Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN

ANALISIS ASPEK BIOLOGI BERUPA PERTUMBUHAN, REPRODUKSI,


DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN LELE (Clarias sp.)
Diajukan Untuk Memenuhi Laporan Praktikum
Mata Kuliah Biologi Perikanan

Disusun Oleh Kelompok 7 Kelas A


Nama
NPM
Lidya Pratiwi
230110120007
Heru Sandra Nurhuda
230110120031
Akbar Rusmana Sahrudin
230110120057

PROGRAM STUDI PERIKANAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa,
karena atas rahmat dan hidayah-Nya, kemudian usaha yang maksimal dari setiap
anggota kelompok, kami dapat menyelesaikan laporan praktikum Mata Kuliah
Biologi Perikanan meskipun dengan segala keterbatasan dalam penulisan laporan
ini.
Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Biologi
Perikanan semester genap tahun ajaran 2013/2014. Laporan ini berisi tentang
pertumbuhan suatu ikan baik panjang dan bobot, identifikasi dan rasio kelamin
ikan, tingkat kematangan gonad ikan, indeks kematangan gonad ikan, fekunditas
telur ikan, diameter telur dan posisi inti telur ikan dan kebiasaan makan ikan.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dalam pembuatan
laporan selanjutnya. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya.

Jatinangor, April 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
BAB

I.

II.

III.

Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................

DAFTAR ISI ...............................................................................

ii

DAFTAR GAMBAR ...................................................................

iv

DAFTAR TABEL.........................................................................

DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................

vi

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .......................................................................
1.2. Maksud dan Tujuan Praktikum ..............................................

1
2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Deskripsi Ikan Lele ................................................................
2.1.1. Klasifikasi Ikan Lele ...........................................................
2.1.2. Habitat dan Penyebaran Populasi Ikan Lele .......................
2.2. Hubungan Panjang dan Berat Pada Ikan ...............................
2.3. Rasio Kelamin Ikan ...............................................................
2.4. Tingkat Kematangan Gonad Ikan ..........................................
2.5. Indeks Kematangan Gonad Ikan ............................................
2.6. Fekunditas Ikan ......................................................................
2.7. Diameter Telur dan Posisi Inti Telur Ikan ..............................
2.8. Kebiasaan Makan Ikan ..........................................................

3
3
4
5
6
7
10
11
14
15

METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Tempat dan Waktu..................................................................
3.2. Alat dan Bahan........................................................................
3.2.1. Alat ......................................................................................
3.2.2. Bahan ..................................................................................
3.3. Metode Praktikum .................................................................
3.3.1. Hubungan Panjang dan Berat .............................................
3.3.2. Rasio Kelamin ....................................................................
3.3.3. Tingkat Kematangan Gonad ...............................................
3.3.4. Indeks Kematangan Gonad .................................................
3.3.5. Kebiasaan Makan ...............................................................

19
19
19
19
20
20
20
21
21
21

IV.

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil .......................................................................................
4.1.1. Hasil Pengamatan Pertumbuhan dan Rasio Kelamin
Ikan Lele Kelompok....................................................................
4.1.2. Hasil Pengamatan Reproduksi Ikan Lele Kelompok ..........
4.1.3. Hasil Pengamatan Food and Feeding Habits Ikan Lele
Kelompok ...................................................................................
4.1.4. Hasil Pengamatan Pertumbuhan dan Rasio Kelamin
Ikan Lele Angkatan ....................................................................
4.1.5. Hasil Regresi Pertumbuhan Ikan Lele Angkatan ................
4.1.6. Hasil Pengamatan Reproduksi Ikan Lele Angkatan ...........
4.1.7. Hasil Pengamatan Food and Feeding Habits Ikan Lele
Angkatan ....................................................................................
4.2. Pembahasan ...........................................................................
4.2.1. Pembahasan Pertumbuhan dan Rasio Kelamin Ikan
Lele .............................................................................................
4.2.2. Pembahasan Reproduksi Ikan Lele .....................................
4.2.3. Pembahasan Food and Feeding Habits Ikan Lele ..............

22
22
22
23
24
28
30
32
34
34
34
37

PENUTUP
5.1. Kesimpulan ............................................................................

38

DAFTAR PUSTAKA...................................................................

39

LAMPIRAN.................................................................................

40

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Judul

Halaman

1.
.
2.

Ikan Lele (Clarias sp.)......................................................

Persentase Pertumbuhan Ikan Lele ..................................

27

3.

Rasio Kelamin Ikan Lele...................................................


.

27

4.

31
Persentase Tingkat Kematangan Gonad Ikan Lele .............

DAFTAR TABEL
Nomor
1.
2.

Judul
Data Kelompok Pertumbuhan dan Rasio Kelamin
Kelompok 07 ....................................................................
Data Reproduksi Kelompok 07.........................................
.

3.

Halaman
22
22
23

Data Food and Feeding Habits Kelompok 07 .................


4.
Data Kelompok Pertumbuhan dan Rasio Kelamin
Angkatan ..........................................................................
5.

24
26

Data Kelas Ukuran Ikan Lele Angkatan ...........................


6.

26
Data Kelas Reproduksi dan Rasio Ikan Lele Angkatan ...

7.

28

8.

Data Regresi Pertumbuhan Angkatan...............................


.

30

9.

Data Reproduksi Angkatan ..............................................

31

10.

Data Kelas Reproduksi dan Rasio Ikan Lele Angkatan....

11.

Data Indeks Kematangan Gonad Ikan Lele Jantan


Angkatan ..........................................................................

32

12.

Data HSI Ikan Lele Jantan Angkatan ...............................

32

13.

Data Food and Feeding Habits Angkatan .........................

32

33
Data Kelas Food and Feeding Habits Ikan Lele Jantan
Angkatan ..........................................................................

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Judul

Halaman

1.

Pengukuran Panjang Ikan Lele (Clarias sp.) ...................

40

2.

Isi Perut Ikan Lele (Clarias sp.)........................................


.

40

3.

40
Saluran Pencernaan Ikan Lele (Clarias sp.) .......................

4.

40
Gonad Ikan Lele (Clarias sp.) ...........................................
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Biologi perikanan berbeda dengan ikhtiologi atau fisiologi hewan air,
walaupun merupakan cabang ilmu biologi. Dalam biologi perikanan, dipelajari
aspek-aspek biologi ikan dengan tujuan agar orang yang mempelajarinya dapat
memanfaatkan dan mengelola sumbrdya perikanan secara berkelanjutan. Dengan
mempelajari aspek biologi, seseorang akan lebih memahami semberdaya
perikanan dan tidak melihatnya dari segi ekonomi saja. Salah satu aplikasinya,
seseorang dapat mengetahui kapan waktu yang tepat serta berapa banyak jumlah
ikan yang dapat ditangkap dengan terlebih dahulu memahami ruaya serta musim
kawin ikan tersebut. Serta masih banyak lagi contoh-contoh aplikasi yang lain.
Dalam tataran yang lebih luas, seorang ahli biologi perikanan dapat
membuat suatu masukan mengenai pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya
perikanan yang optimal, berdasarkan pemahaman dan risetnya. Masukan ini dapat
diserahkan kepada Pemerintah yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk
membuat keputusan atau aturan terkait. Dengan demikian dapat berkontribusi
dalam pengembangan perikanan di Indonesia. Dalam uji coba laboratorium
praktikum akan diamati berbagai aspek biologi dari Ikan Lele. Pengamatan aspek
tersebut dimulai dari pertumbuhan ikan yang mengamati panjang dan bobot ikan,

selanjutnya dilakukan pengamatan dan perhitungan indeks kematangan gonad


yang didapatkan dengan menghubungkan bobot gonad dengan berat ikan,
kemudian mencari sejauh mana perkembangan gonad Ikan Lele yang diuji coba,
dan terakhir pengamatan dari segi kebiasaan makan ikan dan cara makan Ikan
Lele.

1.2. Maksud dan Tujuan


Adapun tujuan dilaksanakan praktikum kali ini untuk mengetahui dan
memahami lebih jauh tentang aspek-aspek biologi Ikan Lele, yaitu:

Mengetahui dan memahami serta mengukur pertumbuhan Ikan Lele.


Mengetahui dan menentukan tingkat kematangan gonad Ikan Lele.
Mengetahui serta menentukan indeks kematangan gonad Ikan Lele.
Mengetahui dan dapat menentukan fekunditas Ikan Lele.
Mengetahui, memahami, mengamati hingga dapat menentukan kebiasaan
makan dan makanan Ikan Lele.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Deskripsi Ikan Lele
Ikan Lele (Clarias sp.) merupakan salah satu jenis ikan konsumsi air
tawar. Ikan lele termasuk ikan jenis catfish atau kata lain ikan yang memiliki
kumis. Ciri dari ikan lele yaitu bentuk tubuh memanjang dan agak bulat, pada
sirip dada terdapat duri yang keras dan runcing/tajam (patil), warna tubuh belang
dengan kepala pipih dan terdapat kumis serta licin karena tidak memiliki sisik.
Kemudin ikan ini memiliki alat pernafasan tambahan berupa dari modifikasi dari

busur insangnya yaitu arborescent. Dibeberapa daerah ikan lele mempunyai


banyak nama. Antara lain: ikan kalang (Padang), ikan maut (Aceh), ikan sibakut
(Karo), ikan pintet (Banjarmasin), ikan keling (Makassar), ikan lele atau lindi
(Semarang).
2.1.1. Klasifikasi Ikan Lele
Klasifikasi Ikan Lele adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Sub-kingdom

: Metazoa

Filum

: Chordata

Sub-Filum

: Vertebrata

Kelas

: Pisces

Sub-Kelas

: Teleostei

Ordo

: Ostariophysi

Sub-ordo

: Siluroidea

Famili

: Clariidae

Genus

: Clarias

Spesies

: Clarias sp.

Nama lokal

: Ikan Lele

Gambar 1. Ikan Lele (Clarias sp.)


Sumber: Dokumen Pribadi

2.1.2. Habitat dan Penyebaran Populasi Ikan Lele


Habitat atau lingkungan hidup Ikan Lele ialah semua perairan air tawar, di
sungai yang airnya tidak terlalu deras atau perairan yang tenang seperti danau,
waduk, telaga, rawa serta genangan-genangan kecil. Kolam juga merupakan
lingkungan hidup Ikan Lele. Ikan Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau
air asin. Ikan Lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada
malam hari. Pada siang hari, Ikan Lele berdiam diri dan berlindung di tempattempat gelap. Di alam Ikan Lele memijah pada musim penghujan.

Ikan Lele mempunyai labirin yang memungkinkan ikan ini mengambil


oksigen pernafasannya dari lumpur yang miskin oksigen, karena itu Ikan Lele
tahan hidup diperairan yang airnya mengandung sedikit oksigen. Ikan Lele ini
relatif tahan terhadap pencemaran bahan-bahan organik. Oleh karena itu Ikan Lele
tahan hidup di air kotor.
Ikan Lele hidup dengan baik di dataran rendah. Bila tempat hidupnya
terlalu dingin, misalnya dibawah 20C maka pertumbuhannya agak lambat. Di
daerah pegunungan dengan ketinggian diatas 700 meter, pertumbuhan Ikan Lele
kurang begitu baik. Ikan Lele tidak pernah ditemukan hidup di air payau atau asin.
Ikan Lele dapat hidup normal di lingkungan yang memiliki kandungan
oksigen (DO) terlarut 4 ppm dan air yang ideal bagi lele dumbo mempunyai kadar
karbondioksida kurang dari 2 ppm, sebenarnya Ikan Lele akan tumbuh baik jika
dipelihara di air yang cukup bersih, seperti air sungai, mata air, saluran irigasi
ataupun air sumur. Syaratnya air tersebut tidak terpolusi oleh bahan-bahan kimia
seperti detergen, pestisida, karbon atau limbah pabrik. Di lingkungan yang bersih,
perkembangan ikan dan pertumbuhan Ikan Lele akan lebih cepat dan sehat. Ikan
Lele yang asli terdapat di pusat Amerika Utara antara pegunungan Rocky dan
Appalachian, dari Teluk Meksiko utara ke drainase Teluk Hudson. Ikan Lele
adalah ikan aktif yang populer, dan penyebaran secara luas di seluruh Amerika
Utara. Selain sosoknya yang berbeda, lele lokal dan lele dumbo ternyata
juga memiliki perilaku yang berlainan.

2.2. Hubungan Panjang dan Berat Pada Ikan


Dalam perhitungan untuk menduga suatu pertumbuhan terdapat dua model
yang dapat digunakan yaitu model yang berhubungan dengan bobot dan model
yang berhubungan dengan panjang (Effendie 1979). Model-model tersebut
menggunakan persamaan matematik untuk menggambarkan suatu pertumbuhan.
Analisis pola pertumbuhan menggunakan data panjang bobot. Persamaan
hubungan panjang bobot ikan yang dihasilkan dari perhitungan dimanfaatkan
untuk menjelaskan pola pertumbuhannya. Bobot dapat dianggap sebagai suatu

fungsi dari panjang. Hubungan panjang bobot ikan sebagai pangkat tiga dari
panjangnya. Dengan kata lain hubungan ini dapat dimanfaatkan untuk menduga
bobot melalui panjang (Effendie 1979).
Effendie (2002) menjelaskan bahwa jika nilai panjang dan bobot diplotkan
dalam suatu gambar maka akan didapatkan persamaan W = a.L b. Persamaan
tersebut dapat digambarkan dalam bentuk linier dengan logaritma digunakan
persamaan log W = log a + b log L. Yang harus ditentukan dari persamaan
tersebut ialah harga a dan b, sedangkan harga W dan L diketahui. Teknik
perhitungan panjang berat menurut Rousefell dan Everhart (1960) dan Lagler
(1961) secara langsung adalah dengan membuat daftar tersusun dari harga L, log
L, W, log W, log L x log W, dan (log L) 2. Apabila N = jumlah ikan yang sedang
dihitung, maka untuk mencari a:
L
log

W
log L log

L
log

log L

logW
log a=
Untuk mencari b digunakan rumus:
a
N log

logW
b=
Kemudian harga log a dan b masukkan ke dalam rumus:
log W=log a+b log L

Hubungan Panjang Berat:


b = 3 (Isometrik), dimana pertumbuhan panjang dan berat seimbang
b 3 (Alometrik); b < 3 = alometrik negatif (berat < panjang)
b > 3 = alometrik positif (berat > panjang)
Hasil analisis hubungan panjang bobot akan menghasilkan suatu nilai
konstanta (b) yaitu harga pangkat yang menunjukkan pola pertumbuhan ikan. Ikan
yang memiliki pola pertumbuhan isometrik (b=3), pertambahan panjangnya
seimbang dengan pertambahan bobot. Sebaliknya pada ikan dengan pola
pertumbuhan allometrik (b3), pertambahan panjang tidak seimbang dengan
pertambahan bobot. Pola pertumbuhan allometrik positif (b>3) menyatakan
pertambahan bobot lebih cepat dibandingkan pertambahan panjang. Sedangkan
pertumbuhan allometrik negatif (b<3) menyatakan pertambahan panjang lebih
cepat dibandingkan pertambahan bobot.
2.3. Rasio Kelamin Ikan
Berdasarkan dari fungsi reproduksinya, ikan biasa terbagi menjadi dua
yakni jantan dan betina. Melakukan identifikasi jantan dan betina merupakan
sesuatu yang penting, meski pada aplikasinya hal tersebut tidaklah mudah untuk
dilakukan. Sebagian besar jenis ikan tidak menunjukkan perbedaan tubuh luar
antara ikan jantan dan ikan betina. Kondisi tersebut dinamakan dengan
monomorfisme. Pembedaan kedua jenis kelamin ini dilakukan dengan
pembedahan dan melihat ciri seksual primer. Ciri seksual primer ditandai dengan
adanya testis pada ikan jantan dan ovarium pada ikan betina.
Selain identifikasi, perlu diketahui juga perbandingan atau rasio kelamin
ikan secara alamiah di alam. Rasio ini biasanya dinyatakan dalam bentuk
persentase dan juga perbandingan. Lebih jauh, pemahaman mengenai rasio
kelamin ini dapat digunakan untuk pemahaman sifat-sifat alamiah reproduksi
seperti adanya poligami dan poliandri pada ikan, sehingga dapat dibuat langkahlangkah strategis pengelolaan.

2.4. Tingkat Kematangan Gonad Ikan


Kematangan gonad ikan pada umumnya adalah tahapan pada saat
perkembangan gonad sebelum dan sesudah memijah. Selama proses reproduksi,
sebagian energi dipakai untuk perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan
mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah kemudian akan menurun dengan
cepat selama proses pemijahan berlangsung sampai selesai. Menurut Effendie
(1997), pertambahan bobot gonad ikan betina pada saat stadium matang gonad
dapat mencapai 10-25% dari bobot tubuh, dan pada ikan jantan 5-10%. Lebih
lanjut dikemukakan bahwa semakin bertambahnya tingkat kematangan gonad,
telur yang ada dalam gonad akan semakin besar
Perkembangan gonad pada ikan betina umumnya disebut dengan istilah
perkembangan

ovarium

mempunyai

tingkat

perkembangan

sejak

masa

pertumbuhan hingga masa reproduksi yang dapat dikategorikan kedalam beberapa


tahapan. Jumlah tahapan tersebut bervariasi bergantung kepada spesies maupun
peneliti yang mengamati perkembangan ovarium tersebut.. Kematangan gonad
pada ikan dicirikan dengan perkembangan diameter rata-rata telur dan pola
distribusi ukuran telurnya (Effendie, 1997)
Penentuan tingkat kematangan gonad sangat penting dilakukan, karena hal
ini dapat berguna untuk mengetahui perbandingan antara gonad yang telah matang
dan stok yang ada di perairan, ukuraan pemijahan, musim pemijahan, dan lama
pemijahan dalam satu siklus. Terdapat dua cara untuk menentukan tingkat
kematangan gonad dari ikan, yaitu :
1. Metode morfologis
Metode ini banyak dilakukan dan relatif lebih mudah, namun tingkat
ketelitian rendah. Pengamatan secara morfologis lebih praktis dilakukan
terutama ketika melakukan penelitian di lapangan karena pada dasarnya
hanya dilakukan pengamatan secara visual terhadap ukuran gonad ikan.
(Mazruoh, 2009)

2. Metode histologis.
Metode ini dilakukan di dalam laboratorium yaitu dengan mengamati
perkembangan gonad melalui fase perkembangan sel. Pengamatan
dilakukan dengan membuat preparat histologi gonad dan memfikasasi
dengan formalin 10%. Kemudian dilakukan proses dehidrasi dengan
alkohol bertingkat dan dilakukan proses embedding pada parafin. Setelah
itu dilakukan proses sectioning (pemotongan) dengan ketebalan 3 to 8
thickness dan dilakuan proses pewarnaan (staining) dengan larutan eosin
and hematoxylin.Lalu dituutp (mounting) dengan Canada balsam dan
diamati dibawah mikroskop cahaya. Selanjutnya ditentukan proses
oogenesis dan tingkat kematangan gonad (Mazrouh, 2009).
Faktor-faktor yang mempengaruhi saat pertama kali ikan matang gonad
adalah jenis spesies, umur, ukuran, dan sifat fisiologis ikan. Sedangkan faktor
luarnya adalah suhu, arus, individu lawan jenis, dan tempat memijah yang sesuai.
(Effendie, 1997). Indikator pembagian tahapan kematangan gonad dengan cara
visual (Effendie, 1997):
1. Ukuran gonad dalam menempati rongga badan (kecil, 1/4 bag, 1/2 bag, 3/4
bag atau penuh);
2. Berat gonad segar (ditimbang);
3. Penampakan: warna gonad;
4. Penampakan butiran telor (ovarium)

utk

ikan

betina

(opaque,

translucens/ripe/gravid),
5. Ada tidaknya pembuluh darah, dll.
Tingkat kematangan gonad menurut Kesteven (Bagenal dan Braum, 1968)
1. Dara. Organ seksual sangat kecil berdekatan di bawah tulang punggung.
Testis dan ovarium transparan, dari tidak berwarna sampai berwarna abuabu. Telur tidak terlihat dengan mata biasa.
2. Dara berkembang. Testis dan ovarium jernih, abu-abu merah. Panjangnya
setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telur satu persatu
dapat terlihat dengan kaca pembesar.
8

3. Perkembangan I. Testis dan ovarium bentuknya bulat telur, berwarna


kemerah-merahan dengan pembuluh kapiler. Gonad mengisi kira-kira
setengah ruang ke bagian bawah. Telur dapat terlihat seperti serbuk putih.
4. Perkembangan II. Testis berwarna putih kemerah-merahan. Tidak ada
sperma kalau bagian perut ditekan. Ovarium berwarna oranye kemerahmerahan. Telur jelas dapat dibedakan, bentuknya bulat telur. Ovarium
mengisi kira-kira dua per tiga ruang bawah.
5. Bunting. Organ seksual mengisi ruang bawah. Testis berwarna putih,
keluar tetesan sperma kalau ditekan perutnya. Telur bentuknya bulat,
beberapa daripadanya jernih dan masak.
6. Mijah. Telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan ke perut.
Kebanyakan telur berwarna jernih dengan beberapa yang berbentuk bulat
telur tinggal di dalam ovarium.
7. Mijah/salin. Gonad belum kosong sama sekali. Tidak ada telur yang bulat
telur.
8. Salin. Testis dan ovarium kosong dan berwarna merah. Beberapa telur
sedang ada dalam keadaan dihisap kembali.
9. Pulih salin. Testis dan ovarium berwarna jernih, abu-abu sampai merah.

Penentuan tingkat kematangan gonad bersifat subjektif, maka sering


terjadi perbedaan tahap tingkat kematangan gonad baik karena perbedaan observer
maupun perbedaan waktu. Sebagai acuan standar, umum digunakan lima tahap
tingkat kematangan gonad (Five stage of visual maturity stage for partial
spawning fishes) , yakni:

TKG I (immature, dara);

TKG II (developing, dara berkembang);


TKG III (maturing/ripening, pematangan);
TKG IV (mature/ripe/gravid, matang)
TKG V (spent, salin).

2.5. Indeks Kematangan Gonad Ikan


Peninjauan terhadap perkembangan gonad pada ikan dilakukan dari
berbagai aspek termasuk proses-proses yang terjadi di dalam gonad baik terhadap
individu maupun populasi. Perkembangan gonad merupakan bagian dari
reproduksi sebelum terjadi pemijahan. Dalam proses reproduksi, sebagian besar
hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad. Untuk mengetahui
perubahan yang terjadi pada gonad tersebut secara kuantitatif dapat dinyatakan
dengan suatu indeks yang dinamakan indeks kematangan gonad, yaitu nilai dalam
persen sebagai hasil perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh ikan
termasuk gonadnya (Effendi, 2002).
IKG (Indeks Kematangan Gonad) dan GSI (Gonade Somatic Index) yaitu
nilai dalam persen (%) sebagai hasil perbandingan berat gonad dengan berat tubuh
ikan. Pertumbuhan IKG akan sama dengan TKG. IKG akan maksimal pada saat
akan terjadi pemijahan.
IKG=
Dimana :

Bg
100
Bt

IKG

= Indeks kematangan gonad

Bg

= Berat gonad ikan dalam gram

Bt

= Berat tubuh ikan dalam gram

IKG adalah perbandingan dari berat gonad terhadap tubuh ikan. Nilai IKG
seharusnya bisa dijadikan tingkat kematangan gonad. Peningkatan IKG akan
meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat kematangan gonad ikan tersebut
(Affandi, 2001).
GI adalah perbandingan antara berat gonad segar (gram) dengan panjang
ikan (mm) dengan perumusan:

10

GI=

W
108
3
L

Dimana :

GI

= Gonad indeks

= Berat gonad segar dalam gram

= panjang ikan dalam mm

Harga 108 merupakan suatu faktor agar didapatkan nilai GI mendekati


harga satu sehingga nilai yang diperoleh dapat dibandingkan dengan nilai lainnya.
(Effendi, 1997).
2.6. Fekunditas Ikan
Fekunditas adalah jumlah telur yang terlepas dari ovarium sebelum
berlangsungya pemijahan. Fekunditas ini sangat berpengaruh pada jumlah anak
ikan yang dikeluarkan oleh induk. Pada umumnya fekunditas berhubungan
dengan berat badan, panjang badan, dan ukuran butir telur. Semakin besar ukuran
telur, semakin kecil fekunditasnya. Demikian juga semakin kecil ukuran telur,
maka akan semakin besar pula fekunditasnya. Hal yang juga berpengaruh
terhadap fekunditas adalah cara penjagaan (parental care). Ikan yang memiliki
kebiasaan tidak menjaga telur-telurnya setelah memijah, biasanya memiliki
tingkat fekunditas yang tinggi.
Terdapat beberapa jenis Fekunditas diantaranya :
1. Fekunditas individu yaitu jumlah telur yang dikeluarkan dari generasi
tahun itu dan akan dikeluarkan pada tahun itu pula.
2. Fekuindita relatif yaitu jumlah telur per atuan panjang dan berat.
3. Fekunditas total yaitu jumlah telur yang dihasilkan ikan selama hidupnya.
Fekunditas ikan dapat dihitung denganbeberapa cara yaitu metode jumlah,
metode volumetrik, metode grafimetrik, dan metode Vo Bayer (Effendie, 1979).
Metode jumlah merupakan cara yang paling teliti karena perhitungan telur
dilakukan satu per satu atau secara sensus. Tetapi metode ini hanya cocok
diterapkan untuk ikan dengan jumlah telur sedikit. Apabila metode ini digunakan
untuk menghitung telur ikan-ikan dengan jumlah telur banyak, maka telur harus

11

dikeluarkan dari ovarium, kemudian direndam dalam larutan formalin 10% atau
larutan gislon. Telur dibersihkan dari jaringan yang melekat kemudian dibiarkan
kering di udara dan baru kemudian dilakukan perhitungan.
Metode volumetrik dilakukan dengan cara mengukur volume seluruh telur
dengan cara pemindahan air. Sebagian kecil telur tersebut diambil dan diukur
volume dan jumlah telurnya. Fekunditas dapat dihitung dengan cara sebagai
berikut:
X : x=V :v
Dimana : X

= Jumlah telur di dalam gonad yang akan dicari (fekunditas)

= Jumlah telur dari sebagian kecil gonad (diketahui)

= Isi (volume) seluruh gonad (diketahui)

= Isi (volume) sebagian gonad (diketahui)

Metode grafimetrik disebut metode berat. Cara melakukannya sama


seoperti metode volumetrik, tetapi pengukuran volume diganti dengan berat.
Rumusnya adalah
X : x=W :w

Dimana : X

= Jumlah telur di dalam gonad yang akan dicari (fekunditas)

= Jumlah telur dari sebagian kecil gonad (diketahui)

= Bobot seluruh gonad (diketahui)

= Bobot sebagian gonad (diketahui)

Metode Von Bayer dilakukan dengan mengukur garis tengah (diameter)


rata-rata telur dan mengukur volume telur keseluruhan lalu dibandingkan dengan
tabel Von Bayer (panjang telur dibagi dengan jumlah telur sama dengan diameter
rata-rata telur). Diameter telur diukur menggunakan alat semacam mistar yang
berskala inci atau milimeter. Sejumlah telur dijajarkan sehingga membentuk

12

panjang tertentu. Diameter rata-rata dari telur tersebut adalah panjang jajara telur.
Cara pengukuran ini dilakukan paling sedikit sebanyak tiga kali.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fekunditas serta hal-hal lain yang
berhubungan dengan hal itu, Nikolsky ( 1969 ) :
1. Sampai umur tertentu fekunditas itu akan bertambah kemudian menurun,
fekunditas relatifnya menurun sebelum terjadi penurunan fekunditas
mutlaknya. Fekunditas relative maksimum terjadi pada golongan ikan
yang muda. Sedangkankan ikan yang sudah tua kadang tidak memijah
setiap tahun
2. Fekunditas mutlak atau relatif sering menjadi kecil pada ikan-ikan atau
kelas umur yang jumlahnya banyak.
3. Kenaikan fekunditas populasi dapat disebabkan oleh kematangan gonad
yang lebih awal dari individu yang tumbuh lebih cepat.
4. Ikan yang bentuknya kecil dengan kematangan gonad yang lebih awal
serta fekunditasnya tinggi mungkin disebabkan oleh kandungan makanan
dan predator dalam jumlah besar.
5. Perbedaan fekunditas diantaranya populasi spesies yang hidup dalam
kondisi lingkungna yang berbeda-beda, bentuk migrant fekunditasnya
lebih besar.
6. Fekunditas disesuaikan secara otomatis melalui metabolism yang
mengadakan reaksi terhadap perubahan persediaan makanan dan
menghsilkan perubahan dalampertumbuhan, seperti ukuran pada umur
tertentu demikian juga ukuran danjumlah telur atau jumlah siklus
pemijahan dalam satu tahun.
7. Fekunditas bertambah dalam mengadakan respon terhadap perbaikan
makanan melalui kematangn gonad yang lebih awal, menanmbah
kemantangn individu pada individu yang lebih gemuk dan mengurangi
antara siklus pemijahan.
8. Kualitas telur terutama isi kuning telur berganrung pada umur dan
persediaan makanan dan dapat berbeda dari satu populasi ke populasi yang
lain.
2.7. Diameter Telur dan Posisi Inti Telur Ikan

13

Mengetahui diameter dan posisi inti telur sangatlah penting untuk


dilakukan. Besar diameter telur dan pengamatan posisi inti dapat digunakan
sebagai pertimbangan penentuan tingkat kematangan gonad. Telur yang sudah
matang cenderung memiliki diameter yang besar. Pada telur yang sudah matang,
posisi inti telur cenderung berada pada salah satu kutub dari telur dan tidak berada
di tengah. Selain itu biasanya diameter telur dapat dihubungkan dengan perkiraan
nilai fekunditas, pada ikan-ikan yang memiliki telur yang besar fekunditasnya
biasanya cenderung kecil.

2.8. Kebiasaan Makan Ikan


Setiap hewan membutuhkan energi untuk pertumbuhan, pemeliharaan dan
juga reproduksi, energi tersebut berasal oleh makanan. Pada dasarnya, organisme
yang baru lahir akan menerima makanan dari induknya, namun selanjutnya akan
diupayakan oleh organisme itu sendiri (Nikolsky, 1963). Makanan adalah segala
sesuatu yang dapat dimakan dan diserap oleh ikan sehingga dapat digunakan
untuk menjalankan metabolisme tubuhnya. Kebiasaan makanan (food habit) ikan
penting diketahui, karena pengetahuan ini memberikan petunjuk tentang pakan,
dan selera organisme terhadap makanan. Food habit memiliki arti yang berbeda

14

dengan feeding habits, karena keduanya sering disamakan dalam hal definisi.
Food habits mencakup kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan ikan,
sementara feeding habits mencakup cara ikan dalam mendapatkan makanan.
Kebiasaan makanan dan cara memakan ikan itu secara alami tergantung kepada
lingkungan itu hidup (Kurniasari, 2011).
Menurut (Effendie, 1997) kebiasaan makanan adalah jenis, kuantitas dan
kualitas makanan yang dimakan oleh ikan. Makanan alami ikan berasal dari
berbagai kelompok tumbuhan dan hewan yang berada di perairan tersebut (Lagler,
1972). Suatu spesies ikan di alam memiliki hubungan yang sangat erat dengan
keberadaan makanannya. Ketersediaan makanan merupakan faktor yang
menentukan dinamika populasi, pertumbuhan, reproduksi, serta kondisi ikan yang
ada di suatu perairan. Beberapa faktor makanan yang berhubungan dengan
populasi tersebut yaitu jumlah dan kualitas makanan yang tersedia, akses terhadap
makanan, dan lama masa pengambilan makanan oleh ikan dalam populasi
tersebut. Adanya makanan di perairan selain terpengaruh oleh kondisi biotik
seperti di atas ditentukan pula oleh kondisi lingkungan seperti suhu, cahaya, ruang
dan luas permukaan.

Jenis-jenis makanan yang dimakan suatu spesies ikan biasanya tergantung


pada kesukaan terhadap jenis makanan tertentu, ukuran dan umur ikan, musim
serta habitat hidupnya. Tidak semua jenis makanan yang tersedia di sekitarnya
dimakan dan dapat dicerna dengan baik oleh ikan. Faktor-faktor yang menentukan
dimakan atau tidaknya suatu jenis organisme makanan oleh ikan antara lain:
ukuran makanan, ketersediaan makanan, warna terlihatnya makanan, dan selera
ikan terhadap makanan. Sedangkan jumlah makanan yang dibutuhkan oleh suatu
spesies ikan tergantung kepada kebiasaan makanan, kelimpahan makanan, nilai
konversi makanan, serta suhu air, juga kondisi umum dari spesies ikan tersebut

15

(Beckman, 1962 dalam Asyarah, 2006). Berdasarkan jumlah variasi makanan,


ikan dapat dibagi menjadi:
1. Euryphagic adalah ikan pemakan bermacam-macam makanan.
2. Stenophagic adalah ikan pemakan makanan yang macamnya sedikit atau
sempit.
3. Monophagic adalah ikan yang makanannya terdiri dari satu macam
makanan.
Menurut (Effendie, 1997) Kebiasaan cara makan ikan adalah cara ikan
mendapatkan makanannya. Kebanyakan cara ikan mencari makanan dengan
menggunakan mata. Penciuman dan persentuhan digunakan juga untuk mencari
makanan terutama oleh ikan pemakan dasar dalam perairan yang kekurangan
cahaya atau dalam perairan keruh. Ikan yang menggunakan mata dalam mencari
makanan akan mengukur apakah makanan itu cocok atau tidak untuk ukuran
mulutnya. Tetapi ikan yang menggunakan penciuman dan persentuhan tidak
melakukan pengukuran, melainkan kalau makanan sudah masuk mulut akan
diterima atau ditolak. Aktivitas mencari makan pada ikan pada alam bebas
merupakan pekerjaan harian yang rutin dimana makanan tadi diketahui oleh ikan
dengan cara penglihatan, perabaan, penciuman. Makanan yang tersedia di alam
dimanfaatkan oleh ikan biasanya dapat diketahui dengan mengambil contoh
makanan yang ada pada lambungnya dan dilengkapi dengan daftar diet harian
yang diambil ikan berbagai umur dan ukuran.
Mengenai feeding habits yaitu kebiasaan cara memakan pada ikan sering
kali di hubungkan dengan bentuk tubuh yang khusus dan fungsional morfologi
dari tengkoraknya, rahang dan alat pencernaan makanannya. Jadi ikan herbivora
secara sederhana dapat dinyatakan bahwa ikan tersebut tidak mempunyai
kemampuan untuk memakan dan mencerna material lain selain tumbuhan. Oleh
karena itu, ikan pemakan tumbuhan cenderung memakan material tumbuhan yang
lambat dicerna. Ikan herbivora ini harus dapat mengekstraksi nutrisi melalui
ususnya yang panjang. Jadi usus ini berfungsi sebagai penahan makanan dalam
jumlah besar dalam waktu yang lama untuk mendapat kesempatan penggunaan
penuh material makanan yang sudah dicerna. Secara kontras ikan karnivora
16

mempunyai usus yang lebih pendek khusus. Beberapa garis besar morfologi
macam-macam ikan yang berbeda kebiasaan makanannya:
a. Ikan herbivora
Tidak mempunyai gigi dan mempunyai tapis insang yang lembut dapat
menyaring phytoplankton dari air. Ikan ini tidak mempunyai lambung
yang benar yaiut bagian usus yang mempunyai jaringan otot kuat,
mengekresikan asam, mudah mengembang, terdapat di bagian muka alat
pencerna makanannya. Ususnya panjang, berliku-liku, dindingnya tipis.
b. Ikan karnivora
Mempunyai gigi untuk menyergap, menahan dan merobek mangsa dan
jari-jari tapis ingsangnya menyesuaikan untuk penahan, memegang,
memarut dan mengilas mangsa. Punya lambung benar, palsu dan usus
pendek, tebal dan elastis.
c. Ikan omnivora
Mempunyai gigi kecil, lambung berbentuk kantung, memiliki usus sedang
atau hampr sama dengan panjang tubuhnya.

Berdasarkan kebiasaan hidup dalam lingkungannya akan mempunyai


mulut yang berbeda-beda untuk mengambil makanannya. Letak mulut ada yang
inferior (di bawah kepala) seperti dalam golongan Elasmobranchia, Acipencer,
Polyodon, dan lain-lain. Mulut yang letaknya terminal (di ujung depan kepala)
terdapat kebanyakan ikan, mulut ikan yang letaknya superior (di bagian atas).
Selain letaknya, mulut ikan bervariasi baik dalam bentuk, besar dan perlengkapan
lainnya seperti gigi, alat peraba dan lainnya. Variasi pada tiap-tiap spesies ikan
merupakan spesialisasi struktur dalam penyesuaian fungsi ekologi yang
memberikan ikan itu suatu keuntungan tertentu dari pada ikan lain yang tidak
mempunyai bentuk tadi. Keadaan demikian untuk beberapa spesies ikan tertentu
yang hidup dalam suatu lingkungan yang khas memberikan kemungkinan kecil
sekali terjadi persaingan interspesifik. Dengan kata lain bahwa spesies tertentu itu

17

mengadakan penyesuaian yang menguntungkan dalam cara pengambilan makanan


terhadap lingkungannya.
Sebagai komponen lingkungan, makanan merupakan faktor penentu bagi
jumlah populasi, pertumbuhan, dan kondisi ikan di suatu perairan. Effendie (2002)
mengatakan

bahwa

makanan

merupakan

salah

satu

faktor

luar

yang

mempengaruhi pertumbuhan ikan. Kelimpahan makanan di dalam suatu perairan


selalu berfluktuasi dan hal ini disebabkan oleh daur hidup, iklim dan kondisi
lingkungan (Lagler et al., 1977). Dengan mengetahui makanan suatu jenis ikan
dapatlah diketahui kedudukan ikan tersebut, apakah sebagai predator atau
kompetitor, serta makanan utama dan makanan tambahan ikan tersebut (Irawati,
2011).
BAB 3
METODOLOGI
3.1. Tempat dan Waktu
3.1.1. Tempat
Praktikum Biologi Perikanan dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hewan
Air Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.
3.1.2. Waktu
Praktikum Biologi Perikanan dilakukan pada Selasa, 01 April 2014 Pukul
14:30 16:00 WIB.
3.2. Alat dan Bahan
3.2.1. Alat
Alat yang digunakan adalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Alat Timbang
Cawan Petri
Gelas Ukur
Gunting
Kaca Preparat
Mikroskop
Penggaris
Pinset
Sonde

3.2.2. Bahan
Bahan yang digunakan adalah
18

1.
2.
3.
4.
5.

Ikan Lele
Gonad Ikan Lele
Hati Ikan Lele
Telur Ikan Lele
Usus Ikan Lele

3.3. Metode Praktikum


3.3.1. Hubungan Panjang dan Berat
1. Mengambil Ikan Lele.
2. Mengukur panjang Ikan Lele, baik TL (Total Length) dan SL (Standart
Length) dengan menggunakan penggaris, satuan yang digunakan adalah
milimeter.
3. Mengukur bobot ikan dengan menggunakan alat timbang, satuan yang
digunakan adalah gram.
4. Mencatat dalam tabel pengamatan (terlampir).
5. Melakukan penghitungan pola pertumbuhan berdasarkan Teknik Lagler
(1961).
6. Menerjemahkan nilai b kedalam pola pertumbuhan.
3.3.2. Rasio Kelamin
1. Mengambil Ikan Lele.
2. Mengamati ciri-ciri seksual sekunder menurut literatur yang tersedia.
3. Melakukan pembedahan pada Ikan Lele, lalu mencari organ gonad ikan
yang terletak pada rongga perut.
4. Mengamati gonad ikan tersebut dan menentukan ciri-ciri seksual primer,
bila terdapat testis artinya ikan tersebut jantan dan bila terdapat ovarium
artinya ikan tersebut betina.
5. Mengisi hasil pengamatan yang diperoleh pada tabel yang telah
disediakan.
6. Melakukan penyajian data dalam bentuk persentase dan perbandingan.

19

3.3.3. Tingkat Kematangan Gonad


1. Mengambil Ikan Lele.
2. Membedah ikan dengan menggunakan gunting dimulai dari bagian
urogenital menuju bagian rongga perut hingga isi perut dapat terlihat.
3. Mengambil gonad ikan yang ada yang didalam perut, hingga terpisah dari
organ lain.
4. Mengamati gonad ikan tersebut.
5. Mencatat hasil penagamatan yang diperoleh pada tabel pengamatan
(terlampir).
3.3.4. Indeks Kematangan Gonad
1. Mengambil Ikan Lele
2. Menimbang bobot Ikan Lele dengan menggunakan alat timbang.
3. Membedah Ikan Lele dengan menggunakan gunting dimulai dari bagian
urogenital menuju bagian rongga perut hingga isi perut dapat terlihat.
4. Mengambil gonad ikan yang ada yang didalam perut, hingga terpisah dari
organ lain.
5. Menimbang gonad ikan dengan menggunakan alat timbang.
6. Mencatat hasil pengamatan dalam tabel pengamatan (terlampir).
7. Menghitung Indeks Kematangan Gonad dengan rumus yang telah
ditentukan.
3.3.5. Kebiasaan Makan
1. Mengambil Ikan Lele.
2. Membedah ikan dengan menggunakan gunting dimulai dari bagian
3.
4.
5.
6.

urogenital menuju bagian rongga perut hingga isi perut dapat terlihat.
Mengambil usus, lalu mengurut usus hingga keluar isi dari usus.
Mencairkan isi usus.
Mengamati dengan menggunakan mikroskop.
Mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan (terlampir).
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

20

4.1. Hasil
Kelompok

: 07

Hari/Tanggal : Selasa, 01 April 2014


Spesies ikan

: Ikan Lele Jantan (Clarias sp.).

Asal ikan

: Budidaya Intensif Subang, Jawa Barat, Indonesia.

4.1.1. Hasil Pengamatan Pertumbuhan dan Rasio Kelamin Ikan Lele


Kelompok 07
Tabel 1. Data Kelompok Pertumbuhan dan Rasio Kelamin Kelompok 07

Nama Praktikan

Pertumbuhan
Panjang (mm)
TL
SL
FL

Kelamin
Bobot

278

172.97

(gr)

Jantan

Betina

Akbar Rusmana
Heru Sandra

243

Lidya Pratiwi
4.1.2. Hasil Pengamatan Reproduksi Ikan Lele Kelompok 07
Tabel 2. Data Reproduksi Kelompok 07

TKG
Bunting

Bg

IKG

Bh

HSI

(gr)

(%)

(gr)

(%)

7.69

4.45

9.66

5.92

Diameter
Fekunditas

Telur (m)

(butir)
-

Perhitungan IKG
IKG=

Bg
100
Bt

Diketahui:
Ditanyakan:
Jawab:

Bg

= 7.69 gram

Bt

= 172.97 gram

IKG

= ...%?

IKG=

Tengah

Bg
100
Bt

21

Letak Inti
Menuju
Kutub
(butir)
-

Dorman
Melebur
(butir)
-

IKG=

7.69
100
172.97

IKG=0.0445 100
IKG=4.45

Perhitungan HSI
HSI=

Bh
100
Bt tanpahati

Diketahui:

Bh

= 9.66 gram

Bt tanpa hati = 163.31


Ditanyakan:

HSI=

Jawab:
HSI=

HSI

=?
Bh
100
Bt tanpahati

9.66
100
163.31

HSI=0,0592100
HSI=5.92

4.1.3. Hasil Pengamatan Food and Feeding Habits Ikan Lele Kelompok
Tabel 3. Data Food and Feeding Habits Kelompok 07
Kelompok

Jenis Pakan

Fito

Zoo

Bentos

Pemakan

Bagian

Bagian

hewan

tumbuhan

22

Dentritus

Ikan

Omnivora

Hari/Tanggal : Selasa, 01 April 2014


Spesies ikan

: Ikan Lele (Clarias sp.)

Asal ikan

: Budidaya Intensif Subang, Jawa Barat.

Jumlah ikan

: 18 ekor

4.1.4. Hasil Pengamatan Pertumbuhan dan Rasio Kelamin Ikan Lele


Angkatan
Tabel 4. Data Kelompok Pertumbuhan dan Rasio Kelamin Angkatan
Kelompok

Nama
Praktikan
Efran A

1A

Farica M

Pertumbuhan
Panjang (mm)
Berat
TL
SL FL
(gr)

Kelamin
Jantan

Betina

260

234

136.92

108

94

71.01

210

195

202.43

220

200

100.88

240

210

117.19

225

200

98.90

Nadia P
Anita N
2A

Namira A
Sundoro
Deny P

3A

Stephanie
Thaha Y
Afrah H

4A

Birta B
Wildan N
Kenny P

5A

Neni S
Waskita A
Dian Fitri

6A

Ganda M
M. Nofhan

23

Akbar R
7A

Heru S

278

243

172.97

247

214

114.41

295

260

189.98

278

255

176.81

266

232

167.17

235

200

99.80

287

257

208.56

245

220

128.21

296

260

207.03

240

205

100.64

Lidya P
Indrie R
8A

Kiki H
Rian F
Azka I

9A

Elvira A
Firdha O
Heru P

10 A

Siti A
Tiasa F
Andrian A

11 A

Aninda N
M. Taufik N
Achmad A

12 A

Akhmad H
Esa K
Dwi W

13 A

Irfan A
Maki Z
Alfi R

14 A

15 A

Cita S
Rifai D
M. Surya
Nur Aulia
Inda A

16 A

Revqy P
Satria R
Krishna L

17 A

M. Ghifari

240

220

120.43

18 A

Respandu Z
Andi A

300

270

200.80

24

Katisya A
M. Rizki M
Tabel 5. Data Kelas Ukuran Ikan Lele Angkatan
Kelas Ukuran Ikan Lele
91-126
127-162
163-198
199-234
235-270
Jumlah

Jantan
1
0
1
10
6
18

Betina
0
0
0
0
0
0

Tabel 6. Data Kelas Reproduksi dan Rasio Ikan Lele Angkatan


Kelas Ukuran
Ikan Lele
91-126
127-162
163-198
199-234
235-270
Jumlah

Jenis Kelamin
Jantan
Betina
1
0
0
0
1
0
10
0
6
0
18
0

Grafik 1. Pertumbuhan Ikan Lele

25

Rasio Kelamin
Jantan (%)
Betina (%)
5.55
0
0
0
5.55
0
55.55
0
33.33
0
99.99
0

Grafik Pertumbuhan Ikan Lele


60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
20.00%
Persentase
10.00%
(%)
0.00%

55.55%
33.33%

5.55%

5.55%

Jantan

0.00%

Kelas Ukuran Standard Length (mm)

Grafik 2. Rasio Kelamin Ikan Lele

Grafik Rasio Kelamin Ikan Lele

Jantan
Betina

100%

26

4.1.5. Hasil Regresi Pertumbuhan Ikan Lele Angkatan


Tabel 7. Data Regresi Pertumbuhan Angkatan
No
ika
n

SL
(mm)

Berat
(gr)

log L

log W

Log L x log W

(Log L)^2

234

136.92

2.369216

2.136467

5.061751

5.613184

94

171.01

1.973128

2.233022

4.406037

3.893234

195

202.43

2.290035

2.306275

5.281449

5.244259

200

100.88

2.30103

2.003805

4.610816

5.294739

210

117.19

2.322219

2.068891

4.804418

5.392702

200

98.90

2.30103

1.995196

4.591007

5.294739

243

172.97

2.385606

2.237971

5.338917

5.691117

214

114.41

2.330414

2.058464

4.797073

5.430828

260

189.98

2.414973

2.278708

5.503019

5.832096

10

255

176.81

2.40654

2.247507

5.408715

5.791436

11

232

167.17

2.365488

2.223158

5.258854

5.595533

12

200

99.80

2.30103

1.999131

4.600059

5.294739

13

257

208.56

2.409933

2.319231

5.589192

5.807778

14

220

128.21

2.342423

2.107922

4.937644

5.486944

15

260

207.03

2.414973

2.316033

5.593159

5.832096

16

205

100.64

2.311754

2.002771

4.629913

5.344206

17

220

120.43

2.342423

2.080735

4.87396

5.486944

18

270

200.80

2.431364

2.302764

5.598856

5.91153

42.01358

38.91805

90.88484

98.2381

Jumlah
Penghitungan Nilai b
Diketahui:

= 18

log L

= 42.01358

27

log W

= 38.91805

(log L)2

= 98.2381

(log L x log W)2


(log L)2
Ditanyakan: a. Nilai b

= 90.88484

= 1765.140789
=?

b. Persamaan garis regresi = ?


L
log

W
log L log

L
log

log L

logW
log a=
log a=

38.91805 98.238142.01358 90.88484


18 98.23811765.140789

log a=

3823.23533818.3975
1768.28581765.1408

log a=

4.8378
3.145

log a=1.538

Untuk mencari b digunakan rumus:


a
N log

log
W
b=

28

b=

38.918(18 1.538)
42.01358

b=

38.91827.684
42.01358

b=

11.234
42.01358

b=0.27

Hubungan Panjang Berat:


b = 3 (Isometrik), dimana pertumbuhan panjang dan berat seimbang
b 3 (Alometrik); b < 3 = alometrik negatif (berat < panjang)
b > 3 = alometrik positif (berat > panjang)
b. Persamaan garis regresi
Kemudian harga log a dan b masukkan ke dalam rumus:
log W =log a+b log L

log W =1.538+ 0.27 log L


4.1.6. Hasil Pengamatan Reproduksi Ikan Lele Angkatan
Tabel 8. Data Reproduksi Angkatan
Diameter
Kel.
1A
2A
3A
4A
5A
6A
7A
8A
9A
10 A
11 A
12 A
13 A
14 A
15 A
16 A
17 A
18 A

TKG
Dara
Dara B.
P. II
Dara B.
Dara B.
Dara B.
Bunting
Dara
Dara
P. I
P. I
Dara
Dara
Bunting
P. II
P. II
P. II
P. II

BG

IKG

Bh

HSI

(gr)

(%)

(gr)

(%)

2.84
1.51
2.18
1.48
0.95
0.52
7.69
0.76
4.34
1.46
3.15
0.78
3.10
4.02
3.89
1.24
0.41
2.08

2.07
0.88
1.08
1.47
0.81
0.53
4.45
0.66
2.28
0.83
1.88
0.78
1.49
3.14
1.88
1.23
0.34
1.04

2.55
7.92
3.61
2.37
3.45
4.94
5.66
4.74
3.52
1.14
5
2.77
7.54
2.34
4.58
3.09
3.37
6.83

1.90
4.86
1.82
2.41
3.03
5.26
5.92
4.32
1.89
0.65
3.08
2.85
3.75
1.86
2.26
3.17
2.88
3.52

Fekunditas
-

Telur
(m)
-

29

Tengah
(butir)
-

Letak Inti
Menuju
Kutub
(butir)
-

Dorman
Melebur
(butir)
-

Tabel 9. Data Kelas Reproduksi dan Rasio Ikan Lele Angkatan


Kelas
Ukuran
Ikan Lele
91-126
127-162
163-198
199-234
235-270
Jumlah

Persentase (%)
Dara

Dara B.

P. I

P. II

0
0
0
16.67
11.11
27.78

5.55
0
0
16.67
0
22.22

0
0
0
5.55
5.55
11.1

0
0
5.55
11.11
11.11
27.77

Bunting

Mijah

Salin

0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0

0
0
0
5.55
5.55
11.1
99.97

Grafik 3. Persentase Tingkat Kematangan Gonad Ikan Lele

Persentase Grafik Tingkat Kematangan Gonad


Bunting

Perkemb
angan II

Perkemb
angan I

Dara
Berkemb
ang

Dara

Tabel 10. Data Indeks Kematangan Gonad Ikan Lele Jantan Angkatan
Kelas Ukuran Ikan
91-126
127-162
163-198
199-234
235-270

Persentase (%)
0.88
0
1.08
0.41 3.79
0.77 4.45

30

Pulih
Salin
0
0
0
0
0
0

Tabel 11. Data HSI Ikan Lele Jantan Angkatan


Kelas Ukuran Ikan
91-126
127-162
163-198
199-234
235-270

Persentase (%)
4.86
0
1.82
1.9 - 5.26
0.65 - 5.92

4.1.7. Hasil Pengamatan Food and Feeding Habits Ikan Lele Angkatan
Tabel 12. Data Food and Feeding Habits Angkatan
Jenis Pakan

Kelompok

Kelompo

Pemakan

k
Fit

Zoo Bento

Bagian Bagian
hewan

tumbuhan

Dentritus Ikan

1A

Karnivora

2A

Omnivora

3A

Omnivora

4A

Karnivora

5A

Omnivora

6A

Omnivora

7A

Omnivora

8A

Omnivora

9A

Omnivora

10 A

Omnivora

11 A

Omnivora

12 A

Omnivora

13 A

Omnivora

31

14 A

Omnivora

15 A

Omnivora

16 A

Omnivora

17 A

Omnivora

18 A

Omnivora

Tabel 13. Data Kelas Food and Feeding Habits Ikan Lele Jantan Angkatan
Kelas
Ukuran
Ikan Lele
91-126
127-162
163-198
199-234
235-270
Jumlah

Fito

Zoo

Benthos

7.15
0
7.15
50
35.7

6.25
0
6.25
56.25
31.25

0
0
0
0
0

Persentase (%)
Bag.
Bag.
Hewan Tumbuhan
0
11.12
0
0
0
0
50
44.44
50
44.44
100

Dentritus

Ikan

0
0
0
0
0

0
0
0
0
0

4.2. Pembahasan
4.2.1. Pembahasan Pertumbuhan dan Rasio Kelamin Ikan Lele
Pertumbuhan adalah perubahan ukuran individu, biasanya pertumbuhan
diukur dalam satuan panjang, berat dan atau energi. Dalam hubungannya dengan
waktu, pertumbuhan didefinisikan sebagai ukuran rata-rata ikan pada waktu

32

tertentu (pertumbuhan mutlak) dan perubahan panjang atau berat pada awal
periode (pertumbuhan nisbi) (Effendie, 1979). Untuk mengetahui pertumbuhan
Ikan Lele, Ikan Lele (Clarias sp.) pertama-tama diukur panjangnya, antara lain
Total Length (TL) dan Standard Length (SL). Dari hasil pengukuran kelompok
kami (kelompok 7 A) maka didapat TL = 278 mm dan SL = 243 mm. Selain
dilakukan pengukuran panjang juga dilakukan pengukuran berat ikan. Dan dari
pengamatan kelompok kami berat ikan yang kami amati adalah 172.97 gram.
Untuk mengetahui hubungan panjang ikan dengan berat ikan bisa dilakukan
dengan regresi linier yaitu y = a + bx dengan y adalah Log W, dan x adalah Log L.
Setelah dilakukan pengolahan data menggunakan aplikasi Ms. Excel maka
diketahui nilai b/koefisien pertumbuhan Ikan Lele adalah 0.27. Dari nilai ini maka
dapai diketahui bahwa pola pertumbuhan Ikan Lele adalah alometrik negatif (b<3)
dimana pertumbuhan panjangnya lebih besar daripada pertumbuhan beratnya.
4.2.2. Pembahasan Reproduksi Ikan Lele
Berdasarkan dari fungsi reproduksinya, ikan biasa terbagi menjadi dua
yakni jantan dan betina. Melakukan identifikasi jantan dan betina merupakan
sesuatu yang penting. Sebagian besar jenis ikan tidak menunjukkan perbedaan
tubuh luar antara ikan jantan dan ikan betina. Kondisi tersebut dinamakan dengan
monomorfisme. Pembedaan kedua jenis kelamin ini dapat dilakukan dengan
pembedahan dan melihat ciri seksual primer. Ciri seksual primer ditandai dengan
adanya testis pada ikan jantan dan ovarium pada ikan betina. Rasio ini biasanya
dinyatakan dalam bentuk persentase dan juga perbandingan. Untuk mengetahui
Rasio kelaminnya, pertama ikan harus dibedah kemudian dianalisis gonadnya.
Setelah semua data dikumpulkan ternyata semua Ikan Lele yang kami amati
adalah jantan atau 100% jantan.
Tingkat Kematangan Gonad Ikan (TKG) merupakan salah satu analisa
yang penting. Dalam Biologi Perikanan, pencatatan perubahan atau tahap-tahap
kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan-ikan yang
akan melakukan reproduksi dan yang tidak. Dari pengetahuan tahap kematangan
gonad ini juga akan didapatkan keterangan bilamana ikan itu akan memijah, baru

33

memijah atau sudah selesai memijah. Mengetahui ukuran ikan untuk pertama kali
gonadnya menjadi masak, ada hubungannya dengan pertumbuhan ikan itu sendiri
dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Ukuran dan umur ikan
menjadi tanda masak gonad, apakah ikan sudah dewasa atau belum, memijah atau
belum, kapan masa pemijahannya, berapa lama saat pemijahannya, berapa kali
pemijahannya dalam satu tahun, dan sebagainya. Umumnya pertambahan berat
gonad pada ikan betina sebesar 10-25% dari berat tubuh dan pada ikan jantan
sebesar 5-10% (Effendie, 1997). Tingkat kematangan gonad menurut Kesteven
(Bagenal dan Braum, 1968) yaitu:
1. Dara: organ seksual sangat kecil berdekatan dibawah tulang punggung,
transparan, tidak berwarna sampai abu-abu, telur tidak terlihat dengan
mata biasa.
2. Dara berkembang: testes dan ovarium jernih, abu-abu merah, panjangnya
setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah, telur satu persati
dapat dilihat dengan kaca pembesar.
3. Perkembangan I: testes dan ovarium bentuk bulat telur, warna kemerahmerahan dengan pembuluh kapiler, mengisi kira-kira setengah ruang ke
bagian bawah, telur dapat terlihat seperti serbuk putih.
4. Perkembangan II: testes warna putih kemerahan, tidak ada sperma kalau
perut ditekan, ovarium warna oranye kemerahan, telur dapat dibedakan,
bentuk bulat telur, ovarium mengisi dua per tiga ruang bawah.
5. Bunting: organ seksual mengisi ruang bawah, testes putih, keluar sperma
apabila ditekan di bagian perut, telur bulat, beberapa jernih dan masak.
6. Mijah: telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan ke perut,
kebanyakan telur berwarna jernih dengan beberapa berbentuk bulat telur
tinggal di dalam ovarium.
7. Mijah/Salin: gonad belum kosong sama sekali, tidak ada telur yang bulat
telur.
8. Salin: testes dan ovarium kosong dan berwarna merah, beberapa telur
sedang ada dalam keadaan dihisap kembali.
9. Pulih Salin: testes dan ovarium jernih, abu-abu sampai merah.
Setelah ikan dibedah kemudian gonadnya diamati dan dicocokan dengan
dasar yang telah ada. Dasar yang dipakai untuk menentukan TKG dengan cara
34

morfologi adalah bentuk, panjang, berat, warna, dan perkembangan isi gonad
yang dapat dilihat. Setelah data yang ada dan kemudian dicocokan dengan ciri-ciri
pada bab diatas maka diketahui dara berjumlah 5; dara berkembang berjumlah 4;
perkembangan I berjumlah 2 ekor; perkembangan II berjumlah 5; bunting
berjumlah 2 ekor.
Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari
reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan. Selama itu sebagian besar hasil
metabolisme tertuju kepada perkembangan gonad. Peningkatan bobot ovarium
dan testis juga bergantung kepada ketersediaan pakan, karena bahan baku dalam
proses pematangan gonad terdiri atas karbohidrat, lemak dan protein. Reproduksi
sendiri dimulai sejak terjadinya perkembangan gonad untuk siap memproduksi sel
telur/sperma hingga hadirnya individu baru. Adapun prosesnya meliputi
pematangan gonad, pematangan gamet, perkawinan dan pemijahan, pembuahan
dan awal perkembangan, serta penetasan (Fujaya, 2002).
Indeks Kematangan Gonad (IKG) dinyatakan sebagai suatu nilai dalam
persen sebagai hasil perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk
gonad dikalikan 100%.
IKG=

Bg
100
Bt

Maka dari itu pertama-tama gonad ikan harus di timbang. Berat gonad
yang kami timbang adalah 7,69 gram. Kemudian data tersebut dibandingkan
dengan berat ikan tanpa gonad, seperti yang telah diketahui berat ikan secara
keseluruhan adalah 172,97 gram. Kedua data ini kemudian dimasukan ke dalam
rumus diatas:
IKG=

7,69
100 =4.45
172,97

Jadi IKG Ikan Lele yang kami amati adalah 4.45% sehingga rata-rata IKG
seluruh angkatan adalah 5,72%.
35

4.2.3. Pembahasan Food and Feeding Habits Ikan Lele


Food habit memiliki arti yang berbeda dengan feeding habits, karena
keduanya sering disamakan dalam hal definisi. Food habits mencakup kualitas
dan kuantitas makanan yang dimakan ikan, sementara feeding habits mencakup
cara ikan dalam mendapatkan makanan. Kebiasaan makanan dan cara memakan
ikan itu secara lami tergantung kepada lingkungan itu hidup (Kurniasari, 2011).
Untuk mengetahui Food habit Ikan Lele maka kita harus mengeluarkan isi usus
Ikan Lele dengan cara mengurut ususnya, kemudian kita analisis dibawah
mikroskop. Dari pengamatan yang kami lakukan bahwa di dalam kotoran Ikan
Lele yang kami amati terdapat ; dan sebagian kecil sisa tumbuhan fitoplankton
dan zooplakton. Dan hasil dari pengamatan kelompok lain pun menunjukan hasil
yang tidak jauh berbeda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ikan Lele termasuk
omnivora.
BAB 5
KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan

Ikan Lele memiliki pola pertumbukan alometrik negatif karena

memiliki nilai koefisien pertumbuhan kurang dari 3 yaitu 0,27.


Dari 18 ekor Ikan Lele didapatkan bahwa berkelamin jantan.
Dari jumlah tersebut dapat dibagi lagi sesuai tingkat kematangan
gonad-nya, dara berjumlah 5; dara berkembang berjumlah 4;
perkembangan I berjumlah 2 ekor; perkembangan II berjumlah 5;

bunting berjumlah 2 ekor


Rata-rata IKG seluruh angkatan adalah 1.65%
Ikan Lele termasuk ke dalam omnivora karena dalam ususnya terdapat

zooplankton dan fitoplankton.

36

DAFTAR PUSTAKA

Effendie. 1985. Biologi Perikanan Bagian I Studi Natural History. Institut

Pertanian Bogor. Bogor.


Effendie Msc, Prof. Dr. H. Moch Ichsan. 1997. Biologi Perikanan.

Yayasan Pustaka Nusantara.


Effendi, 2003. Metode pengukuran kualitas air, IPB. Bogor.
Rosalina, Elfirah (2011). Food and Feeding Habits. Online. Tersedia:

http://firarosalina.blogspot.com/2011/06/food-and-feeding-habits.html.
Diakses pada 31 Maret 2014 pukul 19:25

37

LAMPIRAN

Lampiran 1. Pengukuran Panjang


Ikan Lele (Clarias sp.)

Lampiran 2. Isi Perut Ikan Lele


(Clarias sp.)

Lampiran 3. Saluran Pencernaan


Ikan Lele (Clarias sp.)

Lampiran 4. Gonad Ikan Lele


(Clarias sp.)
38