Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keamanan dan kelayakan pangan merupakan syarat penting yang harus
melekat pada pangan yang hendak dikonsumsi oleh semua masyarakat
Indonesia. Keamanan pangan bukan hanya merupakan isu dunia tapi juga
menyangkut kepedulian individu. Berdasarkan Undang-undang no.7 tahun
1996 tentang pangan, keamanan pangan adalah kondisi dan upaya untuk
mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain
yang mengganggu, merugikan, dan membahayakan. Jaminan akan keamanan
pangan adalah hak asasi setiap konsumen. Oleh karena itu makanan yang
hendak dikonsumsi harus bebas dari bahan pencemar atau kontaminan.
Pencemaran makanan adalah suatu keadaan atau kondisi terdapatnya bahanbahan asing yang keberadaannya tidak diinginkan dalam makanan. Proses
pencemaran makanan dapat terjadi pada tahap sebelum pengolahan,
pengolahan, penyimpanan, pengangkutan atau distribusi, dan penyajian
makanan. Upaya pencegahan pencemaran makanan dilakukan pada setiap
tahapan pengelolaan makanan (Hermawan, 2005).
Beberapa pendekatan yang dapat digunakan sebagai upaya nyata
untuk meningkatkan keamanan pangan antara lain dapat dilakukan dengan
penetapan Skor Keamanan Pangan (SKP) pada pengolahan makanan dengan
cara mengidentifikasi komponen komponen pengolahan makanan yang
terdiri dari Pemilihan dan Penyimpanan Bahan Makanan (PPB), Hiegiene
pemasak (HGP), Pengolahan Bahan Makanan (PBM), dan Distribusi
Makanan (DPM). Kriteria SKP untuk makanan yang diproduksi meliputi
kategori baik/aman, sedang, rawan tapi masih aman untuk dikonsumsi, dan
rawan serta tidak aman untuk dikonsumsi. Penetapan kategori atau kriteria
tersebut didasarkan pada skor SKP yang diperoleh.
Oleh karena sangat pentingnya keamanan dan kelayakan suatu
produk makanan yang akan dikonsumsi, maka kami melakukan survey
penilaian keamanan suatu produk makanan dengan menggunakan aplikasi
form SKP (Standar Keamanan Pangan) di Instalasi Gizi RSUP Dr Hasan

Sadikin Bandung untuk menentukan apakah produk pangan atau makanan


yang diolah masuk dalam kriteria pangan yang aman atau rawan untuk
dikonsumsi. Produk makanan yang akan dilakukan penilaiannya yaitu
perkedel kentang kornet panggang yang merupakan menu lauk nabati bagi
pasien di RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung.
1.2 Tujuan
Kegiatan ini

bertujuan untuk mengaplikasikan form SKP (Skor

Keamanan Pangan) pada proses pengolahan perkedel kentang kornet


panggang guna menilai keamanan dan kelayakan dari produk makanan
tersebut.

BAB II
ISI
A. Gambaran Lokasi
Lokasi pengambilan data penilaian SKP (Skor Keamanan Pangan)
ini dilakukan di Kantin Life Alma Ata Yogyakarta yang berada di
lingkungan Perguruan Tinggi Alma Ata dan beralamat di Jl. Ringroad Barat
Daya No.1 Tamantirto Yogyakarta.
B. Waktu Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan pada hari Jumat 21 November 2014


pada jam 10.00 WIB - 13.00 WIB.
C. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam melakukan penilaian adalah :
a. Form penilaian SKP
b. Pulpen
c. Kamera
D. Cara Kerja
Langkah kerja :
1. Melakukan survey awal mengenai kemungkinan dilakukannya
penilaian yang meliputi ijin pemilik & kesepakatan waktu untuk
melakukan penilaian
2. Melakukan penilaian keamanan dan kelayakan suatu produk makanan
dengan aplikasi form SKP dengan cara observasi (pengamatan) dan
wawancara dengan para tenaga penjamah atau pengolah makanan
terhadap komponen dan subkomponen yang dinilai
3. Mengisikan hasil penilaian pada form SKP yang telah disediakan
4. Mengambil beberapa gambar atau foto yang dapat mendukung hasil
penilaian tentang keamanan suatu produk makanan yang diolah.
E. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil Penilaian Skor Keamanan Pangan (SKP)
NO

KOMPONEN & SUB KOMPONEN

NILAI
(1)
(2)

A.

PEMILIHAN DAN PENYIMPANAN BAHAN MAKANAN

1. *
2.
3.
4.

(PPB)
Bahan makanan yang digunakan masih segar
Bahan makanan yang digunakan tidak rusak
Bahan makanan yang digunakan tidak busuk
Tidak menggunakan wadah / kotak bekas pupuk atau pestisida

1
3
3
3

0
0
0
0

5.
6.*
7.
8.

untuk menyimpan dan membawa bm


Bahan makanan disimpan jauh dari bahan beracun / berbahaya
Bahan makanan disimpan pada tempat tertutup
Bahan makanan disimpan pada tempat bersih
Bahan makanan disimpan pada tempat yang tidak terkena sinar

3
3
3
3

0
0
0
0

matahari langsung
B.
1.
2.
3.*

JUMLAH NILAI UNTUK PPB


HIGIENE PEMASAK (HGP)
Pemasak harus berbadan sehat
Pemasak harus berpakaian bersih
Pemasak memakai tutup kepala selama memasak

19
3
3
1

0
0
0

4.*
5.
6.*

Pemasak memakai alas kaki selama memasak


Mencuci tangan sebelum dan sesudah memasak
Mencuci tangan menggunakan sabun sesudah dari WC (buang

7.
8.

air)
Ketika bersin tidak menghadap ke makanan
3
Kuku pemasak selalu bersih dan tidak panjang
3
JUMLAH NILAI UNTUK HGP 17

C.
1.
2.*

PENGOLAHAN BAHAN MAKANAN (PBM)


Peralatan memasak yang digunakan harus bersih dan kering
Peralatan memasak harus dicucui sebelum dan sesudah dipakai

3
3

0
0

3.*
4.
5.

memasak
Peralatan memasak dikeringkan terlebih dahulu setelah dicuci
Peralatan memasak disimpan di tempat yang bersih
Peralatan memasak disimpan di tempat yang jauh dari bahan

3
3
3

0
0
0

6.
7.*
8.*
9.
10.*
11.*
12.*
13.
14.*

beracun atau bahan berbahaya


Dapur tempat memasak harus dalam keadaan bersih
Dapur tempat memasak harus dalam keadaan kering
Dapur tempat memasak harus mempunyai ventilasi yang cukup
Dapur terletak jauh dari kandang ternak
Selalu tersedia air bersih dalam wadah tertutup
Di dapur tersedia tempat sampah yang tertutup
Pembuangan air limbah harus lancar
Bahan beracun / berbahaya tidak boleh disimpan di dapur
Jarak tempat memasak ke tempat distribusi (sekolah) tidak lebih

3
3
3
3
3
2
3
3
3

0
0
0
0
0
0
0
0
0

15.
16.*
17.
18.
19.*

dari satu jam


Pisau dan telenan yang digunakan harus bersih
Bagian makanan yang tidak dimakan tidak ikut dimasak
Bahan makanan dicusi dengan air bersih
Meracik / membuat adonan menggunakan alat yang bersih
Adonan / bahan makanan yang telah diracik harus segera di

3
3
3
3
3

0
0
0
0
0

20.*
21.

masak
Makanan segera diangkat setelah matang
Makanan yang telah matang ditempatkan pada wadah bersih dan

2
3

0
0

22.*

terhindar dari debu dan serangga


Makanan tidak dibungkus dengan menggunakan pembungkus

23.

dari kertas koran dan kertas ketikan


Makanan dibungkus dgan pembungkus yg bersih, tdak 3

24.*

menggunakan bekas pembungkus bhn beracun


Memegang makanan yang telah matang menggunakan sendok, 3

garpu, alat penjepit, sarung tangan

1
3
3

0
0
0
0
0

25.

Tidak menyimpan makanan yang matang lebih dari 4 jam 3

26.

terutama makanan berkuah dan bersantan


Untuk makanan goreng, minyak goreng tidak boleh digunakan 3

27.

jika sudah berwarna coklat tua, atau sudah dipakai setelah 4 kali
Untuk makanan basah, merebus dan mengukus makanan dalam 3

wadah tertutup
D.
1.

JUMLAH NILAI UNTUK PBM 51


DISTRIBUSI MAKANAN (DPM)
Selama distribusi, makanan ditempatkan dalam wadah yang
3

2.
3.*
4.

bersih dan tertutup


Pembawa makanan berpakaian bersih dan mencuci tangan
Tangan dicuci dengan sabun sebelum membagikan makanan
Makanan tidak boleh berlendir, berubah rasa, atau berbau basi

3
1
3

0
0
0

5.
6.*
7.*

sebelum dibagikan
Makanan ditempatkan dalam tempat yang bersih dan kering
Mencuci tangan sebelum makan
Makanan tidak dipegang langsung, menggunakan alat untuk

3
3
3

0
0
0

memegang makanan saat membagikan


JUMLAH NILAIUNTUK DMP 15
Tabel.1 : hasil Pengisian From Penilaian Skor Keamanan Pangan
Penerapan Nilai SKP
Komponen

PPB
HGP
PBM
DPM

Nilai

Nilai yang

Nilai

Maksimal

Dipenuhi

Komponen

(Bobot)
22 (0.16)
20(0.15)
74(0.55)
19(0.14)
Total Nilai

19
17
51
15

(NK)
19/22= 0.86
17/20= 0.85
51/74= 0.68
15/19= 0.78

Nili Skor
(NK x Bobot)

0.86 x 0.16= 0.14


0.85 x 0.15= 0.13
0.68 x 0.55=0.37
0.78 x 0.14= 0,109
0,749 =74,9%

Tabel.2 : Hasil Perhitungan penerapan SKP


Kategori

SKP

Baik
0,9703
Sedang
0,9332-0,9702
Rawan tapi Aman Dikonsumsi
0,6217-09331
Rawan dan Tidak Aman Dikonsumsi
< 0,6217
Interpretasi Skor Penilaian SKP

Persen Penilaian SK
(%)
97,03 %
93,3-97,2 %
62,17-93,31 %
< 62,17 %

Tabel.3 : Interpretasi skor Penilaian SKP


Keamanan pangan diartikan sebagai terbebasnya makanan dari zat-zat atau
bahan yang dapt membahayakan keselamatan tubuh tanpa membedakan apakah
zat itu secar alami terdapat dalam dalam bahan makan yang digunakan atau
tercampur secara sengaja atau tidak sengaja kedalam bahan makanan atau
makanan jadi (winarno, 1997). Ada tiga hal yang menyebabkan pencemaran
makanan sehingga menyebabkan makanna tidak aman untuk dikonsumsi, yaitu :
1. Penanganan makanan tidak dilakukan dengan menerapkan prinsip
kebersihan Higiene sanitasi
2. Alat yang digunakan untuk menyiapkan, mengolah, memasak dan
menyajikan makanna tidak di bersihkan sebagaimana mestinya
3. Makan di biarkan terlalu lama dilingkungan yang temperaturnya
memungkinkan berbagai mikroorganisme berkembangbiak.
Oleh karena itu di perlukan sanitasi makanan, Menrut WHO dan FAO sanitasi
makanan dapat diartikan sebagai upaya penghilangan semua factor luar makan
yang menyebabkan kontaminasi dari bahan makanan sampai dengan makanan
siap saji.Tujuan dari sanitsi makan adalah mencegah bahan kontaminasi bahan
bahan makanan dan makan siap saji sehingga aman di konsumsi oleh mausia.
Dari hasil pengamatan penerapan SKP yang dilakukan pada hari jumat, 21
November 2014 di Kantin LIFE Alma Ata denagan pengamatan ddan wawancara
mengenai proses persiapan, pengolahan, pemskan, penyajian makanan, jenis
makana yang kami amati berupa soto ayam dan tahu bacem serta jus manga
sebagai menu makan siang khusus untuk karyawan Alma Ata. Adapun hasil
dapatdilihat melalui Form SKP diatas, dan dapat jabarkan sebagai berikut :
Pada tahap pemilihan dan penyiapan bahn makanan (PPB) di peroleh jumlah skor
penilaian sebanyak 19 denagan satu sub komponen yang tidak terpenuhi. Didalam
tahapan ini komponen yang dinilai meliputi :
bahan yang digunakan masih segar, hal ini seseuai bahan yang digunakan
pada setiap harinya rata-rata habis dalam satu hari sehingga setok bahan
makanan selalu segar.

Bahan yang digunakan tidak rusak, sesuai keadaan sayur yang tersedia di
kantin bahan yang digunakan tidak ada yang cacat karena dalam
pembelian di pasr dilakukan oleh tenga kantin yang datang dan memilih
bahan makanan di pasar jadi dapat meminimalisir bahan makanan yang di
pilih dari kerusakan baik selama pemilihan maupun Selma perjalan
menuju kampus
Bahan Maknan yang digunakan tidak busuk, karena pembelanjaan yang
dilakukan sudah sesuai dengan tuntutan pihk kantin jadi tidak ada bahan
makan yang busuk sebelum diolah.
Tidak mengunakan wadah atau kotak bekas pupuk atau pestisida untuk
menyimpan dan membawa bahan makan. Bahan Makanan ayang di bawa
dari pasar diangkut menggunakan gerobak sayur dan di Kantin Alma Ata
penyimpanan Bahan Makan yang akan diolah di simpan atau diletakkan
di bawah meja yang tidak basah dan udara muda masuk, kemudian sisa
bahan yang tidak terolah akan disimpan di kulkas dengan dibungkus
plastic terlebih dahulu dan akan diolah pertama untuk keesokan harinya.
Bahan Makan disimpan jauh dari bahan beracun atau barang berbahaya.
Didapur ataupun tempat pemasakn terbebas dari bahan-bahan yang
berbahaya baik obat serangga maupun bahan kimia ain yang dapat
membahayakan bahan makanna itu sendiri.
Bahan makan di simpan pada tempat tertutup. Hal ini tidak diterapkan di
dalam proses penyiapan makan., setelah bahan makanan diolah dan
dipindah kedalam wadah yang bersih namun tidak tertutup. Hal ini
bertolak belakang dengan anjuran yang berlaku yakni menyimpan
makanan dalam wadah tertutup sehingga skor penilaian yang idapat
adalah 0 (nol)
Bahan makan di simpan di tempat bersih. Dari hasil pengamatan yang
dilakukan seluruh bahan

makann disimpan di tempat yang bersih

terhindar dari kecoa maupun serangga lainnya, tempat kering dan bersih.
Bahan makanan disimpan pada tempat yang tidak terkena sinar matahari
langsung, untuk menghindari kerusakan bahan makanan selama
penyimpanan

pihak

kantin

Alma

Ata

telah

melakukan

teknik

penyimpanan dengan menghindari sinar matahari langsung guna menjaga


kesgaran dan sifat fisik bahana makanan itu sendiri.

Penilaian pada tahapan Higine Pemasakan (HGP), ada 8 komponen yang dinilai
pada tahapan ini dan diperoleh sekor sebanyak 16 dengan dua sub komponen yang
tidak terpenuhi yakni :
Kuku Pemasak selalu bersih dan tidak panjang, berdasarkan pengamatan
yang dilakukan dilapangan hamper seluruh karyawan mempunyai kuku
yang panjang, celemek yang digunakan dijadikan lap tangandan tenaga
pemasak menggunakan make-up yang terlalu tebal serta pekerja laki-laki
berjenggot tipis. Hal ini tidak sesuai dengan persyaratan hygiene pemasak.
Menurut Purnawijayanti,2001yakni pekerj harus mandi setiap hari.
Penggunaan make-up dan deodorant yang berlebihan harus dihindari.
Kuku pekerja harus bersih, dipotong pendek dan sebaiknya tidak dicat.
Perhiasan dan aksesoris lainnya harus dilepas. Celemek yang digunakan
pekerja harus bersih dan tidak boleh dijadikan lap. Pekerja harus memakai
sepatu yang memadai dan bersih. Rambut pekerja harus dicuci secara
periodik. Pekerja yang rambutnya panjang harus diikatdan disarankan
menggunakan topiatau jala rambut(hairnet).Pekerja yang memiliki kumis
dan jenggot selalu menjaga kebersihan dan kerapiannya. Akan lebih baik
jika kumis dan jenggot tersebut diicukur bersih.
Tahapan Pengolahan Bahan Makanan (PBM), komponen yang dinilai didalamnya
meliputi peralatan yang digunakan, keadaan, tata letak dapur , sanitasi dapur,
perlakuan sebelum dan sesudah pemasakan serta cara penyimpanan makanan.
Hasil penilaian pada tahap ini mencapai sekor 51 artinya akumulasi sekor yang
didapat kurang dari sekor maksimal yang ditetapkan pada tahapan ini yaitu74
point.Dari sekian banyak komponen yang dinilai pada tahap ini ada 8
subkomponen yang tidak terpenuhi atau tidak diterapkan di Kantin LIFE Alma
Ata yakni :
Perlatan

memasak

dikeringkan

terlebih

dahulu

setealah

dicuci,

berdasarkan pengamatan yang dilakukan tidak semua alat masak yang


digunakan dikeringkan terlebih dahulu seberti talenan dan pisau hanya di
hilankan airnya tanpa pengeringan yang maksimal.

Peralatan memasak disimpan di tempat disimpan ditempat yang bersih,


seelah pencucian alat diletakkan di dekat tempat penyucian. Hal ini sangat
beresiko terjadi cross contaminasi dari sanitasi pembuangan limbah yang
kemungkinan dapat mencemari makanan saat alat dipakai dalam
pengolahan maupun penyajian makanan pada tahap berikutnya.
Dapur tempat memasak harus dalam keadaan bersih, saat observasi
dilakukan keadaan lantai dapur dan meja masak terlihat kotor dan saat
proses memasak juga dilakukan pembersihan lantai serta meja hal ini juga
beresiko besar terhadap timbulnya cross contaminasi selama persiapan dan
pengolahan makanan,
Dapur tempat memasak harus dalam keadaan kering, tidak semua lantai
didapur kering terutama disekitar tempat pencian piring yang airnya
sampai elantai sehingga menyebabkan lantai disekitar tempat pencucin
bahkan

tempat

pengolahan

lantainya

juga

basah,

selain

dapat

menimbulkan penemaran keadaan tersebut juga dapat membahayakan


karyawan itu sendiri seperti jatuh terpleset karena lantai yang licin juga
menyebabkan dapur tidak nyaman untuk digunakan.
Selalu tersedia air bersih dalam wadah tertutup. Ketersediaan air didapur
cukup lancer namun tidak ada persediaan air yang di taruh didalam wadah
tertutup, air yang akan digunakan langsung diambil dari kran air. Hal ini
juga beresiko adanya cemaran yang bersal dari air itu sendiri yang
membahayakan makanan karena pada saat pengamatan ada pula bahan
yang direndam menggunakan air kran dan didiamkan selama 15 menit
tanpa adanya proses mematikan mikrobia yang berasal dari air seperti pada
saat pengolahan mie suun dalam pembuatan soto ayam.
Didapur tersedia tempat samah yang tertutup, ketersediaan tempat sampah
sudah cukup banyak namun tidak ada tutup dan sampah dengan jenis
berbeda juga dicampur menjadi satu, keadaan seperti ini sangat berbahaya
karena dapat menimbulkan cross contaminasi.
Pembungan air limbah harus lancar, pembangan air limbah dilakukan
melalui saluran pencucian piring yang lubangnya tidak terlalu besar dan
tempat pencucian piring yang sempit menyebabkan air yang digunakan
keluar memenuhi lantai yang menjadikan lantai becek dan licin.

Makanan yang telah matang ditempatkan pada wadah bersih dan terhindar
dari debu dan serangga. Penggunaan wadah untuk makanan maang
sebenarnya telah menggunakan wadah yang bersih namun dalam
penyimpanannya tidak dibrikan penutup yang rapat sehingga debu dan
serangga dapat mencemari makanan itu sendiri sehingga keamanan
makanan menjadi rentan untuk dikonsumsi.
Sedangkan untuk penyimpanan makanan jadi tidak lebih dari 3-4 jam karena
makan yang telah diolah langsung disajikan untuk konsumen dan dalam
jangka waktu tersebut rata-rata selalu habis. Hal ini merupakan langkah yang
baik untuk mencegah pertimbuhan bakteri patogen dalam makanan, sesuai
dengan pernyataan Purnawijayanti, 2001 bahwa jangka waktu penyimpanan
makanan jadi selama 3-4 jam cukup bagi berbagai bakteri untuk tumbuh atau
berkembang.
Tahapan penilain terakhir untuk penilain skor keamanan pangan dilakukan pada
Distribusi makan (DPM) dengan skor maksimal 19 namun pada penilaian yang
dilakukan di Kantin LIFE Alma Ata skor yang diperoleh dalam tahapan ini hanya
15 point dengan 2sub komponen yang tidak terpenuhi sebagai berikut :
Selam distribusi, makan ditempatkan dalam wadah yang bersih

dan

tertutup. Sebenarnya penggunaan wadah sudah bersih tapi tidak tertutup


sehingga berpotensi terjadinya penvemaran melalui udara karena tidak
adanya penutup makan dan kondisi jendela yang terbuka dan banyak
dilalui atau di jamah oleh pengunjung sehingga potensi pencemaran lebih
besar.
Tangan dicuci dengan sabun sebelum membagikan makan. Dalam
prakteknya karyawan yang bertugas membagikan makan tidak mencuci
tangan setelah melayani pembyaran dan langsung membagikan makanan
tanpa mencuci tangan meskipun telah memegang kupon makan siang serta
tidak menggunakan sarung tangan. Hal ini tidak sesuai dengan peraturan
Kepmenkes 715/Menkes/SK/V/2003 yang didalamnya telah mengatur
tentang cuci tangan sebelum dan setelah bekerja. Karena prosedur cuci
tangan merupakan hal yang penting bagi penjamah makan, kegiatan yang

ringan dan sering disepelekan ini merupakan metode yang cukup efektif
dalam menvcegah kontaminasi pada makanan.
Selain itu karyawan yang mengambil makanan juga tidak mencuci makan
terlebih dahulu sehingga keadaan ini dapt memperburuk keadaan atau
kulitas makan itu sendiri karena kebersihan konsumen juga ikut perperan
selam distribusi sampai makan tersebut dikonsumsi oleh tubuh.
Dari keseluruhan penilaian penerapan SKP di Kantin LIFE Alma Ata
akumulasi komponen dan sub komponen perhitungan point keamana pangan
berjumlah 0,749 atau setara dengan 74,9% hal ini dapat diarti bahwa keaman
pangan menurut table interpretasi skor keamanan pangan merupakan kategori
rawan tapi masih aman untuk dikonsumsi dimanan makann masih bisa
dikonsumsi dengan kemungkinan cemaran masih dapat ditolerir karena jumlahnya
skor yang didapat masih diatas rata-rata dan dapat dilakukan pencegahan pada
titik atau komponen yang belum terpenuhi. Keterbatasan tenaga penjamah makan
mempengaruhi sistem kerja yang diterapkan pada proses penyelenggraan makan
sehingga sulit untuk menerapkan sanitasi makan berdasarkan panduan HACCP
dan SKP karena dari keterbatasn tenaga penjamah makann ini mengharuskan
pekerja melakukan aktivitas secara serabutan (sukarelawan) sehingga tidak ada
spesifikasi yang mengatur pembagian tugas. Dengan demikian akan memberikan
pengaruh terhadap keaman produk yang dihasilakan karena tingkat kesadaran
penjamah makanan berbeda satu sama lain sehingga tidak ada jaminan yang jelas
mengenai keamanan pangan yang di hasilkan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penerapan Skor Keamanan pangan (SKP) di Kantin LIFE Alma
Ata belum diterapkan secara maksimal karena keterbatas tenaga penjamah
sehingga tidak ada spesifikasi pekerjaan dalam proses penyelenggaraan
makanan yang menyulitkan penerapan HACCP,SKP karena tingkat

kesadaran individu yang bereda satu sama lain serta hygiene personl
kurang diperhatikan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya sub komponen
penilaian yang tidak terpenuhi dengan total skor yang diperoleh sebanyak
0,749 atau setara 74,9 % dan dapat dikategorikan pada level sedang.
B. Saran
1. Untuk pihak Pengelola Kantin LIFE Alma Ata, memperbaiki fasilitas
sarana dan prasaranan dapur, dan spesifikasi tenaga penjamah
makanan serta pembekalan hygiene sanitasi personal perlu diperbaiki
2. Untuk tenaga penjamah makan untuk memperhatikan kebersihan area
kerja dan kebersihan personal guna meminimalisir pencemaran akibat
kebersihan yang tidak terjaga.
3. Untuk Karyawan Alma Ata

(konsumen)

diharpan

mampu

membiasakan diri untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah


menyentuh makanan guna meminimalisir terjadinya kontaminasi.

DAFTAR PUSTAKA

FAO,WHO.2001. Code Of Hygienic Practice for The Prepartion and Sale


of Street Foods tersedia dalam www.who.int
Depkes RI.2003. Keputusan Menteri Keshatan Republik Indonesia Nomor
175/MENKES/SK/V/2003 Tentang Hygine Sanitasin Jasa Boga.Jakarta:Depkes RI
Purnawijayanti, Hiasinta A.2001.Sanitasi Higiene dan Keselamatan Kerja
Dalam Pengolahan Makanan.Yogyakarta:Kanisius
Winarno,FG.1997.Kimia Pangan dan Gizi.Jakarta:Gramedia Pustaka
Utama

Lampiran 1
Gambar Observasi SKP di Kantin LIFE Alma Ata

Jus mangga tidak ditutup rapat

Wadah nasi tidak ada tutup

penyimpanan makanan di tempat terbuka dan dekat dengan jendela

Penjamah makanan tidak memakai sarung tanagan saat distribusi