Anda di halaman 1dari 6

Teknologi Tepat Guna dalam Penyediaan Air

Bersih dan Sanitasi


1 Reply

Dalam penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan, berikut ini beberapa pilihan teknologi tepat
guna yang dapat diterapkan (Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya,
1999).

Pilihan Teknologi Penyediaan Air Bersih


Penerapan teknologi tepat guna dalam penyediaan air bersih dapat dikelompokkan dalam 2
sistem, yaitu sistem perorangan dan sistem kelompok. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktorfaktor sebagai berikut : ketersediaan sumber air baku, bahan bangunan setempat (misal pipa) dan
sumber energi (tenaga listrik). Sistem perorangan (non perpipaan) dilaksanakan untuk suatu
permukiman penduduk yang terpencar, yang sarananya dipergunakan bagi satu keluarga/rumah
tangga. Jenis teknologi sistem perorangan ini dapat berupa saringan rumah tangga. Sedangkan
penyediaan air bersih untuk penduduk yang berkelompok dilaksanakan melalui pengadaan
bangunan IPAS dengan pelayanan melalui sistem perpipaan kran umum atau sambungan rumah.
Instalasi yang dapat dibangun berupa : Bangunan Perlindungan Mata Air (PMA), bangunan
Saringan Pasir Lambat (SPL), bangunan Instalasi Pengolahan Air Sederhana (IPAS) yang
merupakan gabungan Saringan Kasar dan Saringan Pasir Lambat (SKSPL), bangunan pipa sadap
pada jaringan pipa distribusi yang ada, dan lain sebagainya. Tabel 11 mendeskripsikan
karakteristik beberapa jenis teknologi penyediaan air bersih yang dapat digunakan.
Tabel 11. Deskripsi Teknologi Penyediaan Air Bersih (Departemen Permukiman dan
Prasarana Wilayah, 2003)
N Jenis
Deskripsi
o Sarana
1 Instalasi Pengolahan Air Sederhana (IPAS)
Definisi Bangunan pengolahan air berupa bak-bak saringan horisontal dikombinasikan
dengan saringan lambat, mampu mengolah air baku menjadi air bersih untuk
pelayanan secara komunal.
Sasaran Melayani 500-1000 penduduk berkelompok
Untuk permukiman di sepanjang saluran irigasi
Syarat
Kapasitas pengolahan maksimam 0,3 lt/detik
Umum Bangunan IPAS harus kedap air.

Syarat
Teknis

Penempatan lokasi IPAS harus bebas dari genangan air.


IPAS harus terjamin dalam kontinuitas pengolahan air bersih.
Partisipasi masyarakat dan pengurus LKMD setempat dalam pelaksanaan
pembangunan IPAS.
Harus ada pengelola IPAS, yang sebelumnya mendapatkan pelatihan tentang IPAS
Mengolah air baku dengan kekeruhan sekitar 150 NTU 200 NTU
Unit-unit pengolahan terdiri dari: intake, kolam penampung, saringan penyadap,
sumur pengumpul, pompa, saringan kasar naik turun dan saringan pasir lambat
Sistem pengaliran:

Intake sampai sumur pengumpul menggunakan sistem gravitasi

Dari sumur pengumpul sampai SKNT menggunakan sistim pemompaan

SKNT ke SPL menggunakan sistem gravitasi

2 Saringan Rumah Tangga (SARUT)


Definisi Pengolahan air berupa drum saringan pasir lambat
Sasaran Rumah-rumah terpencar
Daerah-daerah dengan air tanah mengandung material halus (suspended solid)
Permukiman di sepanjang sungai
Syarat
Wadah SARUT harus dari bahan yang tidak bocor
Umum Penempatan SARUT diusahakan dekat dengan sumber air
Lokasi tempat SARUT harus bersih dari semak-semak dan tumbuhan lain
Penggunaan peralatan dan bahan-bahan sesuai dengan peraturan yang berlaku
Ada partisipasi masyarakat untuk dan melaksanakan pembuatan, pengoperasian
dan pemeliharaan SARUT
Pemilihan jenis SARUT sesuai dengan karakteristik sumber air baku (kuantitas
dan kualitas).
Jenis : saringan karbon aktif dari tempurung kelapa, saringan arang sekam, dll.
Syarat
Tipe I, untuk air baku dari air permukaan dengan tingkat kekeruhan rendah
Teknis
(kedalaman > 50 cm, dicelupkan lempengan putih 10 cm x 10 cm masih dapat
terlihat)
Tipe II, untuk air baku dari air permukaan dengan tingkat kekeruhan sedang (pada
kedalaman 50 cm, dicelupkan lempengan putih 10 cm x 10 cm masih dapat
terlihat)
Tipe III, untuk air baku dari air permukaan dengan tingkat kekeruhan tinggi (pada
kedalaman 50 cm cm, dicelupkan lempengan putih 10 cm x 10 cm tidak dapat
terlihat)
Tipe IV, untuk air baku dari air tanah yang mengandung zat besi atau Fe dan Mn
atau mangan

3 Penampungan Air Hujan (PAH)


Definisi Bangunan penampung air hujan
Sasaran Daerah dengan sumber air baku air hujan
individu atau kolektif sesuai kondisi
Syarat
PAH harus kedap air
Umum Penempatan PAH harus dapat menampung air hujan dan air bersih dari PDAM
yang didistribusikan melalui mobil-mobil tangki
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan
PAH
Lokasi tempat PAH dipilih pada derah-daerah kritis dengan curah hujan yang
cukup
Dilaksanakan oleh tenaga kerja yang terampil sebagai tukang
Operasi dan pemeliharaan diserahkan sepenuhnya kepada pemakai air bersih
Dana sepenuhnya dibiayai oleh masyarakat pemakai air
Terjaminnya kontinuitas dan kuantitas air serta kualitas memenuhi syarat
kesehatan
Teknologi yang dipergunakan untuk pengoperasian dan pemeliharaan PAH harus
mudah dimengerti oleh masyarakat pemakai air.
4 Hydran Umum (HU)
Definisi Sistem penyediaan air untuk kelompok
Sasaran Melayani penduduk sekitar 100 orang
5 Sambungan Rumah
Definisi Sambungan perpipaan perseorangan yang menghubungkan sumber air bersih
langsung ke rumah yang dilayani
Sasaran Penduduk dengan wilayah terpencar, lahan yang tersedia untuk kran umum relatif
terbatas
Pilihan Teknologi Bidang Sanitasi
Teknologi tepat guna dalam bidang sanitasi dilakukan dengan sistem pembuangan setempat.
Pelaksanaannya diawali dengan kegiatan prakondisi sosial atau persiapan masyarakat melalui
penyuluhan kesehatan, karena kebiasaan penduduk dalam bidang sanitasi akan mempengaruhi
jenis prasarana yang dibangun.
Teknologi dalam bidang sanitasi di antaranya jamban keluarga, jamban jamak, MCK, SPAL, dan
drainase sederhana. Tabel 2.12 mendeskripsikan karakteristik masing-masing jenis teknologi
tersebut.

Tabel 12. Deskripsi Teknologi Bidang Sanitasi (Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah, 2003)

NoJenis
Deskripsi
Sarana
1 Jamban Keluarga
Sasaran Prioritas untuk keluarga-keluarga yang belum memiliki jamban sendiri atau masih
membuang hajat di saluran, sungai, kebun, dll
2 Jamban Jamak
Sasaran Sekelompok keluarga yang belum memiliki jamban dengan keterbatasan tanah
3 Cubluk
Sasaran Perumahan yang tidak terlalu padat, seperti daerah pedesaan atau masyarakat yang
berpenghasilan rendah, karena biaya pembuatan dan perawatannya cukup murah
Syarat Tidak ditempatkan pada daerah dengan kepadatan penduduk lebih dari 300
Umum jiwa/hektar
Lokasi cubluk harus ditempatkan pada daerah yang diyakini tidak akan mengganggu
kualitas sumber air sekitarnya
Jarak minimum antara sumber air dengan lokasi cubluk adalah 10 m
Bahan bangunan yang dipergunakan untuk bangunan cubluk adalah bahan setempat
4 Mandi Cuci Kakus (MCK)
Sasaran Daerah dengan kondisi sanitasi buruk, dengan keterbatasan kemampuan masyarakat
untuk memiliki prasarana dan sarana MCK
Syarat Tersedia lahan, pengelola, dan sistem penyediaan air bersih
Umum Harus ada kesepakatan dengan masyarakat
Air limbah dari MCK harus melalui unit pengolah (tangki septik/cubluk), agar tidak
mencemari lingkungan
Syarat Bangunan atas, untuk melindungi pemakai dari gangguan cuaca dan pandangan
Teknis orang lain.

Atap, untuk melindungi pemakai dari cuaca panas dan hujan.

Dinding adalah sarana atau perlengkapan bangunan atas untuk melindungi


pemakai dari pandangan orang lain.

Pondasi jamban, agar bangunan kuat menopang beban-beban diatasnya.

Lantai jamban, untuk kenyamanan pemakai dan memudahkan pengaliran air


basuhan ke saluran pembuang

Bangunan bawah, untuk menampung tinja dan urine yang berupa cubluk &
tangki septic

Plat jongkok, lubang masuk tinja dan air kotor, dialirkan ke cubluk atau
tangki septik.

Leher angsa, komponen plat jongkok yang berisi air perapat untuk menahan
bau dan serangga agar tidak keluar/masuk di ruangan jamban.

Pipa penyalur, saluran yang berupa pipa untuk menyalurkan air limbah dari
jamban ke cubluk atau tangki septik.

Tangki Septik dengan Up Flow Filter bagi kondisi air tanah tinggi dan daya
resap kecil, bangunan Up Flow Filter harus kedap air dan terbuat dari
pasangan batu bata dengan media kerikil d 30 40 mm, selanjutnya air
buangan hasil olahan dapat langsung dibuang ke saluran drainase atau
sungai.

5 Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL)


Sasaran Daerah dengan angka diare, cacingan, filarisis dan schistimiasis (demam kering)
tinggi
Daerah rawan sumber air
Daerah padat penduduk
Bukan daerah rawa dan daerah pasang surut
Syarat Tersedia lahan
Umum Tidak mencemari sumber air minum
Konstruksi dibuat secara sederhana dengan bahan yang mudah didapat dan murah.
Jarak minimal antara sumber air dengan bak resapan 10 m
SPAL ditempatkan di halaman, di samping rumah, di belakang atau di depan rumah
Permukaan SPAL harus lebih rendah dari lantai kamar mandi/tempat cuci
Lokasi SPAL sedekat mungkin dengan kamar mandi/tempat cuci, jarak maksimum
15 meter
Syarat Komponen SPAL : Bak kontrol, leher Angsa, saluran, Sumur resapan, penyaring,
Teknis penutup sumur
Fungsi Komponen

Bak kontrol : bak penangkap penampung sisa kotoran berbentuk padat,


lemak, busa yang berasal dari kegiatan mandi, cuci, masak ; bak pengumpul
pertemuan beberapa saluran dari beberapa rumah tangga

Leher angsa : pembatas antara bak kontrol dengan saluran agar kotoran lebih
halus dapat mengendap dan bau dari sumur resapan tidak tercium

Saluran : mengalirkan air limbah dari bak kontrol sampai ke sumur peresapan

Sumur resapan : penampung dan penyaring limbah cair melalui permukaan


dinding yang berpori

Penyaring : penyaring limbah cair agar air yang meresap ke dalam tanah
tidak mencemari sumber air

Penutup sumur : pengaman dan tempat mengontrol sumur.

6 Drainase
Sasaran kondisi daerah becek atau terdapat genangan-genangan kronis yang dapat
menimbulkan wabah penyakit tertentu
Syarat Bebas dari kotoran, sampah, atau benda-benda yang akan mengganggu kelancaran
Umum aliran saat air hujan
Pemeriksaan rutin saluran jika ada endapan tanah, pasir atau batu yang perlu
diangkat dari saluran ; kerusakan
Saluran di halaman rumah menjadi tanggung jawab pribadi
Saluran tersier yang menampung saluran-saluran yang berasal dari halaman menjadi
tanggung jawab bersama-sama
Selain teknologi-teknologi di atas, dalam kaitan dengan upaya memenuhi persyaratan kesehatan
perumahan, penggunaan teknologi tepat guna dititikberatkan pada upaya mengkondisikan
masyarakat agar sadar akan perlunya rumah sehat. Dengan meningkatkan kualitas hunian baik
dalam fungsi maupun konstruksi melalui pengaturan denah rumah, ventilasi, pembuatan dapur
sehat. Pemugaran rumah dan perbaikan lingkungan permukiman dilaksanakan melalui
penyuluhan, bimbingan teknis, pelatihan, serta percontohan-percontohan.
Pelaksanaan pembangunan perbaikan penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan dengan
menggunakan teknologi sederhana dilakukan dengan melibatkan peran serta lembaga/organisasi
masyarakat setempat yang ada di perdesaan, seperti pondok pesantren, pramuka, karang taruna,
dan LKMD. Selain itu, dilakukan pula pelatihan tenaga setempat yang berpotensi sebagai kader
masyarakat serta organisasi masyarakat setempat.