Anda di halaman 1dari 5

RESONANSI GAS

Albert Agung Yohanes Hutapea (140310120034)


Program Studi Fisika, FMIPA Universitas Padjadjaran
24 Maret 2015
Asisten : Ajeng
ABSTRAK
Resonansi merupakan suatu peristiwa dimana ikut bergeraknya suatu benda terhadap benda lain.
Adapaun pada praktikum ini akan diamati resonansi yang terjadi pada gas dengan cara menggunakan piston
magnetic yang digerakan secara periodic dan akhirnya menimbulkan osilasi. Osilasi ini bergantung pada
frekuensi yang diberikan yang nantinya akan menentukan besar amplitudo saat terjadinya osilasi. Gas sendiri
dianalogikan sebagai pegas yang memenuhi hukum Hooke agar didapatkan besar perbandingan panas jenis Cp
dan Cv gas (konstanta ). Besar konstanta yang didapat bergantung pada frekuensi dan volume tabung. Hasil
yang didapat menunjukan bahwa konstanta yang sesuai dengan literature (konstanta literature = 1.67)
adalah percobaan dengan piston magnetic tunggal. Massa piston magnetic diketahui mempunyai pengaruh
terhadap resonansi yang terjadi karena memakai prinsip hukum Hooke. Besar KSR yang didapatkan pada
percobaan dengan piston tunggal adalah rentang 1.6 % hingga 1.8 %. Sedangkan percobaan dengan Piston
Magnetik gabungan memiliki KSR rentang 36 % - 38 %. jarak spektrum warna yang dihasilkan ke terang pusat
dan memvariasikan jarak dari kisi ke layar, lalu mencari besar panjang gelombang H , H, dan H. Besar error
yang didapat dari praktikum ini adalah sekitar 2 % - 28 %. Besar error ini didapatkan dengan membandingkan
besar panjang gelombang H, H, dan H berdasarkan percobaan dan besar panjang gelombang H , H, dan H
dengan persamaan deret balmer.

Kata Kunci : Resonansi, Osilasi, Hukum Hooke, Frekuensi, Tekanan, Konstanta , Piston Magnetik,
Gas

I. Pendahuluan
Resonansi merupakan suatu peristiwa
dimana ikut bergetarnya suatu benda terhadap
benda lain. Dalam termodinamika, kumpulan
benda-benda yang kita perhatikan disebut
sistem, sedangkan semua yang ada di sekitar
benda disebut dengan lingkungan. Gas
merupakan zat yang kelakuan termometriknya
baik karena tekanan gas (P) pada setiap
temperatur terhadap tekanan gas itu tidak
bergantung
pada
jenis
gas.
Untuk
mengamatinya
diadakanlah
percobaan
Resonansi Gas ini. Suatu gas ideal akan
mengalami proses adiabatik kuasa statik
dimana tekanan, volume dan temperaturnya
berubah dengan cara yang diberikan oleh ketiga
besaran diatas. Proses ini dihasilkan dari
resonansi gas dimana piston magnetik
digerakkan secara periodik yang menimbulkan
osilasi. Gas dianalogikan sebagai pegas yang
memenuhi hukum Hooke sehingga didapatkan
nisbah kapasitas kalor . Dalam praktikum ini
akan ditentukan besar sebagai perbandingan

kapasitas panas pada tekanan tetap dengan


kapasitas panas pada volume tetap. Piston
dalam tabung digerakan dengan pompa udara
dan ketika mengenai kumparan yang diberi
frekuensi akan terjadi osilasi berupa getaran
naik turun yang terjadi pada piston.
II. Tinjauan Pustaka
Resonansi merupakan suatu peristiwa
ikut bergetarnya suatu benda terhadap benda
lain. Pada suatu sistem yang kita buat pada
percobaan ini resonansi ditunjukkan pada
piston dan gas yang berada di dalam tabung,
piston magnetik digerakkan periodik oleh
medan magnet sehingga gas dapat ditekan
secara adiabatis oleh piston, dimana proses ini
dapat diartikan tidak ada kalor yang masuk atau
yang keluar dari sistem.
1
Sifat gas secara umum yaitu gas mudah
berubah bentuk dan volumenya, serta gas dapat
digolongkan sebagai fluida hanya saja
kerapatannya jauh lebih kecil. Untuk
melakukan pengukuran terhadap volume gas,
1

diperlukan suatu keadaan standar untuk


digunakan sebagai titik acuan. Keadaan ini
yang juga dikenal sebagai STP (Standart
Temperature and Pressure) yaitu keadaan
dimana gas mempunyai tekanan sebesar 1 atm
(760 mmHg) dan suhu C (273,15 K). Satu mol
gas ideal, yaitu gas yang memenuhi ketentuan
semua hukum-hukum gas akan mempunyai
volume sebanyak 22,414 liter pada keadaan
standar ini.
Gas Ideal
2
Gas ideal adalah gas yang memenuhi
beberapa syarat tertentu. Gas ideal memenuhi
beberapa kriteria sebagai berikut :
1. Jumlah partikel gas banyak sekali tetapi
tidak ada gaya tarik menarik antar
partikel.
2. Semua partikel bergerak dengan acak.
3. Ukuran gas sangat kecil bila dibanding
dengan ukuran wadah, jadi ukuran gas
diabaikan.
4. Setiap tumbukan yang terjadi bersifat
lenting sempurna.
5. Partikel gas terdistribusi merata pada
seluruh ruang dalam wadah.
6. Partikel gas memenuhi hukum newton
tentang gerak.

Gambar 2.1 Gambaran Gas Ideal


1

Apabila jumlah gas dinyatakan dalam


mol (n), maka suatu bentuk persamaan umum
mengenai sifat-sifat gas dapat diformasikan.
Sebenarnya hukum Avogadro menyatakan
bahwa 1 mol gas ideal mempunyai volume
yang sama apabila suhu dan tekanannya sama.
Dengan menggabungkan persamaan Boyle,

Charles dan persamaan Avogadro akan didapat


sebuah persamaan umum yang dikenal sebagai
persamaan gas ideal.
T
T
atau V Rn
atau PV nRT ..(i)
P
P
dengan R adalah konstanta kesebandingan dan
mempunyai suatu nilai tunggal yang berlaku
untuk semua gas yang bersifat ideal. R bernilai
0,0821 L atm/mol.K atau 8,314 J/mol K. Dari
persamaan gas ideal dapat diambil kesimpulan
bahwa makin tinggi temperatur gas ideal makin
besar pula kecepatan partikelnya.
Bila tekanan tidak terlalu tinggi dan
suhunya tidak terlalu rendah maka bisa
dikatakan gas ideal. Sistem yang terdiri dari gas
ideal dengan keadaan tekanan, volume dan
temperatur konstan maka keadaan ini dikatakan
keadaan seimbang. Tetapi keadaan sistem dapat
berubah dari satu keadaan ke keadaan yang
lain, yang disebut proses. Percobaan resonansi
Elastis Gas ini didasarkan pada hukum Hooke.
Dimana sifat kemolekulan zat tidak akan
berguna apabila hanya mensyaratkan bahwa
sifat molekul suatu zat sama dengan sifat yang
dimiliki zat tersebut. Teori kemolekulan zat
membuktikan bahwa sifat-sifat kompleks zat
dalam jumlah besar merupakan konsekuensi
sifat-sifat sederhana yang dimiliki molekulnya.
Dalam keadaan tekanan tetap, gas memiliki
harga kapasitas panas. Kapasitas panas (heat
capacity) merupakan banyaknya energi kalor
yang diperlukan untuk menaikan 10 satuan suhu
pada suatu benda. Kapasitas panas mempunyai
harga tertentu hanya untuk proses tertentu.
Dalam hal sistem hidrostatik, hasil bagi dQ/dT
memiliki harga yang unik bila tekanan dijaga
tetap. Dalam kondisi ini C disebut kapasitas
panas pada tekanan tetap dan diberi lambang
Cp, dengan
V n

dQ

dT

Cp

; Cp disebut
p

kapasitas panas pada tekanan tetap


Demikian juga kapasitas panas pada volum
tetap dan diberi lambang Cv ialah
dQ

dT

Cv

; Cv disebut
v

kapasitas panas pada volume tetap


2

Sehingga dapat diketahui harga-harga kapasitas


panas (Cp dan Cv) ataupun
= Cp/Cv ..(vii)
Metode
untuk
mengukur

dengan
menggunakan mekanika dasar dikembangkan
oleh Riichardt. Gas ditempatkan dalam bejana
besar bervolum V. Pada bejana itu dipasang
tabung gelas dengan berpenampang sama
berluas A. Lihat gambar dibawah ini.

Dengan cara yang sama , simpangan


positif kecil menimbulkan penurunan tekanan
yang sangat kecil dibandingkan dengan tekanan
setimbang P, sehingga dapat dinyatakan sebagai
dP, dengan dP merupakan kuantitas yang
negatif. Gaya resultan F yang bereaksi pada
bola sama dengan A dP jika mengabaikan
gesekan, atau

(viii)

Perhatikan bahwa bila y positif, dP negatif,


sehingga F menjadi negatif, jadi F merupakan
gaya pemulih. Karena bola bergetar cukup
cepat, perubahan P dan V berlangsung secara
adiabat. Karena perubahannya sangat kecil,
keadaan yang dilalui gas dapat dianggap
mendekati keadaan setimbang. Jadi, bisa
dianggap perubahan P dan V menunjukan
adiabat kuasi-statik hampiran, dan dapat
dituliskan :
Gambar 2.2 Ilustrasi Percobaan Riichardt
Dalam lubang itu dimasukan bola logam
bermasa m yang tepat menutupi lubang tapi
masih bisa bergerak bebas sehingga berlaku
seperti piston. Karena gas agak tertekan oleh
bola baja yang ada dalam kedudukan
kesetimbangan, tekanan gas sedikit lebih besar
daripada tekanan atmosfer Po. Jadi dengan
mengabaikan gesekan, didapat :
.(vii)

Jika bola dipindahkan sedikit ke bawah,


kemudian ia dilepaskan, ia bergetar dengan
perioda T. Gesekan akan menyebabkan bola
pada akhirnya berhenti.
Andaikan simpangan bola dari kedudukan
setimbang pada setiap saat adalah y, yang
nilainya positif bila bola di atas kedudukan
setimbang dan negatif bila di bawahnya.
Simpangan positif kecil akan menyebabkan
pertambahan volume yang sangat kecil
dibandingkan dengan volum setimbang V,
sehingga dapat dinyatakan sebagai dV, dengan

..(ix)

Dengan mensubstitusikan
didapatkan

dV

dan

dP,

...
(x)

Persamaan ini mengungkapkan bahwa gaya


pemulihnya
berbanding
lurus
dengan
simpangan dan arahnya berlawanan, ini
menyatakan hukum Hooke. Hal ini merupakan
persyaratan untuk gerak selaras sederhana,
dengan perioda T sebagai berikut:

.
(xi)

III. Percobaan
Percobaan dilakukan dengan menaruh
piston magnetic kedalam tabung. Setelah itu
kumparan yang ada di pinggiran tabung diatur
jaraknya tiap 10 cm dan dihubungkan ke signal
generatoe pembangkit frekuensi. Kemudian
pompa angina yang dihubungkan ketabung
dihidupkan hingga mengangkat piston ke ujung
atas tabung. Setelah itu mengatur katup
penutup. Mencatat besar amplitudo piston saat
terjadinya gerak atas bawah yang terlihat pada
piston.

Gambar 3.1 Grafik perubahan (f2) terhadap


tinggi tabung

Gambar 3.1 Grafik perubahan (f2) terhadap


tinggi tabung
Gambar 3.1. Skema Alat Resonansi Gas
IV.

Data dan Analisis

Tabel 1. Percobaan 1 (Piston 1) Buka -Tutup

Tabel 2. Percobaan 3 (Piston 1 dan 3) Tutup


Tutup

Berdasarkan data percobaan diperoleh


perbedaan nilai frekuensi yang dibutuhkan
medan magnet untuk membuat piston magnetik
berosilasi. Perbedaan ini berada pada keadaan
tabung yaitu keadaan tutup-tutup dan bukatutup. Keadaan buka-tutup menghasilkan nilai
frekuensi yang lebih stabil dengan berbagai
pengukuran posisi kumparan. Sedangkan pada
keadaan tutup-tutup diperoleh nilai yang tidak
stabil. Ketidakstabilan ini dapat disebabkan
oleh pengaruh tekanan gas yang sangat besar
dan piston magnetik yang terbawa gravitasi
4

bumi. Pada keadaan buka tutup lebih stabil


karena ada pengaruh tekanan udara luar.
Akibatnya
bola
akan
lebih
mudah
mempertahankan keadaan sesuai posisi-posisi
terukur. Jadi pengaruh frekuensi terhadap
amplitude adalah ketika frekuensi diberikan,
parameter tersebut menentukan besar amplitude
yang terbentuk saat berosilasi.
Untuk perhitungan sebagai perbandingan
Cp dan Cv pada persamaan (xi) didapatkan
hasil yang mendekati literatur. literatur yang
sebesar 1.67 dan percobaan yang berkisar 1.5
2.8 menunjukan bahwa besar KSR yang
didapat tidaklah besar. Adanya pengaruh massa
dalam praktikum ini adalah berhubungan
dengan gaya gravitasi. Semakin besar massa
maka akan semakin berat gaya gravitasinya
yang nantinya akan mempengaruhi resonansi
gas dimana gas sebagai pegas dan piston
magnetik sebagai bebannya. Pengaruhnya
adalah semakin besar massa makan akan
semakin besar frekuensi yang diperlukan untuk
membuat piston magnetik berosilasi.
pada Gambar 1, grafik yang didapat
menunjukan keacakan data (fluktuatif).
Seharusnya grafik yang didapat adalah linear.
Namun
karena
ketidakstabilan
nilai
frekuensilah yang menyebabkan terjadinya
grafik yang fluktuatif. Namun pada percobaan
piston gabungan Gambar 2 didapatkan grafik
linear seperti yang seharusnya.

= 2.71
Sehingga tingkat KSR adalah sebagai
berikut :
KSR = | percobaan- literatur |x100%
literatur
=|
2.71 1.67
|x100%
1.67
= 62 %.
Dengan perhitungan seperti
didapatkan hasil sebagai berikut

diatas

Tabel 4. Sampel Hasil

DAFTAR PUSTAKA
1. Tipler, P.A 1998. Fisika untuk Sains dan
Teknik. Jakarta : Erlangga.
2. Renie, Devi. A. 2013. Hukum Keadaan
Standard an Hukum Gas Ideal
(Http://www.chem-is-try.org/materikimia/gas1-hukum-keadaan-standar/
diakses tanggal 20 Maret 2015 Pukul
18.34 WIB)

V. Kesimpulan
Berikut data yang didapatkan, dengan
contoh perhitungan :
Dengan contoh perhitungan :
1. Berdasarkan percobaan :
Ket : Percobaan 1 Piston 1 sistem bukatutup

Dengan :
f = 13.1 Hz
m = 0.008852 kg
V = 0.000105
R = 0.00693
= (4 x f x f x m x V)/ (r4 x P)
5