Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Peningkatan jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun berdampak
pada

peningkatan

konsumsi

produk

peternakan

(daging,

telur,

susu).

Meningkatnya kesejahteraan dan tingkat kesadaran masyarakat akan pemenuhan


gizi khususnya protein hewani juga turut meningkatkan angka perminataan
produk peternakan. Daging banyak dimanfaatkan oleh masyarakat karena
mempunyai rasa yang enak dan kandungan zat gizi yang tinggi. Salah satu sumber
daging yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia adalah ayam.
Daging ayam yang sering dikonsumsi oleh masyarakat diperoleh dari pemotongan
ayam broiler, petelur afkir dan ayam kampung.
Ayam broiler merupakan salah satu penyumbang terbesar protein hewani
dan merupakan komoditas unggulan.Industri. Ayam broiler berkembang pesat
karena daging ayam menjadi sumber utama menu konsumen. Daging ayam broiler
mudah didapatkan baik di pasar modern maupun tradisional. Proses penanganan
di RPA merupakan kunci yang menentukan kelayakan daging untuk dikonsumsi.
Perusahaan rumah potong ayam (RPA) atau tempat pendistribusian umumnya
sudah memiliki sarana penyimpanan yang memadai, namun tidak dapat dihindari
adanya kontaminasi dan kerusakan selama prosesing dan distribusi.
Mengingat tingginya kewaspadaan masyarakat terhadap keamanan
pangan, menuntut produsen bahan pangan termasuk pengusaha peternakan untuk
meningkatkan kualitas produknya. Walaupun kualitas karkas tergantung pada
preferensi konsumen namun ada standar khusus yang dijadikan acuan.Karkas
yang layak konsumsi harus sesuai dengan standar SNI mulai dari cara
penanganan, cara pemotongan karkas, ukuran dan mutu. Persyaratan yang
meliputi bahan asal, penyiapan karkas, penglolahan pasca panen, bahan pembantu,
bahan tambahan, mutu produk akhir hingga pengemasan. Untuk itu perlu ada
penerapan manajemen yang baik sejak masih di sektor hulu sampai ke sektor hilir.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana sistem beternak ayam broiler yang efektif dan efisien ?
2. Bagaimana sistem kandang untuk beternak ayam broiler sesuai
standart kandang yang efektif dan efisien ?
3. Bagaimana menejemen pakan yang pas untuk beternak ayam
broiler?
4. Apa saja jenis penyakit yang biasa menyerang ayam broiler ?
5. Bagaimana cara mejegah dan mengobati penyakit pad ayam
broiler?
6. Bagaimana sistem pemberian vaksin yang pas dan tepat untuk
ayam broiler ?
7. Bagaimana caranya agar ayam broiler dapat mencapai bobot tubuh
maksimal dalam waktu yang telah ditentukan ?
1.3 Tujuan Pembahasan
1. Mengetahui sistem beternak ayam broiler yang baik, efektif dan
efisien
2. Mengetahui sistem kandang untuk beternak ayam broiler
berdasarkan standart kandang yang efektif dan efisien
3. Dapat memenejemen dengan baik pemberian pakan yang pas untuk
beternak ayam broiler
4. Mengetahui jenis penyakit apa saja yang sering menyerang ayam
broiler
5. Mengetahui cara mencegah dan mengobati berbagai penyakit yang
menyerang ayam broiler
6. Mengetahui sistem pemberian vaksin yang pas dan tepat untuk
ayam broiler
7. Mengetahui cara untuk membuat ayam broiler mencapai bobot
tubuh yang maksimal dalam target waktu yang telah ditetapkan

1.4 Manfaat Hasil Pembahasan


2

Hasil penulisan dan pembahasan makalah yang berjudul Pemeliharaan


Ayam Broiler diharapkan bermanfaat khususnya bagi perkembangan dalam
bidang peternakan dan sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan tentang
pemeliharaan ayam broiler agar tidak terjadi kesalahan dalam budidaya ayam
broiler.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pertumbuhan Ayam Pedaging
Ayam broiler adalah ayam jantan atau betina yang umumnya dipanen pada
umur 5-6 minggu dengan tujuan sebagi penghasil daging (Kartasudjana dan
Suprijatna, 2006). Ayam broiler telah dikenal masyarakat dengan berbagai
kelebihannya, antara

lain hanya 5-6 minggu sudah siap dipanen. Ayam yang

dipelihara adalah ayam broiler yakni ayam yang berwarna putih dan cepat tumbuh
(Rasyaf, 2008).
Ayam broiler memiliki kelebihan dan kelemahan, kelebihannya adalah
dagingnya empuk, ukuran badan besar, bentuk dada lebar, padat dan berisi,
efisiensi terhadap pakan cukup tinggi, sebagian besar dari pakan diubah menjadi
daging dan pertambahan bobot badan sangat cepat sedangkan kelemahannya
adalah memerlukan pemeliharaan secara intensif dan cermat, relatif lebih peka
terhadap suatu infeksi penyakit dan sulit beradaptasi (Murtidjo, 1987).
Pertumbuhan yang paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu,
kemudian mengalami penurunan dan terhenti sampai mencapai dewasa
(Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
Pertumbuhan adalah suatu penambahan jumlah protein dan mineral yang
tertimbun dalam tubuh. Proses pertumbuhan tersebut membutuhkan energi dan
substansi penyusun sel atau jaringan yang diperoleh ternak melalui ransum yang
dikonsumsinya (Wahju,1992). Suprijatna et al. (2005) menyatakan bahwa tubuh
ayam terdiri atas banyak sel dengan ukuaran yang hampir sama. Ukurannya pada
semua bangsa sama, dengan mengabaikan bobot tubuh dewasa terakhir.
Peningkatan

pertumbuhan

kebanyakan

terjadi

karena

multiplikasi

(pembelahan) sel, yaitu 1 sel membelah menjadi 2; 2 menjadi 4; 4 menjadi 8; 8


menjadi 16, dan seterusnya. Namun, profil peningkatan ini tidak kontinyu dan
tidak menentu karena terjadi kompetisi diantara sel untuk mendapatkan nutrien
dan air.
2.2. Ransum Standar dan Konsumsi Ransum
Ransum adalah bahan ransum ternak yang telah diramu dan biasanya
terdiri dari berbagai jenis bahan ransum dengan komposisi tertentu. Pemberian
4

ransum bertujuan untuk menjamin pertumbuhan berat badan dan menjamin


produksi daging agar menguntungkan (Sudaro dan Siriwa, 2007). Konsumsi
ransum ayam pedaging tergantung pada strain, umur, aktivitas serta temperatur
lingkungan (Wahju,1992).
Menurut Sudaro dan Siriwa (2007), pemberian ransum dapat dilakukan
dengan cara bebas maupun terbatas. Cara bebas, ransum disediakan ditempat
pakan sepanjang waktu agar saat ayam ingin makan ransumnya selalu tersedia.
Cara ini biasanya disajikan dalam bentuk kering, baik tepung, butiran, maupun
pelet. Penggantian ransum starter dengan ransum finisher sebaiknya tidak
dilakukan sekaligus, tetapi secara bertahap. Hari pertama diberi ransum starter
75% ditambah ransum finisher 25%, pada hari berikutnya diberi ransum starter
50% ditambah ransum finisher 50%, hari berikutnya diberi ransum starter
25%ditambah ransum finisher 75% dan hari terakhir diberi ransum finisher
seluruhnya. Jika tahapan ini tidak dilakukan maka nafsu makan ayam menurun
untuk beberapa hari dan dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan
(Kartasudjana dan Suprijatna, 2006)
Ransum untuk ayam pedaging dibedakan menjadi dua macam yaitu
ransum untuk periode starter dan periode finisher. Hal ini disebabkan oleh
perbedaan kebutuhan nutrien ransum sesuai dengan periode pertumbuhan ayam
(Rasyaf, 1994). Amrullah (2004) meyatakan bahwa, khusus untuk ransum broiler,
maka ransum broiler hendaklah :
(1) memiliki nisbah kandungan energi-protein yang diketahui,
(2) kandungan proteinnya tinggi untuk menopang pertumbuhannya yang
sangat cepat,
(3) mengandung energi yang lebih untuk membuat ayam broiler dipanen
cukup mengandung lemak.
Rasyaf (1994) menyatakan bahwa ransum merupakan sumber utama
kebutuhan nutrien ayam broiler untuk keperluan hidup pokok dan produksinya
karena tanpa ransum yang sesuai dengan yang dibutuhkan menyebabkan produksi
tidak sesuai dengan yang diharapkan.
2.3. Kebutuhan Nutrien Ayam Pedaging
Kandungan nutrien masing-masing bahan penyusun ransum perlu
diketahui sehingga tujuan penyusunan ransum dan kebutuhan nutrien untuk setiap
5

periode pemeliharaan dapat tercapai (Wahju,1992). Penyusunan ransum ayam


pedaging memerlukan informasi mengenai kandungan nutrien dari bahan-bahan.
penyusun sehingga dapat mencukupi kebutuhan nutrien dalam jumlah dan
persentase yang diinginkan (Amrullah, 2004). Nutrien tersebut adalah energi,
protein, serat kasar, kalsium (Ca) dan fosfor (P) Sumber energi utama yang
terdapat ransum ayam broiler adalah karbohidrat dan lemak. Energi metabolisme
yang diperlukan ayam berbeda, sesuai tingkat umurnya, jenis kelamin dan cuaca.
Semakin tua ayam membutuhkan energi metabolisme lebih tinggi (Fadilah, 2004).
Menurut Wahju (1992), energy yang dikonsumsi oleh ayam digunakan untuk
pertumbuhan jaringan tubuh, produksi, menyelenggarakan aktivitas fisik dan
mempertahankan temperaturtubuh yang normal. Fadilah (2004) menyatakan
bahwa kebutuhan energi untuk ayam broiler periode starter 3080 kkal/kg ransum
pada tingkat protein 24%, sedangkan periode finisher 3190 kkal/kg ransum pada
tingkat protein 21%. Angka kebutuhan energi yang absolut tidak ada karena ayam
dapat menyesuaikan jumlah rasnsum yang dikonsumsi dengan kebutuhan energi
bagi tubuhnya (Rizal, 2006).
Menurut Fadilah (2004), kandungan protein dalam ransum untuk ayam
broiler umur 1-14 hari adalah 24% dan untuk umur 14-39 hari adalah 21%.
Kebutuhan protein untuk ayam yang sedang bertumbuh relatif lebih tinggi karena
untuk memenuhi tiga macam kebutuhan yaitu untuk pertumbuhan jaringan, hidup
pokok dan pertumbuhan bulu (Wahju, 1992). Rasyaf (1992) menyatakan bahwa
kebutuhan energi metabolis berhubungan erat dengan kebutuhan protein yang
mempunyai peranan penting pada pertumbuhan ayam broiler selama masa
pertumbuhan.
2.4. Faktor yang Mempengaruhi Pemenuhan Nutrien
Program pemberian ransum sangat tergantung terhadap rencana ayam itu
dipanen, jika ayam yang akan dipanen berukuran kecil sampai sedang, pemberian
ransum menggunakan program dua jenis ransum. Tepung (mash) biasanya
diberikan pada anak ayam hingga ayam berumur 2 minggu. Butiran atau remah
(crumble) merupakan jenis ransum yang umum digunakan oleh peternak untuk
ayam broiler (Fadilah, 2004), Menurut Amrullah (2004), semakin mendekati
waktu panen, konsumsi energi tersedia dilebihkan sehingga ayam dapat
menyimpan padatan lemah bawah kulit dan rongga perutnya. Murtidjo (1987)
6

menambahkan, tinggi atau rendahnya kadar energi metabolis dalam ransum ayam
broiler, akan memmpengaruhi banyak sedikitnya ayam broiler mengkonsumsi
ransum.
Amrullah (2004) menyatakan bahwa tingkat rasio energi-protein yang
lebih tinggi dari kebutuhan dapat membentuk lemak selama akhir pemeliharaan.
Frekuensi atau waktu pemberian ransum pada anak ayam biasanya lebih sering,
sampai 5 kali sehari dan semakin tua ayam frekuensi pemberian ransum semakin
berkurang sampai dua atau tiga kali sehari. Namun, yang perlu mendapat
perhatian dari segi waktu ini adalah ketepatan waktu pemberian ransum
setiapharinya perlu dipertahankan karena pemberian ransum pada waktu yang
tidak tepat setiap hari dapat menurunkan produksi (Rizal, 2006). Ransum juga
dapat diberikan dengan cara terbatas pada waktu-waktu tertentu dan disesuaikan
dengan kebutuhan ayam, misalnya pagi dan sore. Saat diberikan biasanya ayam
dalam keadaan lapar sehingga ransum tidak banyak terbuang (Sudaro dan Siriwa,
2007).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

Ayam Broiler
Ayam broiler merupakan hasil teknologi yaitu persilangan antara ayam

Cornish dengan Plymouth Rock. Karakteristik ekonomis, pertumbuhan yang cepat


sebagai penghasil daging, konversi pakan rendah, dipanen cepat karena
pertumbuhannya yang cepat, dan sebagai penghasil daging dengan serat lunak
(Murtidjo, 1987). Menurut Northe (1984) pertambahan berat badan yang ideal 400
gram per minggu untuk jantan dan untuk betina 300 gram per minggu.
Menurut Suprijatna et al. (2005) Ayam broiler adalah ayam yang
mempunyai sifat tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat, bulu merapat ke
tubuh, kulit putih dan produksi telur rendah. Dijelaskan lebih lanjut oleh
Siregar et al. (1980) bahwa ayam Broiler dalam klasifikasi ekonomi memiliki
sifat-sifat antara lain : ukuran badan besar, penuh daging yang berlemak,
temperamen tenang, pertumbuhan badan cepat serta efisiensi penggunaan ransum
tinggi.
Ayam broiler adalah ayam tipe pedaging yang telah dikembangbiakan
secara khusus untuk pemasaran secara dini. Ayam pedaging ini biasanya dijual
dengan bobot rata-rata 1,4 kg tergantung pada efisiensinya perusahaan. Menurut
Rasyaf (1992) ayam pedaging adalah ayam jantan dan ayam betina muda yang
berumur dibawah 6 minggu ketika dijual dengan bobot badan tertentu,
mempunyai pertumbuhan yang cepat, serta dada yang lebar dengan timbunan
daging yang banyak. Ayam broiler merupakan jenis ayam jantan atau betina yang
berumur 6 sampai 8 minggu yang dipelihara secara intensif untuk mendapatkan
produksi daging yang optimal. Ayam broiler dipasarkan pada umur 6 sampai 7
minggu untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan permintaan daging. Ayam
broiler terutama unggas yang pertumbuhannya cepat pada fase hidup awal, setelah
itu pertumbuhan menurun dan akhirnya berhenti akibat pertumbuhan jaringan
yang membentuk tubuh. Ayam broiler mempunyai kelebihan dalam pertumbuhan
8

dibandingkan dengan jenis ayam piaraan dalam klasifikasinya, karena ayam


broiler mempunyai kecepatan yang sangat tinggi dalam pertumbuhannya. Hanya
dalam tujuh atau delapan minggu saja, ayam tersebut sudah dapat dikonsumsi dan
dipasarkan padahal ayam jenis lainnya masih sangat kecil, bahkan apabila ayam
broiler dikelola secara intensif sudah dapat diproduksi hasilnya pada umur enam
minggu dengan berat badan mencapai 2 kilogram per ekor (Anonimus, 1994).
3.2.

Perkandangan
Kandang yang baik adalah kandang yang dapat memberikan kenyamanan

bagi ayam, mudah dalam tata laksana, dapat memberikan produksi yang optimal,
memenuhi persyaratan kesehatan dan bahan kandang mudah didapat serta murah
harganya. Bangunan kandang yang baik adalah bangunan yang memenuhi
persyaratan teknis, sehingga kandang tersebut biasa berfungsi untuk melindungi
ternak terhadap lingkungan yang merugikan, mempermudah tata laksana,
menghemat tempat, menghindarkan gangguan binatang buas, dan menghindarkan
ayam kontak langsung dengan ternak unggas lain (Anonimus, 1994).
Kandang serta peralatan yang ada di dalamnya merupakan sarana pokok
untuk terselenggarakannya pemeliharaan ayam secara intensive, berdaya guna dan
berhasil guna. Ayam akan terus menerus berada di dalam kandang, oleh karena itu
kandang harus dirancang dan ditata agar menyenangkan dan memberikan
kebutuhan hidup yang sesuai bagi ayam-ayam yang berada di dalamnya. Beberapa
hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah pemilihan tempat atau lokasi
untuk mendirikan kandang serta konstruksi atau bentuk kandang itu sendiri.
Kandang merupakan modal tetap (investasi) yang cukup besar nilainya, maka
sedapat mungkin semenjak awal dihindarkan kesalahan-kesalahan dalam
pembangunannya, apabila keliru akibatnya akan menimbulkan problemaproblema terus menerus sedangkan perbaikan tambal sulam tidak banyak
membantu (Williamsons dan Payne, 1993).
Sistem perkandangan yang ideal untuk usaha ternak ayam ras meliputi:
persyaratan temperatur berkisar antara 32,2-35 derajat C, kelembaban berkisar
antara 60-70%, penerangan/pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada,
tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah
mata angin kencang, model kandang disesuaikan dengan umur ayam, untuk
anakan sampai umur 2 minggu atau 1 bulan memakai kandang box, untuk ayam
9

remaja 1 bulan sampai 2 atau 3 bulan memakai kandang box yang dibesarkan
dan untuk ayam dewasa bisa dengan kandang postal atapun kandang bateray.
Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting
kuat, bersih dan tahan lama(Bambang,1995).
Persiapan dalam perkandangan adalah :
a.

Lokasi kandang
Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman
penduduk, mudah dicapai sarana transportasi, terdapat sumber air, arahnya
membujur dari timur ke barat.

b.

Pergantian udara dalam kandang.


Ayam

bernapas

membutuhkan

oksigen

dan

mengeluarkan

karbondioksida. Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi


kandang harus baik.
c.

Suhu udara dalam kandang.


Tabel 1. Suhu ideal kandang sesuai umur adalah :
Umur (hari) Suhu ( 0C )
01 07
08 14
15 21
21 28
29 35

d.

34 32
29 27
26 25
4 23
23 21

Kemudahan mendapatkan sarana produksi


Lokasi kandang sebaiknya dekat dengan poultry shop atau toko
sarana peternakan.

e.

Kepadatan Kandang
Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk menjaga
kehangatan, sehingga energi yang diperoleh dari pakan seluruhnya untuk
pertumbuhan, bukan untuk produksi panas tubuh. Kepadatan kandang
yang ideal untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah 8-10 ekor/m 2, lebih
dari angka tersebut, suhu kandang cepat meningkat terutama siang hari
pada umur dewasa yang menyebabkan konsumsi pakan menurun, ayam
cenderung banyak minum, stress, pertumbuhan terhambat dan mudah
terserang penyakit.

10

3.3.

Pakan
Ayam broiler sebagai bangsa unggas umumnya tidak dapat membuat

makanannya sendiri. Oleh sebab itu ia harus makan dengan cara mengambil
makanan yang layak baginya agar kebutuhan nutrisinya dapat dipenuhi. Protein,
asam amino, energi, vitamin, mineral harus dipenuhi agar pertumbuhan yang
cepat itu dapat terwujud tanpa menunggu fungsi- fungsi tubuhnya secara normal.
Dari semua unsur nutrisi itu kebutuhan energi bagi ayam broiler sangat besar
(Rasyaf, 1994).
Suprijatna et al. (2005) pakan adalah campuran dari berbagai macam
bahan organik maupun anorganik untuk ternak yang berfungsi sebagai pemenuhan
kebutuhan zat-zat makanan dalam proses pertumbuhan. Ransum dapat diartikan
sebagai pakan tunggal atau campuran dari berbagai bahan pakan yang diberikan
pada ternak untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak selama 24 jam baik
diberikan sekaligus maupun sebagian (Lubis, 1992). Rasyaf (1994) menyatakan
ransum adalah kumpulan dari beberapa bahan pakan ternak yang telah disusun
dan diatur sedemikian rupa untuk 24 jam.
Ransum memiliki peran penting dalam kaitannya dengan aspek ekonomi
yaitu sebesar 65-70% dari total biaya produksi yang dikeluarkan (Fadilah, 2004).
Pemberian ransum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok,
pertumbuhan, pemeliharaan panas tubuh dan produksi (Suprijatna et al. 2005).
Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan
ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga
pertambahan berat badan perhari (Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian
pakan dengan sistem ad libitum (selalu tersedia/tidak dibatasi). Apabila
menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat
pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama disebut
tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein
minimal 23%. Tahap kedua disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang
memakai pakan berkadar protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada
kemasannya.

Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed

Convertion Ratio). Cara menghitungnya adalah, jumlah pakan selama


pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.
11

3.4.

Manajemen Pemeliharaan
Pemeliharaan ayam daging ditujukan untuk mencapai beberapa sasaran

yaitu tingkat kematian serendah mungkin, kesehatan ternak baik, berat timbangan
setiap ekor setinggi mungkin dan daya alih makanan baik (hemat). Untuk
mencapai hal-hal tersebut ada beberapa hal pokok yang perlu dipertimbangkan
sebaik-baiknya dalam pemeliharaan ayam pedaging yaitu perkandangan dan
peralatan serta persiapannya, pemeliharaan masa awal dan akhir, pemberian
pakan, pencegahan dan pemberantasan penyakit dan pengelolaan (Suyoto, 1983).
Ayam broiler atau ayam daging dipelihara selama kurang lebih 6 sampai 7
minggu. Ayam ini tidak dimaksudkan untuk produksi telur, tetapi diharapkan
dagingnya. Sampai umur 5 minggu beratnya kira-kira sama dengan ayam telur
dewasa yaitu kurang lebih 1,5 kg. Cara pemeliharaan ayam daging hampir sama
dengan ayam telur dari periode starter sampai grower (Jahja, 2000).
Pemeliharaan dilakukan dengan pembersihan secara tuntas terhadap
kandang dan peralatan yang akan dipakai didalamnya, baik tempat makanan,
tempat minuman,brooder, alat pelingkan dan lain-lain. Terutama pada kandang
lama yang sudah dipakai, sisa-sisa dari ternak yang lama, baik kotoran, bahanbahan yang tercecer harus dibersihkan secara tuntas sehingga tidak ada yang
tertinggal, sebab setiap butir sisa dari kawanan ayam yang lama akan ada
kemungkinan akan menularkan sesuatu penyakit kepada kawanan berikutnya.
Pembersih dilakukan dengan air dan bahan pencuci (sabun atau detergen) (Suyoto,
1983).
Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan
merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan
tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin
pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry
shoup. Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan
kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan
dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera disulam/diperbaiki
kembali. Dengan demikian daya guna kandang bisa maksimal tanpa mengurangi
persyaratan kandang bagi ternak yang dipelihara.

12

3.5 Vaksinasi
Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh
ayam untuk menimbulkan kekebalan alami. Vaksinasi penting yaitu vaksinasi
ND/tetelo. Dilaksanakan pada umur 4 hari dengan metode tetes mata, dengan
vaksin ND strain B1 dan pada umur 21 hari dengan vaksin ND Lasotta melalui
suntikan atau air minum.
Vaksin adalah mikroorganisme penyebab penyakit yang sudah dilemahkan
atau dimatikan dan mempunyai sifat immunogenik. Immunogenik artinya dapat
merangsang pembentukan kekebalan. Vaksinasi adalah proses memasukkan
vaksin ke dalam tubuh ternak dengan tujuan supaya ternak tersebut kebal terhadap
penyakit yang disebabkan organisme tersebut. Vaksin ada dua macam, yaitu
vaksin

aktif

dan

vaksin

inaktif.

Vaksin

aktif

adalah

vaksin

yang

mikroorganismenya masih aktif atau masih hidup. Biasanya vaksin aktif


berbentuk sediaan kering beku, contoh: MEDIVAC ND LA SOTA, MEDIVAC
ND-IB dan MEDIVAC GUMBORO A. Vaksin inaktif adalah vaksin yang
mikroorganismenya telah dimatikan. Biasanya berbentuk sediaan emulsi atau
suspensi, contoh: MEDIVAC ND-EDS EMULSION, MEDIVAC CORYZA B
(Jahja, 2000).
Pelaksanaan Kegiatan vaksinasi dapat dilakukan dengan cara membagi
ayam menjadi 2 kelompok besar dalam sekatan. Ayam kemudian digiring ke
dalam 2 sekatan yang terbentuk. Vaksinasi dilakukan mulai dari pen terakhir
hingga pen pertama. Ayam yang telah divaksinasi diletakan diluar sekatan hingga
kemungkinan terjadinya pengulangan vaksinasi dapat diminimalisir.
Pemberian vaksin dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti tetes
mata, hidung, mulut (cekok), atau melalui air minum. Vaksinasi harus dilakukan
dengan benar sehingga tidak menyakiti, unggas dan mempercepat proses
vaksinasi, dan tidak meninggalkan sisa sampah dari peralatan vaksinasi seperti
suntikan, sarung tangan, masker maupun sisa vaksin yang digunakan (botol
vaksin). Unggas yang divaksin harus benar- benar dalam keadaan sehat tidak
dalam kondisi sakit maupun stress sehingga akan mendapatkan hasil yang
maksimal dan tidak terjadi kematian dalam proses vaksinasi. Tata cara vaksinasi
harus ditempat yang teduh, bersih, vaksin tidak dalam kondisi sakit maupun stress
13

sehingga tidak merusak vaksin. Program vaksinasi untuk unggas, harus


disesuaikan dengan umur dari unggas tersebut dan harus berhati-hati dalam
memvaksin karena sangat sensitif terhadap jarum suntik dan dapat menimbulkan
stress dan kematian mendadak (Jahja, 2000).
BAB IV
KESIMPULAN

4.1. Kesimpulan
Ayam merupakan salah satu ternak yang potensial di daerah kita,dilihat dari
segi konsumsi masyarakat dan kebutuhan masyarakat akan daging dan telur ayam
sangat tinggi karena hamper setiap hari dikonsumsi,sehingga beternak ayam
adalah salah satu peluang bisnis yang sangat menguntungkan jika kita mau
menekuninya dengan sungguh sungguh.
Beternak ayam juga memerlukan profesionalisme dan dedikasi yang penuh
terhadap peternakan ayamnya, agar hasil yang didapat juga maksimal dan sangat
memuaskan. Dalam arti kita mendapat keuntungan dari sisi ekonomi dan juga kita
akan mendapatkan kepuasan batin dan itu merupakan kebanggaan tersendiri dari
diri kita atas usaha yang kita tekuni.

4.2. Saran
Semoga makalah ini dapat menjadi panduan yang berguna bagi para
peternak ayam baik bagi pemula maupun yang professional.

14

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2011 Pendahuluan. http://micksihite.blogspot.com/p/laporan-semesterpraktikum-produksi.html


Cahyono dan Bambang, 1995. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging
(broiler). Penerbit Pustaka Nusatama: Yogyakarta.
Fadillah. R, 2007. Sukses Berternak Ayam Broiler. PT.Agromedia Pustaka:. Ciganjur.
Kartini. 2011. Kandungan Zat Pakan Jagung. http://putramegatawang.com/kandunganzat pakan-jagung.html.
R, 2008. Panduan Mengelola Peternakan Ayam Broiler Komersial. Agromedia pustaka:
Jakarta
Priatno, Martono.A, 2004. Membuat Kandanng Ayam. PT. Penebar Swadaya:. Jakarta
Rasyaf. M, 1994. Beternak Ayam Petelur. Penebar Swadaya: Jakarta
Sugandi, 1978. Tatalaksana Pemeliharaan Ayam Pedaging Strain MB 202-p Periode
StarterFinisher. PT. Janu Putro Sentosa: Bogor.

15