Anda di halaman 1dari 12

RINGKASAN MATERI KULIAH

MASALAH BUKTI DAN PEMBUKTIAN DALAM AUDIT


SERTA KERTAS KERJA PEMERIKSAAN
Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Tugas Auditing dan Atestasi
Dosen Pengampu : Drs. Imam Subekti, M.Si.,Ak.,Ph.D.,CA

Oleh:
Anisa Ayu Kharismasari
Annisa Sabrina Djunaedy

Program Pendidikan Profesi Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya
Maret 2015
A. BUKTI AUDIT
1. Definisi Bukti Audit

Menurut ISA 500, Bukti audit adalah informasi yang digunakan oleh auditor
dalam mencapai kesimpulan yang didasarkan pada opini auditor. Bukti audit
meliputi informasi yang terkandung dalam catatan akuntansi yang mendasari
laporan keuangan dan informasi lainnya. Catatan akuntansi merupakan catatan
entri akuntansi awal dan catatan pendukung, seperti cek dan catatan transfer dana
elektronik; faktur; kontrak; buku besar umum dan buku besar pembantu, jurnal
dan penyesuaian lainnya atas laporan keuangan yang tidak tercermin dalam entri
jurnal; dan catatan seperti lembaran kerja dan spreadsheet yang mendukung
alokasi biaya, perhitungan, rekonsiliasi dan pengungkapan.
Ukuran keabsahan(validity) bukti tersebut untuk tujuan audit tergantung
pada pertimbangan auditor independen, dalam hal ini bukti audit (audit
evidence) berbeda dengan bukti hukum (legal evidence) yang diatur secara tegas
oleh peraturan yang ketat. Bukti audit sangat bervariasi pengaruhnya terhadap
kesimpulan yang ditarik oleh auditor independen dalam rangka memberikan
pendapat atas laporan keuangan auditan. Relevansi, objektivitas, ketepatan waktu,
dan keberadaan bukti audit lain yang menguatkan kesimpulan, seluruhnya
berpengaruh terhadap kompetensi bukti.
2. Tipe Bukti Audit
Tipe bukti audit dikelompokan menjadi 2 yaitu tipe data akuntansi dan tipe
informasi penguat.
1. Tipe Data Akuntansi
Pengendalian Intern Sebagai Bukti
Pengendalian intern yang dibentuk dalam setiap kegiatan perusahaan dapat
digunakan untuk mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi. Auditor harus
mengetahui bahwa klien telah merancang pengendalian intern dan telah
melaksanakannya dalam kegiatan usahanya setiap hari, hal ini merupakan bukti
yang kuat bagi auditor mengenai keandalan informasi yang dicantumkan dalam
laporan keuangan.
Catatan Akuntansi Sebagai Bukti

Auditor melakukan verifikasi terhadap suatu jumlah yang tercantum dalam


laporan keuangan, dengan melakukan penelusuran kembali jumlah tersebut
melalui catatan akuntansi. Dengan demikian, catatan akuntansi merupakan bukti
audit bagi auditor mengenai pengolahan transakasi keuangan yang telah dilakukan
oleh klien.
2. Tipe Informasi Penguat
Bukti Fisik
Bukti fisik adalah bukti audit yang diperoleh dengan cara inspeksi atau
perhitungan aktiva berwujud. Pengamatan fisik terhadap suatu aktiva merupakan
cara untuk mengidentifikasi sesuatu yang diperiksa, untuk menentukan kuantitas,
dan merupakan suatu usaha untuk menentukan mutu atau keaslian kekayaan
tersebut.
Bukti Dokumenter
Bukti dokumenter adalah bukti yang terbuat dari kertas bertuliskan huruf dan
atau angka atau symbol-simbol yang lain. Menurut sumbernya, bukti dokumenter
dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:
a. Bukti dokumenter yang dibuat oleh pihak luar yang bebas yang dikirimkan
langsung kepada auditor.
b. Bukti dokumenter yang dibuat pihak luar yang bebas yang dismpan dalam
arsip klien.
c. Bukti dokumenter yang dibuat dan disimpan dalam organisasi klien.
Perhitungan Sebagai Bukti
Perhitungan yang dilakukan sendiri oleh auditor, dapat berupa:
1. Footing, yaitu pembuktian ketelitian penjumlahan vertikal.
2. Cross-footing, yaitu pembuktian ketelitian penjumlahan horizontal.
3. Pembuktian ketelitian perhitungan biaya depresiasi dengan cara menggunakan
tarif depressiasi yang digunakan oleh klien.
4. Pembuktian ketelitian penentuan taksiran kerugian piutang usaha, laba per
saham yang beredar, taksiran pajak perseroan, dan lain-lain.
Bukti Lisan

Dalam rangka mengumpulkan bukti, auditor banyak meminta keterangan


secara lisan dari klien terutama para manajer. Jawaban lisan yang diperoleh dari
permintaan keterangan tersebut merupakan tipe bukti lisan.
Perbandingan
Untuk menentukan akun atau transaksi yang akan dipisahkan guna
penyelidikan yang lebih intensif, auditor melakukan analis terhadap perbandingan
setiap aktiva, utang, penghasilan, dan biaya dengan saldo yang berkaitan dalam
tahun sebelumnya.
Bukti dari Tenaga Ahli
Tenaga ahli adalah seorang atau perusahaan yang memiliki keahlian atau
pengetahuan khusus dalam bidang selain akuntansi dan auditing. Pada umumnya
tenaga ahli yang digunakan oleh auditor bukan orang atau perusahaan yang
mempunyai hubungan dengan klien. Penentuan persyaratan keahlian dan nama
baik tenaga ahli sepenuhnya berada ditangan auditor. Jika auditor menerima hasil
penemuan tenaga ahli sebagai bukti audit yang kompeten, hasil kerja tenaga ahli
tersebut tidak perlu disebut dalam laporan auditor yang berisi pendapat wajar.
3. Syarat-syarat Terpenuhinya Bukti Audit
Menurut ISA 500, persyaratan yang dapat dikategorikan sebagai bukti audit
dapat diuraikan dalam beberapa hal, antara lain sebagai berikut:
1. Ketepatan dan kecukupan Bukti Audit
Sebagaimana dijelaskan dalam ISA 200, keyakinan memadai diperoleh ketika
auditor telah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk mengurangi
risiko audit (yaitu, risiko bahwa auditor menyatakan pendapat tidak tepat ketika
laporan keuangan terdapat salah saji material) ke tingkat yang cukup rendah.
ISA 330 mengharuskan auditor untuk menyimpulkan apakah bukti audit yang
cukup dan tepat telah diperoleh. Apakah bukti audit yang cukup dan tepat telah
diperoleh untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah, dan
dengan demikian memungkinkan auditor untuk menarik kesimpulan yang tepat
yang mana menjadi dasar opini auditor, adalah masalah pertimbangan profesional.
ISA 200 mengandung pembahasan hal-hal seperti sifat prosedur audit, ketepatan
waktu pelaporan keuangan, dan keseimbangan antara manfaat dan biaya, yang

merupakan faktor yang relevan ketika auditor melaksanakan penilaian profesional


mengenai apakah bukti audit yang cukup dan tepat telah diperoleh.
2. Informasi yang Digunakan Sebagai Bukti Audit
Ketika merancang dan melaksanakan prosedur audit, auditor harus
mempertimbangkan relevansi dan keandalan informasi yang akan digunakan
sebagai bukti audit.
a) Relevansi
Relevansi informasi digunakan sebagai bukti audit dapat dipengaruhi oleh
arah pengujian. Misalnya, jika tujuan dari prosedur audit untuk menguji
keberadaan atau penilaian hutang, maka menguji account yang tercatat sebagai
hutang adalah prosedur audit yang relevan. Di sisi lain, ketika pengujian untuk
mengesampingkan keberadaan atau valuasi hutang, menguji account yang tercatat
sebagai hutang akan tidak relevan, tetapi pengujian informasi seperti pencairan
berikutnya, tagihan yang belum dibayar, pernyataan pemasok, dan laporan
penerimaan yang mungkin relevan.
b) Keandalan
Keandalan informasi yang akan digunakan sebagai bukti audit dipengaruhi
oleh sumber dan sifatnya, dan keadaan di mana bukti tersebut diperoleh, termasuk
kontrol atas persiapan dan pemeliharaan yang relevan. Terkait pengecualian yang
mungkin ada, beberapa generalisasi tentang keandalan bukti audit yang dapat
digunakan antara lain:
Keandalan bukti audit meningkat bila diperoleh dari sumber independen di
luar entitas.
Keandalan bukti audit yang dihasilkan secara internal akan meningkat ketika
kontrol yang dilakukan oleh entitas terkai persiapan dan pemeliharaan bukti
dilakukan secara efektif.
Bukti audit yang diperoleh langsung oleh auditor (misalnya, pengamatan
penerapan kontrol) lebih handal daripada bukti audit yang diperoleh secara
tidak langsung atau dengan kesimpulan (misalnya, pertanyaan tentang
penerapan kontrol).
Bukti audit dalam bentuk dokumenter, baik kertas, elektronik, atau media
lainnya, lebih dapat diandalkan dibandingkan bukti yang diperoleh secara oral

Bukti audit yang diberikan oleh dokumen asli lebih dapat diandalkan
dibandingkan bukti audit yang disediakan oleh fotokopi atau fax, atau
dokumen yang telah difilmkan, digital atau berubah menjadi bentuk
elektronik, yang mana keandalan mungkin tergantung pada kontrol atas
persiapan dan pemeliharaan bukti tersebut.
Jika informasi yang akan digunakan sebagai bukti audit telah disusun dengan
menggunakan karya dari ahli manajemen, auditor harus memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
a) Mengevaluasi kompetensi, kemampuan dan obyektivitas ahli tersebut.
b) Mendapatkan pemahaman tentang karya ahli tersebut; dan
c) Mengevaluasi kesesuaian pekerjaan ahli tersebut sebagai bukti audit atas
pernyataan yang relevan.
3. Pemilihan Produk dalam Pengujian Untuk Memperoleh Bukti Audit
Pengujian yang efektif menghasilkan bukti yang tepat yang mana diperoleh
atau akan diperoleh dari bukti lainnya, sangat cukup untuk mencapai tujuan audit.
Sarana yang tersedia bagi auditor untuk memilih item pengujian tersebut dapat
dikelomppokkan sebagai berikut:
a) Memilih semuanya (pemeriksaan 100%);
Pemeriksaan 100% mungkin tepat ketika, misalnya:
Populasi merupakan sejumlah kecil item yang bernilai besar;
Adanya risiko yang signifikan dan sarana lainnya yang tidak memberikan
bukti audit yang cukup dan tepat; atau
Adanya perhitungan yang memiliki sifat berulang atau proses lainnya yang
dilakukan secara otomatis oleh sistem informasi.
b) Memilih item tertentu;
Item tertentu yang mungkin dipilih termasuk:
Item kunci. Auditor dapat memutuskan untuk memilih item tertentu dalam
suatu populasi karena mereka bernilai tinggi, atau menunjukkan beberapa
karakteristik lain, misalnya, item yang mencurigakan, tidak biasa, terutama
risiko rawan atau yang memiliki riwayat kesalahan.
Semua item di atas jumlah tertentu. Auditor dapat memutuskan untuk
memeriksa barang-barang yang tercatatdengan nilai melebihi jumlah
tertentu sehingga dapat memverifikasi sebagian besar dari total jumlah
kelas transaksi atau saldo rekening.

Produk untuk memperoleh informasi. Auditor dapat memeriksa barangbarang untuk mendapatkan informasi tentang hal-hal seperti sifat entitas
atau sifat transaksi.
c) Sampling Audit.
Audit sampling dirancang untuk memungkinkan kesimpulan yang bisa ditarik
tentang seluruh populasi atas dasar pengujian sampel yang diambil dari
populasi tersebut.
4. Ketidakkonsistenan atau Keraguan atas Keandalan Bukti Audit
Jika bukti audit yang diperoleh dari satu sumber tidak konsisten dengan yang
diperoleh dari yang lain atau auditor memiliki keraguan atas keandalan informasi
yang akan digunakan sebagai bukti audit, auditor harus menentukan modifikasi
apa atau penambahan prosedur audit yang diperlukan untuk menyelesaikan
masalah dan akan mempertimbangkan efek dari masalah tersebut, jika ada pada
aspek lain dari audit.
4. Prosedur Audit untuk Memperoleh Bukti Audit
Sebagaimana disyaratkan dan dijelaskan lebih lanjut dalam ISA 315 dan ISA
330, bukti audit yang digunakan dalam penarikan kesimpulan yang menjadi dasar
opini auditor diperoleh dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Prosedur penilaian risiko; dan
2. Prosedur audit lebih lanjut, yang terdiri dari:
a) Pengujian pengendalian, jika diperlukan atau ketika auditor telah memilih
untuk melakukannya; dan
b) Prosedur substantif, termasuk pengujian rinci dan prosedur analitis
substantif.
Sebagaimana dijelaskan dalam ISA 330, bukti audit yang diperoleh dari audit
sebelumnya atau dalam keadaan tertentu, dalam memberikan bukti audit yang
tepat di mana auditor melakukan prosedur audit untuk menetapkan kelanjutan
relevansinya. uditor mungkin merasa perlu sebagai akibat dari kebijakan retensi
data entitas untuk meminta retensi beberapa informasi untuk review auditor atau
melaksanakan prosedur audit pada saat informasi tersebut tersedia. Adapun
beberapa prosedur tersebut antara lain:
a) Inspeksi.
Pemeriksaan melibatkan catatan pemeriksaan atau dokumen, baik internal
maupun eksternal, dalam bentuk kertas, bentuk elektronik, atau media lainnya,
6

atau pemeriksaan fisik aset. Pemeriksaan catatan dan dokumen memberikan


bukti audit berbagai tingkat kehandalan, tergantung pada sifat dan sumbernya.
b) Observasi.
Pengamatan terdiri dari melihat proses atau prosedur yang dilakukan oleh
orang lain, misalnya, pengamatan auditor menghitung persediaan oleh
personel entitas, atau kinerja kegiatan pengendalian.
c) Konfirmasi eksternal
Konfirmasi eksternal merupakan bukti audit yang diperoleh oleh auditor
sebagai tanggapan tertulis langsung kepada auditor dari pihak ketiga (pihak
mengkonfirmasikan), dalam bentuk kertas, atau dengan elektronik atau media
lainnya.
d) Perhitungan.
Perhitungan terdiri dari memeriksa akurasi matematika dokumen atau catatan.
Perhitungan dapat dilakukan secara manual atau elektronik.
e) Reperformance.
Reperformance melibatkan eksekusi independen auditor prosedur atau kontrol
yang awalnya dilakukan sebagai bagian dari pengendalian internal entitas.
f) Prosedur analitis.
Prosedur analitis terdiri dari evaluasi informasi keuangan melalui analisis
hubungan yang wajar antara data keuangan dan non-keuangan. Prosedur
analitis juga mencakup penyelidikan seperti yang diperlukan fluktuasi
diidentifikasi atau hubungan yang tidak sesuai dengan informasi yang relevan
atau yang berbeda dari nilai yang diharapkan dengan jumlah yang signifikan.
g) Inquiry.
Inquiry terdiri dari mencari informasi dari orang-orang berpengetahuan, baik
keuangan dan non-keuangan, dalam entitas atau di luar entitas. Pertanyaan
dapat berkisar dari pertanyaan tertulis formal untuk pertanyaan lisan informal.
Mengevaluasi tanggapan terhadap pertanyaan merupakan bagian integral dari
proses inquiry. Tanggapan atas pertanyaan dapat memberikan informasi yang
sebelumnya tidak dimiliki atau dengan bukti audit nyata kepada auditor. Atau,
tanggapan mungkin memberikan informasi yang berbeda secara signifikan
dari informasi lain yang telah diperoleh auditor, misalnya, informasi mengenal
control manajemen.
B. KERTAS KERJA AUDIT

Kertas kerja adalah catatan-catatan yang diselenggarakan oleh auditor


mengenai prosedur audit yang ditempuhnya, pengujian yang dilakukannya,
informasi yang diperolehnya, dan simpulan yang dibuatnya sehubungan dengan
auditnya. Adapun tujuan penting pembuatan kertas kerja adalah untuk:
1. Mendukung pendapat auditor atas laporan keuangan auditan.
2. Menguatkan simpulan-simpulan auditor dan kompetensi auditnya.
3. Sebagai bukti auditor telah melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan Standar
Profesi Akuntan Publik (SPAP).
4. Mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap audit.
5. Sebagai referensi dalam hal ada pertanyaan dari:
a. Pihak pajak.
b. Pihak bank.
c. Pihak klien.
6. Memberikan pedoman dalam audit berikutnya.
Kertas Kerja biasanya berisi dokumentasi yang memperlihatkan:
1. Telah dilaksanakan standar pekerjaan lapangan pertama yaitu pemeriksaan
telah direncanakan dan disupervisi dengan baik.
2. Telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan kedua yaitu pemahaman
memadai atas pengendalian intern telah diperoleh untuk merencanakan audit
dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang telah dilakukan.
3. Telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan ketiga yaitu bukti audit
telah diperoleh, prosedur audit telah ditetapkan, dan pengujian telah
dilaksanakan , yang memberikan bukti kompeten yang cukup sebagai dasar
memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan.
. Kertas kerja terdiri dari berbagai macam yang secara garis besar dapat
dikelompokkan ke dalam 5 tipe kertas kerja berikut ini:
1.
Program audit (audit program).
Program audit merupakan daftar prosedur audit untuk seluruh audit unsur
tertentu, sedangkan prosedur audit adalah instruksi rinci untuk mengumpulkan
tipe bukti audit tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu dalam audit.
2.
Working trial balance.
Working Trial Balance adalah suatu daftar yang berisi saldo-saldo akun buku
besar pada akhir tahun yang diaudit dan pada akhir tahun sebelumnya, kolomkolom untuk adjustment dan penggolongan kembali yang diusulkan oleh
auditor, serta saldo-saldo setelah koreksi auditor yang akan tampak dalam
laporan keuangan auditan (audited financial statements).

3.

Ringkasan jurnal adjustment.


Dalam proses auditnya, auditor mungkin menemukan kekeliruan dalam
laporan keuangan dan catatan akuntansi kliennya. Untuk membetulkan
kekeliruan tersebut, auditor membuat draft jurnal adjustment yang nantinya

4.

akan dibicarakan dengan klien.


Skedul utama (lead schedule atau top schedule).
Skedul utama adalah kertas kerja yang digunakan untuk meringkas informasi
yang dicatat dalam skedul pendukung untuk akun-akun yang berhubungan.
Skedul utama ini digunakan untuk menggabungkan akun-akun buku besar
yang sejenis, yang jumlah saldonya akan dicantumkan dalam laporan
keuangan dalam satu jumlah.

5.

Skedul pendukung (supporting schedule).


Pada waktu auditor melakukan verifikasi terhadap unsur-unsur yang tercantum
dalam laporan keuangan klien, ia membuat berbagai macam kertas kerja
pendukung yang menguatkan informasi keuangan dan operasional yang
dikumpulkannya. Dalam setiap skedul pendukung harus dicantumkan
pekerjaan yang telah dilakukan oleh auditor dalam memverifikasi dan
menganalisis unsur-unsur yang dicantumkan dalam daftar tersebut, metode
verifikasi yang digunakan, pertanyaan yang timbul dalam audit, serta jawaban
atas pertanyaan tersebut. Skedul pendukung harus memuat juga berbagai
simpulan yang dibuat oleh auditor.

Pemberian Indeks Pada Kertas Kerja


Pemberian indeks terhadap kertas kerja akan memudahkan pencarian informasi
dalam bebagai daftar yang terdapat diberbagai tipe kertas kerja. Faktor-faktor
yang harus diperhatikan dalam pemberian indeks kertas kerja adalah sebagai
berikut:
a) Setiap kertas kerja harus diberi indeks, dapat disudut atas satu di sudut bawah.
b) Pencantuman indeks silang (cross index) harus dilakukan sebagai berikut:
Indeks silang dari skedul utama.
Indeks silang dari skedul akun pendapatan dan biaya.
Indeks silang antarskedul pendukung.
Indeks silang dari skedul pendukung ke ringkasan jurnal adjusment.
Indeks silang dari skedul utama ke working trial balance.

Indeks silang dapat digunakan pula untuk menghubungkan program audit


dengan kertas kerja.
c) Jawaban konfirmasi, pita mesin hitung, print-out komputer, dan sebagainya
tidak diberi indeks kecuali jika dilampirkan di belakang kertas kerja yang
berindeks.
Metode Pemberian Indeks Kertas Kerja
Ada tiga metode pemberian indeks terhadap kertas kerja:
a) Indeks angka. Kertas kerja utama dan skedul utama diberi indeks dengan
angka, sedangkan skedul pendukung diberi subindeks dengan mencantumkan
nomor kode skedul utama yang berkaitan.
b) Indeks kombinasi angka dan huruf. Kertas kerja utama dan skedul utama
diberi kode huruf, sedangkan skedul pendukungnya diberi kode kombinasi
huruf dan angka.
c) Indeks angka berurutan. Kertas kerja diberi angka yang berurutan.
Susunan Kertas Kerja
Auditor biasanya menyelenggarakan dua macam arsip kertas kerja untuk setiap
kliennya:

Arsip audit tahunan untuk setiap audit yang telah selesai dilakukan, yang

disebut arsip kini (current file)


Arsip permanen (permanent file) untuk data yang secara relatif tidak
mengalami perubahan.
Arsip kini berisi kertas kerja yang informasinya hanya mempunyai manfaat

untuk tahun yang diaudit saja. Arsip permanen berisi informasi sebagai berikut:
a) Copy anggaran dasar dan anggaran rumah tangga klien
b) Bagan organisasi dan luas wewenang serta tanggung jawab para manajer
c) Pedoman akun, pedoman prosedur, dan data lain yang behubungan dengan
pengendalian
d) Copy surat perjanjian penting yang mempunyai masa laku jangka panjang.
e) Tata letak pabrik, proses produksi, dan produk pokok perusahaan
f) Copy notulen rapat direksi, pemegang saham, dan komite-komite yang
dibentuk klien. Pembentukan arsip permanen ini mempunyai tiga tujuan yaitu:
Untuk menyegarkan ingatan auditor mengenai informasi yang akan
digunakan dalam audit tahun-tahun mendatang.

10

Untuk memberikan ringkasan mengenai kebijakan dan organisasi klien


bagi staf yang baru pertama kali menangani audit laporan keuangan klien
tersebut.
Untuk menghindari pembuatan kertas kerja yang sama dari tahun ke tahun.
Analisis terhadap akun-akun tertentu yang relatif tidak pernah mengalami

perubahan harus juga dimasukkan ke dalam arsip permanin.

11