Anda di halaman 1dari 45

KANDUNGAN PROTEIN DAN KLOROFIL DAUN RUMPUT Brachiaria

Brizantha yang Diberi Pupuk Hijau Cair yang Berbeda

SKRIPSI

Oleh:

IAN RONI REZKY RAJA RIO M. SIGALINGGING


I 111 11 336

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peningkatan produktivitas ternak ruminansia di Indonesia dapat dicapai
melalui perbaikan penyedian hijauan pakan, baik dari segi kuantitas maupun dari
segi kualitas secara berkesinambungan. Hijauan berupa rumput merupakan
sumber pakan utama bagi ternak ruminansia, karena mengandung zat-zat makanan
yang dibutuhkan oleh ternak.
Hijauan makanan ternak di daerah tropis umumnya mempunyai kualitas
yang relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan hijauan sub-tropis. Hal ini
ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar akibat intensitas penyinaran
matahari dan temperatur yang tinggi. Pertumbuhan hijauan pakan di daerah tropis
sering mengalami kekurangan unsur hara tertentu, walaupun di masing-masing
daerah relatif berbeda. Lebih lanjut Hermawan (2013) menjelaskan bahwa jika
unsur hara esensial kurang dari jumlah yang dibutuhkan, metabolisme tanaman
akan terganggu

yang secara visual dapat dilihat dari penyimpangan-

penyimpangan pertumbuhannya. Gejala tersebut dapat berbeda tergantung spesies


hijauan. Bisa terjadi tanaman dapat mengalami kekurangan dua unsur atau lebih
pada saat bersamaan. Dengan demikian, Petani peternak tentunya dapat
menentukan pupuk apa yang tepat diberikan terhadap gejala kekurangan unsur
hara bagi tanaman sehingga dapat tumbuh normal kembali.
Pupuk Nitrogen merupakan pupuk yang sangat penting bagi semua
tanaman, karena Nitrogen merupakan penyusun dari semua senyawa protein

(Lindawati dkk., 2000) dan bagian dari molekul klorofil yang mengendalikan
kemampuan tanaman dalam melakukan fotosintesis (Masud, 1993). Kecukupan
nitrogen akan memberi pembentukkan cadangan makanan yang cukup untuk
pertumbuhan tanaman yang optimal.
Korofil berkorelasi positif dengan kadar N daun. Pengukuran klorofil
dapat dilakukan dengan menggunakan klorofil meter dengan SPAD (Soil Plant
Analisis Development) (Argenta et al., 2004). Skala kritis SPAD beberapa
tanaman pada musim kemarau adalah 35, yang berarti kandungan hara N pada
daun sama dengan 2,90%. Pemberian pupuk N berdasarkan status klorofil daun
dengan menggunakan SPAD meter dapat menghemat pupuk urea 30 40%
(Wahid, 2003).
Rumput Brachiaria brizantha merupakan jenis rumput unggul yang
mempunyai produktivitas dan nilai gizi yang cukup tinggi serta disukai ternak
ruminansia. Nilai gizi rumput ini dipengaruhi oleh tatalaksana pemeliharaan,
antara lain umur pada saat pemotongan, unsur hara, terutama unsur hara makro
seperti unsur nitrogen, di mana unsur nitrogen merupakan salah satu unsur yang
sering kurang jumlahnya dalam tanah (Rukmana, 2005). Untuk mengatasi
kekurangan ini maka perlu melakukan pemupukan. Unsur hara makro, terutama
N, P, K dan Ca mungkin banyak ditemukan dalam pupuk hijau cair daun gamal
(Gliricidia maculata), jonga-jonga (Cromolaena odorata) dan eceng gondok
(Eichhornia crassipes). Untuk mengetahui kandungan protein dan klorofil suatu
hijauan maka dilakukan metode pemberian pupuk hijau cair daun gamal, jongajonga dan eceng gondok terhadap rumput Brachiaria brizantha.

1.2 Perumusan Masalah


Potensi pemanfaatan hijauan pakan yang sangat baik melalui pemupukan,
namun sulit menentukan jenis pupuk yang cocok digunakan. Pemanfaatan pupuk
hijau cair jarang digunakan oleh petani peternak dan belum banyak diketahui
respon pemupukan pupuk hijau cair daun gamal, jonga-jonga dan eceng gondok
terhadap kandungan protein dan klorofil daun rumput Brachiaria brizantha.
1.3 Hipotesis
Pemberian pupuk hijau cair dari daun gamal, jonga-jonga dan eceng
gondok pada rumput Brachiaria brizantha diduga dapat meningkatkan kandungan
protein dan klorofil daun rumput Brachiaria brizantha.
1.4 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian
pupuk hijau cair dari bahan daun gamal, daun jonga-jonga dan eceng gondok
terhadap kandungan protein dan klorofil daun rumput Brachiaria brizantha.
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi di lingkungan
masyarakat tentang pemanfaat pupuk cair daun gamal, daun jonga-jonga dan
eceng gondok dalam peningkatan produksi dan kualitas hijauan pakan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum Rumput Brachiaria brizantha


Rumput Brachiaria brizantha berasal dari Afrika, rumput ini memiliki
karakteristik tumbuh tegak, pangkal batang banyak bercabang, tinggi hamparan
kurang lebih satu meter dan pangkal daun berbulu lebat (Rukmana, 2005). Proses
penanaman rumput ini menggunakan pols, hidup di tanah struktur ringan, sedang
sampai berat. Pada proses penanaman rumput Brachiaria brizantha, juga harus
memperhatikan faktor lingkungan antara lain adalah ketersediaan nutrien yang
berdampak langsung pada pertumbuhan produksi dan persistensi tanaman
(Sumarsono, 2007).
Berikut ini klasifikasi dari rumput Brachiaria brizantha menurut
Manullang (2012) :
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Ordo

: Poales

Famili

: Poaceae

Genus

: Brachiaria

Spesies

: Brachiaria brizantha

Menurut Reksohadiprodjo (1985), rumput ini dapat tumbuh pada curah


hujan 1000 mm/tahun dengan toleransi pH tanah cukup luas mulai dari 6-7.
Rumput ini juga tahan terhadap kekeringan selama 6 bulan, cuaca dingin dan
5

penggembalaan. Rumput Brachiaria brizantha dapat dikembangkan dengan stek,


pols atau pun biji (Lubis, 1963). Rumput ini dapat diperbanyak dengan pols
dengan jarak tanam 40 x 40 cm dengan baris-baris berjarak 60-150 cm
(Reskohadiprodjo, 1983). Menurut Rismunandar (1986), perbanyakan rumput
Brachiaria brizantha dengan mengggunakan stek jarang dilakukan karena
pertumbuhannya tidak optimal. Rumput ini membentuk rizoma yang pendekpendek dan akarnya dapat menembus ke dalam tanah 30 cm.
Tumbuhnya rumput Brachiaria brizantha semi tegak sampai tegak
(prostate/semierect-erect), merupakan rumput yang berumur panjang, tumbuh
membentuk hamparan lebat, tinggi hamparan dapat mencapai 30 45 cm dan
tangkai yang sedang berbunga dapat mencapi tinggi 1m atau tanaman yang
tumbuh creeping parennial (Humpreys, 1974). Memiliki rhizoma yang pendek
dan tinggi batang sekitar 30-200 cm. Bentuk daun linear biasanya berukuran 10100 cm x 3-20 mm, berambut atau berbulu dan berwarna hijau gelap. Infloresence
(bunga) terdiri dari 2-16 tandan (racemes) dengan panjang 4-20 cm, spikelet
dalam satu baris; luas rachis 1 mm, berwarna ungu, spikelet berbentuk elips
panjang 4-6 mm, berbulu atau berbulu pada ujungnya, panjang glume sepertiga
dari panjang spikelet (Schultze-Kraft, 1992).
Pemotongan hijauan dapat dilakukan setelah tanaman mencapai 50 100
cm atau tanaman telah berumur 60 sampai 90 hari, dengan menyisakan batang
setinggi 10 sampai 15 cm di atas permukaan tanah (Rismunandar, 1986).
Pemotongan pertama rumput Brachiaria brizantha dapat dilakukan pada umur
60 hari musim hujan dan umur 70 hari musim kemarau, sedangkan untuk

pemotongan selanjutnya dapat dilakukan pada umur 40 hari musim hujan atau
60 hari musim kemarau. Reksohadiprodjo (1985) menyatakan bahwa rumput
Brachiaria brizantha yang dipotong tiap 4 minggu akan menghasilkan serat kasar
18,45 % dan protein kasar 10 % lebih tinggi dari umur pemotongan lainnya.
2.2 Produksi Rumput Brachiaria brizantha
Makanan ternak berupa hijauan merupakan bahan makanan pokok bagi
ternak besar maupun ternak kecil di Indonesia dan terdiri dari hijaun sebangsa
rumput, leguminosa, dan hijauan lainnya. Salah satu jenis hijauan makanan ternak
yang baik diberikan pada ternak ruminansia adalah rumput Brachiaria brizantha,
karena mampu untuk mencukupi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak
dan tanaman ini mudah tumbuh serta proses adaptasinya sangat baik (Suharno dan
Nazaruddin, 1994).
Rumput Brachiaria brizantha merupakan tanaman yang cukup baik untuk
kebutuhan ternak, baik dilihat produktivitasnya maupun nutrisi yang terkandung
di dalamnya. Dengan memanen pada pertumbuhan yang cocok atau dengan
menggunakan kultivar yang baik akan menghasilkan pakan yang bernilai tinggi.
Produksi bahan segar rumput Brachiaria brizantha dapat mencapai 270.000
kg/ha/tahun di daerah basah dengan irigasi yang baik dan penggembalaan ternak
harus dilakukan secara rotasi. Rumput Brachiaria brizantha yang dipotong pada
tiap 28 hari dapat menghasilkan bahan kering 9,6 ton/ha dengan kandungan
protein kasar 11%, sedangkan yang dipotong pada umur 56 hari menghasilkan
bahan

kering

9,04

ton/ha

dengan

kandungan

protein

kasar

6,4%

(Reksohadiprodjo, 1985).
7

Siregar (1996) menyatakan produksi rumput ini pada lahan kering yaitu 40
ton/ha/tahun dengan kandungan protein kasar 13,5%, lemak 3,4%, NDF 64,2%,
abu 15,8%, kalsium 0,31% dan fosfor 0,37%. Lebih lanjut lagi disarankan agar
sebelum diberikan kepada ternak, sebaiknya rumput ini dipotong-potong lebih
dahulu (Lubis, 1963).
Produksi

Brachiaria,

selain

dipengaruhi

oleh

pemupukan,

juga

dipengaruhi oleh tinggi pemotongan. Siregar (1996) melaporkan produksi


Brachiaria pada berbagai tinggi pemotongan adalah 25,10; 82,22; 70,58; 88,38;
94,78 g/rumpun untuk pemotongan 0, 5 cm, 10 cm, 15 cm dan 20 cm dari
permukaan tanah. Semakin tinggi tingkat pemotongan produksi yang dihasilkan
semakin tinggi. Sedangkan berbagai interval pemotongan yaitu 20, 30, 45 dan 60
hari menghasilkan produksi sebanyak 186,42; 190,98; 170,98 dan 195,18
ton/ha/tahun (Siregar dan Djajanegara, 1974).
2.3 Kualitas Rumput Brachiaria brizantha
Rumput Brachiaria brizantha mempunya produksi bahan kering 40
sampai 63 ton/ha/tahun dengan rata-rata kandungan gizi-gizi yaitu : protein kasar
9,66%, BETN 41,34%, serat kasar 30,86%, lemak 2,24%, abu 15,96 dn TDN 51%
(Susetyo, 1969).
Pengamatan yag sama mengenai kualitas rumput Brachiaria brizantha
oleh Lubis (1963) menyatakan bahwa rumput Brachiaria brizantha mempunyai
nilai gizi yang berdasarkan bahan keringnya, yaitu protein kasar 9,72 %, serat
kasar 21,54 % BETN 43,56 %, lemak 1,94 %, dan abu 18,43 %.

Sebagai rumput budidaya yang banyak dipergunakan oleh peternak,


Brachiaria memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak. Berbagai
penelitian telah dilakukan untuk mengetahui kandungan nutrisi pada rumput
Brachiaria. Ginting dan Pond (1996) menganalisa khusus kandungan protein kasar
rumput Brachiaria brizantha sebesar 10,8 %. Sementara itu Rukmana (2005)
melaporkan kandungan protein kasar Brachiaria 9,9 % dengan pembagian pada
morfologi daun atas 5,3 %, daun 2,5 %, dan batang 2,1 %, sehingga sesuai
kandungan protein kasarnya, Brachiaria tergolongkan ke dalam rumput yang
unggul.
Menurut Minson dan Milford (1981) menyatakan bahwa kadar protein
kasar rumput Brachiaria brizantha di bawah 7-8% akan menyebabkan konsumsi
hijauan menurun. Kandungan protein kasar dan serat kasar pada berbagai taraf
pemotongan rumput Brachiaria dilaporkan oleh Rismunandar (1986) adalah,
13,8% dan 29,69% pada pemotongan 20 hari, 8,86% dan 30,63% pada
pemotongan 30 hari, 6,24 dan 33,27 pada pemotongan 45 hari serta 5,90 dan 34,1
pada pemotongan 60 hari. Hasil tersebut menunjukkan bahwa protein kasar pada
Brachiaria akan cenderung menurun dan serat kasar akan meningkat sesuai
dengan bertambahnya umur potong rumput.
Pada tumbuhan dan hewan tidak hanya pada protoplasma pada sel hidup
terdiri teutama dari protein tetapi juga nukleusnya yang mengawasi aktivitas
setiap sel adalah protein. Pada tumbuh-tumbuhan, sebagian besar dari protein
umumnya terkumpul di bagian reproduksi dan di bagian yang tumbuh aktif seperti
daun (Anggorodi, 1979). Untuk mengetahui kadar protein dari bahan makanan

tersebut perlu ditentukan kadar nitrogennya secara kimiawi. Kemudian angka


tersebut dikalikan dengan faktor 6,25. Faktor tersebut digunakan karena zat
nitrogen mewakili kurang lebih 16 % dari protein (100/6=6,25). Nilai hayati
protein didefinisikan sebagai persentase proein yang diserap dan kemudian
digunakan tubuh (Sambara, 1995).
Di dalam rumen, protein akan diubah menjadi peptide dan selanjutnya
menjadi asam amino untuk mikroba rumen. Protein mikroba rumen bersama
protein makanan yang tidak mengalami degradasi dalam rumen akan menjadi
protein bagi ruminansia yang kemudian dicerna oleh abomasum, sedangkan
protein yang mengalami degradasi akan diubah menjadi asam organik, amoniak
dan CO2 (Tillman dkk., 1991).
2.4 Klorofil Daun Rumput Brachiaria brizantha
Klorofil memiliki fungsi utama dalam fotosintesis yaitu memanfaatkan
energi matahari, memicu fiksasi CO2 untuk menghasilkan karbohidrat dan
menyediakan energi. Karbohidrat yang dihasilkan dalam fotosintesis diubah
menjadi protein, lemak, asam nukleat dan molekul organik lainnya (Ai dan
Banyo, 2011). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan klorofil
adalah faktor genetik, cahaya, oksigen, karbohidrat, air, unsur hara seperti Fe, Mg
dan N (Dwidjoseputro, 1980).
Rumput sebagai tanaman pakan sangat membutuhkan nitrogen untuk
mendukung pertumbuhannya karena nitrogen merupakan unsur esensial pada
berbagai senyawa penyusun tanaman termasuk unsur penyusun klorofil. Terdapat
dua macam klorofil yaitu klorofil A (C55H72O5N4Mg) dan klorofil B
10

(C55H70O6N4Mg). Klorofil mengumpulkan cahaya serta mentransfer energi ke


pusat reaksi pada proses fotosintesis. Klorofil A berperan secara langsung dalam
reaksi pengubahan energi radiasi menjadi energi kimia serta menyerap dan
mengangkut energi ke pusat reaksi molekul. Sementara itu, klorofil B berfungsi
sebagai penyerap energi radiasi yang selanjutnya diteruskan ke klorofil A.
Meningkatnya klorofil B berdampak positif terhadap efektivitas penyerapan
energi radiasi pada kondisi yang ternaungi (Sirait, 2008).
Pengukuran klorofil daun dapat dilakukan menggunakan klorofil meter
SPAD (Soil Plant Analisis Development) 502 sebagai salah satu alternatif untuk
mengetahui kecukupan hara N pada tanaman. Klorofil berkorelasi positif dengan
kadar N daun (Argenta et al., 2004).
Nitrogen merupakan unsur hara yang sangat sering membatasi hasil
tanaman karena kekurangan nitrogen akan menghambat fotosintesa serta
mengurangi sintesis protein (Suseno, 1974). Nitrogen merupakan usur hara utama
bagi pertumbuhan tanaman sebab merupakan penyusun dari semua protein dan
asma nukleit dan dengan demikian merupakan penyusun protoplasma secara
keseluruhan (Syarief, 1985). Unsur hara nitrogen berfungsi sebagai pendorong
pertumbuhan,

menguatkan

hijauan

dan

meningkatkan

kadar

protein

(Rismunandar, 1986).
Berikut ini estimasi kandungan nitrogen daun di akitakomachi, jepang
menggunakan Minolta Chlorofil meter :

11

Tabel 1. Estimasi Kandungan Nitrogen Daun Di Akitakomachi, Jepang


Menggunakan Minolta Chlorofil Meter
Nilai Klorofil Meter (SPAD)
Skala

26

27

%N

1,90

28

29

30

31

32

33

34

35

36

2,10 2,20 2,30 2,40 2,50 2,60 2,70 2,80 2,90

37
3

Sumber : Mutters (1999).

Skala kritis SPAD beberapa tanaman pada musim kemarau adalah 35,
berarti kandungan hara N pada daun sama dengan 2,90%. Pemberian pupuk N
berdasarkan status klorofil daun dengan menggunakan SPAD meter dapat
menghemat pupuk urea 30 40% (Wahid, 2003), karena dengan mengatahui status
klorofil secara aktual, kita dapat memberi perlakuan pupuk yang optimal untuk
tanaman sesuai kebutuhan.
2.6 Pemupukan
Pupuk adalah suatu bahan yang diberikan untuk memperbaiki kesuburan
tanah dan mengganti unsur-unsur hara yang hilang dari dalam tanah. Tiap tiap
jenis pupuk mempunyai kandungan unsur hara, kelarutan dan kecepatan kerja
yang berbeda sehingga dosis dan jenis pupuk yang diberikan berbeda untuk tiap
jenis tanaman dan jenis tanah yang digunakan (Hardjowigeno, 1992).
Ada 3 unsur hara utama dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan,
reproduksi, dan produksi, yaitu nitrogen, fosfat dan kalium. Pemberian pupuk
nitrogen merupakan faktor penting dalam usaha peningkatan produksi dan
kekurangan unsur hara tersebut akan menyebabkan tanaman menjad kerdil atau
kecil, warna daun merah dan kekuning-kuningan (Susetyo, 1969). Penambahan

12

nitrogen kedalam padang rumput akan meningkatkan produksi bahan kering dan
kualitas hijaun makanan ternak terutama kadar proteinnya (Humperys, 1974).
Tanaman menyerap unsur hara dalam tanah dalam bentuk kation dan
anion, jadi dalam bentuk yang larut dalam air. Pada umumnya nitrogen diambil
oleh tanaman dalam bentuk Amonium (NH4+) dan Nitrat (NO3-), tapi Nitrat yang
terserap segera terreduksi menjadi ammonium melalui enzim yag mengandung
molibdenium. Ion-ion Amonium dan beberapa karbohidrat mengalami sintesis
dalam daun dan diubah menjadi asam amino yang akan membentuk protein,
terutama terjadi dalam daun hijauan (Syarief, 1985).
Pemberian pupuk nitrogen pada tanaman mempunyai peranan dalam
merangsang pertumbuhan jaringan tanaman, jumlah anakan (tiller) dan lebar daun.
Tapi kelebihan unsur nitrogen akan memperlambat kematangan tanaman (terlalu
banyak pertumbuhan vegetatif), batangnya lemah, mudah rebah dan mengurangi
daya tahan tanaman terhadap penyakit (Soepardi, 1983).
Sutedjo (2004) menyatakan rumput Brachiaria brizantha apabila telah
berumur 2 minggu bisa diberikan pupuk nitrogen berupa urea, 150 kg/ha yang
dibenamkan 4 cm di setiap sisi deretan tanaman, karena tanaman pada umur 2
minggu itu akarnya sudah mulai aktif.
Menurut Heddy (2003) menyatakan bahwa pada tanaman rumput
Brachiaria brizantha yang dipupuk, produksi bahan kering yang dipotong pada
interval 25 hari lebih rendah dari pada kandungan bahan kering pada 50 hari.
Produksi bahan kering pada interval 25 hari adalah 15.185,74g/ha/petak,
sedangkan pada pemotongan 50 hari produksi bahan keringnya adalah 28.482,5

13

rumput Brachiaria brizantha sebagai hijauan makanan ternak ditentukan oleh zatzat makanan yang terdapat di dalamnya dan kecernaannya (McIlroy, 1977).
2.7 Pupuk Hijau Cair
Untuk menjamin agar memperoleh produksi hijauan yang kontinu, maka
salah satu jalan yang harus ditempuh adalah memperbaiki keadaan tanah dengan
cara pendangiran dan pemupukan (Reksohadiprodjo, 1985).
Peranan pupuk hijau cair yaitu meningkatkan pertumbuhan tanaman,
menyehatkan

pertumbuhan

daun,

daun

lebih

hijau

dan

meningkatkan

perkembangan mikroorganisme dalam tanah (Sutedjo, 1995). Kekurangan dan


kelebihan pupuk hijau cair akan berdampak terhadap kualitas dan produktivitas
hijauan. Kekurangan pupuk dapat mengakibatkan pertumbuhan vegetatif
terlambat dalam pemasakan buah dan biji, tanaman lemah dan mudah rebah dan
menambah kepekaan terhadap penyakit. Sedangkan kelebihan dari pupuk hijau
cair yaitu dapat mempercepat pertumbuhan vegetatif terutama daun, pengisian
biji, akar, meningkatkan kandungan protein, merangsang pertunasan dan
menambah tinggi tanaman (Sabihana dkk., 1980).
Yunus (1987) menyatakan bahwa semakin tua tanaman proporsi batang
dengan daun semakin besar di mana batang akan kurang mengandung protein.
Makin besar perbandingan daun dengan batang, kualitas hijauan semakin tinggi
sebab daun kualitasnya lebih tinggi dari pada batang. Hal ini menjadi
pertimbangan dalam pemilihan jenis tanaman yang akan dijadikan pupuk hijau
cair. Suntoro dkk. (2001) menyatakan bahwa suatau tanaman dapat digunakan
sebagai pupuk hijau apabila (1) cepat tumbuh (2) bagian atas banyak dan lunak
14

(succulent); dan (3) kesanggupannya tumbuh cepat pada tanah yang kurang subur,
sehingga cocok dalam rotasi untuk penyediaan jangka panjangnya.
2.8 Pupuk Hijau Cair Daun Gamal (Gliricidia maculata)
Gamal merupakan jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber
hijauan pakan ternak ruminansia dan juga sebagai sumber pupuk hijau cair. Gamal
berbentuk pohon dengan ukuran sedang dan dikenal sebagai tanaman jenis
kacang-kacangan (Mathius, 1984). Menurut Sugiri, (1980), gamal sebagai pupuk
hijau cair mempunyai kandungan unsur hara cukup tinggi untuk pertumbuhan
tanaman. Pupuk hijau cair gamal lebih baik dibandingkan dengan daun lamtoro.
Kandungan nutrisi pupuk cair daun gamal (Gliricidia maculata) dapat
dilihat pada Tabel 2 berikut :
Tabel 2. Kandungan Nutrisi daun gamal (%)
Komponen
Bahan Kering
Protein Kasar
Kalsium (Ca)
Fosfor (P)
Nitrogen (N)
Kalium (K)
Abu
Sumber : Havlin dkk. (2002)

Persentase
22,1
23,5
1,35
0,07
3,15
2,12
5,7

Berdasarkan tabel di atas, daun gamal yang dibuat pupuk cair memiliki
potensi yang tinggi, sehingga penggunaan dari pupuk cair tersebut banyak
digunakan pada tanaman pangan diantaranya tanaman jagung dan sawi. Hasil
pemberian pupuk cair daun gamal pada tanaman jagung 3 ton ha

-1

/ tahun dan

tanaman sawi 2-6 ton ha-1. /tahun. Pupuk cair daun gamal itu diberikan pada

15

tanaman dengan cara disemprotkan atau disiramkan 2 minggu setelah penanaman


tanaman (Sunarjono, 2003).
2.9 Pupuk Hijau Cair Jonga-jonga (Chromolaena odorata)
Chromolaena odorata menyebar di kepulauan Indonesia sejak Perang
Dunia II. Dengan penyebaran itu kini jonga-jonga dapat dijumpai di semua pulaupulau besar di Indonesia (Wilson dan Widayanto, 2004). Gulma ini dapat tumbuh
baik pada berbagai jenis tanah dan tumbuh lebih baik lagi apabila mendapat
cahaya matahari yang cukup (Vanderwoude et al., 2005). Kondisi yang ideal bagi
gulma ini adalah wilayah dengan curah hujan > 1000 mm/tahun. Gulma ini
tumbuh dengan baik di tempat-tempat yang terbuka seperti padang rumput, tanah
terlantar dan pinggir-pinggir jalan yang tidak terawat (Binggeli, 1997).
Soerohaldoko (1971) melaporkan mengenai kerugian dari Chromolaena
odorata terhadap ternak mengenai keberadaannya di cagar alam Pananjung, Jawa
Barat yang merugikan banteng di suaka alam tersebut karena rumput pakannya
berkurang akibat invasi gulma berkayu ini.
Chromolaena odorata dapat berkembang dengan cepat dan mampu
tumbuh di lahan yang kurang subur. Jika dipangkas, maka tiga bulan kemudian
akan tumbuh kembali. Gulma ini dapat diolah menjadi pupuk yang bermanfaat
bagi pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Kompos jonga-jonga memiliki nilai
hara yang lebih tinggi dibandingkan dengan hara pada pupuk kandang dari
kotoran sapi (Vanderwoude et al., 2005), dengan komposisi 2.42 % N, 0.26 % P,
50.40 % C, dan 20.82 C/N. Nilai C/N ini menunjukkan proses dekomposisi yang

16

lebih cepat dibandingkan dengan pupuk kandang (25-30). Selain itu, daun dan
ranting hijaunya dapat dipakai untuk membuat pupuk cair (Fitri, 2013).
Kandungan nutrisi pupuk cair daun jonga-jonga (Cromolaena odorata)
dapat dilihat pada Tabel 3 berikut :
Tabel 3. Kandungan nutrisi dari daun jonga-jonga (%)
Kandungan Nutrisi
Persentase
Bahan Kering
Protein Kasar
Kalsium (Ca)
Fosfor (P)
Nitrogen (N)
Energi (Kkal/kg)
Sumber : Marthen (2007)

12,4
20-30
0,14
0,42
2,65
3.583,5

Hasil studi Luik (2005) pada jagung menunjukan bahwa pemberian pupuk
organik cair jonga-jonga 30 ton/ha mampu meningkatkan kandungan NPK tanah
maupun dalam jaringan tanaman dan mampu meningkatkan hasil tanaman jagung
4,83

kg/16

m2 dibandingkan

tanpa

pemberian

jonga-jonga

yaitu

4,09

kg/16m2. Dengan demikian pemberian jonga-jonga mampu meningkatkan


ketersediaan unsur hara dalam tanah.
Pemberian jonga-jonga sebagai pupuk baik dalam bentuk padat maupun
cair dapat meningkatkan hasil produksi tanaman sayur dan buah. Pupuk dalam
bentuk cair lebih baik dari pada dalam bentuk padat, karena unsur hara di
dalamnya akan lebih mudah dan cepat diserap oleh tanaman. Kandungan unsur N
dan K jonga-jonga sangat tinggi, sedangkan unsur P jonga-jonga tergolong
sedang. Hasil penelitian Sutedjo (2004) mengenai peranan jonga-jonga terhadap

17

sifat fisik tanah menunjukan bahwa tekstur tanah dipengaruhi secara nyata oleh
kandungan nutrien dari jonga-jonga.
2.10 Pupuk Hijau Cair Eceng gondok (Eichhornia crassipes)
Eceng gondok merupakan gulma yang sangat cepat berkembang, apabila
tidak dikendalikan akan mengakibatkan masalah lingkungan, selain memberikan
dampak negatif, eceng gondok juga memberikan dampak positif antara lain
sebagai bahan baku pupuk organik. Dari hasil analisis kimia bahan organik eceng
gondok mempunyai kandungan yaitu 1,30% N, 0,24 % P dan C/N ratio 12,25
(Yulianti, 2001).
Kandungan nutrisi pupuk cair daun eceng gondok (Eichhornia crassipes)
dapat dilihat pada Tabel 4 berikut :
Tabel 4. Kandungan nutrisi dari eceng gondok (%)
Kandungan Nutrisi
Persentase
Bahan Kering
Protein Kasar
Kalsium (Ca)
Fosfor (P)
Nitrogen (N)
Abu
Sumber : Suntoro dkk. (2001)

15
12,99
0,14
0,6
2,3
4,2

Pemilihan eceng gondok sangat baik digunakan sebagai pupuk cair. Little
(1968) menerangkan bahwa eceng gondok banyak menimbulkan masalah
pencemaran sungai dan waduk, tetapi mempunyai manfaat salah satu diantaranya
adalah sebagai bahan penutup tanah (mulsa) dan kompos dalam kegiatan
pertanian perkebunan. Pupuk eceng gondok kaya asam humat. Itu lantaran eceng
gondok kaya serat lignin dan selulosa. Hasil penguraian keduanya menghasilkan
18

asam humat. Senyawa itu menghasilkan fitohormon yang mampu mempercepat


pertumbuhan akar tanaman sehingga tanaman lebih optimal menyerap hara dan
produktivitas pun meningkat.
Yulianti (2001) melaporkan bahwa efek pemberian pupuk eceng gondok
dengan berbagai dosis yaitu 10 ton/ha, 20 ton/ha, dan 30 ton/ha pada tanaman padi
menunjukkan semakin banyak pemberian pupuk organik cair eceng gondok,
makin

tinggi

produktivitas

padi.

Produksi

tertinggi

diperoleh

setelah

menambahkan 30 ton pupuk/ha. Hasil panen mencapai 6,8 ton/ha, lebih tinggi
daripada rata-rata produksi padi nasional sekitar 34 ton/ha. Maka eceng gondok
merupakan pupuk yang baik, bukan sebagai gulma yang dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman.

19

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu mulai tanggal 1 Januari
sampai 27 Februari 2015 untuk proses pemeliharaan di Lahan Pastura Fakultas
Peternakan Universitas Hasanuddin, dilanjutkan tanggal 27 Februari sampai 5
Maret 2015 untuk pengujian kandungan protein di Laboratorium Kimia Makanan
Ternak Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.2 Materi Penelitian
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah cangkul, parang,
ayakan tanah, meteran, gunting rumput, ember, selang plastik, gelas ukur,
saringan teh, timbangan, pot dengan ukuran diameter atas 22 cm x diameter
bawah 18 cm x tinggi 26 cm, klorofil meter Konica Minolta seri SPAD 502,
mesin penggiling, neraca analitik, tabung reaksi, gelas ukur, gelas piala, rak
tabung, lemari asam, labu ukur, pipet tetes, lab semprot, pipet ukur, labu destilasi,
labu Erlenmeyer, alat destilasi, dan buret.
Bahan-bahan yang digunakan adalah air, pupuk hijau cair berasal dari
daun gamal, jonga-jonga, eceng gondok, EM4, tanah, sampel rumput Brachiaria
brizantha, selenium mix, H2SO4, aquades, NaOH, indikator PP, dan H3BO4.
3.3 Metode Penelitian
a. Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 4
perlakuan dan 4 kali ulangan (Gaspersz, 1991). Perlakuan pemupukan yaitu :
20

P0 = Rumput Brachiaria brizantha tanpa pupuk cair (kontrol)


P1 = Rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau cair daun gamal 70 ml/Pot
P2 = Rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau cair daun jonga-jonga 84
ml/Pot
P3 = Rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau cair daun eceng gondok 95
ml/Pot
Model matematikanya adalah sebagai berikut :
Yij = + Ni + ijk
Di mana :
Yij = Hasil pengamatan dari perlakuan ke- i dan kelompok ke j

= Rata-rata pengamatan

Ni = Pengaruh pemberian pupuk ke I


ijk = Kesalahan eksprimen atau penelitian
b. Pelaksanaan Penelitian
1. Pembuatan Pupuk Hijau cair
Pupuk yang digunakan berasal dari daun tanaman liar atau tanaman
pengganggu dengan pertimbangan kandungan unsur hara yang cukup khususnya
N, yaitu berupa daun gamal (N=3,15%), jonga-jonga (N=2,65%) dan eceng
gondok (N=2,3%). Mula-mula daun dipetik, kemudian dipisahkan dari batangnya.
Masing-masing bahan (daun gamal, jonga-jonga dan eceng gondok) dimasukan
kedalam ember. Setiap perlakuan berisi 10 kg daun segar yang telah dicincang
menggunakan parang. Daun segar yang telah dicincang kemudian dimasukkan
kedalam ember, kemudian diisi air yang telah dihomogenkan dengan EM4 5 %
21

dari total bahan yang akan digunakan. Perbandingan antara berat daun segar yang
telah dicincang dengan air adalah 2 kg daun segar dan 1 liter air. Ember
dikondisikan selalu tertutup, agar tidak ada unsur hara yang hilang akibat
penguapan. Bagian atas tutup ember diberi lubang khusus untuk selang kecil,
ujung selang dimasukkan kedalam botol yang telah berisi air guna untuk
membuang gas yang berlebihan didalam ember. Hasilnya disaring dari dalam
ember setelah 7-14 hari setelah isi ember itu tidak berbau dan kelihatan menyusut.
Larutan dalam ember itulah yang disebut dengan pupuk cair dan siap untuk
digunakan pada tanaman (Jusuf, 2006 ).
2. Penanaman
Tanah yang digunakan diperoleh dari Lahan Pastura Fakultas Peternakan
Universitas Hasanuddin. Mula-mula tanah tersebut dihancurkan, kemudian
dibersihkan dan diayak untuk mengeluarkan batu, sisa-sisa tanaman dan materilmateril lainnya, lalu dihomogenkan. Tanah yang digunakan pada penelitian ini
bertekstur lempung liat berpasir (Tanah Litosol) dengan pH 6,28 dan kandungan
N 0,18%. Tanah yang telah diisi dalam pot ukuran 22 x 18 x 26 cm ditanami
anakan rumput Brachiaria brizantha dengan tinggi anakan 25 cm sebanyak 1
anakan setiap pot. Jarak antara pot yang satu dengan pot yang lain kurang lebih 40
cm. Setelah penanaman, dilakukan penyiraman setiap hari dengan jumlah air yang
diberikan sama pada setiap pot menggunakan gelas ukur dan dibiarkan tumbuh
selama 2 minggu. Setelah tumbuh, baru penerapan perlakuan mulai dilakukan
dengan memberi pupuk cair dari daun gamal 70 ml/ pot, jonga-jonga 84 ml/ pot
dan eceng gondok 95 ml/ pot (penerapan kadar pupuk hijau cair yang digunakan
22

pada perlakuan terlampir). Pupuk cair disiramkan merata di sekitar tanaman


sebanyak 1 kali pada awal pemeliharaan.
Denah penempatan perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.
Table 5. Denah Penempatan Perlakuan Penelitian
PERLAKUAN
P33

P23

P02

P14

P04

P12

P31

P21

P22

P34

P13

P03

P11

P01

P24

P32

Keterangan : P0
P1
P2
P3

: Rumput Brachiaria brizantha tanpa diberi pupuk cair


(Kontrol).
: Rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau cair daun
Gamal.
: Rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau cair daun
Jonga-jonga
: Rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau cair daun
Eceng Gondok.

Pemotongan rumput Brachiaria brizantha dilakukan yaitu pada umur 60


hari. Pengukuran klorofil daun dilakukan sebelum pemotongan tanaman.
Pemotongan rumput ini sekitar 10 cm dari pangkal batang tanaman atau
permukaan tanah, bagian yang sudah dipotong dimasukkan kedalam kantong lalu
ditimbang untuk mengetahui berat segarnya. Bagian yang sudah timbang berat
segarnya dimasukkan kedalam oven dengan suhu 70 0C selama 3 x 24 jam untuk
mengetahui berat kering untuk kemudian dianalisis kandungan proteinnya dengan
metode Kjeldahl.

23

3. Parameter yang diamati


Parameter yang diamati pada penelitian ini yaitu kandungan klorofil daun
dan kandungan protein rumput Brachiaria brizantha.

Kandungan Klorofil daun rumput Brachiaria brizantha diamati menggunakan


alat klorofil meter Konica Minolta seri SPAD 502 (Phabiola dan Khamdan,
2012). Pengukuran dilakukan setelah kalibrasi dalam kondisi kosong berhasil
dengan tanda angka 0 akan tertera dan bunyi nada. Kemudian mulai mengukur
pada beberapa bagian daun secara merata sebanyak 7 kali, lalu menentukan
rerata hasil pengukuran dalam satuan unit.

Kandungan protein rumput Brachiaria brizantha dengan metode Kjeldahl


(Sudarmaji dkk., 1989), dengan rumus sebagai berikt :
% Protein. K =

.146,25
. ( )

100 %

100

4. Analisis Statistik
Data yang diperoleh diolah secara statistik dengan menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kali ulangan
(Gaspersz, 1991) yang dilanjutkan uji BNT menggunakan software SPSS versi 16.

24

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kandungan Klorofil Daun Rumput Brachiaria brizantha yang Diberi


Pupuk Hijau Cair yang Berbeda.
Adapun data hasil yang diperoleh dari pengamatan kandungan klorofil daun
rumput Brachiaria brizantha yang diberi pupuk hijau cair yang berbeda dapat
dilihat pada tabel berikut :
Table 6. Kandungan Klorofil Daun Rumput Brachiaria brizantha berdasarkan
Skala SPAD Meter.
Kandungan Klorofil Daun (Unit) Rata-rata
Perlakuan
1
2
3
4
P0 (Kontrol)
32,2
33,6
24,6
29,7
30,025c
P1 (PHC Daun Gamal)

48,8

28,0

44,3

48,8

42,475b

P2 (PHC Daun Jonga-jonga)

58,7

61,7

61,8

61,8

61,000a

P3 (PHC Daun Eceng Gondok)

70,6

69,5

62,7

66,5

67,325a

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan


perbedaan yang sangat nyata (P < 0,01).

Hasil analisis ragam (Lampiran 1) menunjukkan bahwa pemberian pupuk


hijau cair yang berbeda pada rumput Brachiaria brizantha memberikan pengaruh
yang sangat nyata (P < 0,01) terhadap kandungan klorofil daun rumput Brachiaria
brizantha yang diukur menggunakan SPAD meter. Rata-rata kandungan klorofil
daun yang tertinggi hingga terrendah adalah perlakuan P3 (67,325), P2 (61,000),
P1 (42,475), dan P0 (30,025). Hal ini menunjukkan bahwa kandungan N pupuk
hijau cair yang berbeda tersebut mencukupi bagi rumput Brachiaria brizantha
untuk menghasilkan klorofil dalam daun, di mana skala kritis klorofil daun
berdasarkan pembacaan alat SPAD meter adalah 35 unit (Wahid, 2003). Menurut

25

Singh et al. (2002), efisiensi pemberian nitrogen ditinjau dari sinkronannya


pemupukan N dengan kebutuhan N tanaman. Upaya mensinkronkan waktu
pemberian dan kesesuaian takaran N yang dibutuhkan tanaman adalah dengan
pemantauan kecukupan hara N tanaman menggunakan klorofil meter dengan
SPAD (Soil-Plant Analisis Development) 502.
Klorofil adalah pigmen utama dalam memanfaatkan energi cahaya untuk
digunakan dalam fotosintesis. Semakin tinggi kandungan klorofil dan tersediaan
air akan memacu fotosintesis. Menurut Salisbury dan Ross (1995) hasil
fotosintesis tanaman digunakan dalam beberapa kebutuhan yaitu cadangan
makanan, respirasi dan pertumbuhan. Hal ini sependapat dengan Kovacs (1992)
bahwa penurunan kandungan klorofil mengakibatkan penurunan laju proses
fotosintesis sehingga hasil proses fotosintesis juga berkurang. Terhambatnya
asupan hasil fotosintesis kepada sel-sel apikal akan menyebabkan terhambatnya
pembelahan dan pemanjangan sel sehingga mempengaruhi pertumbuhan luas
permukaan daun.
Rata-rata kandungan klorofil daun rumput Brachiaria brizantha yang
diberikan pupuk hijau cair sangat meningkat dibandingkan tanpa pupuk, dan ratarata kandungan klorofil daun pada perlakuan P3 lebih tinggi dibandingkan dengan
perlakuan yang lain. Hal ini disebabkan karena eceng gondok semasa hidupnya
mampu menyerap zat organik, anorganik serta logam berat lain dalam bahan
pencemar di habitatnya. Menurut Ratnani dkk. (2010) Eceng gondok mampu
menetralisir air yang tercemar limbah. Zat organik dapat diserap melalui ujung
akarnya yang akan masuk ke dalam batang melalui pembuluh pengangkut

26

kemudian menyebar ke seluruh bagian tanaman eceng gondok. Pada proses ini zat
organik akan mengalami reaksi biologi dan terakumulasi di dalam batang
tanaman, kemudian diteruskan ke daun. Menurut Sriyana (2006), kandungan zatzat tersebut yang masih terikat dalam jaringan akan menjadi dasar penyediaan
nutrisi oleh eceng gondok saat diolah menjadi pupuk hijau cair.
Selain itu, kandungan klorofil yang tinggi pada sampel P3 juga disebabkan
karena di dalam eceng gondok terkandung asam giberelat. Menurut Peni dkk.
(2003), peranan asam giberelat dalam pembentukan klorofil adalah pada
pengaktifan enzim, setelah asam giberelat mengikat enzim yang terdapat pada
membran, maka enzim tersebut akan mengubah ATP menjadi AMP-siklik, yang
selanjutnya menggerakkan berbagai rentetan reaksi-reaksi sekunder dan tersier
termasuk pembentukan klorofil-karotenoid. Di samping itu reaksi respirasi juga
akan menghasilkan energi NADH/NADPH yang berguna untuk reduksi unsur
nitrat menjadi amonia dengan bantuan enzim nitrat reduktase. Bidwell (1979)
menambahkan bahwa peningkatan aktivitas nitrat reduktase menyebabkan
terjadinya peningkatan sintesis protein, produksi klorofil, asam nukleotida, asam
amino dan unsur-unsur lain yang dibutuhkan tumbuhan untuk perkembangan
vegetative.
4.2 Kandungan Protein Rumput Brachiaia brizantha yang Diberi Pupuk
Hijau Cair yang Berbeda.
Adapun data hasil yang diperoleh dari pengamatan kandungan protein rumput
Brachiaria brizantha yang diberikan pupuk hijau cair yang berbeda dapat dilihat
pada tabel berikut :

27

Table 7. Kandungan Protein Rumput Brachiaria brizantha


Kandungan Protein
Perlakuan
(% Bahan Kering)
1
2
3
4
P0 (Kontrol)
6,8
7,6
7,3
7,1

Rata-rata
7,200d

P1 (PHC Daun Gamal)

8,8

9,3

8,8

9,6

9,125c

P2 (PHC Daun Jonga-jonga)

12,9

11,9

15,6

16,6

14,250b

P3 (PHC Daun Eceng Gondok)

17,9

17,9

19,1

18,7

18,400a

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan


perbedaan yang sangat nyata (P < 0,01).

Hasil analisis ragam (Lampiran 2) menunjukkan bahwa pemberian pupuk


hijau cair yang berbeda pada rumput Brachiaria brizantha memberikan pengaruh
yang sangat nyata (P < 0,01) terhadap kandungan protein rumput Brachiaria
brizantha. Rata-rata kandungan protein tertinggi hingga terendah adalah P3
(18,400), P2 (14,250), P1 (9,125), dan P0 (7,2000). Protein tertinggi oleh
pemberian pupuk hijau cair berbahan eceng gondok diiringi dengan dosis
pemberian tertinggi (95 ml/pot). Hal ini sesuai dengan pernyataan Crespo dan
Odurado, (1986) bahwa efisiensi konversi nitrogen meningkat dengan
meningkatnya taraf nitrogen. Lebih diperjelas oleh Tyagi dan Singh (1985) bahwa
meningkatnya

taraf

pemupukan

menyebabkan

kandungan

protein

kasar

meningkat.
Kualitas tanaman merupakan fungsi dari tanah, iklim, spesies, dan
managemen. Sifat kimia, fisika, dan biologi tanah sangat mempengaruhi
pertumbuhan, hasil panen, dan kualitas tanaman. Sifat tersebut dapat diperbaiki
melalui pengolahan dan pemberian pupuk organik maupun anorganik. Kelebihan
pupuk N mampu memacu pertumbuhan vegetatif dan meningkatkan warna hijau

28

daun serta dapat diberikan saat tanaman membutuhkan. Engelstad (1997)


menyatakan bahwa pemberian nitrogen yang optimal dapat meningkatkan
pertumbuhan tanaman, meningkatkan sintesis protein.
Kandungan klorofil daun yang telah diukur memiliki korelasi yang positif
dengan kandungan protein rumput Brachiaria brizantha. Hal ini dihubungkan
oleh peran nitrogen dalam proses sintesis protein. Pernyataan ini didukung oleh
Dwidjoseputro (1978) bahwa peran N dalam pembentukan khlorofil mendorong
aktivitas fotosintesa. Asimilasi N merupakan langkah pertama dalam proses
pembentukan protein dan protein tidak akan terbentuk tanpa adanya hasil fotosintesis, oleh sebab itu kegiatan foto-sintesis merupakan kegiatan yang pokok.
Abidin (1994) menambahkan bahwa sintesis protein akan mempengaruhi
pembentukan klorofil. Karena salah satu komponen klorofil adalah protein.
Selain karena faktor level pemberian, rata-rata kandungan protein tertinggi
oleh perlakuan P3 juga disebabkan adanya kandungan asam giberelat yang
berperan dalam penyusunan klorofil dan protein dalam daun. Menurut Taiz dan
Zeiger (1998), asam giberelat mempunyai peranan dalam mendukung pembelahan
sel, pembentangan sel, aktivitas kambium dan pembentukan RNA baru serta
sintesis protein.

29

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas, dapat disimpulkan bahwa
pemberian pupuk hijau cair yang berbeda pada rumput Brachiaria brizantha dapat
meningkatkan kandungan protein dan klorofil daun (P < 0,01). Pemberian pupuk
hijaun cair daun eceng gondok pada rumput Brachiaria brizantha memberikan
pengaruh yang lebih baik dibandingkan pupuk hijau cair daun jonga-jonga, daun
gamal, dan tanpa pupuk.
5.2 Saran
Sebelum digunakan dan dikembangkan di lingkungan masyarakat, perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai dosis pemberian pupuk hijau cair
eceng gondok pada beberapa jenis hijauan pakan untuk mencukupi kebutuhan
kualitas pakan ternak serta pemanfaatan tanaman pengganggu.

30

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 1994. Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh.
Penerbit Angkasa. Bandung.
Ai, N. S. dan Y. Banyo. 2011. Konsentrasi klorofil daun sebagai indikator
kekurangan air pada tanaman. Jurnal Ilmiah Sains. 11:166-171.
Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit PT. Gramedia.
Jakarta.
Argenta, G., P. R. F. Silva, dan L. Sangoi. 2004. Leaf relative chlorophyll content
as an indicator parameter to predict nitrogen fertilization in maize.
Cincia Rural. Santa Maria. Journal Vol.34, n.5, p.1379-1387.
Bidwell, R.G.1979. Plant Physiology.2ndedition. New York: Macmillan
Publishing. Milan.
Binggeli,

P.

1997. Chromolaena Odorata. Woody Plant Ecology.


Ecology/docs/web-sp4.htm (diakses 20 November 2014).

Crampton, E. W. dan L.E. Haris 1969. Applied Animal Nutrition 2nd ed W.N
Freeman and New York.
Crespo, G. and M. Odurado, 1986. The Influence of Bovine Faeces and Nitrogen
Fertilizer on Forage Production of King Grass in Red Ferrallitic
Soil. Cuban J. Agric. Sci. 20: 277-283.
Dwijoseputro, D. 1978. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia. Jakarta.
Dwidjoseputro, D. 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Cetakan ke-2, PT.
Gramedia, Jakarta.
Engelstad. 1997. Teknologi dan Penggunaan Pupuk. UGM Press. Yogyakarta.
Fitri, Y. A. 2013. Kirinyuh (Chromolaena odorata), Gulma dengan banyak potensi
manfaat. http://ditjenbun.pertanian.go.id/perlindungan/berita-226kirinyuh-chromolaena-odorata-gulma-dengan-banyak-potensimanfaat.html (diakses pada tanggal 2 Februari 2015).
Gaspersz, V. 1991. Metode Rancangan Percobaan. Arminco. Bandung.
Ginting, S. P., dan K. R. Pond. 1996. Effects of Grazing Systems on Pasture
Production and Quality of Brachiaria Brizantha and Liveweight
Gain of Lambs. Melbourne. Australia.
Hardjowigeno. 1992. Ilmu Tanah. PT. Mediyatma Sarana Perkasa. Jakarta.

31

Havlin, J.L, T. Suhartini dan E.Rahayu. 2002. Tanaman Sawi dan Selada, PT.
Penebar Swadaya. Depok.
Heddy, S. 2003. Pemberian Pupuk N dan Interval Defoliasi terhadap Produksi
Bahan Kering Rumput Bebe (Brachiaria brizantha). Bagian
Pertama. PT. Rajagraffindo. Jakarta.
Hermawan, H. 2013. Makalah Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman : Fungsi
dan Bentuk Unsur Unsur Hara Makro dan Mikro di dalam Tanah
dan Tanaman serta Gejala Defisiensinya. Universitas Syiah Kuala.
Darussalam - Banda Aceh.
Humperys, L. R. 1974. Pastures Species, Nutritive Value and Manajement. A
Course Manual in Tropical Pastures. A. A. U. C. S. Meulbourne.
Australia.
Jusuf, L. 2006. Potensi daun gamal sebagai bahan pupuk organik cair. Jurnal
Agrisistem Vol.2. No 1.
Kovacs, M. 1992. Biological Indicators in Environmental Protection. Market
Cross House. England.
Lindawati, N., Izhar dan H. Syafria. 2000. Pengaruh pemupukan nitrogen dan
interval pemotongan terhadap produktivitas dan kualitas rumput
lokal kumpai pada tanah podzolik merah kuning. Jurnal Penelitian
Pertanian Tanaman Pangan 2(2): hal. 130-133.
Little, L. C. 1968. Handbook of Utilization of Aquatic Plant, FAO Fisherie
Technical Paper, No. 187. FAO. Roma.
Lubis, D. A. 1963. Ilmu Makanan Ternak. PT. Pembangunan. Jakarta.
Luik, P. 2005. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair Jonga-Jonga pada
Tanaman Jagung. Penerbit Kanisus. Jakarta.
Manullang, S. 2012. Hijauan Makanan Ternak. http://manullngs.blogspot.com/
2012/12/hijauan-makaan-ternak_80 62.html. (diakses pada tanggal
15 januari 2015).
Markwell, J., John C. Osterman dan Jennifer L. Mitchell. 1995. Calibration of The
Minolta SPAD-502 Leaf Chlorophyll Meter. Departments of
Biochemistry and Agronomy, and 2School of Biological Sciences,
University of Nebraska, Lincoln. USA.
Marthen. 2007. Ki Rinyuh (Chromolaena odorata (L) R.M. King dan H.
Robinson): Gulma padang rumput yang merugikan. Buletin Ilmu
Peternakan Indonesia (Wartazoa), Volume 17 No. 1.
Masud, P. 1993. Telaah Kesuburan Tanah. Angkasa. Bandung.
32

Mathius, I. M. 1984. Hijauan Gliricidia maculata Sebagai Pakan Ternak


Ruminansia. Balai Penelitian Ternak. Bogor.
McIlroy, R.J. 1977. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. Pradnya
Paramita. Jakarta.
Minson, D.J. dan Milford. 1981. Nutritional Diffrences Between Tropical and
Temperete Pasture In Grazing Animal . Ed by F. W. H. Marley.
Elsevier Scintifile Publshing Company. Amsterdam.
Mutters, C. 1999. Nitrogen Management in Akitakomachi. Butte County Rice
Industry. Japan.
Peni, D. K., Solichatun dan Endang A. 2003. Pertumbuhan, Kadar KlorofilKarotenoid, Saponin, Aktivitas Nitrat reduktase Anting-anting
(Acalypha indica L.) pada Konsentrasi Asam Giberelat (GA3) yang
Berbeda. Jurusan Biologi FMIPA. Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
Phabiola T. A. dan Khamdan K. 2012. Pengaruh Aplikasi Formula Pantoea
agglomerans Terhadap Aktivitas Antioksidan dan Kandungan
Klorofil Daun Tanaman Strowberi
Ratnani, R. D., Indah H., Laeli K. 2010. Pemanfaatan Eceng Gondok (Eichornia
Crassipes) untuk Menurunkan Kandungan Cod(Chemical Oxygen
Demond), Ph, Bau, dan Warna pada Limbah Cair Tahu. Lembaga
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Universitas Wahid Hasyim
Semarang, semarang.
Reksohadiprojo, S. 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makana Ternak Tropik.
BPFE. Yogyakarta.
Rismunandar. 1986. Mendayagunakan Tanaman Rumput. Penerbit Sinar Baru.
Bandung.
Rukmana, R. 2005. Rumput Unggul Hijauan Makanan Ternak. Kanisius.
Yogyakarta.
Sabihana, S. G. Soepardi dan S. Djokosudarjo. 1980. Pupuk dan Pemupukan.
Departemen Ilmu-Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Jakarta.
Salisbury, F. B and Ross, C. W. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 3.
(Diterjemahkan oleh : Diah R, Lukman dan Sumaryono). Penerbit
ITB. Bandung.
Sambara, M. W. 1995. Pengambilan and Efisiensi Pupuk N dan P pada Bagian
Daun dan Batang Rumput Setaria (Setaria anceps). Fakultas
Peternakan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar.

33

Schultze-Kraft. 1992. Forages (Edi). Plant Resources of South-East Asia


(PROSEA). No 4. Wageningen, Netherlands and Bogor. Indonesia.
Singh, B., Y. Singh, J. K. Ladha. 2002. Chlorophylmeter and leaf color chartBased nitrogen management for rice and wheat in Northweatern
India. Agron. J94:821-829.
Sirait, J. 2008. Luas Daun, Kandungan Klorofil dan Laju Pertumbuhan Rumput
pada Naungan dan Pemupukan yang Berbeda. Loka Penelitian
Kambing Potong. Galang Sumut.
Siregar, M. E dan A. Djajanegara. 1974. Pengaruh tingkat pemupukan zwavelzuur
kalium (zk) terhadap produksi segar 5 jenis rumput. Buletin L.P.P.
Bogor No 12, hal. 1-8
Siregar. 1996. Pengawetan Pakan Ternak. Penebar Swaday. Jakarta.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. PT. Melton Putra, Jakarta.
Soerohaldoko, S. 1971. On the Occurrence of Eupatorium odoratum at the Game
Reserve Pananjung. West Java. Weeds in Indonesia.
Sriyana, H.Y., 2006, Kemampuan Eceng Gondok dalam Menurunkan Kadar
Pb(II) dan Cr (VI) Pada Limbah dengan Sistem Air Mengalir dan
Sistem Air Menggenang, Tesis S2, Fakultas Teknik, Jurusan
Teknik Kimia UGM, Yogyakarta.
Sudarmaji S., B. Haryono dan Suhardi. 1989. Analisa Bahan Makanan dan
Pertanian. Liberty. Yogyakarta.
Sugiri. 1980. Mengenal Beberapa Jenis Hijauan Makanan Ternak Daerah Tropik.
Direktorat Jenderal Peternakan. Jakarta.
Suharno, B dan Nazaruddin. 1994. Ternak Komersial. PT. Penkar Swadaya.
Jakarta.
Sumarsono. 2007. Ilmu Tanaman Makanan Ternak. Fakultas Peternakan
Universitas Diponegoro. Semarang.
Sunarjono, H.

2003. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penerbit Penebar Swadaya.


Jakarta.

Suntoro, S., E. Handayanto dan Soemarno. 2001. Penggunaan Eceng gondok


(Eichornia crassipes) untuk Meningkatkan Ketersediaan P, K, Ca,
dan Mg Ilmu Pertanian Vol 12 No. 2 pada Oxic Dystrudepth di
Jumapolo, Karanganyar, Jawa Tengah. Agrivita. XXIII (1): 20-26.
Suseno, S. 1974. Limnology. Untuk Sekolah Perikanan Menengah Bogor. Jurusan
Budidaya. Departemen Pertanian. Direktorat Jendral Perikanan.
Bandung.
34

Susetyo. 1969. Hjauan Makanan Ternak. Direktorat Peternakan Rakyat. Dirjen


Peternakan. Deptan. Jakarta.
Sutedjo, M. M. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.
Sutedjo, M. M. 2004. Peranan Jonga-Jonga Terhadap Sifat Fisik Tanah, PT
Rineka Cipta. Jakarta.
Syarief, E. S. 1985. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana.
Bandung.
Taiz, L and E. Zeiger. 1998. Plant Physiology. Massachusetts: Sinauer Associates,
lnc.
Tillman, A. D., Hartadi. S., Reksohadiprojo S., Prawiro Kusumo, dan S.
Lebdosoekodjo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Tyagi, G.D. and V. Singh, 1985. Effect of Cutting management and Nitrogen
Fertilization on Yield and Quality of Pennisetum pedicellatum
Trin, (Dinanath Grass ), Trp. Agric. Trinidad Vol. 63 ( 2 ).
Vanderwoude, C. S., J.C. Davis and B. Funkhouser. 2005. Plan for National
Delimiting Survey for Siam weed. Natural Resources and Mines
Land Protection Services. Queensland Government.
Wahid, A. S. 2003. Peningkatan efisiensi pemupukan nitrogen pada padi sawah
dengan metode bagan warna daun. Jurnal Litbang Pertanian 22 (4):
156-161.
Whitemen, P. C. 1980. Tropical Pasture Science. Oxfort Universty Press.
Wilson, C. G. dan E.B.Widayanto. 2004. Establishment and spread of
Cecidochares connexa in eastern indonesia. in: chromolaena in the
asia-pacific region. DAY, M. D. and R. E. Mc Fadyen (Eds.)
ACIAR Technical Reports No. 55. pp. 39-44.
Yulianti, W. 2001. Kemampuan eceng gondok sebagai biofilter zat tersuspensi
pada konsentrasi efektif limbah cair tahu, Jurnal Habitat
Universitas Brawijaya Malang, 23-25.
Yunus. M. 1987. Hijauan Makanan Ternak. Universitas Brawijaya, Malang.

35

Lampiran 1. Penerapan Kadar Pupuk Cair yang Digunakan dalam


Perlakuan
Kandungan Nitrogen pupuk
1. Pupuk urea

= 46 % N

2. Pupuk Daun Gamal ( Gliricidia maculata )

= 3,15 % N

3. Pupuk Daun Jonga-Jonga (Cromolaena odorata)

= 2, 65 % N

4. Pupuk daun Eceng gondok ( Eichhornia crassipes ) = 2,3 % N

Penggunaan Urea 200 Kg/ Ha


1. Daun Gamal
437,78 kg N urea / Ha = 0,0315 kg N daun gamal / Ha
437,78 kg
0,0315 kg

= 13802,54 kg daun gamal / Ha

2. Pupuk Jonga-jonga
437,78 kg N urea / Ha = 0,0265 kg N pupuk jonga-jonga / Ha
437,78 kg
0,0265 kg

= 16406,79 kg pupuk jonga-jonga / Ha

3. Pupuk Eceng gondok


437,78 kg N urea / Ha = 0,023 kg N pupuk eceng gondok / Ha
437,78 kg
0,023 kg

= 18903,47 kg pupuk eceng gondok / Ha

36

Berat tanah = 10 kg / pot


Berat tanah = 2 x 106 kg/ Ha
Dosis pemberian pupuk cair ml/ pot
1. Pupuk daun gamal
10 kg
2.000.000 kg

DG

=
=

DG
13802 ,54 kg
1308025 ,4 kg
2.000.000 kg

= 0,070 kg / pot
= 70 ml / pot

2. Pupuk daun Jonga-jonga


10 kg
2.000.000 kg

DJ

DJ

16406 ,79 kg

164067 ,9kg
2.000.000 kg

= 0,084 kg / pot
= 84 ml / pot

3. Pupuk Eceng gondok


10 kg
2.000.000 kg

DEg

=
=

DEg
18903,47 kg
189034,7 kg

2.000.000 kg

= 0,095 kg / pot
= 95 ml / pot

37

Lampiran 2. Analisis Sidik Ragam Rancangan Acak Lengkap (RAL)


menggunakan SPSS versi 16. Kandungan Klorofil Daun
Rumput Brachiaria brizantha yang Diberi Pupuk Hijau Cair
yang Berbeda.
Kandungan Klorofil Daun (Unit) Rata-rata
1
2
3
4
32,2
33,6
24,6
29,7
30,025

Perlakuan
P0 (Kontrol)
P1 (PHC Daun Gamal)

48,8

28,0

44,3

48,8

42,475

P2 (PHC Daun Jonga-jonga)

58,7

61,7

61,8

61,8

61,000

P3 (PHC Daun Eceng Gondok)

70,6

69,5

62,7

66,5

67,325

Keterangan : Berbeda Sangat Nyata (P < 0,01)


Descriptives
kandungan_klorofil
95% Confidence
Interval for Mean
Std.
Std.
Mean Deviation Error

N
P0 (Kontrol)
P1 (PHC Daun
Gamal)
P2 (PHC Daun
Jonga-jonga)
P3 (PHC Daun
Eceng Gondok)
Total

Lower
Bound

Upper
Bound

Minimum Maximum

4 30.025

3.9601 1.9801

23.724

36.326

24.6

33.6

4 42.475

9.8804 4.9402

26.753

58.197

28.0

48.8

4 61.000

1.5341

.7670

58.559

63.441

58.7

61.8

4 67.325

3.5368 1.7684

61.697

72.953

62.7

70.6

16 50.206

16.1058 4.0264

41.624

58.788

24.6

70.6

Test of Homogeneity of Variances


kandungan_klorofil
Levene Statistic
3.065

df1

df2
3

Sig.
12

.069
ANOVA

kandungan_klorofil
Sum of Squares

df

Mean Square

Between Groups
Within Groups

3506.447

1168.816

384.502

12

32.042

Total

3890.949

15

F
36.478

Sig.
.000

38

Means Plots

Post Hoc Tests


Multiple Comparisons
Dependent Variable:kandungan_klorofil

(I) perlakuan
LSD P0 (Kontrol)

P1 (PHC Daun
Gamal)

P2 (PHC Daun
Jonga-jonga)

(J) perlakuan

95% Confidence
Interval

Mean
Difference
(I-J)

Std.
Error

Sig.

Lower
Bound

Upper
Bound

P1 (PHC Daun
Gamal)

-12.4500

4.0026

.009

-21.171

-3.729

P2 (PHC Daun
Jonga-jonga)

-30.9750

4.0026

.000

-39.696

-22.254

P3 (PHC Daun
Eceng Gondok)

-37.3000

4.0026

.000

-46.021

-28.579

12.4500

4.0026

.009

3.729

21.171

P2 (PHC Daun
Jonga-jonga)

-18.5250

4.0026

.001

-27.246

-9.804

P3 (PHC Daun
Eceng Gondok)

-24.8500

4.0026

.000

-33.571

-16.129

P0 (Kontrol)

30.9750

4.0026

.000

22.254

39.696

P1 (PHC Daun
Gamal)

18.5250

4.0026

.001

9.804

27.246

-6.3250 4.0026

.140

-15.046

2.396

P0 (Kontrol)

P3 (PHC Daun
Eceng Gondok)

39

P3 (PHC Daun
Eceng Gondok)

P0 (Kontrol)

37.3000

4.0026

.000

28.579

46.021

P1 (PHC Daun
Gamal)

24.8500

4.0026

.000

16.129

33.571

6.3250 4.0026

.140

-2.396

15.046

P2 (PHC Daun
Jonga-jonga)
*. The mean difference is significant at the
0.05 level.

Homogeneous Subsets
kandungan_klorofil
Subset for alpha = 0.05
Perlakuan
a

Duncan

P0 (Kontrol)

P1 (PHC Daun Gamal)

P2 (PHC Daun Jonga-jonga)

61.000

P3 (PHC Daun Eceng Gondok)

67.325

Sig.

30.025
42.475

1.000

1.000

.140

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.


a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.

40

Lampiran 2. Analisis Sidik Ragam Rancangan Acak Lengkap (RAL)


menggunakan SPSS versi 16. Kandungan Klorofil Daun
Rumput Brachiaria brizantha yang Diberi Pupuk Hijau Cair
yang Berbeda.

P0 (Kontrol)

Kandungan Protein
(% Bahan Kering)
1
2
3
4
6,8
7,6
7,3
7,1

P1 (PHC Daun Gamal)

8,8

9,3

8,8

9,6

9,125

P2 (PHC Daun Jonga-jonga)

12,9

11,9

15,6

16,6

14,250

P3 (PHC Daun Eceng Gondok)

17,9

17,9

19,1

18,7

18,400

Perlakuan

Rata-rata
7,200

Keterangan : Berbeda Sangat Nyata (P < 0,01).


Descriptives
kandungan_protein
95% Confidence
Interval for Mean
N
P0 (Kontrol)
P1 (PHC Daun
Gamal)
P2 (PHC Daun
Jonga-jonga)
P3 (PHC Daun
Eceng Gondok)
Total

Std.
Std.
Mean Deviation Error

Lower
Bound

Upper
Bound

Minimum Maximum

4 7.200

.3367

.1683

6.664

7.736

6.8

7.6

4 9.125

.3948

.1974

8.497

9.753

8.8

9.6

2.2128 1.1064

10.729

17.771

11.9

16.6

.3000

17.445

19.355

17.9

19.1

4.6543 1.1636

9.764

14.724

6.8

19.1

4 14.250
4 18.400
16 12.244

.6000

Test of Homogeneity of Variances


kandungan_protein
Levene Statistic
22.409

df1

df2
3

Sig.
12

.000
ANOVA

kandungan_protein
Sum of Squares

df

Mean Square

Between Groups
Within Groups

308.362

102.787

16.578

12

1.381

Total

324.939

15

F
74.405

Sig.
.000

41

Means Plots

Post Hoc Tests


Multiple Comparisons
Dependent Variable:kandungan_protein

(I) perlakuan
LSD P0 (Kontrol)

P1 (PHC Daun
Gamal)

P2 (PHC Daun
Jonga-jonga)

(J) perlakuan

95% Confidence
Interval

Mean
Difference
(I-J)

Std.
Error

Sig.

Lower
Bound

Upper
Bound

P1 (PHC Daun
Gamal)

-1.9250

.8311

.039

-3.736

-.114

P2 (PHC Daun
Jonga-jonga)

-7.0500

.8311

.000

-8.861

-5.239

P3 (PHC Daun
Eceng Gondok)

-11.2000

.8311

.000

-13.011

-9.389

1.9250

.8311

.039

.114

3.736

P2 (PHC Daun
Jonga-jonga)

-5.1250

.8311

.000

-6.936

-3.314

P3 (PHC Daun
Eceng Gondok)

-9.2750

.8311

.000

-11.086

-7.464

P0 (Kontrol)

7.0500

.8311

.000

5.239

8.861

P1 (PHC Daun
Gamal)

5.1250

.8311

.000

3.314

6.936

P3 (PHC Daun
Eceng Gondok)

-4.1500

.8311

.000

-5.961

-2.339

P0 (Kontrol)

42

P3 (PHC Daun
Eceng Gondok)

11.2000

.8311

.000

9.389

13.011

P1 (PHC Daun
Gamal)

9.2750

.8311

.000

7.464

11.086

P2 (PHC Daun
Jonga-jonga)

4.1500

.8311

.000

2.339

5.961

P0 (Kontrol)

*. The mean difference is significant at the


0.05 level.

Homogeneous Subsets
kandungan_protein
Subset for alpha = 0.05
Perlakuan
a

Duncan

P0 (Kontrol)

P1 (PHC Daun Gamal)

P2 (PHC Daun Jongajonga)

P3 (PHC Daun Eceng


Gondok)

Sig.

7.200
9.125
14.250
18.400
1.000

1.000

1.000

1.000

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.


a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.

43

Lampiran 3. Foto Dokumentasi Kegiatan Penelitian

Pengukuran Klorofil Menggunakan SPAD Klorofil Meter

Penggilingan Sampel Menggunakan Mesin Penggiling

44

Penimbangan Sampel Menggunakan Neraca Analitik

Proses Destruksi

Pengenceran Sampel Untuk Didestilasi

Proses Destilasi

Proses Titrasi

45