Anda di halaman 1dari 9

MENUMBUHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN MINAT

BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN PROBLEM


POSING DI SMA NEGERI 1 BARUMUN KABUPATEN PADANG LAWAS
Irma Lestari Lubis
Irmalestari_lubis@yahoo.co.id
Abstrak
Dalam proses pembelajaran diperlukan strategi untuk dapat mendorong peserta didik untuk
memahami masalah, meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik dalam menyusun
rencana penyelesaian, melibatkan peserta didik secara aktif dalam menemukan sendiri
penyelesaian masalah, dan mendorong pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan guru
sebagai fasilitator. Salah satu model pembelajaran yang memiliki sifat dan karakter tersebut
adalah pembelajaran dengan pengajuan masalah (Problem Posing). Selain itu problem posing
juga mampu menumbuhkan minat belajar siswa terhadap matematika. Model pembelajaran ini
menekankan siswa untuk membuat soal dan menjawab soal yang diberikan oleh kelompok lain.
Dengan model pembelajaran ini siswa diharapkan dapat mengeluarkan pendapat dan
mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang mereka alami sewaktu proses pembelajaran
berlangsung. Pembelajaran matematika dengan metode problem posing dapat membuat siswa
aktif dan kreatif, hal itu ditunjukkan melalui kompetensi siswa mengembangkan soal
matematika itu sendiri, mengelola, dan untuk menggali informasi untuk masalah matematika
'yang dipecahkan. Melalui pembelajaran dengan metode problem posing juga dapat
meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar, terutama berinteraksi dan berbagi
ide pada siswa satu sama lain dan guru, sehingga kegiatan belajar menjadi bermakna.
Kata kunci: Berpikir kreatif, Minat Belajar, Pendekatan problem-posing

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu hal penting untuk menentukan maju mundurnya suatu
bangsa. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah meningkatkan mutu pendidikan, karena
dengan meningkatnya mutu pendidikan dapat meningkatkan sumber daya manusia yang ada. Untuk
itu, dunia pendidikan harus mendapatkan perhatian yang lebih besar dari pemerintah, masyarakat
maupun pelaku pendidikan yang terkait.
Perubahan paradigma dalam pendidikan yaitu dari paradigma mengajar menjadi paradigma
belajar mengisyaratkan adanya kemauan untuk berubah menjadi yang lebih baik dari kalangan
praktisi pendidikan maupun akademisi yang dimplementasikan dalam perubahan proses dalam
pembelajaran di sekolah dari yang sebelumnya hanya berorientasi/berpusat pada guru dalam
mengajar menjadi berorientasi/berpusat kepada siswa untuk belajar.
Menurut Sudarman, salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah
masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, siswa kurang di dorong untuk
mengembangkan kemampuan berfikir. Proses pembelajaran di kelas diarahkan kepada kemampuan
anak untuk menghafal informasi. Otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai
informasi tanpa dituntut memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkan dengan
kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika anak lulus dari sekolah, mereka pintar teoritis tetapi miskin
aplikasi (Sudarman: 2007). Hal ini disebabkan karena kondisi pembalajaran yang selama ini
dilakukan cenderung berpusat kepada guru, kurang berorientasi pada siswa. Siswa hanya mencatat
dan mendengarkan serta melakukan kegiatan sesuai perintah guru, sehingga menyebabkan siswa
kurang aktif dalam pembelajaran apalagi mengajukan pertanyaan. Oleh karenanya keberhasilan
pembelajaran pada umumnya sangat ditentukan oleh strategi mengajar guru.
Dalam pembelajaran matematika di SMA Negeri 1 Barumun, banyak guru yang
mengeluhkankan rendahnya kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika dan
mengaplikasikan konsep matematika tersebut dalam pengerjaan soal-soal. Hal ini terlihat dari
banyaknya kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan dan
ulangan harian sehingga prestasi siswa dalam pembelajaran matematika masih rendah. Padahal
dalam pelaksanaan pembelajaran guru biasanya telah memberikan latihan yang memadai kepada

siswa, baik yang di kerjakan di sekolah maupun yang dikerjakan di rumah. Pada kenyataannya
pemberian latihan yang memadai tidak sepenuhnya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam
menerapkan konsep matematika. Rendahnya kualitas pembelajaran dapat diartikan kurang
efektifnya pembelajaran. Menurut pengamatan penulis, masalah yang dihadapi dalam pembelajaran
matematika di SMA Negeri 1 Barumun antara lain;
1. Rendahnya persentase ketuntasan dalam setiap ulangan harian. Rata-rata siswa yang tidak
tuntas dalam setiap ulangan harian mencapai 60%.
2. Siswa kurang aktif terlibat dalam pembelajaran.
3. Siswa enggan untuk bertanya sekalipun materi pembelajaran belum dipahami olehnya.
4. Siswa kurang memahami materi prasyarat, tetapi tidak diungkapkan dalam pembelajaran.
5. Kemampuan siswa untuk menjawab soal aplikasi sangat rendah.
Kemampuan berpikir kreatif dapat dikembangkan melalui aktivitas-aktivitas kreatif dalam
pembelajaran matematika. Siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif mempunyai ciri-ciri:
imajinatif, mempunyai prakarsa, mempunyai minat yang luas, mandiri dalam berpikir, senang
berpetualang, penuh energi, percaya diri, bersedia mengambil resiko, berani dalam pendirian dan
keyakinan. Namun dalam pembelajaran matematika yang sarat dengan konsep matematika yang
abstrak, tanpa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, sering dianggap sebagai salah satu penyebab
kurangnya minat siswa terhadap matematika. Rasa tertarik atau minat siswa terhadap matematika
menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran matematika. Salah
satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi rendahnya minat atau ketertarikan siswa
terhadap matematika yaitu pendekatan problem posing. Di dalam problem posing, siswa diharuskan
untuk menyusun pertanyaan sendiri dengan situasi yang dihadirkan dalam pembelajaran atau
menyelesaikan suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana yang mengacu pada
penyelesaian soal. Melalui pendekatan ini diharapkan kemampuan berpikir kreatif dan minat siswa
dapat meningkat karena siswa diminta untuk menyusun masalah yang ada menjadi pertanyaanpertanyaan yang lebih sederhana sehingga masalah lebih mudah dipahami.
Dalam artikel ini, akan dikaji mengenai pendekatan problem posing untuk menumbuhkan
kemampuan berpikir kreatif dan minat belajar siswa terhadap matematika.

KAJIAN PUSTAKA
Berpikir Kreatif
Dalam pembelajaran matematika, siswa sering dihadapkan pada suatu masalah yang rumit
atau masalah yang tidak rutin. Oleh karena itu berfikir kreatif dalam pembelajaran matematika itu
sangat dibutuhkan. Berfikir kreatif berhubungan erat dengan berfikir kritis. Keduanya merupakan
kemampuan manusia yang sangat mendasar, yang dapat mendorong seseorang untuk senantiasa
memandang setiap masalah secara kritis serta mencoba untuk menyelesaikannya secara kreatif.
Kreativitas seringkali dianggap sebagai sesuatu keterampilan yang didasarkan pada bakat
alam, dimana hanya mereka yang berbakat saja yang bisa menjadi orang kreatif padahal anggapan
tersebut tidak sepenuhnya benar, meskipun dalam kenyataan ada orang tertentu yang memiliki
kemampuan untuk menciptakan ide ide baru dengan cepat dan beragam namun kreativitas dapat
dimunculkan dari setiap diri seseorang dengan mengembangkan serta memberikan kesempatan
seseorang dalam berkreasi. Pada hakekatnya kreativitas dimiliki oleh setiap orang, tinggal
bagaimana orang tersebut mampu mengeluarkan atau mengaktualisasikan diri sesuai dengan daya
kreasi dan pola berpikir yang dikembangkan orang tersebut.
Proses berpikir terbentuk dari pribadi seseorang, oleh karena itu kemampuan berpikir
kreatif seseorang dipengaruhi juga oleh pribadi yang kreatif yang akan mendorong dari dalam untuk
berkreasi. Menurut Carl Rogers (dalam Munandar 2009 : 34) tiga kondisi dari pribadi kreatif adalah:
1) Keterbukaan terhadap pengalaman. 2) Kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan
pribadi seseorang (Internal locus of evaluation). 3) Kemampuan untuk bereksperimen, untuk
bermain dengan konsep konsep. Pada pribadi kreatif seseorang, jika sudah memiliki kondisi
pribadi dan lingkungan yang menunjang atau lingkungan yang memberi kesempatan untuk bersibuk
diri secara kreatif maka diprediksikan akan muncul kreativitas.

Trefingger (dalam Munandar, 2009:35) mengatakan bahwa seseorang yang kreatif


biasanya lebih terorganisir dalam tindakan, rencana inovatif mereka telah dipikirkan dengan matang
lebih dahulu dengan mempertimbangkan masalah yang mungkin timbul dan implikasinya. Tingkat
energi, spontanitas, dan kepetualangan yang luar biasa sering tampak pada orang kreatif. Untuk
menilai kemampuan berpikir kreatif menggunakan acuan yang dibuat Munandar (2009:192) yang
mengemukakan bahwa kemampuan berpikir kreatif dirumuskan sebagai kemampuan yang
mencerminkan aspek aspek sebagai berikut:
a. Berpikir lancar (Fluent thinking) atau kelancaran yang menyebabkan seseorang mampu
mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah atau pertanyaan.
b. Berpikr luwes (Flexible thinking) atau kelenturan yang menyebabkan seseorang mampu
menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi
c. Berpikir Orisinil (Original thinking) yang menyebabkan seseorang mampu melahirkan
ungkapan ungkapan yang baru dan unik atau mampu menemuka kombinasi kombinasi
yang tidak biasa dar unsur unsur yang biasa.
d. Keterampilan mengelaborasi (Elaboration ability) yang menyebabkan seseorang mampu
memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan.
Minat Belajar
Minat merupakan salah satu aspek kehidupan yang terdapat pada setiap orang. Ada banyak
minat yang dapat di temui dalam kehidupan manusia khususnya dalam lembaga pendidikan.
Menurut Marsell (1954) mengatakan minat belajar adalah suka memahami sesuatu pelajaran dan
ingin mengetahui pelajaran itu secara keseluruhan. Ini berarti minat duhubungkan dengan suatu
objek di mana perhatian ditujukan untuk bertindak atau dengan sadar melakukan sesuatu
sehubungan dengan objek yang dimaksud. Winkel (1983;224) bahwa minat adalah gejala psikis
yang berkaitan dengan objek atau aktifitas yang menstimulus perasaan sesorang pada individu.
Pendapat ini mengemukakan pada rangsangan yang mengakibatkan perasaan seseorang terhadap
objek atau aktivitas-aktivitas serta aktivitas ini dipilih secara bebas oleh individu.
Secara umum Hurlock (1992) memandang minat merupakan salah satu faktor psikologis
yang mendorong seseorang dalam mencapai tujuan. Minat merupakan sumber motivasi yang
mendorong seseorang untuk melalukan apa yang diinginkan, bila mereka bebas memilih maka
mereka akan cenderung berminat dan akan mendatangkan kepuasaan, tetapi bila kepuasan itu
berkurang maka minat yang dimilikinya akan berangsur-angsur berkurang juga. Minat yang dimiliki
tiap-tiap individu adalah berbeda secara tingkatan maupun jenisnya.
Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar dan dari dalam hati sanubari maing-masing
individu. Minat yang besar dan kuat terhadap sesuatu merupakan modal yang besar untuk mencapai
atau memperoleh tujuan yang diminatinya. Seseorang yang memiliki minat terhadap sesuatu tertentu
akan bersikap cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap sesuatu tersebut. Dan
sesorang individu akan berusaha untuk lebih mengetahui dan memperdalam pengetahuannya
tentang sesuatu tersebut. Apabila individu tersebut berminat besar maka dia akan semakin mudah
untuk mencapai atau memperolehnya.
Dari beberapa pendapat ahli diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa minat adalah
ketertarikan atau kecenderungan seseorang terhadap suatu objek atau aktivitas tertentu. Minat dapat
diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih memilih suatu hal
daripada hal lainnya. Minat merupakan alat motivasi utama yang dapat membangkitkan kegairahan
belajar siswa dalam rentang waktu tertentu. Oleh karena itu, guru perlu membangkitkan minat siswa
agar pelajaran yang diberikan mudah dipahami. Menurut Syaiful B. Djamarah (2002:133) beberapa
macam cara yang dapat digunakan oleh guru untuk membangkitkan minat siswa adalah sebagai
berikut:
a. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan, artinya siswa diberi masukan bahwa mempelajari
matematika merupakan suatu kebutuhan agar siswa dapat mempelajari pelajaran lainnya
dengan mudah yang berhubungan dengan matematika.
b. Menghubungkan dengan masalah persoalan, pengalaman yang lampau, artinya guru dapat
berbagi pengalaman yang telah ia dapatkan dengan siswa dengan tujuan memunculkan minat
belajar dalam diri siswa.
c. Memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik dengan cara menyediakan
lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif.

d.

Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar misalnya dengan metode pembelajaran


yang bervariasi, fasilitas pembelajaran yang lengkap dan menarik, serta situasi pembelajaran
yang menyenangkan.

Pendekatan problem-posing
Salah satu metode pembelajaran yang dapat memotivasi peserta didik untuk berpikir kritis
sekaligus dialogis, kreatif dan interaktif yakni problem posing atau pengajuan masalah-masalah
yang dituangkan dalam bentuk pertanyaan. Problem posing merupakan model pembelajaran yang
mengharuskan siswa menyusun pertanyaan sendiri atau memecah suatu soal menjadi pertanyaanpertanyaan yang lebih sederhana yang mengacu pada penyelesaian soal tersebut.
Problem posing adalah salah satu metode dalam mempelajari matematika yang disarankan
oleh NCTM (National Cauncil of Teacher of Mathematics). Hal tersebut dikemukakan oleh NCTM
karena problem posing merupakan The heart of doing mathematics, inti dari bermatematika. Oleh
karenanya, NCTM (Asari, 2000: 42) merekomendasikan agar para siswa diberi kesempatan yang
sebesar-besarnya untuk mengalami membuat soal sendiri (problem posing).
Metode problem posing diharapkan memancing peserta didik untuk menemukan
pengetahuan yang bukan diakibatkan dari ketidaksengajaan melainkan melalui upaya peserta didik
untuk mencari hubungan-hubungan dalam informasi yang dipelajarinya. Semakin luas informasi
yang dimiliki akan semakin mudah pula menemukan hubungan-hubungan tersebut. Pada akhirnya,
penemuan pertanyaan serta jawaban yang dihasilkan terhadapnya dapat menyebabkan perubahan
dan ketergantungan pada penguatan luar pada rasa puas akibat keberhasilan menemukan sendiri,
baik berupa pertanyaan atau masalah maupun jawaban atas permasalahan yang diajukan.
Dari sini kita bisa katakan bahwa problem posing merupakan suatu pembentukan soal atau
pengajuan soal yang dilakukan oleh siswa dengan cara membuat soal tidak jauh beda dengan soal
yang diberikan oleh guru ataupun dari situasi dan pengalaman siswa itu sendiri.
Pemilihan dan penerapan metode pembelajaran problem posing ini akan mempengaruhi
cara belajar siswa yang semula cenderung untuk pasif kearah yang lebih aktif. Ini bertujuan untuk
mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa karena dalam metode problem
posing soal dan penyelesaiaannya dirancang sendiri oleh siswa.
Pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran
yang mewajibkan para siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal)
secara mandiri. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran problem posing adalah sebagai
berikut.
a. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa. Penggunaan alat peraga untuk
memperjelas konsep sangat disarankan.
b. Guru memberikan latihan soal secukupnya.
c. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang, dan siswa yang bersangkutan
harus mampu menyelesaikannya. Tugas ini dapat pula dilakukan secara kelompok.
d. Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru menyuruh siswa untuk menyajikan soal
temuannya di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan siswa secara selektif
berdasarkan bobot soal yang diajukan oleh siswa.
e. Guru memberikan tugas rumah secara individual.
(Suyitno, 2004:31-32).
Silver dan Cai mnjelaskan bahwa pengajuan soal mandiri dapat diaplikasikan dalam 3
bentuk aktivitas kognitif matematika yakni sebagai berikut.
a. Pre solution posing
Pre solution posing yaitu siswa membuat pertanyaan berdasarkan pernyataan yang dibuat oleh
guru.
Contoh 1 :
Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak
menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit
Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.
1) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai biskuit?
2) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai cokelat?

3) Berapakah banyaknya anak yang menyukai biskuit dan cokelat?


Contoh 2 :
Tentukan persamaan garis yang melalui (2,4) dan sejajar dengan garis 3x + 2y =10!.
Untuk mengetahui bagaimana siswa menyelesaikan soal itu, apakah mereka menguasai soal
tersebut dan bagaimana mereka merencanakan penyelesaian soal itu, maka diberikan tugas:
Buatlah soal lain berdasarkan soal di atas yang mengarah pada penyelesaian soal itu.
Kemungkinan soal-soal yang dibuat siswa adalah:
a. Apakah syarat agar dua garis dikatakan sejajar?
b. Berapakah gradien garis 2x + 3y - 8 = 0?
c. Bagaimana membuat persamaan garis, bila diketahui sebuah titik dan gradiennya?
b. Within solution posing
Within solution posing yaitu siswa memecah pertanyaan tunggal dari guru menjadi sub-sub
pertanyaan yang relevan dengan pertanyaan guru.
Contoh 1 :
Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak
menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit. Berapakah banyaknya anak yang menyukai
biskuit dan cokelat?
Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.
a) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai cokelat?
b) Berapa banyaknya anak yang hanya menyukai biskuit?
Contoh 2:
Diketahui soal sebagai berikut.
Sebanyak 20.000 galon air diisikan ke kolam renang dengan kecepatan tetap. Setelah 4 jam
pengisian, isi kolam renang tersebut menjadi 5/8 nya. Jika sebelum pengisian kolam tersebut
telah berisi seperempatnya, berapakah kecepatan aliran air tersebut?
Soal-soal yang mungkin disusun siswa yang dapat mendukung penyelesaian soal tersebut adalah
sebagai beirkut.
a. Berapa galon air di kolam renang ketika kolam itu berisi seperempatnya?
Berapa galon air di kolam renang ketika kolam renang itu bersisi 5/8 nya?
b. Berapakah perubahan banyaknya air dalam kolam renang setelah 5 jam pengisian?
c. Berapakah rata-rata perubahan banyaknya air di kolam renang itu?
d. Berapa waktu yang diperlukan untuk mengisi kolam renang tersebut sampai penuh?
c.

Post solution posing


Post solution posing yaitu siswa membuat soal yang sejenis, seperti yang dibuat oleh guru. Jika
guru memberikan pertanyaan sebagai berikut.
Contoh 1:
Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak
menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit
1) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai biskuit?
2) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai cokelat?
3) Berapakah banyaknya anak yang menyukai biskuit dan cokelat?
Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.
Dari 42 siswa, 45 siswa menyukai atletik, 38 siswa menyukai senam, dan hanya 8 siswa
yang tidak menyukai atletik dan senam.
1) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai atletik?
2) Berapakah banyaknya anak yang hanya menyukai senam?
3) Berapakah banyaknya anak yang menyukai atletik dan senam?
Contoh 2 :
Luas persegi panjang dengan panjang 2 m dan lebar 4 m adalah 8 m2 .

Soal-soal yang dapat disusun adalah sebagai berikut.


a. Bagaimana jika lebarnya bukan 2 m tetapi 3 m? Bagaimana luasnya?
b. Apa yang terjadi jika mengubah panjang dan lebarnya masing-masing menjadi dua kali?
Apakah luasnya juga akan menjadi dua kali luas semula?
c. Bagaimana jika kita mengubah panjangnya menjadi dua kali dan mengurangi lebarnya
menjadi setengahnya? Apakah luasnya akan tetap?
d. Tentukan panjang dan lebar suatu persegi panjang yang luasnya sama dengan dua kali
luas persegi panjang semula.
Dalam model pembelajaran pengajuan soal (problem posing) siswa dilatih untuk
memperkuat dan memperkaya konsep-konsep dasar matematika. Dengan demikian, kekuatankekuatan model pembelajaran problem posing sebagai berikut.
a.
b.
c.

Memberi penguatan terhadap konsep yang diterima atau memperkaya konsep-konsep dasar.
Diharapkan mampu melatih siswa meningkatkan kemampuan dalam belajar.
Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah
pemecahan masalah.
(Suyitno, 2003:7-8).
Langkah-Langkah Pembelajaran Problem Posing
Langkah-langkah pembelajaran menggunakan pendekatan problem posing menurut
Budiasih dan Kartini dalam Syarifulfahmi adalah sebagai berikut:
1. Membuka kegiatan pembelajaran.
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
3. Menjelaskan materi pelajaran.
4. Memberikan contoh soal.
5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas
6. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membentuk soal dan menyelesaikannya
7. Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan
8. Membuat rangkuman berdasarkan kesimpulan yang dibuat siswa.
9. Menutup kegiatan pembelajaran.
Menurut Srini M. Iskandar dalam Syarifulfahmi, batasan mengenai pembentukan soal
adalah sebagai berikut:
1. Perumusan ulang soal yang sudah ada dengan perubahan agar menjadi lebih sederhana dan
mudah dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit.
2. Perumusan atau pembentukan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah
diselesaikan dalam rangka mencari alternatif pemecahan yang lain.
3. Perumusan atau pembentukan soal dari kondisi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika,
atau sesudah penyelesaian soal.
Adapun kondisi dalam pembentukan soal, menurut Srini M. Iskandar dalam Syarifulfahmi
dibagi menjadi tiga golongan yakni:
1. Kondisi bebas, yakni jika kondisi tersebut memberi kebebasan sepenuhnya kepada siswa untuk
membentuk soal, karena siswa tidak diberi kondisi yang harus dipenuhi.
2. Kondisi semi terstruktur, yakni jika siswa diberi suatu kondisi dengan menggunakan
pengetahuan yang dimilikinya.
3. Kondisi terstruktur, adalah jika kondisi yang digunakan berupa soal atau penyelesaian soal.
Menurut Terry Dash dalam Syarifulfahmi, penyusunan soal-soal baru dapat digali dari soal
yang sudah ada. Artinya, soal yang sudah ada dapat menjadi bibit untuk soal baru dengan mengubah,
menambah, atau mengganti satu atau lebih karakteristik soal yang terdahulu. Adapun langkahlangkahnya sebagai berikut:
1. Change the numbers
Salah satu cara membuat soal dari soal yang sudah ada adalah dengan mengubah bilangan.
2. Change the operations
Cara lain membuat soal dari soal yang sudah tersedia adalah dengan mengubah operasi
hitungnya.

Kemampuan siswa dalam membentuk soal dapat dikembangkan dengan cara guru
memberikan beberapa contoh seperti berikut:
1. Membentuk soal dari soal yang sudah ada atau memperluas soal yang sudah ada.
2. Menyusun soal dari suatu situasi, atau berdasarkan gambar di majalah atau surat kabar, atau
membuat soal mengenai benda-benda konkret yang dapat dimanipulasi (dikutak-kutik).
3. Memberikan soal terbuka.
4. Menyusun sejumlah soal yang mirip tetapi dengan taraf kesilitan yang bervariasi.
Kegiatan yang berkaitan dengan pembentukan soal, secara teknis yang dapat dilakukan
adalah:
1. Siswa menyusun soal secara individu. Dalam penyusunan soal ini, hendaknya siswa tidak asal
menyusun soal, akan tetapi juga mempersiapkan jawaban dari soal yang sedang disusunnya.
Dengan kata lain, setelah siswa tersebut dapat membuat soal, maka dia juga dapat
menyelesaikan soal tersebut.
2. Siswa menyusun soal. Soal yang telah tersusun tersebut kemudian diberikan kepada teman
sekelasnya. Distribusi soal-soal yang telah tersusun tersebut dapat menggunakan cara
penggeseran atau dengan cara bertukar dengan teman semeja. Artinya, distribusi soal tersebut
secara individu.
3. Agar lebih bervariasi dan lebih menumbuhkan sikap aktif, interaktif, dan kretaif, maka dapat
dibentuk kelompok-kelompok kecil untuk menyusun soal dan soal tersebut didistribusikan
kepada kelompok lain untuk diselesaikan. Soal dari kelompok tersebut, diharapkan tingkat
kesulitannya lebih tinggi dari soal yang disusun secara individu.

PEMBAHASAN
Berbagai kajian analitis maupun hasil studi yang menunjukkan keterkaitan antara
kemampuan pembuatan soal (problem posing) dan kemampuan pemecahan masalah dapat dijadikan
dasar bagi guru untuk menerapkan problem posing dalam pembelajaran dalam rangka
mengembangkan kemampuan pemecahan masalah. Pembelajaran demikian perlu dilakukan secara
terus-menerus untuk memperoleh hasil optimal. Guru dapat memvariasikan berbagai metode
problem posing sebagaimana diuraikan di atas guna lebih memperkaya pembelajaran tersebut.
Berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan di atas, pendekatan problem posing telah
diterapkan di beberapa sekolah, misalnya penelitian yang berjudul Penggunaan Metode Problem
Posing dalam Proses Pembelajaran Matematika oleh Aryanti Aeni Hidayah (2013) menyimpulkan
bahwa Pembelajaran matematika dengan metode problem posing mampu membuat siswa aktif dan
kreatif, hal ini terlihat dari kemampuan siswa mengembangkan soal matematika sendiri berdasarkan
informasi yang diberikan. Siswa mampu mengolah dan mengeksplorasikan informasi yang ada dan
mengajukan masalah atau soal-soal matematika yang dapat diselesaikan. Begitu pula penelitian yang
dilaksanakan oleh Gilang Anjar Permatasari (2013), Keefektifan Model Pembelajaran Problem
Posing Dengan Pendekatan PMRI Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Di Smp Negeri 2
Karanganyar Kabupaten Demak menyimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Posing
efektif terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik kelas VII SMP Negeri 2 Karanganyar
Kabupaten Demak tahun pelajaran 2012/ 2013 pada materi pokok segiempat. Selain itu Hardita Citra
Hutama (2014) juga mengembangkan melalui penelitiannya yang berjudul Pengaruh Pendekatan
Problem Posing Terhadap Pemahaman Konsep Matematika Siswa, hasilnya menyimpulkan bahwa
pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan pendekatan problem posing lebih
tinggi daripada pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan pendekatan
ekspositori. Beberapa penelitian yang telah penulis ungkapkan di atas menunjukkan bahwa
pendekatan problem posing masih banyak diterapkan pada pembelajaran Matematika.
Kelebihan dan Kekurangan Problem Posing
Dalam setiap pembelajaran pasti ada sisi kelebihan ataupun keunggulan dan kekuruangan
atau kelemahan. Begitu juga didalam pembelajaran melalui pendekatan problem posing mempunyai
beberapa kelebihan dan kelemahan menurut Rahayuningsih, 2002:18 dalam Sutisna, diantaranya
adalah:

a.

Kelebihan Problem Posing


1) Kegiatan pembelajaran tidak terpusat pada guru, tetapi dituntut keaktifan siswa.
2) Minat siswa dalam pembelajaran matematika lebih besar dan siswa lebih mudah memahami
soal karena dibuat sendiri.
3) Semua siswa terpacu untuk terlibat secara aktif dalam membuat soal.
4) Dengan membuat soal dapat menimbulkan dampak terhadap kemampuan siswa dalam
menyelesaikan masalah.
5) Dapat membantu siswa untuk melihat permasalahan yang ada dan yang baru diterima
sehingga diharapkan mendapatkan pemahaman yang mendalam dan lebih baik,
merangsang siswa untuk memunculkan ide yang kreatif dari yang diperolehnya dan
memperluan bahasan/ pengetahuan, siswa dapat memahami soal sebagai latihan untuk
memecahkan masalah.

b.

Kekurangan Problem Posing


1) Persiapan guru lebih karena menyiapkan informasi apa yang dapat disampaikan
2) Waktu yang digunakan lebih banyak untuk membuat soal dan penyelesaiannya sehingga
materi yang disampaikan lebih sedikit.

KESIMPULAN
Pembelajaran dengan pendekatan problem posing tidak dapat dilepaskan dari kegiatan
memecahkan masalah/soal, karena memecahkan masalah adalah salah satu unsur utama dalam
pembelajaran matematika.Dalam problem posing, siswa diberi kegiatan untuk membuat/membentuk
soal kemudian menyelesaikan/memecahkan soal tersebut sesuai dengan konsep atau materi yang
telah dipelajari.
Persoalan yang harus dipecahkan oleh siswa datang dari siswa itu sendiri atau siswa yang
lain dalam Pembelajaran menggunakan pendekatan problem posing. Pemecahan masalah memacu
fungsi otak anak, mengembangkan daya pikir secara kreatif untuk mengenali masalah, dan mencari
alternatif pemecahannya.
Proses pemecahan masalah terletak pada diri pelajar, variabel dari luar hanya merupakan
intruksi verbal yang bersifat membantu atau membimbing pelajar untuk memecahkan masalah.
Memecahkan masalah dapat dipandang sebagai proses dimana pelajar menemukan kombinasikombinasi aturan yang telah dipelajarinya lebih dahulu kemudian menggunakannya untuk
memecahkan masalah. Namun memecahkan masalah tidak hanya menerapkan aturan-aturan yang
telah diketahui tetapi juga memperoleh pengetahuan baru.
Berdasarkan analisis terhadap kajian teori dan beberapa penelitian yang telah dilakukan
oleh beberapa peneliti maka dapat penulis simpulkan bahwa Model pembelajaran problem posing
dapat digunakan sebagai salah satu usaha peningkatan kemampuan siswa aktif, karena dari hasil
penelitian menunjukkan siswa cenderung terdorong untuk aktif selama proses pembelajaran
matematika.

SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dan pentingnya pengembangan pembelajaran
matematika, ada beberapa saran yang dapat diperhatikan.
1. Secara teoritis pengajuan soal atau masalah (problem posing) merupakan aktivitas yang
penting dan mempunyai pengaruh positif terhadap proses pembelajaran matematika, sehingga
perlu ada perhatian khusus terhadap peran problem posing dalam meningkatkan kualitas proses
pembelajaran matematika.
2. Problem posing suatu pendekatan dalam pembelajaran yang terbilang masih baru berada di
Indonesia, yaitu sekitar tahun 2000 baru masuk ke Indonesia. Oleh karena itu diharapkan
implementasi dari model pembelajaran ini, karena dengan pendekatan problem posing siswa
dilatih untuk memperkuat dan memperkaya konsep-konsep dasar matematika. Selain itu
pembelajaran problem posing merupakan keterampilan mental, siswa menghadapi suatu
kondisi dimana diberikan suatu permasalahan dan siswa memecahkan masalah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Aryanti dan Leonard. (2013). Penggunaan Metode Problem Posing Dalam Proses Pembelajaran
Matematika. Majalah Ilmiah Faktor Vol. 1 No. 1 Januari 2013
Asari, Abdul Rahman.2000. Pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing. Buletin
Pelangi Pendidikan, 17(2), 4245.
Djamarah, S.B. 2002. Psikologi belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Hurlock, E.B. 1992. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga
Munandar, U. 2009.Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: PT.Rineka Cipta.
Sudarman.2007. Problem Based Learning : Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan dan
Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah, Jurnal Pendidikan Inovatif , 2 : 68-73
Sutisna. (2010). Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing.
[Online]. Tersedia : http://sutisna.com/artikel/artikel - kependidikan/kelebihan - dan kelemahan-pembelajaran-dengan-pendekatan-problem-posing/ (01 Maret 2015).
Suyitno, A. 2004. Dasar-dasar Proses Pembelajaran Matematika. Semarang : Pendidikan
Matematika FMIPA UNNES.
Syarifulfahmi. (2009). Pendekatan Pembelajaran Problem Posing. [Online]. Tersedia ;
http://syarifulfahmi.blogspot.com/2009/09/pendekatan-pembelajaran-problemposing.html. (21 Februari 2015).
Winkel W.S. 1983. Psikologi dan Evaluasi Belajar. Jakarta : PT. Gramedia.

Beri Nilai