Anda di halaman 1dari 7

ELECTROENCHEPHALOGRAM (EEG)

Merupakan suatu rekaman aktivitas listrik (elektrik) sel saraf otak.


EEG merupakan suatu pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui aktivitas gelombang
otak. Sedangkan elektroenchephalografi adalah suatu metode pencatatan gelombang otak
menggunakan
alat
yang
peka
terhadap
gelombang
otak. Neuronneuron mampu mengeluarkan gelombang listrik dengan tegangan yang sangat kecil (mV),
yang kemudian dialirkan ke mesin EEG untuk diamplifikasi sehingga terekamlah
elektroenselogram yang ukurannya cukup untuk dapat ditangkap oleh mata pembaca EEG
sebagai gelombang alfa, beta, theta dan sebagainya.

Tujuan EEG
Kalangan kedokteran menggunakan sinyal EEG untuk diagnosa penyakit yang berhubungan
dengan kelainan otak dan kejiwaan. Walaupun penggunaan teknik modern seperti CT Scan
dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat memeriksa otak, namun EEG tetap berguna
mengingat sifatnya yang non-destruktif, dapat digunakan secara on line dan sangat murah
harganya dibandingkan kedua metoda. Disamping keunggulan lain, sinyal EEG dapat
mengidentifikasi kondisi mental dan pikiran, serta menangkap persepsi seseorang terhadap
rangsangan luar.
Untuk mengetahui ada tidaknya abnormalitas fungsi maupun struktur lapisan otak bagian
luar.
Fungsi EEG
Berikut fungsi EEG :
A.

Mendiagnosis epilepsi dan tanda-tandanya.

B.

Mengecek permasalahan pada orang yang mengalami kehilangan kesadaran.

C.

Mencari tahu apakah seseorang dalam keadaan koma.

D.

Mempelajari penyebab susah tidur.

E.

Melihat aktivitas otak ketika seseorang menerima obat anestesi selama operasi otak.

F.
Membantu orang yang memiliki masalah psikis, seperti rasa gugup, dan kesehatan
mental.
Persiapan Sebelum Pemeriksaan
Sebelum melakukan tindakan EEG, maka pasien ada beberapa hal yang harus dipersiapkan,
diantaranya yaitu :
A.

Identitas penderita harus dicatat lengkap

B.

Tingkat kesadaran penderita harus dicatat, untuk menghindari salah interpretasi EEG

C. Obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien harus diidentifikasi, oleh karena beberapa
obat-obatan tertentu yang dapat mempengaruhi frekuensi maupun bentuk gelombang otak.
-Saat terbaik perekaman adalah pada saat bebas obat sehingga gelombang otak yang didapat
adalah gelombang otak yang bebas dari pengaruh obat
D. Premedikasi, dosis dan berapa lama sebelum perekaman harus diidentifikasi dengan
jelas.
E.

Pasien dalam keadaan tenang dan rileks

F. Kulit kepala dalam keadaan bersih, bebas kotoran, debu, minyak dan kulit yang mati.
sampolah rambut serta membilas dengan air bersih saat mandi sore atau pagi hari sebelum di
lakukan test
G.

Perhatikan adanya bekas luka, bekas kraniotomi

H. Hindari makanan yang mengandung kafein ( seperti kopi, teh, cola, dan coklat)
sedikitnya 8 jam sebelum test. Makanlah dalam porsi kecil sebelum test, sebab gula darah
rendah ( hypoglycemia) dapat menghasilkan test abnormal
I.
Tidur dapat mempengaruhi hasil EEG maka ushakan agar pasien tidak tertidur saat
dilakukan test, jika anak-anak akan di EEG coba untuk tidur sebentar tepat sebelum
dilakukan test
J.
Penyuluhan penderita sebelum perekaman tentang tujuan dilakukannya EEG, apa yang
dilakukan teknisi terhadap dirinya sebelum dan saat perekaman, apa yang harus dilakukan
penderita saat perekaman dan apa yang akan dirasakan oleh penderita saat perekaman
Indikasi
a)

Pasien dengan kemungkinan gangguan hantaran impuls saraf otak.

b)

Pasien dengan penurunan kesadaran/ koma

c)

Mengevaluasi efek serebral pada penyakit metabolic sistemik

d)

Mengevaluasi tidur (Sleepy Study)

e)

Memonitor aktivitas serebral pada pasien dalam narkose umum

Persiapan
a)

Periksa apakah pasien batuk, pilek atau demam.

b) Pasien tidak dalam kondisi konsumsi obat penenang.


c)

Anjurkan pasien untuk tidak mengkonsumsi berkafein minimal 8 jam sebelum tes.

d) Pasien jangan dipuasakan karena kagar gula darah yang rendah akan mempengaruhi hasil
EEG.
e)

Anjurkan pasien untuk mencuci rambut sebelum pemeriksaan EEG.

f)

Pasien harus tidur malam yang cukup.

Langkah kerja

Lakukan pengukuran kepala agar pemasangan elektroda simetris. Dapat juga dilakukan
penandaan titik penempatan elektroda.
Bersihkan tiap titik peletakan elektroda dengan abrasive gel, caranya letakkan abrasive gel ke
lidiwaten / cotton bud kemudian gosok perlahan lahan dititik yang akan diletakkan
elektrodanya. Penulis menggunakan Nuprep sebagai abrasive gelnya.
Pasang elektroda Ref dan ground untuk memudahkan dalam cek impedance. Pemasangan
elektroda ground biasanya diletakkan di FPZ dan untuk Elektroda Ref diletakkan di diantara
CZ dan FCZ.
Untuk merekatkan elektroda ke kepala, gunakan pasta ten20, pemasangan yang baik adalah
pada saat elektroda yang sudah diberi pasta ten20 kemudian direkatkan ke kepala.
Perhatikan setelah memasang elektroda, akan muncul nilai impedansi dilayar monitor. Bila
angka dibawah 5 Kohm berarti pemasangan sudah baik. Atau dibeberapa mesin digital EEG
ada parameter warna, bila berwarna hijau nilai di bawah 5 Kohm dan bila di atas 5 Kohm
berwarna merah. Parameter warna tergantung dari masing-masing mesin EEG Lakukan
langkah diatas sampai semua elektroda terpasang.

Ganjal kepala pasien dengan bantal, pergunakan bantal yang nyaman tapi tidak mengganggu
elektroda yang terpasang.
Saat perekaman, anjurkan pasien untuk membuka dan menutup mata beberapa kali.
Pantau aktivitas pasien seperti batuk, berbicara.
Gunakan montage Referential, contoh : FP1-Ref, FP2-Ref, F4-Ref dst. Tujuannya adalah agar
operator lebih cepat dan mudah dalam memperbaiki elektroda yang lepas.
Saat rekaman, lanjutkan dengan memberikan pertanyaan ringan samapi berat,
Untuk pertanyaan perkalian, penjumlahan dan pembagian operator harus tau kemampuan /
pendidikan pasien.
Lakukan provokasi dengan menggunakan photic, photic adalah lampu LED atau strobo yang
dapat diatur intensitas cahaya dan frequensinya.
Setelah Provokasi photic selesai, lakukan provokasi hiperventilasi, hiperventilasi adalah
bernafas dengan cepat yang dilakukan kurang lebih 3 menit.
Berikan contoh ke pasien sebelum melakukan hiperventilasi. Dengan cara tarik nafas dari
hidung buang melalui mulut, lakukan secara cepat. Hati-hati dalam melakukan hiperventilasi,
bila pasien ada gangguan jantung konsultasikanlah dengan dokter pembaca atau dokter
pengirim
Setelah porvokasi hiperventilasi, lakukan post hiperventilasi, bernafaslah secara normal
kurang lebih 3 menit.
Setelah semua selesai, usahakan pasien tidur, bila pasien mengantuk diawal rekaman biarkan
pasien tidur kurang lebih 15 menit, kemudian bangunkan. Diharapakan dokter pembaca dapat
melihat aktivitas otak pasien dalam keadaan tidur.
Hasilnya . . .

Sinyal-sinyal dalam gelombang EEG:

a) Gelombang alfa mempunyai frekwensi 8-12 siklus per detik. Gelombang alfa terlihat
normal pada saat bangun dan mata tertutup (tidak tertidur).
b) Gelombang Beta mempunyai suatu frekwensi 13-30 siklus per detik.Gelombang ini secara
normal ditemukan ketika siaga atau menjalani pengobatan tertentu, seperti benzodiazepines
atau pengobatan anticonvulsants.
c) Gelombang delta mempunyai suatu frekwensi kurang dari 3 siklus per detik. Gelombang
secara normal ditemukan hanya pada saat sedang tidur dan anakanak muda
d) Gelombang teta mempunyai frekwensi 4-7 siklus per detik. Gelombang ini secara normal
ditemukan hanya pada anak-anak atau selama tidur.

ELEKTRONEUROMIOGRAFI (ENMG)
Bila terdapat keluhan seperti baal-baal, semutan, nyeri
yang menjalar atau kelemahan yang dirasakan pada
lengan atau tungkai, kemungkinan anda mengalami
gangguan pada susunan saraf tepi. Untuk memastikan
diagnosa penyakit anda diperlukan pemeriksaan
elektroneuromiografi (ENMG)

Apa yang dimaksud denagn ENMG ?


Pemeriksaan ENMG adalah
pemeriksaan yang berguna
untuk menegakkan diagnosis
penyakit susunan saraf tepi.
Pemeriksaan ini merupakan
kombinasi antara pemeriksaan
elektroneurografi (ENG) dan
elektromiografi (EMG).

Indikasi :

Pemeriksaan ENMG
memegang peranan penting
untuk diagnosis kelainan
neuromuskular atau kelainan
susunan saraf tepi, antara
lain :
Kelainan motor
neuron : Amyotrophic Lateral
Sclerosis (ALS), Spinal
Muscular Atrophy (SMA),
Poliomielitis.
Kelainan ganglion dorsalis
(neuron saraf sensoris) :
paraneoplastik, autoimun,
toksis, infeksi.
Radiks saraf spinal : herniasi
diskus vertebralis.
Pleksus : pleksopati oleh
karena radiasi, neoplasma,
penjepitan, polioneuropati dan
mononeuropati multipleks.
Neuromuscular junction :
miastenia gravis,
sindrom eaton lambert .
Kelainan otot : distrofia,
kelainan otot akibat gangguan
metabolik, endokrin dan
proses inflamasi.

Pada pembacaan hasil EEG perlu diperhatikan :


A.

Lokasi / distribusi

B.

Frekuensi

C.

Pola / gambaran khas

D.

Usia

E.

Bangun

F.

Tidur

Hasil Pemeriksaan EEG


Normal

A.
Hasil dua sisi otak menunjukkan pola serupa dari aktivitas elektrik
B.
Tidak ada gambaran gelombang abnormal dari aktivitas elektrik dan tidak ada
gelombang yang lambat
C.
Jika pasien dirangsang dengan cahaya (photic) selama test maka hasil
gelombang tetap normal.

A.

B.
Hasil dua sisi otak menunjukkan pola tidak serupa dari aktivitas elektrik
C.
EEG menunjukkan gambaran gelombang abnormal yang cepat atau lambat, hal
ini mungkin disebabkan oleh tumor otak, infeksi/peradangan, injuri, strok, atau
epilepsi. Ketika seseorang mempunyai epilepsi dengan pemeriksaan EEG ini bisa
diketahui daerah otak bagian mana yang aktivitas listriknya tidak normal. Namun
pemeriksaan EEG saja tidak cukup, sebab EEG diambil selalu pada saat tidak ada
serangan kejang bukan pada saat serangan, karena tidak mungkin orang yang sedang
mengalami serangan epilepsi dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa EEG. Maka,
pemeriksaan EEG harus ditunjang oleh pemeriksaan otak itu sendiri, yaitu melihat
gambaran otaknya dengan teknik foto Magnetic Resonance Imaging (MRI). Jadi EEG
dengan sendirinya tidak cukup untuk mendiagnosa penyakit neurology tetapi perlu
dengan pemeriksaan yang lain
D. Berbagai keadaan dapat mempengaruhi gambaran EEG. EEG yang abnormal
dapat disebabkan kelainan di dalam otak yang tidak hanya terbatas pada satu area
khusus di otak, misalnya intoksikasi obat, infeksi otak (ensefalitis), atau penyakit
metabolisme (Diabetik ketoasidosis)
E.
EEG menunjukkan grlombang delta atau gelombang teta pada orang dewasa
yang terjaga. Hasil ini menandai adanya injuri otak

Abnormal

F.
EEG tidak menunjukkan aktivitas elektrik di dalam otak ( a flat/
atau garis lurus ). Menandai fungsi otak telah berhenti, yang mana
pada umumnya disebabkan oleh tidak adanya (penurunan) aliran darah
atau oksigen di dalam otak. Dalam beberapa hal, pemberian obat
penenang dapat menyebabkan gambaran EEG flat. Hal ini juga dapat
dilihat di status epilepsi setelah pengobatan diberikan.