Anda di halaman 1dari 2

GASTREKTOMI

Pembedahan gastrektomi pada pasien GIST juga akan menimbulkan


problema gizi, yaitu sindrom post gastrectomi meliputi intoleransi dan defisiensi
zat gizi. Intoleransi yang sering terjadi adalah dumping syndrome, maldigesti
lemak, gastric stasis dan intoleransi laktosa. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut
akan menimbulkan penurunan berat badan akut 6. Oleh karena itu pasien GIST
pre operatif dengan malnutrisi (misalnya cachexia) harus mendapatkan asupan
gizi yang cukup sebab akan menentukan keberhasilan pembedahan dan
perawatan paska pembedahan.
Terapi gizi pasien dimulai dengan asesmen nutrisi, pada pasien ini
didapatkan riwayat penurunan berat badan (tapi tidak diketahui tepatnya berapa
karena pasien tidak pernah ditimbang), perubahan asupan yaitu dari makanan
padat menjadi makanan lunak, selain itu aktifitas pasien juga mengalami
degradasi, dimana setelah sakit pasien hanya mampu berbaring di tempat tidur
dan membutuhkan bantuan bila akan berdiri dan tidak mampu berjalan walau
dipapah. Pemeriksaan fisik pada pasien didapatkan loss of subcutaneus fat +3
(severe) dan muscle wasting (+2), ascites, dan edema tungkai bawah serta
lengan kiri, sehingga SGA pasien ini adalah SGA C.
Pengukuran antropometri didapatkan berat badan 40 kg (dari LLA), tinggi
badan 172 cm (dari tinggi lutut), sehingga IMT nya adalah 14,3 kg/m 2
(cachexia).

Pemeriksaan

hipoalbuminemia,

laboratorium

hipokolesterolemia

yang

menunjukkan
semakin

adanya

memperkuat

anemia,
adanya

malnutrisi berat. Secara fungsional, terjadi penurunan, yakni bedridden.


Penghitungan kebutuhan energi dengan rumus Harris-Benedict
didapatkan 1500 Kkal/hari. Kebutuhan protein untuk pasien kanker dengan
hipoalbumin <2 adalah 1,5-2 g/kgBB/hari, dan pasien ini dicoba 1,5 g/kg/hari =
60 g. Kebutuhan karbohidrat adalah 60 % dari total kalori, sehingga didapatkan
225 g, sedangkan lemak sisanya, yakni 40 g.
Pemberian diet dilakukan dengan prinsip start slow go slow untuk
menghindari refeeding syndrome. Pemberian makanan dapat dimulai 50 % dari
total kebutuhan kalori, namun karena pasien rata-rata telah mengkonsumsi 500

Kkal, maka dapat lebih dari 50 %, dan pada pasien ini dicoba 90 % dari total
kebutuhan

kalori,

dengan

pertimbangan

mungkin

pasien

tidak

akan

menghabiskan semua porsi makanan yang diberikan. Terapi gizi dilaksanakan


dengan rute partial parenteral

karena pasien tidak tercukupi kebutuhan

energinya bila asupan hanya via oral, namun di lain pihak saluran cerna masih
berfungsi dengan baik, sehingga tetap diberikan secara enteral untuk menjaga
fungsi usus serta menghemat biaya. Setiap hari dilakukan monitoring dan
evaluasi daya terima, dan ternyata pasien dapat meningkatkan asupan makanan
via oral sehingga total asupan hingga tanggal 8 Juni 2013 mencapai 1145 Kkal
dan 255 Kkal via parenteral.