Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Pneumonia
Pneumonia merupakan penyakit dari paru-paru dan sistem pernapasan dimana
alveoli(mikroskopik udara mengisi kantong dari paru yang bertanggung jawab untuk menyerap
oksigen dari atmosfer) menjadi radang dan dengan penimbunan cairan.
Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan adanya
konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. (Axton & Fugate, 1993)
Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yang
umumnya disebabkan oleh agent infeksi
Sejarah Pneumonia
Gejala-gejala dari pneumonia yang digambarkan oleh Hippocrates(c.460 BC-380BC):
Peripneumonia dan pleuritis dapat diamati jika demam akut,dan jika sa kit pad salah satu bagian
atau keduanya jika bernapas,jika ada batuk dengan pengeluaran sputum berwarna kemerahan
atau kelabu kehitaman atau juga encer,berbusa dan kemerah-merahan atau memiliki karakter lain
yang berbeda dari keadaan... ketika pneumonia menjadi parah,kasus ini terlalu sulit ditolong,jika
dia tidak menyingkirkan,jika ada sesak dan sedikit jumlah urine dan bau tajam,berkeringat
sekitar leher dan kepala,berkeringat seperti itu keadaan buruk beralih ke mati lemas,rales dan
memperoleh siksaan yang sangat dari penyakit tersebut.
Bagaimanapun,Hippocrates sendiri mengarahkan pneumonia sebagai suatu penyakit
istilah kuno.Dia juga melaporkan hasil pengaliran empyema melalui pembedahan.
Maimonides(1138-1204 AD) mengamatidasar gejala-gejala terjadinya pneumonia dan tidak
pernah ketinggalan meninjau,demam akut,pita perekat sakit pada samping(pleuritis), laju nafas
pendak,denyut yang bergerigi dan batuk.

Klasifikasi Pneumonia

Klasifikasi menurut Zul Dahlan (2001) :


a) Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas :
Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris dengan opasitas
lobus atau lobularis.
Pneumonia atipikal, ditandai gangguan respirasi yang meningkat lambat
dengan gambaran infiltrat paru bilateral yang difus.
b) Berdasarkan faktor lingkungan :
Pneumonia komunitas
Pneumonia nosokomial
Pneumonia rekurens
Pneumonia aspirasi
Pneumonia pada gangguan imun
Pneumonia hipostatik
c) Berdasarkan sindrom klinis :
Pneumonia bakterial berupa : pneumonia bakterial tipe tipikal yang terutama
mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia dan pneumonia
lobar serta pneumonia bakterial tipe campuran atipikal yaitu perjalanan
penyakit ringan dan jarang disertai konsolidasi paru.
Pneumonia non bakterial, dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan
Mycoplasma, Chlamydia pneumoniae atau Legionella.
Klasifikasi berdasarkan Reeves (2001) :
a) Community Acquired Pneunomia
Dimulai sebagai penyakit pernafasan umum dan bisa berkembang menjadi
pneumonia. Pneumonia Streptococal merupakan organisme penyebab umum. Tipe
pneumonia ini biasanya menimpa kalangan anak-anak atau kalangan orang tua.

b) Hospital Acquired Pneumonia


Dikenal
sebagai pneumonia nosokomial. Organisme seperti ini aeruginisa
pseudomonas. Klibseilla atau aureus stapilococcus, merupakan bakteri umum
penyebab hospital acquired pneumonia.
c) Lobar dan Bronkopneumonia
Dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi infeksi. Sekarang ini pneumonia
diklasifikasikan menurut organisme, bukan hanya menurut lokasi anatominya saja.
d) Pneumonia viral,

Bakterial

dan fungi dikategorikan berdasarkan pada agen penyebabnya, kultur

sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan organisme perusak.


B. Pengertian Emboli Paru
Emboli Paru (Pulmonary Embolism)adalah penyumbatan arteri pulmonalis (arteri
paru-paru) oleh suatu embolus, yang terjadi secara tiba-tiba.
Emboli paru merupakan keadaan terjadinya obstruksi sebagian atau total sirkulasi
arteri pulmonalis atau cabang-cabang akibat tersangkutnya Emboli thrombus atau Emboli
yang lain (Aru W. Sudoyo, 2006).
Klasifikasi Emboli Paru
a) Embolus besar
Tersangkut di arteri pulmonalis besar atau dari percabangan arteri pulmonali.
Dapat menyebabkan kematian seketika
Dapat menyebabkan kolaps kardiovaskuler dan gangguan hemodinamik.
b) Embolus Kecil
Tidak menimbulkan gejala klinis pada penderita tanpa kelemahan
kardiovaskuler.
Dapat menyebabkan nyeri dadasepintas dankadang-kadang hemoptisi karena
pendarahan paru
Pada penderita dengan kelemahan sirkulasi pulmoner (payah jantung) dapat
menyebabkan infark
BAB III
PEMBAHASAN
A. PNEUMONIA
1. Pengertiaan
Pneumonia merupakan penyakit dari paru-paru dan sistem pernapasan dimana
alveoli(mikroskopik udara mengisi kantong dari paru yang bertanggung jawab untuk
menyerap oksigen dari atmosfer) menjadi radang dan dengan penimbunan cairan.
Pneumonia disebabkan oleh berbagai macam sebab,meliputi infeksi karena
bakteri,virus,jamur atau parasit.
Pneumonia merupakan penyakit yang umum nya terjadi pada semua kelompok
umur, danmenunjukan penyebab kematian pada orang tua dan orang dengan penyakit
kronik.Tersedia vaksin tertentu untuk pencegahan terhadap jenis pnuemonia.Prognosis

untuk tiap orang berbeda tergantung dari jenis pneumonia, pengobatan yang tepat,ada
tidaknya komplikasi dan kesehatan orang tersebut.
2. Etiologi
Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti:

Bakteri : stapilokokus, streplokokus, aeruginosa, eneterobacte


Virus
: virus influenza, adenovirus
Micoplasma pneumonia
Jamur : candida albicans
Aspirasi : lambung
Pneumonia juga dapat terjadi karena bahan kimia atau kerusakan fisik dari paru

paru,atau secara tak langsung dari penyakit lain seperti kanker paru atau penggunaan
alkohol
3. Tanda dan Gejala
Sesak nafas
Batuk non produktif
Ingus (nasal discharge)
Suara napas lemah
Retraksi intercosta
Penggunaan otot bantu nafas
Demam
Ronchii
Cyanosis
Leukositosis
Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar
4. Patofisiologi
Gejala dari infeksi pneumonia disebabkan invasi pada paru-paru oleh
mikroorganisme dan respon sistem imun terhadap infeksi.Meskipun lebih dari seratus
jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan pneumonia, hanya sedikit dari mereka
yang bertanggung jawab pada sebagian besar kasus.Penyebab paling sering pneumonia
adalah virus dan bakteri. Penyebab yang jarang menyebabkan infeksi pneumonia ialah
fungi dan parasit.
Virus

Virus menyerang dan merusak sel untuk berkembang biak.Biasanya virus


masuk kedalam paru-paru bersamaan droplet udara yang terhirup melalui mulut dan
hidung. Setelah masuk virus menyerang jalan nafas dan alveoli. Invasi ini sering
menunjukan kematian sel, sebagian virus langsung mematikan sel atau melalui
suatu tipe penghancur sel yang disebut apoptosis. Ketika sistem imun merespon
terhadap infeksi virus,dapat terjadi kerusakan paru.Sel darah putih,sebagian besar
limfosit, akan mengaktivasi sejenis sitokin yang membuat cairan masuk ke dalam
alveoli.Kumpulan dari sel yang rusak dan cairan dalam alveoli mempengaruhi
pengangkutan oksigen ke dalam aliran darah. Sebagai tambahan dari proses
kerusakan paru,banyak virus merusak organ lain dan kemudian menyebabkan
fungsi organ lain terganggu.Virus juga dapat membuat tubuh rentan terhadap infeksi
bakteri, untuk alasan ini, pneumonia karena bakteri sering merupakan komplikasi
dari pneumonia yang disebabkan oleh virus. Pneumonia virus biasanya disebabkan
oleh virus seperti vitus influensa,virus syccytial respiratory(RSV),adenovirus dan
metapneumovirus.Virus herpes simpleks jarang menyebabkan pneumonia kecuali
pada bayi baru lahir. Orang dengan masalah pada sistem imun juga berresiko
terhadap pneumonia yang disebabkan oleh cytomegalovirus(CMV).
Bakteri
Bakteri secara khusus memasuki paru-paru ketika droplet yang berada di
udara dihirup,tetapi mereka juga dapat mencapai paru -paru melalui aliran darah
ketika ada infeksi pada bagian lain dari tubuh.Banyak bakteri hidup pada bagian
atas dari saluran pernapasan atas seperti hidung,mulut,dan sinus dan dapat dengan
mudah dihirup menuju alveoli. Setelah memasuki alveoli,bakteri mungkin
menginvasi ruangan diantara sel dan diantara alveoli melalui rongga penghubung.
Invasi ini memacu sistem imun untuk mengirim neutrophil yang adalah tipe dari
pertahanan sel darah putih,menuju paru.
Neutrophil menelan dan membunuh organisme yang berlawanan dan
mereka juga melepaskan cytokin,menyebabkan aktivasi umum dari sistem imun.
Hal ini menyebabkan demam,menggigil,dan mual umumnya pada pneumoni yang
disebabkan bakteri dan

jamur. Neutrophil,bakteri,dan cairan dari sekeliling

pembuluh darah mengisi alveoli dan mengganggu transportasi oksigen. Bakteri


sering berjalan dari paru yang terinfeksi menuju

aliran darah menyebabkan

penyakit yang serius atau bahkan fatal seperti septik syok dengan tekanan darah
rendah dan kerusakan pada bagian-bagian tubuh seperti otak,ginjal,dan jantung.
Bakteri juga dapat berjalan menuju area antara paru-paru dan dinding
dada(cavitas pleura) menyebabkan komplikasi yang dinamakan empyema.Penyebab
paling umum dari pneumoni yang disebabkan bakteri adalah

Streptococcus

pneumoniae,bakteri gram negatif dan bakteri atipikal.Penggunaan istilah Gram


positif dan Gram negatif merujuk pada warna bakteri(ungu atau merah) ketika
diwarnai menggunakan proses yang dinamakan pewarnaan Gram.Istilah atipikal
digunakan karena bakteri atipikal umumnya mempengaruhi orang yang lebih
sehat,menyebabkan pneumoni yang kurang hebat dan berespon pada antibiotik yang
berbeda dari bakteri yang lain.
Tipe dari bakteri gram positif yang menyebabkan pneumonia pada hidung
atau

mulut

dari

orang

sehat.

Streptococcus

pneumoniae,

sering

disebutpneumococcus adalah bakteri penyebab paling umum dari pneumoni pada


segala usia kecuali pada neonatus.Gram positif penting lain penyebab dari
pneumoni a adalah Staphylococcus aureus.Bakteri Gram negatif penyebab
pneumonia lebih jarang daripada bakteri gram negatif.Beberapa dari bakteri gram
negatif yang menyebabka n pneumoni termasuk Haemophilus influenzae,Klebsiella
pneumoniae,Escherichia

coli,Pseudomonas

aeruginosa,dan

Moraxella

catarrhalis.Bakteri ini sering hidup pada perut atau intestinal dan mungkin
memasuki paru-paru jika muntahan terhirup.Bakteri atipikal yang menyebabkan
pneumonia termasuk Chlamydophila pneumoniae,Mycoplasma pneumoniae,dan
Legionella pneumophila.
Jamur
Pneumonia yang disebabkan jamur tidak umum,tetapi hal ini mungkin
terjadi pada individu dengan masalah sistem imun yang disebabkan AIDS,oba tobatan imunosupresif atau masalah kesehatan lain.patofisiologi dari pneumonia
yang disebabkan oleh jamur mirip dengan pneumonia yang disebabkan
bakteri,Pneumonia yang disebabkan jamur paling sering disebabkan oleh
Histoplasma capsulatum,Cryptococcus neoformans,Pneumocystis jiroveci dan
Coccidioides immitis.Histoplasmosis paling sering ditemukan pada lembah sungai

Missisipi,dan Coccidiomycosis paling sering ditemukan pada Amerika Serikat


bagian barat daya.
Parasit
Beberapa varietas dari parasit dapat mempengaruhi paru-paru.Parasit ini
secara khas memasuki tubuh melalui kulit atau dengan ditelan.Setelah memasuki
tubuh,mereka berjalan menuju paru-paru,biasanya melalui darah.
Terdapat seperti pada pneumonia tipe lain ,kombinasi dari destruksi seluler
dan respon imun yang menyebabkan ganguan transportasi oksigen.Salah satu tipe
dari sel darah putih,eosinofil berespon dengan dahsyat terhadap infeksi
parasit.Eosinofil pada paru -paru dapat menyebabkan pneumonia eosinofilik yang
menyebabkan

komplikasi

yang

mendasari

pneumonia

yang

disebabkan

parasit.Parasit paling umum yang dapat menyebabkan pneumonia adalah


Toxoplasma gondii, Strongioides stercoralis dan Ascariasis.
5. Pemeriksaan Diagnostik
Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial); dapat
juga menyatakan abses)
Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua
organisme yang ada.
Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus.
Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru,menetapkan luas berat
penyakit dan membantu diagnosis keadaan.
Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis
Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi
Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing
6. Koplikasi
Efusi pleura
Hipoksemia
Pneumonia kronik
Bronkaltasis
Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-paru yang
diserang tidak mengandung udara dan kolaps).
Komplikasi sistemik (meningitis)
7. Penatalaksanaan
Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal itu
perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya:
Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus.
Amantadine, rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus

Eritromisin, tetrasiklin, derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma.


Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda
Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia.
Bila terjadi gagal nafas, diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup.

ASUHAN KEPERAWATAN PNEUMONIA


a. Pengkajian
Data dasar pengkajian pasien:
Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
Sirkulasi
Gejala : riwayat adanya
Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat
Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus
Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan kakeksia
(malnutrisi)
Neurosensori
Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)
Tanda : perusakan mental (bingung)
Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia, artralgia.
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan)
Pernafasan
Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.
Tanda :
sputum: merah muda, berkarat
perpusi: pekak datar area yang konsolidasi
premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi
Bunyi nafas menurun
Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku

Keamanan
Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan steroid, demam.
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar
Penyuluhan/pembelajaran
Gejala
: riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis
Tanda

: DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 8 hari

Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah


b. Diagnosa Keperawatan
Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial,
pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen
darah.
c. Rencana Keperawatan
Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial,
pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
Tujuan dan Kriteria Hasil Tujuan dan Kriteria Hasil: Setelah diberikan asuhan
keperawatan 2x24 jam diharapkan bersihan jalan napas efektif dengan kriteria hasil :
Batuk efektif
Nafas normal (12-20x/menit)
Bunyi nafas bersih
Sianosis
Intervensi

Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada


R : Takipnea, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi
karena ketidaknyamanan.
Auskultasi area paru, catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi nafas
R : Penurunan aliran darah terjadi pada area konsolidasi dengan cairan.
Biarkan teknik batuk efektif
R: Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami untuk mempertahankan
jalan nafas paten.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi: mukolitik, eks.
R : Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret, analgetik
diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi
harus digunakan secara hati-hati, karena dapat menurunkan upaya batuk/menekan
pernafasan.

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen


darah.
Sianosis
Tujuan dan Kriteria Hasil : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
gangguan pertukaran gas dapat teratasi dengan kriteria hasil :

Nafas normal (12-20x/menit)


Sesak
Hipoksia
Gelisah

Intervensi

Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas


R : Manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan
paru dan status kesehatan umum.
Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku. Catat adanya sianosis perifer (kuku)
atau sianosis sentral.
R: Sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi respon tubuh terhadap demam/menggigil
namun sianosis pada daun telinga, membran mukosa dan kulit sekitar mulut
menunjukkan hipoksemia sistemik.
Kaji status mental.
R: Gelisah mudah terangsang, bingung dan somnolen dapat menunjukkan hipoksia
atau penurunan oksigen serebral.
Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk efektif.
R : Tindakan ini meningkat inspirasi maksimal, meningkat pengeluaran sekret
untuk memperbaiki ventilasi tak efektif.
Kolaborasi dengan tim dokter dalam memberikan terapi oksigen dengan benar misal
dengan nasal plong master, master venturi.
R : Mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg. O2 diberikan dengan metode yang
memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pe.
Implementasi
Dilakukan sesuai dengan rencana tindakan menjelaskan setiap tindakan yang akan
dilakukan sesuai dengan pedoman atau prosedur teknik yang telah ditentukan.

Evaluasi
Kriteria keberhasilan:
Berhasil
Tuliskan kriteria keberhasilannya dan tindakan dihentikan
Tidak berhasil
Tuliskan mana yang belum berhasil dan lanjutkan tindakan.
B. EMBOLI PARU
1. Pengertian
Emboli Paru adalah penyumbatan arteri pulmonalis (arteri paru-paru) oleh suatu
embolus, yang terjadi secara tiba-tiba. Suatu emboli bisa merupakan gumpalan darah
(trombus), tetapi bisa juga berupa lemak, cairan ketuban, sumsum tulang, pecahan tumor
atau gelembung udara, yang akan mengikuti aliran darah sampai akhirnya menyumbat
pembuluh darah.
Emboli paru adalah obstruksi salah satu atau lebih arteri pulmonalis oleh trombus
yang berasal dari suatu tempat. Embolisme pulmonal tersebut mengacu pada obstruksi
salah satu arteri pulmonal atau lebih oleh thrombus (trombi) yang berasal dari suatu
tempat dalam system venosa atau jantung sebelah kiri, yang terlepas, dan terbawa ke
paru. Kondisi ini merupakan kelainan umum yang berkaitan dengan trauma, bedah,
kehamilan, dan imobilitas yang berkepanjangan. Sebagian besar trombus berasal dari
vena tungkai.

2. Etiologi
Berdasakan hasil hasil penelitian dari autopsy paru pasien yang meninggal karena
penyakit ini menunjukan dengan jelas disebabkan oleh trombos pada pembuluh darah,
terutama vena ditungkai bawah atau dari jantung kanan. Sumber Emboli paru yang lain
misalnya tumor yang telah menginvasi sirkulasi vena (Emboli tumor), udara, lemak,
sumsum tulang dan lain lain. Kemudian material Emboli beredar dalam peredaran
darah sampai disirkulasi pulmonal dan tersangkut pada cabang cabang arteri pulmonal,
memberi akibat timbulnya gejala klinis.
Faktor-faktor predisposisi terjadinya emboli paru menurut virchow 1856 atau sering
disebut sebagai physiological risk factors meliputi :
Adanya aliran darah lambat (statis).
Kerusakan dinding pembuluh darah vena.

Keadaan darah mudah membeku (hiperkoagulasi).


Kebanyakan kasus emboli paru menurut brunner & suddarth (1996) disebabkan
oleh :

Bekuan darah.
Gelembung udara.
Lemak.
Gumpalan parasit.
Sel tumor.

3. Tanda dan Gejala


Gejala-gejala embolisme paru tergantung pada ukuran thrombus dan area dari arteri
pulmonal yang tersumbat oleh thrombus. Gejala-gejala mungkin saja tidak spesifik. Nyeri
dada adalah gejala yang paling umum dan biasanya mempunyai awitan mendadak dan
bersifat pleuritik. Kadang dapat subternal dan dapat menyerupai angina pectoris atau
infark miokardium. Dyspnea adalah gejala yang paling umum kedua yang di ikuti dengan
takipnea, takikardi, gugup, batuk, diaforesis, hemoptisis, dan sinkop. (brunner dan
suddarth, 1996, 621).
Embolisme massif yang menyumbat bifurkasi arteri pulmonal dapat menyebabkan
dyspnea nyata, nyeri substernal mendadak, nadi cepat dan lemah, syok, sinkop dan
kematian mendadak. Emboli kecil multiple dapat tersangkut pada arteri pulmonal
terminal, mengakibatkan infark kecil multiple pada paru-paru. Gambaran klinis dapat
menyerupai bronkopneumoni atau gagal jantung. (brunner dan suddarth, 1996, 621622).
4. Patofisiologi
Ketika trombus menyumbat sebagian atau seluruh arteri pulmonal, ruang rugi
alveolar membesar karena area, meski terus mendapat ventilasi, menerima aliran darah
sedikit maupun tidak sama sekali. Selain itu sejumlah subtansi yang dilepaskan dari
bekuan dan menyebabkan pembuluh darah bronkhiolus berkonstriksi. Reaksi ini
diseimbangi ketidak seimbangan ventilasi perfusi, menyebabkan darah terpirau dan
mengakibatkan

penurunan

kadar

O2

dan

peningkatan

CO2.

(brunner

dan

suddarth,2001.621)
Konsekuensi himidinamik adalah peningkatan tahanan vascular paru akibat
penurunan ukuran jarring-jaring vascular pulmonal., menyebabkan peningkatan tekanan

arteri pulmonal dan akhirnya mningkatkan kerja ventrikel kanan untuk mempertahankan
aliran darah pulmonal. Bila kebutuhan ventrikel kanan melebihi kapasitasnya, maka akan
terjadi gagal ventrikl kanan yang mengarah pada penurunan tekanan darah sistemik dan
terjadinya syok. (brunner dan suddarth,2001.621)
Embolus berjalan keparu paru dan diam di pembuluh darah paru paru. Ukuran
dan jumlah emboli ditentukan oleh lokasi. Aliran darah terobstruksi sehingga
menyebabkan penurunan perfusi dari bagian paru paru yang disuplai oleh pembuluh
darah.
Akibat buruk yang paling awal terjadi tromboemboli adalah obstruksi komplit atau
parsial aliran darah arteri pulmonalis bagian distal. Obstruksi ini akan mengakibatkan
serangkaian kejadian patofisiologik yang dapat dikelompokkan sebagai Pernapasan dan
Hemodinamik sebagai akibat trombo emboli paru paru (TEP).
Konsekuensi Pernapasan
Obstruksi akibat emboli adalah menyebabkan daerah paru paru yang
berventilasi tidak mampu melakukan perfusi anatomical dead space intra
pulmonalis karena dead space tidak terjadi pertukaran gas, ventrikel daerah yang
nonperfusi ini sia sia dalam arti fungsional. Konsekuensi potensial yang
ditimbulkan obstruksi emboli ini adalah konstruksi ruang udara dan jalan napas
pada daerah paru paru yang terlibat. Pneumokonstriksi ini dapat dilakukan
sebagai mekanisme homeostasis untuk mengurangi ventilasi yang terbuang,
kelihatannya disebabkan oleh hipokapnia bronkoalveolar yang merupakan hasil
penghentian aliran darah kapiler paru paru karena aliran tersebut dihilangkan oleh
inhalasi udara yang kaya dengan karbondioksida. Gangguan lain akibat obstruksi
emboli adalah hilangnya surfaktan alveolar, namun hal tersebut tidak terjadi dengan
cepat. Hipoksima arteri bisa dijumpai, walaupun sama sekali bukan merupakan
akibat dari tromboemboli paru paru.
Konsekuensi Hemodinamik
Konsekuensi hemodinamik

utama

yang

diakibatkan

oleh

obstruksi

tromboembolik adalah reduksi daerah potongan melintang dari jaringan arteri


pulmonalis. Hilangnya kapasitas vaskuler ini meningkatkan resistensi aliran darah
paru paru yang bisa bermakna akan berkembang menjadi hipertensi paru paru

dan gagal ventrikel kanan akut. Takikardia dan kadang penurunan curah jantung
juga dapat terjadi.
5. Pemeriksaan Diagnostik
Laboratorium
Pemeriksaan darah tepi: Kadang kadang ditemukan leukositosis dan
lajuendap darah yang sedikit tinggi.
Kimia darah: Peningkatan kadar enzim SGOT, LDH
Analisis gas darah: Pao2 rendah (Hipoksemia), menurunnya Pa Co2 atau
dibawah 40 mmhg.
Elektrokardiografi
Kelainan yang ditemukan pada elektrokardiografi juga tidak spesifik untuk
emboli paru, tetapi paling tidak dapat dipakai sebagai pertanda pertama dugaan
adanya emboli paru, terlebih kalau digabungkan dengan keluhan dan gambaran
klinis lainnya.
Rontgen Thorax
Pada pemeriksaan foto rontgen dada pasien emboli paru, biasanya ditemui
kelainan yang sering berhubungan dengan adanya kelainan penyakit kronik paru
atau jantung pada pasien emboli paru tanda radiologi yang sering didapatkan adalah
pembesaran arteri pulmonalis desendens, peninggian diagfrakma bilateral,
pembesaran jantung kanan, densitas paru daerah terkena dan tanda westermark.
Gas darah arteri (GDA)
menunjukkan hipoksemia (PaO2 kurang dari 80MmHg)dan alkalosis
respiratori (PaCO2 kurang dari 35MmHg dan pH lebih tinggi dari 7,45). Alkalosis
respiratori dapat di sebabkan oleh hiperventilasi
Skanning paru-paru(skanning ventilasi dan perfusi) untuk mengetahui area yang
mengalami hipoperfusi
6. Komplikasi
Menurut Contran Kuman Rabbins (1996), komplikasi yang terjadi adalah :
Asma Bronkhial
Asma adalah suatu gangguan pada saluran bronchial dengan ciri
bronkospasme periodic (kontraksi spasme pada saluran napas). Asma merupakan
penyakit kompleks yang dapat diakibatkan oleh faktor biokimia, endokrin, infeksi,
otonomik, dan psikologi.
Efusi Pleura

Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapatnya penumpukkan cairan


dalam rongga pleura.
Anemia
Anemia adalah penurunan kuantitas atau kualitas sel sel darah merah dalam
sirkulasi. Anemia dapat disebabkan oleh gangguan pembentukan sel darah
merah,peningkatan kehilangan sel darah merah melalui perdarahan kronik atau
mendadak, atau lisis (destruksi) sel darah merah yang berlebihan.
Emfisema
Emfisema adalah keadaan paru yang abnormal, yaitu adanya pelebaran rongga
udara pada asinus yang sipatnya permanen. Pelebaran ini disebabkan karena adanya
kerusakan dinding asinus. Asinus adalah bagian paru yang terletak di bronkiolus
terminalis distal. Ketika membicarakan emfisema, penyakit ini selalu dikaitkan
dengan kebiasaan merokok. Oleh karena itu, beberapa ahli menyamakan antara
emfisema dan bronchitis kronik.
Hipertensi Pulmoner
Hipertensi pulmoner primer (HPP) adalah kelainan paru yang jarang, dimana
didapatkan peningkatan tekanan arteri polmonalis jauh diatas normal tanpa
didapatkan penyebab yang jelas. Tekanan arteri polmonal normal pada waktu
istirahat adalah lebih kurang 14 mmhg. Pada HPP tekanan arteri polmonal akan
lebih dari 25 mmhg saat istirahat, dan 30 mmhg saat aktifitas HPP akan
meningkatkan tekanan darah pada cabang cabang arteri yang lebih kecil di paru,
sehingga meningkatkan tahanan (resistensi) vaskuler dari aliran darah di paru.
Peningkatan tahanan arteri pulmonal ini akan menimbulkan beban pada ventrikel
kanan sehingga harus bekerja lebih kuat untuk memompa darah ke paru.
7. Penatalaksanaan
Menurut brunner dan suddarth (1996) Tujuan pengobatan adalah untuk
menghancurkan (lisis) emboli yang ada dan mencegah pmbentukan yang baru.
Pengobatan embolisme paru dapat mencakup beragam modalitas :
Terapi Antikoagulan.
Terapi Trombolitik.
Tindakan umum untuk meningkatkan status pernafasan dan vascular.
Intervensi Bedah.

Terapi koagulasi meliputi heparin, natrium warfarin telah menjadi metoda


primer secara tradisional untuk mengatasi trombosis vena profunda akut dan embolisme
paru. Terapi tromboilitik meliputi urokinase, streptokinase mungkin juga digunakan
dalam mengatasi embolisme paru, terutama pada paien yang sangat terganggu. Terapi
trombolitik menghancurkan trombus atau emboli lebih cepat dan memulihkan fungsi
himodinamik sirkulasi paru lbih besar, karena mengurang hipertensi paru dan
memperbaiki perfusi, oksigenasi, dan curah jantung.
Tindakan umum dilakukan untuk memperbaiki status pernafasan dan vaskular
pasien.

Terapi

oksigen

diberikan

untuk

memperbaiki

hipoksia

dan

untuk

menghilangkan vasokontriksi vaskular paru dan dan mengurangi hipertensi paru.


Kemudian Intervensi bedah yang dilakukan adalah embolektomi paru tapi embolektomi
dapat diindikasikandalam kondisi berikut :
jika pasien mengalami hipotensi persisten, syok, dan gawat panas.
jika tekanan arteri pulmonal sangat tinggi.
jika anngiogram menunjukkan obtruksi bagian besar mbuluh darah paru.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA EMBOLI PARU
a. Pengkajian
Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin,pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku
bangsa.
Keluhan Utama
Klien sering mengeluh nyeri dada tiba tiba dan sesak napas.
Keluhan utama akan menentukan prioritas intervensi dan mengkaji pengetahuan
klien tentang kondisinya saat ini. Keluhan utama yang biasa muncul pada klien emboli
paru antara lain : batuk, peningkatan produksi sputum, dyspnea, hemoptysis, wheezing,
Stridor dan chest pain.
Batuk (Cough)
Batuk merupakan gejala utama pada klien dengan penyakit sistem pernafasan.
Tanyakan berapa lama klien batuk (misal 1 minggu, 3 bulan). Tanyakan juga bagaimana
hal tersebut timbul dengan waktu yang spesifik (misal : pada malam hari, ketika bangun
tidur) atau hubungannya dengan aktifitas fisik. Tentukan batuk tersebut apakah
produktif atau non produktif, kongesti, kering.
Dyspnea

Dyspnea merupakan suatu persepsi kesulitan untuk bernafas/nafas pendek dan


merupakan perasaan subjektif klien. Perawat mengkaji tentang kemampuan klien untuk
melakukan aktifitas. Contoh ketika klien berjalan apakah dia mengalami dyspnea ?. kaji
juga kemungkinan timbulnya paroxysmal nocturnal dyspnea dan orthopnea, yang
berhubungan dengan penyakit paru kronik dan gagal jantung kiri.
Hemoptysis
Hemoptysis adalah darah yang keluar dari mulut dengan dibatukkan. Perawat
mengkaji apakah darah tersebut berasal dari paru-paru, perdarahan hidung atau perut.
Darah yang berasal dari paru biasanya berwarna merah terang karena darah dalam paru
distimulasi segera oleh refleks batuk. Penyakit yang menyebabkan hemoptysis antara
lain: Bronchitis Kronik, Bronchiectasis, TB Paru, Cystic fibrosis, Upper airway
necrotizing granuloma, emboli paru, pneumonia, kanker paru dan abses paru.
Chest Pain
Chest pain (nyeri dada) dapat berhubungan dengan masalah jantung dan paru.
Gambaran yang lengkap dari nyeri dada dapat menolong perawat untuk membedakan
nyeri pada pleura, muskuloskeletal, cardiac dan gastrointestinal. Paru-paru tidak
mempunyai saraf yang sensitif terhadap nyeri, tetapi iga, otot, pleura parietal dan
trakeobronkial tree mempunyai hal tersebut. Dikarenakan perasaan nyeri murni adalah
subjektif, perawat harus menganalisis nyeri yang berhubungan dengan masalah yang
menimbulkan nyeri timbul.
Riwayat Kesehatan
Klien merasa lemah, nyeri dada, nyeri kepala, sesak napas
Riwayat Kesehatan Terdahulu
Apakah ada riwayat emboli paru paru sebelumnya, pembedahan, stroke,
serangan jantung, obesitas, patah tulang tungkai tungkai / tulang panggul, trauma berat.
Perawat menanyakan tentang riwayat penyakit pernafasan klien. Secara umum
perawat menanyakan tentang :
Riwayat merokok
merokok sigaret merupakan penyebab penting kanker paru-paru, emfisema dan
bronchitis kronik. Semua keadaan itu sangat jarang menimpa non perokok. Anamnesis
harus mencakup hal-hal :
Usia mulainya merokok secara rutin.
Rata-rata jumlah rokok yang dihisap perhari.
Usia melepas kebiasaan merokok.

Pengobatan saat ini dan masa lalu.


Alergi.
Tempat tinggal.
Riwayat Kesahatan Keluarga
Apakah ada di antara keluarga klien yang mengalami penyakit yang sama dengan
penyakit yang dialami klien.
Tujuan menanyakan riwayat keluarga dan sosial pasien penyakit paru-paru
sekurang-kurangnya ada tiga, yaitu :
Penyakit infeksi tertentu : khususnya tuberkulosa, ditularkan melalui satu orang
ke orang lainnya; jadi dengan menanyakan riwayat kontak dengan orang
terinfeksi dapat diketahui sumber penularannya.
Kelainan alergis, seperti asthma bronchial, menunjukkan suatu predisposisi
keturunan tertentu; selain itu serangan asthma mungkin dicetuskan oleh konflik
keluarga atau kenalan dekat.
Pasien bronchitis kronik mungkin bermukim di daerah yang polusi udaranya
tinggi. Tapi polusi udara tidak menimbulkan bronchitis kronik, hanya
memperburuk penyakit tersebut.
Data Dasar Pengkajian
Aktifitas / istirahat
Gejala: Kelelahan, Dispnea, ketidak mampuan untuk tidur, tirah baring lama,
Tanda: Gelisa, Lemah, Imsomnia, kecepatan jantung tak normal.
Sirkulasi
Tanda: Takikardia
Penurunan tekanan darah (Hipotensi), nadi lemah dapat menunjukan anemia.
Integrasi Ego
Gejala: Perasaan takut, takut hasil pembedahan, perasaan mau pingsan, perubahan pola
hidup, takut mati.
Tanda: Ketakutan, Gelisah, ansietas, Gemetar, Wajah tegang, peningkatam keringat.
Makanan dan cairan
Gejala: Kehilangan nafsu makan, Mual / muntah.
Tanda: Berkeringat, edema tungkai kiri atas Glukosa dalam Urin

Eliminasi
Gejala: Penurunan frekuensi urin
Tanda: Urin kateter terpasang, bising usus samar
Nyeri / Kenyamanan
Gejala: Nyeri kepala, nyeri dada, nyeri tungkai tungkai
Tanda: Berhati hati pada daerah yang sakit, mengkerutkan wajah
Penafasan
Gejala: Kesulitan bernapas
Tanda: Peningkatan frekuensi / takipnea penggunaan asesori pernapasan
Neurosensori
Gejala:

Kehilangan

kesadaran

sementara,

sakit

kepala

daerah

frontal

Tanda: Perubahan mental (bingung, somnolen), disorienta


Keamanan
Gejala: Adanya trauma dada
Tanda: Berkeringat, Kemerahan,kulit pucat
Pembelajaran / Penyuluhan
Gejala: Faktor resiko keluarga, tumor, penggunaan obat
Rencana Pemulangan: Kebutuhan dalam perawatan diri pengaturan rumah / memelihara
Perubahan program obat.
b. Diagnosa keperawatan
Menurut Brunner & Suddarth (1996) dan Doengoes, Marilynn, dkk, (2000) :
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kemampuan paru.
2. Nyeri dada berhubungan dengan infark paru-paru.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi.
4. Resiko gagal jantung kanan berhubungan dengan peningkatan kerja ventrikel kanan.
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan suplai oksigen dalam jaringan
c. Intervensi
Menurut Brunner & Suddarth (1996) dan Doengoes, Marilynn, dkk, (2000) :

Diagnosa I : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kemampuan


paru
Tujuan : pola nafas efektif
Kriteria hasil :
Menunjukkan pola napas normal/efektif dng GDA normal.
Bebas sianosis dan tanda gejala hipoksia.

Intervensi :
Identifikasi etiologi atau factor pencetus
R : Mengetahui etiologi dan faktor pencetus
Evaluasi fungsi pernapasan (napas cepat, sianosis, perubahan tanda vital.
R : Dapat mengkaji fungsi pernafasan
Auskultasi bunyi napas.
R : Dapat mendengarkan bunyi nafas normal atau tidak

Catat pengembangan dada dan posisi trakea, kaji fremitus.


R : Dapat mengetahui penumpukan sekret atau benda asing lain
Pertahankan posisi nyaman biasanya peninggian kepala tempat tidur.
R : Untuk memudahkan klien bernafas
Berikan oksigen melalui kanul/masker
R : memaksimalkan pernafasan dan menurunkan kerja nafas.

Diagnosa II : Nyeri dada berhubungan dengan infark paru.


Tujuan

: Nyeri hilang atau berkurang

Kriteria hasil :
Pasien mengatakan nyeri berkurang atau dapat dikontrol
Pasien tampak tenang
Intervensi :
Kaji terhadap adanya nyeri, skala dan intensitas nyeri.
R : Dapat mengetahui skala nyeri pada klien.
Ajarkan pada klien tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi.
R : Klien dapat mengerti tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi
Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri.
R : Dapat mengurangi rasa nyeri yang diderita klien.
Berikan analgetik sesuai indikasi
R : dapat digunakan mengurangi rasa nyeri

Diagnosa III : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan


ventilasi dan perfusi.
Tujuan

: Klien akan menunjukkan pertukaran gas yang normal.

Kriteria hasil : Klien akan menunjukkan pertukaran gas yang normal dan warna kulit
merah muda.
Intervensi :

Kaji frekuensi, irama, bunyi dan dalamnya pernafasan.


R : Mengetahui normal atau tidaknya pernafasan.
Berikan tambahan oksigen.
R : Memaksimalkan permafasan dan menurunkan pernafasan.
Pantau saturasi oksigen.
R : Menyeimbangkan oksigen antara inspirasi dan ekspirasi.
Koreksi keseimbangan asam basa.
R : Mengetahui normal tidaknya pertukaran gas.
Beri posisi yang memudahkan meningkatkan ekspansi paru.
R : Untuk memudahkan pernafasan
Latih batuk efektif dan nafas dalam.
R : Dapat mengurangi atau mengeluarkan sekret
d. Evaluasi
Hasil Yang diharapkan dari pasien menjadi dasar untuk mengevaluasi sejauh mana
perkembangan yang telah dicapai pasien. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan antara
lain :
Apakah gejala-gejala telah mereda?
Apakah pasien sudah bisa melakukan pernafasan dengan normal ?
Apakah terdapat deteksi dini dan penanganan komplikasi?
Apakah pasien telah cukup siap untuk melakukan perawatan diri dan pengobatan di
rumah?
Apakah pasien dan keluarganya telah memilih tempat pelayanan pendukung yang
sesuai?
DAFTAR PUSTAKA
Contran Kuman Rabbins, 1996, Dasar Patologi Penyakit: Edisi Ke 5, EGC: Jakarta.
Djojodibroto, Darmanto, 2009, Respirology, EGC: Jakarta.
W, Sudoyo, Ani, 2006, Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia:
Jakarta.
A, Price, Sylvia, dan M, Wilson,Clorraine, 2006, Patofisiologi: Edisi Ke 6,EGC: Jakarta.
Brunner & Suddrath. 1996. buku ajarkeperawatan medikal-bedah. Jakarta : Buku kedokteran
EGC.