Anda di halaman 1dari 13

PENGARUH INTERVENSI SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE

(SEFT)TERHADAP TINGKAT DEPRESI, KECEMASAN, DAN STRES PADA


PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK
DI BENKULU
Derison Marsinova Bakara,1 Yusniarita,2 Yanti Sutriyanti3

ABSTRAK
Latar Belakang: Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan penyakit penyebab kematian.
Gejala depresi kecemasan, dan stres meningkat pada pasien GGK. Gejala ini dapat
mempengaruhi proses pengobatan dan penyembuhan serta menimbulkan komplikasi.
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh intervensi Spiritual Emotional Freedom
Technique (SEFT) terhadap penurunan depresi, kecemasan, dan stres pada pasien GGK
yang dirawat di ruang haemodilisis.
Metode: Rancangan penelitian menggunakan quasi experimental, teknik pengambilan
sampel dengan consecutive sampling, ukuran sampel 30 orang dibagi menjadi
kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi diberikan SEFT selama 15 menit.
Sebelum dan sesudah intervensi diukur tingkat depresi, kecemasan, dan stres
mengunakan kuesioner The Depression Anxiety Stress Scales (DASS). Data dianalisis
dengan Wilcoxon dan Mann Whitney.
Hasil: Hasil menunjukkan perbedaan yang bermakna antara tingkat depresi, kecemasan,
dan stres sebelum dan sesudah intervensi SEFT (p <0,05) antara kelompok intervensi
dan kelompok kontrol (p<0,05). Intervensi SEFT membantu menurunkan depresi,
kecemasan, dan stres pada pasien GGK.
Kesimpulan: Implikasi penelitian ini bahwa intervensi SEFT dapat menurunkan
depresi, kecemasan, dan stres pada pasien GGK.
Kata kunci :Intervensi SEFT, Depresi, Kecemasan, Stres, Gagal Ginjal Kronik (GGK)

1 Peneliti adalah dosen di Prodi

Keperawatan Curup Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI Bengkulu Alamat


korespondensi: E-mail: derisonmarsinovab@yahoo.com

2 Peneliti adalah dosen di Prodi

Keperawatan Curup Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI Bengkulu

3 Peneliti adalah dosen di Prodi

Kebidanan Curup Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI Bengkulu

ABSTRACT

Background : Chronic Renal Failure ( CRF ) is a disease cause of death . Symptoms of


depression anxiety and stress increased in CRF patients . These symptoms can affect the
treatment and healing process and cause complications . This study aims to determine
the effect of the intervention Spiritual Emotional Freedom Technique
( SEFT ) to decrease depression , anxiety , and stress in CRF patients were treated in
haemodilisis.
Methods: The study used a quasi -experimental design , sampling techniques with
consecutive sampling , sample size of 30 people divided into intervention and control
groups . The intervention group was given SEFT for 15 minutes . Before and after
intervention measured levels of depression , anxiety , and stress using the Depression
Anxiety Stress questionnaire Scales ( DASS ). Data were analyzed with the Wilcoxon and
Mann Whitney .
Results : The results showed no significant differences between levels of depression ,
anxiety , and stress before and after the intervention SEFT ( p < 0.05 ) between the
intervention group and the control group ( p < 0.05 ). SEFT intervention helps reduce
depression , anxiety , and stress in patients with CRF .
Conclusions : The implications of this study that SEFT intervention can reduce
depression , anxiety , and stress in patients with CRF.
Keywords : SEFT Intervention, Depression, Anxiety, Stress, Chronic Renal Failure
(CRF )

PENDAHULUAN
Pasien selama mengalami hemodialisis akan mengalami peningkatan depresi. Depresi
dan kecemasan dapat menimbulkan keinginan untuk bunuh diri ( Patel, Sachan, Nischal,

and Surendra, 2012). Depresi dan kecemasan merupakan permasalahan psikiatri yang
utama pada pasien gagal ginjal kronik, depresi dan kecemasan merupakan gejala
psikopatologi yang meningkat pada pasien yang mengalami gagal ginjal kronik (Drayer,
Piraino, dan Reynolds. 2006). Hemodialisis menimbulkan pengaruh terhadap fisik dan
psikologi, dan berpengaruh terhadap keluarga, pekerjaan, menimbulkan ketergantungan
terhadap pengobatan, kualitas hidup yang negatif serta berpengaruh terhadap
kemampuan untuk mengontrol diri dalam berhubungan (Kimmel, 2001). Beberapa
memiliki angka harapan hidup yang lebih rendah (Kimmel, 2000 dan Boulware, 2006).
Menurut Suharjono (2006) mengemukakan bahwa penyakit gagal ginjal kronis dapat
digolongkan sebagai stressor yaitu peristiwa yang menimbulkan stres pada seseorang.
Gagal ginjal tergolong penyakit kronis yang mempunyai karakteristik bersifat
menetap, tidak bisa disembuhkan dan memerlukan pengobatan dan rawat jalan dalam
jangka waktu yang lama. Selain itu, umumnya pasien juga tidak dapat mengatur dirinya
sendiri dan biasanya tergantung kepada para profesi kesehatan. Kondisi tersebut, tentu
saja menimbulkan perubahan atau ketidakseimbangan yang meliputi biologi, psikologi,
sosial dan spiritual pasien. Seperti, perilaku penolakan, marah, perasaan takut, cemas,
rasa tidak berdaya, putus asa bahkan bunuh diri (IKCC, 2010)
Intervensi SEFT merupakan teknik penggabungan dari sistem energi tubuh (energy
medicine) dan terapi spiritual dengan menggunakan metode tapping pada beberapa titik
tertentu pada tubuh. Selain itu teknik ini juga dapat membantu pasien untuk lebih
2

mandiri dalam mengurangi kecemasan, serta relatif lebih cepat, serta tidak memiliki
risiko yang membahayakan. SEFT adalah sebuah metode yang menggunakan dasar
sistem energi tubuh dalam menghilangkan masalah-masalah fisik maupun emosi secara
cepat.mulai dari rasa takut, kecemasan, sedih, kecewa, stress, pobia, trauma, mentalitas
kelangkaan dan penyakit psikologis (Anwar, 2007). Penelitian ini bertujuan untuk
menguji pengaruh intervensi SEFT terhadap tingkat depresi, kecemasan dan stres pada
pasien gagal ginjal kronik.
METODE
Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dimana rancangan penelitian yang
digunakan adalah rancangan Quasi Eksperimental, dengan pre test and post test design
with control group. Kelompok intervensi dalam penelitian ini adalah pasien gagal
ginjal kronik yang mengalami depresi, kecemasan, dan stres dan mendapatkan
intervensi SEFT.Sebelum dan sesudah dilakukan pengukuran depresi, kecemasan,
dan stres. Sedangkan kelompok kontrol dilakukan pre test dan post test untuk
mengukur depresi, kecemasan, dan stres.
Penelitian ini dilakukan pada pasien yang mengalami terapi hemodialisis di
ruangan hemodialisis RSUD Curup dan RSUD M. Yunus Bengkulu. Sampel yang
dibutuhkan dalam penelitian ini adalah dalah 30, dengan pembagian 15 sampel untuk
kelompok intervensi diruangan hemodialisis RSUD Curup dan 15 sampel untuk
kelompok kontrol diruangan hemodialisis RSUD M. Yunus Bengkulu. Penelitian
dilaksanakan dari bulan Agustus sampai dengan Oktober 2012.
Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data pada penelitian adalah
menggunakan Depression Anxiety Sress Scale 21 (DASS 21) Lovibond & Lovibond
(1995).DASS 21 merupakan hasil revisi dari DASS 42 yang digunakan untuk mengukur
depresi, kecemasan, dan stres.DASS

dirancang dan digunakan sebagai alat untuk

mengukur keadaan emosinal negatif yang meliputi depresi, kecemasan, dan stres.
HASIL
3

A. Analisis Univariat
1. Karakteristik Responden
Tabel 1 Hasil Uji Beda Karakteristik Responden pada Kelompok Intervensi
(n=15) dan Kelompok Kontrol (n=15)
Karakteristik
Jenis kelamin :
- Perempuan
- Laki-laki
Usia (tahun) :
- 51
- 52 ke atas
Rerata (SD)
Pendidikan
- SD
- SMP
- SMA/SLTA
- PT
Pekerjaan
- Bekerja
- Tidak bekerja

Kelompok
Intervensi
Kontrol
Frekuensi (%)
Frekuensi %)

X2

Nilai p

9 (60)
6 (40)

9 (60)
6 (40)

0,000

1,000

11(73,3)
4(26,7)
47,1(13,87)

8(53,3)
7(46,7)
49.1(9,44)

1,292

0,026

2 (13,3)
7 (46,7)
6 (40,)
0 ( 0)

4 (26,7)
4 (26,7)
1 ( 6,7)
6 (40.)

11,056

0,011

0 (0)
15 (100)

6 (40)
9 (60)

7,500

0,006

Pada tabel 1 dapat menunjukan bahwa data karakteristik jenis kelamin, usia,
pendidikan, pekerjaan, antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi menunjukan
nilai p<0,05. Hasil hasil uji beda karakteristik responden tersebut dapat disimpulkan
bahwa antara karakteristik responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol
tidak terdapat perbedaan yang bermakna.

B. Analisis Bivariat
1. Hasil Uji Normalitas Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres Sebelum dan
Sesudah Intervensi pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi
Uji normalitas tingkat depresi, kecemasan, dan stres sebelum dan sesudah
intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi dapat terlihat pada tabel
berikut:
Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres Sebelum dan
Sesudah Intervensi pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi
Pengukuran

Waktu

Kelompok

Rerata

SD

Nilai p

Depresi

-Sebelum

- Sesudah
Kecemasan

-Sebelum

- Sesudah
Stres

-Sebelum

- Sesudah

-Kontrol
-Intervensi

18,93
21,73

4,713
5,284

0,084
0,047

-Kontrol
-Intervensi

18,93
16,00

4,713
3,464

0,084
0,004

-Kontrol
-Intervensi

17,20
16,87

5,060
2,167

0,001
0,048

-Kontrol
-Intervensi

17,20
12,93

5,060
2,251

0,001
0,001

-Kontrol
-Intervensi

17,20
22,67

5,060
3,266

0,001
0,158

-Kontrol
-Intervensi

17,20
17,47

5,060
2,200

0,001
0,246

Pada tabel 2 ditampilkan hasil uji normalitas dengan menggunakan uji statistik
Shpiro-Wilk. Hasil uji normalitas menunjukan nilai p tingkat depresi, kecemasan, dan
stres sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi
sebagian besar kurang dari 0,05. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa data rerata tingkat
depresi, kecemasan, dan stress pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi dapat
disimpulkan data tidak berdistribusi normal, sehingga uji statistik yang tepat untuk
dilakukan adalah dengan menggunakan statistik non parametrik yaitu Wilcoxon.
2.Perbedaan Rerata Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres Sebelum dan Sesudah
pada Kelompok Kontrol
Uji statistik yang digunakan melihat rerata depresi, kecemasan, dan stres adalah
non parametrik Wilcoxon karena hasil uji beda rerata sebelum dan sesudah pada
kelompok kontrol didapatkan hasil distribusi data tidak normal dan tidak homogen.
Tabel 3. Perbedaan Rerata Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres Sebelum
dan Sesudah pada Kelompok Kontrol
Pengukuran

Kelompok

Rerata

Depresi

-Sebelum
-Sesudah

18,93
18,93

0,001

1,000

Kecemasan

-Sebelum
-Sesudah

17,20
17,20

0,001

1,000

Stres

-Sebelum
-Sesudah

17,20
17,20

0,001

1,000

Hasil uji statistik yang ditampilkan pada tabel 3 didapatkan nilai p 0,05. Hasil
tersebut dapat diartikan bahwa data rerata tingkat depresi, kecemasan dan stres sebelum
dan sesudah pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan yang bermakna.
3. Perbedaan Rerata Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres Sebelum dan Sesudah
Intervensi pada Kelompok Intervensi
Uji statistik yang yang digunakan melihat rerata depresi, kecemasan, dan stres
adalah non parametrik Wilcoxon karena hasil uji beda rerata sebelum dan sesudah
intervensi pada kelompok intervensi didapatkan hasil distribusi data tidak normal.

Tabel 4. Perbedaan Rerata Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres Sebelum


dan Sesudah Intervensi pada Kelompok Intervensi
Pengukuran

Kelompok

Rerata

Depresi

-Sebelum
-Sesudah

21,73
16,00

- 3,316

0,001

Kecemasan

-Sebelum
-Sesudah

16,87
12,93

- 3,571

0,001

Stres

-Sebelum
-Sesudah

22,67
17,47

- 3,347

0,001

Uji statistik yang ditampilkan pada tabel 4 pada skala ukur depresi, kecemasan,
dan stres didapatkan nilai p<0,05. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa data rerata
tingkat depresi, kecemasan, dan stres sebelum dan sesudah pada kelompok intervensi
ada perbedaan yang bermakna.
4. Perbedaan Rerata Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres Sebelum Intervensi
pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi
6

Uji statistik yang yang digunakan melihat rerata depresi, kecemasan, dan stres
adalah non parametrik Mann-Whitney karena hasil uji beda rerata sebelum dan sesudah
intervensi pada kelompok intervensi didapatkan hasil distribusi data tidak normal.
Tabel 5. Perbedaan Rerata Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres Sebelum
Intervensi pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi
Pengukuran

Kelompok

Rerata

Depresi

-Kontrol
-Intervensi

18,93
21,73

- 1,445

0,146

Kecemasan

-Kontrol
-Intervensi

17,20
16,87

- 0,839

0,402

Stres

-Kontrol
-Intervensi

17,20
22,67

-3 ,152

0,200

Hasil uji statistik beda rerata tingkat depresi sebelum intervensi pada kelompok
kontrol dan kelompok intervensi yang ditampilkan pada tabel 5 didapatkan nilai z adalah
-1,445 dan nilai p0,05. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa data rerata tingkat depresi
sebelum intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi tidak ada perbedaan
yang bermakna. Sedangkan pada beda rerata tingkat kecemasan sebelum intervensi pada
kelompok kontrol dan kelompok intervensi yang ditampilkan pada tabel 5 didapatkan
nilai z adalah -0,839 dan nilai p0,05. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa data rerata
tingkat kecemasan sebelum intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi
tidak ada perbedaan yang bermakna.
Hasil uji statistik beda rerata tingkat stres sebelum intervensi pada kelompok
kontrol dan kelompok intervensi yang ditampilkan pada tabel 5 didapatkan nilai z adalah
-3,152 dan nilai p<0,05. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa data rerata tingkat stres
sebelum intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi ada perbedaan yang
bermakna.

5. Perbedaan Rerata Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres Sesudah Intervensi


pada Kelompok Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi
Uji statistik yang yang digunakan melihat rerata depresi, kecemasan, dan stres
adalah non parametrik Mann-Whitney karena hasil uji beda rerata sebelum dan sesudah
intervensi pada kelompok intervensi didapatkan hasil distribusi data tidak normal.
Tabel 6. Perbedaan Rerata Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres
SesudahIntervensi pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi
Pengukuran

Kelompok

Rerata

Depresi

-Kontrol
-Intervensi

18,93
16,00

- 2,214

0,027

Kecemasan

-Kontrol
-Intervensi

17,20
12,93

- 2,647

0,008

Stres

-Kontrol
-Intervensi

17,47
17,20

- 3,152

0,002

Hasil uji statistik yang ditampilkan pada tabel 6 didapatkan nilai p<0,05. Hasil
tersebut dapat diartikan bahwa data rerata tingkat depresi, kecemasan, dan stres sesudah
intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi ada perbedaan yang
bermakna.
6. Perbedaan Selisih Rerata Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres Sebelum dan
Sesudah Intervensi pada Kelompok Kelompok Kontrol dan Kelompok
Intervensi.
Uji statistik yang yang digunakan untuk melihat rerata depresi, kecemasan, dan
stres adalah non parametrik Mann-Whitney karena hasil uji beda rerata sebelum dan
sesudah intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi didapatkan hasil
distribusi data tidak normal.
Tabel 7 Perbedaan Selisih Rerata Tingkat Depresi, Kecemasan, dan Stres
Sebelum dan Sesudah Intervensi pada Kelompok Kontrol dan
Kelompok Intervensi
Pengukuran
Depresi

Kecemasan

Kelompok
-Kontrol
-Intervensi

Rerata
0,000
4,421

0,000

0,001

0,000

0,000

0,001

-Kontrol

Stres

-Intervensi

5,894

-Kontrol
-Intervensi

0,000
4,000

0,000

0,001

Hasil uji statistik yang ditampilkan pada tabel 7 didapatkan nilai p<0,05. Hasil
tersebut dapat diartikan bahwa data rerata tingkat depresi, kecemasan, dan stres sesudah
intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi ada perbedaan yang
bermakna.

PEMBAHASAN
1. Pengaruh Intervensi SEFT Terhadap Tingkat Depresi pada Pasien GGK
Hasil uji statistik pada tabel 6 menunjukkan rerata tingkatdepresi sesudah
intervensi antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi ada perbedaan yang
bermakna dengan nilai z adalah -2,214 dan p >0,05. Hal ini menunjukan ada pengaruh
intervensi SEFT terhadap penurunan depresi pada pasien GGK. Dapat disimpulkan ada
perbedaan yang bermakna tingkat depresi responden sebelum dan sesudah diberikan
intervensi SEFT pada kelompok intervensi. Sedangkan pada kelompok kontrol yang
tidak diberikan intervensi SEFT tidak mengalami penurunan tingkat depresi.
Terapi spiritual dapat memberikan ketenangan, mengurangi rasa takut dan
mendekatkan diri kepada Tuhan dan menguatkan keyakinan spiritual, keyakinan kepada
Tuhan untuk menyembuhkan penyakitnya. Terapi spiritual menimbulkan respon
relaksasi dan kesehatan, dapat menimbulkan keyakinan dalam perawatan diri, dan
bermanfaat terhadap kecemasan dan panik pada pasien terminal yang dapat
menimbulkan ketenangan (Syed,2003). Menurut Kozier, Berman, & Snyder (2010)
keyakinan spiritual ini akan memberikan rasa tenang dan harapan positif bagi yang
mengalami sakit, sehingga diharapkan dapat menurunkan kecemasannya.

Keadaan psikologis yang tenang akan mempengaruhi sistim limbik dan saraf
otonom yang menimbulkan rileks, aman, dan menyenangkan sehingga merangsang
pelepasan zat kimia gamma amino butric acid, enchepalin dan beta endorfin yang akan
mengeliminasi neurotranmiter rasa nyeri maupun kecemasan sehingga menciptakan
ketenangan dan memperbaiki suasana hati (mood) pasien. Endorfin adalah polipeptida
yang mengandung 30 unit asam amino yang mengikat pada reseptor opiat di otak dan
dapat menimbulkan perasaan euforia, lepaskan nafsu makan, modulasi hormon dan
memiliki sifat menghilangkan rasa sakit. Endorfin adalah neurotransmitter yang
berinteraksi dengan neuron reseptor morfin untuk mengurangi rasa sakit. Pada gangguan
nyeri kronis, endorfin ditemukan dalam jumlah tinggi (Bailey, 2006).
2. Pengaruh Intervensi SEFT Terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasien GGK
Hasil uji statistik pada tabel 6 menunjukkan rerata tingkatkecemasan sesudah
intervensi antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi ada perbedaan yang
bermakna dengan nilai z adalah -2,647 dan p>0,05. Hal ini menunjukan ada pengaruh
intervensi SEFT terhadap penurunan kecemasan pada pasien GGK. Dapat disimpulkan
ada perbedaan yang bermakna tingkat kecemasan responden sebelum dan sesudah di
berikan intervensi SEFT pada kelompok intervensi. Sedangkan pada kelompok kontrol
yang tidak diberikan intervensi SEFT tidak mengalami penurunan tingkat depresi.
Hasil penelitian lain juga mengemukakan bahwa spiritual berpengaruh terhadap
stress pada pasien penyakit kronis dan berpengaruh terhadap ketenangan psikologis
(Rowe & Allen 2004). Pemenuhan kebutuhan spiritual sangat penting ketika sedang
mengalami sakit fisik.Ketika kondisi fisik terganggu ada kemungkinan mengalami
perubahan emosi.Pada kondisi tersebut, komponen spiritual seseorang sangat penting
untuk mengatasi perubahan emosi tersebut. Mendekat pada Tuhan, diyakini akan

10

memudahkan

seseorang

untuk

mengatasi

perubahan

emosional

selama

sakit

(Lueckenotte, 1995).
3. Pengaruh Intervensi SEFT Terhadap Tingkat Stres pada Pasien GGK
Hasil uji statistik pada tabel 6 menunjukkan rerata tingkatstres sesudah intervensi
antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi ada perbedaan yang bermakna dengan
nilai z adalah -3,152 dan p>0,05. Hal ini menunjukan ada pengaruh intervensi SEFT
terhadap penurunan stres pada pasien GGK. Dapat disimpulkan ada perbedaan yang
bermakna tingkat stres responden sebelum dan sesudah di berikan intervensi SEFTpada
kelompok intervensi. Sedangkan pada kelompok kontrol yang tidak diberikan intervensi
SEFT tidak mengalami penurunan tingkat stres.
Spiritual dapat mempengaruhi psikoneuroimunologi yang merangsang imunitas
sehingga mempengaruhi relaksasi dan dapat menyebabkan sistem syaraf mengeluarkan
endorfin, delison dan berbagai neurotransmiter yang lain yangmembawa manfaat pada
peningkatan imunitas, peningkatan aktifitasinterferon dan makrofag (Spencer &
McEwen, 1990).
KESIMPULAN
Pemberian intervensi SEFT menurunkan tingkat depresi, kecemasan, dan stres
pada pasien GGK secara bermakna karena intervensi SEFT memiliki nilai spiritual
sehingga dapat memberi efek

ketenangan dan nilai spiritual, diharapkan dapat

melakukan penelitian dengan menggunakan metode intervensi SEFT pada pasien yang
menderita penyakit lain yang memiliki respon depresi, kecemasan, dan stres, serta
respon tubuh yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar.Z.
(2010).Terapi
SEFT.Diunduh
http://zainulanwar.staff.umm.ac.id.

Juni

2012

dari

Bailey R. (2006).The Power Of Endorphins Diunduh tanggal 20 September 2012 dari


http://www.parkridgecardiology.com
11

Cohen LM, Dobscha SK, Hails KC, (2002). Depression and suicidal ideation in Patients
who discontinue the life-support treatment of dialysis.Psychosom Med; 64:889
896
Drayer RA, Piraino B, Reynolds CF 3rd, et al (2006). Characteristics of depression in
hemodialysis patients: symptoms, quality of life, and mortality risk. Gen Hosp
Psychiatry 2006; 28:306312
Hughes, (2005).Nursing Faculty Attitudes, Knowledge and Practice Of Therapeutic
Touch, Thesis. Montana State University
IKKC (2010).Mengatasi Dampak Psikologis Pasien Gagal Ginjal.Diunduh tanggal 5
Juni 2012dari http://www.ikcc.co.id
Kimmel, P.L. , (2000). Multiple Measurements of Depression Predict Mortality in A
Longitudinal Study of Chronic Hemodialysis Outpatients. Kidney International,
Vol. 57: pp. 2093-2098.
Kimmel. (2001). PL: Psychosocial factors in dialysis patients. Kidney Int ;
59:15991613.
Kozier, B., Erb, G., Berman, A., & Snyder, S. (2010). Buku Ajar Fundamental
Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik (Vol. 2). New Jersey: EGC.
Lueckenotte Annette G. (1995). Gerontologic Nursing. Mosby Year Book
Lovibond, S.H. & Lovibond, P.F. (1995).Manual for the Depression Anxiety Stress
Scales (2nd ed.). Sydney: Psychology Foundation.
Patel ML, Sachan R, Nischal A, and Surendra (2012).Anxiety and Depression - A
Suicidal Risk in Patients with Chronic Renal Failure on Maintenance
hemodialysis.International Journal of Scientific and Research Publications,
Volume 2, Issue 3
Spencer RL & McEwen BS.(1990). Adaptation of the hypothalamic
pituitary-adrenal axis stress tochronic ethanol.Neuroendocrinol.:
52; 481-89. 1. Atkinson

Syed. I.B,. (2003). Spiritual Medicine in the History of Islamic Medicine. Medicine
University of Louisville School of Medicine Louisville
Suharjono (2000) Kualitas Hidup Penderita Pasien Haemodialisa.Disampaikan pada
Simposium Ginjal dan Hipertensi. Jakarta

12