Anda di halaman 1dari 8

BIBLIOLOGI

Oleh Tiopan Manihuruk

Pengantar
Apa yang kita imani, bagaimana kita menjalani kehidupan, apa standar
kebenaran yang kita miliki semua bersumber dari apa yang dikatakan dalam
Alkitab (firman Allah yang tetulis). Kita mengenal Allah sebagai pencipta segala
sesuatu, Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat, Yesus mati di salib, dikuburkan dan
bangkit dari kematian demi kita dan Dia pasti akan datang juga berdasarkan
Alkitab. Semua doktrin dan etika kekristenan ( sesuatu itu benar atau salah),
semua berpatokan kepada kebenaran firman Tuhan. Karena itu adalah penting
untuk mengerti bibliologi, yaitu ilmu tentang Alkitab yang meliputi wahyu,
inspirasi, penulisan, kanon, otoritas dan seterusnya.
Wahyu dan Pengilhaman Alkitab
Firman Tuhan (secara tertulis) yang pertama sekali adalah dua loh batu yang
berisi 10 hukum taurat yang diberikan kepada Musa yang dengan jari-jari Allah
(Ul.31:9-18) bd Kel 32:16; 34:1,28; Yos 24:26. Setelah itulah baru kemudian
Firman Allah dituliskan oleh para penulis berdasarkan wahyu dan ilham Allah.
Pengilhaman kepada penulis dimana Allah sendiri melalui para penulis
mengatakan kebenaranNya. I.H.Marshall mengatakan ; The doctrine of
inspiration is a declaration that the Scriptures have their origin in God, it is not
and can not be an explanation of how God brought them into being.1 Menurut
Millard J. Erickson inspirasi/ilham adalah pengaruh supranatural dari Roh kudus
terhadapa para penulis Alkitab yang menjadikan tulisan mereka sebuah catatnan
yang akurat akan wahyu Allah. Dia melihat bahwa sebagai kebenaran yang
disingkapkan Allh kepada para penulis sedangkan inspirasi adalah tindakan
penulis untuk mengkomunikasikan wahyu tersebut dalam bentuk tulisan. 2 Jadi
wahyu dilihat oleh Erickson sebagai tindakan vertikal dari inspirasi/ilham sebagai
hal yang hirizontal.
Beberapa teori Pengilhaman:
1. Teori intuisi.
Pengilhaman adalah sejenis penglihatan yang amat tajam, karena itu
penulis dilihat sebagai seniman yang memiliki kemampuan berimajinasi
atau mengembangkan perasaannya.
2. Teori iluminasi (pencerahan)

1 LH Marshall; Bblical Inspiratian, Grand Rapids, 1983, p 31-47

2 Millard J. Erickson, Christian Theology, Grand Rapids, 1985, p 199-200

Mengakui keterlibatan Roh kudus dalam diri penulis Alkitab akan tetapi
keterlibatanNya hanya sebatas meningkatkan kemampuan normal
mereka.
3. Teori dinamis
Menekankan keterlibatan kedua pribadi (Allah dan manusia) dalam
pengilhaman dan penulisan Alkitab. Roh kudus dilihat sebagai pengaruh
ide atau konsep yang akan dituliskan oleh para penulis tetapi membiarkan
mereka sepenuhnya mengembangkan kepribadiaannya dalam memilih
kata dan cara pengungkapannya.
4. Teori verbal
Roh kudus tidak sekedar mengarahkan ide atau konsep sesuatu yang akan
dituliskan, tetapi juga dalam pemilihan kata-kata. Keterlibatan Roh begitu
kuat sehingga setiap kata adalah merupakan kata sesungguhnya yang
Allah inginkan dalam penulisan pesan illahi.
5. Teori dikte
Allah sesungguhnya mendiktekan seluruh isi alkitab kepada para
penulisnya. Bagaikan seorang guru yang mendiktekan kata atau kalimat
kepada murid-murid demikian Alkitab didiktekan Allah kepada para
penulis.
Selain pandangan di atas J.I Packer membagikan inspirasi kedalam berbagai
bentuk;
a. Dualistic Inspiration
Penerima wahyu tetap dalam keadaan sadar akan perbedaan antara
dirinya sebagai pendengar dan penulis wahyu dengan Allah sebagai
pembicara. Hasil dari komunikasi seperti ini adalah nubuatan-nubuatan
dalam perjanjian lama dan penglihatan-penglihatan yang diwahyukan
kepada Daniel dan Yohannes di Patmos.
b. Lyric Inspiration
Ilham Allah menyatu dengan proses pembentukan mental dan konsentrasi
penulis. Hasil inspirasi seperti ini adalah alkitab Mazmur, Amsal dan
beberapa pasal kitab Ayub serta tulisan dalam bentuk doa dalam Alkitab.
c. Organic Inspiration
Bentuk inspirasi seperti ini menghasilkan kitab-kitab sejarah PL dan PB,
surat-surat Rasuli, kitab Amsal dan Pengkotbah. 3
Melihat berbagai pandangan diatas memang sulit untuk menentukan bentuk
ilham/inspirasi yang benar. Satu hal yang pasti adalah bahwa Alkitab
sesugguhnya adalah bersumber dari Allah walau kita tidak dapat memastikan
bagaimana cara Allah mewahyukan dan mengilhamkan.
Secara umum dapat dipahami cara penulisan Alkitab
1. Dituliskan atas perintah Allah. Kel 34:27; Yer 30:1-2 (Musa); Hab 2:29
(Habakuk); 1 kort 14:37 (Paulus); Wah 1:11(Yohannes)
2. Allah memilih penulis sebelum mereka lahir. Yer 1:4-5; Gal 1:15-16
3. Allah menempatkan penulis pada kepada keadaan yang dikehendakiNya
dan memberi mereka latihan yang diperlukan (providensia Allah).
4. Allah memberikan FirmanNya kepada penulis dan menggerakkan mereka
untuk menulis dengan pimpinan Roh kudus. Allah memberikan wahyu
3 J.I. Packer, God has Spoken, p100-101
2

sepenuhnya. 2 pet 1:20-21. Lih 2 tim 3:16-17; yoh 10:34-35; luk 24:44-45.
Roh memberi wahyu/insprasi kepada penulis dan Roh menggerakkan dan
memimpin penulis untuk menulis sesuai dengan latar belakang budaya,
kehidupan dan bahasa penulis.
5. Ditulis dalam bahasa manusia untuk dimengerti (tidak ada bahasa Allah
secara khusus). PL ditulis dalam bahasa Ibrani dan PB dalam bahasa
Yunani.

Kanonisasi Alkitab
Konon adalah daftar dari semua kitab yang menjadi bagian dalam sebuah Kitab
suci. Yang masuk dalam kanon sangatlah penting dimana kitab/buku tersebut
memiliki kepenulisan ilahi (divine authorship). F.F Bruce mengatakan ;... books
are included in canon it is beliaved because they were inspired by God 4. Kalau
Allah yang mengilhami Alkitab maka diyakini bahwa kitab yang ada dalam kanon
Kitab suci sesungguhnya adalah firman Allah.
Kanon PL
Koleksi paling awal dari firman adalah 10 Hukum Taurat dan inilah permulaan
kanon kitab suci. Sepanjang sejarah kumpulan (koleksi) kitab Taurat ini
berotoritas bagi orang Israel. Barulah kemudian muncul kitab Pentateukh (Kel
17:14; 24:4; 34:27; bil 33:2; Ul 31:32) dan diikuti oleh tulisan nabi-nabi. Isi kanon
PL terus bertambah sampai akhir kepenulisan oleh para nabi. Daftar tertua
dalam kanon Kitab suci ada sekitar 170 AD karya seorang ilmuan Kristen yang
bernama Melito dari Sardis yang pergi ke Palestina untuk meneliti urutan dan
jumlah kitab dalam kitab Ibrani, Yunani dan Latin. Alkitab bahasa Inggris
mengikuti urutan/susunan dari kitab Vulgate (PL dalam bahasa Latin) dan isi
berdasarkan Alkitab Ibrani. Kitab ini ditulis ribuan tahun yang lalu diawali oleh
Musa dan terakhir setelah pembuangan dari Babel. Pada masa Yesus, PL disebut
Tanaach oleh Judaisme modern yang berisi kitab taurat, nabi-nabi dan surat-surat
(luk 24:44).Barulah setelah abad 1 ada finalisasi kanon PL. Bagaimana dengan
kitab apocrypha?
Tentang hal ini Wayne Grudem berkata: Thus the writing of the apocrypha not be
regarded as part of the scripture: (1) They do not claim for thrmselves the same
kind of authority aa the OT writings: (2) They were not regerded as Gods words
by Jewish people from whom the originated: (3) they were not considered to be
scriptures by Jesus or the NT writers; and (4) they contain teachings inconsistent
with the rest of the Bible. Selanjutnya dia berkata : in regard to the canon of the
OT, Christians today should have no worry that anything needed has been left
out or that anything that is not Gods words has been included. 5
Kanon PB

4 F.F Bruce, The Canon of Scripture, Glasgow, Chapter House Ltd, 1988, p.263
5 Wayne Grudem, Systematic Theology, IVP, 1994, p.59
3

Daftar kanon PB yang berisi 27 kitab (367 AD) dalam sebuah surat Athanasius,
Bishop Aleksandria. Urutan adalah kitab Injil, Kisah Para Rasul, surat-surat
umum, surat Paulus dan Wahyu. Bukti eksklusif dari kumpulan/koleksi kitab PB
ada pada abad ke II yang dapat dilihat dalam tulisa Justin yang mati martir.
Bentuk dari kanon PB bukanlah suatu keputusan berdasarkan konseli, sebab
konsisi Nicea (325 AD) tidak mendiskusikan kanon, melainkan pada konsili
Cartage (397 AD) yang memutuskan bahwa tak satupun tulisan boleh dibaca
dalam ibadah gereja dalam nama Kitab Suci kecuali tulisan-tulisan kanon.
Formasi kanon PB harusnya berdasarkan proses bukan berdasarkan sebuah
peristiwa (event) dan lebih bersifat historis dari pada peristiwa biblikal.
Perkembangan kanon PB dimulai dengan tulisan-tulisan para Rasul di
mana penulisan kitab suci dihubungkan dengan karya Allah dalam sejarah
penebusan. Para Rasul diberikan kemampuan oleh Roh Kudus untuk mengingat
kembali karya dan perkataan/ucapan Yesus dan menuliskannya secara benar
bagi generasi berikutnya (bd Yoh 14:26) dan bagaiman Petrus memerintahkan
kepada pembaca tulisannya untuk mengingatkan perintah Tuhan Yesus dan
menuliskannya secara benar bagi generasi berikutnya (bd Yoh 14:26) dan
bagaiman Petrus memerintahkan kepada pembaca tulisannya untuk
mengingatkan perintah Tuhan Yesus melalui para Rasul (2 pet 3:2). Kewenangan
atau otoritas diberikan Allah kepada rasul-rasul, misalnya berdusta kepada rasul
sama dengan berdusta kepada Roh Kudus ( Kis 5:3) dan berdusta kepada Allah
( Kis 5:4). Paulus menyatakan bahwa Roh Kuduslah yang mengiluminasikan
firman melalui dia. 1 kor 2:9,13; 1 kor 14:37; 2 kort 13 :3; rom 3:16; Gal 1:8-9; 1
tes 2: 13; 4:8,15; 5:27; 2 tes 3:6,14. Karena para Rasul mempunyai otoritas
untuk menuliskan firman, maka otentitas pengajaran rasul yang tertulis diterima
oleh jemaat mula-mula sebagai bagian konon kitab suci. Kitab Markus, Lukas,
Kisah Para Rasul, Ibrani dan Yudas walau tidak ditulis oleh para rasul serta
sejarah yang detail dalam kitab tersebut. Bagaiman kita tahu bahwa kita
mempunyai kitab yang benar dalam kanon suci seperti yang kita miliki
sekarang? Grudem berkata: if we are asking upon what we should based on the
faithfulness of God. We know that God loves hi people and it is supremely
important that Gods people have his own words, for they are our life ( Dt 32:47;
Mt 4:4). And by process of the writing which the activity of the Holy Spirit
convincing us as we read the scripture for ourselves and the historical data that
we have available for our consideration.6
Otoritas Alkitab
Otoritas Alkitab berarti bahwa semua firman (perkataan) dalam kitab suci dalah
firman Allah yang merupakan standard mutlak akan segala sesuatu tentang iman
dan tindakan. Otoritas Alkitab harus diawali dari Allah sendiri di mana semua
otoritas bersumber dari Dia. Wahyu adalah kunci utama dalam otoritas Allah
dalam Alkitab. Para penulis Alkitab (nabi-nabi, para rasul dan yang lainnya)
menulis berdasarkan wahyu Allah sehingga tulisan mereka memiliki otoritas
mutlak. Lih 2 kor 10:11; 2 tes 2:15; 1 tes 2:13. Itulah sebabnya otoritas Alkitab
6 Ibid, p.65
4

dibangun karena kebenaran wahyu dan kebenaran Allah dapat dipercaya


kebenarannya dan hal tersebut berarti yang infallible. Dengan demikian iman
dan ketaatan pada kitab suci berarti iman dan ketaatan kepada Allah atau
sebaliknya.7
Dalam hal otoritas Alkitab ada berbagai pandangan, antara lain:
1. Alkitab adalah tradisi manusia pada abad mula-mula, sehingga Alkitab
tidak relevan lagi dengan abad ini. Dengan demikian Alkitab tidak
mempunyai otoritas dalam hidup mereka.
2. Alkitab tidak luput dari kesalahan karena ditulis oleh manusia, maka
pendekatan kepada Alkitab sama sikapnya dengan buku-buku lain dengan
asumsi bahwa setiap karya manusia tidak ada yang sempurna.
3. Alkitab bukanlah firman Tuhan melainkan catatan tentang firman Tuhan
atau catatan sejarah Israel (naturalistik). Wahyu Allah tidak dapat
dituliskan. Allah tidak terbatas maka firmanNyapun tidak terbatas juga.
4. Alkitab mengandung atau berisi firman Tuhan. Surat-surat para rasul
bukanlah firman Tuhan. Bila ada perkataan demikianlah firman Allah atau
Allah berfirman- barulah diterima sebagai firman Tuhan. Jadi Alkitab juga
berisi firman manusia dan firman iblis.
5. Alkitab menjadi firman Allah (neo-ortodox). Dalam hal ini membutuhkan
pertemuan dalam pengalaman subjektif (bukan okjektif) sehingga
tergantung kepada manusia yang mengalaminya. Mereka berkata bahwa
Logos adalah FT secara umum sedangkan rhema adalah FT yang
berbicara kepada kita secara pribadi.
6. Rasionalist: ratio menjaadi ukuran kebenaran. Mujizaat yang melampaui
ratio bukanlah keberanan firman Allah.
7. Alkitab adalah mitos tentang kehidupan israel.
8. Alkitab adalah firman Allah yang terulis yang tidak salah dalam
pewahyuan dan penulisan yang pertama. Dengan demikian Alkitab
mempunyai otoritas secara penuh dalam kehidupan manusia (sebagai
ukuran kebenaran dalam iman dan perbuatan).

Alkitab adalah Firman Allah


1. Alkitab menyatakan dirinya firman Allah (inner testimony).lihat 2 tim 3:1617; 2 pet 1:16-17; 2 pet 1:20-21. Perkataan beginilah firman Tuhan dalm
PL (sekitar 1800x) dan dalam PB (sekitar 2000x). Kebenaran Alkitab
sebagai firman Allah tidak dapat dibuktikan oleh apa dan siapapun kecuali
oleh Alkitab sendiri dan Allah sebagai pewahyunya. Tidak ada buku atau
data apapun yang dapt membuktikan keabsahan Alkitab sebagai firman
Allah.
7 Berdasarkan laporan ewan gereja sedunia tahun 1971 ada 2 jenis kewibawaan/otoritas Alkitab,
yakni: (1) kewibawaan keras Alkitab yang mengatakan bahwa Alkitab sudah mempunyai otoritas
sbelum ditafsirkan dan Alkitab mempunyai otoritas yang berlaku umum (otoritas tidakm muncu dri
hasil tafsir melainkan menjadi landasan tafsir), dan (2) kewibawaan lunak Alkitab, yakni otoritas
yang lahir dari hasil tafsir dan penerapan perikop yang memang berbicara denga nada berwibawa
kepada pembaca.
5

2. Tuhan Yesus menerimn, menjunjung tinggi dan tunduk kepada kitab suci.
Bd Mt 4:4,7,10 lih Ul 8:1 dan banyak kutipan Yesus yang lain dari PL.
Alkitab Mt 4: 4,7,10 lih Ul.8:1 dan banyak kutipan Yesus yang lain dari P.
Alkitab menuntun kepada pengenalan akan Kristus yang menuntun
Alkitab. PL menulis nubuatan kedatangan Yesus, dan PB mencatat
kehidupan, ajaran, kerya dan sesudah kebangkitanNya.
3. Alkitab bersifat inik karena:
a. Mempunyai kesatuan yang ajaib. PL 39 buku dan PB 27 buku, ditulis
dalam durasi sekitar 1500 tahun oleh 40 penulis dalam 40 generasi
dengan latarbelakang bahasa, budaya, situasi yang berbeda akan
tetapi memiliki satu kesatuan PL dan PB mmpunyai satu esatuan
sistem doktrin, etika, sistem keselamatan dan satu pusat yaitu Allah.
b. Ketepan/akurasi nubuatnya. Misalnya tentang pembuangan Israel
etelah 70 tahun (Dan 9:1-2; Yer 25:9-11); tersebarnya bangsa Yahudi
(Ul 28; Yer 24:9) dan kembalinya mereka (Yeh 39:9,24; Yeh 37); pra
eksistensi Yesus, karya dan kehidupanNya (Yes 7:14; mik 5:1; Yes
52:13-53:12).
4. Alkitab bersifat universal. Maksudnya adalah bahwa Alkitab relevan untuk
segala zaman, suku, golongan dan untuk segala tempat dan keadaan.
5. Alkitab bersifat superior dan istimewa. Berbicara tentang penciptaan,
dosa, kasih, etika, dunia kini dan mendatang serta selalu up to date.
Alkitab menulis/mencatat berita kemarin, kini dan yang akan datang.
6. Alkitab memperkenalkan atau menyatakan siapa Allah dan manusia
secara benar (bersifat murni dan jujur/fair). Contohnya; Musa, Daud dan
para penulis kitab yang lain dicatat pernah jatuh kedalam dosa. Dalam
memperkenalkan Allah kepada manusia Roh kudus memimpin untuk
mengerti Alkitab, Alkitab memimpin untuk mengenal Yesus dan melalui
Yesus manusia datang kepada Alah Bapa.
7. Alkitab berkusa untuk merubah hidup dan memberi iman. Rom 10:17; maz
119:9-11: 2 tim 3:16-17; Ibr 4:12 dll.
Innerensi dan Infallibitas Alkitab
Innerasi Alkitab dimengerti sebagai suatu pandangan yang menyatakan bahwa
fakta yang ada dalam Alkitab (penuisan yang asli/pertama) dan apabila ditafsir
secara benar maka Alkitab itu sungguh-sungguh benar dan tidak pernah salah
dalam segala apa yang dinyatakannya apakah itu berhubungan tentang doktrin,
etika, sosial atau ilmu tentang kehidupan. 8 Selanjutnya menurut Walter dasar
utuk inneransi Alkitab adalah:
1. Alkitab mengajarkan wahyu/inspirasi Allah sehingga wajar bila memiliki
inneransi. Alkitab adalah nafas Allah (2 tim 3:16) sehingga menjamin hal
itu tanpa kesalahan.
8 Walter A. Elwell, Evangelical Dictionary of Theology, Paternoster, 2001, p.156. Bandingkan
dengan pendapat Millard. J. Erickson yang mengatakan, The Bible when correctly interpreted in
light of the level to which culture and the means of communication had developed at the time it was
written, and in view of the purposes for which it was given, is fully truthfull in all that it affirms
(Christia Theology, 1985, p.234)
6

2. Dalam Ul 13:1-5 dan 18: 20-2, Israel diberitakan kriteria-kriteria untuk


membedakan berita yang bersumber dari Allah dan yang nabi-nabi palsu.
Salah satu tanda berita yang ilahi adalah secara total dan mutlak adalah
benar.
3. Alkitab mengajar otoritasnya dan hal ini membetuhkan inneransi lih.Mt
5:17-20, Yoh 10:34-35.
4. Sesama kitab/buku dalam Alkitab saling mendukung inneransinya.
Kalau inneransi berkaitan dengan ketepatan (keakuratan) sumber Alkitab, maka
infallibitas berelasi dengan kebenaran pesan Alkitab sekaligus (Injili) atau
menolak kedua-duanya (Karl Barth) serta ada yang hanya menerima salah satu 9.
Di sisi lain ada juga yang tidak mau menggunakan istilah tersebut kerena
dianggap bersifat ilmiah (pendekatan ilmiah) karena dengan mengakui bahwa
Alkitab adalah firman Allah itu sudah cukup, sehingga mereka lebih suka
menyebutnya dengan the trusworthiness of the Bible. Millard J. Erickson
membagi inneransi dalam berbagai jenis:
1. Absolute innerancy: Megatakan bahwa Alkitab sepenuh yang benar dalam
segala hal termasuk dalam hal ilmiah dan sejarah.
2. Full innerancy : Alkitab sepenuhnya benar khususnya dalam hal-hal yang
menyangkut theologia serta hal-hal rohani. Sekalipun tujuan utama para
penulis Alkitab bukanlah untuk menyodorkan data ilmiah dan sejarah
namun dalam hal inipun Alkitab adalah benar. Perbedaannya dengan
absolute adalah dalam hal bagaimanapun mereka mengerti hal-hal yang
berkaitan dengan ilmiah dan sejarah. Bagi kelompok ini data ilmiah dan
sejarah adalah bersifat fenomenal yakni memberi gambaran atau
perkiraan (bukan data akurat dari segala angka atau fakta ilmiah). Mereka
mengatakan What they teach is essentially correct in the way they teach.
3. Limited innerancy : Ketidakbersalahan Alkitab adalah yang berkaitan
dengan ajaran keselamatan orang berdosa. Data ilmiah dan ejarah adalah
cerminan pengertian penulis pada waktu itu (pengethua dan kemampuan
mereka terbatas). Adanya wahyu tidak membuat mereka melampaui
kemampuan normal dari biasanya, sebab Allah tidak mewahyukan hal-hal
ilmiah dan sejarah. Karena itu adalah mungkin mereka salah satu dalam
hal tersebut. Namun dalam hal apa yang diajarkan Alkitab sesungguhnya
benar. Kelompok ini menekankan unsur kemanusiaan dan menggeser
unsur keillahian dalam penulisan Alkitab. Padahal dalam penulisan Alkitab
kedua unsur tersebut sekaligus terlibat.
4. Innerancy of purpose: Alkitab tidak bersalah dalam arti bahwa Alkitab
menggenapi tujuanny ayaitu membawa manusisa ke dalam persekutuan
dengan Allah, sebab Alkitab bukan sekedar megkomunikasikan dalil
kebenaran.10
9 Ada kaum Injili yang hanya mengakui infallibilitas dan menolak inneransi Alkitab. Menurut
mereka mengatakan Alkitab bahwa Alkitab tidak bersalah dalam segala hal ditinjau dari semua aspek,
termasuk dalam hal ilmiah akan menimbulkan masalah. Namun demikian penerimaan akan inneransi
didasarkan pada Alkitab sebagai ilham Allah.
10 Millard J. Erickson, Christian Theology, Grand Rapids, 1985, p.222-224
7

Dari berbaiia pandangan di atas alasan untuk menerima inneransi dan infallibitas
Alkitab adalah karena didasarkan kepada ilham Allah. Dengan demikian kita juga
dapat menerima sifat Alkitab yang sepenuhnya dapat dipercaya karena
bersumber dari Allah.
Penutup.
Alkitab adalah wahyu Allah yang berotoritas yang seharusnya menjadi standard
bagi setiap kebenaran (ajaran dan praktika hidup) setiap orang percaya. Karena
itu kemauan mmeggali untuk mengerti dan melakukan Firman Allah seharusnya
terus bertumbuh dalam diri kita. Kita dilahirkan kembali dari benih yang tidak
fana, yaittu Firman Allah (1pet 1:23; rom 10:17), kita dapat hidup suci (maz
119:9-11) dan mengerti kebenaran yang sejati ( 2 tim 3:15-17) hanya dengan
belajar dan menaati Firman Allah yang adalah juga terang bagi kehidupan kita
(maz 119:105). Dengan Firman Tuhan kita juga dapat mennag atas kuasa atau
siasat iblis (mt 4:4-10; ef 6:16-17) tetap hidup berkenan kepadaNya.