Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I
PENDAHULUAN

Selulitis orbita merupakan penyebab tersering proptosis pada anak- anak sehingga
perlu dilakukan pengobatan segera. Mengingat selulitis preseptal dapat berkembang menjadi
selulitis orbita jika tidak ditangani dengan tepat, maka mengenal penyakit ini dan
menatalaksana dengan tepat merupakan suatu poin penting yang baik jika dimiliki oleh
dokter.
Selulitis preseptal dan selulitis orbita memiliki manifestasi klinis yang mungkin mirip,
akan tetapi kedua kondisi tersebut harus dibedakan. Selulitis preseptal hanya melibatkan
jaringan lunak di anterior septum orbital dan tidak melibatkan struktur di dalam rongga
orbita. Selulitis preseptal dapat menyebar ke posterior septum orbita dan berprogresi selulitis
orbita dan abses orbital atau subperiosteal. Infeksi pada orbita sendiri dapat menyebar secara
posterior dan menyebabkan meningitis atau trombosis sinus kavernosus.2

BAB II
1

A. Orbita

3,4

Orbita adalah sebuah rongga berbentuk segi empat seperti buah pir yang berada
diantara fossa kranial anterior dan sinus maksilaris. Tiap orbita berukuran sekitar 40 mm pada
ketinggian, kedalaman, dan lebarnya. Orbita dibentuk oleh 7 buah tulang:
- Os. Frontalis
- Os. Maxillaris
- Os. Zygomaticum
- Os. Sphenoid
- Os. Palatinum
- Os. Ethmoid
- Os. Lacrimalis

Gambar 1 anatomi orbita

Secara anatomis orbita dibagi menjadi enam sisi, yaitu:


1. Dinding medial, terdiri dari os maxillaris, lacrimalis, ethmoid, dan sphenoid.Dinding
medial ini seringkali mengalami fraktur mengikuti sebuah trauma. Osethmoid yang menjadi
salah satu struktur pembangun dinding medial merupakan salah satu lokasi terjadinya
sinusitis etmoidales yang merupakan salah satu penyebab tersering selulitis orbita.
2. Dinding lateral, terdiri dari sebagian tulang sphenoid dan zygomaticum.
3. Langit- langit, berbentuk triangular, terdiri dari tulang sphenoid dan frontal. Defek pada
sisi ini menyebabkan proptosis pulsatil.
2

4. Lantai, terdiri dari os. Palatina, maxillaris, dan zygomaticum. Bagian posteromedial dari
tulang maksilaris relatif lemah dan seringkali terlibat dalam fraktur blowout.
5. Basis orbita, merupakan bukaan anterior orbita
6.Apeks orbita, merupakan bagian posterior orbita dimana keempat dinding orbita
bekonvergensi, memiliki dua orifisium yaitu kanal optikus dan fisura orbital superior

Septum orbital1,4
Pada orbita terdapat suatu membran jaringan ikat yang tipis yang melapisi berbagai
struktur. Membran tersebut terdiri dari fascia bulbi, muscular sheats, intermuscular septa, dan
ligamen lockwood. Di dalam orbita terdapat struktur- struktur sebagai berikut: bagian n.
optikus, muskulus ekstraokular, kelenjar lakrimalis, kantung lakrimalis, arteri oftalmika,
nervus III, IV, dan VI, sebagian nervus V, dan fascia serta lemak. Inflamasi periorbital dapat
diklasifikasikan menurut lokasi dan derajat keparahan. Salah satu pertanda anatomis dalam
menentukan lokasi penyakit adalah septum orbital. Septum orbital adalah membran tipis yang
berasal dari periosteum orbital dan masuk ke permukaan anterior lempeng tarsal kelopak
mata. Septum memisahkan kelopak mata superfisial dari struktur dalam orbital dan
membentuk barier yang mencegah infeksi dari kelopak mata menuju rongga orbita.
B. Fisiologi gejala2
Kakunya struktur tulang orbita menyebabkan lubang anterior menjadi satu- satunya
tempat ekspansi. Setiap penambahan isi orbita yang terjadi di samping atau belakang bola
mata akan mendorong organ tersebut ke depan, hal ini disebut dengan proptosis. Penonjolan
bola mata adalah tanda utama penyakit orbita. Proptosis dapat disebabkan lesi- lesi ekspansif
yang dapat bersifat jinak atau ganas, berasal dari tulang, otot, saraf, pembuluh darah, atau
jaringan ikat. Selain itu dapat juga terjadi proptosis tanpa adanya penyakit orbita. Hal ini
disebut dengan pseudoproptosis. Pseudoproptosis dapat terjadi pada miopia tinggi, buftalmos,
dan retraksi kelopak mata. Proptosis sendiri tidak menimbulkan cedera kecuali membuat
kelopak mata tidak bisa ditutup, akan tetapi penyebab proptosis itu sendiri seringkali
berbahaya.
Posisi mata ditentukan oleh lokasi massa. Ekspansi di dalam kerucut otot mendorong
mata lurus ke depan(proptosis aksialis), sedangkan massa yang tumbuh di luar kerucut otot
3

mendorong mata ke samping atau vertikal menjauhi masa tersebut(proptosis non aksialis).
Kelainan bilateral umumnya mengindikasikan adanya penyakit sistemik misalanya penyakit
graves. Istilah eksoftalmos sering dipakai untuk menggambarkan proptosis pada graves.
Proptosis pulsatil dapat disebabkan oleh fistula karotiko kavernosa, malformasi pembuluh
darah arteri orbita, atau transmisi denyut otak akibat tidak adanya atap orbita superior.
Proptosis yang bertambah dengan penekukan kepala ke depan atau dengan perasat valsava
merupakan suatu tanda adanya malformasi vena orbita atau meningokel.
Pada perubahan posisi bola mata, terutama apabila terjadi dengan cepat, mungkin
timbul interferensi mekanis terhadap gerakan bola mata yang cukup untuk membatasi
pergerakan mata dan diplopia. Dapat timbul nyeri akibat ekspansi cepat, peradangan, atau
infiltrasi pada saraf sensoris. Penglihatan biasanya tidak terpengaruh di awal ekcuali bila lesi
berasal dari n. optikus atau langsung menekan saraf tersebut.
Tanda lainnya dapat berupa edema kelopak mata dan periorbital, diskolorisasi kulit,
ptosis, kemosis, dan injeksi epibulbar. Selain itu dapat juga terjadi perubahan fundus seperti
pembengkakan cakram optik, atrofi optik, kolateral optikosiliaris, dan lipatan koroid.
C. Inflamasi orbita

Penyakit inflamasi pada orbita dapat diklasifikasikan menjadi:


1. Inflamasi orbita akut dan inflamasi terkait
a. Selulitis preseptal
b. Selulitis orbita dan abses intraorbital
c. Osteoperiostitis orbita
d. Tromboflebitis orbita
e. Tenonitis
f. Trombosis sinus kavernosus
2. Inflamasi orbita kronik
a. Inflamasi spesifik
i. Tuberkulosis
ii. Sifilis
iii. Actinomikosis
iv. Mukormikosis
v. Infestasi parasit
b. Inflamasi non spesifik

i. Penyakit inflamasi orbital idiopatik


ii. Sindroma tolosa hunt
iii. Periostitis orbital kronik

Gambar 2 berbagai inflamasi orbita

BAB III

Selulitis orbita
Selulitis orbita adalah infeksi akut pada jaringan lunak orbita di belakang septum
orbita. Selulitis orbita dapat berkembang menjadi abses subperiosteal atau abses orbital.1
Etiologi
Orbita dapat terinfeksi melalui tiga jalur seperti pada selulitis preseptal
- Infeksi eksogen, dapat berasal dari trauma tembus pada mata khususnya terkait dengan
retensi benda asing intraorbital dan kadang- kadang terkait dengan tindakan bedah seperti
eviserasi, enukleasi, dan orbitotomi.
- Persebaran infeksi sekitar, seperti sinusitis, infeksi gigi, dan struktur intraorbita. Merupakan
rute infeksi tersering.
- Infeksi endogen, jarang terjadi. Organisme penyebab hampir serupa dengan selulitis
preseptal, ditambah dengan keterlibatan streptococcus pneumoniae.1,2
Patologi
Penampakan patologik selulitis orbital mirip seperti inflamasi supuratif secara umum kecuali
dalam beberapa aspek, yaitu:
1. Karena tidak terdapat sistem limfatik, agen protektif terbatas pada elemen fagositik dari
jaringan retikular orbital
2. Karena ruang terbatas, tekanan intraorbital meningkat sehingga mengaugmentasi virulensi
infeksi menyebabkan nekrosis dini dan ekstensif terhadap jaringan
3. Umumnya, infeksi menyebar sebagai tromboflebitis dari struktur sekitar1
Manifestasi klinis
Gejala meliputi pembengkakan dan nyeri hebat yang meningkat dengan gerakan bola
mata atau pada penekanan. Gejala lainnya dapat berupa demam, mual, muntah, prostrasi, dan
terkadang kehilangan penglihatan. Tanda yang sering dijumpai pada selulitis orbital adalah
pembengkakan kelopak mata yang kemerahan dan keras seperti kayu, kemosis konjungtiva
yang dapat mengalami protrusi dan menjadi nekrotik, dbola mata mengalami proptosis aksial,
terdapat restriksi dari gerakan okular, dan pada pemeriksaan fundus didapati kongesti vena
retinal dan tanda papilitis atau papiloedema. Dapat juga ditemui disfungsi saraf optik.1,3
6

Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi bila selulitis tidak ditangani dengan tepat. Komplikasi terdiri
dari komplikasi okular, orbital, dan komplikasi lainnya.
Komplikasi okular biasanya adalah kebutaan, keratopati, neuritis optik, dan oklusi
arteri retina sentral.
Komplikasi orbital adalah perkembangan selulitis orbital menjadi abses subperiosteal
dan abses orbita. Abses subperiosteal adalah penumpukan material purulen antara dinding
tulang orbital dengan periosteum, biasanya terdapat pada dinding orbita media. Biasanya
abses subperiosteal dicurigai bila terdapat manifestasi selulitis orbita dengan proptosis
eksentrik. Namun, diagnosis dipastikan dengan CT scan. Abses orbita merupakan
penumpukan material purulen di dalam jaringan lunak orbital. Secara klinis dicurgai dengan
tanda- tandan proptosis parah, kemosis, oftalmoplegia komplit, dan pus di bawah
konjungtiva.
Komplikasi lainnya berupa abses parotid atau temporal, komplikasi intrakranial, dan
septikemia general atau pyaemia.4
Pemeriksaan penunjang
1. Kultur bakteri dari usap nasal dan konjungitva dan spesimen darah
2. Pemeriksaan darah perifer lengkap
3. X-Ray PNS untuk mendeteksi adanya sinusitis terkait
4. USG orbital untuk mendeteksi adanya abses intraorbital
5. CT scan dan MRI untuk:
a. Membedakan selulitits preseptal dan post septal
b. Mendeteksi abses subperiosteal dan abses orbital
c. Mendeteksi ekstensi intrakranial
d. Menentukan kapan dan darimana dilakukan drainase abses orbital
6. Punksi lumbal bila terdapat tanda- tanda keterlibatan meningel dan serebral.

Gambar 3 CT scan selulitis orbita(kiri) dan selulitis preseptal (kanan)

Medikasi
Selulitis pre septal ditatalaksana dengan terapi medikamentosa sedangkan selulitis
orbital, terutama yang telah menunjukkan komplikasi- komplikasi berbahaya membutuhkan
tindakan bedah segera. Pengobatan selulitis preseptal menggunakan co-amoxiclav
500/125mg setiap 8 jam. Infeksi yang parah membutuhkan antibiotik IV. Pengobatan harus
dimulai sebelum organisme penyebab teridentifikasi. Terapi antibiotik awal harus mengatasi
stafilokokus, H. influenzae, dan bakteri anaerob. Selulitis pascatrauma, khususnya setelah
gigitan hewan, harus diberikan antibiotik untuk mengatasi basil gram negatifdan gram positif.
Dekongestan hidung dan vasokonstriktor dapat membantu drainase PNS. Juga perlu
diberikan analgesia dan NSAID untuk mengontrol nyeri dan demam. Konsultasi dengan
otorlaringologis sejak dini bermanfaat.
Sebagian besar kasus berespon cepat dengan pemberian antibiotik. Kasus yang tidak
berespon mungkin membutuhkan tindakan bedah seperti drainase PNS melalui pembedahan.
Pada selulitis praseptal supuratif diindikasikan drainase melalui pembedahan sejak dini. MRI
bermanfaat untuk menentukan kapan dan dimana drainase harus dilakukan. Indikasi
pembedahan lainnya adalah terdapatnya abses intrakranial atau subperiosteal, dan gambaran
atipikal yang mungkin membutuhkan biopsi.2
Prognosis
Dengan pengenalan dan penanganan yang tepat, prognosis untuk sembuh total tanpa
komplikasi sangat baik. Morbiditas terjadi dari penyebaran patogen ke orbita yang dapat
mengancam penglihatan dan berlanjut ke penyebaran CNS. Selulitis orbital dapat berlanjut
8

menjadi abses orbital dan menyebar secara posterior menyebabkan trombosis sinus
kavernosus. Penyebaran sistemik dapat menyebabkan meningitis dan sepsis. Pada studi
terhadap pasien pediatrik, faktor risiko tinggi adalah sebagai berikut:
1. Usia di atas 7 tahun
2. Abses subperiosteal
3. Nyeri kepala dan demam yang menetap setelah pemberian antibiotik IV.
Pasien yang mengalami imunokompromais atau diabetes memiliki kecenderungan
lebih tinggi untuk mengalami infeksi fungal. Manajemen agresif dengan foto polos otak dan
terapi IV diindikasikan pada pasien ini.1

DAFTAR PUSTAKA

1. Kwitko GM. orbita cellulitis. http://emedicine.medscape.com/article/121 8009-overview.


2012. Diakses: Maret 2013.
2. Sullivan JA,. Orbita. Dalam : Vaughan DG, Asbury T, Riordan EP, editor. Oftalmologi
Umum Edisi 17. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC. 2007. p. 251-256.
3. Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology: a systemic approach. 7th ed. Elsevier,
2011.
4. Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4th ed. New age international, 2007. p. 377378, 384-386.

10