Anda di halaman 1dari 14

7 Manfaat sumber daya tanah

Tanah merupakan lapisan terluar dari permukaan bumi serta merupakan hasil pelapukan batuan
danbahan organik yang hancur akibat proses bahan organik yang hancur akibat proses alam. Pada
dasarnya, tanah berasal dari alam. Pada dasarnya, tanah berasal dari alam.
Pada dasarnya, tanah berasal dari batu-batuan. Proses pembentukan tanah dipengaruhi oleh
beberapa unsur penting seperti iklim, bahan induk, organisme, topografi dan waktu. Proses
pembentukan tanah berlangsung secara terus menerus sehingga kemungkinan terdapat bahan
(unsur) pada tanah yang bertambah maupun yang hilang.
Berikut manfaat sumber daya tanah untuk kehidupan, yaitu;
1. Penyediaan unsur hara untuk tumbuhan. Ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh

tumbuhan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat produksi suatu
tumbuhan. Jumlah dan jenis unsur hara yang tersedia di tanah dan dibutuhkan oleh
tumbuhan haruslah sesuai dan seimbang.
2. Penyedia makanan untuk biota tanah. Tanah menjadi habitat pengurai yang menguraikan
sisa organisme mati menjadi bahan makanan yang dibutuhkan oleh tanaman dan
organisme lain.
3. Sebagai habitat hidup dan melakukan kegiatan. Tnah merupakan tempt manusia dan

makhluk hidup lainnya melakukan kegiatannya. Di dalam tanah, hidup pula berbagai
organisme tanah, misalnya cacing tanah.
4. Sumber bahan baku barang kerajianan atau perabot rumah tangga. Kandungan tanah

liat dapat di manfaatkan manusia untuk membuat batu bata, barang-barang seni dan
kerajinan, maupun alat-alat rumah tangga. Tanah liat juga dapat dimanfaatkan salah
satunya sebagai bahan baku genteng penutup atap rumah atau bangunan.
5. Memiliki nilai ekologi, yaitu mampu menyerap dan menyimpan air (melindungi tata air),

menekan erosi, serta menjaga kesuburan tanah.


6. Memiliki nilai ekonomis yaitu sebagai aset yang dapat disewakan atau diperjual belikan

7. Mengandung barang tambang atau bahan galian yang berguna untuk manusia.
Dengan mengetahui ke 7 manfaat sumberdaya tanah ini, kita dapat menjaga dan melestarikannya
serta menghindari pencemaran.

5 Lapisan Tanah Beserta Simbolnya


Proses pembentukan tanah mengakibatkan tanah terdiri dari atas lapisan-lapisan (horizon). Setiap
lapisan tanah mengandung zat-zat tertentu. Secara umum, dalam ilmu tanah (pedalogi), lapisan
tanah ditandai oleh simbol huruf.
1. Lapisan O, merupakan lapisan paling atas yang didominasi oleh bahan organik. Sebagian besar
lapisan O terdiri humus atau bahan yang terdekomposisi. Tebal lapisan ini sekitar 5 cm.

2. Lapisan A (top soil) merupakan lapisan di bawah lapisan O lapisan ini berwarna lebih gelap
daripada lapisan tanah di bawahnya. Lapisan ini terdiri dari campuran bahan organik dan bahan
mineral. Selain itu, aktivitas biologi dan hewan maupun organisme (seperti cacing tanah,
nematoda, atau jamur) dapat ditemui di lapisan ini. Tebal lapisan ini sekitar 10 cm.
3. Lapisan B, merupakan lapisan tanah di bagian tengah yang mudah tercuci oleh air, terutama
jika tidak ada tumbuhan d permukaannya. Hal ini dapat terjadi karena ketiadaan akar-akar
tumbuhan yang bersifat mengikat lapisan tanah A (topsoil). Lapisan B ini miskin materi
organik serta berwarna kecoklatan atau kemerahan. Tebal lapisan ini sekitar 30 cm.
4. Lapisan C (sub soil), merupakan lapisan yang mengandung beberapa batuan yang belum
mengalami peroses pelapukan. Selain itu, lapisan ini kaya akan unsur unsur besi, almunium,
dan senyawa mineral lain yang terikat oleh tanah liat. Tebal lapisan ini sekitar 45 cm.
5. Lapisan R (red rock), yaitu lapisan paling dasar dan merupakan lapisan paling dasar dan
merupakan lapisan batuan induk ang sangat keras, serta sulit digali oleh tangan. COntoh batuan
dasar di lapisan R antara lain granit dan basal.

Tata Guna Lahan


Tata guna lahan adalah sebuah pemanfaatan lahan dan penataan lahan yang
dilakukan sesuai dengan kondisi eksisting alam. Tata guna lahan berupa:
Kawasan permukiman.
Kawasan permukiman ini ditandai dengan adanya perumahan yang disertai prasana
dan sarana serta infrastrukutur yang memadai. Kawasan permukiman ini secara
sosial mempunyai norma dalam bermasyarakat. Kawasan ini sesuai pada tingkat
kelerengan
0-15%
(datar
hingga
landai).
Kawasan perumahan
Kawasan perumahan hanya didominasi oleh bangunan-bangunan perumahan dalam
suatu wilayah tanpa didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Kawasan
ini sesuai pada tingkat kelerengan 0-15% (datar hingga landai).

Kawasan perkebunan
Perkebunan ini ditandai dengan dibudidayakannya jenis tanaman yang bisa
menghasilkan materi dalam bentuk uang. Kawasan ini sesuai pada tingkat
kelerengan
8-15%
(landai).
Kawasan pertanian
Kawasan pertanian ditandai oleh adanya jenis budidaya satu tanaman saja. Kawasan
ini sesuai pada tingkat kelerengan 8-15% (landai).
Kawasan ruang terbuka hijau
Kawasan terbuka hijau ini dapat berupa taman yang hanya ditanami oleh tumbuhan
yang rendah dan jenisnya sedikit. Namun dapat juga berupa hutan yang didominasi
oleh berbagai jenis macam tumbuhan. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan
15-25% ( agak curam ).
Kawasan perdagangan
Kawasan perdagangan ini biasanya ditandai dengan adanya bangunan pertokoan
yang menjual berbagai macam barang. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan
0-8% ( datar )
Kawasan industri
Kawasan industri ditandai dengan adanya proses produksi baik dalam jumlah kecil
maupun dalam jumlah besar. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 8-15%
(
hingga
landai
).
Kawasan perairan
Kawasan perairan ini ditandai oleh adanya aktifitas perairan, seperti budidaya ikan,
pertambakan, irigasi, dan sumber air bagi wilayah dan sekitarnya.

TATA GUNA LAHAN PERTANIAN


Di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, sebagian besar lahan
dimanfaatkan untuk bidang pertanian, karena seperti di Indonesia sendiri sebagian besar
penduduknya masih menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan perkebunan.
Lahan sebagai faktor produksi pertanian dan perkebunan bertujuan untuk memenuhi
konsumsi dan kebutuhan hidup manusia tentunya. Penggunaan lahan untuk bidang
pertanian
dan
perkebunan,
tertutama
ditentukan
oleh: jenis
tanah
dan
kesuburannya, relief dan topografi, iklim dan ketinggian tempat, aksesibilitas
(kemudahan dijangkau) atau kemudahan pemasaran hasil, serta besarnya tekanan
penduduk. Pembangunan pertanian dan perkebunan yang tangguh dan berkelanjutan
hanya dapat terlaksana jika teknologi pertanian yang diterapkan juga tepat. Dengan
penerapan teknologi yang tepat, degradasi lahan dapat diminimalkan sehingga daya

dukung lingkungan dapat dipertahankan. Degradasi lahan adalah hasil dari suatu proses
yang mengakibatkan turunnya kualitas dan produktivitas lahan. Penyebab utama
degradasi lahan adalah erosi, yang terjadi karena dalam pemanfaatan lahan tidak diikuti
dengan tindakan konservasi tanah. Dengan demikian yang perlu diupayakan dalam
pengelolaan lahan adalah penerapan teknologi yang mampu mencegah atau
meminimalkan terjadinya erosi.
Sudah sejak lama para pakar pertanian mencoba untuk mengembangkan pengolahan
lahan yang disebut dengan pendekatan sistem pertanian konservasi. Pertanian
konservasi adalah suatu sistem budidaya pertanian yang dalam pengelolaan tanah atau
tanaman menggunakan pendekatan teknologi konservasi, sehingga lahan dapat
diusahakan secara lestari dengan produktivitas yang tetap tinggi. Di lapangan, teknologi
konservasi yang sudah teruji dapat diterapkan adalah:
A. Terasering
Pada prinsipnya, teknologi terasering atau pembuatan teras ini bertujuan untuk
memperpendek panjang lereng sehingga aliran permukaan menjadi lebih lambat. Bentuk
dan konstruksi teras bermacam-macam, mulai dari yang sederhana sampai dengan yang
pembuatannya kompleks, yaitu teras yang mempunyai kemiringan tertentu pada masingmasing lereng. Teras biasa dibuat pada lahan pertanian yang kemiringan lerengnya
lebih dari 8%. Sistem pertanian sawah merupakan bentuk terasering yang paling baik
untuk mencegah erosi.
B. Rorak

Rorak adalah tanah yang digali dengan ukuran tertentu yang fungsinya juga untuk
menahan laju aliran permukaan. teknologi rorak dapat diterapkan pada tanaman tahunan
(perkebunan) dan dibuat diantara tanaman. Biasanya rorak berukuran panjang 2-3
meter, lebar 0,5-0,75 meter. Jarak antara rorak bergantung pada kemiringan lereng.
Rorak dibuat berselang-seling dan dibersihkan dengan cara endapan tanahnya
dikeluarkan sehingga efektif menahan laju aliran permukaan. Selain menahan laju aliran
pemukaan, rorak juga berfungsi untuk meningkatkan infiltrasi dan sumber unsur hara
bagi tanaman. Rorak ini akan menampung endapan tanah (sedimentasi), yaitu hasil
erosi yang terbawa oleh tanah permukaan yang tentunya mengandung unsur hara.
Endapan ini akan menjadi sumber unsur hara bagi tanaman jika rorak dibersihkan.
C. Tanaman Penutup Tanah

Tanaman penutup tanah banyak dilakukan pada perkebunan besar, baik sebelum
tanaman maupun setelah tanaman tumbuh dan berproduksi. Jenis tanaman penutup
tanah yang sering digunakan adalah kacang-kacangan atau lagume cover crop, yang
cepat tumbuh dan merambat, efektif menutup tanah, dan umumnya panjang. Sesuai
dengan sifat dan karakteristiknya, kegunaan tanaman penutup tanah antara lain: 1).
Memperlambat aliran permukaan, 2). meningkatkan infiltrasi, 3). mencegah terjadinya
erosi, 4). meningkatkan kelembaban tanah, 5). menggemburkan tanah, 6). sumber
bahan
organik
dan
unsur
hara
tanah.

D. Pergiliran Tanaman
Perlakuan pergiliran tanaman bertujuan untuk mencegah terkurasnya unsur hara dari
dalam tanah dan menekan terjadinya erosi. Disamping itu, pergiliran tanaman juga akan
memutuskan perkembangbiakan hama dan penyakit tanaman. Untuk mencapai tujuan
pergiliran tanaman tersebut perlu dipertimbangkan jenis tanaman yang akan ditanam.
E. Pertanaman Lorong (Alley Cropping)
Adalah sistem pertanian yang mengkombinasikan tanaman hutan (pohon-pohonan
bukan buah-buahan) dengan tanaman semusim dan atau tanaman pakan ternak.
Pohon-pohon ditanam relatif rapat dalam barisan dan jarak antar barisan dibuat jarang
untuk tempat tanaman semusim dan atau tanaman pakan ternak. Dengan sistem ini,
antar barisan tampak seperti lorong, dengan sistem ini pula erosi dapat dicegah atau
ditekan karena:
1. kombinasi tanaman menghasilkan tajuk yang saling menutupi sehingga air hujan
tertahan sebelum sampai ke permukaan tanah.
2. hampir semua permukaan tanah tertutupi oleh tanaman sehingga laju aliran
permukaan terhambat.
Selain mencegah erosi, keuntungan teknologi pertanaman lorong antara lain:
1. Kayu pohon-pohon sebagai sumber kayu bakar, bahan bangunan atau bahan
perabit rumah tangga.
2. Meningkatkan pendapatan petani karena adanya beberapa jenis tanaman pada
areal yang sama.
3. Kesuburan tanah relatif dapat dipertahankan karena sisa-sisa tanaman cukup
banyak (sumber bahan organik), dan

4. Mengurangi resiko gagal panen.

Prinsip-Prinsip Pembangunan Berkelanjutan atau Principle


of Sustainability Development
PRINSIP-PRINSIP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Istilah pembangunan menurut Todaro (1998), pada


hakikatnya merupakan cerminan proses terjadinya perubahan sosial suatu masyarakat, tanpa
mengabaikan keragamaan kebutuhan dasar dan keinginaan individual maupun kelompok sosial
atau institusi yang ada di dalamnya untuk mencapai kondisi kehidupan yang lebih baik.
Sedangkan istilah pembangunan berkelanjutan atau sustainable development menurut Brundtland
Report dari PBB (1987) adalah proses pembangunan yang mencakup tidak hanya wilayah (lahan,
kota) tetapi juga semua unsur, bisnis, masyarakat, dan sebagainya yang berprinsip memenuhi
kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan.
Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Brundtland Commission Per-serikatan BangsaBangsa pada tahun 1987 yang menjadi tonggak pembangunan berkelanjutan
(sustainable development) dirumuskan pengertian pembangunan berkelanjutan
sebagai: pembangunan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa
mengabaikan hak generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka
(development that meets the needs of the present without compromising the ability
of future generations to meet their own need)

Menurut Otto Sumarwoto (dalam Sugandhy dan Hakim, 2007: 21), pembangunan berkelanjutan
didefinisikan sebagai Perubahan positif sosial ekonomi yang tidak mengabaikan sistem ekologi
dan sosial di mana masyarakat bergantung kepadanya. Keberhasilan penerapannya memerlukan
kebijakan, perencanaan, dan proses pembelajaran sosial yang terpadu, viabilitas politiknya
tergantung pada dukungan penuh masyarakat melalui pemerintahannya, kelembagaan sosialnya,
dan kegiatan dunia usahanya.
Selanjutnya, menurut Prof. Dr. Emil Salim menyatakan pembangunan berkelanjutan (sustainable
development) diartikan sebagai suatu proses pembangunan yang mengoptimalkan manfaat dari
sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan menyerasikan sumber alam dan manusia

dalam pembangunan. Menurut Salim, konsep pembangunan berkelanjutan ini didasari oleh lima
ide pokok besar, yaitu sebagai berikut:
Pertama, proses pembangunan mesti berlangsung secara berlanjut, terus-menerus, dan kontinyu,
yang ditopang oleh sumber alam, kualitas lingkungan, dan manusia yang berkembang secara
berlanjut pula. Kedua, sumber alam (terutama udara, air, dan tanah) memiliki ambang batas, di
mana penggunaannya akan menciutkan kuantitas, dan kualitasnya. Ketiga, kualitas lingkungan
berkorelasi langsung dengan kualitas hidup. Keempat, bahwa pola penggunaan sumber alam saat
ini mestinya tidak menutup kemungkinan memilih opsi atau pilihan lain di masa depan. Dan
kelima, pembangunan berkelanjutan mengandaikan solidaritas transgenerasi, sehingga
kesejahteraan bagi generasi sekarang tidak mengurangi kemungkinan bagi generasi selanjutnya
untuk meningkatkan kesejahteraannya pula.

Menurut Emil Salim untuk melaksanakan


pembangunan berkelanjutan dibutuhkan pendekatan ekosistem dengan melihat interdepedensi dari
setiap komponen ekosistem. Agar keberlanjutan tetap terjaga harus ada komitmen setiap
komponen penyangga kehidupan dan campur tangan pemerintah dengan melibatkan lembaga
swadaya masyarakat. Dunia usaha yang selama ini dituduh sebagai pelaku yang menimbul kan
kerusakan dan pencemaran harus dipahamkan akan tangung jawabnya terhadap lingkungan yang
dapat diwujudkan dalam bentuk membayar kompensasi jasa lingkungan yang nantinya dapat
digunakan untuk membiayai pemulihan lingkungan yang rusak atau tercemar. Di negara-negara
maju, biaya konvensasi lingkungan jauh-jauh hari sudah dianggarkan dalam rencara pembiayaan
dan pengeluaran perusahaan
Konsep pembangunan berkelanjutan yang digagas negara-negara dunia ketiga pada Pertemuan
Komite Persiapan Konferensi Tingkat Tinggi mengenai Pembangunan Berkelanjurtan (Wold
Summit on Sustainable Development), yang berlangsung di Bali, pada bulan Mei 2002 adalah
terwujudnya pemerintah yang bertanggung jawab dan dipercaya, transparan, membuka partisipasi
yang lebih luas bagi masyarakat (publik) dan menjalankan penegakan hukum secara lebih tegas
dan efektif. Gagasan ini ditindaklanjuti pada Agenda 2l, yakni dibukanya partisipasi yang lebih
luas bagi masyarakat, tetap mengedepankan hubungan kemitraan dan peduli terhadap masalahmasalah kemiskinan. Dalam hal ini, pemerintah harus membatasi campur tangannya kepada
rakyat tetapi bukan supaya kekuasaan ekonomi dialihkan kepada piha swasta atau bahkan
perusahaan multinasional.
Konsep pembangunan berkelanjutan meluas dari definisi sebelumnya sebagai isu pelestarian
lingkungan menjadi berbagai isu pembangunan yang saling bersifat komplementer. Dokumen
Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam World Summit tahun 2005 menyatakan pembangunan
berkelanjutan terdiri atas tiga pilar yaitu pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, dan

pelestarian lingkungan yang saling berkaitan dan memperkuat (interdependent and mutually
reinforcing pillars of sustainable development as economic development, social development,
and environmental protection). Ketiga aspek tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena
ketiganya menimbulkan hubungan sebab-akibat. Aspek yang satu akan mengakibatkan aspek yang
lainnya terpengaruh. Istilah berkelanjutan menjadi umum pada berbagai isu pembangunan seperti
pertanian berkelanjutan, teknologi, ekonomi berkelanjutan, politik berkelanjutan, kota
berkelanjutan, produksi berkelanjutan, dan sebagainya.
Tujuan pembangunan menyangkut tiga hal: (1) pertumbuhan, produktifitas, dan efisiensi
ekonomi (growth), (2) keadilan sosial, pemerataan dan peluang ekonomi (equity), dan (3)
kelestarian lingkungan (environmental protection). Ketiga tujuan pembangunan tersebut tidak
memiliki prinsip atau rasionalitas yang selalu selaras sehingga seringkali ditemui konflik tujuan
dalam pembangunan. Banyak ragam rasionalitas dalam pembangunan yang mengarahkan pilihan
kebijakan pembangunan. Rasionalitas tersebut yaitu: rasionalitas ekonomi, rasionalitas legal,
rasionalitas sosial, dan rasionalitas substantif sebagai rasionalitas yang mempertimbangkan semua
bentuk rasionalitas. Rasionalitas ekonomi berdasarkan prinsip efisiensi, rasionalitas sosial
berdasarkan nilai sosial seperti keadilan dan pemerataan, rasionalitas lingkungan berdasarkan nilai
manfaat ekologi. Apa yang efisien secara ekonomi belum tentu selaras dengan nilai sosial dan
nilai ekologi dan sebaliknya memprioritaskan nilai ekologi bisa saja menimbulkan konflik dengan
nilai sosial dan nilai ekonomi.
Konsep pembangunan berkelanjutan yang prinsipnya terdiri dari hubungan yang saling
mendukung antara pembangunan ekonomi, sosial dan pelestarian lingkungan, menghadapi adanya
konflik tujuan, kepentingan dalam pengambilan kebijakan pembangunan terlihat masih menjadi
konsep yang kabur. Konsep pembangunan berkelanjutan ini lebih merupakan gagasan normative
daripada gagasan preskriptif. Konsep ini belum memberi kejelasan tentang bagaimana
menyelaraskan konflik tujuan pembangunan yang mungkin terjadi. Pembangunan memiliki
beragam prioritas yang tidak mudah untuk disepakati. Konsep pembangunan berkelanjutan
sebagai visi pembangunan jangka panjang masih kabur untuk menjadi konsep yang bisa
diterapkan untuk mengambil keputusan pembangunan dalam jangka pendek. Sebagai model
pembangunan, konsep pembangunan berkelanjutan masih belum bisa menjadi pegangan dalam
menuntun praktek perencanaan.
Secara ideal berkelanjutannya pembangunan membutuhkan pencapaian :
1. pertama, berkelanjutan ekologis, yakni akan menjamin berkelanjutan eksistensi bumi. Hal-hal
yang perlu diupayakan antara lain, a. memelihara (mempertahankan) integrasi tatanan lingkungan,
dan keanekaragaman hayati; b. memelihara integrasi tatanan lingkungan agar sistem penunjang
kehidupan bumi ini tetap terjamin; c. memelihara keanekaragaman hayati, meliputi aspek
keanekaragaman genetika, keanekaragaman species dan keanekaragaman tatanan lingkungan.
2. Kedua, berkelanjutan ekonomi; dalam perpektif ini pembangunan memiliki dua hal utama,
yakni, berkelanjutan ekonomi makro dan ekonomi sektoral. Berkelanjutan ekonomi makro,
menjamin ekonomi secara berkelanjutan dan mendorong efesiensi ekonomi melalui reformasi
struktural dan nasional. Berkelanjutan ekonomi sektoral untuk mencapainya; a. sumber daya alam
dimana nilai ekonominya dapat dihitung harus diperlakukan sebagai kapital yang tangible
dalam rangka akunting ekonomi; b. koreksi terhadap harga barang dan jasa perlu diintroduksikan.
Secara prinsip harga sumber daya alam harus merefleksikan biaya ekstraksi/pengiriman, ditambah
biaya lingkungan dan biaya pemanfaatan.

3. Ketiga, berkelanjutan sosial budaya; berkelanjutan sosial budaya, meliputi: a. stabilitas


penduduk, b. pemenuhan kebutuhan dasar manusia, c. Mempertahankan keanekaragaman budaya
dan d. mendorong partisipasi masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan.
4. Keempat, berkelanjutan politik; tujuan yang akan dicapai adalah, a. respek pada human rights,
kebebasan individu dan sosial untuk berpartisipasi di bidang ekonomi, sosial dan politik, dan b.
demokrasi, yakni memastikan proses demokrasi secara transparan dan bertanggung jawab.
5. Kelima, berkelanjutan pertahanan dan keamanan. Keberlanjutan kemampuan menghadapi
dan mengatasi tantangan, ancaman dan gangguan baik dari dalam maupun dari luar yang langsung
maupun tidak langsung yang dapat membahayakan integrasi, identitas, kelangsungan bangsa dan
negara.
Menurut Surya T. Djajadiningrat, agar proses pembangunan dapat berkelanjutan harus bertumpu
pada beberapa faktor,
1. pertama, kondisi sumber daya alam, agar dapat menopang proses pembangunan secara
berkelanjutan perlu memiliki kemampuan agar dapat berfungsi secara berkesinambungan. Sumber
daya alam tersebut perlu diolah dalam batas kemampuan pulihnya. Bila batas tersebut terlampaui,
maka sumber daya alam tidak dapat memperbaharuhi dirinya, Karena itu pemanfaatanya perlu
dilakukan secara efesien dan perlu dikembangkan teknologi yang mampu mensubsitusi bahan
substansinya.
2. Kedua, kualitas lingkungan, semakin tinggi kualitas lingkungan maka akan semakin tinggi
pula kualitas sumber daya alam yang mampu menopang pembangunan yang berkualitas.
3. Ketiga, faktor kependudukan, merupakan unsur yang dapat menjadi beban sekaligus dapat
menjadi unsur yang menimbulkan dinamika dalam proses pembangunan. Karena itu faktor
kependudukan perlu dirubah dari faktor yang menambah beban menjadi faktor yang dapat
menjadi modal pembangunan.
Pembangunan berkelanjutan berkonsentrasi pada tiga pilar yaitu pembangunan
ekonomi, sosial, dan lingkungan. John Elkinton menyatakan konsep tersebut dengan
P3 Concept, yaitu people, planet, and profits. John Elkington melalui konsep
3p (profit, people dan planet) yang dituangkan dalam bukunya Cannibals with
Forks, the Triple Bottom Line of Twentieth Century Business yang di release pada
tahun 1997. Ia berpendapat bahwa jika perusahaan ingin sustain, maka ia perlu
memperhatikan 3P, yakni, bukan cuma profit yang diburu, namun juga harus
memberikan kontribusi positif kepada masyarakat (people) dan ikut aktif dalam
menjaga kelestarian lingkungan (planet).

People menekankan pentingnya praktik bisnis suatu perusahaan yang mendukung kepentingan
tenaga kerja. Lebih spesifik konsep ini melindungi kepentingan tenaga kerja dengan menentang
adanya eksplorasi yang mempekerjakan anak di bawah umur, pembayaran upah yang pantas,
lingkungan kerja yang aman dan jam kerja yang manusiawi. Bukan hanya itu, konsep ini juga
meminta perusahaan memperhatikan kesehatan dan pendidikan bagi tenaga kerja.
Planet berarti mengelola dengan baik penggunaan energi terutama atas sumber daya alam yang
tidak dapat diperbarui. Mengurangi hasil limbah produksi dan mengolah kembali menjadi limbah

yang aman bagi lingkungan, mengurangi emisi CO2 ataupun pemakaian energi, merupakan
praktik yang banyak dilakukan oleh perusahaan yang telah menerapkan konsep ini. The Body
Shop, dalam Values Report 2005, mencantumkan salah satu target inisiatif Protect Our Planet
untuk tahun 2006 dengan mengurangi hingga 5% emisi CO2 dari listrik yang digunakan di
gerainya. Starbucks memiliki program Coffee and Farmer Equity (CAFE) untuk memperoleh dan
mengolah kopi dengan memperhatikan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan. Starbucks
mendefinisikan sustainability sebagai model yang layak secara ekonomis untuk menjawab
kebutuhan sosial dan lingkungan dari semua partisipan dalam rantai pasokan dari petani sampai
konsumen.
Profit di sini lebih dari sekadar keuntungan. Profit di sini berarti menciptakan fair trade dan
ethical trade dalam berbisnis. Untuk mendapatkan keuntungan diperlukan sebuah etika. Etika
yang dimaksud yaitu tidak menekan harga serendah-rendahnya kepada supplier, ikut pada
program pemberdayaan produsen misalnya petani Starbucks dan The Body Shop selalu
mengaplikasikan fair trade bukan mencari harga termurah dalam mencari bahan bakunya.
Pembangunan berkelanjutan harus diletakkan sebagai kebutuhan dan aspirasi
manusia kini dan masa depan. Karena itu hak-hak asasi manusia seperti hak-hak
ekonomi, sosial, budaya, dan hak atas pembangunan dapat membantu memperjelas
arah dan orientasi perumusan konsep pembangunan yang berkelanjutan.

Secara lebih kongkrit tidak bisa disangkal bahwa hak manusia atas lingkungan hidup yang sehat
dan baik menjadi kebutuhan mendesak sebagai bagian dari hak asasi manusia. Hak atas
pembangunan tidak lepas dari ketentuan bahwa proses pembangunan haruslah memajukan
martabat manusia, dan tujuan pembangunan adalah demi kemajuan yang terus menerus secara
berkelanjutan untuk kesejahteraan manusia secara adil merata
Prinsip dasar pembangunan berkelanjutan meliputi,
1. pertama, pemerataan dan keadilan sosial. Dalam hal ini pembangunan
berkelanjutan harus menjamin adanya pemerataan untuk generasi sekarang
dan yang akan datang, berupa pemerataan distribusi sumber lahan, faktor
produksi dan ekonomi yang berkeseimbangan (adil), berupa kesejahteran
semua lapisan masyarakat.
2. Kedua, menghargai keaneragaman (diversity). Perlu dijaga berupa
keanegaragaman hayati dan keanegaraman budaya. Keaneragaman hayati
adalah prasyarat untuk memastikan bahwa sumber daya alam selalu tersedia
secara berkelanjutan untuk masa kini dan yang akan datang. Pemeliharaan
keaneragaman budaya akan mendorong perlakuan merata terhadap setiap
orang dan membuat pengetahuan terhadap tradisi berbagai masyarakat dapat
lebih dimengerti oleh masyarakat.
3. Ketiga,
menggunakan
pendekatan
integratif.
Pembangunan
berkelanjutan mengutamakan keterkaitan antara manusia dengan alam.
Manusia mempengaruhi alam dengan cara bermanfaat dan merusak Karena
itu, pemanfaatan harus didasarkan pada pemahaman akan kompleknya
keterkaitan antara sistem alam dan sistem sosial dengan cara-cara yang lebih
integratif dalam pelaksanaan pembangunan.
4. Keempat, perspektif jangka panjang, dalam hal ini pembangunan
berkelanjutan seringkali diabaikan, karena masyarakat cenderung menilai

masa kini lebih utama dari masa akan datang. Karena itu persepsi semacam
itu perlu dirubah.

Kerusakan dan pencemaran lingkungan, menurut J. Barros dan J.M. Johnston erat kaitannya
dengan aktivitas pembangunan yang dilakukan manusia, antara lain disebabkan:
1. pertama, kegiatan-kegiatan industri, dalam bentuk limbah, zat-zat buangan
yang berbahaya seperti logam berat, zat radio aktif dan lain-lain.
2. Kedua, Kegiatan pertambangan, berupa terjadinya perusakan instlasi,
kebocoran, pencemaran buangan penambangan, pencemaran udara dan
rusaknya lahan bekas pertambangan.
3. Ketiga, kegiatan transportasi, berupa kepulan asap, naiknya suhu udara kota,
kebisingan kendaraan bermotor, tumpahan bahan bakar, berupa minyak bumi
dari kapal tanker.
4. Keempat, kegiatan pertanian, terutama akibat dari residu pemakaian zat-zat
kimia untuk memberantas serangga / tumbuhan pengganggu, seperti
insektisida, pestisida, herbisida, fungisida dan juga pemakaian pupuk
anorganik.
Dampak dari pencemaran dan perusakan lingkungan yang amat mencemaskan dan
menakutkan akibat aktivitas pembangunan yang dilakukan manusia secara lebih luas
dapat berupa,
1. pertama, pemanasan global, telah menjadi isu internasional yang merupakan
topik hangat di berbagai negara. Dampak dari pemanasan global adalah
terjadinya perubahan iklim secara global dan kenaikan permukaan laut.
2. Kedua, hujan asam, disebabkan karena sektor industri dan transportasi dalam
aktivitasnya menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara yang dapat
menghasilkan gas buang ke udara. Gas buang tersebut menyebabkan
terjadinya pencemaran udara.Pencemaran udara yang berasal dari
pembakaran bahan bakar, terutama bahan bakar fosil mengakibatkan
terbentuknya asam sulfat dan asam nitrat. Asam tersebut dapat diendapkan
oleh hutan, tanaman pertanian, danau dan gedung sehingga dapat
mengakibatkan kerusakan dan kematian organisme hidup
3. Ketiga, lubang ozon,ditemukan sejak tahun 1985 di berbagai tempat di
belahan bumi, seperti diAmerika Serikat dan Antartika. Penyebab terjadinya
lubang ozon adalah zat kimia semacam kloraflurkarbon (CFC), yang
merupakan zat buatan manusia yang sangat berguna dalam kehidupan
manusia sehari-hari, seperti untuk lemari es dan AC.

Sebagai reaksi dari akibat pembangunan dan industrialisasi yang telah menyebabkan berbagai
kerusakan dan pencemaran lingkungan, di seluruh dunia sedang terjadi gerakan yang disebut
gerakan ekologi dalam (deep ecology) yang dikumandangkan dan dilakukan oleh banyak aktivis
organisasi lingkungan yang berjuang berdasarkan visi untuk menyelematkan lingkungan agar
dapat berkelanjutan. Gerakan ini merupakan antitesa dari gerakan lingkungan dangkal (shallow
ecology) yang berperilaku eksplotatif terhadap lingkungan dan mengkambinghitamkan agama
sebagai penyebab terjadinya kerusakan alam lingkungan. Gerakan ini beranggapan bahwa bumi
dengan sumber daya alam adanya untuk kesejahteraan manusia. Karena itu, kalau manusia ingin
sukses dalam membangun peradaban melalui industrialsiasi, bumi harus ditundukkan untuk
diambil kekayaannya.

Sebagai tindak lanjut dari implementasi pembangunan berkelanjutan, pemerintah


Indonesia telah meprakarsai melakukan Kesepakatan nasional dan Rencana Tindak
Pembangunan Berkelanjutan. Kesepakatan nasional berisi:
1. Penegasan komitmen bagi pelaksanaan dan pencapaian pembangunan
berkelanjutan sesuai dengan peraturan perundangan dan sejalan dengan
komitmen global;
2. Perlunya keseimbangan yang proporsional dari tiga pilar pembangunan
berkelanjutan (ekonomi, sosial, dan lingkungan) serta saling ketergantungan
dan saling memperkuat;
3. Penanggulangan kemiskinan, perubahan pola produksi dan konsumsi, serta
pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang berkelanjutan.
4. Peningkatan kemandirian nasional.
5. Penegasan bahwa keragaman sumber daya alam dan budaya sebagai modal
pembangunan dan perekat bangsa.
6. Perlunya melanjutkan proses reformasi sebagai prakondisi dalam mewujudkan
tujuan pembangunan berkelanjutan.
7. Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik, pengelolaan sumber daya
alam, pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan, dan pengembangan
kelembagaan merupakan dimensi utama keberhasilan pembangunan
berkelanjutan.
8. Perwujudan dalam pencapaian rencana pelaksanaan pembangunaan
berkelanjutan bagi seluruh masyarakat, khususnya kelompok perempuan,
anak-anak, dan kaum rentan.
9. Perwujudan sumber daya manusia terdidik untuk dapat memahami dan
melaksanakan pembangunan berkelanjutan.
10.Kesepuluh, pengintegrasian prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam
strategi dan program pembangunan nasional.

Agar pembangunan memungkinkan dapat berkelanjutan maka diperlukan pokok-pokok


kebijaksanaan sebagai berikut,
1. Pengelolaan sumber daya alam perlu direncanakan sesuai dengan daya
dukung lingkungannya. Dengan mengindahkan kondisi lingkungan (biogeofisik
dan sosekbud) maka setiap daerah yang dibangun harus sesuai dengan zona
peruntukannya, seperti zona perkebunan, pertanian dan lain-lain. Hal tersebut
memerlukan perencanaan tata ruang wilayah (RTRW), sehingga diharapkan
akan dapat dihindari pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan daya
dukung lingkungannya.
2. Proyek pembangunan yang berdampak negatif terhadap lingkungan perlu
dikendalikan melalui penerapan analisis mengenai dampak lingkungan
(AMDAL) sebagai bagian dari studi kelayakan dalam proses perencanaan
proyek. Melalui studi AMDAL dapat diperkirakan dampak negatif
pembangunan terhadap lingkungan.
3. Penanggulangan pencemaran air, udara dan tanah mengutamakan.

4. Pengembangan keanekaragaman hayati sebagai persyaratan bagi stabilitas


tatanan lingkungan.
5. Pengembangan kebijakan ekonomi yang memuat pertimbangan lingkungan.
6. Pengembangan peran serta masyarakat, kelembagaan dan ketenagaan dalam
pengelolaan lingkungan hidup
7. Pengembangan hukum lingkungan yang mendorong peradilan menyelesaikan
sengketa melalui penerapan hukum lingkungan.
8. Pengembangan kerja sama luar negeri.