Anda di halaman 1dari 3

BAB III

PEMBAHASAN

Pasien pada kasus ini merupakan seorang perempuan, 54 tahun, yang MRS
dengan keluhan sesak napas sejak 2 minggu SMRS. Sesak napas dirasakan terus
menerus, tidak dipengaruhi oleh kegiatan tertentu, dan tidak menghilang dengan
istirahat. Sesak napas akan lebih terasa memberat saat pasien tidur/ berbaring
terlentang, dan akan lebih nyaman bila menggunakan bantal sedikit tinggi atau
tidur miring. Keluhan seperti batuk (-), demam (-), nyeri dada (-), jantung
berdebar (-). Pasien juga mengeluhkan perut membesar sejak 2 bulan SMRS.
Awalnya, perut pasien tidak sebesar saat ini, namun kemudian disadari perut
makin besar tiap harinya dan pasien merasa makin sulit bernapas/ sesak. Perut
yang makin membesar ini disertai dengan nyeri pada perut bagian kanan atas
sejak 3 minggu belakangan, dirasakan nyeri sedang (seperti tertusuk-tusuk (-)),
menjalar (-) namun terkadang dirasakan di ulu hati, dan tidak selalu dirasakan.
Selain itu, biasanya pasien merasakan perut makin tidak nyaman (terasa penuh/
kembung) bila setelah makan, sehingga pasien hanya makan dengan porsi sedikit
dalam sebulan terakhir. Mual (-), muntah(-). Pasien juga mengatakan setelah
perut cukup membesar, kedua kakinya ikut menjadi bengkak. Berat badan
dirasakan meningkat dalam 2 bulan terakakhir (+). BAB 2-3 hari sekali, kotoran
berwarna cokelat, padat lunak, darah (-), lendir (-).BAK baik, lancar, nyeri
akan/saat/setelah BAK (-), berwarna seperti teh (+) pasien tidak ingat sejak kapan
tepatnya, buih (-), darah (-). Riwayat sakit kuning (-), dirawat dengan keluhan
perut membesar, pada tanggal 14 Juli 2014 hasil USG ascites. Tidak ada anggota
keluarga yang mengalami keluhan sama, kontak dengan penderita sakit kuning (-).
Dari pemeriksaan fisik ditemukan gizi kurang, sklera ikterik (+/+), white
nail (+/+), perut cembung, dilatasi vena (+), spider nevi (+), undulasi (+), shifting
dullness (+), lingkar perut 103 cm, pitting edema ekstremitas inferior (+/+).
Pada pemeriksaan penunjang laboratrium I, ditemukan SGOT/SGPT
(247/210 U/L) meningkat, HBsAg (+). Ditegakkan diagnosis sementara yaitu
ascites dan hepatitis B, dengan diagnosa banding suspek sirosis hepatis.
51

Kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium II, ditemukan neutropenia,


monositosis, trombositopenia, peningkatan bilirubin total 3.4 mg/dL, bilirubin
direk 1.2 mg/dL, bilirubin indirek 2.2 mg/dL, SGOT/SGPT 137/154 U/L. Hasil
pemeriksaan USG menunjukkan hepar mengecil, tepi tajam, permukaan rata,
ekhostruktur parenkim homogen, corakan kasar, aorta caliber normal, tak tampak
pembesaran limfe paraaorta dan parailiaka, lien bentuk dan besar normal,
permukaan rata, ekhostruktur parenkim homogen, tak tampak lesi, serta ascites
tampak dalam jumlah relatif banyak. USG mengesankan atrofi hepar, disertai
ascites yang banyak, sehingga mengesankan keadaan cirrhosis hepatis
dekompensata.

Sehingga

dapat

ditegakkan

diagnosis

sirosis

hepatis

dekompensata.
Diagnosis untuk pasien ini sirosis hepatis dekompensata disertai dengan
ascites. Dalam kasus ini sirosis terjadi sebab adanya infeksi hepatitis B yang
diperkirakan telah berlangsung lama dan tidak diketahui oleh pasien, serta tidak
menimbulkan keluhan yang berarti bagi pasien. Hingga perjalanan penyakit
infeksi HBV ini telah meregenerasi sel hepar, menjadi bentukan fibrosis dan
berakhir pada sirosis dan menimbulkan komplikasi.
Komplikasi yang telah terjadi pada pasien ini adalah terbentuknya ascites.
Akumulasi cairan dalam rongga peritoneum ini makin banyak dan kian mendesak
diafragma sehingga menimbulkan keluhan sesak napas. Ascites kemudian diikuti
dengan bengkak pada kedua tungkai.
Terapi untuk pasien ini tentu ditujukan untuk mengatasi keluhan sesak
napas yang dikarenakan ascites yang teralalu besar. Dengan diet saja tidak cukup,
sehingga diberikan terapi diuretik berupa spironolactone dikombinasikan dengan
furosemide dengan dosis masing-masing 200 mg/hari dan 80 mg/ hari. Terapi ini
telah diberikan selama 3 hari ternyata tidak banyak mengurangi cairan ascites dan
odema tungkai, terbukti dari lingkar perut (104 cm jadi 103,5) dan berat badan (62
tetap) tidak banyak berkurang. Semestinya dengan pemberian kombinasi diuretik
diharapkan berat badan dapat turun 1 kg/ hari.
Pilihan terapi lain, ialah dilakukan parasintesis atau punksi cairan ascites.
Cairan ascites yang dapat dikeluarkan ialah sebanyak 350 cc, berwarna kuning

52

muda, jernih,berbuih. Dan berat badan pasien turun menjadi 61 kg, dan 60 kg
dalam 3 hari berikutnya, serta lingkar perut menjadi 101 cm, 100,5 cm. Terapi
diuretik tetap diberikan. Seharusnya sebelum punksi dilakukan perlu diperiksa
nilai albumin dan diberikan terapi albumin 6 gr (tiap liter ascites dikeluarkan
diberikan 6 8 gr albumin).
Terapi antibiotik seharusnya diberikan secepatnya bila terdapat ascites. Hal
ini guna profilaksis terjadinya PBS. Antibiotik yang diusulkan adalah golongan
cephalosporin, yakni seftriakson 1gr/12 jam/ IV. Sefotaksim tidak dipilih karena
memberatkan fungsi hepar. Antibiotik pada kasus ini diberikan pada hari
perawatan ke 4 setelah punksi dilakukan, yaitu cefixime.
Terapi lainnya vitamin K diberikan untuk membantu pembekuan darah,
sebab sintesis vitamin K akan terganggu pada keadaan sirosis hepatis. Hepa-Q
merupakan vitamin hati yang membantu memperbaiki fungsi namun tidak
menyembuhkan. Ketorolac dan ranitidine diberikan untuk mengatasi keluhan
nyeri dan tidak nyaman pada abdomen. Aminoleban diberikan untuk memenuhi
kebutuhan protein esensial yang tidak mencukupi. Sedangkan terapi antivirus
dapat diberikan bila telah dilakukan pemeriksaan lanjutan HBeAg. Sebab
pengobatan antivirus harus segera diberikan pada pasien sirosis dengan HBeAg
positif.8,12 Jika tidak pasti pengobatan antivirus ini tidak praktis dari segi
ekonomis.
Prognosis untuk pasien dalam kasus ini tidak bisa ditentukan dengan skor
Child- Pugh, sebab beberapa pemeriksaan lanjutan tidak dilakukan yaitu INR dan
PPT.

53