Anda di halaman 1dari 14

1.

DEFINISI HUKUM ISLAM


Kalimat hukum islam terdiri dari kata Hukum dan Islamyang
mana keduanya memiliki arti katanya masing-masing. Pengertian kata
Hukum memiliki definisi yang berbeda-beda dari setiap pemikiran ahli
hukum yang jumlahnya tidak sedikit, maka dari itu definisi yang
banyak ini kita simpulkan yang secara umum hukum dapat diberi
definisi sebagai himpunan peraturan-peraturan yang di buat oleh yang
berwenang

dengan

tujuan

untuk

mengatur

tata

kehidupan

bermasyarakat yang mempunyai ciri memerintah dan melarang serta


mempunyai sifat memaksa dengan menjatuhkan sanksi hukuman bagi
mereka yang melanggarnya.
Kemudian kata Islam dapat diartikan sebagai agama yang
dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wasallam sebagai
nabi akhir zaman yang diwahyukan oleh Allah Shubhaanahu Wa
Taaala sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Mungkin
beginilah arti kata Islam dalam perspektif sederhana yang dapat kita
pahami dengan mudah.
Jadi Hukum Islam dapat didefinisikan sebagai peraturan-peraturan
yang merupakan bagian dan bersumber dari agama Islam yang dibuat
oleh Allah SWT yang mempunyai hubungan yang erat dan tidak dapat
di pisahkan dari iman atau aqkidah dan kesusilaan atau akhlak Islam
yang

bersifat

mengikat

dan

berlaku

abadi

untuk

umat

islam

dimanapun mereka berada.


2. PERKEMBANGAN ISLAM DI ZAMAN RASULULLAH SAW
Perkembangan Islam pada zaman Rasulullah SAW dapat dibagi
menjadi dua priode :
2.1 ISLAM MASA RASULULLAH DI MEKKAH
Nabi Muhammad dilahirkan pada hari senin tanggal 12 Rabiul
awal, tahun gajah, kira-kira 571 masehi. Semenjak masa kanakkanaknya beliau tidak pernah berbuat perbuatan buruk, disamping
tidak pernah berbuat dosa (mashum), nabi Muhammad SAW setelah
dewasa selalu beribadah dan berkhalwat di gua Hira. Sehingga pada

tanggal 17 Ramadhan, beliau menerima wahyu pertama kali yaitu


surat Al-Alaq ayat 1-5.
Dakwah pertama beliau adalah pada keluarga dan temantemannya. Dengan turunnya wahyu ini, maka jelaslah apa yang harus
Rasulullah kerjakan dalam menyampaikan risalah-Nya yaitu mengajak
umat manusia menyembah Allah SWT yang maha Esa, yang tiada
beranak dan tidak pula diberanakkan serta tiada sekutu bagi Nya.
a. Penyiaran Islam secara Sembunyi-Sembunyi
Ketika wahyu pertama turun, Nabi belum diperintah untuk
menyeru umat manusia menyembah dan mengesakan Allah SWT. Jibril
tidak lagi datang untuk beberapa waktu lamanya. Pada saat sedang
menunggu itulah kemudian turun wahyu yang kedua (Qs. AlMudatstsir:1-7) yang menjelaskan akan tugas Rasulullah SAW yaitu
menyeru ummat manusia untuk menyembah dan mengesakan Allah
SWT. Dengan perintah tersebut Rasulullah SAW mulai berdakwah
secara sembunyi-sembunyi.
b. Menyiarkan Islam secara Terang-Terangan
Penyiaran secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama 3
tahun, sampai kurun waktu berikutnya yang memerintahkan dakwah
secara terbuka dan terang-terangan. Ketika wahyu tersebut beliau
mengundang

keluarga

dekatnya

untuk

berkumpul

dibukit

Safa,

menyerukan agar berhati-hati terhadap azap yang keras di kemudian


hari (Hari Kiamat) bagi orang-orang yang tidak mengakui Allah sebagai
tuhan Yang Maha Esa dan Muhammad sebagai utusan-Nya.
Tiga tahun lamanya Rasulullah SAW melakukan dakwah secara
rahasia. Kemudian turunlah firman Allah SWT, surat Al-Hijr:94 yang
memerintahkan agar Rasulullah berdakwa secara terang terangan.
Pertama kali seruan yang bersifat umum ini beliau tujukan pada
kerabatnya, kemudian penduduk Makkah baik golongan bangsawan,
hartawan maupun hamba sahaya. Setelah itu pada kabilah-kabilah
Arab dari berbagai daerah yang datang ke Makkah untuk mengerjakan
haji. Sehingga lambat laun banyak orang Arab yang masuk Agama
Islam. Demikianlah perjuangan Nabi Muhammad SAW dengan para

sahabat untuk meyakinkan orang Makkah bahwa agama Islamlah yang


benar dan berasal dari Allah SWT, setelah peristiwa isra miraj dakwah
Islam menemui kemajuan, sejumlah penduduk Yastrib datang ke
Makkah untuk berhaji, mereka terdiri dari suku Khozroj dan Aus yang
masuk Islam dalam tiga golongan :

Pada tahun ke 10 keNabian. Hal ini berawal dari pertikaian


antara suku Aus dan Khozroj, dimana mereka mendambakan

suatu perdamaian.
Pada tahun ke -12 ke-Nabian. Delegasi Yastrib (10 orang suku
Khozroj, 2 orang Aus serta seorang wanita) menemui Nabi
disebuah tempat yang bernama Aqabah dan melakukan ikrar
kesetiaan yang dinamakan perjanjian Aqabah pertama. Mereka
kemudian berdakwah dengan ini di temani seorang utusan Nabi

yaitu Musab bin Umar.


Pada musim haji berikutnya. Jamaah haji Yastrib berjumlah 73
orang, atas nama penduduk Yastrib mereka meminta Nabi untuk
pindah ke Yastrib, mereka berjanji untuk membelah Nabi,
perjanjian ini kemudian dinamakan Perjanjian Baiah Aqabah II.
Setelah mengetahui perjanjian tersebut, orang kafir Quraisy
melakukan tekanan dan intimidasi secara lebih gila lagi terhadap
kaum muslimin. Karena hal inilah, akhirnya Nabi memerintahkan
sahabatsahabatnya untuk hijrah ke Yastrib.
Menurut Ahmad Syalabi, ada lima faktor yang menyebabkan

orang-orang kafir Quraisy berusaha menghalangi dakwah Islam yaitu:


Pertama, Orang kafir Quraisy tidak dapat membedakan antara
keNabian dan kekuasaan. Mereka menganggap bahwa tunduk pada
seruan Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan bani Abdul
Muthallib. Kedua, Nabi Muhammad SAW menyerukan persamaan
antara bangsawan dan hamba sahaya. Ketiga, Para pemimpin Quraisy
tidak dapat menerima adanya hari kebangkitan kembali dan hari
pembalasan di akhirat. Keempat, Taklid pada nenek moyang adalah
kebiasaan yang berakar pada bangsa Arab. Kelima, Pemahat dan
penjual patung menganggap Islam sebagai penghalang rezeki mereka.

2.2 RASULULLAH SAW MEMBANGUN MASYARAKAT ISLAM DI


MADINAH
Ketika beliau sampai di Madinah, disambut dengan syair-syair dan
penuh kegembiraan oleh penduduk Madinah. Hijrah dari Makkah ke
Madinah bukan hanya sekedar berpindah dan menghindarkan diri dari
ancaman dan tekanan orang kafir Quraisy dan penduduk Makkah yang
tidak menghendaki pembaharuan terhadap ajaran nenek moyang
mereka, tetapi juga mengandung maksud untuk mengatur potensi dan
menyusun srategi dalam menghadapi tantangan lebih lanjut, sehingga
nanti terbentuk masyarakat baru yang didalamnya bersinar kembali
mutiara tauhid warisan Ibrahim yang akan disempurnakan oleh Nabi
Muhammad SAW melalui wahyu Allah SWTSetelah tiba dan diterima
penduduk

Yastrib,

Nabi

diangkat

menjadi

pemimpin

penduduk

Madinah, mengingat penduduk yang tinggal di Madinah bukan hanya


kaum muslimin, tapi juga golongan masyarakat Yahudi dan orang Arab
yang masih menganut agama nenek moyang, maka agar stabilitas
masyarakat dapat terwujudkan Nabi mengadakan perjanjian dengan
mereka, yaitu suatu piagam yang menjamin kebebasan beragama
bagi kaum Yahudi. Setiap golongan masyarakat memiliki hak tertentu
dalam

bidang

politik

dan

keagamaan.

Di

samping

itu

setiap

masyarakat berkewajiban mempertahankan keamanan negeri dari


serangan musuh. Adapun dasar-dasar tersebut adalah:
1.Mendirikan Masjid
2.Mempersaudarakan antara Anshor dan Muhajirin
3.Perjanjian bantu membantu antara sesama kaum Muslim dan non
Muslim
4.Melaksanakan dasar politik, ekonomi dan sosial untuk masyarakat
baru
Dengan terbetuknya masyarakat baru Islam di Madinah, orangorang kafir Quraisy bertambah marah, maka terjadi peperangan yang
pertama yaitu perang Badar pada tanggal 8 Ramadlan, tahun 2 H.
Kemudian disusul dengan perang yang lain yaitu perang Uhud, Zabit
dan masih banyak lagi. Pada tahun 9 H dan 10 H (630632 M) banyak

suku dari berbagai pelosok mengirim delegasi kepada Nabi bahwa


mereka ingin tunduk kepada Nabi, serta menganut agama Islam, maka
terwujudlah persatuan orang Arab pada saat itu. Dalam menunaikan
haji yang terakhir atau disebut dengan Haji Wada tahun 10 H (631 M)
Nabi menyampaikan khotbahnya yang sangat bersejarah antara lain
larangan untuk riba, menganiaya, perintah untuk memperlakukan istri
dengan baik, persamaan dan persaudaraan antar manusia harus
ditegakkan dan masih banyak lagi yang lainnya. Setelah itu Nabi
kembali ke Madinah, ia mengatur organisasi masyarakat, petugas
keamanan dan para dai dikirim ke berbagai daerah, mengatur
keadilan, memungut zakat dan lain-lain. Lalu 2 bulan kemudian Nabi
jatuh sakit, kemudian ia meninggal pada hari Senin 12 Rabiul Awal 11
H atau 8 Juni 632 M.
Untuk

menghadapi

kemungkinan

gangguangangguan

dari

musuh, Nabi Muhammad SAW sebagai kepala pemerintahan mengatur


siasat

dan

membentuk

pasukan

tentara

dalam

rangka

mempertahankan dan memperkuat kedudukan kota Madinah. Akan


tetapi, ketika pemeluk agama Islam di Madinah semakin bertambah
maka persoalan demi persoalan semakin sering terjadi, diantaranya
adalah rongrongan dari orang Yahudi, Munafik dan Quraisy. Namun
berkat

keteguhan

dan

kesatuan

ummat

Islam,

mereka

dapat

mengatasinya.
3. PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM PADA MASA
KHULAFAURRASYIDIN
Masa al-Khulafa' ar-Rasyidin (Empat Khalifah Besar) sampai pertengahan abad kel H. Pada zaman Rasulullah SAW para sahabat dalam menghadapi berbagai masalah
yang menyangkut hukum senantiasa bertanya kepada Rasulullah SAW. setelah ia wafat,
rujukan untuk tempat bertanya tidak ada lagi. Oleh sebab itu, para sahabat besar melihat
bahwa perlu dilakukan ijtihad apabila hukum untuk suatu persoalan yang muncul dalam
masyara'at tidak ditemukan di dalam Al-Qur'an atau sunnah Rasulullah SAW. Ditambah
lagi, bertambah luasnya wilayah kekuasaan Islam membuat persoalan hukum semakin
berkembang karena perbedaan budaya di masing-masing daerah.

Dalam keadaan seperti ini, para sahabat berupaya untuk melakukan ijtihad dan
menjawab persoalan yang dipertanyakan tersebut dengan hasil ijtihad mereka. Ketika itu
para sahabat melakukan ijtihad dengan berkumpul dan memusyawarahkan persoalan itu.
Apabila sahabat yang menghadapi persoalan itu tidak memiliki teman musyawarah atau
sendiri, maka ia melakukan ijtihad sesuai dengan prinsip-prinsip umum yang telah
ditinggalkan Rasulullah SAW. Pengertian fiqh dalam periode ini masih sama dengan fiqh
di zaman Rasulullah SAW, yaitu bersifat aktual, bukan teori. Artinya, ketentuan hukum
bagi suatu masalah terbatas pada kasus itu saja, tidak merambat kepada kasus lain secara
teoretis.
Sepeninggalnya Rasulullah SAW, nabi telah mewariskan dua
sumber hukum Islam yang dapat dijadikan rujukan dalam pemecahan
segala permasalahan yang ada, yaitu al Quran dan Sunnah nabi.
Kehidupan bermasyarakat yang semakin dinamis, memungkinkan
timbulnya permasalahan-permasalahan baru yang harus dipecahkan,
untuk itu para ulama baik dikalangan sahabat dan tokoh Islam lainnya,
berkeawjiban menegakkan hukum tasri pada zamannya masingmasing. Pada masa khulafaurrasyidin ini perkembangan hukum dibagi
menjadi empat priode :
1. KHOLIFAH ABU BAKAR
Setelah nabi wafat,

Abu Bakar As-Siddik diangkat sebagai

kholifah pertama. Kholifah adalah pemimpin yang diangkat setelah


nabi wafat untuk menggantikan nabi dan melanjutkan tugas-tugas
sebagai pemimpin agama dan pemerintah.9
Semasa Rasulullah SAW sedang sakit, baginda mengarahkan
supaya Saidina Abu Bakar mengimamkan solat orang Islam. Selepas
kewafatan Nabi Muhammad SAW., sebuah majlis yang dihadiri oleh
golongan Ansar dan Muhajirin ditubuhkan untuk melantik seorang
khalifah bagi memimpin umat Islam. Hasil dari perjumpaan itu, Saidina
Abu Bakar dilantik dan menjadi khalifah pertama umat Islam.
Perlantikan Saidina Abu Bakar mendapat tentangan daripada
beberapa orang yang ingin melantik Saidina Ali Abi Talib sebagai
khalifah kerana Saidina Ali merupakan menantu dan anak saudara
Rasulullah SAW. Golongan Syiah yang merupakan golongan daripada

keluarga Bani Hashim menentang perlantikan Saidina Abu Bakar.


Tentangan itu tamat selepas Saidina Ali Abi Talib membaihkan Saidina
Abu Bakar.
Saidina Abu Bakar walaupun hanya memerintah selama dua
tahun

(632-634),

tetapi

beliau

banyak

menyumbang

terhadap

perkembangan Islam. Beliau berjaya menumpaskan golongan Riddah


yang ada diantaranya murtad dan ada diantaranya mengaku sebagai
nabi. Beliau juga mula mengumpulkan ayat-ayat Al Quran dan beliau
juga berjaya meluaskan pengaruh Islam.
Kekuasaan yang dijalankan pada massa khalifah Abu Bakar,
sebagaimana pada masa Rasululllah, bersifat sentral; kekuasaan
legislatif, eksekutif, dan yudikatif terpusat ditangan Khalifah. Selain
menjalankan roda pemerintahan, khalifah juga melaksanakan hukum,.
Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar
selalu mengajak sahabat-sahabatnya bermusyawarah.
Saidina Abu Bakar wafat pada 634 H di Madinah. Ada dua
pendapat mengenai sebab kematian Saidina Abu Bakar. Ada yang
mengatakan disebabkan keracunan dan ada pula yang mengatakan
Saidina

Abu

Bakar

meninggal

dunia

secara

biasa.

Sebelum

kewafatannya, Saidina Abu Bakar mengesa masyarakat menerima


Saidina Umar Al-Khatab sebagai khalifah yang baru. Saidina Abu Bakar
dikebumikan di sebelah makam Nabi Muhammad s.a.w. di Masjid anNabawi yang terletak di Madinah.
2. KHALIFAH UMAR BIN-KHATAB ( 634-644 M )
Semasa pemerintah Saidina Umar, kekuasaan Islam berkembang
dengan pesat; menguasai Mesopotamia dan sebahagian kawasan Parsi
dari pada kekuasaan Persia (berjaya menamatkan kekuasaan persia),
dan menguasai Mesir, Palestin, Baitulmaqdis, Syria, Afrika Utara, dan
Armenia

dari

pada

Byzantine

(Romawi

Timur).

Ada

diantara

pertempuran ini menunjukkan ketangkasan tentera Islam seperti


Perang Yarmuk yang menyaksikan tentera Islam yang berjumlah
40,000 orang menumpaskan tentera Byzantine yang berjumlah

120,000 orang. Hal ini mengakhiri pemerintahan Byzantine di selatan


Asia Kecil.
Saidina Umar banyak melakukan reformasi terhadap sistem
pemerintahan

Islam

seperti

mengangkat

gubernur-gubernur

di

kawasan yang baru ditakluk dan melantik panglima-panglima perang


yang berkebolehan. Semasa pemerintahannya juga kota Basra dan
Kufah dibina. Saidina Umar juga amat dikenali kerana kehidupannya
yang sederhana.
Saidina Umar wafat pada tahun 644 selepas dibunuh oleh seorang
hamba Parsi yang bernama Abu Luluah. Abu Luluah menikam
Saidina Umar kerana menyimpan dendam terhadap Saidina Umar. Dia
menikam Saidina Umar sebanyak enam kali sewaktu Saidina Umar
menjadi imam di Masjid al-Nabawi, Madinah.
Saidina

Umar

meninggal

dunia

dua

hari

kemudian

dan

dikebumikan di sebelah makam Nabi Muhammad SAW dan makam


Saidina Abu Bakar.
3. KHOLIFAH UTSMAN BIN AFFAN (644-656 M )
Selanjutnya masuk ke dalam masa ke khalifahan Utsman bin
Affan yang berlangsung dari tahun 644-656 M, produk hukum yang
dibangunnya dapat juga dilihat dari jasa-jasa besarnya yang paling
penting yaitu tindakannya telah membuat al Quran standar (kodifikasi
al Quran). Standarisasi al Quran dilakukannya karena pada masa
pemerintahannya, wilayah Islam telah sangat luas dan di diami oleh
berbagai suku dengan bahasa dan dialek yang berbeda.
Karena itu, dikalangan pemeluk agama Islam, terjadi perbedaan
ungkapan dan ucapan tentang ayat-ayat al Quran yang disebarkan
melalui hafalan. Perbedaan cara mengungkapkan itu, menimbulkan
perbedaan arti, saat berita ini sampai kepada Usman, ia lalu
membentuk penitia yang di ketuai Zaid bin Tsabit untuk menyalin al
Quran yang telah dihimpun pada masa khalifah Abu Bakar yang
disimpan oleh Hafsah (janda nabi Muhammad SAW).Panitia tersebut
bekerja secara disiplin, menyalurkan naskan al Quran ke dalam

Mushaf untuk dijadikan standar dalam penulisan dan bacaan al Quran


di wilayah kekuasan Islam pada waktu itu.
4. KHOLIFAH ALI BIN ABI THALIB ( 656-662 M )
Pada zaman ke khalifahan sahabat Ali bin Abi Thalib (656-662 M),
Ali tidak banyak mengambangkan hukum Islam, dikarenakan Negara
tidak stabil. Di sana timbul bibit-bibit perpecahan yang serius dalam
tubuh umat Islam yang bermuara pada perang saudara yang
kemudian

menimbulkan

kelompok-kelompok.

Di

antaranya

dua

kelompok besar yakni, kelompok Ahlussunah Wal Jamaah dan Syiah.


4. PERKEMBANGAN

HUKUM

ISLAM

PADA

MASA

PEMBINAAN,

PENGEMBANGAN DAN PEMBUKUAN


Periode ini dimulai dari pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan tahun 41
Hijiriyah. Sampai timbulnya segi-segi kelemahan pada akerajaan Arab yakni pada awal
abad ke II H. periode ini dimulai dengan bersatunya pendapat jumhur Islam pada
Muawiyah bin Abu Sufyan. Oleh karena itu tahun 41 Hijriyah disebut amul jamaah
(tahun persatuuan Islam) hanya saja benih perselisihan politik tidak padam, masih tetap
ada yang menyembunyikan perselisihan dan tipu daya terhadap Muawiyah dan
keluarganya. Mereka itu dua golongan, yaitu golongan Khawarij dan Syiah.
Pertengahan abad ke-1 H sampai awal abad ke-2 H. Periode ini merupakan awal
pembentukan fiqh Islam. Sejak zaman Usman bin Affan (576-656), khalifah ketiga, para
sahabat sudah banyak yang bertebaran di berbagai daerah yang ditaklukkan Islam.
Masing-masing sahabat mengajarkan Al-Qur'an dan hadits Rasulullah SAW kepada
penduduk setempat. Di Irak dikenal sebagai pengembang hukum Islam adalah Abdullah
bin Mas'ud (Ibnu Mas'ud), Zaid bin Sabit (11 SH/611 M-45 H/665 M) dan Abdullah bin
Umar (Ibnu Umar) di Madinah dan Ibnu Abbas di Makkah. Masing-masing sahabat ini
menghadapi persoalan yang berbeda, sesuai dengan keadaan masyarakat setempat.
Para sahabat ini kemudian berhasil membina kader masing-masing yang dikenal
dengan para thabi'in. Para thabi'in yang terkenal itu adalah Sa'id bin Musayyab (15-94 H)
di Madinah, Atha bin Abi Rabah (27-114H) di Makkah, Ibrahiman-Nakha'i (w. 76 H) di
Kufah, Hasan al-Basri (21 H/642 M-110H/728M) di Basra, Makhul di Syam (Suriah)
dan Tawus di Yaman. Mereka ini kemudian menjadi guru-guru terkenal di daerah
masing-masing dan menjadi panutan untuk masyara'at setempat. Persoalan yang mereka

hadapi di daerah masing-masing berbeda sehingga muncullah hasil ijtihad yang berbeda
pula. Masing-masing ulama di daerah tersebut berupaya mengikuti metode ijtihad
sahabat yang ada di daerah mereka, sehingga muncullah sikap fanatisme terhadap para
sahabat tersebut.
Dari perbedaan metode yang dikembangkan para sahabat ini kemudian muncullah
dalam fiqh Islam Madrasah al-hadits (madrasah = aliran) dan Madrasah ar-ra'yu.
Madrasah al-hadits kemudian dikenal juga dengan sebutan Madrasah al-Hijaz dan
Madrasah al-Madinah;
al-Iraq

sedangkan Madrasah ar-ra'yu dikenal dengan sebutan Madrasah

dan Madrasah al-Kufah.

Kedua aliran ini menganut prinsip yang berbeda dalam metode ijtihad. Madrasah
al-Hijaz dikenal sangat kuat berpegang pada hadits karena mereka banyak mengetahui
hadits-hadits Rasulullah SAW, di samping kasus-kasus yang mereka hadapi bersifat
sederhana dan pemecahannya tidak banyak memerlukan logika dalam berijtihad.
Sedangkan Madrasah al-Iraq dalam menjawab permasalahan hukum lebih banyak
menggunakan logika dalam berijtihad.
Hal ini mereka lakukan karena hadits-hadits Rasulullah SAW yang sampai pada
mereka terbatas, sedangkan kasus-kasus yang mereka hadapi jauh lebih berat dan
beragam, baik secara kualitas maupun kuantitas, dibandingkan dengan yang dihadapi
Madrasah al-Hijaz. Ulama Hijaz (Hedzjaz) berhadapan dengan suku bangsa yang
memiliki budaya homogen, sedangkan ulama Irak berhadapan dengan masyara'at yang
relatif majemuk. Oleh sebab itu, menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa, tidak mengherankan
jika ulama Irak banyak menggunakan logika dalam berijtihad.
Pada periode ini, pengertian fiqh sudah beranjak dan tidak sama lagi dengan
pengertian ilmu, sebagaimana yang dipahami pada periode pertama dan kedua, karena
fiqh sudah menjelma sebagai salah satu cabang ilmu keislaman yang mengandung
pengertian mengetahui hukum-hukum syara' yang bersifat amali (praktis) dari dalildalilnya yang terperinci.

Di samping fiqh, pada periode ketiga ini pun usul fiqh telah

matang menjadi salah satu cabang ilmu keislaman. Berbagai metode ijtihad, seperti
qiyas, istihsan dan istishlah, telah dikembangkan oleh ulama fiqh. Dalam
perkembangannya, fiqh tidak saja membahas persoalan aktual, tetapi juga menjawab
persoalan yang akan terjadi, sehingga bermunculanlah fiqh iftird (fiqh berdasarkan
pengandaian tentang persoalan yang akan terjadi di masa datang).
Pada periode ketiga ini pengaruh ra'yu (ar-ra'yu; pemikiran tanpa berpedoman
kepada Al-Qur'an dan sunnah secara langsung) dalam fiqh semakin berkembang karena

ulama Madrasah al-hadits juga mempergunakan ra'yu dalam fiqh mereka. Di samping
itu, di Irak muncul pula fiqh Syiah yang dalam beberapa hal berbeda dari fiqh
Ahlusunnah wal Jama'ah

(imam yang empat).

Dimasa ini lahir para ahli hukum Islam yang menemukan dan
merumuskan garis-garis suci islam, muncul berbagai teori yang masih
dianut dan digunakan oleh umat islam sampai sekarang. Banyak faktor
yang memungkinkan pembinaan dan pengembangan pada periode ini,
yaitu :
a. Wilayah islam sudah sangat luas, tinggal berbagai suku bangsa
dengan asal usul, adat istiadat dan berbagai kepentingan yang
berbeda. Untuk dapat menentukan itu maka ditentukanlah kaidah
atau norma bagi suatu perbuatan tertentu guna memecahkan suatu
masalah yang timbul dalam masyarakat.
b. Telah ada karya-karya tentang hukum yang digunakan sebagai
bahan untuk membangun serta mengembangkan hukum fiqih Islam.
c. Telah ada para ahli yang mampu berijtihad memecahkan berbagai
masalah hukum dalam masyarakat. Selain Perkembangan pemikiran
hukum pada periode ini lahir penilaian mengenai baik buruknya
mengenai perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang terkenal
dengan al-ahkam al-khamsah.
5. PERKEMBANGAN

HUKUM

ISLAM

PADA

MASA

KELESUAN

PEMIKIRAN
Pada masa ini ahli hukum tidak lagi menggali hukum fiqih Islam
dari sumbernya yang asli tapi hanya sekedar mengikuti pendapatpendapat yang telah ada dalam mashabnya masing-masing. Yang
menjadi ciri umum pemikiran hukum dalam masa ini adalah para ahli
hukum tidak lagi memusatkan usahanya untuk memahami prinsipprinsip atau ayat-ayat hukum yang terdapat pada Al Quran dan
sunah, tetapi pikirannya ditumpukan pada pemahaman perkataanperkataan, pikiran-pikiran hukum para imamnya saja.
Faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran atau kelesuan
hukum islam dimasa itu adalah ;

1. Kesatuan wilayah islam yang luas telah retak dengan munculnya


beberapa Negara baru.
2. Ketidakstabilan politik.
3. Pecahnya kesatuan kenegaraan atau pemerintahan menyebabkan
merosotnya kewibawaan pengendalian perkembangan hukum.
4. Gejala kelesuan berfikir timbul dimana-mana dengan demikian
perkembangan hukum Islam pada periode ini menjadi lesu.
6. PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM PADA MASA KEBANGKITAN
KEMBALI
Setelah mengalami kelesuan dalam beberapa abad lamanya,
pemikiran Islam telah bangkit kembali, timbul sebagai reaksi terhadap
sikap taqlid tersebut yang telah membawa kemunduran hukum islam.
Pada abad ke XIV telah timbul seorang mujtahid besar yang
menghembuskan udara baru dalam perkembangan hukum Islam yang
bernama Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnu Qayyim al Jaujiyyah walau
pola pemikiran mereka dilanjutkan pada abad ke XVII oleh Muhammad
Ibnu Abdul Wahab yang terkenal dengan gerakan baru di antara
gerakan-gerakan para ahli hukum yang menyarankan kembali kepada
Al-Quran dan Sunnah. Gerakan ini disebutkan sebagai gerakan Salaf
(Salafiah) yang ingin kembali kepada kemurnian ajaran Islam di zaman
salaf (permulaan), generasi awal dahulu yang terkenal dengan
gerakan Wahabi yang mempunyai pengaruh pada gerakan Padri di
Minangkabau (Indonesia).
Hanya saja barangkali pemikiran-pemikiran hukum Islam yang
mereka ijtihadkan khususnya Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim, tidak
menyebar luas kepada dunia Islam sebagai akibat dari kondisi dan
situasi dunia Islam yang berada dalam kebekuan, kemunduran dan
bahkan berada dalam cengkeraman orang lain, ditambah lagi dengan
sarana dan prasarana penyebaran ide-ide seperti percetakan, media
massa dan elektronik serta yang lain sebagainya tidak ada, padahal
sesungguhnya ijtihad-ijtihad yang mereka hasilkan sangat berilian,
menggelitik dan sangat berpengaruh bagi orang yang mendalaminya
secara serius.

Ijtihad-ijtihad besar yang dilakukan oleh kedua dan bahkan ketiga


orang tersebut di atas, dilanjutkan kemudian oleh Jamaluddin Al-Afgani
(1839-1897) terutama di lapangan politik. Jamaluddin Al-Afgani inilah
yang memasyhurkan ayat Al-Quran : Sesungguhnya Allah tidak akan
merubah nasib suatu bangsa kalau bangsa itu sendiri tidak (terlebih
dahulu) berusaha mengubah nasibnya sendiri (Q.S. Ar-Radu (13) : 11).
Ayat ini dipakainya untuk menggerakan kebangkitan ummat Islam
yang pada umumnya dijajah oleh bangsa Barat pada waktu itu. AlAfgani menilai bahwa kemunduran ummat Islam itu pada dasarnya
adalah disebabkan penjajahan Barat.
Oleh karena penyebab utama dari kemunduran itu adalah
penjajahan Barat terhadap dunia Islam, maka Al-Afgani berpendapat
bahwa agar ummat Islam dapat maju kembali, maka penyebab
utamanya itu yang dalam hal ini adalah penjajahan Barat harus
dilenyapkan terlebih dahulu. Untuk itulah maka Al-Afgani menelorkan
ide monumentalnya yang sangat terkenal sampai dengan saat ini,
yaitu Pan Islamisme, artinya persatuan seluruh ummat Islam.
Persoalannya

sekarang

adalah

apakah

pemikiran

Al-Afgani

tentang Pan Islamisme ini masih relevan sampai dengan saat ini
ataukah tidak. Artinya apakah pemikiran Al-Afgani ini masih cocok
untuk diterapkan dalam dunia Islam yang nota bene nasionalisme
masing-masing negara sudah menguat dan mengental ditambah tidak
seluruhnya negara-negara muslim negaranya berdasarkan Islam.
Penulis menilai bahwa ide yang dilontarkan oleh Al-Afgani ini adalah
relevan pada masanya, namun demikian masih perlu diterjemahkan
ulang (diperbaharui substansinya) pada masa kini. Sebab menurut
penulis persatuan dunia Islam sebagaimana layaknya sebuah negara
Islam Internasional tidak memungkinkan untuk dilaksanakan lagi,
tetapi persatuan ummat Islam dalam arti bersatu untuk memberantas
pengaruh negatif dari negara-negara Barat dan adanya kesepakatan
bersama

untuk

saling

bantu

membantu

dalam

memberantas

kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan adalah sesuatu hal yang


mutlak dan sangat diperlukan oleh dunia Islam saat ini.

Cita-cita ataupun ide besar Al-Afgani tersebut mempengaruhi


pemikiran Muhammad Abduh (1849-1905) yang kemudian dilanjutkan
oleh muridnya Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935). Pikiran-pikiran
Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha mempengaruhi
pemikiran ummat Islam di seluruh dunia. Di Indonesia, pikiran-pikiran
Abduh ini sangat kental diikuti oleh antara lain Gerakan Sosial dan
Pendidikan Muhammadiyah yang didirikan oleh K. H. Ahmad Dahlan di
Yogyakarta tahun 1912. Hanya saja pikiran-pikiran Al-Afgani yanag
diikuti oleh Gerakan Sosial dan Pendidikan Muhammadiyah itu lebih
banyak pada substansi daripada konsep Pan Islamisme, bukan pada
pendirian negara islam internasionalnya.