Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Ilmiah Mutli Teknik Kopertis Wilayah IX Sulawesi Volume V Edisi Ke 1 Februari 2010.

Efektivitas Fly Ash Mengadsorpsi Limbah Cair Cold Storage


dengan Parameter BOD, COD, dan TSS
Sinardi
Universitas Fajar
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas fly ash dalam mengadsorpsi limbah cair
cold storage dengan menggunakan parameter BOD, COD dan TSS.
Teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah adsorpsi limbah cair cold storage
menggunakan fly ash sebanyak 2 kg. Kemudian melakukan uji parameter organik limbah cold
storage setiap 2 jam pengambilan sampel selama 6 jam. Analisa data menggunakan analisis
statistik One Sample T-Test. Pengolahan data menggunakan program SPSS versi 13, selanjutnya
disajikan dalam bentuk tabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fly ash hanya efektif dalam mengadsorpsi limbah cair
cold storage untuk uji parameter TSS, dan COD. Tetapi tidak efektif untuk uji parameter BOD.
Kata Kunci : Fly Ash, BOD, COD, TSS.
PENDAHULUAN

Fly ash adalah terminologi umum untuk abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran
batubara. Fly ash berukuran 0,1 50 m, ukuran ini relative kecil. Kandungan abu akan terbawa
bersama gas pembakaran melalui ruang bakar dan daerah konversi dalam bentuk fly ash yang
mencapai 75 % sedangkan bottom ash dan slag mencapai 35 % (Anonim, 2006).
Fly ash atau abu terbang merupakan salah satu produk hasil pembakaran batubara. Sekitar
70% - 80% abu batubara yang dihasilkan dibuang ke landfill atau kolam.

Sebagian fly ash

seringkali digunakan sebagai pengganti semen dan beton, atau sebagai pengisi konstruksi bangunan
bahkan saat ini fly ash juga dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan batako.
Saat ini semakin banyak PT. PLN (Persero) mengoperasikan PLTU berbahan bakar batubara,
maka timbul permasalahan dalam pembuangan dan pemanfaatan limbah hasil pembakaran batubara
tersebut. Sampai saat ini pemanfaatannya masih belum maksimal sehingga membutuhkan biaya
dalam pengelolaan limbahnya antara lain diperlukan tempat pembuangan yang memenuhi syarat
lingkungan.
Melihat jumlah fly ash yang dihasilkan dari pembakaran batubara akan meningkat seiring
dengan pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar pada PLTU sehingga akan menjadi masalah bila
tidak dimanfaatkan, maka perlu dilakukan penelitian mengenai pemanfaatannya.
Fly ash merupakan material yang sangat halus berukuran yaitu 0,1 50 m. Salah satu sifat
dan komponen fly ash yang sangat menguntungkan adalah kemiripan komponennya dengan zeolit.

Jurnal Ilmiah Mutli Teknik Kopertis Wilayah IX Sulawesi Volume V Edisi Ke 1 Februari 2010.

Adapun komponen utama penyusun fly ash adalah Silika (SiO2), besi oksida (Fe2O3), Aluminium
oksida (Al2O3), Kalsium oksida (CaO), dan Magnesium oksida (MgO).
Keberadaan silika dan aluminium memungkinkan fly ash dapat dijadikan sebagai bahan dasar
zeolit. Penelitian yang telah dilakukan melaporkan bahwa zeolit yang terbuat dari fly ash batubara
dapat menurunkan COD, NH4-N, dan TSS berturut-turut sebanyak 43 %, 53 %, dan 82 %.
Di Kota Makassar terdapat beberapa industri yang bergerak pada sektor perikanan, khususnya
di Kawasan Industri Makassar. Industri tersebut mengelola hasil-hasil di bidang perikanan dengan
teknik pendinginan (cold strorage). Pada dasarnya cold storage mengelola masukan yang berupa
hasil laut atau perikanan dengan teknik pendinginan dan menghasilkan limbah berupa limbah padat
dan limbah cair.
Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair. Pada
dasarnya cold storage mengelola masukan yang berupa hasil laut atau perikanan dengan teknik
pendinginan dan menghasilkan air buangan yang mengandung bahan tersuspensi, bahan koloid dan
bahan organik terlarut dengan konsentrasi yang tinggi (Moertinah, 2004).
Pada umumnya limbah cair langsung dibuang ke lingkungan sehingga mencemari lingkungan
karena menurunkan kualitas air bila tidak tertangani dengan baik. Limbah cair tersebut bersifat
mencemari karena di dalamnya terdapat zat-zat bahan organik dan anorganik. Sebagian terlarut
dan sebagian lagi tersuspensi dalam air. Limbah yang mengandung bahan pencemar tersebut akan
mengubah kualitas lingkungan bila lingkungan tersebut tidak mampu memulihkan kondisinya
sesuai dengan daya dukung yang ada padanya.
Limbah cair cold storage mempunyai kandungan BOD antara 400-3.000 mg/L dan bahan
tersuspensi 200-3.000 mg/L. Konsentrasi ini dapat menjadi lebih tinggi jika limbah cold storage
tersebut seluruhnya langsung dimasukkan ke dalam air buangan (Djajadiningrat, 1995).
Adsorpsi adalah penyerapan suatu zat pada permukaan suatu zat lain ataupun kecendrungan
molekul atau ion dalam larutan untuk berkumpul pada permukaan suatu zat padat. Adsorspsi
terjadi oleh adanya gaya atraktif antara molekul yang teradsorpsi (adsorbate) dengan material
pengadsorpsi (adsorben). Suatu molekul dapat teradsorpsi apabila gaya adhesi antara molekul
adsorbate dengan molekul adsorben lebih besar dibandingkan dengan gaya kohesi dalam masingmasing molekul (Basset., et al, 1994).
Proses adsorpsi dilakukan untuk mengurangi senyawa bahan organik yang terdapat dalam
limbah cair. Proses adsorpsi ini terjadi karena adanya tegangan permukaan dari fly ash, makin
besar area yang disediakan maka makin banyak molekul yang di serap.
Berdasarkan uraian diatas, maka dirasa perlu melakukan penelitian skala laboratorium untuk
mengolah limbah cair cold storage dengan memanfaatkan fly ash untuk adsorpsi limbah cair cold
storage dengan melihat parameter organik dan menggunakan beberapa parameter tersebut untuk
menerangkan karakteristisk bahan organik air limbah tersebut.

Jurnal Ilmiah Mutli Teknik Kopertis Wilayah IX Sulawesi Volume V Edisi Ke 1 Februari 2010.

Adapun parameter-parameter yang dianalisis untuk pengolahan limbah cair adalah Kebutuhan
oksigen biokimia atau Biochemical Oxygen Demand (BOD), kebutuhan oksigen kimiawi atau
Chemical Oxygen Demand (COD), dan Total Suspended Solid (TSS).
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan No 14 Tahun 2003 menetapkan
bahwa parameter kualitas air yaitu :
1. BOD yaitu 30 mg/L.
2. COD yaitu 80 mg/L.
3. TSS yaitu 200 mg/L.
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat eksperimen untuk mengetahui efektivitas

fly ash dalam

mengadsorpsi limbah cair cold storage dengan melihat perbedaan mutu limbah cair cold storage
sebelum dan sesudah adsorpsi dengan menggunakan fly ash..
B. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2008 di Laboratorium Air dan Pencemaran Balai
Besar Hasil Industri Perkebunan (BBHIP) Makassar.
C. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah seperangkat alat adsorpsi (Gambar 1), pengaduk, gelas kimia, alat
penyaring yang dilengkapi dengan penghisap, kertas saring berpori

0,45 m, cawan petri, neraca

analitik, botol Winkler, buret, labu ukur, gelas ukur, erlenmeyer, pipet ukur, botol COD, gelas
piala, gelas ukur, oven, tabung reaksi.

Gambar 1. Seperangkat Alat Adsoprsi.

Jurnal Ilmiah Mutli Teknik Kopertis Wilayah IX Sulawesi Volume V Edisi Ke 1 Februari 2010.

Bahan yang digunakan adalah limbah cair cold storage, fly ash, air suling, larutan mangan
sufat (MnSO4), larutan alkali-iodida azida, asam sulfat pekat (H2SO4) indikator kanji, kristal
natrium tiosulfat (Na2S2O3.5H2O), kalium dikromat (K2CrO7) 0,025 N, larutan campuran kalium
dikromat-merkuri sulfat (K2Cr2O7-HgSO4), larutan campuran asam sulfat-perak sulfat (H2SO4Ag2SO4), indikator feroin, dan serbuk fero amonium sulfat (Fe(NH4)2(SO4)2.6H2).
D. Teknik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah mengadsorpsi limbah cair cold storage
menggunakan fly ash sebanyak 2 kg. Kemudian melakukan uji parameter organik limbah cold
storage setiap 2 jam pengambilan sampel selama 6 jam.
E. Analisis Data
Analisa data menggunakan analisis statistik One Sample T-Test. Pengujian satu sampel pada
prinsipnya untuk menguji apakah nilai pembanding (efektivitas, Lihat Lampiran) berbeda secara
nyata dengan nilai uji parameter organik sampel. Pengolahan data menggunakan program SPSS
versi 13, selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel.
F. Analisis Parameter
Analisis parameter limbah cair bahan organik yang terdiri dari :
1. Analisis BOD dengan Metode Titrimetri.
2. Analisis COD dengan Metode Tirtrimetri.
3. Analisis TSS dengan Metode Gravimetri.
G. Prosedur Analisis
Persiapan Fly Ash Batubara dan Zeolit
Fly ash batubara dan zeolit dengan ukuran 50 100 mesh dipanaskan di dalam oven pada
suhu 110oC selama 1 jam.
Prosedur Adsorpsi
Adsorben sebanyak 2 kg dimasukkan ke dalam kolom adsorpsi yang berukuran 20 cm x 20 cm
x 50 cm. Proses adsorpsi berlangsung dengan berat adsorben tetap dan beraliran kontinyu dengan
kecepatan alir untuk fly ash 0,55 Liter/Jam selama 6 jam. Setiap 2 jam proses adsorpsi dilakukan
pengujian terhadap limbah cair cold storage. Waktu adsorpsi adalah waktu yang diukur pada
interval 2 jam selama terjadinya kontak antara adsorbat dengan adsorben.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, diperoleh hasil seperti pada tabel di bawah
berikut :

Jurnal Ilmiah Mutli Teknik Kopertis Wilayah IX Sulawesi Volume V Edisi Ke 1 Februari 2010.

Tabel 1. Hasil Analisis Limbah Cair Cold Storage Setelah Menggunakan Fly Ash Dengan Waktu
Pengambilan Sampel Tiap 2 Jam.
Hasil Analisis
Parameter

Satuan

0 Jam

2 Jam

4 Jam

6 Jam

BOD

mg/L

478,17

372,24

321,44

332,22

COD

mg/L

888,16

575,84

397,72

522,16

TSS

mg/L

361

65,1

54,5

61,5

Sumber : Data Primer, 2008.


B. Pembahasan
Hasil analisis laboratorium terhadap kemampuan adsorpsi fly ash dengan waktu pengambilan
sampel tiap 2 jam seperti yang terlihat pada Tabel 1, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan mutu
limbah cair organik cold storage sebelum adsorpsi dan sesudah adsorpsi. Hal ini dikarenakan fly
ash memiliki rongga yang bila dipanaskan maka rongga tersebut mampu mengadsoprsi limbah cair
yang dilewatkan padanya. Seperti yang dikemukakan oleh Wang and Wu, (2006) bahwa fly ash
dapat digunakan sebagai adsorben yang menjanjikan untuk menghilangkan berbagai jenis polutan
dari air limbah. Selain itu adsorben yang berasal dari limbah suatu industri berupa fly ash, telah
digunakan untuk menghilangkan bahan organik yang terkandung dalam air limbah industri.

Terlihat pula bahwa setelah pengambilan sampel 4 jam, terjadi penurunan kemampuan fly ash
dalam mengadsorpsi limbah cair tersebut. Hal ini dikarenakan fly ash sudah mengalami kejenuhan,
seiring berjalannya waktu, perlahan proses adsorpsi menjadi tidak efektif lagi dan pada akhirnya,
fly ash yang telah jenuh limbah tidak bisa menyaring kembali (Darmawan, 2008).

Gambar 3. Hasil Pengukuran BOD Sebagai Fungsi Waktu Pengambilan Sampel Limbah Cair Cold
Storage Setelah Menggunakan Fly Ash.

Jurnal Ilmiah Mutli Teknik Kopertis Wilayah IX Sulawesi Volume V Edisi Ke 1 Februari 2010.

Adsoprsi limbah cair cold storage menggunkan fly ash untuk parameter BOD dengan waktu
optimum

4 jam yaitu 321,44 mg/L belum memenuhi syarat baku mutu berdasarkan Surat

Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan No 14 Tahun 2003 yaitu BOD 30 mg/L sehingga belum
aman langsung dibuang ke lingkungan dan memerlukan perlakuan lebih lanjut menggunakan
misalnya dengan menggunakan sekam padi agar limbah tersebut tidak merusak kualitas lingkungan
bila langsung dibuang.

Gambar 4. Hasil Pengukuran COD Sebagai Fungsi Waktu Pengambilan Sampel Limbah Cair Cold
Storage Setelah Menggunakan Fly Ash.
Demikian pula adsoprsi limbah cair cold storage menggunkan fly ash untuk parameter COD
dengan waktu optimum 4 jam yaitu 397,72 mg/L belum memenuhi syarat baku mutu berdasarkan
Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan No 14 Tahun 2003 yaitu COD 80 mg/L sehingga
belum aman langsung dibuang ke lingkungan dan memerlukan perlakuan lebih lanjut
menggunakan sekam padi agar limbah tersebut tidak merusak kualitas lingkungan bila langsung
dibuang.

Jurnal Ilmiah Mutli Teknik Kopertis Wilayah IX Sulawesi Volume V Edisi Ke 1 Februari 2010.

Gambar 5. Hasil Pengukuran TSS Sebagai Fungsi Waktu Pengambilan Sampel Limbah Cair Cold
Storage Setelah Menggunakan Fly Ash.
Sedangkan adsoprsi limbah cair cold storage menggunkan fly ash untuk parameter TSS
dengan waktu optimum 4 jam yaitu 54,50 mg/L telah memenuhi syarat baku mutu berdasarkan
Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan No 14 Tahun 2003 yaitu TSS 200 mg/L sehingga
aman langsung dibuang ke lingkungan.
Dari segi efektivitas fly ash dalam mengadsoprsi limbah cair, berdasarkan analisis statistik
One Sample T-Test (Tabel 2 dan 3) terlihat bahwa fly ash tidak efektif untuk menurunkan nilai
BOD limbah cair cold storage. Hal ini karena T hitung(BOD) = 0,000/2 < taraf kepercayaan 95 %
dan T hitung(BOD) = 0,017/2 < taraf kepercayaan 95 % berarti hipotesis H0 ditolak yaitu fly ash
tidak efektif untuk menurunkan nilai pH dan nilai BOD limbah cair cold storage.
Tabel 2. Output SPSS One-Sample Statistik BOD Dengan Menggunakan Fly Ash.
N
BOD

Mean
390.6167

Std.
Std. Error
Deviation
Mean
79.96468 46.16763

Tabel 3. Output SPSS One-Sample Test BOD Dengan Menggunakan Fly Ash.
Test Value = 45

BOD

t
7.486

df
2

Sig. (2Mean
tailed)
Difference
.017 345.61667

95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower
146.9734

Upper
544.2599

Jurnal Ilmiah Mutli Teknik Kopertis Wilayah IX Sulawesi Volume V Edisi Ke 1 Februari 2010.

Akan tetapi fly ash efektif dalam mengadsorpsi limbah cair bahan organik cold storage untuk
parameter COD, TSS. Hal ini terlihat dari uji statistik One Sample T-Test (Tabel 4, 5, 6, dan 7). T
hitung(COD) = 0,57/2 > taraf kepercayaan 95 %, dan Yaitu T hitung(TSS) = 0,370/2 > taraf
kepercayaan 95 %, berarti Hipotesis H0 diterima yaitu fly ash efektif dalam mengadsorpsi limbah
cair bahan organik cold storage untuk parameter COD dan TSS.
Tabel 4. Output SPSS One-Sample Statistik COD Dengan Menggunakan Fly Ash.
N
COD

Std.
Deviation

Mean
3

620.5733

Std. Error
Mean
143.3337
248.26126
0

Tabel 5. Output SPSS One-Sample Test COD Dengan Menggunakan Fly Ash.
Test Value = 45

t
COD

Sig. (2tailed)

df

4.016

.057

95% Confidence
Interval of the
Difference

Mean
Difference

Lower

575.57333

-41.1418

Upper
1192.288
5

Tabel 6. Output SPSS One-Sample Statistik TSS Dengan Menggunakan Fly Ash.
N
TSS

Std.
Deviation

Mean
3

160.2000

Std. Error
Mean
100.4466
173.97865
2

Tabel 7. Output SPSS One-Sample Test TSS Dengan Menggunakan Fly Ash.
Test Value = 45

t
TSS

Sig. (2tailed)

df

1.147

.370

Mean
Difference
115.20000

95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower

Upper

316.9869

547.3869

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Fly ash efektif dalam mengadsorpsi limbah cair cold storage untuk parameter COD dan TSS,
tetapi tidak efektif untuk parameter BOD.

Jurnal Ilmiah Mutli Teknik Kopertis Wilayah IX Sulawesi Volume V Edisi Ke 1 Februari 2010.

B. Saran
Diharapkan penelitian berikutnya untuk menguji kadar komposisi

fly ash dari batubara tiap

wilayah kemudian melakukan pengujian adsoprsi sehingga dapat diketahui seberapa besar
kemampuan fly ash tiap wilayah tersebut dalam mengadsorpsi.
DAFTAR PUSTAKA

Atkins dalam Haslinda. 2007. Studi Kemampuan Ion Tembaga (II) Dalam Air Dengan
Menggunakan Zeolit Kalium Dari Abu Terbang (Fly Ash) Batubara. Skripsi Tidak
diterbitkan. Jurusan Kimia Fakultas FMIPA. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Sulawesi Selatan. 2003. Keputusan Gubernur
Sulawesi Selatan Nomor 14 tahun 2003. Makassar.
Basset, Denney, R., Jeffery. 1994. Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anbahan organik Edisi 4.
Terjemahan ; Setiono L., dan Pudjaatmaka. Kalman Media Pustaka. Jakarta.
Bernasconi, G., et al. 1995. Teknologi Kimia Bagian 2. Terjemahan : Lienda Handono. Pradnya
Paramita. Jakarta.
Djajadiningrat. A. 1995. Pengelolaan dan Pengolahan Limbah : Proyek Pengembangan Pusat
Studi Lingkungan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Kementrian Lingkungan Hidup. 2006. Fly Ash dan Pemanfaatannya. Jakarta.
Luna, Y., E., Otal, et al. 2007. Use Of Zeolitised Coal Fly Ash For Landfill Leachate Treatment : A
pilot plant study. Waste Management 27,1877-1883.
Moertinah dalam Rivaldi. 2004. Karakteristik Limbah Cair Cold storage PT. Perikanan Samudra
Besar dalam Upaya Penerapan Produksi Bersih. Tesis Tidak diterbitkan. Program
Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar.
Santoso, S. 2006. Menguasai Statistik di Era Informasi Dengan SPSS. Elex Media Komputindo.
Jakarta.
Upe, A. 2006. Pemanfaatan Fly Ash sebagai Bahan Campuran Pembuatan Portland Pozzolan
Cemen (PPC) : Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 13 No 3. Pusat Studi Lingkungan
Hidup. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
______. 1999. Pemantauan Kualitas Air. Makalah disajikan dalam Pelatihan Singkat Pengelolaan
Limbah Cair dan Pengelolaan Terpadu DAS. SL-Unhas bekerjasama dengan Bapedal
Wilayah III/CEPI.
Wang, S., Wu, H. 2006. Environmental-Benign Utilization Of Fly Ash As Low-Cost Adsorbents. J.
Hazard. Mater. 136 (3), 482501.

Jurnal Ilmiah Mutli Teknik Kopertis Wilayah IX Sulawesi Volume V Edisi Ke 1 Februari 2010.