Anda di halaman 1dari 10

VI.

MICROCUTTING

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah
satu komoditas sayuran dataran rendah, berasal dari Syria dan telah
dibudidayakan semenjak 5.000 tahun yang lalu. Bawang merah merupakan
tanaman semusim yang memiliki umbi yang berlapis, berakar serabut,
dengan daun berbentuk silinder berongga. Umbi bawang merah terbentuk
dari pangkal daun yang bersatu dan membentuk batang yang berubah
bentuk dan fungsi, membesar dan membentuk umbi. Umbi terbentuk dari
lapisan-lapisan daun yang membesar dan bersatu. Tanaman ini dapat
ditanam di daratan rendah sampai daratan tinggi yang tidak lebih dari 1200
m dpl. Di daratan tinggi umbinya lebih kecil dibanding daratan rendah.
Microcutting adalah perkembangan vegetatif pada umbi talas yang
bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan tunasnya. Dalam pembiakan
ini diberikan penambahan berbagai macam zat pengatur tunbuh untuk
mendukung pertumbuhan tunas bawang merah. Zat pengatur tumbuh
dibuat agar tanaman memacu pembentukan fitohorman yang sudah ada di
dalam tanaman atau menggantikan fungsi dan peran hormon bila tanaman
kurang dapt memproduksi hormon dengan baik.
Zat pengatur tumbuh dibuat agar tanaman memacu pembentukan
fitohormon (hormon tumbuhan) yang sudah ada didalam tanaman atau
memproduksi hormon dengan baik. Hormon mempunyi arti yang sangat
penting karena hormone dapat merangsang, membangkitkan, atau
mendorong timbulnya suatu aktivitas biokimia sehingga fitohormon
tanaman dapat didefinisikan sebagai senyawa organic tanaman yang
bekerja aktif dalam jumlah sedikit, ditransportasikan ke seluruh bagian
tanaman sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan atau proses-proses
fisioligi tanaman. Dalam mikrocutting ZPT yang digunakan berfungsi
merangsang pertumbuhan bibit bawang merah yang ditumbuhkan. ZPT

tersebut akan diidentifikasi pengaruhnya terhadap pertumbuhan bibit


bawang merah, mulai dari ZPT IAA, NAA, GA3, ABA.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum Produksi dan Penyimpanan Benih acara
Microcutting ini adalah untuk mempelajari pengaruh ZPT terhadap
pertumbuhan bahan stek mikro umbi bawang merah.
B. Tinjauan Pustaka
Microcutting dapat dilakukan pada bidang perbenihan, microcutting
berupa suatu teknik yang dilakukan dan bertujuan untuk mempercepat
pertumbuhan tunas suatu tanaman agar masa perkecambahan bibit
berlangsung cepat dan secara tidak langsung masa vegetatif tanaman ikut
berlangsung singkat seiring dengan masa perkecambahan yang singkat.
Microcutting adalah salah satu cara perkembangbiakan vegetatif pada
tanaman, namun sangat diperlukan dalam usaha mempercepat pembibitan
(Douglas et al 2008).
Budidaya perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara vegetative dan
generative, pembudidayaan secara generative dilakukan dengan penyerbukan,
sedangkan pembudidayaan tanaman secara vegetatif dilakukan dengan cara
antara lain adalah stek, geragih, stolon, grafting, okulasi, dan tunas.
Perkembangbiakan secara vegetatif yang dilakukan dengan tunas dapat
dipercepat dengan cara melakukan microcutting (Cooper et al 2008).
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan suatu bahan
makanan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Bawang merah
merupakan suatu tanaman yang dikonsumsi umbinya untuk keperluan
penyedap dalam suatu makanan. Bawang merah merupakan suatu tanaman
umbi yang mempunyai tipe umbi yaitu umbi lapis. Tanaman bawang merah
tergolong dalam family Alliaceae yang hidup di dataran tinggi dan dataran
rendah (Asri 2006).
Umbi bawang merah merupakan umbi yang mempunyai kadar air yang
tinggi, umbi bawang merah rentan mengalami kebusukan, serangan jamur dan
penyakit organisme yang memakan umbinya. Umbi bawang merah di

Indonesia dipakai untuk perkembangbiakan, hal itu karena tanaman bawang


merah yang ditanam di Indonesia tidak mampu menghasilkan umbi karena
pengaruh kecocokan wilayah iklim, jadi pembudidayaan bawang merah di
Indonesia dilakukan menggunakan tunas (Hasanah et al 2007).
Zat pengatur tumbuh merupakan suatu zat atau hormon yang berfungsi
mempercepat pertumbuhan tanaman dan melakukan kontrol terhadap
pertumbuhan tanaman. Zat pengatur tumbuh ada yang bersifat menghambat
dan ada pula yang bersifat mempercepat. Zat pengatur tumbuh yang dipakai
untuk mempercepat pertumbuhan tunas adalah NAA, sedangkan zat pengatur
tumbuh yang dipakai untuk mempercepat pertumbuhan akar adalah IBA
(Masanah et al 2008).
C. Metodologi Praktikum
1. Waktu dan tempat praktikum
Praktikum Produksi dan Penyimpanan acara Microcutting ini
dilakukan pada hari Senin tanggal 27 Oktober 2014 pukul 10.30 WIB di
Laboratorium Ekologi dan Manajemen Produksi Tanam Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
2. Alat dan Bahan
a. Alat
1) Polibag
b. Bahan
1) Umbi bawang merah (Allium ascalonicum L.)
2) ZPT (IAA, NAA, IBA, dan GA3)
3) Tanah
4) Pasir
3. Cara kerja
a. Membuat larutan ZPT dari golongan IAA, IBA\, NAA, dan GA3
dengan konsentrasi yang telah ditentukan (0 ppm, 500 ppm, 1000 ppm,
b.
c.
d.
e.
f.

dan 1500 ppm).


Memotong umbi bawang merah sekecil mungkin.
Merendam potongan umbi yang akan ditanam (5 menit).
Menanam stek mikro yang telah direndam.
Memelihara dan mengamati.
Mengamati proses perkecambahan setiap hari selama seminggu (waktu
muncul daun, tinggi tanaman, dan jumlah daun).

D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan


1. Hasil Pengamatan
Tabel 6.1 Data Rekapan Pengamatan Microcutting Umbi Bawang Merah (Allium
ascalonicum)
No

Kel

ZPT

Perlakua
n

UL

Saat

Jumla

Panjang

Muncu

Tunas

Keterangan

l Tunas
1

IAA

0 ppm

IAA

500 ppm

IAA

IAA

NA
A
NA
A
NA

1000
ppm
1500
ppm
0 ppm
500 ppm
1000

A
NA

ppm
1500

ppm

IBA

0 ppm

10

IBA

500 ppm

11

11

IBA

12

12

IBA

13

13

GA3

0 ppm

14

14

GA3

500 ppm

15

15

GA3

16

16

GA3

17

17

IAA

18

18

IAA

19

19

IAA

`1
0

1000
ppm
1500
ppm

1000
ppm
1500
ppm
500 ppm
1000
ppm
1500

1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1

(HST)
0
0
4
4
4
4
4
4
0
0
4
4
4
5
0
0
7
7
0
0
5
5
0
0
4
0
2
2

0
0
0
5
0
0
2

Tunas

Tertinggi

0
0
2
3
1
1
1
1
0
0
2
2
2
3
0
0
2
1
0
0
1
2
2
0
1
0
2
4

(cm)
0
0
0,1
0,1
0,2
0,1
0,3
0,3
0
0
1,2
0,3
0,5
0,3
0
0
0,2
0,3
0
0
0.4
0,6
0,3
0
0,3
0
0,2
0,4

0
0
0
2
0
0
1

0
0
0
0,3
0
0
1

Bibit mati (busuk)


Bibit mati (busuk)
Normal
Normal
Bibit agak layu
Bibit agak layu
Normal
Normal
Bibit mati
Bibit mati
Muncul akar
Muncul akar
Normal
Normal
Bibit mati
Bibit mati
Normal
Normal
Bibit mati
Bibit mati
Normal
Normal
Normal
Bibit mati
Muncul akar
Muncul akar
Normal
Normal

Belum tumbuh
Belum tumbuh
Belum tumbuh
Tumbuh
Tidak tumbuh
Tidak tumbuh
Muncul tunas

ppm
20

20

21

21

22

23

24

22

23

24

NA
A
NA
A
IBA

IBA

IBA

500 ppm
1000
ppm
0 ppm

500 ppm

1000
ppm
1500

25

25

IBA

26

26

GA3

0 ppm

27

27

GA3

500 ppm

28

28

GA3

29

29

GA3

ppm

1000
ppm
1500

ppm
Sumber : Data Rekapan

2
1
2
1
2
1

0
4
0
0
6
0

0
1
0
0
0
3

0
1
0
0
0
0,1

0.5

0,5

0,1

1
2
1
2
1
2
1
2
1
2

5
5
6
0
6
6
7
0
0
0

1
1
2
0
1
1
1
0
0
0

0,5
0,3
0,1
0
0,1
0,1
0,1
0
0
0

Tidak muncul tunas


Tumbuh
Belum tumbuh
Belum tumbuh
Belum tumbuh
Tumbuh tunas
Belum tumbuh
tunas
Tumbuh tunas
Belum tumbuh
tunas
Tumbuh tunas dan
akar
Tumbuh tunas dan
akar
Tumbuh baik
Tumbuh baik
Muncul tunas
Tidak muncul tunas
Tunas tumbuh baik
Tunas tumbuh baik
Baik
Tunas tidak tumbuh
Tanaman kering
Tanaman kering

Gambar 6.1 Microcutting Umbi

Gambar 6.1 Microcutting Umbi

Bawang Merah (Allium

Bawang Merah (Allium ascalonicum)

ascalonicum) Perlakuan IBA

Perlakuan IBA Konsentrasi 500 ppm

Konsentrasi 0 ppm

Sumber : Dokumentasi

2. Pembahasan
Microcutting adalah pembiakan vegetatif melalui setek dengan
menggunakan umbi mikro. Tujuan dari mikrocutting adalah agar
pertumbuhan bibit merata (seragam), umbi cepat tumbuh dan berpengaruh
terhadap makin banyaknya anakan maupun jumlah daun sehingga hasil
umbinya meningkat.
Zat

pengatur

tumbuh

yang

digunakan

dalam

praktikum

microcutting ini adalah IAA, NAA, IBA dan GA3. IAA, NAA dan IBA
termasuk dalam golongan auksin sedangkan GA3 termasuk dalam
golongan giberelin. Auksin sendiri memiliki fungsi untuk perpanjangan
serta pembesaran sel. Auksin memiliki peran didalam merangsang
pembelahan dan pembesaran sel. Penambahan auksin dalam jumlah besar
atau penambahan auksin yang lebih stabil, misalnya NAA atau 2,4 D
cenderung akan mengakibatkan terjadinya pertumbuhan kalus dari eksplan
dan menghambat regenerasi pucuk tanaman. NAA mempunyai sifat
memperkecil batas konsentrasi optimum perakaran. Sehingga penggunaan
NAA mengandung kerugian yang besar bila belum diketahui konsentrasi
yang sebenarnya dibutuhkan oleh suatu tanaman. Auksin adalah

sekelompok senyawa yang fungsinya merangsang pemanjangan sel-sel


pucuk yang spektrum aktifitasnya menyerupai IAA (indole-3-acetic acid).
IAA berifat mudah menyebar ke bagian-bagian lain dari tanaman dan akan
menghambat perkembangan serta pertumbuhan tunas. Auksin yang paling
banyak digunakan pada kultur in vitro adalah indole-3-acetic acid (IAA),
NAA, dan 2,4-D. Jenis-jenis auksin yang lain seperti 2,4,5-T, IBA dan 4CPA juga merupakan senyawa yang efektif, tetapi penggunaannya tidak
sebanyak tiga jenis auksin yang sudah disebut terlebih dahulu. IBA
memiliki kandungan kimia yang lebih stabil dari ZPT lainnya. Daya kerja
IBA lebih lama dan IBA akan tetap tinggal pada bagian tanaman tertentu
sehingga pertumbuhan akar menjadi lebih baik. Giberelin berfungsi untuk
perkembangan biji, pertunasan, pembungaan tanaman hutan dan tanaman
iklim sedang, pembentukan enzim pada perkecambahan, perbesaran dan
pembelahan sel, pembentukan bunga jantan pada diocious. GA3
merupakan hormon giberelin. Fungsinya adalah untuk memperbesar
ukiran sel dan membantu dalam proses pembelahan dan perkembangan
sel.
Umbi bawang merah harus dipotong untuk memudahkan zat
pengatur tumbuh masuk ke dalam sel-sel tanaman. Transport zat pengatur
tumbuh akan lebih mudah jika ada bagian tanaman yang terbuka. Zat
pengatur tumbuh akan masuk ke dalam sel-sel tanaman dan kemudian
merangsang pembentukan bagian tertentu yang diinginkan dan disesuaikan
dengan fungsi dari zat pengatur tumbuh itu sendiri.
Hasil pengamatan pada kelompok kami mendapat perlakuan 0 ppm
dengan ZPT yang diberikan adalah IBA. Pada perlakuan ulangan pertama
saat muncul tunas (HST) adalah 7 dengan panjang tunas tertinggi adalah 2
mm dengan jumlah tunas sebanyak 2 buah. Pada perlakuan ulangan yang
kedua, saat muncul tunas (HST) sama dengan perlakuan ulangan pertama
yaitu 7 namun memiliki panjang tunas tertinggi lebih tinggi daripada
perulangan yang pertama yaitu 3 mm dengan jumlah tunas yang tumbuh
lebih sedikit yaitu 1 buah.

Dari hasil rekapan, zat pengatur tumbuh yang menghasilkan hasil


yang baik adalah zat pengatur tumbuh NAA dimana semua perlakuan yang
ditambahkan zat pengatur tumbuh NAA kebanyakan mampu tumbuh tunas
dan akar. Dari hasil rekapan tampak terlihat dimana konsentrasi yang lebih
tepat untuk mempercepat pertumbuhan tunas dengan konsentrasi sebanyak
1000 ppm.

E. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum Teknologi Benih
Lanjutan acara microcutting ini adalah :
a. ZPT atau zat pengatur tumbuh dibuat agar tanaman memacu
pembentukan fitohormon (hormon tumbuhan) yang sudah ada dalam
tanaman atau menggantikan fungsi dan peran hormon bila tananam
kurang dapat memproduksi hormon dengan baik.
b. IAA berifat mudah menyebar ke bagian-bagian lain dari tanaman dan
akan menghambat perkembangan serta pertumbuhan tunas.
c. NAA mempunyai sifat memperkecil batas konsentrasi optimum
perakaran. Sehingga penggunaan NAA mengandung kerugian yang
besar bila belum diketahui konsentrasi yang sebenarnya dibutuhkan
oleh suatu tanaman.
d. IBA memiliki kandungan kimia yang lebih stabil dari ZPT lainnya.
Daya kerja IBA lebih lama dan IBA akan tetap tinggal pada bagian
tanaman tertentu sehingga pertumbuhan akar menjadi lebih baik.
e. GA3 merupakan hormon giberelim. Funsinya adalah untuk
memperbesar ukiran sel dan membantu dalam proses pembelahan dan
perkembangan sel.

f. Hormon yang paling tepat adalah NAA pada konsentrasi 1000 ppm.
2. Saran
Sebaiknya pengawasan dan pengamatan pada umbi bawang merah
lebih teliti dan perawatannya pun diperhatikan.

DAFTAR PUSTAKA
Cooper Allen 2008. Seed of Vegetables. Grower Books. London.
Douglas James Sholto 2008. Advanced Guide to Seed Technology. Pelham Books.
London.
Asri Menna 2006. Viabilitas Benih Vigor. http://www.ipteknet.com. Diakses
tanggal 21 November 2014.
Hasanah M Sukarman dan D Rukmin 2007. Lack of effect of pretreatment on the
viability of Macadamia (Macadamia integrifolia) seed. Indonesian Journal
of Agricultural Science 3(2): 58-61.
Masanah M dan Ika M 2008. Penyimpanan Benih Pada Suhu Rendah. Jurnal
Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 7(3):83-89.