Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang 1
Penyimpangan seksual merupakan bentuk perbuatan menyimpang dan melanggar norma
dalam kehidupan masyarakat.Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh
seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara
yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar.
Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman
sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetic.
Faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku seksual
Perspektif biologis yang terjadi pada masa pubertas dan pengaktifan hormonal. Pada
masa ini rawan terjadinya penyimpangan seksual.
Pengaruh orangtua terjadi biasanya kurangnya komunikasi antara orangtua dengan
remaja dalam masalah seputar seksual yang akhirnya dapat memperkuat munculnya
perilaku penyimpangan seksual
Pengaruh teman sebaya
Perspektif akademik
Perseptif sosial kognitif.
Usaha-usaha Untuk Menghindari Penyimpangan Seksual
a) Meningkatkan iman dan taqwa
b) Sikap dan pengertian yang baik orang tua
c) Pendidikan seks
d) Memberikan lingkungan yang baik

BAB II
PEDOPHILIA
Definisi
1.

Pedofilia adalah kelainan seksual berupa hasrat ataupun fantasi impuls seksual yang
melibatkan anak di bawah umur. Orang dengan pedofilia umurnya harus di atas 16
tahun, sedangkan anak-anak yang menjadi korban berumur 13 tahun atau lebih muda
(anak pre-pubertas). Dikatakan pedofilia jika seseorang memiliki kecenderungan
impuls seks terhadap anak dan fantasi maupun kelainan seks tersebut mengganggu si
anak.1

2.

Pedofilia adalah merupakan suatu kelainan dimana untuk mencapai rangsangan dan
pemuasan seksual, penderita tersebut memakai objek teruatama pada seorang anak
dari sex yang lama atau berlainan.

Prevalensi 1
Di antara kasus parafilia yang dikenali, pedofilia adalah jauh lebih sering dibandingkan
dengan yang lainnya. pedofilia lebih banyak terjadi pada laki-laki, tetapi tidak ada informasi
yang pasti tentang prevalensinya. Adanya prostitusi terhadap anak-anak di beberapa negara
dan maraknya penjualan materi-materi pornografi tentang anak-anak, menunjukkan bahwa
tingkat ketertarikan seksual terhadap anak tidak jarang. Meskipun demikian, pedofilia sebagai
salah satu bentuk perilaku seksual diperkirakan tidak secara umum terjadi.2
Etiologi 3
Penyebab dari pedofilia belum diketahui secara pasti. Namun pedofilia seringkali
menandakan ketidakmampuan berhubungan dengan sesama dewasa atau adanya ketakutan
wanita untuk menjalin hubungan dengan sesama dewasa. Jadi bisa dikatakan sebagai suatu
kompensasi dari penyaluran nafsu seksual yang tidak dapat disalurkan pada orang dewasa.
Kebanyakan penderita pedofilia menjadi korban pelecehan seksual pada masa kanak-kanak.
Diagnosis 1
Berdasarkan DSM-IV, seseorang dikatakan sebagai penderita pedofilia bila :
A. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual,
dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa aktivitas seksual dengan
anak pre-pubertas atau anak-anak (biasanya berusia 13 tahun atau kurang).

B. Khayalan, dorongan seksual atau perilaku menyebabkan penderitaan yang bermakna


secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting
lainnya.Orang sekurangnya berusia 16 tahun dan sekurangnya berusia 5 tahun lebih tua
dari anak-anak yang menjadi korban.
Kriteria diagnostic Pedofilia menurut PPDGJ-III 6 :
1. Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya prapubertas atau awal masa
pubertas, baik laki-laki maupun perempuan.
2. Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan.
3. Preferensi tersebut harus berulang dan menetap.
4. Termassuk: laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner seksual dewasa,
tetapi karena mengalami frustasi yang khronis untuk mencapai hubungan seksual
yang diharapkan, maka kebiasaan beralih kepada anak sebagai peggganti.
Klasifikasi 3
Pedofilia dapat diklasifikasikan ke dalam 5 tipe, yaitu :
1. Pedofilia yang menetap
Orang dengan pedofilia tipe ini, menganggap dirinya terjebak pada lingkungan anak.
Mereka jarang bergaul dengan sesama usianya, dan memiliki hubungan yang lebih baik
terhadap anak. Mereka digambarkan sebagai lelaki dewasa yang tertarik pada anak lakilaki dan menjalin hubungan layaknya sesama anak laki-laki.
2. Pedofilia yang sifatnya regresi
Di lain pihak, orang dengan pedofilia regresi tidak tertarik pada anak lelaki, biasanya
bersifat heteroseks dan lebih suka pada anak perempuan berumur 8 atau 9 tahun.
Beberapa di antara mereka mengeluhkan adanya kecemasan maupun ketegangan dalam
perkawinan mereka dan hal ini yang menyebabkan timbulnya impuls pedofilia. Mereka
menganggap anak sebagai pengganti orang dewasa, dan menjalin hubungan layaknya
sesama dewasa, dan awalnya bersifat tiba-tiba dan tidak direncanakan.
3. Pedofilia seks lawan jenis

Pria dengan pedofilia yang melibatkan anak perempuan, secara tipik didiagnosa
sebagai pedofilia regresi. Pedofilia lawan jenis umumnya mereka menjadi teman anak
perempuan tersebut, dan kemudian secara bertahap melibatkan anak tersebut dalam
hubungan seksual, dan sifatnya tidak memaksa. Seringkali mereka mencumbu si anak
atau meminta anak mencumbunya, dan mungkin melakukan stimulasi oral, jarang
bersetubuh.
4. Pedofilia sesama jenis.
Orang dengan pedofilia jenis ini lebih suka berhubungan seks dengan anak laki-laki
ataupun anak perempuan dibanding orang dewasa. Anak-anak tersebut berumur antara 10
12 tahun. Aktivitas seksnya berupa masturbasi dengan cara stimulasi oral oleh anakanak tersebut, dan berhubungan lewat anus.
5. Pedofilia wanita
Meskipun pedofilia lebih banyak oleh laki-laki, tetapi juga dilakukan oleh wanita,
meskipun jarang dilaporkan. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya perasaan keibuan
pada wanita. Dan anak laki-laki tidak menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sifatnya
negatif, karenanya insidennya kurang dilaporkan. Biasanya melibatkan anak berumur 12
tahun atau lebih muda.
Faktor Penyebab Pedofilia 4
1. Trauma
Pengalaman selama anak-anak sebagai korban pedofilia ditengarai sebagai penyebab
utama seseorang menjadi pedofil. Mereka belajar dengan mengamati bahwa kepuasan
seksual dapat diperoleh dari anak-anak. Bisa jadi pula mereka rendah diri menyadari
dirinya adalah korban pedofilia. Akibatnya mereka cenderung menutup diri dan pergaulan
pun jadi terbatas. Terkait dengan hal ini.
2. Kurangnya Kemampuan Sosialisasi
kurangnya keterampilan untuk membina hubungan akrab dengan orang lain juga
menjadi salah satu penyebab pedofilia. Mereka tidak dapat menjalin hubungan intim
dengan orang dewasa yang sebaya. Dalam kondisi ini, tidak ada yang lebih nyaman selain
berinteraksi dengan anak-anak, yang mudah didekati tanpa melakukan perlawanan
sebagaimana dahulu yang terjadi pada mereka.
3. Merasa Harga Diri Rendah
Harga diri yang rendah juga menjadi faktor penyebab. Mereka merasa tidak memiliki
kelebihan, atau merasa gagal dibandingkan pasangan atau teman-temannya. Menguasai
4

anak, mengancam, dan memanipulasinya, merupakan suntikan bagi harga diri para
pedofil. Orang yang merasa rendah diri juga mudah mengalami depresi dan kecemasan.
Dalam kondisi ini, melakukan pelecehan seksual terhadap anak dijadikan cara melepaskan
ketegangan.
4. Faktor Ekonomi
Dari segi sosial ditemukan pelaku pedofilia kebanyakan berasal dari kalangan sosial
ekonomi rendah. Sebagian bahkan tidak memiliki pekerjaan. Ditambah dengan tingkat
pendidikan yang umumnya kurang memadai, mereka sulit menemukan cara penyelesaian
masalah yang efektif. Akibatnya mereka mudah terkena stres dan menggunakan anak
untuk mengatasi rasa tertekan atau ketegangannya akibat stress.
Karakter Pedofilia 5
Empat karakteristik utama yang dimiliki oleh seorang pedofilia :
1.

Pola perilaku jangka panjang dan persisten.

Memiliki latar belakang pelecehan seksual.


Penelitian menunjukkan bahwa banyak pelaku kekerasan seksual merupakan korban
dari kekerasan seksual berikutnya.

Memiliki kontak sosial terbatas pada masa remaja.


Pada waktu remaja, pelaku biasanya menunjukkan ketertarikan seksual yang kurang
terhadap seseorang yang seumur dengan mereka.

Riwayat pernah dikeluarkan dari militer.


Militer dan organisasi lainnya akan mengeluarkan pedofilia dan akan membuat
dakwaan dan tuntutan terhadap mereka.

Sering berpindah tempat tinggal.


Pedofilia menunjukkan suatu pola hidup dengan tinggal di satu tempat selama
beberapa tahun, mempunyai pekerjaan yang baik dan tiba-tiba pindah dan berganti
pekerjaan tanpa alasan yang jelas.

Riwayat pernah ditahan polisi sebelumnya.


Catatan penahanan terdahulu merupakan indikator bahwa pelaku ditahan polisi
karena perbuatan yang berulang-ulang, yaitu pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Korban banyak.
Jika penyidikan mengungkap bahwa seseorang melakukan pelecehan seksual pada
korban yang berlainan, ini merupakan indikator kuat bahwa ia adalah pedofilia.
5

Percobaan berulang dan beresiko tinggi.


Usaha atau percobaan yang berulang untuk mendapatkan anak sebagai korban dengan
cara yang sangat terampil merupakan indikator kuat bahwa pelaku adalah seorang
pedofilia

2.

Menjadikan anak-anak sebagai obyek preferensi seksual

Usia > 25 tahun, single, tidak pernah menikah.


Pedofil mempunyai preferensiseksual terhadap anak-anak, mereka mempunyai
kesulitan dalam berhubunganseksual dengan orang dewasa dan oleh karena itu
mereka tidak menikah.

Tinggal sendiri atau bersama orang tua.


Indikator ini berhubungan erat denganindikator di atas.

Bila tidak menikah, jarang berkencan.


Seorang laki-laki yang tinggal sendiri,belum pernah menikah dan jarang berkencan ,
maka harus dicurigai sekiranyadia memiliki karakteristik yang disebutkan di sini.

Bila menikah, mempunyai hubungan khusus dengan pasangan.


Pedofilia kadang-kadang menikah untuk kenyamanan dirinya atau untuk menutupi
dan jugamemperoleh akses terhadap anak-anak.

Minat yang berlebih pada anak-anak.


Indikator ini tidak membuktikan bahwaseseorang adalah seorang pedofilia, tapi
menjadi alasan untuk diwaspadai. Akanmenjadi lebih signifikan apabila minat yang
berlebih ini dikombinasikan denganindikator-indikator lain.

Memiliki teman-teman yang berusia muda.


Pedofil sering bersosialisasi dengananak-anak dan terlibat dengan aktifitas-aktifitas
golongan remaja.

Memiliki hubungan yang terbatas dengan teman sebaya.


Seorang pedofilmempunyai sedikit teman dekat dikalangan dewasa. Jika seseorang
yangdicurigai

sebagai

pedofil

mempunyai

teman

kemungkinantemannya itu adalah juga seorang pedofil.

Preferensi umur dan gender.

dekat,

maka

ada

Pedofil menyukai anak pada usia dan gendertertentu. Ada pedofil yang menyukai
anak lelaki berusia 8-10 tahun , ada jugayang menyukai anak lelaki 6-12 tahun.
Semakin tua preferensi umur, semakineksklusif preferensi umur.

Menganggap anak bersih, murni, tidak berdosa dan sebagai obyek.


Pedofilkadang memiliki pandangan idealis mengenai anak-anak yang diekspresikan
melalui tulisan dan bahasa, mereka menganggap anak-anak sebagai obyek,subyek
dan hak milik mereka.

3.

Memiliki teknik yang berkembang dengan baik dalam mendapatkan korban

Terampil dalam mengidentifikasikan korban yang rapuh.


Pedofilia memilih korban mereka, kebanyakan anak-anak korban broken home atau
korban dari penelantaran emosi atau fisik. Ketrampilan ini berkembang dengan
latihan dan pengalaman.

Berhubungan baik dengan anak, tahu cara mendengarkan anak.


Pedofil biasanya mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan anak-anak lebih
baik daripada orang dewasa lainnya. Mereka juga tahu cara mendengarkan anak
dengan baik.

Mempunyai akses ke anak-anak.


Ini merupakan indikator terpenting bagi pedofil. Pedofil mempunyai metode
tersendiri untuk memperoleh akses keanak-anak. Pedofil akan berada di tempat anakanak bermain, menikah atau berteman dengan wanita yang memiliki akses ke anakanak, memilih pekerjaan yang memiliki akses ke anak-anak atau tempat dimana dia
akhirnya dapat berhubungan khusus dengan anak-anak.

Lebih sering beraktifitas dengan anak-anak, seringkali tidak melibatkan orang dewasa
lain.
Pedofilia selalu mencoba untuk mendapatkan anak-anak dalam situasi dimana tanpa
kehadiran orang lain.

Terampil dalam memanipulasi anak.


Pedofil menggunakan cara merayu,kompetisi, tekanan teman sebaya, psikologi anak
dan kelompok, teknik motivasi dan ancaman.

Merayu dengan perhatian, kasih sayang dan hadiah.


Pedofil merayu anak-anak dengan berteman, berbicara, mendengarkan, memberi
perhatian, menghabiskan waktu dengan anak-anak dan membeli hadiah.
7

Memiliki hobi dan ketertarikan yang disukai anak.


Pedofil mengkoleksi mainan, boneka atau menjadi badut atau ahli sulap untuk
menarik perhatian anak-anak.

Memperlihatkan materi-materi seksual secara eksplisit kepada anak-anak.


Pedofil cenderung untuk mendukung atau membenarkan anak untuk menelepon ke
pelayanan pornografi atau menghantar materi seksual yang eksplisit melalui
komputer pada anak-anak.

4.

Fantasi seksual yang difokuskan pada anak-anak

Dekorasi rumah yang berorientasi remaja.


Pedofilia yang tertarik pada remajaakan mendekorasi rumah mereka seperti seorang
remaja lelaki. Ini termasukpernak-pernik seperti mainan, stereo, poster penyanyi
rock, dll.

Memfoto anak-anak.
Pedofilia memfoto anak-anak yang berpakaian lengkap,setelah selesai dicetak,
mereka menghayalkan melakukan hubungan seksdengan mereka.

Mengkoleksi pornografi anak atau erotika anak.


Pedofil menggunakan koleksi iniuntuk mengancam korban agar tetap menjaga
rahasia aktivitas seksual mereka.Koleksi ini juga digunakan untuk ditukar dengan
koleksi pedofil yang lain.

Bahaya Pedofilia 4
Anak sebagai korban dalam kasus pedofilia, secara jangka pendek dan jangka panjang
dapat mengakibatkan gangguan fisik dan mental. Gangguan fisik yang terjadi adalah resiko
gangguan kesehatan. Saat melakukan hubungan kelamin pun seringkali masih belum bersifat
sempurna karena organ vital dan perkembangan hormonal pada anak belum sesempurna
orang dewasa. Bila dipaksakan berhubungan suami istri akan merupakan siksaan yang luar
biasa, apalagi seringkali dibawah paksaan dan ancaman. Belum lagi bahaya penularan
penyakit kelamin maupun HIV dan AIDS, karena penderita pedofilia kerap disertai gonta
ganti pasangan atau korban. Bahaya lain yang mengancam, apabila terjadi kehamilan.
Beberapa penelitian menunjukkan perempuan yang menikah dibawah umur 20 th beresiko
terkena kanker leher rahim. Pada usia anak atau remaja, sel-sel leher rahim belum matang.
Kalau terpapar human papiloma virus atau HPV pertumbuhan sel akan menyimpang menjadi

kanker.Usia anak yang sedang tumbuh dan berkembang seharusnya memerlukan stimulasi
asah, asih dan asuh yang berkualitas dan berkesinambungan. Bila periode anak mendapatkan
trauma sebagai korban pedofilia dapat dibayangkan akibat yang bisa terjadi. Perkembangan
moral, jiwa dan mental pada anak korban pedofila terganggu sangat bervariasi. Tergantung
lama dan berat ringan trauma itu terjadi. Bila kejadian tersebut disertai paksaan dan
kekerasan maka tingkat trauma yang ditimbulkan lebih berat
Diagnosa Banding 5
Perilaku seksual yang terbatas pada anak-anak saja tidak menjamin diagnosa pedofilia.
Perlaku tersebut mungkin terpresipitasi oleh perselisihan dalam perkawinan, kehilangan yang
terjadi dalam waktu dekat atau kesepian yang berkepanjangan. Pada keadaan-keadaan
tersebut, ketertarikan pada anak-anak mungkin dapat dimengerti
Pada retardasi mental, sindrom perilaku organik dan hitoksikasi alkohol atau skizoprenia,
mungkin terjadi penurunan kemampuan daya nilai, kemampuan sosial atau pengendalian
impuls. Biasanya hal tersebut, walaupun jarang akan membuat seseorang memiliki preferensi
seksual yang terbatas pada anak-anak tetapi pada kebanyakan kasus, umumnya aktivitas
seksual dengan anak-anak bukan merupakan hal yang mutlak untuk mendapatkan kepuasan
seksual.
Pada ekshibisionisme, paparannya mungkin pada anak, tetapi hal ini bukan merupakan
suatu permulaan untuk melakukan aktivitas seksual pada anak-anak. Sadisme seksual,
walaupun jarang, mungkin dapat dihubungkan dengan pedofilia, dimana pada kedua kasus
ini, masing-masing diagnosa harus ditegakkan
Terapi 1
Adapun pengobatan yang dapat diberikan pada pasien pedofilia adalah sebagai berikut :
1. Psikoterapi
Psikoterapi berorientasi tilikan adalah pendekatan yang paling sering digunakan untuk
mengobati pedofilia. Pasien memiliki kesempatan untuk mengerti dinamikanya sendiri dan
peristiwa-peristiwa yang menyebabkan perkembangan penyakitnya. Psikoterapi juga
memungkinkan pasien meraih kembali harga dirinya dan memperbaiki kemampuan
interpersonal dan menemukan metode yang dapat diterima untuk mendapatkan kepuasan
seksual.
2. Terapi perilaku

Digunakan untuk memutuskan perilaku pedofilia. Stimuli yang menakutkan, seperti


kejutan listrik atau bau menyengat, telah dipasangkan dengan impuls tersebut. stimuli dapat
diberikan oleh diri sendiri dan digunakan oleh pasien bilamana mereka merasa bahwa mereka
akan bertindak atas dasar impulnya.
3. Terapi obat
Termasuk medikasi antipsikotik dan antidepresan, adalah diindikasikan sebagai
pengobatan skizoprenia atau gangguan depresif, bila pedofilia disertai dengan gangguangangguan tersebut.
Prognosis 1
Karena tidak adanya informasi yang dapat dipercaya dari berbagai studi follow-up, maka
prognosis tergantung dari riwayat pasien sendiri, lama penyimpangan seks, adanya gejala
penarikan diri secara sosial maupun seksual dan kekuatan serta kelemahan kepribadian
pasien. Tetapi perilaku ini biasanya tetap dilakukan pasien meskipun sudah diterapi.
Prognosis baik jika pasien memiliki riwayat koitus di samping pedofilia, jika pasien
memiliki motivasi tinggi untuk berubah, dan jika pasien datang berobat sendiri, bukannya
dikirim oleh badan hukum.

10

BAB III
KESIMPULAN
Pedofilia adalah kelainan seksual berupa hasrat ataupun fantasi impuls seksual yang
melibatkan anak di bawah umur. Orang dengan pedofilia umurnya harus di atas 16 tahun,
sedangkan anak-anak yang menjadi korban berumur 13 tahun atau lebih muda (anak prepubertas). Dikatakan pedofilia jika seseorang memiliki kecenderungan impuls seks terhadap
anak dan fantasi maupun kelainan seks tersebut mengganggu si anak.
Empat karakter yang dimiliki pasien dengan pedofilia adalah
1.

Pola perilaku jangka panjang dan persisten.

2.

Menjadikan anak-anak sebagai objek preferensi seksual

3.

Memiliki teknik yang berkembang dengan baik dalam mendapatkan korban

4.

Fantasi seksual yang difokuskan kepada anak-anak

Prognosis pada pasien dengan Pedofilia tergantung dari riwayat pasien sendiri, lama
penyimpangan seks, adanya gejala penarikan diri secara sosial maupun seksual dan kekuatan
serta kelemahan kepribadian pasien. Tetapi perilaku ini biasanya tetap dilakukan pasien
meskipun sudah diterapi.
Prognosis baik jika pasien memiliki riwayat koitus di samping pedofilia, jika pasien
memiliki motivasi tinggi untuk berubah, dan jika pasien datang berobat sendiri, bukannya
dikirim oleh badan hukum.

11

DAFTAR PUSTAKA

1.

Section F65.4: Paedophilia

(online access via ICD-10 site map table

of

contents)."Pedophilia". ICD10.http://www.who.int/classifications/icd/en/GRNBOOK.pdf. Diakses pada 9 Juni 2014.


2.

Liddell, H.G., and Scott, Robert (1959). Intermediate Greek-English Lexicon. ISBN 019-910206-6.

3.

FBI's January 2007 "intelligence bulletin" on "symbols and logos used by pedophiles to
identify sexual preferences." The document (see Pages 2-4), was prepared and
distributed to FBI divisions and field offices in 2007 by the Cyber Division's Innocent
Images National Initiative. Goldstein, Bonnie (2007-12-03). "The Pedophile's Secret
Code". Slate. http://www.slate.com/id/2179052/entry/2179054/. Diakses pada 9 Juni
2014.

4.

Tom Philbin, Michael Philbin (2007). The Killer Book of True Crime: Incredible Stories,
Facts and Trivia from the World of Murder and Mayhem. Sourcebooks, Inc..
hlm. 344. ISBN 1402208294, 9781402208294.

5.

World Health Organization, International Statistical Classification of Diseases and


Related Health Problems: ICD-10 Section F65.4: Paedophilia (online access via ICD-10
site map table of contents). Diakses pada 9 Juni 2014.

6.

Maramis WF dan Maramis AA. Catatan ilmu kedokteran jiwa edisi 2. Surabaya :
Airlangga University Press, 2009.

12

Anda mungkin juga menyukai