Anda di halaman 1dari 4

Gambar 1 : Morfologi tanaman Musa sp ( Sumber gambar: Google.

com)
Pisang merupakan salah satu komoditas pertanian yang sangat digemari
masyarakat, dan menjadi salah satu komoditas tanaman buah yang mulai
dikebunkan selain mangga, durian, rambutan, manggis, jeruk, nenas dan pepaya.
Tanaman pisang (Musa spp) telah diproklamirkan sejak sebelum masehi (SM).
Nama Musa diambil dari nama seorang dokter bernama Antonius Musa pada
zaman Kaisar Romawi Octavianus Augustus (63 SM 14 M), beliau selalu
menganjurkan pada kaisarnya untuk makan pisang setiap harinya agar tetap kuat,
sehat, dan segar (Mudjajanto, ES & Lilik K.2008).
Tanaman pisang dapat dikatakan sebagai tanaman serbaguna, mulai dari
akar, batang (bonggol), batang semu (pelepah), daun, bunga, buah sampai
kulitnyapun dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Buah pisang kaya akan
sumber vitamin dan karbohidrat serta sangat digemari orang karena enak dimakan
baik sebagai buah meja atau melalui pengolahan terlebih dahulu. Di Indonesia,
pisang masih biasa ditanam oleh masyarakat sebagai tanaman pekarangan ataupun
perkebunan dalam skala kecil, pemeliharaan serta pemanfaatannyapun kurang
maksimal. Untuk itu perlu ada suatu pendekatan khusus, agar tanaman pisang
dikenal manfaatnya secara luas oleh masyarakat (Prihatini dkk,1999: 94).
Pengalian pemanfaat suatu tumbuhan dalam kehidupan sehari hari
merupakan suatu ilmu botani yang lazim dikenal dengan Etnobotani. Etnobotani
bagian dari etnoekologi yang memprioritaskan tumbuhan dalam bidang kajiannya
(Martin, 1995). Menurut Tamin dan Arbain (1995), ilmu etnobotani berkisar pada

pemanfaatan tumbuhan untuk kemaslahatan orang sekitarnya, pada aplikasinya


mampumeningkatkan daya hidup manusia. Pengkajian terhadap manfaat jenisjenis pisang telah dilakukan didaerah Jawa Timur oleh Setyowati,N dan Nurul S
(2009), didapatkan hasil yang sangat bervariasi. Hampir semua bagian tanaman
dapat digunakan baik sebagai pangan maupun kearifan budaya lokal.
Kota Bengkulu merupakan salah satu sentra produksi pisang yang
potensial di Indonesia (Manggurai, 2006:1). Akan tetapi sampai saat ini data serta
informasi ilmiah mengenai jenis-jenis pisang dan pemanfaatannya secara
keseluruhan di Provinsi Bengkulu masih belum lengkap. Desa Sri Kuncoro,adalah
desa dengan masyarakat yang umumnya bersuku Jawa. Suku Jawa biasanya
dikenal

dengan

kearifannya

terhadap

pemanfaatan

tumbuhan

yang

beranekaragam.
Pemanfaatan pisang berdasarkan entobotani yang telah diterapkan pada
Desa Sri Kuncoro. Menurut Munadjim (1983) yaitu Bonggol tanaman pisang
untuk keperluan tungkumemasak dalam acara-acara besar, pesta perkawinan,
khinatan dan lain-lain, terutama untuk ukuran bonggol yang besar seperti bonggol
pisang kepok kuning . air yang ada dalam bonggol tanaman pisang, khususnya
pisang kepok dan pisang biji/awak, dapat digunakan sebagai obat anti sakit perut,
disentri , pendarahan dalam usus, obat amandel, dan penyubur rambut.
Batang semu biasa dimanfaatkan sebagai pelindung semaian tanaman
seperti cabe, terung dan bayam , cacahan batang semu dijadikan pakan ternak
seperti sapi dan kambing, serta sebagai tanggul tanah miring. Batang semu pisang
mas merupakan jenis pisang buah yang sering digunakan dalam acara pernikahan
dan khitanan sebagai tancapan bunga mayang. Selain pisang mas, batang semu
pisang serindit juga dipilih karena selain ukurannya yang relatif sedang, namun
juga lunak jika dibandingkan dengan batang semu jenis pisang buah lainnya.
Sementara untuk keperluan menahan lahan miring/tanggul memilih batang semu
pisang kepok kuning karena ukurannya cukup besar, kuat dan panjang. Meskipun
demikian, batang-batang semu dari jenis pisang buah yang lain juga bisa
digunakan sesuai dengan keperluan yang diinginkan. Batang pisang juga bisa
dimanfaatkan sebagai alas untuk memandikan mayat, pembungkus bibit, tancapan
wayang (Ahmad Supriyadi dan Suyanti, 2008).
Tangkai daun tanaman pisang dimanfaatkan masyarakat untuk keperluan

tali merumput, pisang batu yang setengah kering sebagai tali merumput, karena
cukup kuat dan licin. Getah dapat dipakai untuk obat luka. Daun pisang biasa
dimanfaatkan oleh masyarakat desa Sri Kuncoro sebagaipembungkus makanan
seperti lepat, lontong, nagasari, pecel, tape, tempe, lemper dan koci. Umumnya
daun yang digunakan adalah daun pisang jantan dan daun pisang kepok karena
memiliki helaian daun yang lebar, kuat, tebal dan tidak mudah sobek jika
dibandingkan dengan daun pisang buah lainnya. Namun sebenarnya daun-daun
pisang buah lainnya masih bisa dimanfaatkan untuk pembungkus makanan, sesuai
dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri.
Daun pisang yang masih tergulung ternyata dapat digunakan untuk
mengurangi tapal dingin pada kulit yang bengkak atau lecet, disentri, haid terlalu
banyak, mimisan dan perdarahan lainnya, radang tenggorok, radang otak
(epidemic encephalitis), keputihan (leukore), batuk, sakit dada seperti bronkhitis,
dan rambut tipis daun-daun yang sudah tua atau rusak/terkoyak digunakan sebagai
pakan ternak seperti kambing, kerbau atau sapai, karena banyak mengandung
unsur yang dibutuhkan oleh hewan, selain pakan ternak juga bisa dijadikan
sebagai bahan pembuatan kompos (Ahmad Supriyadi danSuyanti, 2008).
Menurut pernyataan Soetanto (2003) bahwa buah pisang yang cocok untuk
membuat keripik pisang yaitu pisang kepok dan pisang tanduk. Selain bisa
dimakan langsung atau diolah terlebih dahulu, buah pisang batu ternyata juga bisa
dijadikan sebagai tepung pisang. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa tepung
pisang batu yang diberikan pada tikus dapat mencegah timbulnya tukak lambung
(ulcus peptic) jika tikus tersebut diberikan aspirin. Hal tersebut bisa terjadi akibat
meningkatnya sekresi lendir (mucus) di lambung. Sehingga disarankan untuk
penderita tukak lambung dan asam lambung berlebihan, jangan memakan buah
pisang yang telah masak. Kulit buah pisang ternyata juga memiliki manfaat yang
luar biasa. Kulit buah pisang dapat diekstrak menjadi pektin. Berdasarkan
penelitian di Taiwan bahwa Kulit pisang mengandung vitamin B6 dan serotonin
yang dapat diekstrak dan dimanfaatkan untuk kesehatan mata (menjaga retina
mata dari kerusakan akibat cahaya berlebih) (Ahmad Supriyadi danSuyanti,
2008 : hal 24-26).

Daftar Pustaka
Martin, G.J. 1998. Etnobotani: Sebuah Manual Pemeliharaan Manusia dan
Tumbuhan. Edisi Bahasa Melayu Terjemahan Maryati Mohamed, Natural
History Publications (Borneo)Sdn. BHd, Kinibalu. Sabah. Malaysia.
Munadjim. 1988. Teknologi Pengolahan Pisang. PT Gramedia. Jakarta.
Mudjajanto, Eddy Setyo & Lilik Kustiyah.2008.Membuat Aneka Olahan
Pisang (Peluang Bisnis yang Menjanjikan).Agromedia Pustaka:Jakarta
Prihatini, Diah.Saptarini Nuswamarhaeni, Endang Puspita Pohan.1999.Mengenal
Buah Unggul Indonesia. Penebar Swadaya: Jakarta)
Setyowati, Ninik dan Sumiasri,Nurul.2009.Pemanfaatan jenis-jenis Pisang di
daerah Jawa Timur. Hasil penelitian disajikan dalam Seminar Nasional
Etnobotani IV, Cibinong Science Center-LIPI, Pusat Penelitian Biologi
Bidang Botani, Cibinong , 18 Mei 2009.
Suyanti dan Ahmadsupriyadi. 2008. Pisang:Budidaya, Pengolahan, dan Prospek
Pasar. Penebar Swadaya. Jakarta.
Soetanto,

N.

Edy.2003.Teknologi

Tepat

Guna

Membuat

Keripik

Pisang.Kanisius:Yogyakarta
Tamin, R. dan Arbain,D, 1995. Biodiversity dan Survey Etnobotani. Makalah
Lokakarya.

Isolasi

Universitas Andalas.

Senyawa

Berkhasiat.

Kerjasama

Heds-FMIPA