Anda di halaman 1dari 11

Bahan Tambahan Pangan (BTP) Yang

Diperbolehkan Dan Yang Berbahaya


Kategori: Artikel, ditulis oleh Adminsitrator Website
Wednesday, 02 October 2013 14:23

Sering masyarakat bertanya kepada kami mengenai boleh tidaknya produk makanan/minuman
ditambah dengan pengawet, pewarna, pemanis yang tak lain tambahan tersebut merupakan
Bahan Tambahan Pangan (BTP). BTP tersebut boleh digunakan asalkan masuk dalam daftar BTP
yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Bahan Tambahan Pangan adalah bahan/campuran bahan yang secara alami bukan merupakan
bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat
atau bentuk pangan. Sesuai dengan PERMENKES No. 33 Tahun 2012 penggolangan BTP adalah
sebagai berikut :
1. Antibuih (Antifoamng agent)
2. Antikempal (Anticacking agent)
3. Antioksidan (Antioxidant)
4. Bahan pengkarbonasi (Carbonating agent)
5. Garam pengemulsi (Emulsifying salt)
6. Gas untuk kemasan (Packaging gas)
7. Humektan (Humectant)
8. Pelapis (Glazing agent)
9. Pemanis (Sweetener)
10. Pembawa (Carrier)
11. Pembentuk gel (Gelling agent)
12. Pembuih (Foaming agent)
13. Pengatur keasaman (Acidity regulator)
14. Pengawet (Preservative)

15. Pengembang (Raising agent)


16. Pengemulsi (Emulsifier)
17. Pengental (Thickener)
18. Pengeras (Firming agent)
19. Penguat rasa (Flavour enhancer)
20. Peningkat volume (bulking agent)
21. Penstabil (Stabilizer)
22. Peretensi warna (Colour retention agent)
23. Perisa (Flavouring)
24. Perlakuan Tepung ( Flour treatment agent)
25. Pewarna (Colour)
26. Propelan (Propellant)
27. Sekuestran (Sequestrant)
Dari 27 golongan tersebut beberapa golongan yang biasa menjadi perhatian masyarakat akan
kami sampaikan sebagaimana berikut :
1. Bahan Pewarna (Colour Agent)
Penambahan bahan pewarna pada makanan dilakukan untuk beberapa tujuan, yaitu :
o

Memberikan kesan menarik bagi konsumen

Menyeragamkan warna makanan

Menstabilkan warna

Menutupi perubahan warna selama proses pengolahan

Mengatasi perubahan warna selama penyimpanan

Bahan pewarna makanan dibagi menjadi 2 jenis yaitu pewarna alami dan pewarna sintetis.

Pewarna alami adalah pewarna yang dibuat melalui proses ekstraksi, isolasi, atau derivatisasi
(sintesis parsial) dari tanaman, hewan, mineral atau sumber alami lain termasuk pewarna
identik alami.
Contoh : Kurkumin Cl.No.75300; Riboflavin; Karmin; Karmin Cl.No.75470; Klorofil
Cl.No.75810; Karamel; Beta-karoten Cl.No.75130; Antosianin; dan Titanium sioksida
Cl.No.77891.
Pewarna sintetis adalah pewarna yang diperoleh/dibuat secara sintesis kimiawi
Contoh : Tartrazin Cl. No. 19140; Kuning kuinolin Cl. No. 47005; Kuning FCF Cl.
No. 15985 (sunset yellow FCF); Karmoisin Cl. No. 14720; Eritrosin Cl. No. 45430;
Biru berlian FCF Cl. No. 42090; dan Hijau FCF Cl. No. 42053.
Bahan pewarna yang telah disebutkan diatas adalah BTP yang diperbolehkan untuk
digunakan pada makanan, akan tetapi ada beberapa pewarna terlarang dan berbahaya yang
sering ditemukan pada pangan/jajanan, yang sebenarnya bukan BTP melainkan pewarna
tekstil yaitu Metanil Yellow (kuning metanil) yang berwarna kuning, Auramin berwarna
kuning dan Rhodamin B yang berwarna merah. Bahaya ketiga perwarna ini telah di buktikan
menyebabkan kanker yang gejalanya tidak dapat terlihat langsung setelah dikonsumsi
melainkan jangka panjang.
Ciri-ciri makanan yang menggunakan pewarna berbahaya/tekstil diantaranya adalah
distribusi warna tidak rata (pangan bentuk padat), berpendar jika terkena cahaya langsung,
dan biasanya warna sangat mencolok.

1. Bahan Pemanis (Sweetener)


Pemanis dapat berupa pemanis alami dan pemanis buatan.
Pemanis alami adalah pemanis yang dapat ditemukan dalam bahan alam meskipun prosesnya
secara sintetik ataupun fermentasi.
Contoh : Sorbitol, Manitol, Isomalt, Glikosida steviol, Maltitiol, Silitol.
Pemanis buatan adalah pemanis yang diproses secara kimiawi, dan senyawa tersebut tidak
terdapat di alam. Pemanis buatan sering ditambahkan ke dalam makanan dan minuman
sebagai pengganti gula karena mempunyai kelebihan dibandingkan dengan pemanis alami
(gula tebu/sukrosa), yaitu :
o

Rasanya lebih manis

Membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa manis

o
o

Tidak mengandung kalori atau mengandung kalori yang jauh lebih rendah sehingga
cocok untuk penderita penyakit gula (diabetes)
Harganya lebih murah
Contoh : Siklamat, Sakarin, Aspartam, Asesulfam-K, Sukralosa, dam Neotam.

Tingkat kemanisan pemanis buatan tersebut dapat mencapai puluhan bahkan ratusan kali gula
alami. Siklamat mempunyai tingkat kemanisan 30-80 kali gula alami, Aspartam 180 kali gula
sedangkan sakarin 300 kali gula alami, sehingga pemanis buatan tersebut sering disebut
sebagai biang gula.
Untuk anak-anak sebaiknya tidak diberikan makanan yang mengandung pemanis buatan
tersebut karena kandungan kalori yang rendah, sedangkan anak-anak membutuhkan kalori
yang tinggi untuk menunjang aktifitasnya. Dan di beberapa negara lain penggunaan beberapa
pemanis buatan juga sudah dilarang penggunaannya karena pada penggunaan dosis besar dan
jangka panjang dapat menyebabkan kanker. Sebagai contoh siklamat sudah dilarang oleh
FDA Amerika Serikat.
Pemanis buatan yang telah dilarang karena bersifat karsinogenik / dapat menyebabkan
kanker antara lain dulcin dan P-4000 (2-amino 4-nitro 1-phenol propoxybenzene). Dulcin
menyebabkan tumor hati dan mengganggu produksi sel darah merah. Sedang P-4000 dapat
merusak ginjal dan mengganggu fungsi tiroid.
1

Bahan Pengawet (Preservative)

Bahan pengawet umumnya digunakan untuk mengawetkan pangan yang mempunyai sifat
mudah rusak. Bahan ini dapat menghambat atau memperlambat proses fermentasi,
pengasaman atau peruraian yang disebabkan oleh mikroba. Tetapi tidak jarang produsen
pangan menggunakannya pada makanan yang relative awet dengan tujuan untuk
memperpanjang masa simpan atau memperbaiki tekstur.
Pengawet yang banyak dijual di pasaran dan digunakan untuk mengawetkan berbagai
makanan adalah benzoat, yang umumnya terdapat dalam bentuk natrium benzoat atau kalium
benzoat yang bersifat lebih mudah larut. Benzoat sering digunakan untuk mengawetkan
berbagai makanan dan minuman seperti sari buah, minuman ringan, saus tomat, saus sambal,
jem dan jeli, manisan, kecap dan lain-lain.
Penggunaan pengawet dalam makanan harus tepat, baik jenis manapun dosinya. Suatu bahan
pengawet mungkin efektif untuk mengawetkan makanan tertentu, tetapi tidak efektif untuk
mengawetkan makanan lainnya, karena makanan mempunyai sifat yang berbeda-beda
sehingga mikroba perusak yang akan dihambat pertumbuhannya juga berbeda.
Beberapa contoh bahan pengawet adalah sbb : Asam Benzoat dan garamnya (natrium,
kalium, kalsium), Asam Sorbat dan garamnya, Asam Propionat dan garamnya, Etil
Paraben (para-hidroksibenzoat), Metil Paraben, Sulfit/bisulfit/metabisulfit (natrium,

kalium, kalsium), Nitrit (kalium, natrium), Nitrat (kalium, natrium), Nisin, dan Lizosim
hidroklorida.
Pada saat ini masih banyak ditemukan penggunaan bahan pengawet yang dilarang namun
digunakan dalam makanan dan berbahaya bagi kesehatan, misalnya boraks dan formalin.
Boraks dan formalin bukan pengawet untuk pangan.
Boraks atau pijer atau bleng (bahasa jawa) adalah campuran garam mineral konsentrasi tinggi
yang dipakai dalam pembuatan beberapa makanan tradisional, seperti karak dan gendar,
sinonimnya natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat. Bleng adalah bentuk tidak
murni dari boraks, sementara asam borat murni buatan industri farmasi lebih dikenal dengan
nama boraks. Dalam dunia industri, boraks menjadi bahan solder, bahan pembersih,
pengawet kayu, antiseptik kayu, dan pembasmi kecoa.
Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin
terkandung sekitar 37% formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan metanol hingga 15%
sebagai pengawet. Formalin biasa digunakan pada industri plastik, anti busa, bahan
konstruksi, kertas, karpet, tekstil, cat, mebel serta pengawet mayat dan organ tubuh.
Pada umumnya, alasan para produsen menggunakan boraks dan formalin sebagai bahan
pengawet makanan adalah karena kedua bahan ini mudah digunakan dan mudah didapat,
karena harganya relatif murah dibanding bahan pengawet lain (BTP) yang tidak berpengaruh
buruk pada kesehatan. Selain itu, boraks dan formalin merupakan senyawa yang bisa
memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan bentuk yang bagus.
Makanan yang sering ditambahkan boraks adalah kerupuk karak, baso, mie basah, pisang
molen, lemper, siomay, lontong, ketupat, dan pangsit. Sedangkan yang ditambahkan formalin
adalah tahu, mie basah, ikan segar dan hasil laut, tempura, dan gula jawa.
Ciri-ciri makanan yang ditambahkan boraks dan formalin adalah sbb :
Bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan khas yang berbeda dari
kekenyalan bakso yang menggunakan bahan daging. Tekstur kulit kering dan berwarna
keputihan.
Kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk,
teksturnya bagus, renyah dan dapat memberikan rasa getir.
Ikan segar yang menggunakan formalin tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar,
insang berwarna merah tua dan tidak cemerlang, dan memiliki bau menyengat khas
formalin.
Tahu yang menggunakan formalin berbentuk bagus, kenyal, tidak mudah hancur, awet
hingga lebih dari 3 hari, bahkan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es, dan berbau
menyengat khas formalin.

Mie basah yang menggunakan formalin biasanya lebih awet sampai 2 hari pada suhu
kamar (25 derajat celcius), berbau menyengat, kenyal, tidak lengket dan agak mengkilap.
Gula jawa yang ditambahkan formalin teksturnya cenderung keras, tidak mudah remuk
dan lumer, bau agak menyengat.

Makanan tersebut yang telah ditambahkan boraks dan formalin biasanya lebih awet dari
makanan yang tidak ditambahkan pengawet. Sebagai indikator biologis dapat diperhatikan
bahwa lalat tidak akan menghinggapi makanan yang mengandung formalin dan boraks
tersebut.
Bahaya makanan yang mengandung Boraks bagi kesehatan jika dikonsumsi adalah sbb :
a. Bahaya akut:
o Badan berasa tidak enak (malaise), mual nyeri hebat pada perut bagian atas
(epigastric), pendarahan gastro-enteritis disertai muntah darah, diare, lemah,
mengantuk, demam, dan sakit kepala
b. Bahaya kronis/jangka panjang:
o Hilangnya nafsu makan (anorexia), turunnya berat badan, iritasi ringan disertai
gangguan pencernaan, kulit ruam dan merah-merah, kulit kering dan mukosa
membran dan bibir pecah-pecah, lidah merah, radang selaput mata, anemia,
kerusakan ginjal, kegagalan sistem sirkulasi akut, dan bahkan kematian
Bahaya makanan yang mengandung Formalin bagi kesehatan jika dikonsumsi adalah sbb :

a. Bahaya akut:
o Iritasi, alergi, kemerahan, mata berair, mual, muntah, rasa terbakar, sakit perut dan
pusing
b. Bahaya kronis/jangka panjang:
o Iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar
pada tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada, Selain itu juga
dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf
pusat dan ginjal. Bila dikonsumsi menahun dapat menyebabkan kanker