Anda di halaman 1dari 15

BIODEGRADABLE POLYMERS

OLEH:
Brigitta Bella T.P

21030113120015

M. Hafidz Fanshuri

21030113130107

William Darmanto

21030113140194

Dhuha Khairunnisa

21030111120021

Elnatan Dwi Cahyo

21030111130084

M Saddam Nashadaqu

21030111130095

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya
makalah Biodegradable Polymers dapat terselesaikan. Penyusunan makalah ini
bertujuan untuk memenuhi tugas Ilmu Bahan Rekayasa. Selain itu pembuatan
makalah ini bertujuan untuk mendalami Biodegradable Polymers itu sendiri.
Ucapan terima kasih kepada:
1. Dr. Dyah Hesti Wardhani, S.T, M.T. selaku dosen pengampu Ilmu Bahan
Rekayasa Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro;
2. Semua pihak yang telah membantu tersusunnya laporan ini.
Penyusun menyadari bahwa laporan resmi ini masih terdapat kekurangan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun laporan resmi ini sangat
penyusun harapkan. Semoga makalah Biodegradable Polymers ini bermanfaat
bagi semua pihak.
Semarang, 10 Oktober 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................. ii
Daftar Gambar .................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
I.2 Rumusan Masalah ............................................................................... 1
I.3 Manfaat ................................................................................................ 2
BAB II ISI
II.1 Pengertian ........................................................................................... 3
II.2 Kajian Tentang Perlunya Biopolimer Degradable ............................. 4
II.3 Cara Pembuatan Biodegradable Polimer ........................................... 4
II.4 Jenis Jenis Biodegradable Polimer ..................................................... 5
II.5 Aplikasi Polimer Biodegradasi ........................................................... 8
BAB III PENUTUP
III.1 Kesimpulan ....................................................................................... 9
Daftar Pustaka .................................................................................................... 11

ii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 DNA Biopolimer ............................................................................ 5
Gambar 2.2 Siklus Sistem Manufaktur Material Terbarukan ............................ 9

iii

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Polimer banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, salah satu
contohnya adalah polimer dalam bentuk plastik. Polimer yang umumnya
digunakan sebagai plastik didapat dari turunan minyak bumi seperti low density
polyethylene (LDPE) yang diaplikasikan sebagai plastik pembungkus yang mudah
dibentuk. Namun plastik yang berasal dari turunan senyawa dalam minyak bumi
memiliki kelemahan, yaitu berasal dari non renewable source yang berarti bahan
pembuat plastik berasal dari sumber yang terbatas yang sewaktu-waktu dapat
habis. Selain itu, masalah yang dapat timbul dari penggunaan plastik yang berasal
dari turunan minyak bumi adalah masalah pencemaran. Hal ini muncul karena
plastik tersebut sulit terdegradasi secara alamiah sehingga menimbulkan masalah
pencemaran terutama pencemaran tanah.
Akibat dari penggunaan plastik sintetis yang tidak terurai ini memicu para
ilmuwan internasional untuk mengembangkan polimer biodegradable dari bahanbahan alami, dan pada akhirnya industri dapat mengaplikasikan polimer baru yang
terdegradasi ini. Cara penggunaan akhir (pembuangan) dari polimer biodegradasi
tergantung pada komposisi dan metode pengolahan yang digunakan. Sebuah
sistem manajemen sampah terpadu mungkin diperlukan dalam rangka untuk
efisiensi dalam penggunaan pada pendaur-ulangan, dan pembuangan bahan
polimer (Subramanian, 2000). Pengurangan konsumsi sumber daya, penggunaan
kembali bahan yang ada, dan daur ulang bahan yang dibuang, kesemuanya harus
dipertimbangkan.
I.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu biodegradable polymer?
2. Bagaimana urgensi pembuatan serta penggunaan biodegradable polymer?
3. Bagaimana proses pembuatan biodegradable polymer?

I.3 Manfaat
1. Dapat mengetahui apa itu biodegradable polymer.
2. Memahami urgensi pembuatan serta penggunaan biodegradable polymer.
3. Memahami proses pembuatan biodegradable polymer.

BAB II
ISI
II.1 Pengertian
Polimer biodegradable adalah molekul-molekul besar (macromolecules)
yang dapat dihancurkan atau diuraikan oleh mikroorganisme, khususnya bakteri
dan jamur. Polimer polimer ini ditemukan baik secara alami dan dibuat secara
sintetis, dan sebagian besar terdiri ester, amida, dan kelompok fungsional eter.
Penggunaan polimer

sebagai material teknik terus

menunjukkan

perkembangan yang sangat pesat, contohnya adalah plastik. Ketidakmampuan


mikroorganisme untuk menguraikan material ini menimbulkan masalah sampah
non organik, yang jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan masalah
yang sangat serius.
Usaha-usaha untuk mendaur ulang dengan menggunakannya sebagai
material untuk produk baru menghasilkan produk dengan kualitas yang rendah.
Teknik pencampuran secara fisik dengan mencampurkan polimer-polimer sintetik
(polistirena, polietilena, dan lainnya) dengan polimer alam (kanji, tepung tapioka,
singkong, dan lainnya) selain menghasilkan poliblend yang terbiodegradasi secara
parsial (bagian polimer alam) juga menghasilkan material yang sering kali tidak
layak untuk digunakan sebagai material teknik. Sehingga diperlukan usaha-usaha
lain untuk membuat polimer biodegradable.
Alam sebagai penghasil polimer terbesar memberikan petunjuk bagaimana
mensintesis biopolimer. Alam menunjukkan bahwa ikatan-ikatan asetal pada kanji
(starch) dan selulosa, ikatan amida pada peptida dan protein, serta ikatan ester
pada poli (hidroksi fatty acids) sangat mudah untuk diuraikan, sedangkan ikatan
karbon-karbon pada lignin dan karet alam sulit untuk diuraikan.
Selain menunjukkan tipe ikatan yang mudah diuraikan, alam juga
menunjukkan parameter-parameter apa saja yang harus dicapai. Dekstrin
diuraikan dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan dengan kanji
berbobot molekul tinggi dan non kristalin, kanji yang hidrofilik diuraikan lebih
mudah dibandingkan dengan kanji yang kristalin dan kurang hidrofilik (Anonim,
2014).
3

II.2 Kajian Tentang Perlunya Biopolimer Degradable


Pengembangan bahan biopolimer yang inovatif telah berlangsung selama
beberapa tahun, dan merupakan bidang yang menarik bagi banyak para ilmuwan
mengembangkannya. Pada tahun 1996, pengiriman plastic sintetis dari industri
plastic Kanada meningkat sebesar 10,6% (Charron, 2001). Fomin (2001)
melaporkan bahwa pada akhir abad ke-20 produksi plastik sintetis di seluruh
dunia mencapai 130 juta ton/tahun, sementara permintaan untuk plastik
biodegradable dilaporkan akan tumbuh sebesar 30% setiap tahun. Pada saat itu
negara-negara Eropa dalam laporannya bahwa rata-rata penggunaan plastik
diperkirakan 100 kg per orang setiap tahunnya (Mulder, 1998), sementara saat ini
penggunaan

material

plastik

di

negara-negara

Eropa

Barat

mencapai

60kg/orang/tahun, di Amerika Serikat mencapai 80kg/orang/tahun, sedangkan di


India hanya 2kg/orang/tahun. Akibat dari penggunaan plastik sintetis yang tidak
terurai ini memicu para ilmuwan internasional untuk mengembangkan polimer
biodegradable dari bahan-bahan alami, dan pada akhirnya industri dapat
mengaplikasikan polimer baru yang terdegradasi ini. Cara penggunaan akhir
(pembuangan) dari polimer biodegradasi tergantung pada komposisi dan metode
pengolahan yang digunakan. Sebuah system manajemen sampah terpadu mungkin
diperlukan dalam rangka untuk efisiensi dalam penggunaan pada pendaurulangan, dan pembuangan bahan polimer (Subramanian, 2000). Pengurangan
konsumsi sumber daya, penggunaan kembali bahan yang ada, dan daur ulang
bahan yang dibuang, kesemuanya harus dipertimbangkan.
II.3 Cara Pembuatan Biodegradable Polimer

Secara umum bahan biodegradasi terjadi dalam berbagai tahap. Pada tahap
ini menjelaskan secara umum. Awalnya, makromolekul dicerna, yang kemudian
membentuk rantai, dan mengalami pemotongan langsung enzimatik. Ini diikuti
dengan metabolisme bagian split, mengarah ke disimilasi enzimatik progresif
makromolekul dari ujung rantai. Pembelahan oksidatif dari makromolekul dapat
terjadi sebaliknya, mengarah ke metabolisasi fragmen, dan akhirnya fragmen
rantai menjadi cukup pendek untuk dapat diubah oleh mikroorganisme.

Gambar 2.1 DNA Biopolimer


Pada gambar 2.1 memperlihatkan bahwa polimer biodegradable (yang
berasal dari sumber tanaman) sebagai sumber daya terbarukan, dan biasanya
dalam bentuk pati atau selulosa. Seperti dilaporkan oleh Lorcks (1998), penelitian
polimer dan pengembangan yang inovatif sudah mengarah ke produksi dalam
skala besar dengan konverter plastik. Biopolimer yang dibentuk menjadi produk
akhir akan dapat dimanfaatkan oleh konsumen. Produk biopolimer yang sudah
tidak terpakai, idealnya dibuang dalam bak pengumpulan sampah bio, hal ini
dimaksudkan agar tidak tercampur dengan produk polimer sintetis, sehingga
terikut dalam proses pengomposan. Proses ini pada akhirnya akan meninggalkan
karbon dioksida dan air, yang merupakan produk sampingan yang ramah
lingkungan.
II.4 Jenis Jenis Biodegradable Polimer
1.

Polimer struktural
Biodegradable juga berarti proses pengomposan (composting). Polimer-

polimer yang mampu dikomposkan (compostable) harus memenuhi beberapa


kriteria, yaitu mengandung salah satu dari jenis ikatan asetal, amida, atau ester,
memiliki berat molekul dan kristalinitas rendah, serta memiliki hidrofilitas yang
tinggi. Persyaratan ini sering kali bertentangan dengan permintaan masyarakat,
kebutuhan pasar, dan spesifikasi teknik. Sehingga jalan kompromi pengaruh berat
molekul, kristalinitas dan hidrofilitas terhadap biodegradabilitas dan sifat mekanik
harus ditempuh.
Pengomposan yang sempurna sampai ke tahap mineralisasi akan
menghasilkan karbon dioksida dan air. Hal ini kurang disukai karena tidak
memperbaiki kesetimbangan CO di udara, energi yang terkandung di dalam
5

material yang dikomposkan tidak dapat di recovery serta tidak memungkinkan


material diubah menjadi material-material dasar yang dapat digunakan kembali
(reusable). Hanya pengomposan terkontrol yang akan menghasilkan kompos yang
dapat digunakan untuk kebutuhan pertanian dan kehutanan.
Polimer biodegradable dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu biosintesis
seperti pada kanji dan selulosa, proses bioteknologi seperti pada poli (hidroksi
fatty acids), dan dengan proses sintesis kimia seperti pada pembuatan poliamida,
poliester, dan poli (vinil alkohol). Kanji dan selulosa diperoleh langsung dari
sintesis alam, dengan jalan ini dapat diperoleh biopolimer dalam kuantitas yang
besar dan murah, tetapi memiliki kelemahan dalam hal penyerapan air yang tinggi
dan tidak dapat dilelehkan tanpa bantuan aditif.
Poli (hidroksi fatty acid) dihasilkan oleh mikroorganisme dengan proses
bioteknologi. Material ini sekarang sudah tersedia di pasar dengan harga yang
tinggi karena proses isolasi dan pemurniannya yang rumit.
Patut diperhatikan bahwa polimer ini disintesis dari glukosa, glukosa
diperoleh dari proses penguraian secara fermentasi (fermentative breakdown) dari
biopolimer kanji. Sintesis kimia memberikan lebih banyak kemungkinan untuk
memproduksi polimer biodegradable.
Poliester dengan berat molekul dan kristalinitas tinggi serta memiliki sifat
hidrofilitas yang rendah diketahui sebagai salah satu material teknik yang penting,
tetapi sifat-sifat tersebut mempunyai pengaruh negatif terhadap kemudahan
polimer tersebut untuk dibiodegradasi (biodegradability). Alifatik poliester dapat
dianggap sebagai langkah pertama untuk mengompromikan sifat sifat di atas.
2. Polimer fungsional
Salah satu polimer fungsional yang penggunaannya sangat besar adalah
poli (karboksilat), misalnya, digunakan di dalam detergen dan larutan pembersih
(cleaner). Polimer ini berfungsi untuk mencegah penumpukan calcareous
(endapan putih dari kalsium) pada saat pemanasan cucian. Sebelum tahun 1980
dunia industri menggunakan fosfat dalam jumlah yang besar untuk mencegah
calcereous.
Pada tahun 1980 ditemukan kombinasi yang sangat efektif antara poli
(karboksilat), kopolimer dari asam akrilat dan asam maleat, dan zeolit sebagai
6

pengganti fosfat di dalam detergen (lihat gambar 2). Poli (karboksilat) jenis ini
tidak dapat didegradasi oleh mikroorganisme, sehingga kalsium-poli (karboksilat)
tetap terlarut di dalam larutan pencuci. Hal ini tentu sangat berbahaya karena
dapat memengaruhi kesehatan masyarakat dan unsur hara di dalam tanah.
Usaha-usaha telah dilakukan untuk mendapatkan poli (karboksilat) yang
secara sempurna dapat diuraikan menjadi karbon dioksida dan air. Penambahan
elemen-elemen struktural ke dalam kopolimer asam akrilat dan asam maleat
menghasilkan polimer yang terbiodegradasi sebagian.
Jadi, terpolimer asam akrilat, asam maleat, dan vinil asetate, bahkan
dengan jumlah poli (vinil alkohol) yang banyak belum dapat menghasilkan
polimer yang terbiodegradasi secara sempurna.
Usaha lain dengan membuat percabangan (grafting) kanji pada rantai
utama hanya menghasilkan biodegradasi parsial pada bagian kanji, sedangkan
bagian yang lain masih tidak dapat diuraikan. Walaupun pengurangan berat
molekul mempunyai pengaruh positif terhadap biodegradability tetapi masih
belum menghasilkan polimer yang terbiodegradasi sempurna.
Perlu dicari cara lain untuk mendapatkan struktur polimer baru yang
memiliki fungsi yang sama dengan poli (karboksilat) tetapi dapat diuraikan
dengan sempurna oleh mikroorganisme. Sekali lagi, alam memberikan jawaban
terhadap masalah ini. Binatang remis (mussel) menggunakan protein untuk
mengubah kalsium terlarut menjadi senyawa kristalin.
Senyawa ini digunakan untuk membentuk kulit atau tempurungnya.
Lapisan tengah dari tempurung ini mengandung prisma kalsium karbonat
sedangkan bagian dalamnya mengandung lembaran-lembaran kalsium karbonat
yang sangat halus. Prisma dan lembaran kalsium karbonat menyebabkan efek
warna-warni pada tempurungnya.
Protein yang terlibat dalam proses kristalisasi ini mempunyai kandungan
asam aspartat yang tinggi. Jadi, fungsi poli (asam aspartat) dalam sistem biologis
adalah untuk mengontrol transpor dari garam-garam anorganik yang sedikit larut
dalam air dengan cara pengikatan ion secara selektif. Hal ini sesuai dengan fungsi
poli (karboksilat) di dalam detergen.

Pembuatan

poli (asam aspartat) dilakukan melalui sistesis poli

(aspartiimides) yang dihidrolisa dengan natrium hidroksida untuk menghasilkan


garam natrium dari poli (asam aspartat) yang terlarut. Polimer ini menunjukkan
fungsi yang sama dengan poli (karboksilat) di dalam aplikasi detergen dan
terbiodegradasi secara sempurna oleh mikroorganisme. (Anonim, 2014)
II.5 Aplikasi Polimer Biodegradasi
Penelitian dan pengembangan hanya sebagian dari pekerjaan yang
dilakukan dalam rangka untuk memperkenalkan penggunaan bahan polimer
biodegradable. Desain bahan-bahan tersebut biasanya dimulai dengan aplikasi
konseptual. Ini mungkin diharapkan untuk menggantikan bahan yang ada, atau
untuk melengkapi salah satunya. Biopolimer telah diperkenalkan dan dapat
diaplikasi antara lain pada sektor kedokteran, kemasan, pertanian, dan industri
otomotif. Banyak bahan yang telah dikembangkan dan dikomersialisasikan dan
kemudian diterapkan pada lebih dari satu sektor/kategori ini.
Ecoflex

adalah

bahan

plastik

sepenuhnya

biodegradable

yang

diperkenalkan pada konsumen oleh BASF pada tahun 2001. Bahan ini tahan
terhadap air dan lemak, sehingga cocok untuk digunakan sebagai pembungkus
sekali pakai yang higienis, dan dapat terurai dalam sistem pengomposan yang
normal. Hasilnya, Ecoflex telah menemukan sejumlah aplikasi sebagai
pembungkus kemasan.
Environment Polymer (Woolston, Warrington, Inggris) juga telah
mengembangkan bahan plastic biodegradable yang dikenal sebagai depart,
produk alkohol polivinil ini dirancang untuk penggunaan pada teknologi ekstrusi,
injection molding, dan blow molding. Penguraian pada suhu tertentu,
memungkinkan penggunaan depart untuk berbagai aplikasi, antara lain produk
pertanian, kemasan makanan sekali pakai, dan lain-lain.
Biodegradasi dan karakteristik terbarukan dari biopolimer ini sangat
menarik untuk diaplikasikan pada produk kemasan yang inovatif.

Gambar 2.2 Siklus Sistem Manufaktur Material Terbarukan


Gambar 2.2 memperlihatkan siklus penggunaan akhir dari produk tersebut
bervariasi secara luas, sebagai contoh, plastik film biodegradasi dapat digunakan
sebagai kantong sampah, piring dan sendok garpu sekali pakai, kemasan makanan,
dan bahan pengiriman.
1. Sektor Pertanian
Bahan biopolimer yang cocok untuk kemasan sering digunakan dalam
produk pertanian. Ecoflex, khususnya, melihat peluang tersebut, tanaman
muda yang sangat rentan terhadap embun beku dapat dilindungi dengan film
tipis Ecoflex. Pada akhir musim tanam, film dapat terurai kembali ke tanah, di
mana ia akan dipecah oleh mikroorganisme yang sesuai (Fomin, 2001).
Aplikasi pertanian untuk biopolimer tidak terbatas pada plastik film
penutup. Wadah seperti pot-pot tanaman dan wadah pengomposan
biodegradable sekali pakai (Huang dkk, 1990). Tas penyimpanan pupuk dan
bahan kimia yang biodegradable juga dapat diaplikasikan.
2.

Sektor Dunia Medis


Pada sektor dunia medis, para peneliti yang bekerja dalam rekayasa

jaringan sedang berusaha untuk mengembangkan organ dari bahan polimer,


yang cocok untuk transplantasi ke tubuh manusia. Plastik akan memerlukan
penyesuaian

dengan

factor

pertumbuhan

dalam

rangka

mendorong

pertumbuhan sel dan pembuluh darah di organ baru.


Pekerjaan yang telah diselesaikan pada sektor ini mencakup
pengembangan biopolimer dengan situs adhesi yang bertindak sebagai tuan
9

rumah sel dalam memberikan bentuk yang menyerupai organ yang berbeda.
Tidak semua aplikasi biopolimer dalam bidang kedokteran terlibat sebagai
organ buatan, tetapi klasifikasi bahan bioaktif mencakup semua biopolimer
dapat digunakan untuk aplikasi medis, salah satu contoh adalah bahan tulang
buatan yang melekat ke tulang dan diintegrasikan dalam tubuh manusia. Zat
yang paling umum yang digunakan pada sektor ini disebut biogelas (Kokubo
dkk, 2003).
3. Sektor Otomotif
Sektor otomotif megakomodir tuntutan masyarakat dan pemerintah
dalam tanggungjawabnya terhadap lingkungan. Mobil berbasis bio menjadi
lebih ringan, sehingga menjadi pilihan yang lebih ekonomis bagi konsumen,
hal ini dikarenakan biaya bahan bakar menjadi berkurang. Serat alami dapat
menggantikan serat kaca sebagai bahan penguat pada plastik untuk dijadikan
komponen mobil dan kendaraan komersial.
Manfaat tambahan dari menggunakan bahan polimer biodegradable
adalah limbah produk dapat dikomposkan. Serat alami (jute atau hemp)
biasanya diterapkan dalam bagian interior, yaitu komponen yang tidak
memerlukan kapasitas beban bantalan, tetapi lebih mementingkan pada
stabilitas dimensi. Penelitian dan pengembangan pada sektor ini menjadikan
antusiame para ilmuwan, terutama di negara-negara Eropa.

10

DAFTAR PUSTAKA
Subramanian, P.M., 2000. Plastics recycling and waste management in the US,
Resources, Conservation, and Recycling, 28: 253-263.
Anonim,

2014.

http://www.chem-is-

try.org/artikel_kimia/kimia_lingkungan/polimer_biodegradable/.
Anonim.

2014.

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-22339-

2408100086-Chapter1.pdf.
Fomin, V.A., 2001. Biodegradable polymers, their present state and future
prospects, Progress In Rubber and Plastics Technology, 17(3): 186-204.
Charron, N., 2001. Plastic Products and Industries, tatistics Canada Ref. No. 33250-XIE. Ottawa, Canada: Manufacturing, Construction, and Energy
Division.
Mulder, K.F., 1998. Sustainable production and consumption of plastics?,
Technological Forecasting and Social Change, 58: 105-124.
Lorcks, J., 1998. Properties and applications of mater-bi starch-based materials,
Polymer Degradation and Stabilit,. 59(1-3): 245-249.
Huang, J.C.; Shetty, A.S. and Wang, M.S., 1990. Biodegradable plastics: A review,
Advances in Polymer Technology, 10(1): 23-30.
Kokubo, T.; Kim, H. and Kawashita, M., 2003. Novel bioactive materials with
different mechanical properties, Biomaterials, 24: 2161-2175.

11

Anda mungkin juga menyukai