Anda di halaman 1dari 24

KONSEP DASAR ANESTESIOLOGI DAN TINJAUAN KASUS ANESTESI

KONSEP TEORI ANESTESI


A. PENGERTIAN ANASTESI
Anestesi (pembiusan;
berasal
dari bahasa
Yunani an-"tidak,
tanpa"
dan aesthtos,"persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti suatu tindakan
menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang
menimbulkan rasa sakit pada tubuh.
Anastesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasri berbagai tindakan
meliputi pemberian anastesi maupun analgetik, pengawasan keselamatan pasien di operasi
maupun tindakan lainnya, bantuan hidup (resusitasi), perawatan intensif pasien gawat,
pemberian terapi inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun.
B. SKALA RESIKO ASA
American Society of Anaesthesiologists (ASA) menetapkan sistem penilaian yang
membagi status fisik penderita ke dalam lima kelompok.
Golongan
Status Fisik
Tidak ada gangguan organic, biokimia dan psikiatri, misalnya
I
penderita dengan hernia inguinalis tanpa kelainan lain, orang tua
sehat dan bayi muda yang sehat.
Gangguan sistemik ringan sampai sedang yang bukan disebabkan
oleh penyakit yang akan dibedah, misalnya penderita dengan
II
obesitas, penderita bronchitis dan penderita DM ringan yang akan
menjalani apendektomi
Penyakit sistemik berat, misalnya penderita DM dengan komplikasi
III
pembuluh darah dan datang dengan appendicitis akut
Penyakit gangguan sistemik berat yang membahayakan jiwa yang
IV
tidak selalu dapat diperbaiki dengan pembedahan, missal insufisiensi
koroner atau MCI
Keadaan terminal dengan kemungkinan hidup kecil, pembedahan
V
dilakukan sebagai pilihan terakhir, missal penderita syok berat karena
perdarahan akibat kehamilan di luar uterus yang pecah.
C. PEMBAGIAN ANASTESI
1. ANASTESI UMUM
Adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri/sakit secara sentral disertai
hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversible). Komponen trias
anastesi ideal terdiri dari hipnotik, analgesia dan relaksasi otot.
Cara pemberian anastesi umum:

a. Parenteral (intramuscular/intravena)
Digunakan untuk tindakan yang singkat atau induksi anastesi.
b. Perektal
Dapat dipakai pada anak untuk induksi anastesi atau tindakan
singkat.
c. Anastesi Inhalasi
Yaitu anastesi dengan menggunakan gas atau cairan anastesi
yang mudah menguap (volatile agent) sebagai zat anestetik melalui
udara pernapasan. Zat anestetik yang digunakan berupa
campuran gas (denganO 2 ) dankonsentrasi zat anestetik tersebut
tergantung dari tekanan parsialnya.
Stadium Anestesi
Guedel (1920) membagi anestesi umum dengan eter dalam
4 stadium (stadium III dibagi menjadi 4 plana), yaitu:
a. Stadium I
Stadium I (analgesi) dimulai dari saat pemberian zat anestetik
sampaihilangnya kesadaran. Pada stadium ini pasien masih dapat
mengikuti perintah dan terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit).
Tindakan pembedahan ringan, seperti pencabutan gigi dan biopsi
kelenjar dapat dilakukan pada stadium ini
b. Stadium II
Stadium II (delirium/eksitasi, hiperrefleksi) dimulai dari
hilangnya kesadaran dan refleks bulu mata sampai pernapasan
kembali teratur.
c. Stadium III
Stadium
III
(pembedahan)
dimulai
dengan
tcraturnya
pernapasan sampai pernapasan spontan hilang. Stadium I I I dibagi
menjadi 4 plana yaitu:
1) Plana 1 : Pernapasan teratur, spontan, dada dan perut
seimbang, terjadi gerakan bola mata yang tidak menurut
kehendak, pupil midriasis, refleks cahaya ada, lakrimasi
meningkat, refleks faring dan muntah tidak ada, dan belum
tercapai relaksasi otot lurik yang sempurna. (tonus otot
mulaimenurun).

2) Plana 2 : Pernapasan teratur, spontan, perut-dada, volume


tidak menurun,
frekuensi
meningkat,
bola
mata
tidak
bergerak, terfiksasi di tengah, pupil midriasis, refleks cahaya
mulai menurun, relaksasi otot sedang, dan refleks laring
hilang sehingga dikerjakan intubasi.
3) Plana 3 : Pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal
mulai paralisis, lakrimasi tidak ada, pupil midriasis dan
sentral, refleks laring dan peritoneum tidak ada, relaksasi
otot lurik hampir sempuma (tonus otot semakin menurun).
4) Plana 4 : Pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot
interkostalparalisis total, pupil sangat midriasis, refleks
cahaya hilang, refleks sfmgter ani dan kelenjar air mata tidak
ada, relaksasi
otot
lurik
sempuma
(tonus
otot
sangat menurun).
d. Stadium IV
Stadium
IV
(paralisis
medula
oblongata)
dimulai
dengan melemahnya pernapasan perut dibanding stadium III plana
4. pada stadium ini tekanan darah tak dapat diukur, denyut
jantung berhenti, dan akhirnya terjadi kematian. Kelumpuhan
pernapasan pada stadium ini tidak dapat diatasi dengan
pernapasan buatan.
Obat-obat anestesi umum
a. Tiopenthal :
1) Bubuk berbau belerang, berwarna kuning, dalam ampul 500/1000
mg. Dilarutkan dengan aquades sampai konsentrasi 2,5%. Dosis
3-7 mg/kgBB.
2) Melindungi otak oleh karena kekurangan O2.
3) Sangat alkalis, nyeri hebat dan vasokonstriksi bila disuntikkan ke
arteri yang menyebabkan nekrosis jaringan sekitar.
b. Propofol:
1) Dalam emulsi lemak berwarna putih susu, isotonic, dengan
kepekatan 1%. Dosis induksi 2-2,5 mg/kgBB, rumatan 412mg/kgBB/jam,
sedasi perawatan
intensif 0,2mg/kgBB.
Pengenceran hanya dengan Dextrosa 5%.

2) Dosis dikurangi pada manula, dan tidak dianjurkan pada anak


dibawah 3 thn dan ibu hamil.
c. Ketamin:
1) Kurang disenangi karena sering takikardi, HT, hipersalivasi, nyeri
kepala. Paska anestesi mual, muntah, pandangan kabur dan
mimpi buruk. Dosis bolus iv 1-2mg/kgBB, im 3-10mg/kgBB.
2) Dikemas dalam cairan bening kepekatan 5%, 10%, 1%.
d. Opioid:
1) Diberikan dosis tinggi, tak menggangu kardiovaskular, sehingga
banyak digunakan untuk pasien dengan kelainan jantung.
2) Untuk induksi
mg/kgBB/mnt.

dosis

20-50mg/kgBB,

rumatan

dosis

0,3-1

Untuk memberikan cairan dalam waktu singkat dapat digunakan


vena-vena di punggung tangan, di dalam pergelangan tangan, lengan
bawah atau daerah kubiti. Pada anak kecil dan bayi digunakan
punggung kaki, depan mata kaki atau di kepala. Bayi bari lahir
digunakan vena umbilikus.
2. ANASTESI LOKAL/REGIONAL
Adalah tindakan menghilangkan nyeri/sakit secara lokal tanpa disertai
hilangmya kesadaran. Pemberian anestetik lokal dapat dengan
tekhnik:
a. Anastesi Permukaan
Yaitu pengolesan atu penyemprotan analgetik lokal diatas selaput
mukosa, seperti mata, hidung atau faring.
b. Anastesi Infiltrasi
Yaitu penyuntikan larutan analgetik lokal langsung diarahkan
disekitar tempat lesi, luka dan insisi.
c. Anastesi Blok
Penyuntikan analgetik lokal langsung ke saraf utama atau pleksus
saraf. Hal ini bervariasi dari blokade pada saraf tunggal, misal
saraf oksipital dan pleksus brachialis, anastesi spinal, anastesi
epidural,
dan
anestesi

kaudal. Padaanestesi spinal, anestesi lokal disuntikkan ke ruang suba


rakhnoid.
1) Anastesi Spinal
Anestesi spinal merupakan tipe blok konduksi saraf yang luas dengan
memasukkan anestesi local dalam rung subarachnoid di tingkat lumbal (biasanya
L4 dan L5). Cara ini menghasilkan anesthesia pada ekstermitas bawah, perenium
dan abdomen bawah. Untuk prosedur fungsi lumbal, pasien dibaringkan miring
dalam posisi lutut-dada. Teknik steril diterapkan saat melakukan fungsi lumbal
dan medikasi disuntikkan melalui jarum. Segera setelah penyuntikan, pasien
dibaringkan terlentang. Jika diinginkan tingkat blok yang secara relative tinggi,
maka kepala dan bahu pasien diletakkan lebih rendah.
Penyebab agens anastetik dan tingkat anesthesia bergantung pada jumlah
cairan yang disuntikkan, posisi pasie setelah penyuntikan, dan berat jenis agens.
Jika berat jenis agens lebih berat dari berat jenis cairan serebrospinal (CSS), agens
akan bergerak keposisi dependen spasium subarachnoid, jika berat jenis agens
anastetik lebih kecil dadri CSS, maka anasteti akan bergerak menjauh bagian
dependen. Perbatasan ini dikendalikan oleh ahli anestesi. Secara umum, agens
yang digunakan adalah prokain, tetrakain (Pontocaine), dan lidokain (Xylokain).
Dalam beberapa menit, anestesia dan paralisis mempengaruhi jari-jari kaki
dan perineum dan kemudian secara bertahap mempengaruhi tungkai dan
abdomen. Jika anestetik mencapai toraks bagian atas dan medulla spinalis dalam
konsentrasi yang tinggi, dapat terjadi paralisis respiratori temporer, parsial atau
komplit. Paralisis oto-otot pernapasan diatasi dengan mempertahankan respirasi
artificial sampai efek anestetik pada saraf respiratori menghilang. Mual, muntah
dan nyeri dapat terjadi selama pembedahan ketika digunakan anestesia spinal.
Sebagai aturan, reaksi ini terjadi akibat traksi pada berbagai struktur, terutama
pada struktur di dalam rongga abdomen. Reaksi tersebut dapat dihindari dengan
pemberian intarvena secara simultan larutan teopental lemah dan inhalasi oksida
nitrat.
Indikasi
Anestesi spinal dapat diberikan pada tindakan yang melibatkan tungkai
bawah, panggul, dan perineum. Anestesi ini juga digunakan pada keadaan khusus
seperti bedah endoskopi, urologi, bedah rectum, perbaikan fraktur tulang panggul,
bedah obstetric, dan bedah anak. Anestesi spinal pada bayi dan anak kecil
dilakukan setelah bayi ditidurkan dengan anestesi umum.
Kontraindikasi
Kontraindikasi mutlak meliputi infeksi kulit pada tempat dilakukan pungsi
lumbal, bakteremia, hipovolemia berat (syok), koagulopati, dan peningkatan

tekanan intracranial. Kontraindikasi relatf meliputi neuropati, prior spine surgery,


nyeri punggung, penggunaan obat-obatan preoperasi golongan AINS, heparin
subkutan dosis rendah, dan pasien yang tidak stabil, serta a resistant surgeon.
Persiapan Pasien
Pasien sebelumnya diberi informasi tentang tindakan ini (informed
concernt) meliputi pentingnya tindakan ini dan komplikasi yang mungkin terjadi.
Pemeriksaan fisik dilakukan meliputi daerah kulit tempat penyuntikan
untuk menyingkirkan adanya kontraindikasi seperti infeksi. Perhatikan juga
adanya scoliosis atau kifosis. Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan
adalah penilaian hematokrit. Masa protrombin (PT) dan masa tromboplastin
parsial (PTT) dilakukan bila diduga terdapat gangguan pembekuan darah.

Perlengkapan
Tindakan anestesi spinal harus diberikan dengan persiapan perlengkapan
operasi yang lengkap untuk monitor pasien, pemberian anestesi umum, dan
tindakan resusitasi.
Jarum spinal dan obat anestetik spinal disiapkan. Jarum spinal memiliki
permukaan yang rata dengan stilet di dalam lumennya dan ukuran 16G sampai
dengan 30G. obat anestetik lokal yang digunakan adalah prokain, tetrakain,
lidokain, atau bupivakain. Berat jenis obat anestetik lokal mempengaruhi aliran
obat dan perluasan daerah teranestesi. Pada anestesi spinal jika berat jenis obat
lebih besar dari berat jenis CSS (hiperbarik), maka akan terjadi perpindahan obat
ke dasar akibat gravitasi. Jika lebih kecil (hipobarik), obat akan berpindah dari
area penyuntikan ke atas. Bila sama (isobarik), obat akan berada di tingkat yang
sama di tempat penyuntikan. Pada suhu 37oC cairan serebrospinal memiliki berat
jenis 1,003-1,008.
Perlengkapan lain berupa kain kasa steril, povidon iodine, alcohol, dan
duk steril juga harus disiapkan. Jarum spinal. Dikenal 2 macam jarum spinal,
yaitu jenis yang ujungnya runcing seperti ujung bamboo runcing (QuinckeBabcock atau Greene) dan jenis yang ujungnya seperti ujung pensil (whitacre).
Ujung pensil banyak digunakan karena jarang menyebabkan nyeri kepala pasca
penyuntikan spinal.
Teknik Anestesi Spinal
Berikut langkah-langkah dalam melakukan anestesi spinal, antara
lain:

1. Posisi pasien duduk atau dekubitus lateral. Posisi duduk


merupakan posisi termudah untuk tindakan punksi lumbal.
Pasien duduk di tepi meja operasi dengan kaki pada kursi,
bersandar ke depan dengan tangan menyilang di depan. Pada
posisi dekubitus lateral pasien tidur berbaring dengan salah
satu sisi tubuh berada di meja operasi.
2. Posisi permukaan jarum spinal ditentukan kembali, yaitu di
daerah antara vertebrata lumbalis (interlumbal).
3. Lakukan tindakan
punggung pasien.

asepsis

dan

antisepsis

kulit

daerah

4. Lakukan penyuntikan jarum spinal di tempat penusukan pada


bidang medial dengan sudut 10o-30o terhadap bidang
horizontal ke arah cranial. Jarum lumbal akan menembus
ligamentum supraspinosum, ligamentum interspinosum,
ligamentum flavum, lapisan duramater, dan lapisan
subaraknoid.
5. Cabut stilet lalu cairan serebrospinal akan menetes keluar.
6. Suntikkan obat anestetik local yang telah disiapkan ke dalam
ruang subaraknoid. Kadang-kadang untuk memperlama kerja
obat ditambahkan vasokonstriktor seperti adrenalin.
Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah hipotensi, nyeri saat
penyuntikan, nyeri punggung, sakit kepala, retensio urine, meningitis, cedera
pembuluh darah dan saraf, serta anestesi spinal total.
Pengkajian keperawatan yang dilakukan setelah anestesia spinal, selain
memantau tekanan darah, perawat perlu mengobservasi pesien dengan cermat dan
mencatat waktu saat perjalanan sensasi kaki dan jari kembali. Jika sensasi pada
jari kaki telah kembali sepenuhnya, pasien dapat dipertimbangkan telah pulih dari
efek anestetik spinal.
2) Blok Epidural
Anestesia epidural dicapai dengan menyuntikkan anestetik local ke dalam
kanalis spinalis dalam spasium sekeliling durameter. Anestesia epidural memblok
fungsi sensori, motor dan otonomik yang mirip, tetapi tempat injeksinya yang
membedakannya dari anestesi spinal. Dosis epidural lebih besar disbanding dosis
yang diberikan selama anestesi spinal karena anestesi epidural tidak membuat

kontak langsung dengan medulla atau radiks saraf. Keuntungan dari anestesi
epidural adalah tidak adanya sakit kepala yang kadang disebabkan oleh
penyuntikan subarachnoid. Kerugiannya adalah memiliki tantangan teknik yang
lebih besar dalam memasukkan anestetik ke dalam epidural dan bukan ke dalam
spasium subarachnoid. Jika terjadi penyuntikan subarachnoid secarA tidak
sengaja selama anestesi epidural dan anestetik menjalar ke arah kepala, akan
terjadi anestesia spinal tinggi. Anestesia spinal tinggi dapat menyebabkan
hipotensi berat dan depresi atau henti napas. Pengobatan untuk komplikasi ini
adalah dukungan jalan napas, cairan intravena, dan penggunaan vasopresor.
3) Blok Pleksus Brakialis
Blok pleksus brakialis menyebabkan anestesia pada lengan.
4) Anestesia Paravertebral
Anestesia paravertebral menyebabkan anestesia pada saraf yang mempersarafi
dada, dindind abdomen dan ekstremitas.
5) Blok Transakral (Kaudal)
Blok transakral menyebabkan anestesia pada perineum dan kadang abdomen
bawah.
d. Anastesi Regional Intravena
Yaitu penyuntikan larutan analgetik lokal. Ekstremitas dieksanguinasi
dan diisolasi bagian proksimalnya dari sirkulasi sistemik dengan
torniquet pneumatik.
D. OBAT PREMEDIKASI
Pemberian obat premedikasi bertujuan untuk:
1. Menimbulkan rasa nyaman pada pasien (menghilangkan kekhawatiran,
memberikan ketenangan, membuat amnesia, memberikan analgesi).
2. Memudahkan/memperlancar induksi, rumatan, dan sadar dari anastesi.
3. Mengurangi jumlah obat-obatan anastesi.
4. Mengurangi timbulnya
pascaanastesi.

hipersalivasi,

bradikardi, mual

dan

muntah

5. Mengurangi stres fisiologis (takikardi, napas cepat, dan lain-lain).


6. Mengurangi keasaman lambung.
Obat-obat
yang
dapat
diberikan
tindakan anestesi adalah sebagai berikut:

sebagai

premedikasi

pada

1. Analgetik narkotik
a. Morfin
Dosis premedikasi dewasa 5-10 mg (0,1-0,2 mg/kg BB) intramuskular
diberikan untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan pasien
menjelang
operasi,
menghindari takipnu
pada
pemberian
trikloroetilen, dan agar anestesi berjalan dengan tenang dan dalam.
Kerugiannya adalah terjadi perpanjangan waktu pemulihan, timbul
spasme serta kolik biliaris dan ureter.
b. Petidin
Dosis premedikasi dewasa 50-75 mg (1-1,5 mg/kg BB) intravena
diberikan untuk menekan tekanan darah dan pernafasan serta
merangsang otol polos. Dosis induksi 1-2 mg/kg BB intravena.
2.

Barbiturat

Penobarbital dan sekobarbital). Diberikan


untuk menimbulkan
sedasi. Dosis dewasa 100-200 mg, pada anak dan bayi 1 mg/kg BB
secara oral atau intramuslcular.
3.
Antikolinergik
Atropin. Diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar ludah dan
dan bronkus selama 90 menit. Dosis 0,4-0,6 mg intramuskular bekerja
setelah 10-15 menit.
4.
Obat penenang (tranquillizer)
a. Diazepam
Diazepam (valium) merupakan golongan benzodiazepin. Dosis
premedikasi dewasa 10 mg intramuskular atau 5-10 mg oral (0,20,5 mg/kgBB) dengan dosis maksimal 15 mg. Dosis sedasi pada
analgesi regional 5-10 mg (0,04-0,2mg/kgBB) intravena. Dosis
induksi 0,2-1 mg/kg BB intravena.
b. Midazolam
Mempunyai awal dan lama kerja lebih pendek dibandingkan
dengan diazepam.
E. OBAT PELUMPUH OTOT
Obat golongan ini menghambat transmisi neuromuskular
sehinggamenimbulkan kelumpuhan pada otot rangka. Menurut
mekanisme kerjanya obat ini dibagi menjadi 2 golongan, yaitu obat
penghambat secara depolarisasi resisten dan obat penghambat

kompetitif atau nondepolarisasi. Pada anestesi umum, obat ini


memudahkan dan mengurangi cedera tindakan laringoskopi dan intubasi
trakhea, sertamemberi relaksasi otot yang dibutuhkan dalam
pembedahan dan ventilasi kendali.
Perbedaan Obat Pelumpuh Otot Depolarisasi dan Nondepolarisasi
Depolarisasi
Nondepolarisasi
Ada vasikulasi
otot
Berpotensiasi
antikolinesterase

Tidak ada vasikulasi


otot
dengan Berpontisiasi dengan hipokalemia,
hipotermia,
obat
anestetik
inhalasi, eter, halotan, enfluran
dan isofluran
Tidak menunjukkan kelumpuhan Menunjukkan
kelumpuhan
yangbertahap
pada yangbertahap pada perangsangan
perangsangan
tunggalatau tunggal atautetanik
tetanik
Belum dapat diatasi dengan Dapat
diantagonis
obatspesifik
antikolinesterase

oleh

Kelumpuhan
berkurang
denganpemberian
obat
pelumpuh
ototnondepolarisasi
dan asidosis
1. Obat Pelumpuh Otot Nondepolarisasi
Pavulon (pankuronium bromida). Dosis awal untuk relaksasi otot 0,008
mg/kgBB intravena pada dewasa. Dosis rumatan setengah dosis awal.
Dosis intubasi trakhea 0,15 mg/kgBB intravena.
Trakrium
(atrakurium
besilat). Keunggulannya
adalah metabolisme terjadi di dalam darah, tidak tergantung pada
fungsi hati dan ginjal. Dosis intubasi 0,5-0,6 mg/kgBB intravena. Dosis
relaksasi otot 0,5-0,6 mg/kgBB intravena. Dosis rumatan 0,10,2 mg/kgBB intravena.
Vekuronium (norkuron).
Rokuronium. Dosis intubasi 0,3-0,6 mg/kgBB. Dosis rumalan 0,1-2
mg/kgBB.
2. Obat Pelumpuh Otot Depolarisasi

Suksametonium (suksinil kolin). Mula kerja 1-2 menit dan lama kerja 35 menit. Dosis intubasi 1-1,5 mg/kgBB intravena.
3. Antagonis Pelumpuh Otot Nondepolarisasi
Prostigmin (neostigmin metilsulfat). Prostigmin mempunyai efek nikotik,
muskarinik, dan merupakan stimulan otot langsung. Dosis 0,5 mg
bertahap sampai 5 mg, biasa diberikan bersama atropin dosis 1- 1,5mg.
F. OBAT ANESTES1 INHALASI
Zat

Untung

Rugi

N2 O

Analgesik
kuat,Jarang digunakan tunggal,
baunya manis, tidakharus
disertai
O2 minimal
iritasi, tidak terbakar. 25%,
anestetik
lemah,
memudahkan hipoksia difusi.

Halotan

Baunya enak. TidakVasodilator


serebral,
merangsang
jalanmeningkatkan aliran darah
nafas, anestesi kuat otak yang sulit dikendalikan,
analgesik lemah.
Kelebihan
dosis
akan
menyebabkan depresi nafas,
menurunnya tonus simpatis,
hipotensi,
bradikardi,
vasodilator perifer, depresi
vasomotor, depresi miokard.
Kontraindikasi
gangguan
hepar.
Paska
pemberian
menyebabkan menggigil.

Enfluran Induksi
danPada
EEG,
menunjukkan
pemulihan lebih cepatkondisi
epileptik.
Depresi
dari
halotan.
Efeknafas, iritatif, depresi sirkulasi.
relaksasi
terhadap
otot lebih baik
Isofluran Menurunkan
meta-bolisme
terhadap O2
Desflura
n

lajuMeninggikan aliran darak otak


otakdan TIK.
Sangat
mudah
menguap,
potensi
rendah.
Simpatomimetik,
depresi
nafas,
me-rangsang
jalan

nafas atas.
Sevoflur
an

Bau tidak menyengat,


tidak
merangsang
jalan
nafas,
kardiovaskular stabil

G. OBAT ANESTESI INTRAVENA


1. Natrium Tiopental (tiopental, pentotal)
2. Ketamin
3. Droperidol
4. Diprivan
H. OBAT ANESTESI REGIONAL/LOKAL
Obat
anestesi
regional/lokal
adalah
obat
yang
menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara lokal. Anestesi lokal
ideal adalah yang tidak mengiritasi atau merusak jaringan secara
permanen, batas keamanan lebar, mula kerja singkat, masa kerja cukup
lama, larut dalam air, stabil dalam larutan, dapat disterilkan tanpa
mengalami perubahan, dan efeknya reversibel. Obat anestesianya yaitu
lidokain dan bupivikain.
I. POSISI PASIEN DI MEJA OPERASI
Posisi pasien di meja operasi bergantung pada prosedur operasi
yang akan dilakukan juga pada kondisi fisik pasien. Faktor-faktor yang
perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
1. Pasien harus dalam posisi senyaman mungkin, apakah ia tetidur atau sadar.
2. Area operatif harus terpajan secara adekuat.
3. Pasokan vascular tidak boleh terbendung akibat posisi yang salah.
4. Pernapasan pasien harus bebas dar gangguan tekanan lengan pada dada atau konstriksi
pada leher dan dada yang disebabkan oleh gaun.
5. Saraf harus dilindungi dari tekanan yang tidak perlu. Pengaturan posisi lengan, tangan,
tungkai, atau kaki yang tidak tepat dapat mengakibatkan cedera serius atau paralisis.
Bidang bahu harus tersangga dengan baik untuk mencegah cedera saraf yang tidak dapat
diperbaiki, terutama jika posisi Trendelenburg diperlukan.
6. Tindak kewaspadaan untuk keselamatan pasien harus diobservasi, terutama pada pasien
kurus, lansia atau obes.

7. Pasien membutuhkan restrain tidak keras sebelum induksi, untuk berjaga-jaga bila pasien
melawan
Posisi pasien di meja operasi:
1. Posisi Dorsal Rekumben
Posisi lazim untuk pembedahan adalah terlentang dasar; satu lengan di sisi tubuh, dengan
telapak tangan tertelungkup; tangan satunya diposisikan di atas sebuah papan lengan
untuk infuse intravena. Posisi ini kebanyakan digunakan pada bedah abdomen, kecuali
untuk bedah kandung empedu dan pelvis.
2. Posisi Trendelenberg
Posisi ini biasanya digunakan untuk pembedahan abdomen bawah dan pelvis untuk
mendapat pajanan area operasi yang baik dengan mengeser intestine ke dalam abdomen
atas. Dalam posisi ini kepala dan badan lebih rendah dan lutut dalam keadaan fleksi.
3. Posisi Litotomi
Dalam posisi litotomi, pasien terlentang dengan tungkai dan paha fleksi dengan sudut
yang tepat. Posisi ini dipertahankan dengan menempatkan telapak kaki pada pijakan kaki.
Posisi ini digunakan pada pembedahan perineal, rectal dan vaginal.
4. Untuk Bedah Ginjal
Pasien dibaringkan miring pada sisi tubuh yang tidak dioperasi dalam posisi Sims
menggunakan bantal udara dengan ketebalan 12,5 cm samapai 15 cm di bawah pinggang,
atau di atas meja dengan ginjal dan punggung di atas.
5. Untuk Bedah Dada dan Abdominotorakik
Posisi yang dibutuhkan beragam sesuai dengan pembedahan yang akan dilakukan. Ahli
bedah dan ahli anestesi membaringkan pasien dalam posisi yang diinginkan.
6. Pembedahan pada Leher
Bedah leher, misalnya bedah tiroid, dilakukan dengan pasien dalam posisi terlentang,
leher ekstensi menggunakan bantal yang diletakkan dibawah bahu, dan kepala serta dada
ditinggikan untuyk mengurangi aliran balik vena.
7. Pembedahan pada Tulang Tengkorak dan Otak
Prosedur ini membutuhkan posisi dan peralatan khusus, biasanya diataur oleh ahli bedah.
J. PERALATAN
Mesin
anestesi
merupakan
peralatan
anestesi
yang
sering digunakan. Secara umum mesin anestesi terdiri dari tiga komponen
yang saling berhubungan yaitu:
1. Komponen 1: sumber gas, penunjuk aliran gas (flow meter),dan alat
penguap(vaporizer).
2. Komponen 2: sistem napas, yang terdiri dari sistem lingkar dan
sistem Magill.

3. Komponen 3: alat yang menghubungkan sistem napas dengan


pasien yaitu sungkup muka (face mask), pipa endotrakhea
(endotrakheal tube).
K. TAHAPAN
1. Persipan Praanestesi
Keadaan fisis pasien telah dinilai sebelumnya. Dilakukan penilaian
praoperasi. Keadaan hidrasi pasien dinilai, akses intravena dipasang
untuk pemberian cairan infus, transfusi dan obat-obatan. Dilakukan
pemantauan elektrografi, tekanan darah, saturasi Cb, kadar CO2 dalam
darah (kapnograf), dan tekanan vena sentral (CVP).Premedikasi dapat
diberikan. oral, rektal, intramuskular, atau intravena.
2. Induksi Anestesi
Pasien diusahakan tenang dan diberikan O2 melalui sungkup muka.
Obat-obat induksi diberikan secara intravena seperti tipental, ketamin,
diazepam, midazolam, dan profol. Jalan napas dikontrol dengan sungkup
muka atau napas orofaring/nasofaring. Setelah itu dilakukan intubasi
trakhea.
Setelah
kedalaman
anestesi
tercapai, posisi
pasien
disesuaikan.
3. Rumatan Anestesi
Selama operasi berlangsung dilakukan pemantauan anestesi. Halhal yang dipantau adalah fungsi vital (pernapasan, tekanan darah,
nadi, dan kedalaman anestesi, misalnya adanya gerakan, batuk,
mengedan, perubahan pola napas, takikardi, hipertensi, keringat, air
mata, midriasis.
Ventilasi pada anestesi umum dapat secara spontan, bantu,
atau kendali tergantung jenis, lama, dan posisi operasi. Cairan
infus diberikan dengan memperhitungkan kebutuhan puasa, rumatan,
perdarahan, evaporasi, dan lain-lain
Selama
pasien
dalam
anestesi
dilakukan
pemantauan
frekuensi nadi dan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah dan
dan frekuensi nadi terjadi bila anestesi kurang dalam. Hal ini
disebabkan karena terjadi sekresi adrenalin. Diatasi dengan membuat
anestesi lebih dalam, yaitu dengan meningkatkan konsentrasi halotan
atau suntikan barbiturat. Penurunan tekanan darah dan nadi halus
sebagaitanda syok dapat disebabkan karena kehilangan banyak darah.

Hal ini diatasi dengan pemberian cairan pengganti plasma atau


darah. Penurunan tekanan darah dan frekuensi nadi dapat disebabkan
karena anestesi terlalu dalam atau terlalu ringan serta kehilangan
banyak darah atau cairan. Peningkatan tekanan darah dan tekanan nadi
serta penurunan
frekuensi
nadi
disebabkan
transfusi
yang
berlebihan.Diatasi dengan penghentian transfusi.
4. Pemulihan Pasca-Anestesi
Setelah
operasi
selesai
pasien
dibawa
ke
ruang
pemulihan (recovery room)atau keruang perawatan intensif (bila ada
indikasi). Secara umum, ekstubasi terbaik dilakukan pada saat pasien
dalam anestesi
ringan
atau
sadar.
Di
ruang
pemulihan
dilakukan pemantauan keadaan umum, kesadaran, tekanan darah,
nadi, pemapasan, suhu, sensibilitas nyeri, perdarahan dari drain, dan
lain-lain
Kriteria yang digunakan dan umumnya yang dinilai adalah warna
kulit, kesadaran, sirkulasi, pemapasan dan aktivitas motorik, seperti
Skor Aldrette. Idealnya pasien baru boleh dikeluarkan bila jumlah skor
total adalah 10. namun bila skor total telah diatas 8 pasien boleh
dipindahkan dari ruang pemulihan.
Skor Pemulihan Pasca-Anestesi

Penilaia

Nilai

Warna

Merah muda

Pucat

Sianotik

Dapat bernafas dalam dan batuk

Pernapas
Dangkal namun pertukaran udara adekuat
an
Apnea atau obstruksi
Tekanan darah menyimpang <20%>
Tekanan darah
Sirkulasi dari normal

menyimpang

20-50%

L.INTUBASI
TRAKEA

1
0
2
1
0

Tekanan darah menyimpang >50% dari


normal
Sadar, siaga, dan orientasi
Kesadara
Bangun namun cepat kembali tertidur
n
Tidak berespon
Seluruh ekstremitas dapat digerakkan
Aktivitas Dua ekstremitas dapat digerakkan
Tidak bergerak

2
1
0
2
1
0

Intubasi trakea adalah tindakan memasukkan pipa endotrakeal


ke dalam trakea sehingga jalan napas bebas hambatan dan napas
mudah dibantu atau dikendalikan. Ekstubasi trakea adalah tindakan
pengeluaran pipa endotrakeal.
1. Tujuan
Pembersihan saluran trakeobronkial, mempertahankan jalan
napas agar tetap paten, mencegah aspirasi, serta mempermudah
pemberian ventilasi dan oksigenisasi.
2. Indikasi

Tindakan resusitasi, tindakan anestesi, pemeliharaan


napas, dan pemberian ventilasi mekanis jangka panjang.

jalan

3. Peralatan
Sebelum mengerjakan intubasi trakea, dapat diingat kata STATIC
S
S : scope, laringioskop dan stetoskop
T : tubes, pipa endotrakeal
A : airway tubes, pipa orofaring/nasofaring
T : tape, plester
I : introducer, stilet, mandrin
C: connector, sambungan-sambungan
S : suction, penghisap lendir
4. Komplikasi
a. Komplikasi tindakan laringioskopi dan intubasi:
1) Malposisi: intubasi esofagus, intubasi endobronkial,
malposisi laryngeal cuff.
2) Trauma jalan napas: kerusakan gigi, laserasi bibir, lidah,
atau mukosa mulut, cedera tenggorokan, dislokasi
mandibula, dan diseksi retrofangeal.
3) Gangguan refleks: hipertensi, takikardi, tekarian
intrakranial meningkat, tekanan intraokular
dan spasme laring.

meningkat,

4) Malfungsi tuba: perforasi cuff.


b. Komplikasi pemasukan pipa endotrakeal:
1) Malposisi: ekstubasi yang terjadi
endobronkial, malposisi laringeal cuff.

sendiri,

intubasi

ke

2) Trauma jalan napas: inflamasi dan ulserasi mukosa, serta


ekskoriasi kulit hidung.
3) Malfungsi tuba: obstruksi.
c. Komplikasi setelah ekstubasi:

1) Trauma jalan napas: edema dan stenosis (glotis, subglotis,


atau trakea), suara serak/ parau (granuloma atau paralisis
pita suara), malfungsi dan aspirasi laring.
2) Gangguan refleks: spasme laring.
5. Penentuan ukuran ETT
Skala
French

Jarak sampai
bibir

Usia

Diameter

Prematur

2,0-2,5

10

10 cm

Neonatus

2,5-3,5

12

11 cm

1-6 bulan

3,0-4,0

14

11 cm

0,5-1 tahun

3,5-3,5

16

12 cm

1-4 tahun

4,0-5,0

18

13 cm

4-6 tahun

4,5-5,5

20

14 cm

6-8 tahun

5,0-5,5

22

15-16 cm

8-10 tahun

5,5-6,0

24

16-17 cm

10-12 tahun

6,0-6,5

26

17-18 cm

12-14 tahun

6,5-7,0

28-30

18-22 cm

Dewasa wanita

6,5-8,5

28-30

20-24 cm

Dewasa pria

7,5-10,0

32-34

20-24 cm

Cara memilih pipa trakhea untuk bayi dan anak kecil


a. dalam pipa trakheal (mm) = 4,0 + umur (thn)
b. Panjang pipa oro trakheal (cm) = 12 + umur (thn)
c. Panjang pipa nasotrakheal (cm) = 12 + umur (thn)
M. INTUBASI PADA OPERASI DARURAT

Pada
operasi
darurat
dilakukan
induksi
cepat (crush
induction) untuk mencegah aspirasi selama tindakan intubasi.
Diindikasikan terutama pada pasien dengan lambung penuh. Selain
peralatan intubasi dipersiapkan pula alat penghisap dan pipa lambung.
Pasien dipersiapkan dalam posisi setengah duduk atau telentang dengan
posisi kepala lebih rendah.
Awali dengan pemberian O2 100% (praoksigenisasi) selama 3-5 menit
kemudian obat pelumpuh otot nondepolarisasi dosis (prekurarisasi).
Suntikan obat induksi cepat diberikan sampai refleks bulu mata hilang.
Tulang krikoid ditekan ke arah posterior(Sellick manouver) dan kemudian
obat pelumpuh otot depolarisasi diberikan dengan dosis 1,5-2 kali dosis
normal. Setelah itu baru dilakukan tindakan laringioskopi dan intubasi. Bila
pipa endotrakeal telah masuk, balon pipa (cuff) segera dikembangkan.
N. HIPOTERMIA
Hipotermia adalah keadaan dimana suhu tubuh di bawah batas
normal fisiologis (36,6 - 37,5C). Hipotermia yang tidka diinginkan
mungkin dialami oleh pasien sebagai akibat suhu yang rendah diruang
operasi, infuse denga cairan yang dingin, inhalasi gas-gas yang dingin,
kavitas atau kula terbuka pada tubuh, aktivitas otot yang menurun, usia
lanjut atau agens obat-obatan yang digunakan.
Penanganan hipotermi antara lain dengan membuat suhu
lingkungan dalam ruang operasi diataur pada suhu 25 - 26,6C. Cairan
intravena dan irigasi dihangatkan samapai 37C. gaun dan selimut basah
diganti dengan yang kering, karena gaun dan selimut yang basah
memperbesar kehilangan panas.
Diperlukan pemantauan suhu inti tubuh, haluan urin, EKG, tekanan
darah, gas darah dalam ateri, dan serum elektrolit yang cermat.
Perhatikan terhadap penatalaksanaan hiportemi meluas hingga keperiode
pascaoperatif untuk mencegah kehilangan nitrogen yang signifikan dan
katabolisme. Pengobatan mencakup pemberian oksigen, hidrasi yang
adekuat, dan nutrisi yang sesuai. Kehilangan panas pada pasien lansia di
rung operasi dapat dicegah dengan menutupi kepala pasien
mengguanakn topi penahan panas selama anestesi, jaga suhu ruangan
operasi harus dipertahankan pada 26,6oC. larutan antiseptic yang
digunakan dalam persiapkan awal kulit sebelum pemasangan selimut
harus cukup hangat, dan bukan yang dingin.

O. HIPERTERMIA MALIGNA SELAMA ANASTESI UMUM


Hipertermia maligna adalah gangguan otot yang diturunkan yang
secara kimiawi diinduksikan oleh anestetik. Selama anastesi agen protein
seperti anastesi inhalasi dan relaksan otot dapat memicu gejala
hipertermi maligna. Medikasi seperti simpatomimetik, teofilin, aminofilin,
dan glikosida jantung dapat juga menginduksi atau mengeluarkan reaksi
tersebut, proses ini diawali oleh setres.
Patofisiologi ini berkaitan dengan aktivitas sel-sel otot. Sel-sel otot
terdiri atas cairan bagian dalam dan membrane bagian terluar. Kalsium,
suatu factor penting dalam proses kontraksi otot, normalnya disimpan
dalam froses kontraksi otot, kalsiu dilepaskan sehingga memungkinkan
terjadinya kontraksi otot, hipertermia, dan kerusakan pada system saraf
pusat. Dengan angka moralitas yang melebihi 50%, mengidentifasikan
pasien yang beresiko adalah penting penting.
Manifestasi klinis; gejala awal hipertermia maligna adalah yang
berkaitan dengan aktivitas kardiovaskuler dan muskuloskletal. Takikardi
sering merupakan tanda dini. Selain takikardi, silmulasi saraf sinpatis
mengarah pada disrima ventikuler, hipotensi, dan penurunan curah
jantung, oliguria, dan selanjutnya henti jantung. Dengan transport kalsium
yang abnormal, kekakuan atau gerakan seperti tetani yang sering terjadi
pada rahang. Kenaikan suhu tubuh sebenarnya adalah tanda lanjut yang
terjadi dengan cepat, dan dapat meningkat 1oC setiap 5 menit.
Pemindahan dari ruang operasi ke unit perawatan pascaanestesia
(PACU), yang juga disebut sebagai ruang pemulihan pascaanestesia
(PARR), memerlukan pertimbangan khusus pada letak insisi, perubahan
vascular dan pemajanan.letak posisi insisi harus selalu dipertimbangkan
setiap kali pasien pascaoperatif dipindahkan banyak luka tertutup dalam
tetgangan yang cukup tinggi, dan setiap upaya dilakukan untuk
mencegah renggangan sutura lebih lanjut. Selain itu pasien diposisikan
sehingga ia tidak berbaring pada dan menyumbat drain atau selang
drainase.
Hipotensi arteri yang serius dapat terjadi ketika pasien digerakkan
dari satu posisi ke posisi lainya, seperti dari posisi litotomi keposisi
hozontal, dari lateral ke posisi terlentang. Bahkan memindahklan pasien
yang telah dianestesi ke brankar dapat menimbulkan masalah. Jadi pasien
harus dipindahkan secara perlahan lahan dan secara cermat.

P. UNIT PERAWATAN PASCA ANESTESIA


PACU biasanya berdekatan dengan ruang operasi. Pasien yang
masih terpengaruh anestesi atau yang pulih dari anestesi ditempatkan
diunut untuk kemudahan akses ke
1. Perawat yang disiapkan dalam merawat pasien pascaoperatif segera
2. Ahli anestesi dan ahli bedah
3. Alat pemantau dan peralatan khusus medikasi dan penggantian cairan.
Ruang dijaga agar harus, bersih dan bebas dari peralatan yang tidak
dibutuhkan. Ruang juga harus dicat dengan warna yang lembut dan
menyenangkan dan mempunyai
1. Pencahayaan tidak langsung
2. Plafon kedap suara
3. Peralatan yang mengontrol atau menghilangkan suara mis basin emesis dari plastic
4. Ruang terisolasi (kotak berkaca) untuk pasien yang terganggu
Alat pemantau tersedia untuk memberikan penilaian yang akurat dan
cepat tentang kondisi pasien.
1. Alat bantu pernapasan
2. Oksigen
3. Laringoskop
4. Set trakeostomi
5. Peralatan bronchial
6. Kateter
7. Ventilator mekanis
8. Peralatan suction
Sasaran pelaksanan PACU adalah untuk memberikan perawatan
sampai pasien pulih dari efek anestesi (sampai kembalinya fungsi motorik
dan sensorik), terorientasi, mempunyai tanda vital yang stabil, dan tidak
memperlihatkan tanda-tanda hemoragik.
Pengkajian pascaoperatif segera perawat PACU menerima pasien
memeriksa hal hal berikut dengan ahli-ahli anestesi atau anastesis :
1. Diagnosa medis dan jenis pembedahan yang dilakukan
2. Usia dan kondisi umum pasien masih, kepatenen jalan nafas, tanda-tanda vital
3. Anestetik dan medikasi lain yang digunakan misalnya narkotik, relaksan otot, antibiotic
4. Segala masalah yang terjadi dalam ruang operasi yang mungkin mempengaruhi
pascaoperatif midalnya hemoralgi berlebihan, syok dan henti jantung

5. Patologi yang dihadapi (jika malignansi, apakah pasien atau keluarga sudah diberitahukan)
6. Cairan yang diberikan, kehilangan darah dan penggantian.
7. Segala slang, drain kateter, atau alat bantu pendukung lainnya
8. Informasi spesifik tentang siapa ahli bedah atau anestesi yang akan diberitahukan
Q. INTERVENSI KEPERAWATAN
Tanda vital dipantau dan status fisik umum pasien dikaji pada
setidaknya setiap 5 menit. Kepatenan jalan nafas dan fungsi pernafasan
selalu dievaluasi pertama kali, diikuti dengan pengkajian fungsi
kardiovaskuler, kondisi letak yang dioperasi dan fungsi system saraf
pusat.
Sasaran utama intervensi adalah mempertahankan ventilasi
pulmonal dan dengan demikian mencegah hipoksemia (penurunan
oksigen dalam darah) dan hiperkapnea (kelebihan kadar dioksida dalam
darah) hal ini terjadi jika jalan nafas tersumbat dan ventilasi berkurang.
Kesulitan pernafasan berkaitan dengan tipe spesifik anestesi
Tanda-tanda kesulitan ini termasuk :
1. Tersedak
2. Pernapasan yang bising dan tidak teratur
3. Dalam beberapa menit kulit menjadi berwarna biru agak kehitaman
Satu-satunya cara untuka mengetahui apakah pasien bernafas atau
tidak adalah dengan menmpatkan telapak tangan di atas hidung dan
mulut pasien untuk merasakan hembusan napas. Tindakan obstruksi
hipofaringeus termasuk mendongakan kepala kebelakang dan mendorong
kedepan pada sudut rahang bawah.
1. Obstruksi hipofaringeus terjadi leher yang fleksi memungkinkan dagu untuk turun kearah
dada; obstruksi hamper selalu terjadi ketika kepala dalam midposisi.
2. Mendongakan kepala kebelakang untuk meregangkan struktur leher anterior menyebabkan
dasar lidah terangkat menjauhi dinding faringeal posterior. Arah anak panah
menunjukkan tekanan dari tangan.
3. Membuka mulut diperlukan untuk memperbaiki obstruksi seperti katup dari saluran hidung
selama ekspirasi yang terjadi pada sekitar 30 % pasien tidak sadar.
R. PROSES KEPERAWATAN MERAWAT PASIEN PASCA ANESTESIA
Pengkajian segera pasien bedah saat kembali ke unit klinik terdiri atas yang berikut :
1. Repirasi kepatenan jalan napas ; kedalaman, frekuensi, dan karakter pernapasan ; sulit dan
bunyi napas
2. Sirkulasi ; tanda-tanda vital termasuk tekanan darah kondisi kulit.

3. Neurologi ; tingkat respon


4. Drainase ; adanya drainase keharusan untuk menghubungkan selang kesistem drainase
yang spesifik adanya dan kodisi balutan
5. Kenyamanan ; tipe nyeri dan likasi mual atau muntah perubahan posisi yang dibutuhkan.
6. Psikologi ; sifat dari pertanyaan pasien kebutuhan akan istirahat dan tidur ; gangguan oleh
kebisingan pengunjung, ketersedian bel pemanggil.
7. Keselamatan ; kebutuhan akan pagar tempat tidur ; drainase selang tidak tersumbat; cairan
IV terinfus dengan tepat dan letak IV terbebat dengan baik
8. Peralatan ; diperiksa untiuk fungsi yang baik
S. PENGKAJIAN RESPIRASI
Yang harus diamati kualitas pernapasan dicatat seperti :
1. Kedalaman
2. Frekuensi
3. Bunyi napas
Pernapasan pendek dan cepat mungkin karena nyeri, balutan yang terlalu
ketat, dilatasi lambung atau obstruksi oleh sekresi.
T. PENGKAJIAN SIRKULASI
Pertimbangan dasar dalam mengkaji fungsi kardiovaskuler adalah
Pemantaun tanda-tanda syok dan hemoragi. penampilan pasien, TTV
untuk menentukan fungsi kardiovaskuler. Tekanan vena sentral (TVS) dan
nilai gas darah arteri dipantau jika kondisi pasien membutuhkan
pengkajian yang demikian.
Institusi
mempunyai
protocol
spesifik
untuk
pemantauan
pascaoperatif. Nadidarah dan pernapasan dicatat setiap 15 menit selama
2 jam pertama, dan setiap 30 menit selama 2 jam, dan setiap 30 menit
selama 2 jam berikutnya, kecuali diindikasikan untuk dilakukan lebih
sering setelanhnya mereka diukur lebih jarang jika semuanya tetap stabil.
Suhu tubuh dipantau setiap 4 jam selama 24 jam pertama.
1. Suhu tubuh diatas 37,70C (100oF) atau dibawah 36,1oC (97oF) pernapasan lebih dari 30 kali
atau kurang dari 16 kali permenit dan tekanan darah sistolik turun dibawah 90 mmhg
biasanya dianggap segera dilaporkan. Namun tekanan darah dasar atau praoperatif pasien
digunakan sebagai perbandingan pascaoperatif yang jelas.
2. Tekanan darah yang sebelumnya stabil yang menunjukkan kecendrungan menurun 5
mmHg pada pengukuran setiap 15 menit juga harus mewaspadakan perawat terhadap
adanya masalah.
DAFTAR PUSTAKA
Latief, A. Said, dkk. Anestesiology. Jakarta: FKUI. 2009

Ganiswarna, Sulistia. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: FKUI. 1995


Tjay, Tan Hoan. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
2002