Anda di halaman 1dari 5

OSILOSKOP

Abdurrohman (140310130008)
Program Studi Fisika, FMIPA Universitas Padjadjaran
Kamis, 26 Maret 2015
Asisten : M. Hilmi Zulkifli
Abstrak
Osiloskop merupakan instrumentasi yang berfungsi sebagai alat ukur dan alat untuk
memetakan sinyal sinyal keluaran dari suatu rangkaian, dimana dari sinyal tersebut
dapat dihitung nilai tegangan, perioda, frekuensi dan beda sudut fase. Dimana pada
percobaan kali ini akan menentukan besar tegangan power supply, frekuensi power
supply, menghitung frekuensi resonansi pada rangkaian RLC, mengetahui beda sudut
fase sinyal input dan output pada rangkaian RC dan mengetahui pengaruh resistor
terhadp peredaman tegangan pada rangkaian RLC, dimana rangkaian RC maupun RLC
disambungkan dengan osiloskop. Dari hasil percobaan didpat frekuensi power supply
sebesar 50 Hz, tegangan power supply semakin besar seiring semakin besar tegangan
inputnya, frekuensi resonansi RLC sebesar 1300,53 Hz dan beda sudut fase dapat
dihitung dari nilai b dan B yang berasal dari elips pola Lissayous.
Kata Kunci : Osiloskop, Rangkaian RC dan RLC, frekuensi resonansi

I. Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari hari
kita sering menggunakan berbagai
macam bentuk aplikasi dari rangkaian
elektronik, dalam sebuah rangkaian
tersebut pasti memiliki karakteristik
dimana karakteristik tersebut berupa
sinyal sinyal. Maka dari itu kita
gunakan alat yang dapat memetakan
dan menganalisis sebuah sinyal, alat
tersebut
dinamakan
Osiloskop,
dimana di dalam osiloskop kita juga
dapat menghitung nilai tegangan
power supply, frekuensi ppower
supply, frekuensi resonansi dari
rangkaian RLC, dan beda sudut fase
antara
input
dan
output
dari
rangkaian RC. Selain itu dari osiloskop
juga kita dapat mengetahui sejauh
mana pengaruh resistor terhadap
peredaman tegangan pada rangkaian
RLC. Maka dari itu kita melakukan
percobaan Osiloskop ini yang akan
memberikan informasi mengenai amplitudo
sinyal pada rangkaian listrik dan perioda, jika
sinyal tersebut merupakan sinyal sinusoida.

Tetapi tidak hanya sinusoida saja. Sehingga,


pada osiloskop juga dapat dilihat beda fasanya,.
II. Teori Dasar
2.1 Osiloskop
Salah satu instrument elektronika yang
umum digunakan untuk mengukur dan
menganalisa bentuk bentuk gelombang dalam
rangkaian elektronika adalah Osiloskop.
Osiloskop adalah alat untuk memvisualisasikan
grafik tegangan dengan tanggapan terhadap
waktu.
Pada dasarnya osiloskop terbuat dari
tabung sinar katoda atau disebut CRT (Cathode
Ray Tube). CRT menghasilkan suatu berkas
electron yang dipusatkan secara tajam dan
dipercepat ke suatu kecepatan yang sangat
tinggi. Osiloskop sinar katoda adalah
instrument
laboratorium
yang
sangat
bermanfaat dan terandalkan yang digunakan
untuk pengukuran dan analisa bentuk bentuk
gelombang.
Beberapa kegunaan dari Osiloskop di
antaranya :
Pengukuran tegangan

Pada dasarnya osiloskop adalah alat


ukur tegangan. Pengukuran tegangan dilakukan
dengan menghitung jumlah pembagi yang
meliputi muka gelombang pada bagian skala
vertical.
Pengukuran waktu dan frekuensi
Bagian skala horizontal merupakan
skala untuk mengukur waktu. Pengukuran
waktu meliputi perioda, lebar pulsa, dan waktu
dari pulsa. Dengan mengukur perioda dari suatu
gelombang maka frekuensinya akan diketahui.
Pengukuran beda fasa
Menggunakan mode XY pada
osiloskop, kita dapat menampilkan sinyal input
dibandingkan dengan dasar waktu pada sumbu
horizontal. Fase gelombang adalah lamanya
waktu yang dilalui dimulai dari satu loop
hingga awal dari loop berikutnya diukur dalam
derajat. Salah satu cara mengukur beda fasa
adalah menggunakan mode XY. Yaitu dengan
memplot satu sinyal pada bagian vertical
(sumbu Y) dan sinyal lain pada sumbu
horizontal (sumbu X). Metoda ini akan bekerja
efektif jika kedua sinyal yang digunakan adalah
sinyal sinusioda. Bentuk gelombang yang
dihasilkan adalah berupa gambar yang disebut
pola Lissayous. Dengan melihat bentuk pola
Lissayous kita bisa menentukan beda fasa
antara dua sinyal. Juga dapat ditentukan
perbandingan frekuensi dari kedua sinyal
tersebut. [1]
2.2. Rangkaian Resistor R, Induktor L, dan
Kapasitor C.
2.2.1. Rangkaian Resistor R
Pada rangkaian resistor, Arus dan
Tegangan memiliki fase yang sama.
2.2.2. Rangkaian Induktor RL
Pada rangkaian ini, Tegangan pada
rangkaian mendahului Arus dengan sudut 90o
2.2.3. Rangkaian Kapasitor RC

Pada rangkaian kapasitor RC, arus


pada rangkaian mendahului tegangan dengan
sudut 90o
2.2.4. Rangkaian RLC
Karena beda fase tegangan dan fase
arus pada R adalah nol, pada L adalah 90o
(tegangan mendahului arus), dan pada C adalah
-90o (arus mendahului tegangan), maka pada
rangkaian RLC ini, karakteristik akan
ditentukan oleh besar C dan L.
Ada tiga kemungkinan yang terjadi
yaitu :
1. Reaktansi induktif lebih besar daripada
reaktansi kapasitif, XL>XC, sudut fase
impedansi Z bernilai positif ( > 0o) sehingga
rangkaian seri RLC dikatakan bersifat induktif.
2. Reaktansi induktif lebih kecil daripada
reaktansi kapasitif, XL<XC, sudut fase
impedansi Z bernilai negatif ( < 0o) sehingga
rangkaian seri RLC dikatakan bersifat kapasitif.
3. Reaktansi induktif sama dengan reaktansi
kapasitif, XL=XC, sudut fase impedansi Z
bernilai positif ( = 0o) sehingga rangkaian seri
RLC dikatakan bersifat resistif murni. Keadaan
ketika sifat induktif saling meniadakan dengan
sifat kapasitif inilah yang disebut keadaan
resonansi.
Dengan demikian syarat terjadinya
resonansi adalah :

[2]

III. Percobaan
3.1 Alat dan bahan

Osiloskop
Power Supply
Frekuensi Counter
Rangkaian RC
Induktor
Variabel resistor

div) dengan mengatur V/div dan T/div.


Ulang hal tersebut untuk tegangan 6
V, 8 V dan 10 V. untuk menghitung
frekuensi dengan lissayous, tinggal
mengganti
source
pada
tombol
osiloskopnya
saja
menjadi
Add,
sedangkan untuk menghitung beda
sudut fasa, rangkai rangkaian RC lalu
hubungkan ke osiloskop kemudian
catat nilai b dan B dari gambar elips
yang muncul dari osiloskop. Dan yang
terakhir resonansi listrik, rangkai
rangkaian RLC lalu dihubungkan ke
osiloskop sama dengan sebelumnya
kita catat nilai b dan B dari pola
elipsnya.
IV. Data dan Analisis
1.
Menghitung
frekuensi power

X dan Y dihubungkan ke osiloskop

V=

3.2 Metode Eksperimen


Output
(v)
4
6
8
10

T(di
v)
4
4
4
4

A
(div)
2.4
3.2
(
2.2
3

Mula

mula
nyalakan
osiloskop,
kemudian
osiloskop
dikalibrasi,
kemudian
hubungkan
osiloskop dengan
frekuensi counter
dan akan muncul
sinyal
berupa
sinusoida,
masukkan
tegangan
input
dari 4 V, hitung
jumlah amplitudo
(dalam div), dan
perioda
(dalam

f(Hz)

V
(volt)
F 50 b
B2.4
Hz) 50
3.2
50
4.4
15050 1.
2. 6
4
6
200 1.
3
8
300 2.
3.
2
2
400 2.
3.
4
4
500
3
3.
6
600 3.
3.
2
8
700 3.
4
4
800 3.
4
6
900

3.
6

1000

3.
8

(sin)

tegangan

dan

V
. Ampl ( ) =1 2,4=2,4 Volt

1
f = =50 Hz
T

KSR
(tan
2.
Menghitung
)
frekuensi
dengan
32.58
81.9 60.248
6
9 Lissayous
36.87
79.3
53.523 Frekuensi
Menentukan
3dengan26Lissayous
43.43 n/74.2F ( Hertz
41.484 F osiloskop (Hz)
77
m 2
)
44.83 1 69.350 35.328
50
2
91
0.5 100
50
56.41 0.364.715012.920
49.95
8
65
3
57.35 0.260.52055.2066
51.25
12
5
58.21 0.256.5255
51
9
2.8627
2
25
50
64.16
53
3
17.5
52.5
21.056
6
64.16
49.7
- 3. Mengetahui beda
2 29.042 sudut fase input dan
6 output
71.8
46.7
53.747
3

Rangkaian yang digunakan adalah


rangkaian RC, yang dihubungkan
dengan osiloskop, lalu hitung nilai b
dan B dari elips pola lissayous

(c).
KSR
=
(13001,53
3000)/13001,53 * 100% = 76,9 %

5. Analisa

Pada
Percobaan
pertama,
menghitung tegangan dan frekuensi
power supply, didapat nilai frekuensi
power supply tersebut 50 Hz untuk
1
1
1
1
setiap=81,96
tegangan masukan, hal itu
( b ) . =tan (
)=tan
2 f RC
6,28 150 1500 0,0000001
menandakan nilai tegangan masukan
tidk mempengaruhi perioda dan
KSR
=
frekuensi
sinyal,
melainkan
komponenpercobaan
81,9632,58
mempengaruhi
amplitudo
dan
100 =
100 =60,24
tegangan keluaran, maka dari itu nilai
komponen
81,96
tegangan keluaran semakin besar
seiring semakin besarnya tegangan
masukan yang diberikan.
b
1,4
( a ) . sin = =sin 1
=32,58
B
2,6

4. Resonansi Listrik
F
( Hz )
3000
3500
4000
4500
5000

(a).

fr=

0.
4
0.
6
0.
6
0.
6
0.
6

2
2
2
2
2

1
2 LC

11.5
4
17.4
5
17.4
5
17.4
5
17.4
5

=13001,53 Hz

(b) Fr grafik = 3000 Hz

Pada percobaan selanjutnya


yakni menghitung frekuensi dengan
Lissayous, dari data tersebut dapat
dihitung frekuensi power supply
sesuai nilai perbandingan antara
n/m=f1/f2,
dimana
f2
adalah
frekuensi inputan.
Percoban
menghitung
beda
sudut fase antara sinyal input dan
output pada rangkaian RC dapat
dilihat ada 2 rumus yang dapat
digunakan, yakni dengan sin-1b/B dan
tan-11/2. 3,14f. RC dimana rumus
yang
menggunakan
tan
adalah
literaturnya, setelah dibandingkan
dari kedua hasil tersebut didapat
kesalahan relative yang bervariasi
ada yang kecil ada pula yang besar,
hal ini menandakan bahwa percobaan
mengukur nilai b dan B cukup sulit
karena gambr yang muncul pada
osiloskop sangat pipih sehingga data
yang dihasilkan menjadi tidak akurat.
Untuk percobaan menghitung
frekuensi
resonansi
listrik
dari
rangkaian RLC juga mengukur nilai b
dan B nya cukup sulit karena gambar
yang dihasilkan tidak berbentuk elips
sehingga data beda sudut fase yang
diihasilkan juga tidak akurat, hal

tersebut dapat terlihat dari grafik


beda sudut fase terhadap frekuensi.
Sementara
untuk
menghitung
frekuensi
resonansinya
dapat
1
fr=
menggunakan rumus
2 LC
ataupun dari grafik antara beda sudut
fase terhadap frekuensinya, kalau fr
grafik hasilnya adalah 3000 Hz karena
pada keadaan tersebut sudut fase antara input
dan output paling kecil atau nol. Sedangkan fr
literaturnya berharga 13001,53 Hz sehingga
KSR yang didapat sangat besar yakni 76,9 %,
sekali lagi dari hasil KSR tersebut menandakan
bahwa percobaan tersebut data yang didapat
tidak akurat karena kesalahan praktikan saat
mengukur nilai b dan B.
V. Simpulan
Dari hasil percobaan tersebut dapt
disimpulkan bahwa :
1. Nilai tegangan dan frekuensi power
supply dapat ditentukan dengan nilai
frekuensi sebesar 50 Hz untuk setiap
tegangan masukan, sedangkan nilai
tegangan keluarannya semakin besar
seiring tegangan masukan yang
diberikan

2. frekuensi resonansi rangkaian RLC


dapat ditentukan dengan melalui
grafik beda sudut fase terhadap
frekuensi
dan
melalui
rumus
literaturenya, dimana KSR yang
didapat sebesar 76,9 %. Data yang
dihasilkan pada percobaan ini tidak
akurat
3. Beda sudut fase rangkaian RC juga
dapat dihitung dengan sin-1b/B dan
tan-11/2. 3,14f. RC, dimana KSR yang
didapat juga bervariasi dari setiap
frekuensi inputannya.
4. percobaan untuk mengetahui
pengaruh
resistor
terhadap
peredaman tegangan tidak dapat
diketahui karena tidak melakukan
percobaannya.
Daftar Pustaka
[1] Giancoli,Douglas C.2001. Fisika Jilid 2.
Erlangga : Jakarta
[2] Sutrisno. 1979. Listrik Magnet dan
Termofisika. ITB : Bandung.