Anda di halaman 1dari 6

M-V

UJI TRIAXIAL

5.1

Maksud dan Tujuan

5.1.1

Maksud
Maksud dari praktikum ini adalah untuk memenuhi salah satu kewajiban

dalam mengikuti program Praktikum Geomekanika di Teknik Pertambangan


Universitas Islam Bandung Periode 2014 - 2015
5.1.2
1.

Tujuan
Menentukan harga kohesi sampel (c).

2.

Menentukan harga sudut geser sampel ()

5.2

Landasan Teori

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan ( strength ) dari percontoh


batu secara tidak langsung dilapangan. Percontoh batuan dapat berbentuk silinder.
Peralatan yang digunakan mudah dibawa-bawa, tidak begitu besar dan cukup
ringan. Pengujian cepat, sehingga dapat diketahui kekuatan datuan dilapangan,
sebelum pengujian dilaboratorium dilakukan.
Dari pengujian ini didapat :

Keterangan:
Is = Point load strength index ( Index Franklin )
P = Beban maksimum sampai percontoh pecah
D = Jarak antara dua konus penekan
Hubungan antara index franklin (Is) dengan kuat tekan (t) menurut
BIENIAWSKI sebagai berikut:

c = 18 23 Is untuk diameter percontoh = 50 mm. Jika Is = 1 MPa maka index


tersebut tidak lagi mempunyai arti sehingga disarankan untuk menggunakan
pengujian lain dalam penentuan kekuatan ( strength ) batuan.
5.2.1

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Uji Triaksial

Tekanan pemampatan
Tekanan pemampatan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi

dalam uji triaksial. Besarnya tegangan aksial pada saat contoh batuan runtuh
saat pengujian triaksial selalu lebih besar daripada tegangan aksial saat contoh
batuan runtuh pada pengujian kuat tekan uniaksial. Hal ini disebabkan karena
adanya penekanan (pemampatan) dari arah lateral dari sekeliling contoh batuan
pada uji triaksial. Berbeda pada pengujian kuat tekan uniaksial, tekanan
pemampatannya adalah nol (zero confining pressure), sehingga tegangan aksial
batuan lebih kecil. Berdasarkan penelitian Von Karman (1911) pada batuan
marbel Carrara dapat dilihat dengan adanya tekanan pemampatan pada contoh
batuan mengakibatkan kenaikan tekanan aksial dan bersifat lebih ductile.
menunjukkan

semakin

tingginya

tegangan

puncak

(peak)

jika

tekanan

pemampatannya semakin besar.

Tekanan pori
Dari penelitian Schwartz pada tahun 1964 yang mempelajari tentang

tekanan pori pada uji triaksial terhadap batuan sandstone. Dapat disimpulkan
bahwa naiknya tekanan pori akan menurunkan kekuatan batuan.

Temperatur
Secara umum, kenaikan temperatur menghasilkan penurunan kuat tekan

batuan dan membuat batuan semakin ductile. menunjukkan kurva tegangan


diferensial (deviatoric stress,3-1) regangan aksial untuk batuan granit pada
tekanan pemampatan 500 MPa dan pada temperatur yang berbeda-beda. Pada
temperatur kamar, sifat batuan adalah brittle, tetapi pada temperatur 800 0C
batuan hampir seluruhnya ductile. Efek temperatur terhadap tegangan diferensial
saat runtuh untuk setiap tipe batuan adalah berbeda. Pada penelitian ini,
pengaruh temperature diabaikan.

Laju deformasi
Kenaikan laju deformasi secara umum akan menaikkan kuat tekan

batuan. Hal ini terbukti dari penelitian-peneliatian terdahulu. Pada tahun 1961,

Serdengecti dan Boozer melakukan penelitian tentang pengaruh kenaikan laju


deformasi pada uji triaksial. Dari penelitian mereka pada batuan limestone dan
gabbro solenhofen,

Bentuk dan Dimensi contoh batuan


Bentuk contoh batuan pengujian triaksial sama seperti uji kuat tekan

uniaxial bentuk silinder. Semakin bertambahnya ukuran contoh batuan,


kemungkinan tiap contoh batuan dipengaruhi oleh bidang lemah akan semakin
besar. Oleh karena itu, semakin besar contoh batuan yang akan diuji, kekuatan
contoh batuan tersebut akan berkurang. Variasi perbandingan panjang terhadap
diameter contoh batuan ( /d) diketahui akan mempengaruhi kekuatan contoh
batuan. Kekuatan contoh batuan akan menurun seiring dengan menaiknya
perbandingan panjang terhadap diameter contoh batuan ( /d). Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan Mogi pada tahun 1962.
Menurut ISRM (1972) untuk contoh batuan pada uji triaksial dan kuat tekan
uniaksial, perbandingan antara tinggi dan diameter contoh silinder yang umum
digunakan adalah 2 sampai 2,5 dengan area permukaan pembebanan yang
datar, halus dan paralel tegak lurus terhadap sumbu aksis contoh batuan.

Tipe Deformasi Batuan pada Uji Triaksial


Secara garis besar tipe deformasi yang terjadi saat contoh batuan runtuh

dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu brittle fracture dan ductile fracture.
Serdengecti dan Boozer menyebutkan bahwa brittle fracture terjadi pada tekanan
pemampatan yang rendah, temperatur yang rendah dan laju deformasi yang
besar. Sebaliknya, ductile fracture lebih sering terjadi pada tekanan pemampatan
yang tinggi, temperatur yang tinggi dan laju deformasi yang rendah. batuan pada
tekanan pemampatan yang tinggi dalam uji triaksial. Mereka mendapati lima tipe
deformasi yang terjadi yang dialami contoh batuan saat diberi tekanan

Gambar 5.1
Hasil Uji Triaxial

5.3 Alat dan Bahan

Alat Triaxial dengan perlengkapan-perlengkapan seperti Proving ring, Dial


gauge, Pedestal (landasan), Silinder perspek, Cop

Rubber membran (Rubber Plate) dan kertas filter

Compressor

Stop watch atau alat pengukur waktu lainnya.

Rubber Jacket

5.4 Prosedur

Ambil sampel dari tabung, cetak dengan alat pencetak sampel sehingga
berbentuk silinder dengan tinggi 2 kali dari Diameter

Timbang masing-masing sampel dan cari berat satuan volumenya

Masukan sampel kedalam rubber kacjet, setelah dimasukan ke rubber


jacket kemudian masikan ke silinder besi

Buka klep-klep saluran yang menghubungkan alat triaxial dengan alat ukur
tegangan

Pasang kertas saring di atas batu berpori tersebut. Lalu masukkan


membran karet ke dalam stetcher, kemudian jalankan pompa vakum
sehingga membran karet menempel pada dinding dalam stetcher

Masukan sampel dalam stetcher dan membran diselubungkan

Letakkan silinder kaca di atas sampel dan letakkan butir penekan yang
akan meneruskan tekanan sampel di atas silinder kaca tersebut

Pasang chamber, kencangkan ketiga baut, buka klep pada bagian atas
chamber

Spesimen dileakan diantara plat baja dan diatur agar tepat dengan plat
form penekanan alat, sehingga spesimen berada ditengah tengah apitan
plat baja

Jalankan pesawat triaxial dengan menjalankan motor mesin sehingga


sampel mendapatkan tegangan vertikal dengan kecepatan penurunan
sampai 2%

Lakukan pembacaan dial gauge dan tegangan air pori tiap menit dan air
raksa diatur agar tetap pada posisinya sampai terjadi keruntuhan, yaitu dial
gauge menunjukan angka yang tetap

Matikan mesin, null indikator dinolkan

Keluarkan batu sampel

DAFTAR PUSTAKA

Burham,

Hendra.

2011.

Laporan

Praktikum

Geomokanikka.

https://

www.scribd. com/doc/177580127 /Laporan -Geomekanika# download.


Diakses pada tanggal 20 Maret 2015
Hendar, Andrianto.

2014.

Mekbat. http://afanmining10.

https://ml.scribd

.com/doc/55939819/Mekbat. Diakses pada tanggal 20 Maret 2015


Wibawa,

Fauzan.

2009.

Mekanika

Batuan.

https://bumih.wordpress.

com/about/. Diakses pada tanggal 20 Maret 2015