Anda di halaman 1dari 5

H.

INTERNASIONAL ( LAUT INTRNASIONAL)

PENGERTIAN H.LAUT
- Didahului dengan laut :
a. Mnurut pgertian umum : laut adlah kseluruhan rangkaian air asin yang menggenangi
permukaan bumi
b. Mnurut definisi hukum : laut adalah kseluruhan air laut yang brhubungan secara bebas di
-

seluruh permukaan bumi.


Dengan definisi ini laut mati, laut kaspia dan danau air asin yg trbesar (the great salt lake)
yang trdpat di AS dri segi hokum tdak dpat dikatakan sbg laut karena laur tsb tertutup dan

tdak mmpunyai hubungan dengan laut lainx walaupun airx asin


PERANAN LAUT
a. Sbgai jln raa yg mghubungkan seluruh pelosok dunia melalui laut. Msyarakat dri brbagai
bgsa bias mengadakan hubungan seperti pertukaran dari komodit perdagangan sampai ilmu
pengetahuan
b. Laut merupkan sarana penting dalam hubngan politik internasional
c. Negara2 berkompetisi penting mengawasi laut karena dg hal tsb berarti mengusai lalu lintas
laut dan berarti pula menguasai dunia
d. Tempat laut Merupakan sumber mkanan bagi mnusia karena ikanx g kaya dengan protein
hewani bgitu jg dsar laut kaya dengan sumber2 mineral sperti : mxak bumi, nikel dan mangan
e. Laut merupkan arti penting riset / pnelitian, mengingat 2/3 dari prmukaan bumi trdri dari laut
TUJUAN H.LAUT INTRNASIONAL
a. Untuk mengatur kegunaan rangkap dari laut sbg jlan raya, sumber kekayaan dan sumber
tenaga, o/ krena itu laut hanya dimnfaatkan o/ landsan khusus yaitu kapal2 muka hu.laut pun
harus mnempatkan status kapal tsb
b. H. laut intrnasional harus mengatur kompetensi antar Negara dlam mencari dan
menggunakan kekayaan yg diberikan laut trutama antra Negara maju dan berkembang
SEJARAH PERKEMBANGAN H.LAUT INTRNASIONAL
- Pada awal sejarah prkmbanganx HLI ada be2rapa prmslhan yg brkmbang u/ mntapkan lebar
laut indo. territorial sbg jalur yg brada dibwah kadaulatan Negara pantai sampai dg
permulaan abad k 18 prinsip kedaulatan negara pantai atas jalur maritim bnr2 brlku. Pada
thun 1702 cornelius van byajus hoeck mnrbitkn krayax mngnai kdaulatan ats laut dlm krayax
mnyetujui prturan bhw ngr pesisir dpt menguasai laut sebatas lebar perairan pantai sejauh
tembakan meriam yg berukuran kurang lebih 3 mil laut. Batas 3 mil ini mmperoleh
pengakuan para ahli hokum serta mndpat pengesahan dlam praktek Negara maritim utama.
Sejarah ini mmpunyai 2 konsepsi yg sling bertentangan, yaitu :
1. Res Nullius

Mengatakan bahwa Laut tdak ada yg memiliki krena itu dpat diambil dan dimiliki o/
masing2 negara
2. Res Communies
Mengtkn bahwa Laut itu adlah mlik msyarakat dunia karena itu tdak dpat diambil dan
-

dmiliki o/ masing2 negara


2 prkmbangan penting stelah berakhirnya perang dunia ke-2 :
1. Pnerimaan umum atas doktrin landas kontinen dan ZEE
2. Kptusan intrnasional Court of Justice dlam prkara anglo Norwegian Fisheres Case
yaitu mengenai pertimbngan bhwa jalur maritime bukanlah suatu perluadan semu
trbatas dari wilayah kkuasaan daratan suatu Negara sbgi suatu wilayah tmbahan g
berdampingan. Dlam hal ini demi alsan eknomi, keamanan dan geografis negar
pesisir berhak u/ melaksnkan hak2 kedaulatan eksekutif yg hanya tunduk pda

pembtasan2 sperti hak lintas damai kpal2 asing.


Lintas Damai : mmperbolehkan kpal2 asing u/ lewat diwilayahx tanpa melanggar ktentuan2

yg brlaku
ALUR LAUT INDONESIA
a. Selat sunda
b. Selat Lombok
c. Selat Bandar
PERTURAN PER-UU ttg WLYAH TERITORIAL LAUT INDONESIA
a. Deklarasi juanda 14 desember 1957
Pmerintah RI mengeluarkan suatu pernyataan deklarasi mengenai wilayah periaran
Indonesia :
bahwa segala perairan disekitar diantara dan yg menghubungkan pulau2 /
bagian pulau2 yg trmsuk daratan NRI dg tdak mmndang luas / lebarx adlah
bgian yg wajar dri wilayah daratan RI dg demikian mrupkan bgian dri

perairan nasional yg berada di bwah kedaulatan mutlak dri Negara RI


lalu lintas yg perairanx damai di perairan pedalaman bagi kpal asing akan

terjamin selama tdak brtentangan dg kedaulatan dan kselmatan Negara RI


pnentuan btas laut territorial yg lebarx 12 mil diukur dri garis2 yg

menghubungkanx titik2 trluar dan pulau2 terluar akan dtentukan oleh UU


Pertimbangan yg mndorong pemerintah Indonesia mngelurkan deklarasi mngenai
wilayah peraiaran Indonesia :
1. Bahwa Bntuk geografis RI sbg suatu Negara kepulauan yg trdiri dar beribu2
pulau mmpunyai sifat dan cerah tersendri yg mmerlukan pengaturan trsendri
2. Bahwa Bagian kesatuan wilayah teritorial RI semua kepulauan serta laut yg
terletak diantarax harus dianggap satu kesatuan yg bulat
3. Bahwa Pnetapan btas2 wilayah laur territorial yg di warisi dari pmerintah
Belanda sdh tdak sesuai dg kpntingan kselamtan dan keamanan negra Indonesia
4. Bahwa Stiap Negara yg brdaulat berhak dan berkewajiban u/ mengambil tndakan
yg dipandang perlu u/ melindungi keutuhan dan keselamtan negara

b. UU No 4 PRP 1960 ttg perairan Indonesia


Inti dari UU ini asas2 pokok dari konsepsi Nusantara adlah :
Untuk kesatuan bangsa, integritas wilayah dan kesatuan ekonomix diatrik

garis2 pangkal lurus yg menghubungkan titik terluar dari pulau2 terluar


Negara berdaulat atas segala perairan yg terletak dalam garis2 pangkal lurus
ini trmsuk dasar laut dan tanah dibawahx maupun ruang udara diatasx dg

segala kekayaan alam yg trkandung didalamx


Jalur laut wialayah territorial selebar 12 mil diukur terhitung dari garis2

pangkal lurus ini


Hak lintas damai kendaraan air / kapal asing melalui perairan nusantara di
jamin selama tdak merugikan kpentingan Negara pntai dan mengganggu

keamanan dan ketertiban


BENTUK & SUSUNAN UU NO 4 PRP 1960
Sangat sederhana, hanya terdiri dari 4 buah pasal. UU ini pda hakekatx
mengubah cara penetapan laut Indonesia dari pnetapan wilayah laut selebar 3 mil
menjadi selebar 12 mil
c. UU NO 6 / 1996 ttg perairan Indonesia
UU ini menggantikan UU NO 4 PRP 1960. Diundangkan pda tanggal 8 agustus 1996
trdir dari 7 bab dan 27 pasal. UU ini jauh lebih lengkap dibandingkan dengan UU NO
4 PRP 1960. UU lainx yg menyangkut penggunaan dan pemanfaatan laut masih ttp
berlaku sprit UU NO 5 / 1983 ttg ZEE dan UU NO 17 / 1985 ttg ratifikasi UNCLOS
ke 3 dan UU NO 6 / 1996 mencakup tentang :
BAB I (ktentuan umum)
BAB II (wilyah perairan indonesia)
BAB III (hak lintas kpal2 asing)
BAB IV (pemanfaatan, pengelolaan, perlindungan, dan pelestarian
lingkungan perairan indonesia)
BAB V (penegakan kedaultan dan hokum perairan di indonesia)
BAB VI (ktentuan peralihan)
BAB VII (ktentuan penutup)
Psal 1 ayat 4 UU NO 6 / 1996
perairan indonesia adlah laut territorial bserta perairan kepulauan dan perairan
pedalaman
Psal 1 ayat 8
alur laut kepulauan adlah Alur laut kepulauan adalah alur laut yang dilalui oleh
kapal atau pesawat udara asing di atas alur laut tersebut, untuk melaksanakan
pelayaran dan penerbangan dengan cara normal semata-mata untuk transit yang
terus-menerus, langsung dan secepat mungkin serta tidak terhalang melalui atau
di atas perairan kepulauan dan laut teritorial yang berdampingan antara satu
bagian laut lepas atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan bagian laut lepas

atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia lainnya. Penarikn gris pangkal lurus yg
brlku bgi pntapan btas dan lebar perairan indo.
Psal 5 ayat
Garis pangkal kepulauan Indonesia ditarik dengan menggunakan garis pangkal
lurus kepulauan.
Pasal 5 ayat 3
Garis pangkal lurus kepulauan adalah garis2 lurus yg menghubungkan titik
terluar pada garis air rendah pulau2 dan karang2 terluar dari kepulauan Indonesia
Pasal 5 ayat 4
Panjang garis pangkal lurus kepulauan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3)
tidak boleh melebihi 100 (seratus) mil laut, kecuali bahwa 3% (tiga per seratus)
dari jumlah keseluruhan garis -garis pangkal yang mengelilingi kepulauan
Indonesia dapat melebihi kepanjangan tersebut, hingga suatu kepanjangan
maksimum 125 (seratus dua puluh lima) mil laut.
Pasal 9 dan 10
Kedua psal ini menetapkan mengenai peraturan batas peraiaran Indonesia pada
wilayah / pantai yg berhadapan dengan wilayah /pantai dg Negara lain
pembagian lebar perairan territorial pd wilayah laut yg berhdpan / bersinggungan
bias diatur melalui perjanjian bilateral / ditetapkan brdsarkan prinsip garis tengah
kecuali apbila trdpat hak historis / keadaan khusus lainx, sehingga perlu
penggunanaan cara lain bukan konsep garis tengah.
BERLAKUNYA KONSEP ZEE
- Berlakux konsep ini merupakan pranata hokum internal yg masih baru, ZEE dibhas secara
mendalam dan intensif sbg slah satu agenda acara pada konferensi hokum laut yg di prakarsai
PBB dan diselenggarakan mulai tahun 1973 1982

dan kemudian di sepakati dan

dituangkan dalam bab 5 pasal 55-75 konvensi HLI tahun 1982


Pasal 55
ZEE mrupkan suatu daerah yg trletak diluar dan berdampingan dengan laut
territorial. Ini menunujakan bahwa ZEE berada diluar wilayah Negara dan bukan
merupakan wilayah Negara
Pasal 56
ZEE dalam konvensi h.laut intrnasional di ZEE Negara pantai mmpunyai hak
berdaulat u/ kperluan eksplorasi dan eksploitasi, konservasi dan pengelolaan
SDA baik hayati maupun non hayati dan perairanx. Contoh : produksi energy air,
arus dan angin / gelombang
Pasal 57
Lebar ZEE tdak boleh melebihi dari 200 mil laut diukur dari garis pangkal sebgai
titik / tempat pengukuran lebar laut intrnasional
YURISDIKSI

Juga ditentukan dalam konvensi HLI. Sperti hal2 yg berkenaan dg pmbuatan dan pemakaian
pulau buatan, instansi dan bangunan lainx atau pnelitian kelautan melakukan perlindungan
dan pelestarian lingkungan disamping itu Negara lain jg mmpunyai hak dan kebebasan serta
kewajiban di dalam ZEE. Contoh : kebebasan pelayaran, pengoperasian kapal2, memasang

kabel2 dan pipa2 saluran di dsar laut dan melakukan penerbangan diatasx
PENGEJARAN SEKETIKA (HOT PURSUIT)
- Dalm konvensi h.laut di tetapkam bahwa pgejaran seketika suatu kpal asing yg telah
melakukan pelanggaran trhdap UU / perturan Negara pantai, dimulai dari ketika kapal asing
berada dalam perairan pedalaman / laut territorial dan boleh diteruskan hingga kelaut lepas
aslakan pengejaran itu dilakukan tanpa berhnti, hak pengejaran seketika terhenti ketika pada
saat kapal asing itu memasuki territorial negarax / Negara lain, pengejaran seketika ini baru
dianggap di mulai stelah kapal yg melakukan pengejaran meyakinkan dirix bahwa kapal yg
di kejar benar2 berada di dlam batas perairan teritorialx
ZONA TAMBAHAN