Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
Infeksi saluran napas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam
bidang kesehatan, baik di negara yang sedang berkembang maupun yang sudah
maju. Dari data SEAMIC Health Statistic 2001 influenza dan pneumonia
merupakan penyebab kematian nomor 6 di Indonesia, nomor 9 di Brunei, nomor 7
di Malaysia, nomor 3 di Singapura, nomor 6 di Thailand dan nomor 3 di Vietnam.
Laporan WHO 1999 menyebutkan bahwa penyebab kematian tertinggi akibat
penyakit infeksi di dunia adalah infeksi saluran napas akut termasuk pneumonia
dan influenza. Insidensi pneumonia komunitas di Amerika adalah 12 kasus per
1000 orang per tahun dan merupakan penyebab kematian utama akibat infeksi
pada orang dewasa di negara itu. Angka kematian akibat pneumonia di Amerika
adalah 10 %. Di Amerika dengan cara invasif pun penyebab pneumonia hanya
ditemukan 50%. Penyebab pneumonia sulit ditemukan dan memerlukan waktu
beberapa hari untuk mendapatkan hasilnya, sedangkan pneumonia dapat
menyebabkan kematian bila tidak segera diobati, maka pada pengobatan awal
pneumonia diberikan antibiotika secara empiris.
Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Depkes tahun 2001, penyakit infeksi
saluran napas bawah menempati urutan ke-2 sebagai penyebab kematian di
Indonesia. Di SMF Paru RSUP Persahabatan tahun 2001 infeksi juga merupakan
penyakit paru utama, 58 % diantara penderita rawat jalan adalah kasus infeksi dan
11,6 % diantaranya kasus nontuberkulosis, pada penderita rawat inap 58,8 %
kasus infeksi dan 14,6 % diantaranya kasus nontuberkulosis. Di RSUP H. Adam
Malik Medan 53,8 % kasus infeksi dan 28,6 % diantaranya infeksi
nontuberkulosis. Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya didapatkan data sekitar 180
pneumonia komunitas dengan angka kematian antara 20 - 35 %. Pneumonia
komunitas menduduki peringkat keempat dan sepuluh penyakit terbanyak yang
dirawat per tahun.
Pneumonia nosokomial atau hospital acquired pneumonia (HAP) adalah
pneumonia yang didapat di rumah sakit menduduki peringkat ke-2 sebagai infeksi

nosokomial di Amerika Serikat, hal ini berhubungan dengan peningkatan angka


kesakitan, kematian dan biaya perawatan di rumah sakit. Pneumonia nosokomial
terjadi 5-10 kasus per 1000 pasien yang masuk ke rumah sakit dan menjadi lebih
tinggi 6-20x pada pasien yang memakai alat bantu napas mekanis. Angka
kematian pada pneumonia nosokomial 20-50%. Angka kematian ini meningkat
pada pneumonia yang disebabkan P.aeruginosa atau yang mengalami bakteremia
sekunder. Angka kematian pasien pada pneumonia yang dirawat di istalansi
perawatan intensif (IPI) meningkat 3-10x dibandingkan dengan pasien tanpa
pneumonia. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa lama perawatan meningkat
2-3x dibandingkan pasien tanpa pneumonia, hal ini tentu akan meningkatkan
biaya perawatan di rumah sakit. Di Amerika Serikat dilaporkan bahwa lama
perawatan bertambah rata-rata 7-9 hari.
Angka kejadian pneumonia nosokomial di Jepang adalah 5 10 per 1000
kasus yang dirawat. Lebih kurang 10% pasien yang dirawat di IPI akan
berkembang menjadi pneumonia dan angka kejadian pneumonia nosokomial pada
pasien yang menggunakan alat bantu napas meningkat sebesar 20 30%. Angka
kejadian dan angka kematian pada umumnya lebih tinggi di rumah sakit yang
besar dibandingkan dengan rumah sakit yang kecil.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Pneumonia
Pneumonia adalah penyakit saluran napas bawah (lower respiratory tract
(LRT) akut, biasanya disebabkan oleh infeksi. Sebenarnya pneumonia bukan
penyakit tunggal. Penyebabnya bisa bermacam-macam dan diketahui ada sumber
infeksi, dengan sumber utama bakteri, virus, mikroplasma, jamur, berbagai
senyawa kimia maupun partikel. Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur,
walaupun manifestasi klinik terparah muncul pada anak, orang tua dan penderita
penyakit kronis.
2.2 Etiologi
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme yaitu
bakteri, virus, jamur, dan protozoa. Tabel di bawah ini memuat daftar
mikroorganisme dan masalah patologis yang menyebabkan pneumonia.
Infeksi Bakteri
Streptococcus
pneumoniae
Haemophillus influenza
Klebsiella pneumoniae
Pseudomonas aeruginosa
Gram-negatif (E. Coli)
Infeksi Virus
Influenza
Coxsackie
Adenovirus
Sinsitial respiratori

Infeksi Atipikal
Mycoplasma pneumoniae

Infeksi Jamur
Aspergillus

Legionella pneumophillia Histoplasmosis


Coxiella burnetii
Candida
Chlamydia psittaci
Nocardia
Infeksi Protozoa
Pneumocytis carinii
Toksoplasmosis
Amebiasis

Penyebab Lain
Aspirasi
Pneumonia lipoid
Bronkiektasis
Fibrosis kistik

2.3 Patogenesis
Dalam keadaan sehat, pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan
mikroorganisme, keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan
paru. Terdapatnya bakteri di paru merupakan akibat ketidakseimbangan antara
daya tahan tubuh, mikroorganisme dan lingkungan, sehingga mikroorganisme
dapat berkembang biak dan berakibat timbulnya sakit.
3

Masuknya mikroorganisme ke saluran napas dan paru dapat melalui


berbagai cara:
a.
b.
c.
d.

Inhalasi langsung dari udara


Aspirasi dari bahan-bahan yang ada di nasofaring dan orofaring
Perluasan langsung dari tempat-tempat lain
Penyebaran secara hematogen

2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Pneumonia


Diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya pneumonia yaitu:
a. Mekanisme pertahanan paru
Paru berusaha untuk mengeluarkan berbagai mikroorganisme yang
terhirup seperti partikel debu dan bahan-bahan lainnya yang terkumpul di
dalam paru. Beberapa bentuk mekanisme ini antara lain bentuk anatomis
saluran napas, reflex batuk, sistem mukosilier, juga sistem fagositosis yang
dilakukan oleh sel-sel tertentu dengan memakan partikel-partikel yag
mencapai permukaan alveoli. Bila fungsi ini berjalan baik, maka bahan
infeksi yang bersifat infeksius dapat dikeluarkan dari saluran pernapasan,
sehingga pada orang sehat tidak akan terjadi infeksi serius.. Infeksi saluran
napas berulang terjadi akibat berbagai komponen sistem pertahanan paru
yang tidak bekerja dengan baik.
b. Kolonisasi bakteri di saluran pernapasan
Di dalam saluran napas atau cukup banyak bakteri yang bersifat komnesal.
Bila jumlah mereka semakin meningkat dan mencapai suatu konsentrasi yang
cukup, kuman ini kemudian masuk ke saluran napas bawah dan paru, dan
akibat kegagalan mekanisme pembersihan saluran napas, keadaan ini
bermanifestasi sebagai penyakit. Mikroorganisme yang tidak menempel pada
permukaan mukosa saluran anaps akan ikut dengan sekresi saluran napas dan
terbawa bersama mekanisme pembersihan, sehingga tidak terjadi kolonisasi.
c. Pembersihan saluran napas terhadap bahan infeksius
Saluran napas bawah dan paru berulangkali dimasuki oleh berbagai
mikroorganisme dari saluran napas atas, akan tetapi tidak menimbulkan sakit,
ini menunjukkan adanya suatu mekanisme pertahanan paru yang efisien
sehingga

dapat

menyapu

bersih

mikroorganisme

sebelum

mereka

bermultiplikasi dan menimbulkan penyakit. Pertahanan paru terhadap bahan-

bahan berbahaya dan infeksius berupa reflex batuk, penyempitan saluran


napas, juga dibantu oleh respon imunitas humoral.
2.5 Epidemiologi
Insidensi tahunan: 5-11 kasus per 1.000 orang dewasa; 15-45% perlu di rawat
dirumah sakit (1-4 kasus), dan 5-10% diobati di ICU. Insidensi paling tinggi pada
pasien yang sangat muda dan usia lanjut. Mortalitas: 5-12% pada pasien yang
dirawat di rumah sakit; 25-50% pada pasien ICU (Jeremy, 2007). Di United
States, insidensi untuk penyakit ini mencapai 12 kasus tiap 1.000 orang dewasa.
Kematian untuk pasien rawat jalan kurang dari 1%, tetapi kematian pada pasien
yang dirawat di rumah sakit cukup tinggi yaitu sekitar 14%. Di negara
berkembang sekitar 10-20% pasien yang memerlukan perawatan di rumah sakit
dan angka kematian diantara pasien tersebut lebih tinggi, yaitu sekitar 30-40%. Di
Indonesia sendiri, insidensi penyakit ini cukup tinggi sekitar 5-35% dengan
kematian mencapai 20-50%.
2.6 Klasifikasi Pneumonia
a. Pneumonia yang didapat dari komunitas (community acquired pneumonia,
CAP): pneumonia yang didapatkan di masyarakat yaitu terjadinya infeksi
di luar lingkungan rumah sakit. Infeksi LRT yang terjadi dalam 48 jam
setelah dirawat di rumah sakit pada pasien yang belum pernah dirawat di
rumah sakit selama > 14 hari.
b. Pneumonia yang didapat dari rumah sakit (nosokomial): pneumonia yang
terjadi selama atau lebih dari 48 jam setelah masuk rumah sakit. jenis ini
didapat selama penderita dirawat di rumah sakit. Hampir 1% dari penderita
yang dirawat di rumah sakit mendapatkan pneumonia selama dalam
perawatannya. Demikian pula halnya dengan penderita yang dirawat di
ICU, lebih dari 60% akan menderita pneumonia.
c. Pneumonia aspirasi/anaerob: infeksi oleh bakteroid dan organisme anaerob
lain setelah aspirasi orofaringeal dan cairan lambung. Pneumonia jenis ini
biasa didapat pada pasien dengan status mental terdepresi, maupun pasien
dengan gangguan refleks menelan.
5

d. Pneumonia oportunistik: pasien dengan penekanan sistem imun (misalnya


steroid, kemoterapi, HIV) mudah mengalami infeksi oleh virus, jamur, dan
mikobakteri, selain organisme bakteria lain.
e. Pneumonia rekuren: disebabkan organisme aerob dan aneorob yang terjadi
pada fibrosis kistik dan bronkietaksis.
2.7 Faktor Risiko
Faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan peningkatan risiko pneumonia
antara lain usia > 65 tahun; dan usia < 5 tahun, penyakit kronik (misalnya ginjal,
dan paru), diabetes mellitus, imunosupresi (misalnya obat-obatan, HIV),
ketergantungan alkohol, aspirasi (misalnya epilepsi), penyakit virus yang baru
terjadi (misalnya influenza), malnutrisi, ventilasi mekanik, pascaoperasi,
lingkungan, pekerjaan, pendingin ruangan.
2.8 Diagnosis
Tujuannya adalah untuk menegakkan diagnosis, mengidentifikasi komplikasi,
menilai keparahan, dan menentukan klasifikasi untuk membantu memilih
antibiotika. Diagnosis pneumonia utamanya didasarkan klinis, sedangkan
pemeriksaaan foto polos dada perlu dilakukan untuk menunjang diagnosis,
diamping untuk melihat luasnya kelainan patologi secara lebih akurat.
a. Anamnesis
Keluhan utama yang sering terjadi pada pasien pneumonia adalah sesak
napas, peningkatan suhu tubuh, dan batuk. Pada pasien dengan pneumonia,
keluhan batuk biasanya timbul mendadak dan tidak berkurang setelah
meminum obat batuk yang biasanya tersedia di pasaran. Pada awalnya
keluhan batuk yang tidak produktif, tapi selanjutnya akan berkembang
menjadi batuk produktif dengan mucus purulen kekuning-kuningan, kehijauhijauan, dan seringkali berbau busuk. Pasien biasanya mengeluh mengalami
demam tinggi dan menggigil. Adanya keluhan nyeri dada, sesak napas,
peningkatan frekuensi pernapasan, lemas, dan kepala nyeri.
b. Gambaran Klinis
Gambaran klinis biasanya didahului oleh infeksi saluran napas akut bagian

atas selama beberapa hari, kemudian diikuti dengan demam, menggigil, suhu
tubuh kadang-kadang melebihi 40oC, sakit tenggorok, nyeri otot, dan sendi.
Juga disertai batuk, dengan sputum purulen, kadang-kadang berdarah
(Supandi, 1992). Pada pasien muda atau tua dan pneumonia atipikal
(misalnya Mycoplasma), gambaran nonrespirasi (misalnya konfusi, ruam,
diare) dapat menonjol.
c. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium tes darah rutin terdapat peningkatan sel
darah putih (White blood Cells, WBC) biasanya didapatkan jumlah WBC
3

15.000-40.000/mm , jika disebabkan oleh virus atau mikoplasme jumlah


WBC dapat normal atau menurun (Supandi, 1992; Jeremy, 2007). Dalam
keadaan leukopenia laju endap darah (LED) biasanya meningkat hingga
3

100/mm , dan protein reaktif C mengkonfirmasi infeksi bakteri. Gas darah


mengidentifikasi gagal napas (Jeremy, 2007). Kultur darah dapat positif pada
20-25% penderita yang tidak diobati. Kadang-kadang didapatkan peningkatan
kadar ureum darah, akan tetapi kreatinin masih dalam batas normal.
Gambaran radiologis pada pneumonia tidak dapat menunjukkan perbedaan
nyata antara infeksi virus dengan bakteri. Pneumonia virus umumnya
menunjukkan gambaran infiltrat intertisial dan hiperinflasi. Pneumonia yang
disebabkan oleh kuman Pseudomonas sering memperlihatkan adanya infiltrat
bilateral atau bronkopneumonia.
d. Pemeriksaan Radiologi
Pneumonia terlihat sebagai bayangan alveolus atau interstisium.
Pembentukan bayangan di alveolus atau pengisian rongga udara terlihat
sebagai konsolidasi, dalam kasus ini disebabkan oleh eksudat. Tanda-tanda
konsolidasi meliputi peningkatan densitas itu sendiri, tanda air bronchogram
dan tanda siluet. Air bronchogram adalah bronkus tampak jelas berisi udara
yang dikelilingi oleh paru yang mengalami konsolidasi atau kolaps.
2.9 Penatalaksanaan
Pasien pada awalnya diberikan terapi empirik yang ditujukan pada patogen
yang paling mungkin menjadi penyebab.

Pilihan antibiotik dapat berupa

antibiotik tunggal, dipilih yang paling cocok diberikan pada pasien pneumonia
komunitas yang asalnya sehat dan gambaran klinisnya sugestif disebabkan oleh
tipe kuman tertentu. Dapat pula diberikan kombinasi antibiotik dengan maksud
untuk mencakup spektrum kuman-kuman yang dicurigai, untuk meningkatkan
aktivitas spektrum, dan pada infeksi jamak. Antibiotik yang diberikan adalah
antibiotik spektrum luas, yang kemudian sesuai hasil kultur diubah menjadi
antibiotic spectrum sempit. Lama pemberian terapi ditentukan berdasarkan adanya
penyakit penyerta dan/atau bakteriemi, beratnya penyakit pada onset terapi dan
perjalanan penyakit pasien. Umumnya terapi diberikan selama 7-10 hari. Untuk
infeksi M. pneumoniae dan C. pneumoniae selama 10-14 hari, sedangkan pada
pasien dengan terapi steroid jangka panjang selama 14 hari atau lebih.
Pada terapi pneumonia komunitas rawat inap, proses perbaikan akan terlihat 3
tahap yaitu pada saat pemberian antibiotik selama 3 hari akan terlihat pasien stabil
secara klinik, kemudian terlihat perbaikan keluhan dan tanda fisik serta nilai
laboratorium. Pada fase ketiga terlihat penyembuhan dan resolusi penyakit. Bila
belum ada respons yang baik dalam 72 jam, lakukan semua evaluasi terhadap
adanya kemungkinan pathogen yang resisten, komplikasi atau penyakitnya bukan
pneumonia.
Terdapat 4 klasifikasi pemberian terapi pada pneumonia yaitu:
1. Pasien berobat jalan tanpa riwayat penyakit jantung paru dan tanpa adanya
faktor risiko perubah, diberi antibiotik golongan makrolid baru atau
doksisiklin
2. Pasien berobat jalan dengan penyakit jantung paru dengan/tanpa faktor
perubah diberi antibiotik golongan B-laktam, atau seftriakson iv
diteruskan sefodoksim per oral ditambah makrolid baru atau golongan
fluoroquinolon saja.
3. Pasien rawat RS diluar ICU yang menderita penyakit jantung paru yang
digolongkan menjadi dengan faktor perubah dan tanpa penyakit jantung
atau faktor perubah lainnya diberi antibiotik golongan B-laktam iv
ditambah makrolid iv/peroral atau azytromisin iv atau doksisiklin dan
laktam atau fluoroquinolon saja.
4. Pasien dirawat di ICU tanpa risiko untuk Ps. Aeruginosa dan dengan risiko
terhadap

Ps.

Aeruginosa

diberi

antibiotik

golongan

laktam

antipseudomonas iv ditambah siprofloksasin iv atau laktam iv ditambah


aminoglikosida ditambah salah satu azytromisin iv atau siprofloksasin iv.
Untuk pneumonia nosokomial, dapat diberikan terapi sebagai berikut
a. Terapi empirik antibiotik awal untuk pneumonia nosokomial atau
pneumonia berhubungan dengan ventilator yang tidak disertai faktor risiko
untuk patogen resisten jamak, onset dini pada semua tingkat berat sakit.
Patogen Potensial

Antibiotika yang disarankan

S. Pneumonia

Ceftriaxone

H. Influenza

Atau

Gram (-) sensitif antibiotik :

Levofloksasin, moksifloksasin atau


ciproflokasasin

Escherichia coli
Atau

K.pneumoniae
Enterobacter spp.
Serratia marcescens

Ampisilin/ sulbaktam
Atau Ertapenem

b. Terapi empirik antibiotik awal untuk pneumonia nosokomial atau


pneumonia berhubungan dengan ventilator untuk semua derajat penyakit
pada pasien dengan onset lanjut atau terdapat faktor risiko patogen MDR.

Suspek Patogen

Antibiotika yang disarankan

Patogen seperti tabel di atas dan

Sefalosporin antipseudomonas

patogen resisten AB jamak :

(cefepime, ceftazidime)

Ps. Aeruginosa
K. pneumoniaw

atau

Acinobacter spp
Methicillin sensitif aureus

Carbepenem antipseudomonas
(imipenem atau meropenem)
Atau

Gram (-) sensitif antibiotik :

B-laktam/B- laktamase inh


(piperasilin- tazobaktam)

Escherichia coli
Plus

K.pneumoniae
Enterobacter spp.
Proteus spp.
Serratia marcescens

Kuinolon antipseudomonas
(Ciprofloksasin atau levofloksasin)
Atau
Aminoglikosida (amikasin,
gentamisin, tobramisin) Plus

methicillin resisten Staph. Aureus


Linezolid atau vankomisin
Legionella (jika dicurigai)
Makrolid (azithromisin) atau
fluoroquinolon
c. Dosis intravena awal antibiotika untuk terapi empirik pada pneumonia
nosokomial, pneumonia yang berhubungan dengan ventilator, dan
pneumonia pada perawatan kesehatan pada pasien onset lanjut atau dengan
faktor risiko patogen resisten antibiotika jamak.
Antibiotik

Dosis

Sefalosporin antipseudomonas

Cefepime
Ceftazidime

1-2 gram tiap 8-12 jam


2 gram tiap 8 jam

10

Carbapenem :

Imipenem
Meropenem

0,5 gr tiap 6 jam / 1 gr tiap 12 jam


1 gram tiap 8 jam

B- laktam / B- laktamase inh :

Piperasilin tazobaktam

4,5 gram tiap 6 jam

Aminoglikosida :

Gentamisin
Toramisin
Amikasin

7 mg/kg/hari
7 mg/kg/hari
20 mg/kg/hari

Kuinolon antipseudomonas

Levofloksasin
Ciprofloksasin

750 mg/ hari


400 gram/ 8 jam

Vankomisin

15 mg/ kg/ 12 jam

Linezolid

600 mg/ 12 jam

Untuk terapi suportif, dapat dilakukan penatalaksanaan sebagai berikut:


1. Terapi oksigen untuk mempertahankan PaO2 80-90% atau saturasi 9596%
2.

Humidifikasi dengan nebulizer untuk pengenceran dahak yang kental


dapat disertai pemberian bronkodilator bila terdapat bronkospasme.

3.

Fisioterapi dada untuk pengeluaran dahak, khususnya anjuran untuk batuk


dan napas dalam.

11

4.

Posisi tidur setengah duduk

5.

Pengaturan cairan

6.

Ventilasi mekanis

7.

Drainase empiema bila ada

8.

Nutrisi cukup kalori


2.10 Komplikasi
Dapat terjadi komplikasi pneumonia ekstrapulmoner, misalnya pada
pneumonia pneumokokkus dengan bakteriemi dijumpai pada 10% kasus
berupa meningitis, arthritis, endokarditis, perikarditis, peritonitis dan
empiema. Terkadang dijumpai komplikasi ekstrapulmoner noninfeksius bisa
dijumpai yang memperlambat resolusi gambaran radiologi paru, antara lain
gagal ginjal, gagal jantung, emboli paru atau infark paru, dan infark miokard
akut. Dapat terjadi komplikasi lain berupa acute respiratory distress
syndrome (ARDS), gagal organ jamak, dan komplikasi lanjut berupa
pneumonia nosokomial.
2.11 Pencegahan
Pada pneumonia komunitas, semua pasien >65 tahun atau dengan risiko
pneumonia dan orang yang belum pernah mendapatkan vaksin pneumococcus
harus diberikan 23-valent pneumococcal polysaccharide vaccine (23-PPV). Dapat
pula diberikan orang berusia 19-64 tahun yang merupakan perokok atau menderita
asma, dan anak berusia 2 tahun/lebih dengan risiko penyakit tinggi (HIV, sickle
cell anemia). PCV 13 (Pneumococcal conjugate vaccine) dianjurkan untuk anak
<5 tahun dan dewasa > 19 tahun atau lebih. Seluruh pasien dengan pneumonia
komunitas juga disarankan untuk berhenti merokok.
Pada pneumonia nosokomial dilakukan tindakan pengawasan dan
pengontrolan infeksi.
Faktor yang

Tindakan yang dilakukan

12

mempengaruhi
Faktor inang

Faktor alat

Nutrisi adekuat
Reduksi/penghentian terapi imunosupresif
Cegah ekstubasi yang tidak direncanakan
Tempat tidur yang kinetik
Spirometer insentif, nafas dalam, kontrol rasa nyeri
Mengobati penyaki dasar
Menghindari penghambat histamine tipe 2 dan

antasida.
Kurangi obat sedatif dan paralitik
Hindari overdistensi lambung
Hindari intubasi dan reintubasi
Pencabutan slang endotrakeal dan nasogastrik yang

terencana
Posisi duduk
Jaga saluran ventilator bebas dari kondensasi
Tekanan ujung slang endotrakheal > 20 cmH2O
(menjaga kebocoran patogen ke saluran napas

Faktor lingkungan

bawah)
Aspirasi sekresi epiglotis yang kontinyu
Pendidikan
Menjaga prosedur pengontrol infeksi oleh staf
Program pengontrolan infeksi
Mencuci tangan, desinfektasi peralatan

2.12 Prognosis
1. Pneumonia Komunitas
Kejadian PK di USA adalah 3,4-4 juta kasus pertahun, dan 20%
diantaranya perlu dirawat di RS. Secara umum angka kematian pneumonia
oleh pneumokokkus adalah sebesar 5% namun dapat meningkat pada orang
tua dengan kondisi yang buruk. Pneumonia dengan influenza di USA
merupakan penyebab kematian nomor 6 dengan kejadian sebesar 59%.
Seagian besar pada lanjut usia yaitu sebesar 89%. Mortalitas pasien
pneumonia komunitas yang dirawat di ICU adalah sebesar 20%. Mortalitas
yang tinggi ini berkaitan dengan faktor perubah yang ada pada pasien.

13

Bakteri Penyebab
Pneumokokkus

Faktor Perubah
yang Usia > 65 tahun
resisten penisilin dan obat Pengobatan B-lactam dalam 3 bulan
terakhir
lain
Alkoholisme
Penyakit
imunosupresif
(termasuk

Patogen gram negatif

Pseudomonas aeruginosa

pengobatan dengan kortikosteroid)


Penyakit penyerta yang multipel
Kontak pada klinik lansia
Tinggal di rumah jompo
Penyakit kardiopulmonal penyerta
Penyakit penyerta yang jamak
Baru
selesai
mendapatkan
terapi

antibiotika
Penyakit paru struktural (bronkiektasis)
Terapi
kortikosteroid
(>10
mg
prednisone/hari)
Terapi antibiotik spectrum luas>7 hari
pada bulan sebelumnya
Malnutrisi

2. Pneumonia Nosokomial
Angka mortalitas pneumonia nosokomial dapat mencapai 33-50% yang
bisa mencapai 70% bila termasuk yang meninggal akibat penyakit dasar yang
dideritanya. Penyebab kematian biasanya adalah akibat bakteriemi terutama
oleh Ps. Aeruginosa atau Acinobacter spp.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2003. Pneumonia Komunitas, Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan
di Indonesia. Jakarta: Perimpunan Dokter Paru Indonesia.
Anonim. 2003. Pneumonia Nosokomial, Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan
di Indonesia. Jakarta: Perimpunan Dokter Paru Indonesia.

14

Briggs, Greg. 2012. Buku Saku Foto Roentgen Dada Edisi 2. Jakarta: EGC.
Dahlan, Zul. 2009. Pneumonia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi V
JIlid III. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen IPD FKUI.
Kumar, V; Cotran, RS dan Stanley L. Robbins. 2004. Buku Ajar Patologi Robbins
Edisi 7 Volume 2. Jakarta: EGC.

15