Anda di halaman 1dari 14

KARYA TULIS ILMIAH

PENANGANAN GAWAT DARURAT PADA PASIEN


KECELAKAAN LALU LINTAS
(Studi Kasus di Instalasi Gawat Darurat RSUD Tugurejo Semarang)

Disusun oleh:
Rahadian Indra Jati

G1G212002

Mila Yuniarti

G1G212008

Ina Permata Dewi

G1G212009

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
2013

BAB I
PENDAHULUAN

Gawat darurat adalah suatu keadaan yang mana penderita memerlukan


pemeriksaan medis segera, apabila tidak dilakukan akan berakibat fatal bagi
penderita. Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab dengan persentase yang tinggi
terjadinya kecacatan dan kematian. Salah satu trauma yang dapat terjadi akibat
kecelakaan lalu lintas adalah trauma maksilofasial. Berdasarkan studi yang
dilakukan, 72% kematian oleh trauma maksilofasial paling banyak disebabkan
oleh kecelakaan lalu lintas. Pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal harus
menjalani rawat inap di rumah sakit dan dapat mengalami cacat permanen
(Fahrevi, 2009).
Prinsip utama dalam keadaan gawat darurat adalah menyelamatkan pasien
dari kematian, dimana seluruh tindakan yang dilakukan pada saat kondisi gawat
darurat haruslah efektif dan efisien, karena pada kondisi tersebut pasien dapat
kehilangan nyawa dalam hitungan menit. Salah satu keadaan gawat darurat yang
membutuhkan pertolongan dengan segera adalah kasus trauma. Trauma dapat
didefinisikan sebagai cedera pada tubuh akibat pemajanan akut tubuh ke suatu
bentuk energi atau akibat ketidakadaan suatu bahan esensial misalnya oksigen dan
panas (Gruendemann, 2006).
Penyebab trauma diklasifikasikan dalam beberapa cara, antara lain
kekuatan mekanik, aksi suhu, dan agen kimia. Dalam prakteknya, seringkali
terdapat kombinasi trauma yang disebabkan oleh satu jenis penyebab, sehingga
klasifikasi trauma ditentukan oleh alat penyebab dan usaha yang menyebabkan
trauma (Sebaztian, 2011).
Kegawatdaruratan yang terjadi di bidang kedokteran gigi salah satunya
adalah trauma maksilofasial. Trauma maksilofasial adalah suatu ruda paksa yang
mengenai wajah dan jaringan sekitarnya. Trauma pada maksilofaksial dapat
diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu trauma jaringan keras wajah dan
trauma jaringan lunak wajah (Fahrevi, 2009).
Pada penatalaksanaan kasus trauma maksilofasial, dokter gigi sangat
berperan untuk menentukan diagnosis dan melakukan perawatan yang tidak
terlalu rumit terutama untuk trauma dentoalveolar dan merujuk ke spesialis bedah

mulut apabila diperlukan perawatan yang lebih kompleks (Pedersen, 1996). Karya
tulis ilmiah ini menyajikan penatalaksanaan gawat darurat seorang pasien yang
trauma akibat kecelakaan lalu lintas dengan trauma pada wajah serta ekstremitas.

BAB II
PENATALAKSANAAN KASUS

A. Kasus
Pasien laki-laki usia 33 tahun datang ke IGD RSUD Tugurejo
Semarang karena kecelakaan lalu lintas. Pasien dalam keadaan sadar,
merasa pusing, sesak nafas, kaki kiri dan punggung nyeri untuk digerakan,

luka lecet di bahu kiri, leher, dan kedua kaki. Terdapat hematom di dahi
dan luka robek di sudut bibir dan di vestibulum.
B. Penatalaksanaan Kasus di IGD
1. Anamnesa
Pasien datang ke RSUD Tugurejo karena kecelakaan lalu lintas.
Pasien mengendarai sepeda motor dan tertabrak mobil. Pasien dalam
kondisi sadar. Pasien merasa pusing, sesak nafas, kaki kiri sakit untuk
digerakan dan punggung nyeri, luka lecet di bahu kiri, leher, dan kedua
kaki.
2. Pemeriksaan tanda vital (vital sign)
Pemeriksaan tanda vital (vital sign) meliputi pengukuran suhu
tubuh, denyut nadi, tekanan darah, dan pernapasan. Pada pasien ini
didapatkan hasil:
Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Heart rate
: 96 x/menit
Respiration rate : 20 x/menit
Temperatur
: 37 C
3. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum: lemah, compos mentis
b. Kepala: hematom di regio frontal berukuran 3 cm x 4 cm, hematom
kelopak mata atas +/-, pupil mata isokor 3mm/3mm, reflek
cahaya +/+, otorhea - / -, rhinorhea (-), VL di vestibulum labialis
inferior dari regio 34-45 ukuran 6cm x 3cm, VL di sudut bibir
kanan ukuran 1cm x 1cm, VL di mukosa labial ukuran 1,5cm x
c.

0,5cm.
Leher: multipel VE dekstra dengan ukuran 3cm x 3cm dan 3cm x

2cm; VE leher sinistra dengan ukuran 10 cm x 5 cm


d. Thorax:
- Inspeksi : jejas kemerahan di dada kiri ukuran 5cm x 6cm,
ketinggalan gerak (); jejas kemerahan di vertebra thoracalis
ukuran 5cm x 4 cm,
- Perkusi : sonor +/+
- Palpasi
: fremitus +/+, ketinggalan gerak (-)
- Auskultasi : vesikuler +/+, whezing -/e. Abdomen:
- Inspeksi : jejas ()
- Auskultasi : bising usus (+) normal
- Perkusi : tympani
- Palpasi
: supel, nyeri tekan (-)

f. Ekstremitas: multipel VE di bahu kiri dengan ukuran 10cm x 6cm


dan 3cm x 3 cm; VE femur dekstra dengan ukuran 7cm x 5cm,
deformitas femur sinistra (+)
g. Diagnosa: CKR + trauma vertebrae cervicalis + trauma vertebrae
thoracalis + fraktur femur sinistra tertutup + VL lower lips
4. Tata Laksana
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Stabilisasi ABCD
Pemasangan Collar Neck
Pemasangan Spalk/bidai di femur sinistra
Pemasangan O2, 2 liter per menit nasal canul
Wound toilet VE dan VL
Infus RL 20 tetes per menit
Injeksi ceftriaxone 2x1 gr (dengan skin test)
Injeksi ketorolac 2x1 ampul
Injeksi asam traneksamat 3x500 mg
Injeksi citicolin 2x500 mg
Pemeriksaan darah rutin
Rontgen cranium, vertebra cervicalis, vertebra thoracalis, dan

femur sinistra
m. Pengawasan keadaan umum dan vital sign
n. Perawatan oleh dokter spesialis syaraf, dokter spesialis orthopaedi,
dan dokter spesialis bedah mulut

BAB III
PEMBAHASAN

Gawat darurat adalah adalah suatu keadaan yang mana penderita


memerlukan pemeriksaan medis segera, apabila tidak dilakukan akan berakibat
fatal bagi penderita. Kegawatdaruratan di bidang kedokteran gigi salah satunya
adalah trauma maksilofasial. Trauma maksilofasial adalah suatu ruda paksa yang
mengenai wajah dan jaringan sekitarnya. Trauma pada maksilofaksial dapat
diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu trauma jaringan keras wajah dan
trauma jaringan lunak wajah (Fahrevi, 2009).
Diagnosis pada pasien trauma oromaksilofasial dapat dilihat dari riwayat
trauma, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan radiografis. Mendapatkan riwayat
yang adekuat dari korban trauma adalah sulit, karena biasanya korban tidak
mampu memberi respon dengan baik. Keadaan tidak sadar (koma), syok, amnesia,
dan intoksikasi merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin
komunikasi dengan pasien. Sumber terbaik yang dapat digunakan adalah keluarga
dekat yang menemaninya, temannya, PPPK, polisi ataupun pekerja pada unit
gawat darurat. Informasi yang harus diperoleh dapat meliputi tanggal, waktu,
tempat kejadian, dan peristiwa yang khusus, sebab dari cedera yang terjadi,
kondisi medis risiko tinggi, alergi, dan tanggal imunisasi tetanus serta obatobatan yang pernah atau sedang dikonsumsi. Selain riwayat trauma, pada trauma

orofasial dilakukan pemeriksaan klinis serta pemeriksaan radiografis (Pedersen,


1996).
1. Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan

yang

dilakukan

pada

trauma

orofasial

meliputi

pernafasan dan perdarahan, pemeriksaan kepala leher, saraf-saraf kranial,


wajah bagian tengah, mandibula, dan pemeriksaan mulut (Pedersen, 1996).
a. Pernafasan dan Perdarahan
Pendekatan awal pada pasien dengan trauma oromaksilofasial akut
berbeda dengan cedera lain. Perhatian diarahkan ke saluran pernafasan,
Adekuasi ventilasi dan kontrol perdarahan eksternal. Sebelum melakukan
pemeriksaan tanda-tanda vital,gangguan pernafasan dan perdarahan yang
mengancam jiwa harus ditangani lebih dahulu kemudian baru dilakukan
pemeriksaan tanda vital dan status neurologis. Pembukaan mata
merupakan pemeriksaan yang dapat berguna untuk menentukan tingkat
kesadaran dan dinilai berdasarkan kemampuan pasien membuka matanya
jika diberi stimulus, termasuk stimulus nyeri apabila diperlukan. Salah
satu indikator yang dapat menentukan tingkat kerusakan otak yaitu durasi
amnesia paska trauma.
b. Pemeriksaan kepala leher
Pemeriksaan kepala dan leher merupakan pemeriksaan awal yang
bermanfaat. Luka di wajah dicatat lokasi, panjang, kedalaman dan
kemungkinan keterlibatan struktur di bawahnya seperti arteri, saraf dan
glandula. Bagian yang mengalami abrasi dan kontusio dicatat. Edema
fasial diobservasi dan dievaluasi karena kemungkinan merupakan tempat
yang terkena benturan atau merupakan tanda kerusakan struktur wajah di
bawahnya seperti hematom, fraktur atau keduanya.
c. Saraf-saraf kranial
Nervus cranialis ketiga, empat, lima, enam dan tujuh dites untuk
mengetahui kemungkinan terjadinya paralisis. Tanyakan apakah pasien
dapat mengangkat alis dan meretraksi sudut bibir, apakah bola mata dapat
bergerak bebas dan apakah pupil bereaksi terhadap sinar dan
berakomodasi.

d. Wajah bagian tengah


Cara melakukan pemeriksaan manual atau digital adalah dengan
mempalpasi dimulai dari superior ke inferior. Lebih baik memeriksa
pasien yang mengalami trauma fisik dari arah belakang apabila
memungkinkan. Pemeriksaan dimulai dari aspek medial ke cincin
supraorbital secara bilateral. Os nasal dan sutura frontalis dipalpasi secara
bersamaan ke kanan dan ke kiri. Palpasi diteruskan ke arah lateral
menyilang cincin supraorbita menuju sutura zygomaticofrontalis. Jaringan
lunak yang menutupinya digeser dan sutura dipalpasi apakah terjadi
kelainan atau tidak. Cincin infraorbital dipalpasi dari medial ke lateral
untuk

mengevaluasi

sutura

zygomaticomaxillaris.

Bagian

yang

mengalami nyeri tekan dan baal dicatat, karena ini menujukkan adanya
fraktur atau cedera kepala pada saraf, arcus zygomaticus dipalpasi
bilateral dan diamati apakah terdapat tanda-tanda asimetris dari posterior
dan anterior. Verstibulum nasi juga diperiksa karena biasanya terjadi
pergeseran septum dan adanya perdarahan atau cairan.
e. Mandibula
Lokasi mandibula terhadap maksila dievaluasi apakah tetap di garis
tengah, terjadi pergeseran lateral atau inferior. Pergerakan mandibula juga
dievaluasi dengan jalan memerintahkan pasien melakukan gerakan
tertentu dan dicatat apabila terdapat penyimpangan. Kisaran gerak
dievaluasi pada semua arah dan jarak interinsisal dicatat. Apabila pada
meatus austicus externus penuh dengan darah dan cairan, jari telunjuk
dapat dimasukan dengan telapak mengarah ke bawah dan depan untuk
melakukan palpasi endaural terhadap caput condylus pada saat istirahat
dan bergerak. Pada fraktur subcondylus tertentu, dapat dijumpai adanya
nyeri tekan yang amat sangat dan caput mandibula tidak terdeteksi. Tepi
inferior dan posterior mandibula dipalpasi mulai dari processus condylaris
sampai ke symphisis mandibula. Catat apabila terdapat nyeri tekan dan
kelainan kontinuitas.
f. Pemeriksaan Mulut
Pertama kali yang dilihat secara intraoral adalah oklusi, apakah
gigi dapat dioklusikan seperti biasanya. Dataran oklusal dari maksila dan
mandibula diperiksa kontinuitas dan step deformitasnya. Bagian yang

giginya mengalami pergeseran karena trauma atau alveoli yang kosong


karena gigi avulsi juga dicatat. Apabila pasien menggunakan protesa,
maka protesa tersebut harus dilepas dan diperiksa apakah ada kerusakan
atau tidak. Jaringan lunak mulut diperiksa dalam kaitannya dengan luka,
kontinuitas, abrasi, ekimosis dan hematom. Lidah disisihkan sementara
untuk pemeriksaan dasar mulut dan orofaring apakah terdapat serpihan
gigi, restorasi, dan beku darah. Arcus zygomaticus dan basisnya dipalpasi
bilateral. Maksila harus dicoba digerakkan dengan memberikan tekanan
pada processus alveolaris sebelah anterior dengan tetap menahan kepala.
Gigi geligi dan processus alveolaris dipalpasi untuk mengetahui nyeri
tekan dan mobilitas.
2. Pemeriksaan Radiografis
Penegakkan diagnosis pasien yang mengalami trauma orofasial hanya
diperlukan radiograf oklusal dan periapikal saja. Detail dari cedera gigi seperti
luksasi dan avulsi serta sebagian besar fraktur processus alveolaris paling baik
dirontgen dengan cara ini. Rontgen panoramik merupakan film skrining
pilihan untuk kasus fraktur maksila dan mandibula. Apabila sarana untuk
pembuatan film panoramik tidak tersedia maka paling tidak diperlukan
serangkaian pemotretan mandibula ditambah proyeksi Waters dan foto fasial
anterolateral. Rangkaian proyeksi mandibula biasanya terdiri dari rontgen
oblik lateral kiri dan kanan, rontgen posteroanterior, dan rontgen Reverse
Town untuk kondil. Apabila diperkirakan terjadi fraktur sub kondil, sebaiknya
dilakukan rontgen transkranial untuk sendi temporomandibular (Pedersen,
1996).
Pada fraktur wajah bagian tengah sebaiknya dilakukan rontgen Waters,
rontgen wajah anterolateral. Fraktur pada arcus zygomaticus ditunjukan
dengan baik dengan rontgen submentoverkteks. Fraktur dasar orbita
menimbulkan beberapa masalah dalam pemeriksaan radiograf dan seringkali
lebih baik diperiksa dengan tomografi konvensional atau CT. Proyeksi servical
diperlukan untuk fraktur vertebra dan os hyoideum. Hal ini dapat dilakukan
dengan proyeksi lateral atau anteroposterior (Pedersen, 1996).

Apabila terjadi fraktur multipel pada wajah yang perluasannya dan


kemungkinan keterlibatan struktur penting disekitarnya masih dipertanyakan,
maka bisa dilakukan tomografi komputerisasi atau CT. CT memiliki
keunggulan dengan tidak adanya gambaran tumpang tindih dan dapat
mempertahankan detail jaringan lunak. Sifat ini sangat penting dalam
melakukan diagnosis fraktur yang akurat dari fraktur fasial. Melakukan CT
pada kepala merupakan prosedur penyaringan standar untuk menentukan
adanya fraktur kepala dan mungkin dapat menunjukkan adanya fraktur kepala
dan mungkin menunjukkan fraktur intrakranial misalnya adanya hematom
intra atau ekstra serebral, daerah kontusio dan edema serebral (Pedersen,
1996).
3. Manajemen Luka
Luka atau vulnera merupakan terjadinya gangguan kontinuitas atau
jaringan sehingga terjadi pemisahan jaringan semula yang normal. Secara
umum luka dapat dibagi menjadi dua, yaitu simpleks yang melibatkan kulit
dan komplikatum apabila melibatkan kulit dan jaringan di bawahnya
(Bachsinar, 1992).
Luka dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu:
a. Trauma mekanis, disebabkan karena tergesek, terpotong, terpukul,
tertusuk, terbentur dan terjepit.
b. Trauma eksentris, disebabkan oleh cedera karena listrik dan petir.
c. Trauma termis, disebabkan oleh perubahan suhu panas dan dingin.
d. Trauma kimia, disebabkan oleh zat kimia yang bersifat asam dan basa serta
zat iritatif lainnya.
Luka dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu luka tertutup (close
wound) dan luka terbuka (open wound). Luka tertutup (close wound) yaitu
luka dimana tidak terjadi hubungan dengan dunia luar, contohnya luka memar
(vulnus contusium). Luka terbuka merupakan luka dimana terjadi hubungan
dengan dunia luar. Luka terbuka dapat dibedakan sebagai berikut (Bachsinar,
1992):

a. Luka lecet (vulnus exoriatio), merupakan luka paling ringan dan paling
mudah untuk sembuh. Terjadi akibat gesekan tubuh dengan benda rata
seperti tanah, aspal atau semen.
b. Luka sayat (vulnus scissum/incisivum), merupakan luka dengan tepi tajam
dan licin. Bila luka sejajar dengan garis lipatan kulit, maka luka tidak
terlalu terbuka, apabila luka memotong pembuluh darah, maka darah sukar
berhenti karena cincin thrombosis sukar terbentuk.
c. Luka sobek (vulnus laceratum), merupakan luka yang biasanya disebabkan
oleh benda tumpul, tepi luka tidak rata, dan perdarahan sedikit karena
mudah terbentuk cincin thrombosis.
d. Luka tusuk (vulnus punctum), luka ini disebabkan oleh benda runcing
memanjang. Dari luar luka tampak kecil, namun di dalam bisa rusak berat.
Derajat bahaya tergantung dari benda yag menusuknya (besar dan
kebersihannya) dan daerah yang tertusuk. Luka tusuk yang mengenai
abdomen atau thorax sering pula disebut luka tembus (vulnus penetrosum).
Pemeriksaan penting dilakukan untuk menentukan tingkat bahaya
kerusakan tersebut. Pada luka ini sebaiknya dilakukan tindakan eksplorasi
(membuka dan melebarkan luka).
e. Luka potong (vulnus caesum), luka ini disebabkan oleh benda tajam yang
besar dan disertai tekanan. Tepi luka tajam dan rata, serta kemungkinan
infeksi besar akibat seringnya terkontaminasi.
f. Luka tembak (vulnus sclopetorum), luka ini dapat disebabkan oleh senjata
seperti tembakan dan granat. Tepi lukanya biasanya tidak teratur dan
sering dapat dijumpai pecahan peluru atau granat yang masuk ke dalam
tubuh sehingga kemungkinan infeksi bakteri anaerob dan gas gangren
lebih besar.
g. Luka gigit (vulnus morsum), disebabkan oleh gigitan binatang ataupun
manusia. Kemungkinan infeksi pada luka ini lebih besar.
Tujuan penatalaksanaan luka lokal adalah untuk memberikan
lingkungan yang optimal untuk berlangsungnya proses penyembuhan yang
alamiah. Prioritas dalam penataaksanaan luka lokal pada dasarnya sama
dengan luka apapun, yaitu mengatasi perdarahan (hemostasis), mengeluarkan
benda asing yang dapat bertindak sebagai fokal infeksi, melepaskan jaringan

yang mengalami devitalisasi, krusta yang tebal dan pus, menyediakan


temperature, kelembapan dan pH yang optimal untuk sel-sel berperan dalam
proses penyembuhan, meningkatkan pembentukan jaringan granulasi dan
epitelisasi, dan melindungi luka dari trauma lebih lanjut serta terhadap
masuknya mikroorganisme patogen. Tujuannya untuk melindungi individu
dari kerusakan fisiologis yang lebih lanjut, menyingkirkan penyebab actual
atau potensial yang memperlambat penyembuhan dan untuk menciptakan
suatu lingkungan lokal yang optimal untuk rekonstruksi dan epitelisasi
vascular dan jaringan ikat (Morison, 1995).
Debridement luka dilakukan untuk mengeluarkan debris organik
maupun anorganik sebelum menggunakan balutan untuk mempertahankan
lingkungan yang optimum pada tempat luka untuk proses penyembuhan.
Adanya debris yang terus menerus termasuk benda asing, jaringan lunak yang
mengalami devitalisasi, krusta dan jaringan nekrotik dapat memperlambat
penyembuhan luka dan menjadi focus infeksi. Pada luka cedera biasa,
pembersihan luka dilakukan dengan larutan NaCl untuk membantu meredakan
nyeri dan menghilangkan debris. Pembersihan luka dilanjutkan dengan
pemberian povidone iodine sebagai antiseptik. Povidone iodine merupakan
agen antimikroba paten yang digunakan secara luas sebagai desinfeksi dan
asepsis dan penatalaksanaan luka traumatik yang kotor (Helm, 1978) dan
untuk mengurangi sepsis luka pada luka bakar (Zellner dan Bugyi, 1985).

BAB IV
KESIMPULAN
Pada penatalaksanaan kasus gawat darurat trauma maksilofasial, dokter
gigi sangat berperan untuk menentukan diagnosis dan melakukan perawatan yang
tidak terlalu rumit terutama untuk trauma dentoalveolar dan merujuk ke spesialis
bedah mulut apabila diperlukan perawatan yang lebih kompleks. Prioritas
perawatan pada kasus gawat darurat harus diketahui agar dapat menentukan
penatalaksanaan kasus trauma dengan cepat dan tepat sehingga mengurangi
kecacatan bahkan kematian dari pasien gawat darurat. Oleh karena itu, dokter gigi
penting untuk mengetahui dan memahami prioritas perawatan gawat darurat
terutama pada trauma oromaksilofasial yang sangat erat hubungannya dengan
peran dokter gigi sebagai pelayan kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Bachsinar, B., 1992, Ilmu Bedah Minor, Penerbit Hipokrates, Jakarta.


Fahrevi, 2009, Penanganan Kegawatdaruratan pada Pasien TraumaMaksilofasial,
Skripsi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Medan.
Gruendemann, B.J., Fernsebner, B., 2006, Buku Ajar Keperawatan Perioperatif,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Helm, P.A., 1978, Outpatient Wound Management with Betadine Products
(Povidone-iodine) The Proceedings of World Congress on Antispsis,, pp.
105-108, New York HP.
Morison, M.J., 1995, Manajemen Luka, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Pedersen, G. W., 1996, Buku Ajar Praktis Bedah Mulut, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Sebaztian, L. R., dan Simangunsong, 2011, Traumatologi, Fakultas Kedokteran
Universitas HKBP, Nommensen.
Zellner, P.R., and Bugyi, S., Povidone Iodine in The Treatment of Burn Patients,
J.Hosp. Infect, 6(supplement), 139-146.