Anda di halaman 1dari 7

Pengujian substantif (Substantive Test) adalah perosedur yang digunakan untuk menguji

kekeliruan atau ketidakberesan dalam bentuk uang yang langsung mempengaruhi kebenaran
saldo laporan keuangan. Kekeliruan tersebut sering disebut dengan salah saji moneter (dalam
satuan mata uang) yang merupakan indikasi yang jelas terjadinya salah saji dalam saldo laporan
keuangan.
Tujuan pengujian substantive atas transaksi adalah untuk menentukan apakah transaksi
akuntansi klien telah diotorisasi dengan pantas, dicatat dan diiktisarkan dalam jurnal dengan
benar dan diposting ke buku besar dan buku tambahan dengan benar.

Pengujian Substantif
Posted on 30 April 2008 by Pakde sofa
Pengujian Substantif
Pengujian

Substantif

atas

Utang

Usaha

Utang lancar memiliki karakteristik yang berbeda dengan karakteristik aktiva lancar, yang
berdampak terhadap pengujian substantif atas utang lancar. Dalam menyajikan aktiva lancar,
klien berkecenderungan umum untuk menyajikan aktiva tersebut lebih tinggi dari jumlah yang
senyatanya. Di lain pihak, dalam menyajikan utang lancar, klien berkecenderungan umum untuk
menyajikan utang tersebut lebih rendah dari jumlah yang senyatanya. Kecenderungan ini
didorong oleh keinginan klien untuk menyajikan gambaran modal kerja perusahaan yang lebih
baik. Oleh karena itu, pengujian substantif atas utang lancar ditujukan untuk menemukan adanya
penyajian utang lancar yang lebih rendah dari jumlah yang seharusnya (understatement utang
lancar), sedangkan pengujian substantif atas aktiva lancar ditujukan untuk menemukan adanya
penyajian aktiva lancar yang lebih tinggi dari jumlah yang seharusnya (overstatement aktiva
lancar).
Dalam menyajikan aktiva lancar klien menghadapi masalah penilaian unsur-unsur aktiva lancar
per tanggal neraca. Di lain pihak, dalam penyajian utang lancar, klien tidak menghadapi masalah
penentuan nilai utang lancar tersebut pada tanggal neraca. Dalam pengujian substantif atas aktiva

lancar, auditor menghadapi masalah penentuan kewajaran nilai aktiva lancar yang dicantumkan
di neraca. Di lain pihak, dalam pengujian substantif atas utang lancar, auditor menghadapi fakta;
menghadapi data historis mengenai kewajiban perusahaan yang terjadi di masa yang lalu, yang
dalam jangka pendek harus dilunasi. Oleh karena itu, pengujian substantif atas utang lancar
memerlukan waktu yang relatif lebih pendek bila dibandingkan dengan pengujian substantif atas
aktiva lancar. Utang usaha merupakan komponen terbesar utang lancar. Oleh karena itu,
pengujian substantif auditor dalam kegiatan belajar ini ini lebih difokuskan ke pengujian
substantif

atas

utang

usaha.

Pengujian substantif atas utang usaha ditujukan untuk memperoleh keyakinan tentang keandalan
catatan akuntansi yang bersangkutan dengan utang usaha, membuktikan keberadaan utang usaha
dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan utang usaha yang dicantumkan di neraca,
membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo
utang usaha yang disajikan di neraca, membuktikan kewajiban klien yang dicantumkan di
neraca, membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan utang usaha di neraca. Untuk
mencapai tujuan audit tersebut auditor seharus dapat menempuh berbagai prosedur audit
Dalam prosedur audit awal, auditor membuktikan keandalan catatan akuntansi utang usaha yang
diselenggarakan oleh klien, dengan cara mengusut saldo utang usaha yang dicantumkan di
neraca ke dalam akun utang usaha yang diselenggarakan di dalam buku besar, membuktikan
ketelitian penghitungan saldo akun utang usaha di dalam buku besar, dan membuktikan sumber
pendebitan dan pengkreditan akun utang usaha di dalam buku besar ke dalam register bukti kas
keluar

dan

jurnal

penerimaan

kas.

Dalam prosedur analitik, auditor menghitung berbagai ratio, yaitu tingkat perputaran utang
usaha, ratio utang usaha dengan utang lancar, kemudian dibandingkan dengan harapan auditor,
misalnya ratio tahun yang lalu, rerata ratio industri, atau ratio yang dianggarkan. Di samping itu,
dalam prosedur analitik, auditor membandingkan akun biaya dengan akun biaya yang sama
tahun lalu atau biaya yang dianggarkan untuk mendapatkan indikasi kemungkinan adanya
understatement utang lancar. Pembandingan ini membantu auditor untuk mengungkapkan, yaitu
(1) peristiwa atau transaksi yang tidak biasa, (2) perubahan akuntansi, (3) perubahan usaha, (4)
fluktuasi

acak

atau

(5)

salah

saji.

Dalam pengujian atas akun rinci, auditor melaksanakan prosedur audit berikut ini: (1) memeriksa
sampel transaksi utang usaha yang tercatat ke dokumen yang mendukung timbulnya utang usaha,

(2) melakukan verifikasi pisah batas (cut off) transaksi pembelian dan transaksi pengeluaran kas,
(3)

melakukan

pencarian

utang

yang

belum

dicatat.

Dalam pengujian atas akun rinci, auditor menempuh prosedur audit berikut ini (1) melakukan
konfirmasi utang, dan (2) melakukan rekonsiliasi utang usaha yang tidak dikonfirmasi ke
pernyataan

piutang

bulanan

yang

diterima

oleh

klien

dari

kreditor

Dalam memverifikasi penyajian dan pengungkapan utang jangka panjang di neraca, auditor
membandingkan penyajian utang usaha di neraca dengan prinsip akuntansi berterima umum.
Informasi mengenai hal ini diperoleh auditor dengan cara, antara lain (1) memeriksa klasifikasi
utang usaha di neraca, (2) memeriksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang usaha, (3)
memeriksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang nonusaha, (4) meminta informasi
dari klien untuk menemukan komitmen yang belum diungkapkan dan utang bersyarat dan
memeriksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang tersebut.
Pengujian

Substantif

atas

Aktiva

Tetap

Aktiva tetap memiliki karakteristik yang berbeda dengan karakteristik aktiva lancar, yang
berdampak terhadap pengujian substantif atas aktiva tetap. Frekuensi transaksi yang menyangkut
aktiva tetap relatif sedikit maka jumlah waktu yang dikonsumsi untuk pengujian substantif atas
aktiva tetap relatif lebih sedikit bila dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk
pengujian substantif atas aktiva lancar. Karena ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan
dengan aktiva tetap sedikit pengaruhnya terhadap perhitungan rugi-laba maka auditor tidak
mengarahkan perhatiannya terhadap masalah ketelitian pisah batas transaksi yang bersangkutan
dengan aktiva tetap pada akhir tahun. Pengujian substantif atas aktiva tetap dititikberatkan pada
verifikasi mutasi aktiva tetap yang terjadi dalam tahun yang diaudit. Verifikasi saldo aktiva tetap
pada tanggal neraca tidak mendapat perhatian auditor karena aktiva tetap disajikan pada costnya,
bukan

nilainya

pada

tanggal

neraca

seperti

halnya

dengan

aktiva

lancar.

Jika laporan keuangan klien belum pernah diaudit oleh auditor independen lain, dan audit yang
sekarang ini merupakan audit yang pertama kalinya maka auditor mempunyai kewajiban untuk
memverifikasi saldo awal aktiva tetap, untuk memperoleh keyakinan mengenai kewajaran saldo
tersebut. Verifikasi tersebut dilakukan oleh auditor meliputi periode sejak saat aktiva tetap
tersebut diperoleh sampai dengan awal tahun yang diaudit. Jika laporan keuangan klien tahun
sebelumnya telah diaudit oleh auditor independen lain, dan jika laporan keuangan klien diberi

pendapat wajar tanpa pengecualian dari auditor independen sebelumnya, auditor yang baru dapat
langsung menggunakan saldo awal aktiva tetap sebagai saldo awal yang wajar. Bagi auditor yang
baru tersebut, titik berat pengujian substantifnya atas aktiva tetap, kemudian hanya dipusatkan
pada transaksi mutasi aktiva tetap yang terjadi dalam tahun yang diaudit saja.
Pengujian substantif atas aktiva tetap ditujukan untuk (1) memperoleh keyakinan tentang
keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan aktiva tetap, (2) membuktikan
keberadaan aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan aktiva tetap yang
dicantumkan di neraca, (2) membuktikan hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang
dicantumkan di neraca, (3) membuktikan kewajaran penilaian aktiva tetap yang dicantumkan di
neraca, (4) membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tetap di neraca.
Dalam prosedur audit awal, auditor membuktikan keandalan saldo aktiva tetap dengan cara
membuktikan apakah aktiva tetap yang dicantumkan di dalam neraca didukung dengan catatan
akuntansi yang diselenggarakan dengan mekanisme akuntansi yang dapat dipercaya. Untuk itu
auditor mengusut saldo aktiva tetap yang dicantumkan di neraca ke di dalam akun aktiva tetap
yang diselenggarakan di dalam buku besar, membuktikan ketelitian penghitungan saldo akun
aktiva tetap di dalam buku besar, mengusut saldo awal akun Aktiva Tetap ke kertas kerja tahun
yang lalu, membuktikan sumber pendebitan dan pengkreditan akun aktiva tetap di dalam buku
besar ke dalam register bukti kas keluar dan jurnal umum, dan membuktikan ketelitian catatan
aktiva tetap dengan cara melakukan rekonsiliasi akun kontrol aktiva tetap di dalam buku besar
dengan

buku

pembantu

aktiva

tetap.

Dalam prosedur analitik, auditor menghitung berbagai ratio: tingkat perputaran aktiva tetap, ratio
laba bersih dengan aktiva tetap, ratio aktiva tetap dengan modal saham, ratio biaya reparasi dan
pemeliharaan dengan aktiva tetap, kemudian dibandingkan dengan harapan auditor, misalnya
ratio tahun yang lalu, rerata ratio industri, atau ratio yang dianggarkan. Pembandingan ini
membantu auditor untuk mengung-kapkan: (1) peristiwa atau transaksi yang tidak biasa, (2)
perubahan akuntansi, (3) perubahan usaha, (4) fluktuasi acak, atau (5) salah saji.
Dalam pengujian transaksi rinci, auditor memeriksa bukti pendukung pencatatan transaksi
penambahan dan pengurangan aktiva tetap dan review terhadap akun Biaya Reparasi dan
Pemeliharaan Aktiva Tetap. Verifikasi keberadaan aktiva tetap yang ada di tangan klien pada
tanggal neraca dilakukan oleh auditor dengan cara menginspeksi tambahan aktiva tetap yang
terjadi dalam tahun yang diaudit dan mengusut pencatatan tambahan aktiva tetap tersebut ke

dalam buku pembantu aktiva tetap. Meskipun tidak sepenting verifikasi pisah batas transaksi
aktiva lancar, verifikasi pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap dilakukan
oleh auditor dengan cara memeriksa transaksi mutasi aktiva tetap dalam beberapa hari menjelang
dan setelah tanggal neraca. Tujuan audit ini adalah untuk menemukan transaksi mutasi aktiva
tetap yang seharusnya dicatat dalam tahun yang diaudit oleh klien salah dicatat dalam tahun
sesudahnya atau mutasi aktiva tetap yang seharusnya dicatat dalam tahun sesudahnya oleh klien
salah

dicatat

dalam

tahun

yang

diaudit.

Dalam pengujian atas akun rinci, auditor melakukan inspeksi terhadap aktiva tetap, memeriksa
bukti hak kepemilikan aktiva tetap dan kontrak, dan melakukan review terhadap perhitungan
depresiasi. Verifikasi kepemilikan aktiva tetap dilakukan oleh auditor dengan memeriksa
dokumen yang mendukung pemerolehan tambahan aktiva tetap dalam tahun yang diaudit,
melakukan inspeksi polis asuransi aktiva tetap, memeriksa dokumen yang bersangkutan dengan
persewaan atau kontrak leasing aktiva tetap. Dalam memverifikasi kepemilikan aktiva tetap
auditor juga meminta informasi dari klien mengenai aktiva tetap yang dijaminkan dalam
penarikan utang jangka panjang. Informasi ini bermanfaat bagi auditor untuk memberikan
pengungkapan (disclosure) mengenai kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dicantumkan di
neraca.
Dalam memverifikasi penyajian dan pengungkapan aktiva tetap di neraca, auditor
membandingkan penyajian aktiva tetap di neraca dengan prinsip akuntansi berterima umum.
Informasi mengenai hal ini diperoleh auditor dengan memeriksa klasifikasi aktiva tetap di neraca
dan memeriksa kecukupan pengungkapan yang bersangkutan dengan aktiva tetap. Aktiva tetap
disajikan di dalam neraca pada nilai buku yang merupakan selisih cost aktiva tetap dengan
depresiasi akumulasiannya. Cost aktiva tetap dipengaruhi oleh harga pemerolehan tambahan
aktiva tetap, pengeluaran modal (capital expenditure), revaluasi, penghentian pemakaian dan
penjualan aktiva tetap yang terjadi dalam tahun yang diaudit. Depresiasi Akumulasian aktiva
tetap dipengaruhi oleh transaksi mutasi aktiva tetap dan perhitungan biaya depresiasi dalam
tahun yang diaudit. Untuk memverifikasi penilaian aktiva tetap auditor melakukan verifikasi
terhadap dokumen yang mendukung penambahan dan pengurangan cost aktiva tetap dalam tahun
yang diaudit dan memverifikasi penentuan biaya depresiasi aktiva tetap.

Pengujian

Substantif

atas

Aktiva

Tidak

Berwujud

Pengujian substantif atas aktiva tidak berwujud ditujukan untuk: (1) memperoleh keyakinan
tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan aktiva tidak berwujud, (2)
membuktikan keberadaan aktiva tidak berwujud dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan
aktiva tidak berwujud yang dicantumkan di neraca, (3) membuktikan hak kepemilikan klien atas
aktiva tidak berwujud yang dicantumkan di neraca, (4) membuktikan kewajaran penilaian aktiva
tidak berwujud yang dicantumkan di neraca, (5) membuktikan kewajaran penyajian dan
pengungkapan aktiva tidak berwujud di neraca. Untuk mencapai tujuan audit tersebut auditor
menempuh berbagai prosedur audit atas aktiva tidak berwujud melalui berbagai prosedur audit
seperti

yang

tercantum

pada

Gambar

6.2.

Dalam prosedur audit awal, auditor membuktikan keandalan saldo aktiva tidak berwujud dengan
cara membuktikan apakah aktiva tidak berwujud yang dicantumkan di neraca didukung dengan
catatan akuntansi yang diselenggarakan dengan mekanisme akuntansi yang dapat dipercaya.
Untuk itu auditor mengusut saldo aktiva tidak berwujud yang dicantumkan di neraca ke di dalam
akun aktiva tidak berwujud yang diselenggarakan di dalam buku besar, membuktikan ketelitian
penghitungan saldo akun Aktiva Tidak Berwujud di dalam buku besar, mengusut saldo awal
akun Aktiva Tidak Berwujud dan Akumulasi Amortisasi ke kertas kerja tahun yang lalu,
membuktikan sumber pendebitan dan pengkreditan akun aktiva tidak berwujud di dalam buku
besar

ke

dalam

register

bukti

kas

keluar

dan

jurnal

umum.

Dalam prosedur analitik, auditor menghitung berbagai ratio, yaitu tingkat perputaran aktiva tidak
berwujud, ratio laba bersih dengan aktiva tidak berwujud, ratio aktiva tidak berwujud dengan
total aktiva, kemudian dibandingkan dengan harapan auditor, misalnya ratio tahun yang lalu,
rerata ratio industri, atau ratio yang dianggarkan. Pembandingan ini membantu auditor untuk
mengungkapkan (1) peristiwa atau transaksi yang tidak biasa, (2) perubahan akuntansi, (3)
perubahan

usaha,

(4)

fluktuasi

acak

atau

(5)

salah

saji.

Dalam pengujian transaksi rinci, auditor memeriksa bukti pendukung pencatatan transaksi
pemerolehan dan amortisasi aktiva tidak berwujud. Auditor juga meminta informasi dari klien
mengenai manfaat aktiva tidak berwujud di masa yang akan datang dalam memverifikasi
eksistensi

aktiva

tidak

berwujud.

Dalam pengujian atas akun rinci, auditor melakukan: mempelajari notulen rapat direksi,
perjanjian, surat izin dari pemerintah, dan dokumen lain yang membuktikan eksistensi aktiva

tidak berwujud, meminta informasi dari klien atau sumber lain mengenai manfaat aktiva
berwujud bagi klien di masa yang akan datang, melakukan inspeksi dan pemeriksaan atas surat
perjanjian, surat izin dari pemerintah, dan dokumen yang menunjukkan hak pemilikan klien atas
aktiva tidak berwujud. Aktiva tidak berwujud disajikan di neraca pada nilainya yang merupakan
selisih cost dikurangi dengan amortisasi aktiva tidak berwujud. Untuk memverifikasi penilaian
aktiva tidak berwujud, auditor melakukan verifikasi atas dokumen yang mendukung transaksi
pemerolehan

dan

transaksi

amortisasi

aktiva

tidak

berwujud.

Dalam memverifikasi penyajian dan pengungkapan aktiva tidak berwujud di neraca, auditor
membandingkan penyajian aktiva tidak berwujud di neraca dengan prinsip akuntansi berterima
umum. Informasi mengenai hal ini diperoleh auditor dengan memeriksa klasifikasi aktiva tidak
berwujud di neraca dan memeriksa kecukupan pengungkapan yang bersangkutan dengan aktiva
tidak berwujud. Aktiva tidak berwujud yang memiliki umur ekonomis terbatas disajikan di
neraca pada nilai buku yang merupakan selisih cost aktiva tidak berwujud dengan akumulasi
amortisasinya.
Sumber Buku Auditing 1b Karya Salam Mannan

Anda mungkin juga menyukai