Anda di halaman 1dari 4

Marianne Kasmirul Ramlan Sinaga

Jurnal KOMUNIKASI PENELITIAN

Volume 18 (2) 2006

UJI EFEK ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI DAUN RUKU RUKU (Ocimum sanctum L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus

Marianne dan Kasmirul Ramlan Sinaga *)

Abstract The isolation volatile oil from ruku-ruku’s leave by water and steam distillation and its anti microbial activity assay to Staphylococcus aureus. The isolation volatile oil has been carried out by water and steam distillation, than oil was separated from water. After that, oil was tested its anti microbial activity assay to Staphylococcus aureus with diffusion agar method by using disc paper. Volatile oil from 300 g ruku-ruku’s leave is 2, 43 ml. The result of microbial activity assay show that volatile oil in concentration 50% until 0,4% give inhibition zone to Staphylococcus aureus. Concentration 0,4% is equal to ampisilin trihidrat 150 mcg/ml with inhibition zone 8,0 mm. Minimum inhibition concentration from ampisilin trihidrat 140 mcg/ml is 7,1 mm.

2000). 1996).
2000).
1996).

Keywords: Ruku-ruku’s leave, Staphylococcus aureus, Water distillation, Steam distillation

A. PENDAHULUAN

intragastrik minyak atsiri daun pada marmot (0,5 ml/kg) dapat menghambat bronkhospasmus yang dipicu oleh histamine atau asetilkholin (Ditjen POM,

Tumbuhan ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) famili Labiatae termasuk terna atau perdu, biasanya bercabang banyak dan mempunyai bau khas aromatis, rasa agak pedas. Warnaya hijau sampai hijau kecoklatan (Ditjen POM, 2000). Nama lainnya kemangi hutan, lute (Maluku), lampes (Jawa), uku-uku (Nusa Tenggara) (Anonim, 1986).

Salah satu zat aktif yang dikandung oleh daun ruku-ruku adalah minyak atsiri yang disebut juga dengan minyak eteris, minyak terbang (volatile oil, essential oil) dan memiliki aroma yang sesuai dengan tumbuhan penghasilnya. Umumnya terdiri dari senyawa golongan monoterpen, seskuiterpen, dan fenilpropan (Chaudri,

Tumbuhan ini secara tradisional banyak digunakan sebagai obat kencing manis, sariawan, kurang darah, malaria, beri- beri, batuk, perut nyeri, dan bumbu masak (Anonim, 1986). Di Indochina, infus atau air rebusan digunakan untuk obat kolera, diare, gangguan sistem pencernaan, demam, dan sakit kepala (Perry, 1980). Air rebusan akar atau daun dapat digunakan untuk mengobati penyakit gonorhe. Jus daun digunakan sebagai karminatif, untuk obat rematik, obat diare, dan air rebusan daun digunakan untuk obat ginjal (Perry, 1980; Chaudhri, 1996). Di samping itu, daunnya mempunyai efek penghambatan terhadap bronkhospasmus terinduksi histamine, pada pemberian melalui saluran pernapasan dari 200 mg/kg ekstrak ettanol air (1:1). Pemberian secara

Berdasarkan uraian di atas, ternyata penggunaan daun ruku-ruku ini cukup banyak, maka pada penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap aspek mikrobiologi (uji aktivitas bakteri) menggunakan bakteri Staphylococcus aureus di mana bakteri ini merupakan salah satu penyebab penyakit pada saluran pencernaan dan pernafasan (Jawetz et al, 1987; Gupte, 1990).

Bakteri Staphylococcus aureus adalah anggota flora normal kulit manusia, saluran pernafasan, serta saluran pencernaan. Bakteri ini juga ditemukan secara teratur dalam udara dan lingkungan manusia. Staphylococcus

*) Departemen Farmasi FMIPA USU

39

Marianne Kasmirul Ramlan Sinaga

Jurnal KOMUNIKASI PENELITIAN

Volume 18 (2) 2006

aureus adalah sel berbentuk bola, gram positif, biasanya tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak teratur. Kuman ini mudah tumbuh pada berbagai perbenihan dan metabolismenya aktif, meragikan pigmen yang bervariasi dari putih sampai kuning tua. Staphylococcus aureus cepat menjadi resisten terhadap banyak zat antibakteri dan menyebabkan masalah pengobatan yang sulit. Pada penelitian ini apakah kandungan minyak atsiri dari daun ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) dapat diisolasi menggunakan destilasi air dan uap, dan apakah minyak atsiri hasil isolasi ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus penyebab infeksi (termasuk infeksi pada saluran cerna dan pernafasan).

Jalannya Penelitian

1. Isolasi minyak atsiri dari daun ruku-

ruku (Ocimum sanctum L.) dengan cara:

a. Pengambilan sampel Sampel yang diteliti adalah daun ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) yang tua dan segar, diambil dari daerah Tanjung Sari Kecamatan Medan Selayang, Medan. Pengambilan sample dilakukan secara purposif, yaitu tanpa membandingkan dengan daerah lain.

b. 2. 3. 4.
b.
2.
3.
4.

Pembuatan serbuk simplisia Daun ruku-ruku yang baru dipetik dibersihkan, dicuci, dan dikeringkan di udara terbuka (diangin- anginkan) selanjutnya dikeringkan dalam lemari pengering pada temperatur lebih kurang 40 0 C kemudian diserbuk.

B. METODOLOGI PENELITIAN

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah serbuk daun ruku-ruku (Ocimum sanctum L.), propilen glikol, ampisilin, trihidrat, media nutrien agar, muller hinton broth, muller hinton agar, dan bakteri Staphylococcus aureus strain ATCC 25923. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah autoklaf (Hiramaya HA-24), MEJA ASEPTIS (Sakura Seiki CCV- 881), inkubator (Memmert 191117), jarum ose, mikroskop (Olympus 438927), oven (Inventen), freeze dryer.

Pemberian minyak atsiri hasil isolasi dengan berbagai konsentrasi terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 pada media Mueller hinton agar (MHA).

Pemberian larutan ampisilin stearat (pembanding) dengan berbagai konsentrasi terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 pada media Mueller hinton agar (MHA). Pengamatan hasil kerja dari minyak atsiri dan larutan ampisilin stearat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan mengukur daerah jernih di sekeliling kertas cakram menggunakan mistar.

Uji Efek Antibakteri Minyak Atsiri Pada cawan petri steril yang telah berisi bakteri Staphylococcus aureus dimasukkan media muller hinton agar sebanyak 20 ml dengan suhu 45-50 0 C, kemudian digoyang pelan-pelan sampai rata, ditutup, dan dibiarkan sampai membeku. Kemudian di atasnya diletakkan kertas cakram lalu ditetesi dengan larutan minyak atsiri sebanyak stearat dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Selanjutnya, diinkubasi selama 2 jam pada suhu 37 0 C. Daerah hambatan pertumbuhan bakteri diukur sepanjang diameter daerah jernih yang menghambat pertumbuhan bakteri.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

Minyak atsiri yang diperoleh dari 30 g serbuk daun ruku-ruku dengan cara penyulingan air dan uap adalah sebanyak 2,43 ml. Hasil uji aktivitas antibakteri dari minyak atsirinya adalah sebagai berikut:

40

Marianne Kasmirul Ramlan Sinaga

Jurnal KOMUNIKASI PENELITIAN

Volume 18 (2) 2006

Tabel 1. Hasil Uji Antibakteri Minyak Atsiri Daun Ruku-Ruku terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Keterangan:

*

: Hasil rata-rata dari tiga kali pengamatan

-

: Tidak menunjukkan hambatan

Blanko

: Akuades steril

Pada Tabel 2 terlihat bahwa ampisilin trihidrat yang digunakan sebagai pembanding kerja terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 150 mcg/ml memberikan hambatan pertumbuhan dengan diameter 8,0 mm di mana ini sebanding dengan minyak atsiri daun ruku-ruku pada konsentrasi 0,4%. Hal ini menunjukkan bahwa komponen

minyak atsiri yang terdapat pada daun

ruku-ruku pada konsentrasi 0,4% memiliki

daya hambat pertumbuhan bakteri (bersifat antibakteri) sehingga diharapkan minyak daun ruku-ruku ini dapat digunakan dalam pengobatan saluran pencernaan atau pernafasan yang diakibatkan oleh bakteri Staphylococcus aureus.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) minyak atsiri daun ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus adalah 0,4% yang sebanding dengan ampisilin trihidrat 150 mcg/ml, di mana

diameter hambat yang diperoleh sebesar 8,0 mm. KHM ampisilin trihidrat terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah 140 mcg/ml dengan diameter hambat 7,1

Saran Disarankan untuk menentukan struktur minyak atsiri dari daun ruku-ruku (Ocimum sanctum L.) yang mempunyai aktivitas antibakteri tersebut.

E. DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (1986). Medical Herb Index in Indonesia. Palembang: PT. Eisai Indonesia. Hal. 333. Chaudhri, R. D. (1996). Herbal Drugs

Industry, A. Practical Approach to

Industrial Pharmacognosy.

No. Konsentrasi *Diameter Minyak Atsiri Hambatan (mm) (%) 1. 50 21,6 2. 25 19,3 3.
No.
Konsentrasi
*Diameter
Minyak Atsiri
Hambatan (mm)
(%)
1.
50
21,6
2.
25
19,3
3.
12,5
18,5
4.
6,25
16,0
5.
3,12
15,2
6.
1,56
12,9
7.
0,78
11,0
8.
0,4
8,0
9.
0,2
-
10.
0,1
-
11.
Blanko
-
Keterangan:
*
: Hasil rata-rata dari tiga kali
pengamatan
-
Blanko
: Tidak menunjukkan hambatan
: Propilen glikol
Pada Tabel 1 terlihat bahwa minyak atsiri
dari daun ruku- ruku dengan konsentrasi
50% memberikan diameter hambatan
yang cukup besar yaitu 21,6 mm dan
konsenrasi terkecil 0,4% memberrikan
hambatan 8,0 mm terhadap bakteri
Staphylococcus aureus. Semakin besar
diameter hambatan pertumbuhan bakteri
menunjukkan bahwa semakin banyak
kadar zat berkhasiat sebagai antibakteri
yang terkandung dalam minyak tersebut.
Hasil pengujian antibakteri terhadap
pembanding ampisilin trihidrat dapat
dilihat pada Tabel 2.
D.
Tabel 2. Efek Pemberian Pembanding
Ampisilin Trihidrat terhadap Bakteri
Staphylococcus aureus
mm.
 

Konsentrasi

*Diameter

No.

Ampisilin Trihidrat

Hambatan

(mcg/ml)

(mm)

1.

200

13,15

2.

190

12,4

3.

180

11,2

4.

170

10

5.

160

9,0

6.

150

8,0

7.

140

7,1

8.

130

-

9.

Blanko

-

41

Marianne Kasmirul Ramlan Sinaga

Jurnal KOMUNIKASI PENELITIAN

Volume 18 (2) 2006

First Edition. New Delhi: Eastern Publisher. Hal. 22–29, 52. Ditjen POM. (2000). Acuan Sediaan Herbal. Edisi Pertama. Jakarta: PT. Indofarma. Hal. 29–31. Gupte, S.M.D. (1990). Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Universitas Trisakti. Jawetz, W. (19910. Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan. Edisi 16, Jakarta: EGC.

Jawtez, E. Melnieck, J. L. Adelberg, E.A. (1987). Review of Microbilogy. 17 Ed. California: Appleton & Lange. Ketaren, S. (1985). Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta: Balai Pustaka. Perry, L. M. (1980). Medical Plant of East and Southeast Asia and Uses. England: MIT Press, Cambridge. Hal. 189.

Perry, L. M. (1980). Medical Plant of East and Southeast Asia and Uses . England: MIT

42