Anda di halaman 1dari 9

KRITERIA DAN TEKNIK KEABSAHAN DATA

A. Pendahuluan
Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep kesahihan
data (validitas)dan keandalan (realibilitas)menurut aliran postivisme.dalam
pandangan aliran naturalistic tidak menggunakan istilah tersebut akan tetapi Lincon
dan Guba (1981:28) menyatakan bahwa dasar kepercayaan yang berbeda mengarah
tuntutan pengetahuan (knowledge) dan criteria yang berbeda. Dengan kata lain kita
tidak dapat mengukur baju dengan liter, .berdasarkan hal-hal tersebut maka paradigm
alamiah menggunkan criteria tertentu yang tentunya disesuaikan dengan tuntutan
inkuirinya sehingga pendevinisian kembali criteria tersebut merupakan tuntutan yang
tidak dapat dielakkan. Pendefinisian kembali itu mengarah pada teknik control atau
pengawasan terhadap keabsahan data yang perlu pula direformulasikan.
B. Pemeriksaan Keterpercayaan (Trustworthiness) Data
Untuk menetapkan keabsahan (trustworthiness)data diperlukan teknik pemeriksaan .
pelaksanaan teknik pemeriksaaan didasarkan atas sejumlah criteria tertentu. Ada empat
criteria yang digunakan yaitu derajat kepercayaaan (Credibelity), keteralihan
(transferability),Kebergantungan (dependability). Dan kepastian (Confirmability).
1. Derajat kepercayaan (credibility).
Kriterium ini berfungsi : pertama , melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga
tingkat kepercayaan penemuanya dapat tercapai.Kedua, mempertunjukan derajat
kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada
kenyataan ganda yang sedang diteliti.
2. Keteralihan (Transferability),
Keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesamaan antara konteks
pengirim dan penerima. Untuk melakukan pengalihan tersebut seorang peneliti
mencari dan menggumpulkan kejadian empiris tentang kesamaan konteks. Dengan
demikian peneliti bertanggung jawab untuk menyediakan data deskriptif secukupnya

jika ia ingin membuat keputusan tentang pengalihan tersebut. Untuk keperluan itu
peneliti harus melakukan penelitian kecil untuk memastiksn usaha verifikasi tersebut.
3. Kebergantungan
Konsep kebergantungan lebih luas dari pada realibilitas . hal tersebut disebabkan
peninjauan yang dari segi bahwa konsep itu diperthitungkan segala-galanya yaitu yang
ada pada realibilitas itu sendiri ditambah factor-faktor lainya yang tersangkut.
4. Kriteria Kepastian (confirmability),
Objektivitas subjektivitasnya sesuatu hal bergantung pada orang seorang, menurut
Scriven(1971). Selain itu masih ada unsure kualitas yang melekat pada konsep
objektivitas itu. Hal itu digali dari pengertian bahwa jika sesuatu itu objek , berarti
dapat dipercaya, factual, dan dapat dipastikan.subjektif berarti tidak dapat dipercaya,
atau menceng. Pengertian terakhir inilah yang dijadikan tumpuan pengalihan
pengertian objektivitas-subjektivitas menjadi kepastian.
C. Teknik Pmeriksaaan Keabsahan data
No

Kriteria

Teknik Pemeriksaan

Kredibilitas

1). Perpanjangan keikut


sertaan
2) ketekukan pengamatan
3)Trianggulasi
4)Pengecekan sejawat
5) Kecukupan referensi
6) Kajian kasus negative

7) Pengecekan Anggota

Keteralihan

8) Uraian Rinci

Kebergantungan

9) Audit Kebergantungan

Kepastian

10) Audit kepastian

A. Kriteria Kredibilitas dengan teknik pemeriksaan Sbb;


1. Perpanjangan Keikutsertaan
Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Keikutertaan
tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan
keikutsertaan peneliti pada latar penelitian. Perpanjangan keikutsertaan peneliti akan
memungkinkan meningkatkan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan. Hal
tersebut penting artinya karena penelitian kualitatif berorientasi pada situasi,sehingga
dengan perpanjangan keikutsertaaan dapat memastikan apakah kontek itu dipahami
dan dihayati. Disamping itu membangun kepercayaan antara subjek dan peneliti
memerlukan waktu yang cukup lama
2. Ketekunan Pengamatan
Ketekunan pengamatan dimaksudkan menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam
situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian
memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Dengan kata lain jika perpanjangan
keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan
kedalaman.
3. Trianggulasi
Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabahan data yang memanfaatkan sesuatu
yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding
terhadap data itu. Teknik trianggulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan
melalui sumber lainya. Denzim(1978) membedakan empat macam trianggulasi sebagi
teknik pemeriksaaan yang memanfaatkan sumber, metode, penyidik dan teori.

a.

Trianggulasi dengan sumber

berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yag
diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif (Patton
1987:331) hal tersebut dapat dicapai melalui:
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara,
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang
dikatakanya secara pribadi,
3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian
dengan apa yang dikatakanya sepanjang waktu,
4. Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai pendapat
dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menegah
atau tinggi , orang berada , orang pemerintahan;
5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
b.

Trianggulasi degan metode ,

menurut (Patton 1987:331) terdapat dua strategi,yaitu:


1) pengecekkan derajat kepercayaaan menemukan hasil penelitian beberapa teknik
penggumpulan data dan
2) Pengecekan derajat kepercayaan bebrapa sumber data dengan metode yang
sama.
c.

Trianggulasi dengan penyidik

Adalah dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan
pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamat lainya
membantu menggurangi kemencengan dalam pegumpulan data.
d.

Trianggulasi dengan teori,

menurut Lincon dan Guba(1981:307), berdasarkan anggapan bahwa fakta tertentu tidak
dapat diperiksa derajat kepercayaanya dengan satu atau lebih teori. Dipihak lain Patton

juga berpendapat yaitu, bahwa hal itu dapat dilakukan dan hal itu dinamakan
penjelasan banding (rival exsplanations)
4. Pemeriksaan Sejawat melalui diskusi
Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang
diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.adapun
maksudnya adalah sbb;
a.Untuk membuat agar peneliti tetap mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran.
Dalam diskusi analitik tersebut kemencengan peneliti disingkap dan pengertian
mendalam ditelah yang nantinya menjadi dasar bagi klarifikasi penafsiran.
b. diskusi dengan teman sejawat memberikan kesempatan awal yang baik untuk
menjaajaki dan menguji hipotesis yang muncul dari pemikiran peneliti. Ada
kemungkina hipotesis yang muncul dalam benak peneliti sudah dapt dikonfirmasikan ,
tetapi dalam diskusi analitik ini mungkin sekali dapat terungkap segi-segi lainya justru
membongkar pemikiran peneliti.sekiranya peneliti tidak dapat mempertahankan
posisinya , mak dia perlu mempertimbangkan kembali arah hipotesisnya itu.
5. Kajian kasus negatif
Kajian kasus negatif dilakukan dengan jalan menggumpulkan contoh dan kasus yang
tidak sesuai dengan pola dan kecendrungan informasi yang telah dikumpulkan dan
digunakan sebagi bahan pembanding. Kasus negative digunakan sebagi kasus negatif
untuk memjelaskan hipotesis alternative sebagi upaya meningkatkan argumentasi
penemuan.
6.Kecukupan referensial
Kecukupan referensial mula-mula diusulkan oleh Eisner (1975) dalam Lincon dan GUba
, 1981:313) sebagi alat untuk menampung dan menyesuaikan dengan kritik tertulis
untuk keperluan evaluasi , Film atau video-tape, dapat digunakan sebagi alat perekam
pada saat senggang dapat dimanfaatkan untuk membandingkan hasil yang diperoleh
dengan krirtik yang terkumpul. Jadi bahan-bahan yang tercatan dan terekam dapat

digunakan sebagi patokan untuk menguji sewaktu diadakan analisis dan penafsiran
data.
7. Pengecekan Anggota.
Pengecekan dengan anggota yang terlibat dalam proses penggumpulan data sangat
penting dalam memeriksa derajat kepercayaaan, yang dicek dengan anggota yang
terlibat meliputi data, kategori analitis, penafsiran dan kesimpulan.
Tanggapan bertujuan untuk menghindari salah tafsir terhadap jawaban dan perilaku
Informan atau Responden.
8. URAIAN RINCI (THICK DESCRIPTION)
Uraian rinci merupakan usaha membangun keteralihan dalam penelitian kualitatif
dilakukan dengan cara uraian rinci (Thick description )keteralihan tergantung pada
pengetahuan sseorang peneliti tentang konteks pengertian da konteks penerimaan.
9.

Auditing (Audit kebergantungan dan Audit kepastian)

Auditing adalah konsep bisnis, khususnya di bidang fiskal yang dimanfaatkan untuk
memeriksa kebergantungan dan kepastian data. Hal itu dilakukan baik terhadap proses
maupun terhadap hasil atau keluaran. Penelusuran audit (audit trail) tidak dapat
dilaksanakan apabila tidak dilengkapi dengan catatan-catatan pelaksanaan keseluruhan
proses dan hasil studi. Pencatatan pelaksanaan itu perlu diklasifikasikan terlebih dahulu
sebelum auditing itu dilakukan sebagaimana yang dilakukan auditing fiskal.
Klasifikasi itu dapat dilakukan seperti yang diselanggarakan oleh Halpern (1 983, dalam
Licoln dan Guba, 1985:319-320) sebagai berikut :
a.
Data mentah, termasuk bahan yang direkam secara elektronik, catatan lapangan
tertulis, dokumen, foto, dan semacamnya serta hasil survei
b. Data yang direduksi dan hasil analisis data, termasuk didalamnya penulisan secara
lengkap catatan lapangan, ikhtisar catatan

c.
Rekonstruksi data dan hasil sintesis, termasuk didalmnya struktur kategori: tema,
definisi dan hubungan-hubungannya, temuan dan kesimpulan, dan laporan akhir
d. Catatan tentang proses penyelenggaraan, termasuk didalmnya catatan metodologi:
prosedur, desain, strategi, rasional; catatan keabsahan data : berkaitan dengan derajat
kepercayaan, kebergantungan, kepastian dan penelusuran audit
e.
Bahan yang berkaitan dengan maksud dan tujuan, termasuk usulan penelitian,
catatan pribadi
f.
Informasi tentang pengembangan instrument, termasuk berbagai formulir yang
digunakan untuk penjajakan, jadwal survei, jadwal pendahuluan, format pengamat dan
survei.
Proses auditing dapat mengikuti langkah-langkah seperti yang disarankan oleh
Halpern, yaitu: pra-entri, penetapan hal-hal yang dapat di audit, kesepakatan formal
dan terakhir penentuan keabsahan data.
a.

Pra entri

Pada tahap pra entri, sejumlah pertemuan diadakan oleh auditor dengan auditi (dalam
hal ini peneliti) dan berakhir pada usaha meneruskan, mengubah seperlunya, atau
menghentikan pelaksanaan usulan auditing. Sesudah itu auditi memilih auditor yang
potensial untuk melaksanakan auditing itu.
b.

Tahap penetapan dapat tidaknya diaudit

Tugas auditi ialah menyediakan segala macam pencatatan yang diperlukan dan bahanbahan penelitian yang tersedia seperti yang sudah dikemukakan klasifikasinya. Selain
itu ia hendaknya menyediakan waktu secukupnya untuk keperluan mengadakan
konsultasi jika hal itu diperlukan.
Di pihak lain, auditor ialah memperlajari seluruh bahan yang tersedia. Sesudah itu ia
meminta penjelasan-penjelasan seperlunya tentang apa yang belum dipahaminya secara
mantap. Pada tahap ini auditor harus pula membuat ketetapan tentang studi yang
sedang atau telah selesai dilaksanakan. Jika studi sedang berjalan, saran keputusannya

hendaknya menegaskan agar dapat diteruskan, dihentikan sementara, atau dihentikan


sama sekali.
c.

Tahap kesepakatan resmi (formal)

Pada tahap ini auditor dan auditi mengadakan persetujuan tertulis tentang apa yang
telah dicapai oleh auditor. Persetujuan yang dilakukan hendaknya mencakup batas
waktu pelaksanaannya, tujuan pelaksanaan audit berkaitan dengan kebergantungan
atau kepastian, penjabaran peranan yang akan dimainkan, baik oleh auditor maupun
auditi, penyusunan logistik yang diperlukan seperti waktu, tempat, bantuan material
yang diperlukan, dan sebagainya, penetapan format yang dibutuhkan sebagai kerangka
dan isi laporan auditor dan kriteia perundingan kembali jika diperlukan apabila auditor
itu melenceng, keliru atau salah.
d.

Tahap penentuan keabsahan

Tahap ini merupakan tahap terpenting. penelusuran audit meliputi pemeriksaan


terhadap kepastian maupun terhadap kebergantungan. Jika auditor telah selesai dalam
mengerjakan tahap-tahap pemeriksaan kepastian maka dia sudah siap mengambil
keputusan tentang keseluruhan kepastian studi, yang berkaitan dengan sejauhmana
data dan penfsirannya didasarkan atas data daripada hanya sebagai usaha konstruksi
sendiri. Sama halnya ketika selesai dalam tahap-tahap kebergantungan, maka dia kini
sudah siap mengakhiri pemeriksaan tentang ketergantungan.
Tahap terakhir rentetan auditing ini ialah mengakhiri auditing itu sendiri. Pada tahap
ini ada dua hal yang perlu dikerjakan oleh auditor, yaitu memberikan umpan balik dan
berunding dengan auditi, yaitu si peneliti itu sendiri dan menuliskan laporan hasil
pemeriksaannya. Sebelum seluruh penyusunan lapoan diakhiri, sesuai dengan haknya,
auditi berhak mempelajari isi laporan tersebut terlebih dahulu. Hasil penelaahan auditi
dibicarakan dan dibahas bersama. Maksudnya ialah agar auditi dapat mengetahui
bahwa langkah-langkah yang ada dalam perjanjian telah dilakukan seluruhnya. Jika
dari sisi auditi terlihat adanya kekeliruan, hal itu dapat dibicarakan untuk kemudian
diperbaiki. Dalam hal keduanya tidak terdapat kesesuaian pendapat auditor tetap
berhak untuk meenyajikan laporannya, sedangkan auditi dapat memberikan catatan
khusus mengenai hal itu. Jika proses ini telah dilaksanakan, maka perundingan tentang

temuan auditing dibicarakan, apasaja kekurangannya dan bagaimana cara


mengatasinya