Anda di halaman 1dari 19

Laporan Kasus Singkat

KEMATIAN AKIBAT KERACUNAN

PENDAHULUAN
Sesuai surat permintaan visum dari Kepolisian Resort Way Kanan tertanggal 18
Agustus 2007, No. Pol. 119/VER/IX/2003/STPK. Pada surat tersebut polisi
menduga bahwa korban meninggal akibat diracun. Menurut hasil penyidikan
pihak kepolisian didapatkan bahwa racun yang digunakan adalah racun tikus,
diketahui bahwa racun tikus mengandung senyawa arsen.
Setelah dilakukan autopsi dari pihak RSUDAM ditemukan bahwa arsen yang
terdapat dalam bilas lambung dan urin melebihi kadar normal yang dapat
diterima oleh tubuh. Pada orang dewasa kadar normal dalam urin 100g/L,
rambut 0.5 mg/kg dan kuku 0.5 mg/kg. Kadar dalam rambut pada keracunan
0.75 mg/kg dan pada kuku 1 mg/kg atau lebih.
Berdasarkan autopsi yang telah dilakukan pihak RSUDAM dapat diambil
kesimpulan bahwa korban meninggal akibat keracunan.
Keracunan
Pasal 133 (1) KUHAP berbunyi: Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan
menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga
karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan
atau ahli lainnya; pengertian atau batasan dari racun itu sendiri tidak dijelaskan,
dengan demikian dipakai pengertian racun yang telah disepakati oleh para ahli.
Racun ialah suatu zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan secara faali,
yang dalam dosis toksik selalu menyebabkan gangguan fungsi tubuh, hal mana
dapat berakhir dengan penyakit atau kematian.

Pengelompokan jenis racun:


1. Yang banyak terdapat di rumah tangga,
- Desinfektan
- Detergen
- Insektisida
2. Yang banyak dipakai dalam pertanian dan perkebunan,
- Pestisida
- Herbisida
3. Yang banyak beredar dikalangan medis,
- Hipnotika
- Sedativa
- Tranquilizer
- Anti depresan
- Analgetika
- Narkotika
- Antibiotika
4. Yang banyak dipakai dalam industri atau laboratorium,
- Asam dan basa kuat
- Logam berat
5. Yang banyak terdapat di alam bebas,
- Opium
- Ganja
- Kokain
- Amygdala (sianida dalam tumbuhan)
- Racun binatang berbisa dan jamur
Mekanisme kerja racun dalam tubuh manusia:
1. Racun yang bekerja lokal atau setempat
-

Zat-zat korosif: lisol, asam kuat, basa kuat

Yang bersifat irritant: Arsen, HgCl2

Yang bersifat anestetik: kokain, asam karbol

2. Racun yang bekerja secara sistemik


-

Narkotika, barbiturat dan alkohol; terutama berpengaruh terhadap


susunan saraf pusat

Digitalis dan asam oksalat; terutama berpengaruh terhadap jantung

Karbon monoksida dan sianida; terutama berpengaruh terhadap


sistem enzim pernafasan dalam sel

Insektisida golongan chlorinated hydrocarbon dan golongan fosfor


organi; terutama berpengaruh terhadap hati

Strychine, terutama berpengaruh pada medulla spinalis

Cantharides dan HgCl2; terutama berpengaruh terhadap ginjal

3. Racun yang bekerja secara lokal dan sistemik


-

Asam Oksalat

Asam karbol

Arsen

Garam Pb

Keracunan Arsen kadang-kadang dapat terjadi karena kecelakaan dalam industri


dan

pertanian

akibat

memakan/

meminum

makanan/minuman

yang

terkontaminasi dengan Arsen. Kematian akibat keracunan akutnya menyerupai


gejala gangguan gastrointestinal yang hebat sehingga dapat didiagnosa salah
sebagai suatu penyakit.

Sumber:

Industri dan Pertanian: Arsen dalam bentuk Na/ K-arsenit terdapat dalam
bahan yang digunakan untuk penyemprotan buah-buahan, insektisida,
fungisida, rodentisida, pembasmi tanaman liar dan pembunuh lalat

As2O3 (arsenious acid) adalah racun umum yang sekarang telah jarang
digunakan lagi, terdapat dalam racun tikus. Larutan Fowler yaitu larutan

As2O3 dahulu digunakan untuk mengobati demam, kemudian sebagai


tonikum tetapi sekarang tidak populer lagi

Tanah: Arsen juga terdapat dalam tanah sehingga kita harus berhati-hati
dalam penyimpulan kasus dugaan keracunan arsen yang telah dikubur.

Air: air minum dapat terkontaminasi dengan arsen dari industri atau
sumber arsen alami sehingga dapat menyebabkan keracunan kronik

Bir: arsen mungkin terdapat dalam bir, yaitu berasal dari iron pyrites yang
digunakan pada pembuatan glukosa untuk bir

Kerang: arsen terdapat dalam keong, kepiting, kerang dan ikan. Kerang
(oyster) dapat mengandung 3.7 ppm arsen

Tembakau: asap tembakau mengandung 8.3-50 ppm arsen, asap sigaret


3.3-10.5 ug/L dan asap cerutu 0.2-3.0 ug/L

Obat-obatan: arsen dalam obat-obatan umumnya merupakan arsen


organik turunan benzena, misalnya carbasone, typarsamide, glycobiarsol.

Farmakokinetik
Arsen dapat masuk kedalam tubuh melalui mulut, inhalasi (pada debu arsen dan
arsin) dan melalui kulit. Setelah diabsorpsi melalui mukosa usus, arsen
kemudian ditimbun dalam hati, ginjal, kulit dan tulang.Pada keracunan kronik,
arsen juga ditimbundalam jaringan-jaringan lain, misalnya kuku dan rambut yang
banyak mengandung keratin yang mengandung disulfida. Ekskresi terjadi
dengan lambat melalui feses dan urin sehingga dapat terjadi akumulasi dalam
tubuh.
Farmakodinamik
R-As=O + 2 H-S-Protein -----------> R-As-S-Protein + H-O-H

S-Protein
Nilai ambang batas dalam air minum adalah 0,2 ppm. Pada orang dewasa kadar
normal dalam urin 100 ug/L, rambut 0,5 mg/kg dan kuku 0,5 mg/kg. Kadar dalam
rambut pada keracunan 0,75 mg/kg dan pada kuku 1 mg/kg atau lebih. Kadar
dalam darah normal anak-anak 30 ug/L, urine 100 ug/24 jam.
Tanda dan Gejala Keracunan Arsen

Keracunan akut: Timbul gejala gastrointestinal hebat. Mula-mula rasa


terbakar di daerah tenggorok dengan rasa logam pada mulut, diikuti mual
dan muntah hebat. Isi lambung dan bahkan isi duodenum dapat keluar
dan dapat mengandung arsen kadang sedikit berdarah. Kemudian terjadi
nyeri epigastrium yang dapat menjalar keseluruh perut hungga nyeri pada
perabaan, diare hebat. Kematian dapat terjadi akibat dehidrasi jaringan
dan syok hipovolemik yang terjadi.

Keracunan Kronik: Pada keracunan kronik korban tampak lemah,


melanosis arsenik berupa pigmentasi kulit yang berwarna kuning coklat,
lebih jelas pada daerah fleksor, puting susu dan perut sebelah bawah
serta aksila. Rambut tumbuh jarang.Gejala neurologik berupa neuritis
perifer mula-mula rasa tebal dan kesemutan pada tangan dan kaki,
kemudian terjadi kelemahan otot, tidak stabil, kejang oto (kram) terutama
malam hari.

RIWAYAT KASUS

Pada tanggal 18 Agustus 2007, pukul 04.30 WIB, seorang karyawan PTPN VII
TUBU ditemukan mati dalam keadaan hangus terbakar di gubuk yang berada di
kebun milik korban Km.07 Kel. Blambangan Umpu Kec. Blambangan Umpu Kab.
Way Kanan.

Kemudian mayat korban dikirim ke RSUDAM untuk dilakukan bedah jenazah


dengan dilampirkan surat permintaan visum dari Kepala Kepolisian Resort Way
Kanan tertanggal 18 Agustus 2007, No. Pol.: Ver/17/VIII/2007/Reskim, pada
surat tersebut tidak terdapat riwayat kejadian dan hanya disebutkan bahwa
kematian korban diduga akibat pembunuhan dengan menggunakan racun.
IDENTITAS KORBAN :
Nama

: Tn. Haki bin Basir

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 50 tahun

Bangsa

: Indonesia

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Karyawan PTPN VIII TUBU

Alamat

: Mess PTPN VII UU Blambangan Umpu, KM. 08


Kel. Blambangan Umpu Kec.Blambangan Umpu
Kab. Way Kanan

PEMERINTAH PROPINSI LAMPUNG DINAS KESEHATAN


UPTD RUMAH SAKIT UMUM Dr. Hi. ABDUL MOELOEK

JL. Dr. Rivai No. 6 Telp (0721) 703952, Bandar Lampung

Nomor: VER/17/VIII/2007/Reskrim Bandar Lampung, 29 September2007


Perihal: Bedah jenazah

atas jenazah Haki bin Basir


Lampiran: -PRO JUSTITIA
VISUM ET REPERTUM
Saya yang bertanda tangan dibawah ini, Dr. Adang Azhar, Sp.F, DFM, dokter
forensik

pada

Program

Studi

Pendidikan

Dokter

Univrsitas

Lampung,

menerangkan bahwa atas permintaan tertulis Polsek Way Kanan tertanggal 18


Agustus 2007, nomor polisi Ver/17/VIII/2007/Reskrim, maka pada tanggal
sembilan belas Agustus dua ribu tujuh pukul enam belas nol nol Waktu Indonesia
Barat, bertempat dikamar jenazah Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Hi. Abdul
Moeloek Bandar Lampung telah melakukan pemeriksaan bedah jenazah atas
jenazah dengan keterangan sebagai berikut : -------------------------Nama

: Tn. Haki bin Basir----------------------------------------------

Jenis kelamin

: Laki-laki---- ------------------------------------------------------

Umur

: 50 tahun----------------------------------------------------------

Agama

: Islam---------------------------------------------------------------

Pekerjaan

: Karyawan PTPN VII TUBU----------------------------------

Kewarganegaraan : Indonesia. ------------------------------------------------------Alamat

: Mess PTPN VII UU Blambangan Umpu, KM. 08

Kel.

Blambangan Umpu Kec.Blambangan Umpu Way Kanan-

-----------------------------------HASIL PEMERIKSAAN--------------------------------

I.

PEMERIKSAAN LUAR:
1. Tutup Mayat -----------------------------------------------------------------------dua buah helai kain berukuran panjang-------------------------------------2. Perhiasan mayat : tidak ada ----------------------------------------------------3. Pakaian mayat : tidak ada ------------------------------------------------------4. Benda di samping mayat : ------------------------------------------------------a. Pecahan genteng ------------------------------------------------------------b. Daun pisang yang terdapat bercak darah------------------------------5. Kaku mayat dan lebam mayat tidak dapat dinilai. ------------------------6. Mayat adalah seorang laki-laki, bangsa Indonesia, umur kurang lebih lima
puluh tahun, warna kulit menghitam (luka bakar 95%), gizi baik, panjang
badan seratus lima puluh empat sentimeter, berat tubuh kurang lebihempat
puluh lima kilogram, zakar disunat.----------7. Identifikasi khusus : tidak ada---------------------------------------------------8. Tidak didapatkannya rambut kepala, alis mata, dan bulu mata karena
terbakar. Kumis

dan jenggot berwarna putih, tumbuh lurus dengan

panjang lima milimeter pada mayat --------------------------------9. Mata kanan dan kiri masing-masing tertutup. Selaput bening mata, teleng
mata, warna tirai mata, selaput bola mata, dan kelopak mata hitam gosong
-----------------------------------------------------------------------10. Hidung bentuknya sudah tidak beraturan sudah mengelupas, telinga hitam
gosong arang.---------------------------------------------------------------Mulut terbuka dengan lidah tidak terjulur dan tidak tergigit ------------11. Dari lubang mulut, lubang hidung dan lubang telinga tidak keluar apa-apa.Dari lubang kemaluan tidak keluar apa-apa.------------------12. Dari lubang pelepasan tidak keluar apa-apa--------------------------------13. Pada tubuh terdapat luka-luka sbb: --------------------------------------------

Pada hampir seluruh tubuh mengalami hitang gosong, kecuali pada


bagian dada dan leher (95%) --------------------------------------

--------------------------------PEMERIKSAAN DALAM---------------------------------14. Jaringan lemak bawah kulit berwarna kuning, daerah dada setebal lima
millimeter, daerah perut sepuluh milimeter, otot-otot berwarna merah cukup
tebal.----------------------------------------------------------------15. Sekat rongga badan kanan dan kiri setinggi sela iga ke empat.-------16. Tulang dada dan iga-iga utuh, tidak ada kelainan.------------------------- Dalam
rongga dada kanan dan kiri terdapat cairan jernih kemerahan, masingmasing seratus centimeter kubik.-------------------Kandung jantung tampak empat jari diantara kedua paru, berisi
berwarna

kuning

jernih,

sebanyak

dua

puluh

lima

cairan

centimeter

kubik.-------------------------------------------------------------------17. Pada otot leher kiri, tujuh sentimeter dari pangkal atas lengan kiri terdapat
resapan darah berukuran sepuluh kali delapan sentimeter.18. Selaput dinding perut berwarna putih licin.----------------------------------- Otot
dinding

perut

berwarna

merah.--------------------------------------------Dalam

rongga perut tidak terdapat perdarahan, berisi cairan kuning jernih


sebanyak lima belas centimeter kubik.-------------------------------19. Pada pangkal lidah terdapat resapan darah.-------------------------------Tulang lidah sebelah kiri patah.-----------------------------------------------Rawan cincin utuh.---------------------------------------------------------------Rawan gondok utuh -------------------------------------------------------------Kelenjar gondok hampir seluruhnya terdapat resapan darah, perabaan
lunak, penampang berwarna coklat kemerahan.------------Pada kerongkongan setinggi kelenjar gondok terdapat resapan darah
seluas dua kali tiga sentimeter ---- ----------------------------------Pada tenggorokan setinggi kelenjar gondok terdapat resapan darah
seluas empat kali tiga sentimeter ----- ---------------------------------------

Pada saluran tenggorokan atas sampai batang tenggorokan tidak


ditemukan jelaga (arang), selaput lendir berwarna kemerahan, perabaan
licin. --------------------------------------------------------------------Pada kerongkongan berwarna kemerahan, perabaan licin. -----------20. Jantung sebesar satu kali tinju kanan mayat, berwarna merah pucat,
perabaan

lunak. Ukuran

lingkaran

katub

serambi

kanan

sebelas

sentimeter, kiri sembilan sentimeter, pembuluh nadi paru enam setengah


dan batang nadi enam sentimeter. Tebal otot bilik kanan lima milimeter dan
kiri lima belas milimeter. Pembuluh nadi jantung tidak menebal/tidak
tersumbat, sekat jantung coklat pucat merata. --21. Paru kanan terdiri atas tiga baga, kiri terdiri atas dua baga, berwarna abuabu

kecoklatan,

perabaan

lunak,

penampang

berwarna

abu-abu

kehitaman, pada pemijatan sedikit keluar busa dan darah. ------------22. Limpa berwarna merah ungu pucat, permukaan keriput, perabaan tidak
kenyal, penampang berwarna merah pucat, gambaran limpa jelas, pada
pengikisan jaringan ikut.------------------------------------------23. Hati berwarna coklat pucat , permukaan keriput , perabaan lunak , tepi
tumpul,

penampang

berwarna

merah

coklat,

gambaran

hati

jelas.-----------------------------------------------------------------------------------24. Kandung empedu berisi cairan warna kuning hijau, selaput lendir seperti
beludru, saluran empedu tidak tersumbat.-------------------------25. Kelenjar liur perut berwarna kuning keciklatan, permukaan berbaga-baga,
perabaan lunak, penampang berwarna kuning, gambaran kelenjar
jelas.------------------------------------------------------------------------26. Lambung berisi cairan putih keabu-abuan, dan makanan belum tercerna
(

nasi,

cempoka,

cairan

berwarna

coklat)

selaput

lendir

putih.-----------------------------------------------------------------------------------Usus dua belas jari, usus halus, usus besar tidak ada kelainan.------27. Kelenjar anak ginjal kanan berbentuk trapesium, kiri berbentuk bulan sabit,
warna kuning coklat, penampang berlapis.---------------------------

28. Ginjal kanan dan kiri simpai lemak cukup tebal, simpai ginjal mudah
dikupas, permukaan ginjal rata, warna merah pucat, gambaran ginjal jelas,
penampang berwarna merah pucat, piala ginjal kosong, saluran kemih
tidak tersumbat. ------------------------------------------------29. Kandung kemih berisi cairan kuning jernih, selaput lendir putih licin.30. Kulit kepala hitam arang, Tulang tengkorak utuh, selaput keras otak utuh,
jaringan otak utuh, selaput lunak otak tidak ditemukan perdarahan/memar,
otak besar dan otak kecil tidak ada perdarahan, batang otak tidak
ditemukan

memar,

bilik

otak

tidak

ditemukan

kelainan.------------------------------------------------------------------------------31. Pada hasil pemeriksaan laboratorium urin di dapatkan arsen sebesar 0,5
mg/L sedangkan sianida negatif ------------------------------32. Pada pemeriksaan laboratorium bilasan lambung di dapatkan arsen
sebesar 0,025 mg/L sedangkan sianida negatif ----------------------------

KESIMPULAN :-----------------------------------------------------------------------------Pada pemeriksaan terhadap mayat seorang laki-laki berumur kurang lebih lima
puluh tahun ini ditemukan luka bakar pada hampir seluruh tubuh (95%) kecuali
pada dada dan leher. Juga ditemukan resapan darah pada otot leher kiri,
kerongkongan, batang tenggorok dan kelenjar gondok akibat kekerasan tumpul.
-Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan kandungan arsen sebesar 0,025mg/L
pada bilas lambung dan 0,5mg/L pada urin. ------------------------Sebab mati pada orang ini adalah akibat racun arsen. --------------------------Selanjutnya dapat disimpulkan pula bahwa orang ini sudah meninggal sebelum
dibakar. --------------------------------------------------------------------------Demikian telah uraikan dengan sejujur-jujurnya dan menggunakan keilmuan
saya yang sebaik-baiknya mengingat sumpah sesuai dengan Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana. --------------------------------------

Dokter tersebut di atas,

Dr. Adang Azhar, SpF. DFM


AKBP NRP 65080675

PEMBAHASAN

Sesuai KUHAP pasal 6 ayat (1) jo PP 27 tahun 1983 pasal 2 ayat (1), pejabat
Polisi Negara RI yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang dengan
pangkat serendah-rendahnya Pembantu Letnan Dua. Sedangkan pada wilayah
kepolisian tertentu yang komandannya adalah seorang bintara, maka ia adalah
penyidik karena jabatannya tersebut.

Kepangkatan bagi penyidik pembantu

adalah bintara serendah-rendahnya Sersan Dua. Pada kasus ini penyidik yang
meminta visum et repertum adalah petugas polisi yang mengatas namakan
Kepala Polsek Way Kanan. Hal ini sesuai dengan keterangan di atas mengenai
pejabat kepolisian yang berwenang meminta visum. Permintaan pemeriksaan
korban atas nama Tn. HB dilakukan secara tertulis.

Pemeriksaan jenazah ini sudah sesuai dengan prosedur medikolegal yaitu


dengan adanya permintaan dari penyidik dalam hal ini Inspektur Polisi Dua atas
nama Kepala Kepolisia Sektor Way Kanan kepada Kepala Rumah Sakit Abdul
Moeloek atas mayat yang merupakan korban yang diduga mati tidak wajar.
Permintaan dilakukan secara tertulis dan disebutkan untuk pemeriksaan autopsi.

Kewenangan penyidik untuk meminta visum et repertum pada kasus yang


diduga merupakan akibat dari tindak pidana, berdasarkan KUHAP Pasal 133
ayat 1 dan 2 yang berbunyi :
(1)

Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang


korban baik luka, keracunan, ataupun mati yang diduga karena peristiwa
yang merupakan tindak pidana, ia berwenang untuk mengajukan

permintaan keterangan ahli pada ahli kedokteran kehakiman atau dokter


atau ahli lainnya.
(2)

Permintaan keterangan ahli sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1)


dilakukan secara tertulis, yang dalam surat ini disebutkan dengan tegas
untuk pemeriksaan luka, pemeriksaan mayat atau pemeriksaan bedah
jenasah.

Dalam pelaksanaan pengiriman jenazah tersebut ke RSUDAM, ternyata penyidik


mengabaikan suatu kewajiban yang seharusnya, yaitu tidak memberikan lak
pada label yang diikatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain dari badan mayat
sehingga mengurangi makna bahwa mayat tersebut merupakan suatu benda
bukti. Sehingga tidak sesuai dengan pasal 133 ayat 3 KUHAP yang berbunyi :
(3)

Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada
rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan
terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat,
dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau
bagian tubuh badan mayat.

Sebelum dilakukan autopsi, pihak penyidik bersama bagian Forensik RSUDAM


telah meminta persetujuan dari pihak keluarga akan hal ini.

Persetujuan

diberikan keluarga secara tertulis. Hal ini sesuai dengan pasal 134 KUHAP ayat
(1) yang berbunyi: Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan
pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib
memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban.

Pada mayat ini ditemukan memar pada leher sebelah kiri setinggi tulang belikat
dengan ukuran lima kali lima sentimeter, pada puncak bahu kiri terdapat luka
lecet dan luka memar seluas tiga kali tiga sentimeter dan ditemukan memar pada
leher berbentuk melingkar. Setelah dilakukan otopsi ditemukan resapan darah

pada otot leher kiri seluas sepuluh kali delapan sentimeter, pada tenggorokan
setinggi kelenjar gondok, pada saluran pernafasan/kerongkongan setinggi
kelenjar gondok, pada pangkal lidah dan pada bagian dalam leher kanan dan kiri
mayat.

Kaku mayat terdapat pada seluruh tubuh mayat serta susah dilawan. Pada siku,
lutut terjadi fleksi dan pada kaki terjadi endorotasi. Hal ini sejalan dengan teori
tentang Heat Stiffening yang terjadi pada mayat akibat kebakaran yang
menyatakan bahwa pada mayat akibat terbakar terjadi fleksi leher, siku, paha
dan lutut karena pemendekan otot akibat koagulasi otot oleh panas.

Kematian yang tidak wajar dapat dibuktikan dari ditemukannya luka bakar yang
terdapat disekujur mayat tetapi pada otopsi tidak ditemukan jelaga yang
merupakan tanda bahwa korban masih hidup ketika dibakar. Ini berarti korban
sudah meninggal sebelum dibakar.

Berdasarkan perkiraan penyebab kematian yang diberikan oleh pihak kepolisian


dalam surat permintaan visum dari Kepala Kepolisian Resort Way Kanan
tertanggal 18 Agustus 2007, No. Pol.: 119/VER/IX/2003/STPK diduga bahwa
korban meninggal akibat diracun. Menurut hasil penyidikan pihak kepolisian
didapatkan bahwa racun yang digunakan adalah racun tikus, diketahui bahwa
racun tikus mengandung senyawa arsen.

Namun setelah dilakukan otopsi dari pihak RSUDAM ditemukan bahwa arsen
yang terdapat dalam bilas lambung dan urin melebihi kadar normal yang masih
tidak dapat diterima oleh tubuh. Pada orang dewasa kadar normal dalam urin

100g/L, rambut 0.5 mg/kg dan kuku 0.5 mg/kg. Kadar dalam rambut pada
keracunan 0.75 mg/kg dan pada kuku 1 mg/kg atau lebih.

Berdasarkan autopsi yang telah dilakukan pihak RSUDAM dapat diambil


kesimpulan bahwa korban meninggal akibat keracunan, serta pada hasil autopsi
ditemukan akibat kekerasan benda tumpul yang ditemukan bahu korban dan
adanya patah tulang jakun dan resapan darah pada daerah leher karena
perdarahan namun perdarahan yang terjadi tidak mengakibatkan kematian.

Sebab mati berupa kekerasan tumpul pada leher yang mengakibatkan patahnya
tulang pangkal lidah sebelah kiri dan patah tulang jakun berkeping-keping yang
mengakibatkan sumbatan pada jalan nafas sehingga mati lemas (asfiksia). Hal
ini dapat terlihat dari tanda-tanda asfiksia berupa bintik-bintik perdarahan pada
paru kanan dan jantung.

Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala sebagai akibat
autointoksikasi (keracunan) oleh karbondioksida yang terkumpul didalam tubuh
karena terjadi sumbatan pada saluran napas, yang dapat dibedakan dalam
beberapa fase, yaitu :
1. Fase Dispneu, gejala yang timbul berhubungan dengan kebutuhan akan
oksigen dan penimbunan karbodioksida yang akan merangsang pusat
pernapasan di medula oblongata. Sebagai akibatnya terjadi pernapasan yang
cepat dan dalam, denyut nadi meningkat, tekanan darah meningkat, mulai
tampak tanda-tanda sianosis pada muka, tangan dan kuku-kuku jari.
2. Fase Konvulsif. Kejang timbul akibat rangsangan terhadap susunan saraf
pusat karena peningkatan kadar karbondioksida. Sianosis menjadi lebih
dalam, pupil dilatasi. Timbul bintik-bintik perdarahan pada organ tubuh,
terutama dirongga dada, yang disebabkan karena tidak pecahnya pembuluh

kapiler akibat tekanan intra kapiler yang meningkat. Kesadaran menurun


sampai koma.
3. Fase Apnoe. Pada fase ini terjadi paralisis susunan saraf. Pernapasan
menjadi dangkal dan gasping, yang semakin lambat sampai akhirnya
meninggal. Jantung masih berdenyut sampai beberapa saat setelah
pernapasan berhenti. Terjadi relaksasi sfingter, sehingga dapat keluar urin,
feses atau cairan sperma.
4. Fase Akhir. Terjadi paralisis pusat pernapasan yang lengkap. Pernafasan
berhenti setelah kontraksi otomatis otot pernapasan kecil pada leher. Jantung
masih berdenyut beberapa saat setelah pernapasan berhenti.

Pemeriksaan forensik terhadap jenazah meliputi pemeriksaan luar jenazah,


tanpa

melakukan

tindakan

yang

merusak

keutuhan

jaringan

jenazah.

Pemeriksaan dilakukan dengan teliti dan sistematik , serta kemudian dicatat


secara rinci, mulai dari bungkus atau tutup jenazah, pakaian, benda-benda
sekitar jenazah, perhiasan, ciri-ciri umum identitas, tanda-tanda tanatologik, gigigeligi, dan luka atau cedera atau kelainan yang ditemukan diseluruh bagian luar.

Kemudian dilakukan pemeriksaan bedah jenazah, menyeluruh dengan membuka


rongga tengkorak, leher, dada, perut, dan panggul.

Kadang kala dilakukan

pemeriksaan penunjangyang diperlukan seperti pemeriksaan histopetologik,


toksikologik, dan serologik.

Dari pemeriksaan dapat disimpulkan sebab

kematian korban, selain jenis luka atau kelainan, jenis kekerasan penyebabnya,
dan saat kematian.

PENUTUP

Pada pemeriksaan terhadap mayat seorang laki-laki berumur kurang lebih lima
puluh tahun ini ditemukan luka bakar pada kedua sisi kaki sampai ke tulang,
tangan kanan dari ujung sampai ketiak, dan sepuluh sentimeter dari atas pusar
sampai ke ujung telapak kaki kanan dan kiri. Namun pada pemeriksaan batang
tenggorokan tidak ditemukan jelaga, sehingga dapat disimpulkan bahwa laki-laki
ini sudah meninggal sebelum dibakar. Selain itu pada pemeriksaan laboratorium
untuk bilas lambung dan urin ditemukan kandungan arsen sebesar 0,025 mg/dl
pada bilas lambung dan 0,5mg/dl pada urin. Dimana konsentrasi ini masih dalam
batas normal dan tidak mengakibatkan kematian. Selanjutnya pada pemeriksaan
dalam ditemukan resapan darah pada daerah leher sebelah kiri terutama pada
tenggorokan dan pangkal lidah serta didapatkan patah pada tulang lidah dan
tulang jakun. Sebab mati pada orang ini akibat kekerasan benda tumpul pada
daerah leher kiri yang menyebabkan perdarahan dan patahnya tulang jakun,
sehingga menghambat jalan nafas yang mengakibatkan terjadinya mati lemas.

REFERENSI

FKUI. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik Bagian Kedokteran Forensik Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia Edisi I. Jakarta.

FKUI. 1996. Teknik Autopsi Forensik. Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Jakarta.

Idries, Munim, Abdul, dr. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Bina Rupa
Aksara. Jakarta.