Anda di halaman 1dari 29

D4 KURIKULUM KHUSUS

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

ASPEK PERPAJAKAAN DALAM ECOMMERCE DI INDONESIA


SEMINAR PERPAJAKAN

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Adang Mochamad Sugiri ( 1 )


Melva Hutagaol
(20)
Muhammad Taufiq R.
Sahat Marulitua Sihombing
Tri Haska Hafidzi
(29)

(21)
(26)

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perkembangan teknologi mendorong penggunaan internet. Penggunaan
smartphone misalnya, dimana Indonesia merupakan negara dengan pengguna
smartphone terbanyak ke lima di dunia, meningkatkan penggunaan internet di
IndonesiaMenurut e. Perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin dekat
dengan internet pada akhirnya juga mendorong interaksi antar manusia melalui
media

tersebut,

tidak

terkecuali

penggunaan

internet

dalam

transaksi

perdagangan.
Menurut lembaga riset ICD, pasar e-commerce di Indonesia mengalami
pertumbuhan 42% dari tahun 2012-2015. Pertumbuhan ini lebih tinggi
dibandingkan dengan negara-negara

ASEAN lainnya seperti Malaysia (14%),

Filiphina (28%), Thailand (22%). Bahkan, menurut Lembaga riset pemasaran eMarketer, pertumbuhan bisnis e-commerce di Indonesia pada 2013 diperkirakan
mencapai 71 persen. Angka ini melampaui pertumbuhan e-commerce di negara
Tirai Bambu China yang hanya sebesar 61%. Nilai pasar dari e-Commerce di
Indonesia sudah mencapai Rp.96 triliun tahun 2013, dan kemungkinan akan
meningkat 288 triliun di tahun 2014. Informasi statistik tersbut menunjukkan
bahwa e-commerce memiliki potensi ekonomi yang besar bagi Indonesia di
masa depan.
E-commerce dapat menjadi sumber penerimaan perpajakan yang memiliki
potensi yang besar. Namun demikian, pertumbuhan volume perdagangan dari
e-commerce tidak diikuti oleh peningkatan penerimaan perpajakan yang
signifikan di sektor tersebut. Sampai dengan November 2014, DJP

telah

melakukan penelitian aras 1500 data Wajib Pajak yang malakukan kegiatan ecommerce yang diperoleh melalui internet. Berdasarkan jumlah tersebut, hanya
terdapat 1000 pelaku e-commerce yang memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib
Pajak). Selebihnya merupakan pengusaha-pengusaha rumahan yang berjualan
lewat social media seperti pengusaha rumah tangga atau sampingan saja.
Disamping itu, dari pelaku e-commerce yang memiliki NPWP hanya 50% saja
yang sudah melaporkan SPT (Surat Pemberitahuan). Bahkan, DJP belum
melakukan
disampaikan.

pemeriksaan
Dengan

mengenai kebenaran atas pelaporan SPT yang

demikian, bisa terlihat kepatuhan pajak pelaku e-

commerce di Indonesia masih sangat rendah.


Potensi pajak yang dapat terdeteksi baru-baru ini masih sebatas transaksi ecommerce yang mencakupi business to consumer (B2C). Transaksi jenis ini yang

Page | 1

seringkali merupakan transaksi besar dan lebih mudah untuk terdeteksi.


Sedangkan transaksi B2C biasanya lebih sulit untuk

terdeteksi

karena

biasanya merupakan transaksi yang terjadi pada usaha kecil menengah dan
pemiliknya belum memiliki NPWP.
Pada tulisan ini, kelompok kami akan melakukan pembahasan mengenai
aspek perpajakan terkait e-commerce di Indonesia. Kami akan memaparkan
mengenai

beberapa

model

e-commerce

yang

diatur

dalam

ketentuan

perpajakan, serta beberapa permasalahan terkait hal ini. Sebelumnya, pada


bagian pendahuluan kami akan membahas mengenai definisi e-commerce.
B. DEFINISI E-COMMERCE
E-commerce pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994 pada saat
pertama kali banner-electronic dipakai untuk tujuan promosi dan periklanan di
suatu halaman-web (website). Istilah e-commerce telah berubah sejalan dengan
waktu. Awalnya, e-commerce berarti pemanfaatan transaksi komersial, seperti
penggunaan

EDI

untuk

mengirim

dokumen

komersial

seperti

pesanan

pembelian atau invoice secara elektronik. Kemudian dalam perjalanannya


berkembang

menjadi

suatu

aktivitas

yang

mempunyai

istilah

web

perdagangan pembelian barang dan jasa melalui internet.


E-commerce seringkali digambarkan sebagai satu dari tiga jenis transaksi,
yaitu perusahaan ke perusahaan (business-to-business/B2B), perusahaan ke
konsumen

(business-to

consumer/B2C)

dan

perusahaan

ke

pemerintah

(business-to-government/ B2G). Sebagian besar minat dan literatur berfokus


pada e-commerce B2B dan B2C. Adapaun sekitar 80 persen dari nilai total ecommerce di dunia saat ini merupakan e-commerce B2B.
Definisi dari e-commerce itu sendiri adalah transaksi internet untuk menjual
atau membeli barang atau jasa, baik antara perusahaan, rumah tangga,
individu, pemerintah dan organisasi publik maupun swasta, yang dilakukan
melalui internet. Barang dan jasa di pesan melalui internet, tetapi pembayaran
dan pengiriman barang dan jasa tersebut dapat dilakukan secara online atau
offline.
Ada tiga hal yang diperlukan untuk membangun definisi e-commerce yang
diterima masyarakat internasional. Tiga hali tersebut berkaitan dengan jaringan
yang lebih relevan dengan kegiatan yang dilaksanakan, proses yang patut
dimasukkan ke dalam domain umum e-commerce, serta pelaku yang terlibat
dalam transaksi.
Pemerintah juga mengadopsi pendefinisian ini. Menurut Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak Nomor SE - 62/PJ/2013 tentang Penegasan Ketentuan
Perpajakan Atas Transaksi E-commerce, E-commerce adalah perdagangan
barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh pelaku usaha dan konsumen melalui

Page | 2

sistem

elektronik.

E-commerce

sebenarnya

sudah

diatur

di

dalam

UU

Perdagangan. Dalam UU Perdagangan, e-commerce atau Perdagangan Melalui


Sistem Elektronik (PMSE) didefinisikan sebagai perdagangan yang transaksinya
dilakukan melalui serangkaian perangkat dan prosedur elektronik
E-commerce berbeda dengan e-business, dimana istilah yang ke dua
memiliki makna yang lebih luas. E-business tidak terbatas padagangan, tetapi
mencakup juga kolaborasi di antara mitra bisnis, pelayanan nasabah, lowongan
pekerjaan dan sebagainya menggunakan teknologi internet. Perbedaan antara
kedua istilah tersebut sangat tipis. Ketika dalam suatu transaksi sudah terjadi
transaksi jual beli dengan sistem online, maka transaksi tersebut dinamakan ecommerce, namun selama belum terjadi transaksi jual beli kegiatannya disebut
sebagai e-business.

Page | 3

BAB II
PEMBAHASAN

A. DASAR HUKUM
Pada dasarnya tidak ada jenis pajak baru bagi pelaku bisnis e-commerce di
Indonesia. Di Indonesia baru terdapat aturan yang sifatnya hanya memberi
penegasan bahwa kewajiban perpajakan atas kegiatan e-commerce sama
dengan kegiatan jual beli pada umumnya, sehingga yang menjadi objek pajak
adalah sama, yaitu: Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, serta Pajak
Penjualan atas Barang Mewah.
Ketiadaan aturan pajak yang mengatur secara khusus mengenai

e-

commerce didasari oleh sulitnya DJP dalam mengidentifikasi transaksi bisnis


yang dilakukan oleh pelaku e-commerce, terlebih jika transaksi tersebut sudah
melibatkan transaksi lintas kewenangan otoritas pajak antar negara.
Tidak ada perbedaan aspek perpajakan antara transaksi e-commerce dengan
perdagangan konvensional, sehingga, peraturan terkait e-commerce sendiri
masih merupakan peraturan yang sama dengan peraturan terkait jenis kegiatan
usaha lainnya. Berikut ini merupakan beberapa peraturan yang terkait dengan
e-commerce.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 dan peraturan pelaksanaannya.


Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang

Nomor 36 Tahun 2008 dan peraturan pelaksanaannya.


Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai
Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009

dan peraturan pelaksanaannya.


Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE - 62/PJ/2013 tentang
Penegasan Ketentuan Perpajakan Atas Transaksi E-commerce

B. KLASIFIKASI KEGIATAN E-COMMERCE


Perkembangan teknologi informasi dan gaya hidup mayararakat memberikan
dampak yang begitu besar pada perkembangan model bisnis saat ini, terutama
yang berbasis internet. Terdapat banyak model bisnis yang ada saat ini.
Pengklasfikasian model bisnis tersebut memberikan kemudahan bagi kita untuk
memahami keberagaman model bisnis

e-commerce yang ada saat ini,

terutatama untuk tujuan perpajakan. Berikut ini merupakan klasifikasi ecommerce menurut OECD.

Page | 4

MODEL E-

COMMERCE
Advertising-based
revenues

Digital content
purchases or
rentals
Selling of goods

Subscriptionbased revenues

Selling of services

Licensing content
and technology
Selling of user
data and
customised
market research
Hidden fees
and loss leaders

KETERANGAN
Penyediaan konten digital dalam bentuk space (ruang) iklan
berbayar di sebuah website atau platform (aplikasi) yang dapat
diakses melalui internet. Selain itu, iklan berbayar juga disediakan
oleh platform media sosial.
Contoh: Google Adsense
Penyedia konten digital mendapatkan pendapatan dari konsumen
yang membayar untuk setiap rental
Contoh: prezi.com, scribd.com
Toko virtual (online retailer) yang menjual barang-barang
berwujud (tangibles) melalui website resminya atau pasar digital
(online marketplace) di Internet. Barang-barang tidak berwujud
(virtual item) yang diperjualbelikan dalam aplikasi dan online
games juga termasuk ke dalam kategori ini.
Contoh: lazada.com
Pendapatan diperoleh dari biaya berlangganan konten digital yang
dibayarkan oleh konsumen secara berkala. Konten digital yang
dimaksud adalah berita, streaming musik & video, dan
sebagainya. Juga termasuk pembayaran rutin untuk pelayanan
dan pemeliharaan aplikasi atau software, seperti anti-virus yang
harus di-update melalui internet.
Contoh: Netflix, Avira
Model bisnis ini bergerak di bidang jasa tertentu. Contoh jasa
yang dapat disediakan secara online saat ini adalah jasa hukum,
jasa keuangan (perantara), jasa konsultasi, biro perjalanan
(pariwisata), digital agency dan sebagainya.
Jasa yang disediakan lebih terspesifikasi. Yaitu, jasa pembuatan
konten digital (jurnal dan technology)
Segala sesuatu yang berkaitan dengan jual beli penyediaan
database, analisis database, telematika, dan data yang diperoleh
untuk tujuan penelitian. Penyedia layanan internet (ISP) termasuk
ke dalam kategori ini.
Contoh: Blitarnet, Onedrive
Model bisnis ini sudah dikenal secara tradisional. Pada kategori ini
suatu barang/jasa dijual dengan harga rendah atau gratis,
kemudian kerugian tersebut ditutupi dengan menjual barang/ jasa
pelengkapnya. Atas barang/jasa pelengkap tersebut dikenakan
biaya yang cukup tinggi sehingga menjadi keuntungan bagi
penyedianya.
Contoh: xiaomi, online banking, kindle fire.

Dari sekian jenis pengklasifikasian tersebut, DJP memiliki klasifikasi atas


kegiatan e-commerce yang lebih sederhana. Menurut DJP dalam SE-62/PJ/2013,
seluruh transaksi e-commerce ke dalam empat model. Pengklasifikasian ini
dibuat untuk memudahkan para pelaku e-commerce dalam mengidentifikasi
jenis usahanya masuk ke model yang mana. Sehingga, mereka dapat dengan
mudah mengidentifikasi kewajiban perpajakannya.
Pengklasifikasian tersebut ditegaskan di dalam SE-62/PJ/2013 dimana
kegiatan e-commerce dibagi ke dalam empat kegiatan besar untuk tujuan
perpajakan dan kemudahan identifikasi kewajiban perpajakan, yaitu Online

Page | 5

Marketplace, Classified Ads, Daily Deals dan Online Retail. Berikut ini
merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai klasifikasi tersebut.
MODEL E-

KETERANGAN

COMMERCE
Online
Marketplace

Classified Ads

Daily Deals

Online Retail

kegiatan menyediakan tempat kegiatan usaha berupa Toko


Internet di Mal Internet sebagai tempat online Marketplace
Merchant menjual barang atau jasa. Pihak-pihak yang terkait
adalah penyelenggara, merchant dan pembeli
Contoh:
tokopedia.com,
rakuten.com,
bukalapak.com,
duniavirtual.com
kegiatan menyediakan tempat dan atau waktu untuk memajang
content barang dan atau jasa bagi Pengiklan untuk memasang
iklan yang ditujukan kepada Pengguna Iklan melalui situs yang
disediakan oleh Penyelenggara Classified Ads. Pihak-pihak yang
terkait adalah penyelenggara, pengiklan dan pengguna iklan.
Contoh: Olx.com, kaskus.com, ebay.com
kegiatan menyediakan tempat kegiatan usaha berupa situs Daily
Deals sebagai tempat Daily Deals Merchant menjual barang atau
jasa kepada pembeli dengan menggunakan voucher sebagai
sarana
pembayaran.
Pihak-pihak
yang
terkait
adalah
penyelenggara, merchant dan pembeli.
Contoh: dealgoing.com
Kegiatan menjual barang dan atau jasa yang dilakukan oleh
penyelenggara Online Retail kepada pembeli di situs Online Retail.
Pihak-pihak yang terkait adalah penyelenggara yang sekaligus
berperan sebagai merchant dan pihak lainnya adalah pembeli.
Contoh: bhinneka.com, gramedia.com

C. ASPEK PERPAJAKAN E-COMMERCE


Sebagaimana disampaikan pada bagian sebelumnya, aspek perpajakan ecommerce masih mengacu pada peraturan perpajakan yang berlaku pada
perdagangan konvensional. Secara khusus, aspek perpajakan pada e-commerce
ditegaskan di dalam E - 62/PJ/2013 tentang Penegasan Ketentuan Perpajakan
Atas Transaksi E-commerce yang mengklasifikasikan kegiatan e-commerce ke
dalam

empat

kategori

dengan

masing-masing

penjelasan

kewajiban

perpajakannya. Pada bagian berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai
pengaturan tersebut.
1. Online Marketplace
Dalam kegiatan Online Marketplace, terdapat kewajiban PPh dan PPN dalam
proses bisnis jasa penyediaan tempat dan atau waktu, penjualan barang
dan atau jasa, serta dalam proses bisnis penyetoran hasil penjualan kepada
merchant oleh penyelenggara.
Jasa Penyediaan Tempat dan/atau Waktu
a. Pajak Penghasilan
Objek pajak berupa penghasilan dari jasa penyediaan tempat dan/atau
waktu dalam media lain untuk penyampaian informasi merupakan objek

Page | 6

PPh yang wajib dilakukan pemotongan PPh Pasal 23, Pasal 21, atau Pasal
26.
b. Pajak Pertambahan Nilai
Objek pajak berupa jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam
media lain untuk penyampaian informasi merupakan Jasa Kena Pajak
(JKP). Penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean atau pemanfaatan JKP dari
luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean dikenai PPN.

Penjualan Barang dan/atau Jasa


a. Pajak Penghasilan
Penghasilan dari penjualan barang dan/atau penyediaan jasa merupakan
objek

PPh.

Apabila

penghasilan

dari

penjualan

barang

dan/atau

penyediaan jasa merupakan objek pemotongan/pemungutan PPh, maka


wajib untuk dilakukan pemotongan/pemungutan PPh.
b. Pajak Pertambahan Nilai
Penyerahan yang dilakukan oleh Online Marketplace Merchant kepada
Pembeli Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP), yang
dapat berupa penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP di dalam Daerah
Pabean, ekspor BKP Berwujud, ekspor BKP Tidak Berwujud, dan/atau
ekspor JKP.
Penyetoran Hasil Penjualan kepada Merchant oleh Penyelenggara
a. Pajak Penghasilan
Penghasilan dari jasa perantara pembayaran merupakan objek PPh yang
wajib dilakukan pemotongan PPh Pasal 23, Pasal 21, atau Pasal 26. Serta
imbalan sehubungan jasa perantara pembayaran dalam contoh proses
bisnis Online Marketplace ini dapat berupa Per Sale Fee dan/atau tagihan
lainnya.
b. Pajak Pertambahan Nilai
Jasa perantara pembayaran, yang diserahkan oleh Penyelenggara Online
Marketplace

kepada Online

Marketplace

Merchant, merupakan Jasa

Kena Pajak (JKP). Serta penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean atau
pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean
dikenai PPN.
2. Classified Ads
Dalam kegiatan Classified Ads, terdapat kewajiban PPh dan PPN dalam
proses bisnis penyediaan tempat dan/atau waktu untuk memajang content
barang dan atau jasa.
a. Pajak Penghasilan
Penghasilan dari jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media
lain untuk penyampaian informasi merupakan objek PPh yang wajib
dilakukan pemotongan PPh Pasal 23, Pasal 21, atau Pasal 26. Serta

Page | 7

imbalan sehubungan jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam


situs internet untuk penyampaian informasi dalam contoh proses bisnis
Classified Ads ini dapat berupa transaction fee.
b. Pajak Pertambahan Nilai
Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media lain untuk
penyampaian informasi merupakan Jasa Kena Pajak (JKP). Imbalan
sehubungan jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam situs internet
untuk penyampaian informasi dalam contoh proses bisnis Classified Ads
ini dapat berupa Transaction Fee. Penyerahan JKP di dalam Daerah
Pabean atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah
Pabean dikenai PPN.
3. Daily Deals
Dalam kegiatan Daily Deals, terdapat kewajiban PPh dan PPN dalam proses
bisnis jasa penyediaan tempat dan atau waktu, penjualan barang dan atau
jasa, serta dalam proses bisnis penyetoran hasil penjualan kepada merchant
oleh penyelenggara
Jasa Penyediaan Tempat dan/atau Waktu
a. Pajak Penghasilan
Penghasilan dari jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media
lain untuk penyampaian informasi merupakan objek PPh yang wajib
dilakukan pemotongan PPh Pasal 23, Pasal 21, atau Pasal 26.
b. Pajak Pertambahan Nilai
Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media lain untuk
penyampaian informasi merupakan Jasa Kena Pajak (JKP). Imbalan
sehubungan jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam situs internet
untuk penyampaian informasi dalam contoh proses bisnis Daily Deals ini
dapat berupa Monthly Fixed Fee. Penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean
atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean
dikenai PPN.
Penjualan Barang dan/atau Jasa
a. Pajak Penghasilan
Penghasilan dari penjualan barang dan/atau penyediaan jasa merupakan
objek

PPh.

Apabila

penghasilan

dari

penjualan

barang

dan/atau

penyediaan jasa merupakan objek pemotongan/pemungutan PPh, maka


wajib untuk dilakukan pemotongan/pemungutan PPh.
b. Pajak Pertambahan Nilai
Penyerahan yang dilakukan oleh Daily Deals Merchant kepada Pembeli
BKP dan/atau JKP, yang dapat berupa penyerahan BKP dan/atau
penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean, ekspor BKP Berwujud, ekspor
BKP Tidak Berwujud, dan/atau ekspor JKP.

Page | 8

Penyetoran Hasil Penjualan kepada Daily Deals Merchant Oleh


Penyelenggara
Daily Deals
a. Pajak Penghasilan
Penghasilan dari jasa perantara pembayaran merupakan objek PPh yang
wajib dilakukan pemotongan PPh Pasal 23, Pasal 21, atau Pasal 26.
Imbalan sehubungan jasa perantara pembayaran dalam contoh proses
bisnis Daily Deals ini dapat berupa per Sale Fee, Point Fee serta tagihan
lainnya.
b. Pajak Pertambahan Nilai
Jasa perantara pembayaran, yang diserahkan oleh Penyelenggara Daily
Deals kepada Daily Deals Merchant, merupakan Jasa Kena Pajak (JKP).
Penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean atau pemanfaatan JKP dari luar
Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean dikenai PPN
4. Online Retail
Dalam kegiatan Online Retail terdapat kewajiban PPh dan PPN dalam proses
bisnis penjualan barang dan atau jasa
a. Pajak Penghasilan
Penghasilan dari penjualan barang dan/atau penyediaan jasa merupakan
objek

PPh.

Apabila

penghasilan

dari

penjualan

barang

dan/atau

penyediaan jasa merupakan objek pemotongan/pemungutan PPh, maka


wajib untuk dilakukan pemotongan/pemungutan PPh.
b. Pajak Pertambahan Nilai
Penyerahan yang dilakukan oleh Penyelenggara Online Retail kepada
Pembeli BKP dan/atau JKP, yang dapat berupa penyerahan BKP dan/atau
penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean, ekspor BKP Berwujud, ekspor
BKP Tidak Berwujud, dan/atau ekspor JKP.
Khusus untuk pelaku e-commerce yang memiliki perederan usaha tidak lebih
dari 4,8 milyar dalam satu tahun pajak dapat menggunakan fasilitas PP Nomor
46/2013

yaitu

menghitung

PPH

atas

transaksi

e-

Commerce

dengan

menggunakan tarif tunggal yaitu 1% x Dasar Pengenaan Pajak.


D. ASPEK PERPAJAKAN INTERNASIONAL DALAM E-COMMERCE
E-commerce identik dengan transaksi yang menggunakan internet sebagai
sara penghubung antar pihak-pihak yang bertransaksi. Sementara itu, internet
memudahkan pihak-pihak yang bertransasaksi melakukan komunikasi tanpa
mengenal batas negara. Sehingga, e-commerce sendiri kadang dilakukan atas
pihak-pihak lintas negara.
Jika kita mempertimbangkan aspek perpajakan dalam transaksi e-commerce
tersebut, maka sebenarnya atas transaksi lintas negara tersebut berlaku
peraturan pajak internasional. Selanjutnya harus dipertimbangkan beberapa hal
mengenai domisili pihak-pihak yang saling bertransaski, time test atas domisili,

Page | 9

keberadaan Bentuk Usaha Tetap, serta keberadaan Perjanjian Penghindaran


Pajak Berganda (P3B) antar negara domisili untuk menentukan pengenaan
perpajakan atas transasksi tersebut.
Yang perlu diperhatikan mengenai hal ini adalah bahwa komputer, agen
elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh
penyelenggara e-commerce untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet
sudah dikategorikan sebagai BUT menurut pasal 2 ayat 5 UU PPh. BUT adalah
bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat
tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183
(seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan atau
berdasarkan P3B, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di
Indonesia. Adapun BUT ini memiliki perlakuan perpajakannya dipersamakan
dengan subjek pajak badan (dalam negeri).
Bagi transaksi barang dalam perdagangan internasional, menjadi suatu
norma bagi negara penjual yang melakukan ekspor untuk tidak mengenakan
PPN atas ekspor barang tersebut, sementara negara pembeli memungut PPN
atas impor yang dilakukan. Sementara untuk identifikasi tempat pemajakan
atas transaksi jasa dalam perdagangan internasional, terdapat dua pendekatan
yang umum diterapkan yaitu:
1. Jika konsumen berada di negara yang berbeda dengan penyedia jasa, maka

PPN dikenakan di negara tempat konsumen tersebut berdomisili.


2. Terdapat dua cara dalam pengadministrasian PPN dalam pendekatan ini,

yaitu:
Penyedia jasa mendaftarkan diri di negara tempat konsumen berdomisili
dan kemudian memungut serta menyetor PPN ke negara tempat

konsumen berdomisili.
Ketika konsumen merupakan Pengusaha Kena Pajak maka kewajiban
pemungutan dan penyetoran PPN itu diberikan kepada konsumen dan PPN
yang dibayar sendiri oleh konsumen tersebut dapat digunakan sebagai
pajak masukan untuk tujuan pengkreditan PPN.

3. Pemberian jasa dikenakan PPN di negara tempat penyedia jasa berdomisili,

meskipun jasa tersebut diberikan di negara tempat konsumen berdomisili.


Dalam praktiknya, sulit untuk menentukan aspek domisili atas pihak-pihak
pelaku e-commerce, terlebih dari segi pengawasan oleh DJP. Disamping itu,
mengingat PPN menganut prinsip destinasi pemanfaatan barang/jasa serta
aspek perpajakan bersifat yang self-assessment bahkan atas pelaku ecommerce yang bukan pengusaha, penerima barang/jasa dari luar negeri
mengalami motivasi yang rendah untuk melaporkan kegiatannya untuk dikenai
PPN.

Page | 10

E. TAX PLANNING DALAM E-COMMERCE


Para pelaku usaha memiliki kecenderungan

untuk

memaksimalkan

keuntungan pribadi. Perpajakan pada dasarnya memiliki sifat disinsentif dalam


kegiatan ekonomi pelaku usaha. Sehingga, para pelaku usaha melakukan tax
planning untuk meminimaslisasi pajak yang harus di bayar. E-commerce
memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan kegiatan usaha lainnya.
Sehingga, tax planning yang dilakukan pun akan berbeda daripada tax planning
pada jenis usaha lainnya.
Bahkan, untuk mengidari pengenaan perpajakan tersebut, terdapat risiko
dimana wajib pajak melakukan tax evasion. Beberapa bentuk tax evasion yang
biasa dilakukan antara lain adalah tidak melakukan pendaftaran NPWP, tidak
menyampaikan SPT, menyampaikan SPT dengan nilai pajak yang lebih rendah
dari yang seharusnya, serta benuk lainnya dari tax evasion.
Adapun, berikut ini merupakan contoh bentuk-bentuk tax planning yang bisa
dilakukan

oleh

pelaku

e-commerce

untuk

meminimalisasi

pembayaran

perpajakannya.
1. Penghindaran atas keberadaan BUT. Jika penghasilan yang diperoleh dari
negara sumber tanpa adanya BUT tersebut dilakukan secara bersamaan
dengan strategi untuk menghindari pajak di negara domisili sehingga
penghasilan tersebut tidak dikenakan pajak di manapun, maka dalam hal ini
timbul isu penghindaran pajak. Menghindari timbulnya BUT juga dapat
dilakukan melalui aktivitasaktivitas yang dikecualikan dari BUT sebagaimana
diatur dalam Pasal 5 ayat (4) OECD Model. Salah satu dari pengecualian
tersebut

misalnya

adalah

penggunaan

fasilitas-fasilitas

semata-mata

dengan maksud untuk menyimpan atau memamerkan barang-barang atau


barang dagangan milik perusahaan yang memiliki penafsiran sangat luas,
terutama jika dianalogikan dengan sebuah website yang memenuhi kriteria
tersebut.
2. Memaksimalkan biaya di negara tempat barang atau jasa dipasarkan dalam
bentuk pembayaran bunga, royalti, atau biaya manajemen yang identik
dengan praktik transfer pricing. Hal ini juga dapat dilakukan dengan
meminimalkan fungsi, aset, dan risiko di negara tempat barang atau jasa
dipasarkan.
3. Hak atas aset tidak berwujud dan penghasilan dari penggunaan aset tersebut

ditempatkan pada perusahaan yang berdomisili di negara yang menerapkan


preferential regime (misalnya penawaran perlakuan yang menguntungkan
untuk warga non atau perusahaan tidak aktif di pasar domestik negara
tersebut). Beberapa contoh negara yang menerapkan prinsip ini adalah
Irlandia yang memberikan tarif khusus bagi perusahaan penyedia teknologi
informasi dan komunikasi, serta Belanda dan Inggris yang menerapkan

Page | 11

konsep patent box (juga dikenal sebagai IP-Box atau Innovation-Box ) yang
pada dasarnya dapat mengurangi pembayaran pajak secara global oleh
perusahaan.
F. PERMASALAHAN TERKAIT ASPEK PERPAJAKAN PADA E-COMMERCE DI
INDONESIA
Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang dapat kami identifikasi dari
aspek perpajakan pada e-commerce di Indonesia.
1. Sistem Internal DJP

Faktor

penghambat

di

dalam

permasalahan

pengawasan

serta

penanganan perpajakan di bidang e-commerce ada pada sistem internal


yang berada di DJP. Data-data perpajakan yang tersedia merupakan bagian
dari analisa dan penelitian yang dilakukan oleh para AR maupun petugas
pajak lainnya dalammelakukan pengawasan dan penanganan kepada Wajib
Pajak pelaku usaha online.
2. Kepatuhan dan Kesadaran Wajib Pajak Pelaku Usaha Online

Beberapa

permasalahan

yang

terjadi

pada

dunia

perpajakan

di

Indonesia adalah pada kepatuhan dan kesadaran dari Wajib Pajak. Dalam hal
ini para Wajib Pajak pelaku usaha online masih memiliki kesadaran yang
rendah dalam hal kewajiban perpajakannya. Seperti untuk pemenuhan
pelaporan perpajakan dalam hal pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan,
Surat Pemberitahuan Masa, dan produk hukum pajak lainnya.
3. Peraturan Perpajakan mengenai Transaksi E-commerce

Tidak adanya peraturan khusus mengenai sistem perpajakan pada


transaksi ecommerce juga menjadi faktor penghambat dalam pemenuhan
potensi perpajakan di sector perdagangan jenis ini. Sistem e-commerce
memiliki skema yang berada di jaringan dunia maya, jika pemerintah belum
siap untuk penyediaan sistem yang tepat maka aspek yang lain akan
terkendala pula.
4. Bentuk Usaha Tetap

Untuk perusahaan yang

didirikan di luar negeri, mereka tidak dapat

dikenakan pajak di Indonesia, walau misalnya target konsumennya adalah


masyarakat Indonesia. Keterbatasan ini disebabkan permasalahan penentuan
Bentuk Usaha Tetap (BUT) atau permanent establishment-nya sangat terkait
dengan kehadiran ataupun kegiatan yang secara fisik dilakukan di Indonesia.
Akibatnya, terhadap perusahaan di luar Indonesia, tidak ada suatu dasar
BUT sebagai yurisdiksi perpajakan atas transaksi e-commerce yang terjadi.
Pasalnya, BUT beserta seluruh assetnya tidak terletak di Indonesia, walaupun

Page | 12

misalnya pendiri atau pemegang sahamnya serta target konsumennya


adalah masyarakat Indonesia.
Mengacu pada ketentuan Pasal 2 ayat (5) huruf a-h UU tentang Pajak
Penghasilan (PPh), ada tiga hal yang dapat digunakan untuk menentukan
keberadaan BUT pada suatu negara. Pertama adalah asset test yang
mendasarkan

pada

keberadaan

suatu

aset

di

suatu

negara

untuk

menimbulkan suatu BUT. Hal kedua adalah activity test, yakni melihat apakah
aktivitas yang dilakukan di suatu negara dapat menimbulkan BUT sesuai
dengan ketentuan Pasal 2 (5) huruf i & j UU PPh. Sedangkan hal ketiga yakni
agency test yang digunakan untuk melihat apakah perilaku dari agen
tersebut menimbulkan BUT.
BUT juga dapat timbul jika ISP memfasilitasi seluruh kegiatan web dari
client atau customer-nya. Misalnya dari pendesainan web, web hosting,
operasionalisasi

web, sehingga situs tersebut dapat berfungsi penuh

menjalankan aktifitasnya sesuai keinginan si pedagang. Dalam hal ini ISP,


sebagai system administrator dapat dikatakan sebagai agen. Pada kasus ini,
ISP akan mempunyai dua identitas, yaitu Wajib Pajak dalam negeri untuk
dirinya sendiri dan Wajib Pajak luar negeri untuk BUT. Namun di lapangan,
penentuan BUT ini tetap rumit karena karakter dari tranksasi e-commerce
yang lokasi penjual dan pembelinya, termasuk hostingnya. Sifat anonim dari
para pihak yang melakukan transaksi juga membuat pengawasan sulit untuk
dilakukan.
5. Kendala pemeriksaan

Pemeriksaan

atas

transaksi

yang

terjadi

menjadi

permasalahan

tersendiri dalam aspek perpajakan e commerce. Hal ini disebabkan karena


ternyata pemeriksaan setoran pajak hanya didasarkan atas bukti transaksi
yang tertulis dan tidak menerima bukti transaksi dalam bentuk elektronis
yang terjadi dalam transaksi e-commerce.
Sebenarnya masalah ini adalah masalah yang sangat umum terjadi di
hampir setiap negara. Contoh negara yang dianggapnya cukup sukses adalah
Jepang. Pasalnya, Jepang membentuk badan khusus yang menangani
masalah pajak dalam transaksi e-commerce.
Badan ini kemudian melakukan pendataan atas situs-situs di Jepang
yang memberikan layanan jasa e-commerce. Selain itu, juga dilakukan
kerjasama dengan pihak ISP dan kalangan perbankan, sehingga traksaksi
yang terjadi dapat dimonitor dan dapat ditarik pajaknya.
6. Tidak adanya tempat usaha tetap secara fisik

Page | 13

OECD mengatur hal ini melalui ketentuan BUT yang diadopsi oleh
Indonesia dalam bentuk BUT. Pasal 2 ayat (5) UU PPh memberikan definisi
mengenai bentuk usaha tetap (BUT) sebagai berikut:
Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang
pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang
berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga)
hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak
didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat
berupa:
tempat kedudukan manajemen;
cabang perusahaan;
kantor perwakilan;
gedung kantor;
pabrik;
bengkel;
gudang;
ruang untuk promosi dan penjualan;
pertambangan dan penggalian sumber alam;
wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi;
perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan;
proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;
pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain,
sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka
waktu 12 (dua belas) bulan;
orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya
tidak bebas;
agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan
dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi
asuransi atau menanggung risiko di Indonesia; dan
komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki,
disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik
untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet.
Di antara sekian banyak jenis bentuk usaha yang dijabarkan dalam
pengertian tersebut, terdapat satu kesamaan, yaitu adanya bukti fisik
keberadaan suatu bentuk usaha, baik berupa tempat usaha, seperti gedung,
pabrik, atau bengkel, maupun hanya berupa orang atau agen, dan bahkan
berupa komputer. Namun, pada perkembangannya, transaksi e-commerce
tidak mutlak memerlukan adanya komputer server di wilayah Indonesia.
Suatu transaksi dapat dilakukan oleh orang Indonesia dengan orang dari
negara manapun melalui situs web yang servernya tidak berada di Indonesia.
Ada beberapa perusahaan e-commerce beserta seluruh asetnya yang
tidak terletak di Indonesia dan tidak melaksanakan kegiatan yang secara fisik
di Indonesia. Padahal bisa saja pendiri dan pemegang saham perusahaan ecommerce

tersebut

adalah

orang

Indonesia,

dan

notabene

target

konsumennya adalah orang Indonesia sendiri. Jika merujuk pada pengertian

Page | 14

BUT di atas, dalam hal perusahaan tersebut melakukan kegiatan usaha


melalui situs web, belum ada bentuk usaha tetap yang timbul di Indonesia.
Amerika Serikat (AS) pernah menghapuskan pajak e-commerce ini
karena kesulitan mendefinisikan keberadaan lokasi perusahaan e-commerce.
Namun, karena transaksi online meningkat tajam, hingga mencapai jutaan
dolar AS, maka pemerintah AS terpaksa mengenakan pajak atas transaksi ecommerce atau dikenal dengan streamlined sale tax project walaupun
bertentangan dengan prinsip kehadiran fisik perusahaan.
7. Penentuan negara yang berhak mengenakan pajak

Transaksi e-commerce saat ini semakin berkembang disebabkan oleh


berbagai faktor. Salah satu faktor tersebut adalah kemudahan, di mana
transaksi dilakukan tanpa mengenal batas negara. Hal ini berkebalikan
dengan aspek perpajakannya yang tentunya berbeda-beda tergantung
negaranya. Dalam contoh penerbit majalah di atas, kesulitan penentuan
negara yang berhak mengenakan pajak dapat terjadi dalam hal server yang
digunakan untuk mengelola situs web penerbit berada di negara yang
berbeda dengan negara tempat kedudukan penerbit. Negara tempat server
dapat menganggap bahwa mereka yang berhak mengenakan pajak karena
transaksi dilakukan melalui server yang berada di negara mereka, sedangkan
negara tempat kedudukan penerbit merasa berhak mengenakan pajak karena
penerbit tersebut berada di negara mereka.
Pembatasan waktu atau time test bagi wajib pajak luar negeri sebanyak
183

hari

tampaknya

tidak

mempengaruhi

sulitnya

menentukan

hak

pemajakan e-commerce. Karena, pembatasan 183 hari tersebut menjadi


tidak pas apabila ukurannya menggunakan kuantitas akses internet.
Secara umum, penghasilan dari penjualan akan dikenakan pajak di
negara domisili, kecuali dalam hal di negara sumber terdapat PE/BUT maka
dapat dikenakan pajak di negara sumber. Sedangkan untuk penghasilan lain
seperti royalti, dividen, bunga, sewa, dan sebagainya biasanya semuanya
dapat dikenakan pajak di negara sumber. Meskipun demikian, ada beberapa
negara yang berdasarkan hukum yang berlaku negara tersebut dapat
mengenakan pajak atas semua penghasilan yang berasal dari negara
tersebut tanpa melihat jenisnya, misalnya negara India, Israel, dan Afrika
Selatan.

8. Karakterisasi pembayaran (objek pajak)

Page | 15

Karakterisasi pembayaran yang dilakukan dalam kaitannya dengan


transaksi

e-commerce

bukanlah

hal

yang

mudah.

Dalam

transaksi

konvensional sekalipun, terkadang sulit untuk menentukan jenis pembayaran


yang dilakukan, terutama dalam hal transaksi yang berhubungan dengan
barang

tidak

berwujud.

Kesulitannya

adalah

menentukan

apakah

pembayaran tersebut merupakan pembelian barang, pembayaran jasa,


pembayaran

sewa,

atau

bentuk

lain.

Transaksi

e-commerce

semakin

mempersulit hal ini, karena selain transaksi barang berwujud secara online,
transaksi e-commerce juga melibatkan barang-barang yang berbentuk
digital, seperti software, musik, atau video. Sebagai contoh, sebuah
perusahaan penerbit majalah yang menjual majalahnya melalui situs web.
Pelanggan

dapat

melakukan

pembayaran

kepada

penerbit

untuk

mendapatkan hak membaca, mengunduh, atau mencetak majalah yang


dijual tersebut. Terkait jenis penjualan seperti ini, akan muncul dampak
perpajakan sebagai berikut:

Dalam

hal

pelanggan

hanya

membaca

majalah

secara

online,

pelanggan hanya memperoleh salinan sementara majalah tersebut


sehingga tidak terdapat perpindahan kepemilikan. Dalam hal ini
pembayaran yang terjadi dapat dikategorikan sebagai pembayaran

jasa.
Dalam

hal

perpindahan

pelanggan

mengunduh

kepemilikan

karena

majalah

pelanggan

tersebut,

dapat

terjadi

menggunakan

salinan majalah untuk keperluan lain, misalnya untuk dicetak ulang.


Sebagai akibatnya, pembayaran yang terjadi dapat dianggap sebagai
pembayaran atas perolehan barang (majalah) yang dikenakan pajak
penjualan di negara tempat penerbit majalah tersebut berdomisili atau
tempat server berada, atau dapat pula dianggap sebagai pembayaran
royalti atas penggunaan majalah, atau bahkan keduanya.
Penentuan jenis pembayaran merupakan bagian yang sangat penting
dalam menentukan negara yang berwenang mengenakan pajak atas
transaksi lintas batas (cross border transaction). Secara umum, pembayaran
royalti biasanya dikenakan pajak di negara sumber, sedangkan pembayaran
atas penjualan biasanya dikenakan pajak oleh negara domisili. Apabila
penentuan jenis pembayaran tidak dilakukan secara konsisten, dapat terjadi
pengenaan pajak berganda, misalnya suatu pembayaran di negara sumber
penghasilan diakui sebagai royalti sehingga dikenakan pajak oleh negara
sumber, tetapi di negara domisili penerima penghasilan diakui sebagai
penjualan sehingga dikenakan pajak penjualan lagi di negara domisili.

Page | 16

Di lain pihak, adanya kemungkinan perbedaan karakterisasi tersebut


selanjutnya akan memberi kesempatan kepada perusahaan untuk melakukan
perencanaan

pajak

(abusive

tax

planning)

dengan

cara

mengakui

penghasilan yang diterima sebagai bentuk penghasilan yang dikenakan pajak


dengan tarif terendah di tiap negara yang terlibat. Dalam hal terdapat P3B,
perbedaan karakterisasi ini juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan treaty
abuse, yaitu pemanfaatan P3B oleh pihak-pihak yang sebenarnya tidak
berhak memanfaatkan P3B tersebut.
9. Penentuan negara yang berhak mengenakan PPN atas suatu penyerahan

Permasalahan ini agak mirip dengan permasalahan yang sudah dibahas


di bagian sebelumnya. Dalam kaitannya dengan PPN, ada negara yang
mengenakan PPN berdasarkan asas sumber sedangkan ada pula yang
berdasarkan asas konsumsi, di mana dalam hal ini Indonesia secara eksplisit
menganut asas konsumsi. Adanya perbedaan asas pengenaan ini dapat
berakibat terjadi pengenaan pajak berganda atau malah tidak dikenakan
pajak sama sekali.
10. Kemungkinan perbedaan perlakuan fasilitas PPN

Di Indonesia terdapat fasilitas PPN yang diberikan atas impor dan/atau


penyerahan atas barang kena pajak dan jasa kena pajak tertentu, salah
satunya adalah buku pelajaran. Namun dalam aturannya tidak dijelaskan
lebih lanjut apakah buku yang dimaksud adalah buku berbentuk fisik atau
termasuk juga buku berbentuk digital. Hal ini dapat menimbulkan perbedaan
penafsiran di lapangan sehingga berpotensi menimbulkan kebingungan.
11. Adanya jenis-jenis transaksi yang belum diatur secara khusus mengenai

pengenaan PPN-nya
Berikut ini adalah beberapa transaksi yang belum tetapi sebenarnya
berpeluang dikenakan PPN di Indonesia, yaitu:
a. Transaksi yang berhubungan dengan pembuatan situs web
Pembuatan situs web dapat dikategorikan sebagai jasa periklanan yang
berdasarkan UU PPN bukan merupakan jasa yang tidak dikenakan PPN. Oleh
karena itu, penyerahan jasa desain dan pembuatan situs web seharusnya
terutang PPN.
b. Transaksi yang dilakukan melalui situs web
Berdasarkan OECD Characterization, terdapat 28 jenis transaksi ecommerce yang dilakukan melalui situs web dan berpeluang dikenakan PPN,
yaitu sebagai berikut:

Electronic order processing of intangible product

Page | 17

Transaksi ini adalah pembelian melalui katalog. Apabila produk yang


diperdagangkan

bukan

merupakan

barang

atau

jasa

yang

tidak

dikenakan PPN sebagaimana diatur dalam UU PPN, transaksi tersebut


merupakan penyerahan barang kena pajak atau jasa kena pajak dan
terutang PPN sesuai Pasal 4 UU PPN.

Electronic ordering and downloading of digital product


Transaksi ini adalah pembelian produk melalui online catalog of software
secara digital. Dalam hal ini software adalah barang kena pajak tidak
berwujud sehingga atas penyerahannya terutang PPN sesuai Pasal 1
angka 3 UU PPN.

Electronic ordering and downloading of digital product for purpose of


commercial exploitation of the copyright
Pemanfaatan

produk

penggunaan

merk

digital untuk

dagang,

lisensi,

keperluan
dan

komersial, misalnya

sebagainya

berdasarkan

ketentuan Pasal 4 huruf d UU PPN termasuk pemanfaatan barang kena


pajak tidak berwujud yang dikenakan PPN.

Updates and add-ons


Kegiatan pemutakhiran dan penambahan kelengkapan atas suatu
software merupakan penyerahan yang terutang PPN karena software
merupakan barang kena pajak tidak berwujud sesuai Pasal 1 angka 3 UU
PPN.

Limited duration software and other digital information licenses


Pemberian izin secara cuma-cuma untuk mendapatkan suatu software
dalam jangka waktu tertentu untuk keperluan promosi penjualan
termasuk kategori penyerahan yang terutang PPN.

Single use software or other digital products


Dalam transaksi ini, pembeli memperoleh hak untuk menggunakan
software atau produk digital lainnya sebanyak satu kali. Karena software
atau produk digital lainnya tersebut merupakan barang kena pajak tidak
berwujud, penyerahan atasnya merupakan penyerahan yang terutang
PPN.

Application hosting separate license


Dalam transaksi ini pengguna memiliki hak tetap untuk menggunakan
produk software melalui perjanjian dengan host entity dengan cara
menempatkan software copy pada server dan pengguna menerima
bantuan teknik. Fasilitas atau hak untuk menempatkan software dan
bantuan teknik merupakan jasa kena pajak sesuai Pasal 1 angka 6 dan

Page | 18

Pasal 4A UU PPN sehingga transaksi ini merupakan transaksi yang


terutang PPN.

Application hosting bundled contract


Perjanjian dengan provider pemilik hak cipta untuk mengakses software
merupakan transaksi yang terutang PPN.

Application service provider (ASP) transaction


Dalam transaksi ini ASP memperoleh lisensi untuk menggunakan
aplikasi software dan memberikan akses kepada pelanggan atas aplikasi
tersebut. Aplikasi software termasuk barang kena pajak tidak berwujud
sesuai Pasal 1 angka 3 dan Pasal 4A UU PPN sehingga penyerahannya
dari ASP kepada pelanggan merupakan penyerahan yang terutang PPN.

ASP license fees


ASP melakukan pembayaran kepada provider aplikasi software sejumlah
persenan

dari

Pembayaran

penerimaan

tersebut

yang

merupakan

diperoleh

dari

pembayaran

pelanggan

atas

ASP.

pemanfaatan

barang kena pajak tidak berwujud sesuai Pasal 1 angka 3 UU PPN


sehingga terutang PPN.

Website hosting provider


Pemberian tempat pada server untuk ditempati oleh situs web termasuk
kategori jasa kena pajak sesuai Pasal 1 angka 6 dan Pasal 4A UU PPN
sehingga terutang PPN.

Software maintenance
Transaksi ini merupakan penggabungan antara software maintenance
contract dengan software updates dengan bantuan teknik. Transaksi ini
dikategorikan sebagai jasa kena pajak berdasarkan Pasal 1 ayat 6 dan
Pasal 4A UU PPN sehingga terutang PPN.

Data warehousing
Penempatan data komputer pelanggan dalam server yang dimiliki dan
dioperasikan
space/tempat

oleh
untuk

provider

yang

menyimpan

merupakan
database

jasa

pemanfaatan

dikategorikan

sebagai

penyerahan jasa kena pajak berdasarkan Pasal 1 angka 6 dan Pasal 4A


UU PPN sehingga terutang PPN.

Customer support over computer network


Bantuan teknik termasuk saran-saran instalasi, informasi pemecahan
masalah yang berupa bantuan teknis, database pemecahan masalah,

Page | 19

yang dilakukan secara online termasuk jasa kena pajak yang terutang
PPN.

Data retrieval
Penyerahan informasi kepada pelanggan merupakan jasa kena pajak
menurut Pasal 1 angka 6 dan Pasal 4A UU PPN sehingga terutang PPN.

Delivery of exclusive or other high value data


Produk yang diserahkan dalam bentuk informasi dengan tambahan
analisis atas data pelanggan sehingga menurut Pasal 1 angka 6 dan
Pasal 4A UU PPN merupakan jasa kena pajak yang terutang PPN.

Advertising or banner ads


Transaksi pembayaran atas iklan yang muncul setiap pengguna
mengklik situs web tertentu sesuai Pasal 1 angka 6 dan Pasal 4A UU PPN
merupakan penyerahan jasa kena pajak yang terutang PPN.

Electronic access to professional advice


Konsultasi jasa profesional seperti konsultan, pengacara, dan dokter
secara online juga merupakan penyerahan jasa kena pajak yang
terutang PPN berdasarkan Pasal 1 angka 6 dan Pasal 4A UU PPN.

Technical information
Penyerahan atas informasi teknis yang bersifat rahasia merupakan
penyerahan jasa kena pajak yang terutang PPN sesuai Pasal 1 angka 6
dan Pasal 4A UU PPN.

Information delivery
Pengiriman informasi kepada pelanggan juga termasuk penyerahan jasa
kena pajak yang terutang PPN berdasarkan Pasal 1 angka 6 dan Pasal 4A
UU PPN.

Access to an interactive website


Pemberian akses terhadap situs web tertentu termasuk informasi,
musik, video, game, dan kegiatan lainnya merupakan penyerahan jasa
kena pajak yang terutang PPN berdasarkan Pasal 1 angka 6 dan Pasal 4A
UU PPN.

Online shopping portals


Space/ruang

yang

dimanfaatkan

oleh

para

merchant

untuk

menempatkan katalognya merupakan jasa kena pajak yang atas


penyerahannya terutang PPN berdasarkan Pasal 1 angka 6 dan Pasal 4A
UU PPN

Page | 20

Online auctions
Hak

untuk

menampilkan

barang

yang

diterima

oleh

merchant

merupakan jasa kena pajak yang atas penyerahannya terutang PPN


berdasarkan Pasal 1 angka 6 dan Pasal 4A UU PPN.

Sales referral program


Sales referral program yang diterima oleh online provider dari operator
situs web merupakan jasa kena pajak yang atas penyerahannya
terutang PPN berdasarkan Pasal 1 angka 6 dan Pasal 4A UU PPN.

Content acquisition transaction


Operator situs web membayar content provider atas cerita-cerita baru,
informasi, dan content lainnya. Atas penyerahan informasi tersebut
terutang PPN.

Streamed (real-time) web based broadcasting


Pengguna mengakses database copyrighted audio dan/atau materi
visual lainnya dan broadcaster menerima penghasilan dari langganan
atau iklan. Atas transaksi ini terutang PPN.

Carriage fees
Content provider membayar operator situs web agar content-nya
ditampilkan pada laman web/jaringan. Atas transaksi ini terutang PPN.

Subscription to website allowing the downloading of digital products


Pelanggan membayar secara periodik biaya untuk mengakses situs web
yang berisi digital copyrighted content. Atas transaksi ini terutang PPN.

Page | 21

BAB III
PENGATURAN PERPAJAKAN E-COMMERCE DI NEGARA LAINNYA
(ASTRALIA, DAN SINGAPURA)

Untuk menambah pengetahuan kita mengenai aspek perpajakan dalam ecommerce, pada bagian ini kami sampaikan beberapa pengaturan perpajakan atas
e-commerce pada negara lain seperti pada Australia dan Singapura. Diharapkan
berdasarkan pemahaman tersebut, kita dapat menarik nilai lebih dari pengaturan
pada negara-negara tersebut.
A. AUSTRALIA
Sehubungan dengan transaksi e-commerce yang terjadi di Australia, ada dua
persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam aturan PPN, yaitu:

Segala sesuatunya (the things) diselesaikan di Australia;


Supplier melakukan penyerahan melalui suatu perusahaan di Australia
Penyerahan e-commerce yang dilakukan suatu supplier yang berkedudukan di

Australia secara umum dikenakan PPN baik penyerahan di dalam negeri maupun di
luar negeri.Namun penyerahan e-commerce kepada penduduk luar Australia tidak
dikenakan PPN sesuai dengan aturan yang ada yaitu section 38-190 menyatakan
bahwa penyerahan sesuatu, selain barang dan barang tidak berwujud tidak
dikenakan PPN apabila dilakukan terhadap bukan penduduk Australia, ketika
penyerahan tersebut terjadi.
Oleh karena itu, penyerahan ekspor secara e-commerce baik B2B ataupun B2C
tidak dikenakan pajak. Hal ini menunjukkan asas keadilan, namun sayangnya hal ini
tidak berlaku jika terjadi impor. Tidak seperti barang berwujud yang dikenakan PPn
pada saat memasuki wilayah jurisdiksi Australia, penyerahan jasa tidak dikenakan
PPN. Hal ini merupakan inkonsistensi karena alasan untuk tidak mengenakan PPN
jasa yang diserahkan keluar Australia dianggap di konsumsi di luar Australia. Maka
dari itu dari sudut pandang pajak konsumsi, sangatlah adil untuk mengenakan PPN
saat jasa diserahkan di dalam Australia.
Walaupun demikian, aturan penyerahan yang tidak terutang pajak konsisten
dengan aturan PPN Australia. E-commerce merupakan suatu penyerahan yang
terutang PPN jika diserahkan saat telah selesai, artinya jika proses pekerjaannya
selesai bukan pada tempat pengiriman atau tempat konsumsinya.
Dalam kasus tertentu, intangible supplies dikenakan PPn walaupun tidak
berhubungan dengan Australia, yaitu transaksi yang melibatkan B2B yang hanya

Page | 22

jika penduduk Australia tidak diberi hak untuk mengkreditkan pajak masukan
karena perolehannya merupakan tidak dapat dikreditkan.
Perkembangan teknologi internet menjadi suatu keberuntungan bagi Australiat
Taxation Office (ATO) dalam mengembangkan administrasi secara elektronik,
pemungutan dan enforcement. ATO melihat peluang perbaikan pelayanan terhadap
wajib pajak melalui internet agar semakin efisien. ATO juga memperkenalkan
keuntungan pencatatan kegiatan akuntansi berbasis web berdasarkan ketentuan TR
97/21 kepada wajib pajak. Pencatatan elektronik tersebut harus dapat idakses oleh
staf ATO.
B. SINGAPURA
Secara umum, penyerahan barang dan jasa yang dilakukan di Singapura
dikenai GST dengan tarif 7%. Satu-satunya pengecualian dari pengenaan GST yaitu
transaksi finance tertentu (menurut UU GST) dan penjualan atau lease properti
hunian. Suatu penyerahan barang dan jasa dapat dikenakan tarif 0% jika barang
tersebut diekspor atau jasa tersebut merupakan penyerahan secara internasional.
Berikut ini merupakan pengaturan lebih lanjut mengenai aspek e-commerce dari
pengaturan perpajakan di Singapura.
1. Penyerahan Barang
Terhadap penyerahan barang melalui internet harus memenuhi persyaratan
yaitu

Jika penjual merupakan PKP


Penyerahan dilakukan di Singapura. Prinsip pengenaan GST atas transaksi ecommerce pada dasarnya seperti pengenaan pada transaksi tradisional.
Namun, jika penyerahan dilakukan secara e-commerce, tetapi barang dikirim
berdasarkan cara konvensional, maka hal itu dianggap sebagai penyyerahan
biasa.
Penyerahan ekspor secara e-commerce dikenakan tarif 0% jika dapat

dibuktikan dengan benar bahwa transaksi tersebut memang untuk kepentingan


ekspor atau tidak dikonsumsikan di teritorial Singapura. Sebagai contoh, penjualan
buku melalui internet, jika penyerahan bukunya dilakukan ke tujuan lokal maka GST
7% dikenakan terhadap transaksi itu, namun jika penyerahan dilakukan untuk
negara lain maka tarif 0% dikenakan atas transaksi tersebut yang dibuktikan
dengan dokumen ekspornya.
Terhadap impor barang dan jasa melalui udara atau pos, dikenakan GST jika
nilai barang lebih dari S$ 400. Atas impor barang-barang digital dikenakan GST
pada saat dilakukan pengunduhan sesuai dengan harga barang tersebut. Juga

Page | 23

terhadap pemanfaatan jasa dari luar teritori Singapura juga dilakukan pengenaan
GST
2. Penyerahan Jasa
PKP wajib melakukan pemungutan GST sebesar 7% kepada customers atau
dengan tarif 0% menurut section 21 (3) GST Act, yaitu dengan kondisi sebagai
berikut :

Penyerahan tiket internasional


Penyerahan dilakukan untuk orang atau konsumen yang bukan warga
Singapura (does not belonging in Singapore) pada saat jasa terseubt
dikonsumsi dan jasa tersebut berhubungan secara langsung dengan tanah
atau barang tersebut berada di luar Singapura
Pengertian dari kalimat does not belonging in Singapore, yaitu jika customer

merupakan entitas bisnis seperti perusahaan atau partnership, termasuk dalam


pengertian belonging in Singapore jika perusahaan atau partnership tersebut
didirikan atau berada di Singapura atau memiliki BUT di Singapura. Jika perusahaan
atau partnership tersebut memiliki banyak BUT baik di Singapura atau negara lain,
maka yang dianggap sebagai BUT adalah tempat dimana jasa tersebut digunakan.
Namun jika customernya adalah individu atau perorangan, maka perlakuan
belonging in Singapore jika memiliki tempat tinggal.
Bagaimana PKP di Singapura mengetahui jika konsumennya memiliki bisnis
atau BUT di Singapura, dapat dilihat dari database konsumen, nama domain
singapuram dan alamat IP Addresnya, sebaliknya beberapa indikasi jika costumer
berada di luar teritori Singapura, yaitu :

Alamat perusahaan sebagaimana yang tercatat dalam databse adalah berada

di luar Singapura
Nama domain atau IP Addres mengindikasikan bukan didirikan atau berada di

Singapura
Ada pertanyaan dari perusahaan, saat transaksi, perusahan berlokasi di luar

Singapura, dan
Informasi bahwa perusahaan tersebut memang berada atau didirikan di luar

Singapura
3. Kewajiban Pemungutan dan Pembayaran
Saat

penyerahan

barang

sangat

menentukan

kapan

akan

dilakukan

pengenaan dan pembayaran GST. Secara umum kebanyakan kasus penyerahan


terjadi ketika ada kejadian atau peristiwa mendahului sebagai berikut :

Barang dipindahkan atau diperoleh


Faktur pajak diterbitkan atas penyerahan tersebut, atau
Pembayaran diterima

Page | 24

Otoritas Pajak Singapura (Inland Revenue Authority of Singapore) memberikan


keleluasaan bagi PKP untuk menerbitkan faktur pajak atas transaksi e-commerce,
baik fisik maupun faktur elektronik. Faktur dibuat oleh PKP atas penyerahan barang
atau jasa kena pajak untuk PKP lainnya atau pembeli dalam waktu 30 hari setelah
dilakukan penyerahan. Izin tidak perlu diperoleh dari IRAS namun harus dipastikan
bahwa pembuatan faktur tersebut telah memenuhi kriteria pembuatan faktur di
negara tersebut.

Page | 25

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan pada bagian-bagian sebelumnya, berikut ini adalah
beberapa kesimpulan yang dapat kami tarik dari pembahasan tersebut.
1. Praktik e-commerce mengalami perkembangan yang pesat di Indonesia, bahkan
relative cepat jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya di dunia.
2. Secara umum aspek perpajakan pada e-commerce di Indonesia masih mengacu
pada aspeke perpajakan yang berlaku pada perdagangan konvensional.
Peraturan yang secara khusus mengatur mengenai hal ini masih sebatas pada
surat edaran yang sifatnya mengatur secara internal organisasi DJP.
3. Terdapat banyak masalah terkait dengan praktik e-commerce mulai dari aspek
pengawasan perpajakan sampai dengan isu perpajakan internasional.
B. SARAN
Saran yang dapat diberikan

dalam hal penanganan dan pengawasan

perpajakan di bidang e-commerce adalah sebagai berikut:


1. Memastikan pada para Wajib Pajak baru pelaku usaha online agar mendapatkan
sosialisasi terkait perpajakan mengenai transaksi e-commerce. Sosialisasi
dilakukan oleh setiap AR dalam rangka intensifikasi terhadap wilayahnya
kepada pelaku usaha online. Hal ini dilaksanakan agar para pelaku usaha online
sadar terhadap kewajiban dan hak perpajakannya.
2. AR aktif dalam menjaring Wajib Pajak baru pelaku usaha online dengan cara
melakukan tracking di media sosial maupun jejaring media internet lainnya.
Dapat juga melalui data internal DJP atau media surat kabar. Selain itu, pihak
DJP seharusnya telah mempersiapkan sistem yang terintegrasi dengan baik
terhadap peredaran usaha yang dilakukan oleh pelaku usaha online tersebut,
agar pengawasan dan penanganan dapat dimaksimalkan.
3. Pihak DJP dapat bekerjasama dengan pihak Bank untuk melakukan pengawasan
pada para Wajib Pajak pelaku usaha online, arsitektur perbankan yang ada
seharusnya memungkinkan pihak DJP untuk dapat melakukan pengawasan atas
aliran transaksi yang terjadi dalam e-commerce.
4. Pihak DJP dapat bekerjasama dengan organisasi yang menaungi para pelaku
ecommerce. Contohnya pada Asosiasi Ecommerce Indonesia (idEA), yaitu
wadah yang didirikan untuk pelaku industri ecommerce. Diciptakannya asosiasi
ini guna menunjang kebutuhan pengembangan untuk transaksi e-commerce
serta sumber daya manusia yang berada di dalamnya.

Page | 26

5. KPP selaku kantor yang memiliki tugas dan fungsi untuk melakukan penyuluhan,
pelayanan, dan pengawasan

kepada

Wajib Pajak diharapkan melakukan

penelitian berupa klasifikasi terhadap model e-commerce dari para Wajib Pajak
pelaku usaha e-commerce
pengawasan

dan

. Hal ini berguna untuk memudahkan dalam hal

penanganan

dalam

rangka

intensifikasi

untuk

aspek

perpajakan dari masing-masing model bisnis e-commerce yang berlangsung.

REFERENSI
Arianto, N. (2014). Ekstensifikasi Pajak dari Transaksi Perdagangan Online. Jurnal
Kementerian Keuangan.
Budi, C. (2014). Menyasar Pajak Transaksi e-Commerce. Jurnal Kementerian
Keuangan.
Budilaksono, A. (2014). Bagaimana Perlakuan Pajak Dari Transaksi E -Commerce Di
Indonesia? Jurnal Kementerian Keuangan.
Direktorat Jenderal Pajak. (2014, Oktober 17). Masih Sedikit Pelaku e-Commerce
Yang
Memiliki
NPWP.
Retrieved
from
Website
Resmi
Pajak:
http://www.pajak.go.id/content/masih-sedikit-pelaku-e-commerce-yangmemiliki-npwp
Sakti, N. W. (2014, November). Pajak E-Commerce, Antara Hambatan dan
Tantangan. Inside Tax, pp. 16-20.
Startup Bisnis. (2014, Septe,ber 18). Data Statistik Mengenai Pertumbuhan Pangsa
Pasar E-Commerce di Indonesia Saat Ini. Retrieved from Startup Bisnis:
http://startupbisnis.com/Data-Statistik-Mengenai-Pertumbuhan-Pangsa-Pasar-ECommerce-di-Indonesia-Saat-Ini
Tobing, G. C., & F, G. (2014, November). Pajak Dunia Bisnis Digital. Inside Tax, pp. 615.
PERATURAN
Undang-Undang Republik Indonesi Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 dan peraturan pelaksanaannya.
Undang-Undang Republik Indonesi Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2008 dan peraturan pelaksanaannya.
Undang-Undang Republik Indonesi Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan
Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun
2009 dan peraturan pelaksanaannya.

Page | 27

Undang-Undang Republik Indonesi Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan


Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE - 62/PJ/2013 tentang Penegasan
Ketentuan Perpajakan Atas Transaksi E-commerce

Page | 1