tumbuh lebih sensitif
terhadap aktivitas obat daripada yang sedang berada dalam fase istirahat.
Mikroorganisme yang sedang mempertahankan diri untuk tetap hidup (persister)
dari segi metabolisme adalah nonaktif dan dapat bertahan dalam waktu lama
dalam kontak dengan obat, meskipun organisme ini pada awalnya sangat sensitif
terhadap obat tersebut. 17

14