Anda di halaman 1dari 5

Reviu Buku titik balik peradaban

Fritjof Capra; Titik Balik Peradaban


Posted Monday 10th March 2014 16:55
Judul Buku
Penulis
Jumlah Hal
Penerbit

: Titik Balik Peradaban


: Fritjof Capra
: xxii + 571 halaman
: Bentang budaya (2002)

Buku ini mencoba mengupas fenomena perubahan yang tak akan lepas dari segala bentuk
kehidupan di bumi. Dengan cara yang khas, Capra, Seorang seintis kenamaan mencoba
menelaah dinamika yang mendasari berbagai problem utama yang mendasari zaman kita; semua
nya merupakan residu peradaban yang tidak terinduksi oleh suatu system yang kita kenal dengan
modernism.
Dalam buku ini penulis mencoba menanamkan dasar pemikiran universal bahwa segala krisis
yang menimpa kita sekarang ini bukanlah sekedar krisis individu, pemerintah atau lembaga
sosial, melainkan suatu transisi yang berdimensi planet. Sebagai individu, sebagai masyarakat,
sebagai peradaban, dan sebagai ekosistem planet, kini kita tengah mencapai titik balik(hal 18).
Meski Capra telah lama dikenal dunia sebagai seorang fisikawan modern, namun dalam setiap
karyanya ia tidak hanya menelaah berbagai permasalahan yang dialami bumi melalui pendekatan
sains saja, melainkan juga dengan pendekatan kearifan filsafat timur, inilah yang membedakan
Capra dengan sebagian besar Fisikawan lainnya. Untuk memahami proses transisi budaya,
misalnya ia mengutip salah satu kitab kearifan tertua dari china (I Ching); gerak adalah suatu
yang alami, yang muncul secara spontan,karena itu transformasi generasi tua menjadi mudah,
yang lama ditinggalkan dan yang baru diperkenalkan. Keduanya sesuai dengan perjalanan
waktu.
Krisis Energi dan ekonomi global, kelaparan, kriminalitas, polusi, perlombaan senjata adalah
sebagian dari permasalahan yang diangkat melalui buku ini. Kita sedang berada dizaman yang
serba global dan universal, segala krisis dan permasalahan adalah milik kita bersama, buku ini
mungkin dapat membantuanda untuk lebih memahami berbagai fenomena yang terjadi dibumi
dan memberikan wawasan dan cara berfikir baru yang positif untuk menyongsong perubahan
yang telah, sedang dan akan terus terjadi sepanjang zaman.

Home

Tentang Saya

Blog

Resensi

Feature

Tutorial

portofolio
o

Website

Visual Design

Buku

fotograf

Hubungi Saya

A+ A A

Category: resensi

Written by Adi Baskoro

Hits: 1476

Menengok Kembali Gagasan Capra


Judul Buku: Jalan Paradoks
(Visi Baru Fritjof Capra tentang Kearifan dan Kehidupan Modern)
penyunting: Budhy Munawar Rachman dan Eko Wijayanto

Penerbit: Teraju Mizan, 2004


Tebal: 219 + indeks

Dunia yang dihuni manusia seolah terasa makin tak ramah. Gejolak krisis multidimensi sedang
melanda dunia. Hal ini memaksa manusia untuk kembali berefleksi di ruang hening. Beragam
krisis dari ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, kesehatan, ancaman peperangan, dan terorisme,
serta lainnya memunculkan pertanyaan mendasar: why (kenapa) dan ada apa dengan dunia
yang kita diami?
Peradaban modern yang syarat dengan ketidakseimbangan menjadi tersangka utama dalam krisis
ini. Hal ini diketahui dari pemujaan pada berhala-berhala materialisme dan rasionalisme yang
kian menguat. Kapitalisme ekonomi dan borjuasi sosial menjadi anasir lain dari modernitas,
demikian kutip Slamet Sutrisno, dosen Filsafat UGM dalam buku yang disunting Budhy
Munawar Rachman. Memang agak abstrak tapi demikian Fritjof Capra menilai. Fritjof Capra
adalah seorang fisikawan yang dikenal lewat bukunya Titik Balik Peradaban dan The Tao of
Physics.
Munculnya beragam krisis menurut Capra berasal dari krisis penafsiran atau pemahaman itu
sendiri. Di sini termasuk masalah fanatisme dan pola berpikir parsial yang menghegemoni
pengetahuan manusia. Dalam buku ini mencoba menjawab apakah dunia yang kita diami
tersusun atas asas pertentangan? Bisakah hal-hal yang bersifat paradoks tersatukan dan saling
melengkapi? Tentu tak mudah memecahkan atau menjawabnya. Dalam model filsafat Barat
memadukan suatu hal yang bertentangan adalah sulit, karena mengandung paradoks-paradoks.
Fritjof Capra berhasil memosisikan masalah yang paradoks (bertentangan atau berlawanan)
dalam tempat yang berimbang. Hal inilah yang menarik kesembilan penulis dari kalangan
akademisi untuk mengepak gagasan Fritjof Capra tentang pencarian pandangan baru soal
kearifan dan kehidupan modern. Mereka antara lain: Agus Purwandianto, Gadis Arivia, Jusuf
Sutanto, L. Wilardjo, Mulyadhi Kartanegara, P. Wiryono P, Paul Suparno, Slamet Sutrisno, dan
Subur Wardoyo.
Kegagalan proyek modernisasi dalam bahasa Gadis Arivia, yang senada dengan delapan penulis
lainnya, menjadi titik awal diskusi dalam buku ini. Dalam bahasa berbeda mereka mengapresiasi,
mengritik, menolak, saling melengkapi atau bahkan mengamini . Mereka menengok kembali ide
Capra dalam memandang dunia untuk lebih arif dan holistik. Yakni tentang filsafat dunia Timur
yang telah lama dianggap tertinggal,irrasional, intuitif atau hanya ilusi saja.
Gagasan pertama Capra tentang adanya pergeseran paradigma dari pemikiran yang didasari
fisika klasik Newton ke arah pemikiran fisika kuantum (hlm 8). Dasar fisika klasik adalah

menganggap segala hal dapat dideterminasi, logis, mekanis,dan terukur. Sementara dalam fisika
kuantum yang terdapat unsur ketidakpastian, ketidaktepatan, probalilitas, dan indeterministik.
Capra melihat dasar fisika kuantum ini memiliki kesamaan dengan Mistis Timur seperti Taoisme
dan Budhisme. Taoisme yang menganut hukum keseimbangan gerakan semesta. Perpaduan yang
menarik ini dalam Taoisme disebut Yin Yang. Analisa Yin-Yang menurut Capra sangat berguna
untuk mencari keseimbangan kultural dengan memakai pandangan ekologi yang kuat (hlm 33).
Konsep ecoliteracy atau kesadaran dan kemelekan pada masa depan planet bumi menjadi
gagasan lain yang dicatat P. Wiryono P. Diharapkan dari prinsip-prinsip ekologis dipakai sebagai
sistem dan jaringan untuk menyimak kehidupan bumi (bukan lagi secara mekanis) menjadi lebih
baik. Dan Nature of Wisdom atau kebijaksanaan alam pun menjadi esensi dari ecoliteracy.
Kumpulan artikel dalam buku ini menarik gagasan Capra ke dalam berbagai permasalahan
seperti kesadaran ekologi, feminisme, kesehatan, atau menyandingkan ke dalam Kawruh Jawa,
serta sekadar pembacaan terhadap wacana fisika kuantum dan mistis Timur.
Berbeda dengan penulis lainnya Jusuf Sutanto lebih menyukai gaya pendekatan mengumpulkan
puisi dan cerita-cerita kuno tentang kearifan. Misalnya puisi yang diambil dari penggalan Kitab I
Ching, Dhammapada, atau Cheng Yen tentang pesan-pesan penting dalam menapaki kehidupan
di planet bumi.
Mungkin bagi dunia Timur gagasan Fritjof Capra terlalu biasa atau bahkan usang. Namun
kearifan untuk menyandingkan sebuah gagasan Barat dengan Timur lebih berkesan kuat
sehingga dunia yang paradoks ini bisa dipandang lebih bijak dan utuh.
Dalam buku yang kaya referensi dan padat ini tak dijelaskan tentang siapakah Fritjof Capra
secara khusus. Pembaca seolah dianggap telah mengenal siapakah Fritjof Capra. Demikian
kekurangan dari buku kecil ini. Terlepas dari hal itu, pesan yang dibawa dalam buku ini adalah
menemukan kembali cara pandang akan manusia dan alam secara utuh. Dan nilai-nilai
mistisisme Timur telah memberikan kontribusi bagi fisika baru pada khususnya dan diharapkan
bagi peradaban masa mendatang.

Adi Baskoro

< Prev

Next >

Adi Baskoro 2013 All rights reserved.