Anda di halaman 1dari 13

PETROGRAFI BATUAN BEKU

II.I

Pengertian Batuan Beku

Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari hasil pembekuan magma.Didasarkan
atas lokasi terjadinya pembekuan, batuan beku dikelompokkanmenjadi dua yaitu betuan beku
intrusif dan batuan beku ekstrusif (lava)Berdasarkan komposisi mineralnya persentase,
batuan beku dapatdikelompokkan menjadi tiga, tergantung dari mineral mafik dan
felsiknya.Secara umum, limpahan mineral di dalam batuan, akan mengikuti aturanreaksi
Bowen. Hanya mineral-mineral dengan derajad kristalisasi tertentu dansuhu kristalisasi yang
relatif sama yang dapat hadir bersama-sama

Gambar klasifikasi batuan beku bowen series

II.II

Klasifikasi Batuan Beku

Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari hasil pembekuan magma. Karena hasil
pembekuan, maka ada unsur kristalisasi material penyusunnya. Komposisi mineral yang
menyusunnya merupakan kristalisasi dari unsur-unsur secara kimiawi, sehingga bentuk
kristalnya mencirikan intensitas kristalisasinya.
Didasarkan atas lokasi terjadinya pembekuan, batuan beku dikelompokkan menjadi dua
yaitu betuan beku intrusif dan batuan beku ekstrusif (lava). Pembekuan batuan beku
intrusif terjadi di dalam bumi sebagai batuan plutonik; sedangkan batuan beku ekstrusif
membeku di permukaan bumi berupa aliran lava, sebagai bagian dari kegiatan gunung
api. Batuan beku intrusif, antara lain berupa batholith, stock (korok), sill, dike (gang) dan
lakolith dan lapolith (Gambar V.1). Karena pembekuannya di dalam, batuan beku intrusif
memiliki kecenderungan tersusun atas mineral-mineral yang tingkat kristalisasinya lebih
sempurna dibandingkan dengan batuan beku ekstrusi. Dengan demikian, kebanyakan
batuan beku intrusi dalam (plutonik), seperti intrusi batolith, bertekstur fanerik, sehingga
tidak membutuhkan pengamatan mikroskopis lagi. Batuan beku hasil intrusi dangkal
seperti korok gunung api (stock), gang (dike), sill, lakolith dan lapolith umumnya
memiliki tekstur halus karena sangat dekat dengan permukaan.

Gambar Macam-macam morfometri intrusi batuan beku, yaitu batholith, stock, sill dan dike

Jenis dan sifat batuan beku ditentukan dari tipe magmanya. Tipemagma tergantung dari
komposisi kimia magma. Komposisikimia magma dikontrol dari limpahan unsur-unsur
dalam bumi,yaitu Si, Al, Fe, Ca, Mg, K, Na, H, dan O yang mencapai hingga99,9%.
Semua unsur yang berhubungan dengan oksigen (O)disebut sebagai oksida, SiO2
adalah salah satunya. Sifat dan jenisbatuan beku dapat ditentukan dengan didasarkan
pada kandungan SiO2
Tipe
Magma
Basaltic

Batuan
Vulkanik
Basalt

Batuan
Plutonik
Gabbro

Komposis
i Kimia
SiO2 4555 %:Fe,
Mg, Ca
tinggi, K
dan Na
rendah

Suhu

Kekentala
n
Rendah

Kandunga
n Gas
Rendah

Andesitic

Andesit

Diorit

Rhyolitic

Rhyolit

Granit

SiO2 5565%, Fe,


Mg, Ca,
Na, K
sedang
SiO2 6575 % ,Fe,
Mg, Ca
rendah, K
dan Na
tinggi

8001000oC

Intermediat

Intermediat

650800oC

Tinggi

Tinggi

10002000oC

Tabel: Tipe batuan beku dan sifat-sifatnya (Nelson, 2003)

Menurut keterdapatannya, berdasarkan tatanan tektonik dan posisi pembekuannya ,


batuan beku diklasifikasikan sebagai batuan intrusi plutonik (dalam) berupa granit, syenit,
diorit dan gabro. Intrusi dangkal yaitu dasit, andesit, basaltik andesitik, riolit, dan batuan
gunung api (ekstrusi yaitu riolit, lava andesit, lava basal.

Tabel Klasifikasi batuan beku berdasarkan letak / keterdapatannya.

Berdasarkan komposisi mineralnya, batuan beku dibedakan menjadi 2, yaitu:

1. Batuan beku asam-intermediet


Kelompok batuan ini memebeku pada suhu 650-800oC. Dapat dikelompokkan dalam
tiga kelompok, yaitu batuan beku kaya kuarsa, batuan beku kaya feldspathoid (foid)
dan batuan beku miskin kuarsa. Batuan kaya kuarsa berupa granit dan ryolit,
sedangkan batuan iskin kuarsa berupa syenit dan diorit.

2. Batuan beku basa dan ultra-basa


Keelompok batuan ini terbentuk pada suhu 1000-1200oC. Dicirikan warnanya gelap
hingga sangat gelap. Kelompok batuan basa diklasifikasikan menjadi dua kelompok
besar didasarkan dengan kandungan mineral piroksin, olivin dan plagioklasnya; yaiut
basa dan ultrabasa. Batuan beku basa mengandung mineral plagioklas lebih dari 10%,
sedangkan batuan beku ultrabasa kurang dari 10%. Batuan beku basa terdiri atas
gabro, basalt dan batuan beku ultrabasa terdiri atas dunit, peridotit.

II.III Struktur Batuan Beku


1. Masif: padat dan ketat; tidak menunjukkan adanya lubang-lubang keluarnya gas;
dijumpai pada batuan intrusi dalam, inti intrusi dangkal dan inti lava; Ct: granit, diorit,
gabro dan inti andesit

Struktur batuan beku masif terbentuk karena daya ikat masing-masingmineral sangat
kuat, contoh pada granodiorit dengan komposisi mineralplagioklas berdiameter >1
mm (kiri) dan granit (kanan) dengan komposisikuarsa dan ortoklas anhedral dengan
diameter >1 mm.
2. Skoria: dijumpai lubang-lubang keluarnya gas dengan susunan yang tidak teratur;
dijumpai pada bagian luar batuan ekstrusi dan intrusi dangkal,terutama batuan
vulkanik .Contoh: andesit dan basalt

Struktur batuan beku skoria; dijumpai rongga-rongga bekas


keluarnya gas saat pembekuan yang sangat cepat. Contoh pada
andesit basaltik porfirik pada posisi nikol sejajar (atas) dan nikol
silang (bawah). Batuan tersusun atas fenokris plagioklas
berdiameter >1 mm dan piroksen klino berdiameter 0,5-1,5 mm,
dan tertanam dalam massa dasar gelas, kristal mineral (plagioklas
dan piroksen) dan rongga tak beraturan berdiameter <1 mm
3. Vesikuler: dijumpai lubang-lubang keluarnya gas dengan susunan
teratur; dijumpai pada batuan ekstrusi riolitik atau batuan beku
berafinitas intermediet-asam.
4. Amigdaloidal: dijumpai lubang-lubang keluarnya gas, tetapi telah
terisi oleh mineral lain seperti kuarsa dan kalsit; dijumpai pada
batuan vulkanik trakitik; Ct: trakiandesit dan andesit

II.III Tekstur batuan beku


Tekstur batuan menggambarkan bentuk, ukuran dan susunan mineral di
dalam batuan. Tektur khusus dalam batuan beku menggambarkan genesis
proses kristalisasinya, seperti intersertal, intergrowth atau zoning. Batuan
beku intrusi dalam (plutonik) memiliki tekstur yang sangat berbeda
dengan batuan beku ekstrusi atau intrusi dangkal. Sebagai contoh adalah
bentuk kristal batuan beku dalam cenderung euhedral, sedangkan batuan
beku luar anhedral hingga subhedra
Tabel: Tekstur batuan beku pada batuan beku intrusi dalam, intrusi
dangkal dan ekstrusi dan pada batuan vulkanik

1. Tekstur trakitik

Dicirikan oleh susunan tekstur batuan beku dengan kenampakan


adanya orientasi mineral - arah orientasi adalah arah aliran

Berkembang pada batuan ekstrusi / lava, intrusi dangkal seperti dike


dan sill

Gambar V.7 adalah tekstur trakitik batuan beku dari intrusi dike
trakit di G. Muria; gambar kiri: posisi nikol sejajar dan gambar
kanan: posisi nikol silang

Gambar Tekstur trakitik pada traki-andesit (intrusi dike di Gunung Muria).


Arah orientasi dibentuk oleh mineral-mineral plagioklas. Di samping
tekstur trakitik juga masih menunjukkan tekstur porfiritik dengan fenokris
plagioklas dan piroksen orto.

2. Tekstur Intersertal

Yaitu tekstur batuan beku yang ditunjukkan oleh susunan intersertal


antar kristal plagioklas; mikrolit plagiklas yang berada di antara /
dalam massa dasar gelas interstitial.

Gambar Tekstur intersertal pada diabas; gambar kiri posisi nikol sejajar
dan gambar kanan posisi nikol silang. Butiran hitam adalah magnetit

3. Tekstur Porfiritik

Yaitu tekstur batuan yang dicirikan oleh adanya kristal besar


(fenokris) yang dikelilingi oleh massa dasar kristal yang lebih halus
dan gelas

Jika massa dasar seluruhnya gelas disebut tekstur vitrophyric .

Jika fenokris yang berkelompok dan tumbuh bersama, maka


membentuk tekstur glomeroporphyritic.

Gambar V.9. Gambar kiri: Tektur porfiritik pada basalt olivin porfirik
dengan fenokris olivin dan glomerocryst olivin (ungu) dan plagioklas yang
tertanam dalam massa dasar plagioklas dan granular piroksen
berdiameter 6 mm (Maui, Hawaii). Gambar kanan: basalt olivin porfirik
yang tersusun atas fenokris olivin dan glomerocryst olivin (ungu) dan
plagioklas dalam massa dasar plagioklas intergranular dan piroksen
granular berdiameter 6 mm (Maui, Hawaii)

4. Tekstur Ofitik
Yaitu tekstur batuan beku yang dibentuk oleh mineral plagioklas yang
tersusun secara acak dikelilingi oleh mineral piroksen atau olivin (Gambar
V.10). Jika plagioklasnya lebih besar dan dililingi oleh mineral
ferromagnesian, maka membentuk tekstur subofitic (Gambar V.11). Dalam
suatu batuan yang sama kadang-kadang dijumpai kedua tekstur tersebut
secara bersamaan.
Secara gradasi, kadang-kadang terjadi perubahan tektur batuan dari
intergranular menjadi subofitik dan ofitik. Perubahan tektur tersebut
banyak dijumpai dalam batuan beku basa-ultra basa, contoh basalt.
Perubahan tekstur dari intergranular ke subofitic dalam basalt dihasilkan
oleh pendinginan yang sangat cepat, dengan proses nukleasi kristal yang
lebih lambat. Perubahan terstur tersebut banyak dijumpai pada inti
batuan diabasik atau doleritik (dike basaltik). Jika pendinginannya lebih
cepat lagi, maka akan terjadi tekstur interstitial latit antara plagioclase
menjadi gelas membentuk tekstur intersertal.

Gambar V.10. Tekstur ofitik pada doleritik (basal); mineral plagioklas


dikelilingi oleh mineral olivin dan piroksen klino

Gambar V.11. Tekstur subofitik pada basal; mineral plagioklas dikelilingi


oleh mineral feromagnesian yang juga menunjukkan tekstur poikilitik

II.IV Komposisi Mineral pada Batuan Beku

Komposisi mineral pada batuan beku ditentukan darikomposisi


kimiawinya. Didasarkan atas komposisi mineralmafik dan felsik yang
terkandung di dalamnya, batuan bekudapat dikelompokkan dalam tiga
kelas, yaitu asam,intermediet dan basa. Batuan beku asam tersusun
atasmineral felsik lebih dari 2/3 bagian; batuan beku intermediettersusun
atas mineral mafik dan felsik secara berimbang yaitufelsik dan mafik 1/3

hingga 2/3 secara proporsional; danbatuan beku basa tersusun atas


mineral mafik lebih dari 2/3.
Tabel Nama-nama batuan beku baik intrusi, ekstrusi dan batuan gunung
api yang didasarkan atas kandungan mineral mafik dan felsiknya; mineralmineral mafik: piroksen (olivin, klino- dan ortho-piroksen, amfibol dan
biotit) dan mineral-mineral felsik: K-Feldspar, kuarsa

Komposisi mineral juga dapat menunjukkan seri magma asalnya, yaitu


toleeit, kalk-alkalin atau alkalin. Batuan-batuan dengan seri magma toleeit
biasanya banyak mengandung mineral rendah Ca, batuan-batuan seri
kalk-alkalin biasanya mengandung mineral tinggi Ca (seperti augit,
amfibol dan titanit), sedangkan batuan seri alkalin banyak mengandung
mineral-mineral tinggi K (seperti mineral piroksen klino). Tabel V.6
menunjukkan sifat-sifat mineral penyusun dalam seri batuan toleeit, kalkalkalin dan alkalin. Ketiga seri batuan tersebut hanya dapat terbentuk
pada tatanan tektonik yang berbeda; seri toleeit berkembang pada zona
punggungan tengah samudra (MOR); seri kalk-alkalin berkembang dengan
baik pada busur magmatik; dan seri alkalin berkembang pada tipe gunung
api rifting.

Tabel V.6. Tiga tipe seri magmatik batuan beku dengan limpahan mineral
penunjuknya

Tabel V.7. Beberapa tipe magma dari batuan gunung api berdasarkan
kandungan silika dan keterdapatannya dari tatanan tektoniknya