Anda di halaman 1dari 126

Penerapan The Policy of Peace and Prosperity Korea Selatan Terhadap Korea

Utara di Bawah Pemerintahan Roh Moo-hyun

Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:
Amelia Fitriani
108083000057

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2013

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Skripsi yaag be{udul:

PENERAPA}i TI{E POLICY OF PEACE AI{D PROSPERITY


KOREA SELATAN

TERII{DAI' KOREA UTARA DI BAWAH PEMERINTAIIAN


ROH M@.HYUN

l'

Merupakan tarya asli saya yang diajukacr rmtuk


memenshi sala6 satu persyaratan
memperoleh gelar stuata

I di universitas Istam Negeri (uF,D syarif Hidayatullatr

Jatrta-

2' Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisaa id telah saya cantumkan
dengan ketentuaa yaag berlaku di universitas
Islam Negeri

sesuai

{uff{) syarif Hidaiatulla}r

Jal(arta

3'

Jika di kemudiaa hari trbutti bahwa karya


ini bukan hasil karya salra atau merupakan

lusil jiplaka; dari karya oraog

lairro maka saya bersedia menedma


saaksi yang

berlaku di universitas Islam Negeri (urND


syarifHidayatullah Jakarta.

Jakarta, September 20I 3


'.. . - : - . -:a:--.-::.---

::- ::t,

AmeliaFitriani

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI

Dengan ini, Pembimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswa:

Nama

NIM

: 108083000057

AmeliaFitriani

Program Studi : Hubungan Internasional

Tehh

menyel

penulisao slaispi dengan judul:

Penerapan The Policy o{Peace and ProsperigrKorea Selatan Terhadap Korea Utara di

Bawah Pemerintahan Roh Moo-hyun


dan telah memenuhi persyaratan untuk

diuji.

Jakarta 3 September 2013

Menyetujui
Pembimbing,

PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI


SKRIPSI
PENERAPAN TT{E POUCY OF PEACE AND PROSPERITY KOREA SELATAN
TERHADAP KOREA UTARA DI BAWAH PEMERINTAHAN ROH MOO HYI''N
oleh
Amelia Fitriani
108083000057

telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi di fakultas Ilmu Sosial dan llmu
Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullatr, Jakarta pada tanggal 25
gelar
Septcmber 2013. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh
smjana sosial (s.sos) pda Program studi Hubungan Internasional'

Ketua,

Kil<v RizLv. M.Si


NrP. I 973032 I 20080 I I 002

Penguji I,

Dr. Pribadi Sutiono


Su$ono

Penguji II,

Bpdi Satari.M^{

Ditoima dan dinptakan memenuhi sprat kelulumn pada tanggal 25 September 2013

Ketua Program Studi Hubungan [nternasional


FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Kikv Rizkv. M.Si


MP. 1973032 I 200801 1002

ABSTRAK
Nama : Amelia Fitriani
NIM

: 108083000057

Penerapan The Policy of Peace and Prosperity Korea Selatan Terhadap Korea Utara
di Bawah Pemerintahan Roh Moo-hyun
Skripsi ini melakukan analisa mengenai penerapan the Policy of Peace and
Prosperity yang merupakan kebijakan resmi Korea Selatan terhadap Korea Utara di
bawah pemerintahan Roh Moo-hyun (2003-2008). Tujuan penelitian ini adalah untuk
menganalisa bagaimana kebijakan tersebut diterapkan, serta instrumen apa saja yang
digunakan dalam penerapannya. Penulis menggunakan metode analisis kualitatif yang
bersifat deskriptif analitis dalam melakukan penelitian ini. Dalam temuan penulis, the
Policy of Peace and Prosperity mampu meningkatkan partisipasi aktif Korea Utara
dalam berbagai instrumen yang digunakan, seperti dalam kerjasama ekonomi melalui
Kaesong Industrial Complex dan proyek wisata Gunung Kumgang. Selain itu,
kebijakan itu juga mampu melibatkan Korea Utara melalui program pertemuan
kembali keluarga yang terpisah. Korea Selatan dan Korea Utara juga secara bersamasama terlibat dalam Pembicaraan Enam Pihak (Six Party Talks) bersama dengan
Amerika Serikat, Rusia, Cina, dan Jepang untuk membahas masalah Semenanjung
Korea.
Akan tetapi, kebijakan Roh Moo-hyun mendapat hambatan eksternal, terutama
dari Amerika Serikat yang sejak dipimpin oleh pemerintahan George W Bush
melakukan perubahan dalam kebijakannya terhadap Korea Utara. Perubahan sikap
Amerika Serikat yang cenderung keras terhadap Korea Utara kemudian memicu pada
gagalnya penerapan Agreed Framework 1994. Kegagalan Agreed Framework 1994
turut membawa perubahan sikap Korea Utara menjadi lebih agresif dengan menarik
diri dari NPT dan menghidupkan kembali reaktor nuklirnya sebagai respon terhadap
Amerika Serikat. Sikap Korea Utara yang cenderung lebih agresif tersebut kemudian
mempengaruhi penerapan the Policy of Peace and Prosperity.
Oleh karena itu, untuk mengetahui bagaimana penerapan the Policy of Peace
and Prosperity diterapkan kepada Korea Utara, penulis menggunakan teori kebijakan
luar negeri, konsep diplomasi, dan bantuan luar negeri.
Keyword: the Policy of Peace and prosperity, Diplomasi, Roh Moo-hyun

KATA PENGANTAR

Sujud sukur atas rahmat Allah SWT yang telah memberikan penulis
kesempatan, kekuatan, kesadaran serta kesabaran untuk bisa menyelesaikan
penulisan skripsi yang berjudul Penerapan The Policy of Peace and Prosperity
Korea Selatan Terhadap Korea Utara di Bawah Pemerintahan Roh Moo-hyun
demi penyelesaian pendidikan tingkat tinggi ini.
Selama proses pengerjaan skripsi, penulis banyak menghadapi kendala dan
juga rintangan. Namun di saat yang bersamaan, penulis mendapat bantuan serta
dukungan dari berbagai pihak. Tanpa bantuan dan jasa dari pihak-pihak tersebut,
penulis tidak akan mampu bertahan sejauh ini dalam proses pendidikan maupun
dalam pengerjaan skripsi ini. Sehingga, dalam lembaran ini, penulis ingin
setidaknya menuliskan dan mencurahkan rasa terimakasih kepada mereka, agar
jasanya dapat penulis kenang seumur hidup.
Dengan segenap rasa hormat dan kerendahan hati, penulis mengucapkan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ayahanda penulis, Drs. H. Supiyanto yang selalu bersedia memeras
keringat dan memutar otaknya demi memperjuangkan pendidikan
penulis dan ketiga adik penulis. Terimakasih, Pah atas perjuanganperjuangan Papa yang tidak kenal lelah. Terimakasih atas setiap tetes
keringat yang telah Papa keluarkan untuk membuat keluarga dan anakanaknya hidup layak dan mendapatkan pendidikan terbaik. Papa
adalah ayah terbaik.

vi

2. Ibunda penulis, Hj. Ikrolilah yang tidak pernah berhenti melafadzkan


ayat-ayat suci dan menyebut nama penulis serta ketiga adik penulis
dalam setiap munajatnya. Terimakasih, Mah atas pengorbanpengorbanan Mama. Terimakasih atas setiap tetes air mata yang telah
Mama keluarkan dalam menangani kenakalan anak-anaknya dan
kesabaran Mama dalam membimbing kami ke jalan yang lurus. Mama
adalah ibu terbaik.
3. Bapak Teguh Santosa selaku dosen pembimbing skripsi penulis yang
dengan sabar membimbing dan memberikan arahan berharga kepada
penulis mengenai penyusunan skripsi serta wawasan lainnya.
Terimakasih, Pak, atas berbagai kesempatan berharga yang telah
Bapak berikan. Saya tidak akan menyia-nyiakan dan akan berusaha
lakukan yang terbaik dalam menjalankan kesempatan-kesempatan
tersebut.
4. Bapak Armein Daulay selaku dosen pembimbing akademik penulis
yang selalu membimbing, memberikan nasehat berharga, serta
memberikan informasi-informasi penting kepada penulis sejak pertama
menduduki bangku kuliah. Terimakasih, Pak, Saya memang bukan
mahasiswi yang pintar, tapi Insyaallah saya bisa menyerap dan
mengamalkan hal-hal positif yang telah bapak contohkan.
5. Adik-adik penulis, M. Fajar Sidiq, Anisa Nurul Hidayah, dan M.
Syahrul Fallah yang selalu kompak dan selalu membuat penulis dapat
tersenyum bahagia, di masa-masa sulit sekalipun. Terimakasih banyak
ya dek, Kakak sayang kalian.

vii

6. Moh. Hasyim yang selalu bersedia memapah serta menuntun penulis,


agar bisa berdiri dan berjalan dengan kaki sendiri, sekalipun penulis
sering terjatuh. Terimakasih, karena tetap mau bertahan menjadi
embun di pintu senja.
7. Dosen-dosen, khususnya di jurusan HI yang telah banyak memberikan
penulis pelajaran berharga. Terutama kepada Ibu Muti, Ibu Rara, Ibu
Eva, Ibu Dina, Pak Kiki, Pak Adian, Pak Agus, dan Pak Afri, yang
telah menginspirasi penulis secara pribadi, dan merupakan dosendosen terbaik yang dapat membimbing mahasiswanya dengan ramah,
sabar, dan tepat. Terimakasih banyak Bapak, Ibu. Saya memang tidak
pintar, tapi saya akan berusaha amalkan ilmu yang telah kalian
berikan.
8. Om Amet yang telah membelikan penulis buku Sunshine Policy dan
rela mengantarkannya ditengah hujan. Terimakasih banyak Om atas
keihlasannya.
9. Sahabat-sahabat tercinta, Nur Aini bebey, Uwe, Bunda Rahma, Haqi
Zou, dan Atho yang memberikan motivasi kepada penulis untuk segera
menyelesaikan pengerjaan skripsi dengan selalu bertanya kapan
lulus? Terimakasih, kalian sahabat yang terbaik yang pernah penulis
miliki.
10. Sahabat-sahabat seperjuangan, terutama di kelas HI B angkatan 2008,
Neti, Rina, Fitri, Mida, Fili, Ika, Naila, Hanifah, Aya, dan Ahla yang
sering penulis mintai bantuannya. Juga Waldi dan Uli, teman
seperjuangan dalam pengerjaan skripsi. Serta teman-teman HI

viii

angkatan 2008 lainnya, terimakasih atas kenangan yang telah samasama kita buat bersama.
11. Seluruh staf akademik di jurusan HI UIN yang telah banyak membantu
penulis dalam pengurusan administrasi serta dokumen-dokumen
lainnya. Terutama untuk Pak Jajang yang selalu ramah menyapa dan
sigap melayani kebutuhan akademik para mahasiswa FISIP secara
umum, dan penulis secara khusus. Terimakasih banyak, Pak.
12. Profesor Chung-in Moon serta Seung-chan Boo yang juga secara
langsung dan tidak langsung telah membantu penulis dalam pengerjaan
skripsi ini. .
Penulis juga menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu penulis secara langsung maupun tidak
langsung, yang telah memberikan dukungan moril maupun materil. Penulis
meminta maaf yang sebesar-besarnya karena tidak mampu menyebutkan satu per
satu dalam lembaran ini. Namun penulis menghargai dukungan tersebut dan
mengucapkan terimakasih banyak.

Jakarta, September 2013

Penulis

ix

DAFTAR ISI

ABSTRAK ................................................................................................

KATA PENGANTAR ...............................................................................

vi

DAFTAR ISI ..............................................................................................

DAFTAR GAMBAR ................................................................................

xii

DAFTAR TABEL ....................................................................................

xiii

DAFTAR SINGKATAN ..........................................................................

xiv

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................

xv

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...................................................

B. Pernyataan Penelitian........................................................

C. Kerangka Teori .................................................................

1. Kebijakan Luar Negeri ..............................................

2. Diplomasi ...................................................................

11

3. Bantuan Luar Negeri...................................................

14

D. Metode Penelitian .............................................................

17

E. Sistematika Penulisan .......................................................

19

KEBIJAKAN KOREA SELATAN TERHADAP KOREA


UTARA SEBELUM PEMERINTAHAN ROH MOO-HYUN
A. Sejarah Konflik Semenanjung Korea ...............................

21

1. Kronologi Pendudukan Jepang di Korea ...................

21

2. Akhir Perang Dunia ke-2 dan Pembagian Dua Korea


....................................................................................

24

3. Perang Korea (1950-1953) .........................................

26

B. Kebijakan Korea Selatan terhadap Korea Utara sebelum


Pemerintahan Roh Moo-hyun
1. Kebijakan Korea Selatan terhadap Korea Utara di Bawah
Pemerintahan Militer (1948-1992) ............................

29

2. Kebijakan Korea Selatan terhadap Korea Utara di Bawah


Pemerintahan Sipil (1992-2002) ...............................

37

BAB III THE POLICY OF PEACE AND PROSPERITY


A. Prinsip dan Tujuan ..........................................................

43

B. Instrumen dalam the Policy of Peace and Prosperity ......

48

1. Diplomasi ..................................................................

48

2. Pemberian Bantuan ...................................................

58

C. Six-Party Talks .................................................................

59

1. Agreed Framework dan Nuklir Korea Utara .............

60

2. Pembentukan dan Tujuan Six Party Taks .................

63

3. Pelaksanaan Six Party Talks Periode 2003-2007 ......

65

4. Second Korean Summit ............................................

67

BAB IV PENERAPAN THE POLICY OF PEACE AND PROSPERITY


A. Penerapan the Policy of Peace and Prosperity di Masa
Pemerintahan Roh Moo-hyun ..........................................

68

B. Instrumen dalam the Policy of Peace and Prosperity .......

70

xi

BAB V

KESIMPULAN
Kesimpulan ......................................................................

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xii

82

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1

Peta Korea .................................................................... 22

Gambar III.2

Bagan Tujuan dari Particopatery Government ............. 46

Gambar III.3

Peta Kaesong ............................................................. 50

xii

DAFTAR TABEL

Tabel. II. A. 1

Tabel. III.B.1

Tabel. III.B.2

Tabel. III.B.3

Tabel. III.B.4

Tabel. III.B.5

Implementation Strategy by Stages


for Establishment of a Peace Regime
on the Korean Peninsula ..........................................

45

Key Statistics
for the Kaesong Industrial Complex .......................

51

Production by Category
in the Kaesong Industrial Complex .........................

52

Number of South Korean Tourist


Visiting Mount Kumgang ........................................

54

Number of Families
Involves in Face to Face Family Reunions
and Video Conference (1985, 2000-2007) ..............

56

South Koreas Humanitarian Aid


to North Korea (in US$ million) .............................

58

xiii

DAFTAR SINGKATAN

APPC

Asia-Pacific Peace Committee

DK

Dewan Keamanan

DPRK

Democratic People Republik Korea

IAEA

International Atonomic Energy Agency

KIC

Kaesong Indusrial Complex

NPT

Nuclear Non-Poliferation Treaty

PBB

Perserikatan Bangsa-Bangsa

ROK

Republic of Korea

USAMGIK

United States Army Military Government in Korea

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I

Wawancara Dengan Seung-chan Boo ..............................

xvi

Lampiran II

Agreed Framework of 21 October 1994 .........................

xxiii

Lampiran III

Six Party Talks ................................................................

xxvii

xv

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semenanjung Korea merupakan dataran yang membentang sepanjang 1.100
kilometer dari arah utara ke selatan. Pada tahun 1910, Korea dijajah oleh Jepang dan
merdeka pada akhir Perang Dunia kedua, yakni tahun 1945. (Pelayanan Kebudayaan,
2008: 14). Sekalipun akhir Perang Dunia kedua membawa pembebasan secara
nasional bagi penjajahan Jepang, namun hal tersebut tidak serta membawa jaminan
atas otonomi dan kemerdekaan penuh di Korea. Adanya kekuasaan politik antara
Amerika Serikat dan Uni Soviet menyebabkan terjadinya pembagian dua Korea
sepanjang garis 38 derajat lintang utara yang memperdalam konfrontasi ideologi
maupun militer antara Korea Utara dan Korea Selatan. Adanya intervensi serta
pembagian nasional turut mengarahkan dua Korea kepada dua jalur perkembangan
yang berbeda, baik dalam hal perkembangan politik, ekonomi, sosial-budaya,
maupun militer. Korea Selatan menerapkan prinsip demokrasi ala barat (westernstyle democracy) dan kapitalisme. Sementara, Korea Utara melakukan proses
Sovietisasi (a process of Sovietization) dimana kediktatoran proletariat dan
sosialisme

menjadi

prinsip

yang

diterapkan

pada

tata

perpolitikan

dan

perekonomiannya. (Soong dan Moon, 2001: 9).


Dalam skripsi ini, penulis menempatkan kebijakan Korea Selatan terhadap
Korea Utara di bawah pemerintahan Roh Moo-hyun (2003-2008) sebagai tema serta
pembahasan utama. Konsep kebijakan tersebut lebih dikenal dengan nama the Policy
of Peace and Prosperity.

The Policy of Peace and Prosperity merupakan kebijakan resmi Korea


Selatan terhadap Korea Utara yang secara resmi dideklarasikan oleh Presiden Roh
Moo-hyun (2003-2008). Pada pidato perdananya (25 Februari 2003), Roh Moo-hyun
mendeklarasikan bahwa ia melanjutkan Sunshine Policy terhadap Korea Utara yang
diterapkan oleh pemerintahan sebelumnya, yakni pemerintahan Presiden Kim Daejung. (Kim, 2006: 37). Pemerintah Roh melanjutkan kebijakan tersebut dengan
modifikasi dan penamaan baru melalui konsep Kebijakan Perdamaian dan
Kesejahteraan (Policy of Peace and Prosperity). (Do-Hyeong, 2004: 97).

Sunshine Policy () atau Kebijakan Sinar Matahari merupakan bentuk


kebijakan pemerintah Korea Selatan dalam upaya memperbaiki hubungannya dengan
Korea Utara yang digagas oleh Presiden Kim Dae-jung (1998-2003). Kebijakan ini
didasarkan pada tiga prinsip utama berdasarkan pidato pelantikan Kim Dae-jung
pada tahun 1998 (dikutip dari Moon, 2012: 21). Pertama, prinsip non-toleransi
terhadap segala bentuk ancaman militer maupun provokasi bersenjata oleh Korea
Utara. Kedua, prinsip unifikasi dua Korea tanpa menggunakan ancaman ataupun
kekerasan. Ketiga, prinsip mendorong peningkatan pertukaran serta kerjasama antara
Korea Selatan-Korea Utara melalui pemberlakukan kembali perjanjian rekonsiliasi
tahun 1991. (Moon, 2012: 21). Perjanjian rekonsiliasi atau Treaty of Reconciliation
and Nonaggression, merupakan perjanjian yang ditandatangani oleh Korea Selatan
dan Korea Utara pada tanggal 13 Desember 1991. Pada perjanjian itu, Seoul dan
Pyongyang sepakat untuk menghentikan hubungan permusuhan dan bekerja sama
dalam bidang keamanan. (Moon, 2000: 6).

Istilah Sunshine Policy (dalam Haggars dan Noland, 2008: 111) diambil dari
dongeng Korea mengenai angin dan matahari. Dalam dongeng diceritakan tentang
matahari dan angin yang bersaing untuk melihat siapa yang mampu membuat
seorang pejalan kaki melepaskan jas yang sedang dikenakannya. Ketika angin gagal
melakukannya

walaupun

sudah

berhembus

keras,

matahari

menggunakan

kehangatannya untuk membuat pejalan kaki itu melepaskan jasnya. Kim Dae-jung
berpendapat bahwa sinar matahari akan lebih dapat memberikan dampak efektif
dibandingkan dengan kekuatan angin dalam mempengaruhi Korea Utara untuk tidak
lagi mengisolasi diri dan tidak lagi bersikap konfrontatif.

Presiden Kim membentuk Sunshine Policy dengan tujuan utamanya yaitu


membangun perdamaian bersama untuk mengendurkan tensi politik maupun militer
dalam hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara. (Kyung-suk, 2002: 3-4).
Untuk mengaplikasikan kebijakannya tersebut, pemerintah Kim menggunakan
instrumen kebijakan antara lain adalah dengan melakukan pemisahan politik dari
ekonomi (separation of politics from economics) yang

berarti mendorong

pertukaran dan kerjasama di bidang ekonomi tanpa menghubungkannya dengan


masalah atau situasi politik maupun

militer

yang

terjadi. Serta mengijinkan

perusahaan-perusahaan perorangan atau swasta untuk menanamkan modal di Korea


utara dalam sektor-sektor industri. Selain itu, instrumen lain yang digunakan adalah
memberikan subsidi gandum, penyediaan reaktor air ringan, pertemuan kembali
keluarga yang terpisah, serta pertukaran sosial-budaya. Namun seiring berjalannya
waktu, pendekatan dan pemulihan kembali hubungan diplomatik antara Korea utara
dengan negara-negara Barat menjadi salah satu prioritas utama. Karena hal tersebut

akan membantu Korea Utara keluar dari isolasi negara-negara Barat. (Yoo, 2004:
110).

Menurut data yang dikutip dari artikel Chae Kyung-suk berjudulThe Future of
the Sunshine Policy: Strategic for Survival. (2002: 7-8), salah satu bentuk
implementasi dari instrumen-instrumen kebijakannya tersebut adalah seperti pada
tahun 1998, Korea Selatan memberikan total 11 juta dolar jagung (30.000 ton) dan
tepung (10.000 ton) dalam bantuan ke Utara yang disalurkan melalui Program
Pangan Dunia (World Food Programme/WFP). Selain itu, Sejak 1999, Korea
Selatan juga membantu menyelesaikan akar penyebab permasalahan ketersedian
pangan di Korea Utara dengan mengirimkan pupuk. Kemudian pada tahun 1999,
Korea Selatan menghabiskan 46.2 juta won untuk mengirim 155 ribu ton pupuk
kepada Korea Utara. Penyediaan pupuk ini dilakukan kembali pada tahun 2001,
ketika Korea Selatan menyediakan 200.00 ton pupuk untuk Korea Utara. Selain itu,
Korea Selatan juga memberikan 500 dollar obat-obatan melalui Organisasi
Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) untuk program pemberantasan
penyakit di Korea Utara. Selain itu juga, pada Mei 2001, Korea Selatan mengirim
obat-obatan, peralatan pengendali hama, vaksin imunisasi dan produk perawatan
medis lainnya kepada Korea Utara.

Atas bantuan-bantuan yang telah diberikan tersebut, Korea Selatan menerapkan


karakteristik kebijakan yang bersifat timbal balik serta fleksibel terhadap Utara
Korea (apolicy of flexible reciprocity towards North Korea). Timbal balik berarti
bahwa kebijakan Korea Selatan yang salah satunya adalah memberikan bantuan
kepada Korea Utara hanya perlu dibalas dengan menjaga dan memperbaiki

hubungan antar-Korea dan tidak dengan diberi balasan atau ganti yang setara (dalam
arti bentuk dan jumlah bantuan yang telah diberikan). (Govindasamy, 2012: 5).

Hasil penerapan Sunshine Policy yang dilakukan oleh pemerintah Kim Daejung membawa kemajuan bagi hubungan dua Korea. Pencapaian-pencapaian penting
yang berhasil direalisasikan antara lain adalah pada 1998, Kim Dae-jung berhasil
melancarkan proyek bersama antar Korea yakni proyek pariwisata dan turisme
Gunung Kumgang dan proyek komplek industri Kaesong di Korea Utara. Selain itu
juga, pada Juni 2000, ia berhasil melaksanakan Konferensi Tingkat Tinggi Korea
(Korean Summit) yang dilakukan oleh presiden Kim Dae-jung dan pemimpin Korea
Utara, Kim Jong-il. (Moon, 2000: 4).
Penerapan Sunshine Policy dibawah pemerintahan Kim Dae-jung dilanjutkan
oleh

pemerintahan

selanjutnya,

yakni

Roh

Moo-hyun.

Pemerintahan

Rohmemodifikasi namanya menjadi the Policy of Peace and Prosperity. Kebijakan


pemerintah Roh Moo-hyun tersebut, oleh para ahli/cendikiawan dalam tulisan baik
berupa buku, jurnal, maupun artikel secara garis besar dikategorikan sebagai
Sunshine Policy (karena melanjutkan kebijakan pemerintah terdahulu: Kim Daejung). Sebagai contoh: (1) dalam buku yang ditulis oleh profesor ilmu politik di
Yonsei University,South Korea,berjudul The Sunshine Policy: In Defense of
Engagement as a Path to Peace in Korea yang diterbitkan oleh Yonsei University
Press pada tahun 2012, ia menuliskan pada halaman kata pengantarnya (preface)
halaman ix bahwa The Sunshine Policy, the theme of this book, was introduced by
the late president Kim Dae-jung with the vision of attaining a lasting peace on the
Korean Peninsula ... This Policy was continued, both in spirit and letter, by his
successor, President Roh Moo-hyun, under the rubric of the Peace and Prosperity

Policy.; (2) Kang In-duk, Menteri Unifikasi Korea Selatan periode 2001-2002,
menulis dalam artikel yang berjudul Toward Peace and Prosperity: The New
Governments North Korea Policy yang diterbitkan dalam jurnal East Asian
Review, Vol. 15, No. 1, Spring 2003 menuliskan bahwa In his inaugural address,
Roh outlined his new Peace andProsperity Policy which will maintain the general
framework of theSunshine Policy while aiming at a more widespread
nationalconsensus

and

bipartisan

cooperation,

two

areas

that

the

previousadministration neglected. (halaman 3-4); (3) Hong Nack Kim menulis


artikel dalam International Journal of Korean Studies Vol. XII, No. 1Fall/Winter
2008 halaman 3 berjudul The Lee Myung-Bak Governments North Korea PolicyAnd
the Prospects for Inter-Korean Relationsbahwa For ten years, from February 1998
to February 2008, under the two left-leaning governments, South Korea pursued the
so-called "Sunshine Policy" of engagement toward North Korea. This policy was
initially advocated by former President Kim Dae-Jung from 1998 to 2003 and
retained by his successor, Roh Moo-Hyun, as the policy of "Peace and Prosperity"
from 2003 to February 2008.
Akan tetapi, Sunshine Policy yang dijalankan oleh pemerintahan Roh Moohyun memiliki beberapa modifikasi atau penambahan prinsip/konsep kebijakan,
sehingga lebih spesifik dikenal dengan istilah The Policy of Peace and Prosperity.
Perbedaan tersebut antara lain adalah, Kim Dae-jung dalam melaksanakan
kebijakannya melakukan pemisahan antara ekonomi dan Politik. Tetapi Roh Moohyun mencoba meletakkan kebijakan antar Korea, kebijakan regional, serta aliansi
Korea Selatan-Amerika Serikat ke dalam satu rumusan kebijakan. (Kim, 2005: 14).
Oleh karena itu, dalam tulisan ini, penulis menggunakan istilah the Policy of Peace

and Prosperity yang juga merupakan istilah umumuntuk merujuk secara spesifik
pada kebijakan Korea Selatan terhadap Korea Utara di bawah pemerintahan Roh
Moo-hyun.
Pemerintah Roh dalam menjalankan kebijakannya berada pada kondisi
internasional yang berbeda dari pemerintah sebelumnnya.Roh Moo-hyun mewarisi
peluang sekaligus tantangan dari penerapan kebijakan tersebut.Ia memiliki
keuntungan karena sudah ada bentuk dasar atau bentuk nyata, hasil dari warisan
pemerintah sebelumnya atas Sunshine Policy. Misalnya, proyek pariwisata Mt.
Kumgang yang mulai dijalankan sejak tahun 1998 dan Korean Summit bersejarah
yang terjadi pada tahun 2000. Terkait hal tersebut, pemerintah Roh mendapat
keuntungan, yakni dapat melanjutkan dan mengembangkan program yang sudah
dicapai oleh pemerintahan sebelumnya demi melancarkan tujuan kebijakannya
terhadap Korea Utara. (Do-Hyeong, 2004: 97).
Namun disamping itu, pemerintah Roh Moo-hyun juga menghadapi
tantangan dalam menjalankan kebijakannya tersebut. Salah satu tantangan yang
dihadapi oleh Sunshine Policydatang dari Amerika Serikat. Selama masa
pemerintahan Kim Dae-jung, Presiden Amerika Serikat yang pada saat itu adalah
Bill Clinton (1993-2001), turut berperan aktif dalam mendukung kebijakan
pemerintah Korea Selatan terhadap Korea Utara. Bill Clinton turut terlibat dengan
Korea Utara serta membuat terobosan dalam hubungan Amerika Serikat-Korea
Utara, salah satunya adalah dengan dilakukanya kunjungan Madeleine Albright
(menteri luar negeri Amerika Serikat pada masa Bill Clinton) ke Pyongyang pada
Oktober 2000. Sementara itu, berbeda dengan masa pemerintahan Bill Clinton, pada
masa pemerintahan George W. Bush yang secara resmi diawali pada tahun 2001

menerapkan kebijakan keras (hardline policy) terhadap Korea Utara yang dikenal
dengan istilah informal Anything but Clinton (ABC). (Moon, 2012: 79). Hal
tersebut menunjukkan adanya perubahan sikap dari Amerika Serikat yang pada masa
Bill Clinton sebelumnya mendukung kebijakan Korea Selatan terhadap Korea Utara
dengan soft diplomacy yang dilakukannya, berubah dengan hardline policy yang
diterapkan oleh Presiden George W. Bush.
Salah satu hardline policy yang dilakukan oleh presiden Bush adalah ketika
ia menyebut Korea Utara sebagai salah satu poros setan (exis of evil) tahun 2002
pasca peristiwa 9/11. Lim Dong-woon, salah satu perancang utama Sunshine Policy
(dikutip dari Moon, 2012: 79) secara terbuka menyalahkan presiden Bush dan
pemikiran neo-konservatifnya atas perubahan yang terjadi di Korea. Ia juga
menyatakan bahwa sebutan poros setan yang disebutkan oleh presiden Bush
terhadap Korea Utara serta sikap presiden Bush yang menunjukkan keinginannya
untuk menghancurkan rezim Korea Utara melalui serangan pre-emptive membuat
kejutan bagi masyarakat Korea Selatan.
Disamping itu, tantangan lain yang juga dihadapi oleh pemerintah Roh Moohyun adalah sikap dari Korea Utara yang pada bulan Januari 2003 menarik diri dari
Non-Proliferation Treaty (NPT) dan membuang peralatan pemantauan milik
International Atomic Energy Agency (IAEA) di reaktor nuklir di Yongbon. Setelah
itu, Korea Utara kembali menghidupkan reaktor nuklirnya tersebut. (Kim, 2005: 13).
Hal tersebut menunjukkan bahwa Korea Utara kembali bersikap agresif kepada
dunia internasional dengan mengoperasikan reaktor nuklirnya. Hal tersebut menjadi
tantangan tersendiri bagi pemerintah Roh Moo-hyun, yang pada saat itu baru

memulai masa jabatannya, dalam mengaplikasikan kebijakannya yang melanjutkan


prinsip-prinsip dari kebijkan terdahulu.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam penulisan skripsi ini penulis
mengambil judul Penerapan The Policy of Peace and Prosperity Korea Selatan
Terhadap Korea Utara di Bawah Pemerintahan Roh Moo-hyun

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, maka pertanyaan penlitian yang diajukan


oleh peneliti adalah :

Bagaimana Penerapan the Policy of Peace and Prosperity sebagai kebijakan


luar negeri Korea Selatan terhadap Korea Utara selama pemerintahan Roh
Moo-hyun?

C. Kerangka Teori

C.1

Kebijakan Luar Negeri

Setiap negara memiliki kepentingan serta tujuan nasional yang ingin dicapai
dengan melakukan interaksi dengan negara ataupun aktor lain dalam politik
internasional. Rumusan kepentingan nasional serta tujuan bersama suatu negara
diformulasikan ke dalam kebijakan luar negeri.Setiap negara dan setiap periode
pemerintahan negara memiliki rumusan kebijakan luar negeri yang berbeda,
tergantung pada situasi ataupun kondisi domestik maupun internasional yang sedang
terjadi.

Kebijakan Luar negeri menurut Rosenau (1974) merupakan tindakan otoritatif


yang diambil oleh pemerintah baik untuk menjaga aspek yang diinginkannya dari
lingkungan internasional, maupun mengubah aspek yang tidak diinginkan.
Kebijakan luar negeri dibuat bedasarkan kalkulasi dan orientasi atas tujuan yang
akan dicapai. Bentuk kebijakan luar negeri dapat berupa hubungan diplomatik,
mengeluarkan doktrin, membuat aliansi, mencanangkan tujuan jangka panjang
maupun jangka pendek. (Hara, 2011: 13).

Selain itu, kebijakan luar negeri dapat dikatakan sebagai strategi atau rencana
tindakan yang dibuat oleh para pembuat keputusan negara dalam menghadapi negara
lain atau unit politik internasional lainnya, dan dikendalikan untuk mencapai tujuan
nasional spesifik yang dituangkan dalam terminologi kepentingan nasional. Untuk
memenuhi kepentingan nasionalnya itu, Negara-negara maupun aktor dari Negara
tersebut melakukan berbagai macam kerjasama diantaranya adalah kerjasama
bilateral, trilateral, regional, dan multilateral. (Perwita dan Yani, 2005: 49)

Dengan kata lain. Kebijakan luar negeri merupakan strategi atau rencana
tindakan yang dibuat oleh para pembuat keputusan Negara dalam menghadapi
Negara lain atau aktor politik internasional lainnya, dan dikendalikan untuk
mencapai tujuan nasional spesifik yang dituangkan dalam terminologi kepentingan
nasional.

Dalam proses kebijakan luar negeri suatu Negara, ada dua tahap utama yang
dilaluinya,

yakni:

proses

pembuatan

kebijakan

dan

proses

implementasi

(pelaksanaan) dari kebijakan tersebut. Dalam pandangan sederhana, pembuatan


kebijakan luar negeri merupakan urusan ekslusif pemerintah.Sehingga, kebijakan

10

luar negeri merupakan pencapaian kepentingan nasional suatu Negara yang


prosesnya dirumuskan, diawasi, dan dikontrol oleh pemerintah.Setelah membuat
keputusan kunci, mereka kemudian menyerahkannya kepada Departemen Luar
Negeri untuk diimplementasikan.(Baylisdan Smith, 2005: 396).

Kebijakan luar negeri menurut Aleksius Jemadu (2008: 61) merupakan


instrumen kebijakan yang dimiliki oleh pemerintah suatu negara berdaulat untuk
menjalin hubungan dengan aktor-aktor lain dalam politik dunia demi mencapai
tujuan nasionalnya.

Sementara itu, menurut Howard Lentner (dalam Jemadu, 2008: 65) kebijakan
luar negeri harus mencakup tiga elemen dasar dari setiap kebijakan, yaitu:penentuan
tujuan yang hendak dicapai (selection of objectives), pengerahan sumberdaya atau
instrumen untuk mencapai tujuan tersebut (mobilization of means) dan pelaksaan
(implementation) dari kebijakan yang terdiri dari rangkaian tindakan dengan secara
aktual menggunakan sumberdaya yang sudah ditetapkan.

C.2

Diplomasi

Menurut buku John Baylis dan Steve Smith (2005: 396-397)., diplomasi dalam
hubungan internasional merupakan salah satu dari serangkaian instrumen (one of a
set of instruments) yang mengimplemantasikan dan merealisasikan keputusankeputusan yang telah diambil pemerintah (melalui Departemen Luar Negeri).
Diplomasi sebagai kegiatan pemerintah tidak hanya merujuk pada instrumen
kebijakan tertentu, tapi juga untuk seluruh proses permbuatan kebijakan dan
pelaksanaanya.

11

Disamping itu, diplomasi juga merupakan istilah yang dapat memiliki makna
berbeda, tergantung pada pengguna dan penggunaanya.Diplomasi dapat dibagi
menjadi dua perspektif dalam konteks politik dunia (world politic), yakni perspektif
makro, dan perspektif mikro.(Baylisdan Smith, 2005: 398).
Dalam perspektif makro politik dunia, diplomasi mengacu pada proses
komunikasi yang merupakan pusat kerja dari sistem global. Jika politik dunia
ditandai hanya dengan ketegangan antara konflik dan kerjasama, diplomasi bersama
dengan perang (diplomacy together with war), dapat dikatakan mewakili lembaga
yang menentukan. Jika konfik dan kerjasama ditempatkan pada dua ujung sebuah
spektrum, diplomasi dapat diletakan pada kerjasama dan mewakili bentuk interaksi
yang fokus pada resolusi konflik dengan melalui dialog dan negosiasi. Diplomasi
secara fundamental berkaitan dengan upaya untuk menciptakan stabilitas dan
ketertiban dalam sistem global, keberadaanya diperkuat untuk mencegah konflik
agar tidak berujung dengan perang.

Semantara, dalam perspektif mikro erat kaitannya dengan aktor internasional


seperti negara.Pemahaman tentang diplomasi memberikan wawasan ke dalam
mengungkapkan perilaku para aktor itu sendiri dalam sistem global. Dari perspektif
ini, diplomasi dapat diidentifikasi sebagai instrumen kebijakan daripada sebuah
proses global. Semua aktor memiliki tujuan akhir sesuai dengan bagaimana perilaku
kebijakan luar negeri mereka diarahkan. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut,
aktor membutuhkan sarana atau lebih sering disebut dengan istilah instrumen.
Diplomasi menyediakan salah satu instrumen yang digunakan oleh aktor
internasional untuk mengimplementasikan kebijakan luar negerinya. Diplomasi

12

dapat digunakan secara langsung (diplomasi murni/pure diplomacy) dengan pihak


lain atau sebagai sarana berkomunikasi atau menggunakan acaman dari instrumen
lain (diplomasi campuran/mixed diplomacy). (Baylisdan Smith, 2005: 388-389).

Persuasi atau diplomasi murni (pure diplomacy) dapat dikatakan cukup untuk
memperoleh kebijakan suatu negara di luar negeri. Namun, diplomasi juga terhubung
dengan instrumen kebijakan lainnya untuk menghasilkan apa yang disebut dengan
diplomasi campuran (mixed diplomacy). Dari sini, diplomasi menjadi jalur
komunikasi apakah ancaman atau instrumen lainnya yang akan diterapkan kepada
pihak lain. Sikap persuasif dalam diplomasi lebih sering berhasil jika negara
menerapkan konsep sticksand/or carrots. (Baylis& Smith, 2005: 398).

Diplomasi dalam konteks kebijakan luar negeri mengacu pada penggunaan


diplomasi sebagai instrumen kebijakan yang memiliki peluang lebih besar karena
memiliki hubungan dengan instrumen lain, seperti kekuatan ekonomi atau militer
untuk memungkinkan aktor internasional dapat mencapai tujuan kebijakannya.
Semua aktor memiliki tujuan, dan ke arah mana perilaku kebijakan luar negeri
mereka tergantung pada tujuanya masing-masing. (Baylis& Smith, 2005: 398-399).

Terdapat tiga jenis instrumen kebijakan yang dapat digunakan dalam


berbagai cara, baik sebagai manfaat potensial atau sebagai hukuman dalam upaya
perilaku pihak lain, seperti yang dikutip dalam Baylis& Smith(2005: 398), yakni :
1. Angkatan militer sebagai instrumen kebijakan dapat digunakan sebagai
ancaman atau dikerahkan sebagai otot dalam negosiasi. Diplomasi dan
kekuatan militer, sering digunakan secara bersamaan dan dianggap

13

sebagai instrumen kebijakan luar negeri secara tradisional. Hal tersebut


menyebabkan Negara-negara berkembang berupaya mencari instrumen
lain sebagai alternatif untuk memperkuat posisi mereka dalam negosiasi.
2. Instrumen

kedua

ekonomi.Diplomasi

adalah
menggunakan

penggunaan

langkah-langkah

instrumen-instrumen

ekonomi

bukanlah hal yang baru dalam hubungan internasional.Penggunaan


instrumen ekonomi dalam diplomasi baik berupa perdagangan maupun
bantuan luar negeri juga dapat digunakan sebagai stick maupun carrot
bagi negara lain yang dituju.
3. Instrumen ketiga adalah dengan menargetkan pemerintah secara
langsung, atau disebut juga dengan subversi. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (2008: 1346) subversi merupakan gerakan, usaha, atau
rencana menjatuhkan kekuasaan yang sah dengan menggunakan cara di
luar undang-undang. Berbeda dengan instrumen-instrumen sebelumnya,
karena instrumen ini difokuskan pada upaya mendukung kelompokkelompok tertentu dalam negara lain dengan tujuan merusak atau
menggulingkan pemerintahan negara tersebut. Instrumen subversi
mencakup berbagai teknik, termasuk propaganda, kegiatan intelejen, dan
membantu kelompok pemberontak.

C.3

Bantuan Luar Negeri

Bantuan luar negeri merupakan salah satu instrumen kebijakan yang sering
digunakan dalam hubungan luar negeri. Secara umum, bantuan luar negeri dapat

14

didefinisikan sebagai transfer sumber daya dari satu pemerintahan ke pemerintah lain
yang dapat berbentuk barang atau dana. (Perwitadan Yani, 2005: 81).
Parson dan Payasilian (dalamPerwitadan Yani, 2005: 81- 82)mengajukan
empat teori mengenai batuan luar negeri, yaitu :
1. Aliran realis menyatakan bahwa tujuan utama dari bantuan luar negeri adalah
bukan untuk menunjukkan idealisme abstrak aspirasi kemanusiaan tetapi
untuk proyeksi power secara nasional. Bantuan luar negeri merupakan
komponen penting bagi kebijakan keamanan internasional.
2. Teori ketergantungan (dependensia) menyatakan bahwa bantuan luar negeri
digunakan oleh negara kaya untuk mempengaruhi hubungan domestik dan
luar negeri negara penerima bantuan, merangkul elit politik lokal di negara
penerima bantuan untuk tujuan komersil dan keamanan nasional. Kemudian,
melalui jaringan internasional, keuangan internasional dan struktur produksi,
bantuan luar negeri ditujukan untuk mengeksploitasi sumber daya alam
negara penerima bantuan. Sehingga para penganut teori dependensia
menganggap bawa bantuan luar negeri dapat digunakan sebagai sebuah
instrumen untuk perlindungan dan ekspansi negara kayak ke miskin, sebuah
sistem untuk mengekalkan ketergantungan.
3. Aliran moralis/idealis menyatakan bahwa bantuan luar negeri secara esensial
merupakan gerakan kemanusiaan yang menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan
internasional. Menurut aliran idealis, negara yang lebih kaya memiliki
tanggung jawab moral untuk mempererat kerjasama Utara-Selatan yang lebih
besar dan merespon kebutuhan pembangunan ekonomi dan sosial di Selatan.
Maka itu, moralis berpendapat bahwa bantuan luar negeri mendorong
15

dukungan yang saling menguntungkan (mutual supportive) dan hubungan


menguntungkan sejalan dengan pembangunan ekonomi dan hak asasi
manusia, hukum, dan ketertiban internasional.
4. Teori bureaucratic incrementalist menyatakan bahwa bantuan luar negeri
sebagai kebijakan publik, produk dari politik domestik yang melibatkan opini
publik, kelompok kepentingan, dan institusi pemerintah yang secara langsung
terlibat

dalam

proses

pembuatan

kebijakan

yang

mempromosikan

kepentingan nasional melalui agenda politik. Teori ini juga menyatakan


bahwa tujuan yang dikejar negara donor dalam lingkup kepentingan ekonomi
politik internasonal, antara lain adalah kombinasi tujuan kemanusiaan,
geopolitik, ideologi, kepentingan komersil, masalah lingkungan, dan berbagai
faktor dalam politik domestik.
Bantuan luar negeri umumnya tidak ditujukkan untuk kepentingan politik jangka
pendek melainkan untuk prinsip-prinsip kemanusiaan atau pembangunan ekonomi
jangka panjang.Dalam jangka panjang, bantuan luar negeri dimaksudkan untuk
membantu menjamin beberapa tujuan politik negara donor yang tidak dapat dicapai
hanya dengan melalui diplomasi, propaganda, atau kebijakan publik. (Perwitadan
Yani, 2005: 82).
Aliran modal dari luar negeri yang tergolong sebagai bantuan luar negeri dapat
berupa pemberian (grant) dan pinjaman luar negeri (loan) yang diberikan oleh
negara-negara donor atau badan-badan internasional yang khusus dibentuk untuk
memberikan pinjaman luar negeri, seperti Bank Dunia (World Bank), Bank
Pembangunan Asia (Asian Development Bank), Dana Moneter Internasional
(International Monetary Fund), dan Sebagainya. (Perwita dan Yani, 2005: 83).
16

Holsti (dikutip dari Perwita dan Yani, 2005: 81) membagi program bantuan luar
negeri ke dalam empat jenis, yaitu :
1. Bantuan militer
2. Bantuan teknik
3. Grant dan program komoditi impor
4. Pijaman pembangunan

D. Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan dalam skripsi ini menggunakan metode analisis


kualitatif yang bersifat deskriptif analitis.Penelitian kualitatif merupakan penelitian
yang menafsirkan suatu penelitian seperti asumsi/dugaan, nilai, dan pendapat dari
peneliti sehingga menjadi jelas dalam hasil akhir suatu penelitian. (Creswell,1994:
147).Sehingga, penulis melakukan analisa atas data-data kualitatif dengan
menggunakan

teori

serta

kerangka

pemikiran

agar

dapat

mengelaborasi

permasalahan tersebut secara lebih jelas.

Dalam proses pengumpulan data penelitian, menurut Creswell(1994: 148),


terdapat tiga langkah dalam mengumpulkan data penelitian. Pertama, adanya
pengaturan tentang pembatasan dalam pembahasan suatu masalah penelitian.Kedua,
mengumpulkan informasi dengan melakukan pengamatan, wawancara, pengumpulan
dokumen-dokumen dan bahan visual.Ketiga, membuat suatu protokol untuk
mencatat atau merekam setiap informasi.

17

Oleh karena itu, penulis memberikan batasan masalah pada kebijakan luar negeri
yang diterapkan oleh Korea Selatan terhadap Korea Utara dibawah pemerintahan
Roh Moo-hyun, tepatnya pada periode 2003-2008, yakni ketika presiden Roh Moohyun secara resmi dilantik menjadi presiden Korea Selatan (25 Februari 2003)
hingga akhir masa jabatannya (24 Februari 2008). Masalah utama yang dikaji adalah
kebijakan luar negeri Korea Selatan terhadap Korea Utara dalam kerangka dan
penerapan konsepthe Policy of Peace and Prosperity.Penelitian ini juga berupaya
menganalisa bagaimana kebijakan tersebut diterapakan terhadap Korea Utara.

Terkait teknik pengumpulan data, penulis menggunakan kajian literatur serta


studi pustaka terhadap data-data dengan menggunakan sumber baik berupa jurnal,
buku, artikel, hasil penelitian, serta dokumen-dokumen lainnya.Selain itu juga,
penulis menghimpun data kuantitatif yang sesuai dengan pembahasan dan dapat
mendukung argumen/penulisan skripsi ini.

Selain itu, dalam pengumpulan data, penulis juga melakukan internet research
atau penggunaan data-data yang diperoleh dari situs (website) internet.Namun
penulis hanya menggunakan data dari situs yang dianggap relevan dan otoritatif
sesuai dengan data yang dibutuhkan.Data yang diperoleh melalui internet research
ini bersifat sebagai data tambahan/pendukung.

18

E. Sistematika Penulisan

Bab 1

Pendahuluan

A.

Latar Belakang Masalah

B.

Pertanyaan Penelitian

C.

Kerangka Teori

D.

Metode Penelitian

E.

Sistematika Penulisan

Bab 2

Kebijakan Korea Selatan terhadap Korea Utara sebelum


Pemerintahan Roh Moo Hyun

A.

B.

Sejarah Konflik Semenanjung Korea


A.1.

Kronologi Pendudukan Jepang di Korea

A.2.

Akhir Perang Dunia ke-2 dan Pembagian dua Korea

A.3.

Perang Korea (1950-1953)

Kebijakan Korea Selatan terhadap Korea Utara sebelum pemerintahan


Roh Moo-hyun

B.1.

Kebijakan Korea Selatan terhadap Korea Utara di Bawah


Pemerintahan Militer (1948-1992)

B.2.

Kebijakan Korea Selatan terhadap Korea Utara di Bawah


Pemerintahan Sipil (1992-2002)

19

Bab 3

The Policy of Peace and Prosperity

A.

Prinsip dan Tujuan

B.

Instrumen dalam the Policy of Peace and Prosperity

B.1.

Diplomasi

B.2.

Pemberian Bantuan

C.

Six-Party Talks

Bab 4

Pencapaian Penerapan The Policy of Peace and Prosperity

A.

Pencapaian The Policy of Peace and Prosperity

B.

Instrumen dalam the Policy of Peace and Prosperity

Bab 5

Kesimpulan

Daftar Pustaka

20

Bab II
KEBIJAKAN KOREA SELATAN TERHADAP KOREA UTARA
SEBELUM PEMERINTAHAN ROH MOO-HYUN

A. Sejarah Konflik Semenanjung Korea

Dalam bab ini, penulis memaparkan mengenai letak geografis Korea, sejarah
Korea, dan pemerintahan Korea sejak masa kepemimpinan Syngman Rhee hingga
masa pemerintahan Kim Dae-jung. Penulis juga mengambil contoh kebijakankebijakan Korea Selatan terhadap Korea Utara pada masa pemerintahan pertama di
Korea Selatan, Rhe Syngman hingga masa pemerintahan Kim Dae-jung.

1. Kronologi Pendudukan Jepang di Korea

Korea terletak di ujung timur benua Asia, terdiri dari semenanjung Korea dan
3,305 pulau disekitarnya. Wilayah Korea secara keseluruhan meliputi luas 220.000
kilometer persegi, sementara luas Korea Selatan adalah 98.000 kilometer persegi,
sisanya adalah milik Korea Utara. Wilayah Korea pada bagian utara berbatasan
dengan Sungai Yalu dan Tumen. Sementara bagian timur dan barat dikelilingi oleh
perbatasan laut. (Hoom dan Moon, 2001: 11).

21

Gambar II.1. Peta Korea

Sumber: Oberdorfer, Don. 2001. The Two Koreas: A Contemporary History.


USA: Basic Books 2001, hal x

Menurut Soong Hoom Kil dan Chung-in Moon (2001: 11), karena letak
geografisnya, semenanjung Korea secara tradisional menjadi jembatan penghubung
antara benua Asia (Cina) di Utara dengan wilayah Jepang di Selatan. Selama abad
kesembilanbelas, Jepang dan kekuatan Barat melihat Korea sebagai batu loncatan
dimana mereka dapat meproyeksikan kekuatan dan pengaruhnya ke Manchuria.

22

Sementara itu, China dan Rusia menggunakan Korea sebagai batu loncatan untuk
memperluas wilayah kekuasaan mereka ke pasifik utara.

Karena letaknya yang strategis itulah, Jepang menduduki Korea pada tahun
1910 (Lew, 2000:23). Jepang secara efektif menduduki Korea melalui Perjanjian
Aneksasi Jepang-Korea. Selama penjajahan, sekalipun Jepang membangun jalan dan
jaringan komunikasi modern, namun kehidupan rakyat Korea kritis. Hal itu
dikarenakan sistem kerja paksa yang diberlakukan oleh Jepang. Selain itu juga,
ekspor tanaman Korea ke Jepang menyebabkan kekurangan pangan terjadi di Korea.
(news.bbc.co.uk diakses pada tanggal 25 Maret 2013). Jepang melakukan eksploitasi
ekonomi terhadap Korea dengan memanfaatkan makanan, ternak, dan logam dari
Korea untuk tujuan perang dan pertahanan Jepang. (Cahyo. 2012: 76).

Dari sisi kebudayaan, Jepang juga melakukan asimilasi kebudayaan di Korea.


Jepang pada tahun 1937 melarang penggunaan bahasa Korea, dan pengajaran sejarah
dan budaya Korea di sekolah. Jepang juga menerapkan larangan penggunaan nama
Korea. (news.bbc.co.uk diakses pada tanggal 25 Maret 2013).

Menurut Lew (2000: 23), terdapat tiga fase kepemimpinan Jepang di Korea.
Jepang memerintah Korea melalui Gubernur Jendral yang biasanya adalah seorang
militer Angkatan Darat atau Angkatan Laut dari Jepang. Selama tahap pertama
pendudukan Jepang (1910-1919), masyarakat Korea dikendalikan oleh sistem yang
merampas kebebasan dasar masyarakat sipil Korea. Adanya kontrol sosial yang ketat
akhirnya menghasilkan gerakan berupa demonstrasi nasional pada tanggal 1 Maret
1919 disebut sebagai Gerakan Pertama Maret (the March First Movement).

23

Demonstrasi tersebut memaksa Jepang untuk melonggarkan konstruksi peraturan


mereka konstriksi pada masyarakat Korea.
Pada fase kedua pemerintahan kolonial (1919-1932), Pemerintah Jenderal
memberikan kebebasan berekspresi dan berkumpul bagi masyarakat Korea. Pada
awal 1920-an, misalnya, tiga surat kabar Korea diterbitkan dalam bahasa asli Korea.
Selain itu, pada tahun 1927, terbentuk partai politik Korea yang terdiri dari partai
nasionalis sayap kanan dan sayap kiri, Sin'ganhoe (masyarakat Korea baru). (Lew,
2000: 23).
Fase ketiga dari pemerintahan Jepang (1932-1945) kembali memberlakukan
aturan keras ke masyarakat Korea, dengan cara mengeksploitasi tenaga serta sumber
daya yang dimiliki masyarakat Korea untuk mendukung upaya Jepang menyarang ke
Manchuria (1932), Cina daratan (setelah 1937), dan Pasifik (setelah tahun 1941).
Masyarakat Korea dipaksa untuk berhenti menggunakan bahasa mereka sendiri dan
diwajibkan mengadopsi nama Jepang serta beribadah di kuil Shinto. (Lew, 2000:
23).

2. Akhir Perang Dunia ke-2 dan Pembagian dua Korea

Memasuki akhir Perang Dunia II, negara-negara sekutu melakukan


pertemuan untuk membahas masalah Asia, termasuk permasalahan Korea di Kairo,
Mesir. Pertemuan ini menghasilkan Konferensi Kairo (Cairo Conference) pada
Desember 1943. Konferensi Kairo merupakan konferensi yang berlangsung dari
tanggal 23-26 November dan 3-7 Desember 1943. Dalam Deklarasi Kairo, yang
dikeluarkan pada 1 Desember 1943 oleh Presiden Amerika Serikat, Franklin Delano
Roosevelt, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dan Presiden Cina Chiang

24

Kai-shek, ketiga pemimpin Sekutu, untuk mengantisipasi kekalahan Jepang, berjanji


untuk memberikan kemerdekaan kepada orang-orang Korea pada waktunya.
Marsekal Stalin menunjukkan dukungannya terhadap deklarasi ini pada Juli 1945
ketika ia menandatangani Deklarasi Potsdam. (Lew, 2000: 24).

Menurut Fact File situs berita BBC (diakses pada 25 Juni 2012), dalam
konferensi ini juga, sekutu memutuskan untuk melucuti Jepang di semua daerah
yang telah diperoleh sejak awal Perang Dunia I (1914), Amerika Serikat, Cina, dan
Inggris telah sepakat di Kairo bahwa Korea akan diizinkan untuk menjadi bebas dan
merdeka pada waktunya setelah kemenangan Sekutu. Uni Soviet juga menyetujui
prinsip yang sama dalam deklarasi perang melawan Jepang.

Pada tanggal 8 Agustus 1945, selama hari-hari terakhir Perang Dunia II, Uni
Soviet menyatakan perang terhadap Jepang dengan meluncurkan invasi Manchuria
dan Korea. Pada saat itu, Jepang telah habis oleh perang berlarut-larut melawan
Amerika Serikat dan Sekutu. Peristiwa penjatuhan bom atom di Hiroshima dan
Nagasaki pada tanggal 6 dan juga 9 Agustus telah membuat pemerintah Jepang
berupaya mencari cara untuk mengakhiri perang. Hingga akhirnya pada tanggal 15
Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Sejak kemunduran
Jepang, Uni Soviet mendaratkan pasukannya di Korea dari arah utara. Hal tersebut
juga diikuti oleh Amerika Serikat yang mendaratkan pasukannya dari arah selatan
sebagai upaya untuk mencegah salah satu pihak menguasai seluruh Semenanjung
Korea. (Henneka. 2006: 21).

Ketika perang berakhir dengan menyerahnya Jepang pada 15 Agustus 1945,


rakyat Korea menerima berita pembebasan mereka dengan kegembiraan sekaligus

25

kecemasan. Rakyat Korea gembira bahwa mereka dibebaskan dari penindasan


Jepang tetapi cemas karena negara mereka harus dibagi sepanjang garis 38 derajat
Lintang Utara (38th parallel) menjadi dua zona pendudukan militer. Garis 38 derajat
Lintang Utara dipelopori oleh para pembuat kebijakan AS di Washington sepanjang
malam 10-11 Agustus yang diklaim sebagai cara terbaik untuk mencegah Uni Soviet
menempati seluruh semenanjung Korea. (Lew, 2000: 24).

Presiden Harry S. Truman menjamin dan membuat perjanjian dengan


Marsekal Joseph Stalin untuk menghormati garis 38 derajat Lintang Utara pada 16
Agustus tanpa harus berkonsultasi dengan Korea. Di bawah garis 38 derajat Lintang
Utara, Korea bagian selatan diduduki oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat pada
bulan September, satu bulan setelah militer Soviet mulai menempati bagian utara.
Pasukan pendudukan AS menyelenggarakan pemerintahan militer sementara di
Korea bagian selatan dengan nama Pemerintah Militer Amerika Serikat di Korea
(United States Army Military Government in Korea/USAMGIK) di Seoul dan
memerintah Korea Selatan selama tiga tahun dengan dukungan dari Partai Demokrat
Korea. (Lew, 2000: 24).

Hingga kemudian, pada 15 Agustus 1948, Korea Selatan yang didukung oleh
Amerika Serikat memerdekakan diri sebagai sebuah negara dengan nama resmi
Republic of Korea (ROK) dan diakui oleh PBB sebagai pemerintahan yang sah.
Sementara itu, Uni Soviet juga mendukung berdirinya pemerintahan di Pyongyang
dan menghasilkan kemerdekaan Korea Utara dengan nama resmi Democratic People
Republik Korea (DPRK) pada 9 September 1948. (Yukhoon, 2007: 83).

3. Perang Korea (1950-1953)

26

Pasca berdiri sebagai dua negara yang memiliki kedaulatannya masingmasing, hubungan Korea Selatan dengan Korea Utara diliputi konfrontasi dan
ketegangan militer yang merupakan upaya untuk menyatukan kembali kedua Korea.
Konfrontasi milite pasca kemerdekaan menemukan titik puncak ketika pecahnya
Perang Korea pada tanggal 25 Juni 1950. Ketika itu pasukan Korea Utara secara
tiba-tiba menyerang Korea Selatan pada pagi hari dan melintasi perbatasan garis 38
derajat Lintang Utara, yang merupakan garis batas antara wilayah Korea Utara
dengan Korea Selatan. Penyerangan tersebut didukung oleh rezim Kim Il Sung yang
juga mendapat dukungan dari Uni Soviet dan Cina. (Yukhoon, 2007: 84).
Penyerangan inilah yang disebut sebagai awal dari Perang Korea. Perang Korea
berlangsung dari 25 Juni 1950 hingga 27 Juli 1953. Perang ini disebut juga sebagai
proxy war (perang yang dimandatkan) antara Amerika Serikat dan sekutunya dari
Blok Barat dengan Republik Rakyat Cina (RRC) dan Uni Soviet dari Blok Timur.
(Cahyo, 2012: 175-176)
Beberapa jam pasca penyerangan, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat
mengecam invasi Korea Utara terhadap Korea Selatan melalui Resolusi Dewan
Keamanan (DK) PBB. PBB pun kemudian menerbitkan resolusi 83 yang
merekomendasikan negara anggota untuk memberikan bantuan militer ke Korea
Selatan pada 27 Juni 1950. Hal ini membuat wakil menteri luar negeri Uni Soviet
menilai Amerika memulai intervensi bersenjata atas nama Korea Selatan. (Cahyo,
2012: 177).
Korea Utara kemudian mengajukan perundingan gencatan senjata pada 10
Juli 1951 di Kaesong, wilayah Korea Utara bagian selatan. Negosiasi gencatan
senjata pun berlanjut dua tahun kemudian di Panmunjon (perbatasan kedua Korea).

27

Akhirnya, pada 27 Juli 1953, AS, RRC, dan Korea Utara menandatangani
persetujuan gencatan senjata. Presien Korea Selatan, Syngman Rhee menolak
menandatangani namun berjanji menghormati kesepakatan gencatan senjata tersebut.
Walaupun begitu, secara resmi, perang ini belum berakhir. (Cahyo, 2012: 177-178).

B. Kebijakan Korea Selatan terhadap Korea Utara sebelum Pemerintahan


Roh Moo-hyun

Pasca berdiri sebagai sebuah negara yang berdaulat, Korea Selatan telah
mengalami masa krisis dari segi tatanan konstitusional dan ketidakstabilan politik.
Sejak 1948 yang merupakan tahun kelahiran konstitusi Korea, sampai 1987, tidak
kurang dari enam republik didirikan di Korea. Selama jangka waktu tiga puluh
sembilan tahun, konstitusi direvisi sembilan kali, dan Korea dipimpin oleh presiden
dengan latar belakang militer selama periode 1961-1992. Baru kemudian pada tahun
1993, Korea dipimpin oleh pemerintahan demokratis di bawah pimpinan sipil, yakni
pada masa pemerintahan Kim Young Sam yang mulai menjabat secara resmi pada 23
Februari 1993. (Hoom dan Moon, 2001: 33).
Republik pertama di bawah Presiden Syngman Rhee, didirkan pada tahun 1948,
dan runtuh pada 19 April 1960 oleh revolusi Mahasiswa. Runtuhnya Syngman Rhee
melahirkan republik kedua di bawah Perdana Menteri Chang Myon. Republik kedua
(1960-1961) tidak berlangsung lama, namun, berakhir dengan kudeta militer oleh
Park Chung Hee pada tanggal 16 Mei 1961. Park Chung Hee kemudian muncul
sebagai pemimpin republik ketiga (1961-1973) dan republik keempat (1973-1979).
Kemudian republik kelima (1980-1988) dan keenam dipimpin oleh Chun Doo Hwan
dan Roh Tae Woo. (Hoom dan Moon, 2001: 34).

28

Baik di bawah kepemimpinan militer maupun sipil, kebijakan reunifikasi


Korea Selatan terhadap Korea Utara sejak berdirinya Republik Korea pada tahun
1948, mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk meredam potensi konflik terutama
dalam bidang militer dengan Korea Utara yang diharapkan dapat menyatukan
kembali Korea(reunifikasi) sebagai tujuan jangka panjang. Hanya saja, instrumen
yang digunakan oleh setiap pemerintahan Korea Selatan untuk mencapai tujuan itu
berbeda satu sama lain. Pilihan instrumen yang digunakan itu terkat dengan sifat
dasar masig-masing pemerintahan. (Yoon dan Masoed.2004: 31).

B.1.

Kebijakan Korea Selatan terhadap Korea

Utara di

Bawah

Pemerintahan Militer (1948-1992)

1. Masa pemerintahan Syngman Rhee/ (26 Maret 1875 - 19 Juli 1960)

Presiden pertama Korea Selatan yang juga merupakan salah satu tokoh
perintis kemerdekaan Korea Selatan ialah Syngman Rhee (1948-1960). Dalam
kepemimpinannya di awal kemerdekaan, Syngman Rhee mengusung kebijakan
resmi pemerintahannya dengan nama march north for unification, yang secara jelas
menerapkan kebijakan unifikasi dengan kekuatan bersenjata dan menolak untuk
hidup berdampingan dengan damai besama Korea Utara. (Cha, 2011: 6).
Dalam usaha mewujudkan reunifikasi Korea, pemerintahan Presiden Rhee
Syngman mempertahakan sifat permusuhan yang tidak dapat didamaikan terhadap
Korea Utara dan berusaha mencapai reunifkasi melalui penaklukan terhadap
komunisme Korea Utara. Kebijakan reunifikasi Presiden Rhee Syngman itu terkait
dengan dua faktor, yaitu rasa antisipasi dan tidak percaya terhadap komunisme serta

29

klaim Korea Selatan untuk menjadi satu-satunya pemerintahan yang sah di


Semenanjung Korea. Klaim ini didasarkan pada Resolusi Dewan Umum PBB, No.
195 (III) tahun 1948 dan tetap dipertahankan oleh pemerintahan-pemerintahan Korea
Selatan selanjutnya. Resolusi ini menyatakan bahwa pemerintahan Republik Korea
adalah pemerintahan Semenanjung yang sah karena dibentuk melalui pemilu yang
sah dan wilayah Republik Korea didiami oleh sebagian besar rakyat Korea. (Yoon
dan Masoed,2004: 31-32).
Instrumen utama yang digunakan oleh Presiden Rhee untuk mencapai tujuan
politiknya adalah diplomasi, terutama dengan negara sekutu. Ia mengandalkan
kekuatan Amerika Serikat untuk mendapatkan dan mempertahankan kemerdekaan
Korea Selatan dan untuk menyatukan kembali dua Korea. Presiden Rhee adalah
seorang

internasionalis

yang

mengeluarkan

kebijakanya

didasarkan

pada

kepentingan internal Korea Selatan, karenanya, ia menggunakan kekuatan asing


(negara lain) untuk kepentingan bangsanya. (Han, 2001: 110).
Dalam pemerintahannya, Presiden Rhee mendesak komandan pasukan
Amerika Serikat bahwa Amerika Serikat yang menjaga keamanan di Korea Selatan
untuk memanfaatkan monopoli nuklirnya dalam memaksa Soviet untuk menarik diri
dari Semenanjung Korea. Ketika Amerika Serikat memasuki negosiasi gencatan
senjata (pasca perang Korea), Presiden Rhee dengan terbuka menentang penghentian
permusuhan. Rhee menuntut agar Eisenhower (Presiden Amerika Serikat saat itu)
untuk menarik pasukan Amerika Serikat dari Semenanjung jika gencatan senjata itu
akan ditandatangani, dan juga gertak bahwa Korea Selatan lebih memilih bertarung
sendirian melawan Korea Utara, Cina, dan Soviet daripada memilih gencatan
senjata. (Cha, 2011: 6).

30

Selain itu, Presiden Rhee melakukan tindakan destruktif yang sengaja


dirancang untuk menyalakan kembali permusuhan dengan Korea Utara. Salah satu
tindakan Prsiden Rhee yang provokatif terjadi pada bulan Juni 1953 ketika ia secara
sepihak mengumumkan adanya 25.000 tawanan perang Korea yang ditawan di
Selatan. Tindakan ini merupakan salah satu upaya yang disengaja untuk melemahkan
negosiasi gencatan senjata, yakni dengan cara melakukan repatriasi/pengembalian
tawanan perang ke negeri asalnya. Repatisi tersebut merupakan titik utama negosiasi.
(Cha, 2011: 6). Pada Akhirnya, Perjanjian Gencatan senjata antara Korea Utara dan
Korea Selatan terjadi. Namun presiden Rhee menolak untuk menandatangani
perjanjian, ia berjanji untuk menghormati perjanjian gencatan senjata tersebut.
Kontribusi Presiden Rhee terhadap sejarah politik Korea salah satunya adalah
kemampuanya melindungi negaranya dari ancaman komunis selama masa awal
kemerdekaan. Sementara itu, ideologi politik yang ia terapkan selama masa
pemerintahanya adalah ideologi anti-Jepang dananti-komunis. (Han, 2001: 109).
Pemerintahan Presiden Rhee berakhir pada April 1960, ketika ia digulingkan oleh
aksi pemberontakan mahasiswa.

2. Masa Perdana Menteri Chang Myon/ (1960-1961)

Pasca pemberontakan mahasiswa di Korea Selatan yang menggulingkan


Presiden Rhee Syngman, pemerintah peraihan Korea dipimpin oleh Ho Chong/
yang memegang kekuasaan Korea Selatan selama tiga bulan. Di bawah
pemerintahannya, Korea Selatan mulai bersedia untuk memperlunak sikapnya
mengenai reunifikasi Korea. Meskipun di sisi lain, Ho Chong tetap mempertahankan

31

dua kunci utama politik luar negerinya, yakni berusaha memperbaiki hubungan
Korea Selatan dengan Jepang dan negara-negara non-blok, dan bersedia melakukan
usaha-usaha untuk mengakhiri pemisahan Semenanjung Korea sesuai dengan
prinsip-prinsp resolusi PBB. (Yoon dan Masoed, 2004: 34).
Pemerintahan peralihan Ho Chong kemudian digantikan oleh kepemimpinan
Perdana Menteri Chang Myon yang melanjutkan kebjakan Ho Chong tersebut. Dua
hal yang jelas berbeda dari politik luar negeri yang dijalankan oleh Presiden Rhee
dan Perdana Menteri Chang Myon adalah bahwa Chang secara eksplisit menyatakan
Korea Selatan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mencapai reunifikasi
dan mengembangkan sikap fleksibel teradap negara-negara non-blok. (Yoon dan
Masoed, 2004: 34). Chang Myon hanya memimpin selama delapan bulan sebagai
Perdana Menteri sebelum akhirnya mundur akibat kudeta militer yang dilakukan
oleh Jendral Park Chung Hee pada bulan Mei 1961. (Han, 2001: 108).
3. Masa pemerintahan Park Chung-hee/ (1963-1979),

Setelah kudeta yang dilakukannya, Jendral Park Chung-hee muncul sebagai


Presiden. Presiden Park mengkonsentrasikan semua kekuatan sosial, politik, dan
ekonomi Korea Selatan di bawah komandonya. Sebagai mantan militer, Presiden
Park tertarik untuk menciptakan stabilitas, membangun perekonomian, dan
memperkuat pertahanan nasional. Ia tidak mengenal prinsip-prinsip demokrasi atau
cara hidup demokrasi. Menurutnya, cara demokrasi tidak hanya akan membawa
kemajuan ekonomi yang lamban tetapi juga pemisahan sosial dan memperlemah
pertahanan nasional. Baginya yang berlaku adalah demokrasi terbatas, membatasi
kebebasan sipil, kebebasan bicara dan pers. Ia sangat dekat dengan birokratisme dan

32

kepemimpinan militer ala Jepang pada periode Meiji, yang di bawah kepemimpinan
militer yang kuat mendorong modernisasi ekonomi dan pembangunan militer
melalui ideologi Yishin atau revitalisasi. (Nahm, 1993: 196).
Park Chung-hee membuat pemerintahannya bertumpu pada kekuatan yang
berasal dari militer, birokrat, dan teknokrat. Oleh karena itu rezim Korea Selatan di
bawah Park Chung-hee disebut Rezim Otoriter Birokratis.Presiden Park termasuk
salah seorang peletak dasar strong military-dominated government di Asia. Dalam
rangka memenuhi tuntutan untuk mengatasi kebutuhan ekonomi yang mendasar dan
mendesak, pemerintahan militer di bawah Park Chung-hee mengambil beberapa
langkah penting. Pertama, membuka hubungan diplomasi dengan Jepang untuk
mengundang arus perdagangan dan bantuan ekonomi dari negara tersebut. Kedua,
mengambil sikap mengalah terhadap tekanan-tekanan dari Amerika Serikat
(terutama untuk mendapatkan dukungan politik dan pengakuannya) serta menerima
saran dari kelompok teknokrat untuk menggalakkan usaha-usaha ekspor, terutama
ekspor hasil-hasil industri manufaktur. (Jakti, 1995: 114).
Sementara, terkait kebijakan reunifikasi dengan Korea Utara, Pemerintahan
Park Chung-hee mendasarkanya pada tiga hal, yaitu:
1. Anti komunisme sebagai tujuan nasional terpenting dan terus memperkuat
rasa anti komunisme tersebut,
2. Menghormati piagam PBB, melaksanakan perjajian-perjanjian inernasional,
dan memperkuat ikatan dengan Amerika Serikat dan negara-negara bebas
lainnya,

33

3. Menggunakan

seluruh

tenaga

untuk

membangun

kekuatan

yang

memungkinkan untuk melawan komunisme demi tercapainya unifikasi


nasional. (Yoon dan Masoed.2004: 35).
Ketiga hal tersebut merupakan kelanjutan dari kebijakan luar negeri
pemerintahan sebelumya. Hal yang membedakan kebijakan presiden Park dengan
kebijkan pemerintaan sebeumnya adalah, strategi reunifikasi yang digunakan oleh
Presiden Park menekankan pada pentingnya pelaksanaan pembangunan kekuatan
nasional sebagai langkah pendahulan atas hal-hal yang perlu dilakukan untuk
mencapai reunifikasi. (Yoon dan Masoed.2004: 35).
Selain itu, menurut Yoon dan Masoed (2004: 35), salah satu hal penting yang
tercakup dalam politik luar negeri Presiden Park adalah apa yang disebut sebagai
good will diplomacy yang diterapkan terhadap negara-negara non-blok dengan
tujuan

untuk

meningkatkan

pemahaman

negara-negara

tersebut

terhadap

permasalahan Semenanjung Korea.


Di samping kemajuan politik, Presiden Park juga memberikan perhatian pada
perkembangan perekonomian Korea Selatan. Laju perekonomian Korea Selatan
terus ditingkatkan melalui pembangunan ekonomi. Selain itu, peningkatan hubungan
dengan Amerika Serikat juga dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan bantuan
ekonomi dan militer. (Yoon dan Masoed.2004: 197). Pemerintahan Park mengejar
laju industrialisasi yang mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama
tahun 1960-an dan 1970-an, yang sering dijuluki sebagai Keajaiban Sungai
Hangang. Tapi di sisi lain, kekuasaannya itu sejalan dengan pembatasan yang ketat

34

terhadap hak-hak politik dan kebebasan sipil rakyat. (Pelayanan Kebudayaan, 2008:
27).
Menurut Ki-shik S.J Han (2001: 117), Pemerintahan Park Chung-hee yang
dijalankan selama delapan belas tahun adalah pemerintahan yang sukses dalam hal
pertahanan nasional, kesejahteraan ekonomi, dan perkembangan national pride.
Presiden Park tewas pada penembakan yang terjadi pada Oktober 1979.

4. Masa pemerintahan Chun Doo-hwan/ (1980-1988)

Setelah pembunuhan Presiden Park, Korea Selatan mengalami periode


transisi di bawah darurat perang. Perdana menteri, Choi Kyu-hah/ (1979-1980)
dilantik sebagai Presiden sementara dan mengundurkan diri pada 1980. (Pelayanan
Kebudayaan, 2008: 27).

Setelah mundurnya Choi Kyu-hah, Chun Doo-hwan/ (1980-1988),


Kepala Pertahanan Komando Korea Selatan mengambil alih kekuasaan. Menurut Kishik S.J. Han (2001: 126) terdapat kontribusi yang diberikan oleh pemerintah
Presiden Chun, antara lain adalah: pertama, kekacauan politik setelah pembunuhan
Presiden Park berhasil diredam dan stabilitas politik Korea Selatan kembali terjaga.
Kedua, perdagangan Korea Selatan pada saat itu berhasil mencatat surplus untuk
pertama kalinya dalam sejarah Korea, ia memegang periode pertumbuhan ekonomi
yang berkelanjutan dengan melengkapi dan mendorong kemajuan industri Korea
yang telah diawali sejak masa pemerintahan Presiden Park. Ketiga, Presiden Chun
mampu memperluas diplomasi Korea Selatan serta meningkatkan hubungan dengan
Negara lain. Salah satunya dapat dilihat dari keberhasilan Korea Selatan menjadi
35

tuan rumah Asian Games 1986 dan Olimpiade ke-24 pada tahun 1988. Presiden
Chun mundur setelah tujuh tahun masa jabatannya dan melakukan transisi kekuasaan
secara damai dan tanpa kudeta.

4. Masa pemerintahan Roh Tae-woo/ (1988-1993)

Kekuatan ekonomi Korea Selatan semakin berkembang pada tahun 1980-an,


dan hal tersebut muncul sebagai salah satu instrumen diplomatik dalam kebijakan
terhadap Korea Utara yang dikenal dengan istilah Nordpolitik dari pemerintahan
Presiden Roh Tae Woo. Kebijakan di masa pemerintahan Roh Tae Woo berfokus
pada pendekatan Korea Selatan dengan sekutu komunis Korea Utara agar mau
membuka hubungan dalam bidang ekonomi dan politik. Nordpolitik berhasil
membangun hubungan antara Korea Selatan dan negara-negara komunis di Eropa
Timur, termasuk Uni Soviet yang pada akhirnya mengakui Korea Selatan pada tahun
1990. Sementara itu untuk Korea Utara, Presiden Roh mengajukan visi antar-Korea
berupa kerjasama yang merupakan langkah menuju unifikasi menjadi Masyarakat
Nasional Korea (Korean National Community). (Armstrong, 2005: 6).
Usulan Utama Korea Selatan terhadap Korea Utara terkait unifikasi, yang
diusulkan Roh adalah adalah konfederasi/negara perserikatan dari dua sistem politik
yang ada di Semenanjung Korea, pertama kali dijelaskan pada tahun 1980. Korea
Utara telah menunjukan fleksibilitasnya dalam menjalankan usulan Presiden Roh
untuk konfederasi dan bersedia untuk melihat konfederasi bukan sebagai tujuan akhir
penyatuan (unifikasi) tetapi merupakan institusi transisi/peralihan dalam upaya
pemersatuan dua pemerintah daerah (Korea Utara dan Korea Selatan). (Armstrong,
2005: 7).

36

B.2.

Kebijakan Korea Selatan terhadap Korea

Utara di

Bawah

Pemerintahan Sipil (1992-2002)

1.Masa pemerintahan Kim Young-sam/ (1993-1998)


Setalah Uni Soviet dan blok Eropa Timur runtuh pada akhir tahun 80-an
sampai awal tahun 90-an, sikap Korea Utara jauh lebih keras daripada masa-masa
sebelumnya di mana Korea Utara masih mendapatkan bantuan dan dukungan besar
dari masyarakat sosialis internasional. Menyadari kedaan Korea Utara khususnya
keadaan perekonomian nasionalnya yang semakin memburuk, pemerintah Kim
Young Sam mencoba mendekati Korea Utara seperti halnya Jerman Barat terhadap
Jerman Timur. Namun usaha pemerintahan Kim Young Sam itu justru mengarahkan
Korea Utara menuju ke arah yang lebih keras lagi, memperkuat kekuatan militer
sambil mengembangkan kekuatan senjata modern. (Yoon dan Masoed, 2010: 167).

2. Masa pemerintahan Kim Dae-jung/ (1998-2003)

Pemerintah Kim Dae-jung diresmikan pada Februari 1998 ditandai dengan


peralihan kekuasaan politik secara damai yang terjadi pertama kali di Korea Selatan.
Pada

awal

kepemimpinannya,

pemerintahan

Kim

Dae-jung

meluncurkan

kebijakannya yang diberi nama Sunshine Policy, atau kebijakan untuk melakukan
kerjasama, mengendurkan ketegangan militer, melakukan pertukaran dan kerjasama,
serta membangun perdamaian dengan membangun kepercayaan bersama dengan
Korea Utara. (Moon, 2012: 1). Kebijakan pemerintah Kim Dae-jung terhadap Korea
Utara secara resmi bernama the Policy of Reconciliation and Co-operation, tapi

37

presiden Kim secara pribadi lebih suka menggunakan Sunshine Policy. (Moon, 2012:
17).

Kebijakan ini didasarkan pada tiga prinsip utama berdasarkan pidato pelantikan
Kim Dae-jung pada tahun 1998. Pertama, prinsip non-toleransi terhadap segala
bentuk ancaman militer maupun provokasi bersenjata oleh Korea Utara. Kedua,
prinsip unifikasi dua Korea tanpa menggunakan ancaman ataupun kekerasan. Ketiga,
prinsip mendorong peningkatan pertukaran serta kerjasama antara Korea SelatanKorea Utara melalui pemberlakukan kembali perjanjian rekonsiliasi tahun 1991.
(Moon,2012: 21). Perjanjian rekonsiliasi atau Treaty of Reconciliation and
Nonaggression, merupakan perjanjian yang ditandatangani oleh Korea Selatan dan
Korea Utara pada tanggal 13 Desember 1991. Pada perjanjian

itu, Seoul dan

Pyongyang sepakat untuk menghentikan hubungan permusuhan dan bekerja sama


dalam bidang keamanan. (Moon, 2000: 6).

Melalui kebijakannya, pemerintahan presiden Kim Dae-jung menekankan


pentingnya keadaan kebersamaan, perdamaian, dan peningkatan kerjasama dengan
Korea Utara daripada masa pemerintahan sebelumnya. Melalui kebijakannya,
pemerintah Kim Dae Jung memilih kebijakan penyatuan Korea secara de facto
melalui lebih banyak kontak dan kerjasama antara Utara dan Selatan daripada
penyatuan sistem dan hukum (de jure). (Yoon dan Masoed, 2004: 41).
Menurut Geetha Govindasamy (2012: 2), reunifikasi kedua Korea merupakan
tujuan akhir Kim Dae-jung. Namun ia mengerti bahwa reunifikasi sulit direalisaikan
tanpa mengakhiri kebijakan ala Perang Dingin yang diadaptasi oleh pemerintahan
sebelumnya. Kim percaya bahwa kebijakan bermusuhan dan blokade hanya

38

memperburuk situasi dan mengintensifkan kemungkinan konfrontasi militer antara


kedua Korea. Sebagai alternatif, Kim Dae-jung merancang formula unifikasi tiga
tahap yang mencakup ko-eksistensi damai, pertukaran damai antar-Korea dan
unifikasi damai.
Hal tersebut senada dengan apa yang dituliskan oleh Chung-in Moon (2012:
22), bahwa Presiden Kim merumuskan konsep perdamaian ke dalam tiga prinsip
utama,

yakni:

hidup

berdampingan

secara

damai/peaceful

co-existence

(pembangunan perdamaian dengan mengakhiri hubungan permusuhan, perungan


penggunaan senjata, dan pengawasan bersama serta membangun rezim keamanan
dan kerjasama multilateral); pertukaran perdamaian/peaceful exchange (restorasi
identitas nasional bersama melalui interaksi politik, ekonomi, sosial, budaya, dan
kemanusiaan,

serta

perluasan

kepentingan

bersama

melalui

peningkatan

pertukaran/kerjasama dalam bidang ekonomi ekonomi); dan unifikasi damai/


peaceful unification (peningkatan unifikasi dan penolakan terhadap unifikasi dengan
kekuatan militer maupun tindak manipulasi). Sunshine policy dapat dilihat sebagai
bentuk dari tiga prinsip perdamaian tersebut.
Semua kebijakan, baik kebijakan publik, domestik, maupun luar negeri
merupakan instrumen yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu.Tujuan
tersebut menjadi dasar perumusan kebijakan dan pengarah kebijakan. Menurut
Chung-In Moon (2012: 21-25), dasar perumusan. Sunshine policy ditujuan untuk
mencapai lima tujuan besar, yakni:
Tujuan pertama adalah penolakan mutlak dari setiap perang atau konflik
militer besar di semenanjung Korea. Presiden Kim berulang kali menyatakan bahwa

39

tidak ada yang bisa membenarkan perang dan bahwa hal itu harus dicegah dengan
biaya apapun. Perang bisa membawa sebuah unifikasi nasional, tetapi penyatuan
dicapai melalui cara-cara kekerasan kemungkinan akan menelurkan benih kebencian
dan menetaskan divisi nasional lainnya.
Tujuan kedua adalah untuk memperoleh unifikasi secara de facto. Sunshine
Policy mengasumsikan bahwa de jure atau unifikasi kelembagan melalui
musyawarah dan referendum nasional akan memakan waktu lebih lama. Menyadari
kendala yang realistis, pemerintah Kim Dae-jung bertujuan untuk menciptakan tahap
awal unifikasi (quasi-unification) untuk mengaktifkan pertukaran pekerja, barang,
dan jasa demi mewujudkan pembangunan kepercayaan bersama dan pengawasan
senjata secara bersama-sama.
Tujuan ketiga yang mendasari Sunshine Policy adalah keyakinan Kim Daejung bahwa kebijakan keterlibatan dan akomodasi (policy of engagement and
accommodation) bisa membawa perubahan di Korea Utara, dan bahwa transformasi
menjadi keadaan normal bisa menawarkan momentum menentukan bagi koeksistensi damai di semenanjung Korea.
Tujuan keempat adalah sentralitas Korea Selatan dalam mengelola masalah
Korea dan lingkungan keamanan eksternal.Sunshine Policy mengakui pentingnya
Amerika Serikat, Rusia, Cina, dan Jepang dalam mempengaruhi masa depan
semenanjung Korea, namun membantah determinisme tradisional dalam menilai
keseimbangan kekuasaan ini atau tingkat pengaruh mereka.
Tujuan terakhir adalah Kim Dae Jung mencoba untuk mencapai konsensus
dalam negeri dan dukungan politik bipartisan dalam melaksanakan Sunshine Policy.

40

Presiden Kim menyadari bahwa di bawah sebuah pemerintahan yang demokratis,


tidak mudah untuk membangun dukungan politik bipartisan untuk kebijakan apapun,
baik itu asing maupun domestik. Namun, Presiden Kim percaya bahwa sejauh
kebijakan terhadap Korea Utara dan unifikasi nasional yang bersangkutan dapat
membentuk konsensus dalam negeri, memenangkan dukungan bipartisan bukan
merupakan hal yang mustahil. (Moon, 2012: 21-25)

Selain itu, ciri lain kebijakan pemerintah Kim Dae-jung adalah membangun
kebijakan yang bersifat timbal balik (reciprocity) dan fleksibel terhadap Korea
Utara. Timbal balik berarti bahwa kebijakan Korea Selatan yang salah satunya
adalah memberikan bantuan kepada Korea Utara tidak perlu diberi balasan atau
ganti yang setara (dalam arti bentuk dan jumlah bantuan yang telah diberikan),
namun Korea Utara hanya perlu meningkatkan hubungan baik dengan Korea
Selatan. Selain itu, sekalipun nuklir Korea Utara telah diakui sebagai salah satu
masalah utama, namun secara resmi, hal tersebut dipisahkan dari kebutuhan untuk
memperbaiki hubungan antar-Korea. Pemerintah Kim tidak memprioritaskan
kebijakannya pada masalah senjata nuklir Korea Utara. Sebaliknya, pemerintah Kim
menekankan kebijakannya pada kebutuhan ekonomi dan kemanusiaan Korea Utara.
(Govindasamy, 2012: 5).

Hasil penerapan Sunshine Policy yang dilakukan oleh pemerintah Kim Daejung membawa kemajuan bagi hubungan dua Korea. Pencapaian-pencapaian penting
yang berhasil direalisasikan antara lain adalah pada 1998, Kim Dae-jung berhasil
melancarkan proyek bersama antar Korea yakni proyek pariwisata dan turisme
Gunung Kumgang dan proyek Komplek Industri Kaesong di Korea Utara. Selain itu

41

juga, pada Juni 2000, ia berhasil melaksanakan Konferensi Tingkat Tinggi Korea
(Korean Summit) yang dilakukan oleh presiden Kim Dae-jung dan pemimpin Korea
Utara, Kim Jong-il. (Moon, 2000: 4).

42

BAB III
THE POLICY OF PEACE AND PROSPERITY

A.

Prinsip dan Tujuan

Roh Moo-hyun secara resmi menjadi presiden Korea Selatan setelah dilantik
pada tanggal 25 Februari 2003. Dalam pidato pelantikannya, Presiden Roh Moohyun menyatakan keinginannya untuk mempertahankan kebijakan Korea Selatan
terhadap Korea Utara yang diterapkan oleh pendahulunya, yakni Kim Dae-jung, dan
juga untuk memperluas cakupan dan konten dari Sunshine Policy tersebut dalam
rangka membangun sebuah struktur perdamaian pada semenanjung Korea.
Kebijakan tersebut diberi nama the Policy of Peace and Prosperity. (Kim, 2006:
37). Pemerintahan Roh Moo-hyun dikenal juga dengan nama Participatory
Government. (The Ministry of National Defense of the ROK, 2003: 34).
The Policy of Peace and Prosperity didasarkan pada empat prinsip dasar,
yakni: (1) menggunakan dialog sebagai sarana untuk menyelesaikan semua masalah
yang tertunda; (2) membangun rasa saling percaya dan menjaga hubungan timbal
balik (upholding reciprocity); (3) mempromosikan kerjasama internasional pada
prinsip-prinsip partisipasi langsung dan timbal-balik; dan (4) meningkatkan
transparansi, memperluas partisipasi warga, dan mengamankan dukungan bipartisan
(bipartisan support). (In-duk, 2003: 5-6).
Menurut Ko Jae-nam (2004: 7) prinsip pertama dari kebijakan Roh Moohyun, yakni menyelesaikan masalah melalui dialog, muncul karena adanya
kemungkinan untuk timbulnya konflik bersenjata di Semenanjung Korea yang

43

diakibatkan oleh ketidakstabilan rezim militer di Korea Utara dan juga gencatan
senjata yang masih belum usai antara dua Korea. Maka dari itu, diperlukan
penyelesaian secara damai melalui dialog.
Prinsip kedua adalah membangun kepercayaan satu sama lain antara dua
Korea. Hal tersebut dilakukan supaya meningkatkan hubungan dan mendorong
kerjasama yang saling menyehatkan/menguntungkan (healthy mutual cooperation)
dengan Korea Utara dan negara-negara di sekitarnya. (Jae-nam, 2004: 7).
Prinsip ketiga adalah meningkatkan kerjasama internasional berdasarkan
prinsip parties directly concerned, yakni pembagunan rezim perdamaian di
semenanjung Korea serta menciptakan komunitas ekonomi Utara-Selatan (SouthNorth Korea economic community), atas dasar ini, Korea Utara akan secara alami
bekerjasama dengan komunitas internasional dan berkontribusi bagi perdamaian dan
kemakmuran di kawasan Asia Timur. Prinsip terakhir adalah adanya perluasan
partisipasi masyarakat. Dalam proses melaksanakan the Policy of Peace and
Prosperity, Korea menjamin transparansi eksternal dalam proses pembuatan
kebijakan. (Jae-nam, 2004: 7).
Menurut white paper the Ministry of National Defense of the Republic of
Korea (2003: 32), dalam jangka pendek prinsip-prinsip tersebut digunakan sebagai
pedoman dalam bekerjasama dengan negara tetangga untuk membawa resolusi
perdamaian pada pemasalahan nuklir Korea Utara. Atas dasar itu, tujuan jangka
menengah adalah meningkatkan kerjasama substantif, mewujudkan kepercayaan
militer antara dua Korea dan membangun rezim perdamaian di Semenanjung Korea
dengan mendukung normalisasi hubungan antara Korea Utara dengan Amerika

44

Serikat dan Jepang. Hal tersebut menjadi permulaan dari tujuan jangka panjang,
yakni untuk membentuk kemakmuran umum/bersama, membangun dasar untuk
reunifikasi dan membangun semenanjung Korea sebagai pusat ekonomi Asia Timur.
Dalam mengaplikasikan kebijakannya tersebut, pemerintah Roh Moo-hyun
memiliki tiga tahap pembangunan, yakni; pada tahap pertama, Korea Selatan
berusaha memfasilitasi perdamaian di semenanjung Korea. Pada tahap kedua, Korea
Selatan berupaya untuk mengembangkan lebih lanjut kerjasama antar-Korea sebagai
dasar dari rezim perdamaian. Pada tahap ketiga, adalah meluncurkan sebuah rezim
perdamaian di Korea. (Kim, 2006: 37). Tiga tahapan tersebut secara lebih detil
ditampilkan dalam bagan di bawah ini.
Tabel II. A. 1 Implementation Strategy by Stages for Establishment of a Peace
Regime on the Korean Peninsula
Stage 1: Resolution of the North Korean Nuclear Issues and Promotion of Peace

Endeavor to create a breakthrough for a peaceful resolution of the North Korean nuclear
issue
Continue to promote reconciliation and cooperation between South and North Korea and
regularize inter-Korean military talks
Provide a foundation for the firm establishment of peace through inter-Korean summits
and other forums
Create an environment for peace and cooperation in Northeast Asia on the basis of
strengthened diplomatic capabilities
Reach an agreement on the peaceful resolution of the North Korean nuclear issue and
missile issues

Stage 2: Expansion of Inter-Korean Cooperation and Laying the Foundation for a Durable Peace
Regime on the Korean Peninsula

Undertake concrete measures for the implementation of matters agreed upon for the
resolution of the North Korean nuclear and missile issues
Deepen substantive cooperation and promote military confidence-building measures
between the South and the North
Propose and promote an initiative for a forum for peace and cooperation in Northeast
Asia

45

Stage 3: Conclusion of an Inter-Korean Peace Agreement and Creation of a Durable Peace


Regime

Conclude a South-North Korea peace agreement and secure guarantees for it


Take the various necessary steps following the transition to a peace regime
Promote the formation of an inter-Korean economic community and the reinforcement of
operational arms control
Establish a forum for peace and cooperation in Northeast Asia

Sumber :Ministry of Unification, Policy of Peace and Prosperity of the Participatory Government,
(March 2004), hal. 1 dalam Jae-nam, Ko. The Policy of Peace and Prosperity and South KoreaRussia Cooperation.East Asian Review.Vol.16, No. 3, Auntum 2004 hal. 6

Menurut white paper the Ministry of National Defense of the Republic of Korea
(2003: 34), tujuan dari participatory government yang dipimpin oleh Roh Moo-hyun
adalah untuk mendapatkan hal-hal berikut, yakni: demokrasi dengan masyarakat/
democracy with the people, pembangunan masyarakat yang seimbang/a society of
balanced development, and era perdamaian dan kesejahteraan di Asia Timur/era of
peace and prosperity in northeast Asia. Tujuan-tujuan tersebut tergambar dalam
bagan di bawah ini.

Gambar III. 2 Bagan Tujuan dari Participatory Government

Sumber: The ministry of National Defense of the republic of Korea. 2003. Participatory Government
Defense Policy, hal. 34

46

The Policy of Peace and Prosperity secara umum bertujuan untuk


membangun perdamaian dan kemakmuran di Timur Laut Asia berdasarkan pada
penyelesaian secara damai terhadap permasalahan Korea Utara dan membangun
komunitas ekonomi antar Korea (inter-Korean economic community). Kebijakan
tersebut merupakan strategi pembangunan nasional yang meliputi permasalahan
reunifikasi, kebijakan luar negeri, dan keamanan. Sehingga, bukan hanya
menekankan pada pengembangan sektor ekonomi, tapi juga sektor militer dan
keamanan. Sehingga, dengan kata lain, kebijakan tersebut melakukan pendekatan
keseimbangan antara perdamaian dan kesejahteraan. (The Ministry of National
Defense of the ROK, 2003: 31-32).
Dengan demikian, target utama dari The Policy of Peace and Prosperity
pertama adalah untuk mempromosikan perdamaian di Semenanjung Korea, yang
berarti secara damai menyelesaikan dan menekan isu nuklir Korea Utara, sementara
pada saat yang sama, mengatasi konflik antara Utara-Selatan yang masih
berlangsung. Atas dasar ini, tujuan berikutnya adalah untuk mendirikan sebuah rezim
perdamaian di Semenanjung Korea dengan meningkatkan kerjasama dan
membangun kepercayaan militer antara dua Korea. Tujuan kedua adalah membentuk
kesejahteraan bersama. Jika integrasi ekonomi Korea Selatan dan Korea Utara
direalisasikan,

maka

akan

membuka

kemungkinan

bahwa

perekonomian

semenanjung Korea akan dapat bersatu. Kebijakan pemerintah Roh Moo-hyun


adalah visi untuk meletakkan dasar bagi unifikasi damai, serta sebagai dasar untuk
mengembangkan pusat ekonomi Asia Timur Laut dengan membawa perdamaian ke
semenanjung Korea dan berusaha mencapai kesejahteraan bersama kedua Korea.
(Jae-nam, 2004: 5).

47

B.

Instrumen dalam the Policy of Peace and Prosperity

Negara sebagai aktor internasional dalam melakukan interaksi dengan sesama


negara maupun sistem global, memiliki tujuan akhir sesuai dengan bagaimana
perilaku kebijakan luar negeri mereka diarahkan. Untuk mencapai tujuan tersebut,
negara membutuhkan sarana atau dalam istilah hubungan internasional dikenal
dengan istilah instrumen. Dalam the Policy of Peace and Prosperity yang diterapkan
oleh Korea Selatan terhadap Korea Utara juga menggunakan beberapa instrumen
yang digunakan untuk mencapai tujuan Korea Selatan melalui kebijakan tersebut.
Instrumen-instrumen yang digunakan antara lain ialah diplomasi, pemberian
bantuan, dan kerjasama.

1.

Diplomasi

Diplomasi dalam konteks kebijakan luar negeri menurut John Baylis dan
Steve Smith (2005: 398) mengacu pada penggunaan diplomasi sebagai instrumen
kebijakan yang memiliki peluang lebih besar karena memiliki hubungan dengan
instrumen lain, seperti kekuatan ekonomi atau militer untuk memungkinkan aktor
internasional dapat mencapai tujuan kebijakannya. Dalam The Policy of Peace and
Prosperity sebagai kebijakan luar negeri Korea Selatan terhadap Korea Utara,
diplomasi yang digunakan antara lain mencakup dua hal, yakni diplomasi ekonomi
dan perdagangan serta diplomasi sosial-budaya.

a. Diplomasi Ekonomi dan Perdagangan (Economic and Trade


Diplomacy)

48

Pemerintah Roh Moo-hyun berupaya meningkatkan hubungan kerjasama


ekonomi melalui penerapan kebijakannya dengan tujuan untuk memicu partisipasi
aktif Korea Utara. Dengan demikian, akan tercipta hubungan timbal-balik yang
saling menguntungkan antar-Korea. Hal tersebut akan mempermudah proses
pencapaian tujuan dari kebijakan Roh Moo-hyun.
Pemerintah Roh percaya bahwa peningkatan dalam rekonsiliasi dan
kerjasama antara Korea Selatan dan Korea Utara penting untuk mengurangi
ketegangan di Semenanjung Korea dan untuk penyelesaian akhir dari masalah nuklir.
Sehingga, pemerintahan Roh berupaya untuk meningkatkan kerjasama ekonomi
antar Korea dengan mendukung proyek kerjasama ekonomi utama, yakni
pembangunan Kaesong Industrial Complex (KIC) serta pengembangan lanjutan dari
Mount Kumgang Torism Zone. (Kim, 2006: 38-39).
1. Kaesong Industrial Complex (KIC)
Komplek Industri Kaesong/Kaesong Industrial Complex (KIC) dihasilkan
dari inisiatif yang dipimpin oleh Hyundai Group (prusahaan swasta Korea Selatan)
pada awal tahun 1998 yang bertepatan dengan Sunshine Policy yang sedang
diterapkan oleh pemerintah terhadap Korea Selatan. KIC terletak sekitar 106 km
sebelah tenggara dari Pyongyang dan 43 km sebelah utara dari Seoul, tepat di
seberang Zona Demiliterisasi (DMZ) di Korea Utara. Tujuan pembangunan KIC
adalah mengembangkan komplek industri yang mampu menampung perusahaan
Korea Selatan untuk menghasilkan produk dan menggunakan tenaga kerja Korea
Utara. Disamping itu juga adalah untuk memberikan peluang bagi Korea Utara untuk

49

meliberalisasi dan reformasi ekonomi, dan meredakan ketegangan di DMZ. (Manyin


dan Nanto, 2011: 5).
Gambar III.3. Peta Kaesong

Sumber:Manyin, Mark E. and Dick KNanto. The Kaesong North-South Korean Industrial Complex.
2011. USA: Congressional Research Service. Hal, 2.

Setelah berbagai perbedaan pendapat pada permasalahan seperti upah pekerja


Korea Utara dan harga lahan, kedua Korea akhirnya mampu memutuskan
kesepakatan secara resmi pada April 2004 (pada masa pemerintahan Roh Moo-hyun
di Korea Selatan) ketika Hyundai Group (dari Korea Selatan) dan Komite
Perdamaian Asia Pasifik (Asia-Pacific Peace Committee/APPC) dari Korea Utara
membentuk kesepakatan pembangunan KIC tersebut. (Kim, 2006: 41).

Meskipun diawali sebagai komplek perusahaan swasta, namun pemerintah


Korea Selatan turut terlibat dalam proyek tersebut dengan cara memberikan intensif
tertentu kepada perusahaan Korea Selatan yang beroperasi di Kaesong. Disamping

50

itu, KIC juga memiliki beberapa keistimewaan lainnya seperti: zona bebas bea, tidak
ada pembatasan pada penggunaan mata uang asing atau kartu kredit, tidak
membutuhkan visa untuk keluar-masuk area, hak kepemilikan poperti dijamin oleh
pemerintah, serta pelanggaran hukum yang dilakukan oleh warga Korea Selatan di
KIC tidak akan diadili di Korea Utara, melainkan di Korea Selatan sesuai dengan
undang-undang yang berlaku di Korea Selatan. (Manyin dan Nanto, 2011: 5-6).

Terkait perkembangan KIC di masa pemerintahan Roh Moo-hyun dapat


dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel. III.B.1 Key Statistics for the Kaesong Industrial Complex


End 2005
11

End 2006
15

End 2007
65

6,000

11,000

23,000

Approx. No. of South


Korean Workers

n.a

700

800

Annual Production
Value
Exports to 3rd
Countries
(i.e., not South Korea)

$15 mil.

$74 mil.

$185 mil.

$20 mil.

$40 mil.

No. of South Korean


Manufacturing Firms
Approx. No. of North
Korean Workers

Sumber: South Korean Ministry of Unification documents, dalam Manyin, Mark E. and Dick K
Nanto. The Kaesong North-South Korean Industrial Complex. 2011. USA: Congressional Research
Service. Hal, 1

Dari tabel tersebut, dijelaskan bahwa perusahaan swasta Korea Selatan yang
beroperasi di KIC mengalami peningkatan sejak tahun pertama produksi (2005).
Dari semula 11 perusahaan, kemudian meningkat menjadi 15 perusahan pada tahun
2006, dan meningkat drastik pada tahun 2007 menjadi 65 perusahaan. Peningkatan
jumlah perusahaan yang beroperasi di KIC sejalan dengan penyerapan tenaga kerja.
Jumlah tenaga kerja Korea Utara di KIC meningkat sejak tahun 2005 yang berjumlah
51

6.000 orang, menjadi 11.000 orang pada tahun 2006, dan 23.000 orang pada tahun
2007. Jumlah tenaga kerja Korea Utara yang bekerja di KIC jumlahnya lebih dari
sepuluh kali lipat dari pekerja Korea Selatan. Pada tahun 2006, tenaga kerja Korea
Selatan hanya berjumlah 700 orang, dan hanya bertambah 100 orang pada tahun
berikutnya.
Dengan jumlah perusahaan dan pekerja di KIC tersebut, nilai produksi
tahunan yang diterima mencapai $15 juta pada tahun awal produksi, kemudian
meningkat menjadi $74 juta pada tahun 2006, dan $185 juta pada tahun berikutnya.
Sedangkan total ekspor ke negara di luar Korea Selatan adalah sebesar $20 juta pada
tahun 2006, dan $40 juta pada tahun 2007.
Sejak beroperasi pada tahun 2005, jumlah produksi pada perusahaanperusahaan yang beroperasi di KIC tersebut mengalami peningkatan, Hal tersebut
tergambar lebih jelas dalam tabel di bawah ini.
Tabel. III.B.2 Production by Category in the Kaesong Industrial Complex
(US $1,000)
Textiles
and
Clothing

Chemical
Products

Metals and
Machinery

Electric and
Electronic
Products

Total

2005

6,780

1,768

5,250

1,108

14,906

2006

27,793

10,900

20,853

14,191

73,737

2007

85,543

18,262

41,947

39,027

184,779

Sumber: ROK, Ministry of Unification documents, dalam Manyin, Mark E. and Dick K Nanto. The
Kaesong North-South Korean Industrial Complex. 2011. USA: Congressional Research Service.
Hal,8

52

Menurut tabel diatas, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di KIC hingga


tahun 2007 antara lain bergerak di bidang tekstik dan pakaian, produk kimia, logam
dan mesin, serta produk listrik dan elektronik. Jenis produk yang lebih banyak
menghasilkan keuntungan dibanding jenis produk lainnya yang diproduksi di KIC
adalah produksi tektil dan pakaian. Pada tahun 2005, jumlahnya mencapai $6,7 juta.
Kemudian mengalami peningkatan lebih dari empat kali lipat pada tahun berikutnya
yang mencapai $27,7 juta, dan $85,5 juta pada tahun 2007.
Menurut Mark E Manyin dan Dick K Nanto (2011:8), semua produk yang
dibuat di KIC yang dikirim ke Korea Selatan untuk dijual di sana atau untuk ekspor.
Negara tujuan ekspor antara lain adalah Uni Eropa, Rusia, dan China.

2. Mountain Kumgang Tourism zone


Menurut situs The National Committee on North Korea advances (ncnk.org
diakses pada 20 Juli 2013), dijelaskan bahwa proyek pariwisata Gunung Kumgang
(Mt. Kumgang tourism zone) pertama kali juga digagas oleh Hyundai Grup pada
masa pemerintahan Kim Dae-jung. Pada tanggal 29 Oktober 1998, Hyundai Grup
dan Korea Utara Komite Perdamaian Asia-Pasifik (Asia-Pacific Peace Committee)
menandatangani perjanjian proyek pariwisata Gunung Kumgang. Kapal pesiar
pertama berangkat ke Gunung Kumgang pada 18 November 1998.
Kemudian

di

masa

pemerintahan

Roh

Moo-hyun,

Hyundai

Grup

mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk merevitalisasi proyek pariwisata


Gunung Kumgang tersebut. Setelah debutnya pada tahun 1998, proyek pariwisata
Gunung Kumgang mengalami stagnansi karena adanya penurunan permintaan dan
popularitas program tur. Namun proyek pariwisata gunung Kumgang tersebut

53

menunjukan tanda-tanda revitalisasi setelah Korea Utara setuju untuk menerima


permintaan Korea Selatan untuk membuat program tur darat ke Gunung Kumgang
yang dilakukan pada bulan September 2003. Ketersediaan transportasi darat dari
Korea Selatan ke gunung Kumgang menghidupkan kembali popularitas proyek
pariwisata gunung Kumgang dan membuatnya layak secara finansial. (Kim, 2006:
40).
Tabel III.B.3 Number of South Korean Tourists Visiting Mount
Kumgang
Year

Number of Tourists

By ship

By bus/private car

1998

10,554

10,554

1999

148,074

2000

213,009

213,009

2001

57,879

57,879

2002

84,727

84,727

2003

74,334

39,902

34,432

2004

268,420

449

267,971

2005

298,247

298,247

2006

243,446

243,446

2007

345,006

345,006

2008

62,405

62,405

Total

1,797,101

554,594

1,242,507

148,074

Sumber: Ministry of Unification, 2011 Ministry of Unification, Basic facts about inter-Korean
relations: Humanitarian Cooperation (2011), dalam Govindasamy, Geetha. Kim Dae Jung and The
Sunshine Policy : An Appealing Policy Option for Inter-Korean Relations. Sarjana.Vol. 27. No. 1,
June 2012. Hal, 6

54

Dari tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa jumlah warga Korea Selatan yang
mengunjungi Gunung Kumgang antara tahun 1998 hingga 2002 (ketika masa
pemerintahan Kim Dae-jung) terbesar terjadi pada tahun 2000, yakni sebanyak
213,009 orang pengunjung. Kunjungan yang dilakukan pun hanya terbatas melalui
jalur air (dengan kapal laut). Namun adanya pembangunan transportasi darat ke
Gunung Kumgang di masa pemerintahan Roh Moo-hyun, membuat jumlah
pengunjung Gunung Kumgang meningkat. Peningkatan terbesar terjadi pada tahun
2007, yakni sebanyak 345,006. .Adanya akses darat menuju gunung Kumgang
membuat akses laut kurang diminati (pada tahun 2004, hanya terdapar 449
pengunjung yang menggunakan akses laut), sehingga membuat akses laut menuju
Gunung Kumgang tidak lagi digunakan sejak tahun 2005.

b. Socio-cultural Diplomacy

Selain melalui kerjasama ekonomi dan perdagangan, the Policy of Peace and
Prosperity juga diarahkan untuk meningkatkan hubungan baik dengan Korea Utara
melalui diplomasi sosial dan budaya. Salah satunya adalah melalui pertemuan
keluarga yang terpisah.

1. Pertemuan Keluarga yang Terpisah

Adanya pembagian Korea menjadi dua wilayah negara yang berbeda pasca
Perang Dunia II bukan hanya memisahkan kedua wilayah, yang semula satu, secara
teritori dan politik, tapi juga turut memisahkan banyak warga Korea itu sendiri.
Sejak pembagian Korea menjadi dua wilayah negara, banyak keluarga yang harus
terpisah ke dua negara yang berbeda. Hal tersebut melatarbelakangi pemerintah

55

Korea Selatan untuk melakukan pertemuan keluarga yang terpisah antara warga
Korea Selatan dan Korea Utara. Menurut Geetha Govindasamy (2012: 8), pertemuan
keluarga yang terpisah pertama kali dilakukan pada tahun 1985. Kemudian
pertemuan tersebut dilakukan kembali pasca terjadinya Korean Summit pada tahun
2000 (pada masa pemerintahan Kim Dae-jung), dan terus dilanjutkan pada
pemerintahan Roh Moo-hyun.
Pertemuan kembali keluarga yang terpisah tersebut dilakukan melalui dua
metode, yakni tatap muka dan konferensi melalui video. Pertemuan ini biasanya
diadakan di markas Palang Merah Korea Selatan (South Korean Red Cross
headquarters), daerah wisata Gunung Kumgang atau pusat reuni (reunion centers) di
Korea Utara. (Govindasamy, 2012: 8). Jumlah keluarga yang dapat kembali
dipertemukan sejak tahun 1985 dan 2000-2007 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel III.B.4 Number of families involved in face to face family reunions and
video conferences (1985, 2000-2007)
Method of

Families from South

Families from North

Reunion

Korea

Korea

Total

Face to face

1.683

1.695

3.378

Video conferences

279

278

557

Total

1.962

1.973

3.935

Sumber : Ministry of Unification, Basic facts about inter-Korean relations: Humanitarian


Cooperation (2011), dalam Govindasamy, Geetha. Kim Dae Jung and The Sunshine Policy :
An Appealing Policy Option for Inter-Korean Relations. Sarjana.Vol. 27. No. 1, June 2012.
Hal, 8

56

Dalam tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa jumlah keluarga yang berhasil
ditemukan melalui metode tatap muka (baik keluarga dari Korea Selatan maupun
Korea Utara) jumlahnya adalah 3.378 keluarga. Sementara itu, jumlah keluarga yang
berhasil dipertemukan kembali melalui metode konferensi video jauh lebih sedikit,
yaitu 557 keluarga. Dengan demikian, jumlah keseluruhan keluarga yang dapat
dipertemukan kembali sepanjang tahun 1985, 2000-2007 adalah 3.935 keluarga.

2. Pawai Bersama pada Olimpiade

Pasca Korean Summit tahun 2000, dunia internasional memberikan pengakan


terhadap pentingnya pertemuan untuk merundingkan perdamaian di semenanjung
Korea. Hal tersebut dimunculkan dalam bentuk penghargaan berupa Peace Prize
Nobel yang diberikan kepada Kim Dae-jung pada tahun yang sama. Sementara itu, di
dalam negeri Korea Selatan, menurut Geetha Govindasamy (2012: 9), Korean
Summit membawa kesadaran bagi masyarakat bahwa mereka berbagi kebangsaan,
etnis, bahasa, dan budaya yang sama dengan Korea Utara. Hal tersebut salah satunya
memunculkan gerakan simbolik dalam bidang olahraga. Tiga bulan setelah Korean
Summit berlangsung, para atlet dan pejabat Korea Utara melakukan pawai bersama
dengan para atlet dan pejabat Korea Selatan pada upacara pembukaan Olimpiade
Sydney tahun 2000. Gerakan simbolik tersebut tidak hanya menunjukkan
kekerabatan, namun juga meredam persepsi Korea Utara sebagai ancaman. Pawai
bersama yang dilakukan oleh para atlet dan pejabat Korea Utara dengan korea
Selatan juga kembali terjadi pada Olimpiade Musim Panas tahun 2004 di Athena dan
Olimpiade Musim Dingin tahun 2006 di Turin, ketika masa pemerintahan Roh Moohyun di Korea Selatan.

57

2.

Pemberian Bantuan

Sejak tahun 1995, yakni masa pemerintahan Kim Young Sam, pemerintah
Korea Selatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) telah mengirimkan
beberapa bantuan kepada Korea Utara dalam bentuk sumbangan, makanan dan
pupuk. Kemudian pada masa Kim Dae-jung, hingga Roh Moo-hyun, jumlah total
bantuan yang diberikan oleh pemerintah Korea Selatan terhadap Korea Utara
mengalami peningkatan. (Govindasamy, 2012: 7-8). Hal tersebut dapat dilihat lebih
jelas dalam tabel di bawah ini.
Tabel III.B.5 South Koreas Humanitarian Aid to North Korea (in US$
million)
Sector

Kim Young Sam

Kim Dae Jung

Roh Moo Hyun

Total

1993-1998

1998-2003

2003-2008

Government

26,172

49,977

140,253

216,402

Private

2,236

19,125

43,246

64,607

Total

28,408

69,102

183,500

281,010

Sumber : Ministry of Unification, Basic facts about inter-Korean relations: Humanitarian


Cooperation (2011), dalam Govindasamy, Geetha. Kim Dae Jung and The Sunshine Policy :
An Appealing Policy Option for Inter-Korean Relations. Sarjana.Vol. 27. No. 1, June 2012.
Hal, 8.

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa bantuan kemanusiaan yang


diberikan oleh Korea Selatan terhadap Korea Utara sejak masa pemerintahan Kim
Young Sam dilakukan melalui sektor pemerintahan maupun swata/LSM. Jumlah
bantuan kemanusaiaan baik yang diberikan melalui pemerintah maupun swasta
mengalami peningkatan drastis pada masa pemerintahan Roh Moo-hyun, yakni dari

58

$28,408 pada masa pemerintahan Kim Yong Sam dan $69,102 pada masa
pemerintahan Kim Dae Jung, menjadi $183,500 pada masa pemerintahan Roh Moo
Hyun. Dari total tersebut, sumber bantuan terbesar berasal dari pemerintah, yakni
sebesar $140,253.
Menurut Govindasamy (2012: 7-8), pemberian bantuan yang diberikan
tersebut merupakan salah satu intrumen dalam the Policy of Peace and Prosperity.
Sementara itu, menurut Hong Nack, Kim (2006: 38-39) peningkatan pemberian
bantaun ekonomi dan kemanusiaan yang dilakukan Korea Selatan terhadap Korea
Utara dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi ketegangan pada Semenanjung
Korea.
C.

Six-Party Talks
Pembicaraan Enam Pihak atau Six-Party Talks merupakan salah satu

instrumen yang juga dimanfaatkan oleh pemerintah Roh Moo-hyun dalan


menerapkan kebijakannya. Munculnya Six-Party Talks tidak dapat dipisahkan oleh
latar belakang pembentukannya. Six-Party Talks hadir setelah berbagai rangkaian
kejadian terjadi dalam dinamika hubungan Korea Utara dan Amerika Serikat
terutama mengenai keberlangsungan Agreed Framework 1994 pasca pergantian
kepemimpinan di Amerika Serikat pada tahun 2001 yang turut membawa perubahan
bagi kebijakan terhadap Korea Utara. Hubungan Korea Utara-Amerika Serikat
tersebut juga turut menyeret kepentingan Korea Selatan, sebagai negara tetangga,
untuk terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, penulis memulai pembahas mengenai
Six-Party Talks sejak pembentukan Agreed Framework 1994.

59

1.

Agreed Framework 1994 dan Nuklir Korea Utara

Pada tanggal 23 September hingga 21 Oktober 1994 berlangsung


perbincangan antara Korea Utara dengan Amerika Serikat di Jenewa, Swiss
membahas mengenai masalah nuklir di Semenanjung Korea. Perbincangan tersebut
menghasilkan kesepakatan bersama yang lebih dikenal dengan Agreed Framework
1994.
Menurut data yang dipublikasikan di situs resmi International Atonomic
Energy Agency (IAEA), dalam Agreed Framework 1994 tersebut disepakati bahwa
Korea Utara akan membekukan program pengembangan nuklir miliknya serta
mengijinkan pihak IAEA untuk melakukan pemantauan rutin di Korea Utara.
Sebagai gantinya, Amerika Serikat akan mengirimkan bantuan antara lain berupa
pembangunan reaktor air ringan di Korea Utara yang dijadwalkan selesai pada tahun
2003. Selain itu Amerika juga akan mengirimkan bantuan berupa bahan bakar
minyak ke Korea Utara untuk penghangat di musim dingin dan juga untuk
pembangkit tenaga listrik. Dalam perjanjian disebutkan bahwa sekitar 500.000 ton
bahan bakar minyak dikirimkan oleh Amerika Serikat ke Korea Utara setiap
tahunnya.
Selain itu, dalam Agreed Framework 1994 juga disepakati mengenai
peningkatan kerjasama antara Korea Utara dan Amerika Serikat. Kedua belah pihak
sepakat bahwa mereka akan melakukan upaya normalisasi hubungan politik dan
ekonomi, menciptakan perdamaian dan keamanan di Semenanjung Korea, serta
memperkuat rezim internasional terhadap non-poliferasi nuklir. (Isi Agreed
Framework 1994 selengkapnya terdapat pada lampiran II).

60

Penerapan Agreed Framework 1994 tersebut kemudian mengalami jalan


buntu ketika Amerika Serikat mengalami pergantian kepemimpinan, dari Presiden
Bill Clinton ke Presiden George W Bush pada tahun 2001.
Menurut situs Center for Nonproliferation Studies (CNS, 2012: 6) yang
diakses pada tanggal 29 Agustus 2013 (terdapat pada lampiran III), pergantian
kepemimpinan Amerika Serikat tersebut membawa kekhawatiran bagi Korea Utara
akan perubahan kebijakan Amerika Serikat terdahulu. Pada awal kepemimpinanya,
Presiden Bush sempat melakukan kajian komprehensif terhadap kebijakanya ke
Korea Utara. Kemudian pada 13 Juni 2001, Amerika Serikat memutuskan untuk
melanjutkan kembali perundingan dalam kerangka Agreed Framework 1994 dengan
Korea Utara setelah melakukan pertemuan dengan utusan Korea Utara untuk PBB di
New York.
Namun kebijakan Amerika Serikat tersebut tidak berlangsung lama. Sikap
Presiden Bush berubah terhadap Korea Utara setelah terjadi peristiwa 9/11 pada
akhir tahun 2001 di Amerika Serikat. Menyusul kejadian tersebut, dalam pidato
resmi Presiden Bush pada 29 Januari 2002, Amerika Serikat secara sepihak
menyebut bahwa Korea Utara merupakan poros setan (Axis of Evil), bersama
dengan Iran dan Irak yang menurut klaim Amerika Serikat merupakan negara-negara
yang terdindikasi memiliki senjata nuklir berbahaya. (CNS, 2012: 5-6).
Tudingan negatif yang dinyatakan sepihak oleh Amerika Serikat terhadap
Korea Utara membawa keresahan bagi Korea Selatan, karena mengancam
keberlangsungan Agreed Framework 1994 yang dapat membawa peluang ancaman
bagi perdamaian di Semenanjung Korea.

61

Oleh karena itu, Korea Selatan yang pada saat itu masih berada di bawah
pemerintahan Kim Dae-jung melakukan berbagai upaya untuk membahas
kemungkinan dimulainya kembali perundingan Amerika Serikat dengan Korea
Utara. Menurut Center for Nonproliferation Studies (2012: 6), Pembantu Presiden,
Lim Dong Won melakukan pertemuan dengan pejabat Korea Utara termasuk
Pemimpin, Kim Jong-il yang kemudian setuju untuk melakukan pertemuan dengan
Diplomat Amerika Serikat Jack Pritchard. Namun pertemuan tersebut tidak
menghasilkan kesepakatan. Pasalnya Korea Utara menuntut agar Amerika Serikat
merampungkan pembangunan Reaktor Air Ringan yang berdasarkan pada Agreed
Framework 1994 dijadwalkan rampung pada tahun 2003. Namun Amerika Serikat
menuntut bahwa pembangunan Reaktor Air Ringan tersebut akan dilakukan setelah
tim IAEA selesai melakukan pemeriksaan persenjataan Nuklir di Korea Utara yang
akan memakan waktu selama 3-4 tahun. Korea Utara menolak usulan tersebut.
Kemudian, Amerika Serikat melakukan kunjungan lanjutan ke Korea Utara
pada 3-5 Oktober 2002. Pasca kunjungan tersebut, Asisten Menteri James A. Kelly
dan delegasinya mengklaim bahwa Korea Utara tengah menjalankan program
pengayaan uraniumnya. Klaim tersebut mendapatkan sambutan negatif dari Korea
Utara yang pada akhir Oktober menonaktifkan dan melarang dilanjutkannya inspeksi
IAEA.
Atas tindakan Korea Utara tersebut, Presiden Bush merespon dengan
pernyataanya pada 14 November 2002 yang menyatakan bahwa pengiriman kapal
bermuatan bahan bakar minyak bagi Korea Utara (seperti ketentuan yang tertulis
dalam Agreed Framework 1994) yang dilakukan pada tahun itu merupakan
pengiriman terakhir jika Korea Utara tidak menghentikan program nuklirnya.
62

Klaim, tudingan, dan ancaman sepihak yang dilancarkan Amerika Serikat


tersebut membuat Korea Utara meningkatkan kewaspadaanya serta sikap agresifnya.
Sebagai respon atas pernyataan Presiden Bush, Korea Utara mengusir inspektur
IAEA dan membuka kembali fasilitas nuklir miliknya pada akhir tahun 2002. (CNS,
2012: 6).
Kemudian pada 10 Januari 2003, Korea Utara mengundurkan diri dari
keanggotaanya di Nuclear Non-Poliferation Treaty (NPT) dan kembali mengaktifkan
reactor nuklirnya di Yongbon dengan tujuan untuk memproduksi listrik (yang
sebelumnya mengandalkan bantuan minyak mentah Amerika Serikat untuk
pembangkit listrik). Meskipun Korea Utara menjamin penggunaan reaktor nuklirnya
untuk program damai, namun IAEA tetap melaporkan kasus tersebut sebagai
ancaman ke Dewan Keamanan PBB pada 12 Februari 2003. (CNS, 2012: 5).
Pada bulan yang sama, Amerika Serikat dengan segera merespon sikap Korea
Utara dengan mengumumkan bahwa pihaknya akan melakukan latihan militer
bersama pada bulan Maret dengan Korea Selatan (yang pada saat itu tengah
melakukan selebrasi atas dilantiknaya presiden baru Korea Selatan, Roh Moo-hyun).
Masa awal pemerintahan Roh Moo-hyun pun disambut dengan peluncuran misil
Korea Utara pada 24 Februari dan 10 Maret 2003, sebagai bentuk reaksi atas sikap
Amerika Serikat. (CNS, 2012: 5).

2. Pembentukan dan Tujuan Six Party Talks

Pasca

peluncuran

misil

yang

dilakukannya,

menurut

Center

for

Nonproliferation Studies (2012: 5), Korea Utara pada 12 April 2003 secara resmi
mengindikasikan keinginannya untuk membuka kembali pembicaraan multilateral.
63

Cina kemudian menjadi penengah serta tuan rumah atas Pertemua Tiga Pihak
(Three-Party Talks) antara Amerika Serikat, Korea Utara dan Cina. Namun tidak ada
kesepakatan yang dihasilkan dari perundingan tersebut.

Perundingan kembali dilakukan, namun dengan melibatkan tiga pihak lain,


yakni Rusia, Jepang dan Korea Selatan. Perundingan tersebut kemudian dikenal
dengan istilah Six Party-Talks.

Secara ringkas, menurut Pang Zhongying (2009:4), Profesor hubungan


internasional di Renmin University of China, Six Party talks dapat dipahami sebagai
berikut:
a. Sebuah proses menanggapi dan mengelola krisis nuklir atau isu nuklir Korea
Utara
b. Sebuah cara diplomatik untuk mencapai penyelesaian damai masalah nuklir
c. Sebuah proses membangun saling kepercayaan dan keyakinan
d. Sebuah proses negosiasi yang memakan waktu dengan kemajuan bertahap
e. Eksplorasi mekanisme keamanan multilateral untuk kerjasama keamanan
regional.
Sementara itu, secara garis besar, tujuan utama yang ingin dicapai dari
terbentuknya Six Party Talks adalah:
a. Menyelesaikan denuklirisasi semenanjung Korea
b. Secara resmi mengakhiri Perang Korea dengan perjanjian damai

64

c. Membangun sebuah mekanisme regional (di luar Asia Timur Laut) untuk
memelihara perdamaian, stabilitas dan kemakmuran di abad ke-21.
(Zhongying, 2009:4)

3.

Pelaksanaan Six Party Talks Periode 2003-2007

Menurut Center for Nonproliferation Studies (2012: 5), Six Party Talks pada
putaran pertama (27-29 Agustus 2003), putaran kedua (25-28 Februari 2004), dan
putaran ketiga (23-26 Juni 2004) belum menunjukan hasil maupun keputusan jelas
mengenai permasalahan nuklir di Semenanjung Korea.

Six Party Talks baru menemukan pergerakan yang jelas pada putaran
keempat. Putaran keempat Six Party Talks dilakukan dalam dua tahap, yakni dari 27
Juli-7 Agustus 2005 yang tidak menemukan kesepakatan yang jelas dan tahap kedua
yang dilakukan pada 13-19 September 2005 yang menghasilkan pernyataan prinsip
yang ditandatangani oleh Korea Utara. Pernyataan prinsip tersebut salah satunya
adalah menuntut Korea Utara untuk meninggalkan kembali program nuklirnya dan
kembali bergabung dengan NPT. Dengan demikian, Amerika Serikat akan
melanjutkan pembangunan reaktor air ringan.
Namun penerapan pernyataan prinsip tersebut ditunda akibat sikap Amerika
Serikat yang secara sepihak membekukan aset Korea Utara di Banco Delta Asia
karena diklaim terlibat dalam pencucian uang terkait masalah nuklir Korea Utara.
Tindakan tersebut kembali memicu respon negatif dari Korea Utara dengan menolak
untuk kembali kepada perundingan dan memulai kembali pembangunan reaktor
nuklir miliknya. (CNS, 2012: 5).

65

Six Party Talks mengalami stagnansi yang kemudian disusul dengan tindakan
Korea Utara yang melakukan tes pertama atas perangkat nuklir miliknya pada 9
Oktober 2006. Namun kemudian dengan bantuan negosiasi Cina, Korea Utara
kembali dalam Six Party Talks pada Novenber (tahap pertama) dan Desember (tahap
kedua) 2006. Di mana para pihak menegaskan kembali pernyataan prinsip (yang
pernah dibahas pada tahun 2005) yang kemudian dibahas lebih lanjut pada
pertemuan tahap ketiga pada tahun 2007.

Pada tahap ketiga perundingan pada 13 Februari 2007, Korea Utara


menyepakati rencana aksi yang didasarkan pada pernyataan prinsip tahun 2005.
Berdasarkan kesepakatan itu, Korea Utara akan menutup fasilitas nuklirnya di
Yongbyon dalam waktu 60 hari dengan imbalan sebanyak 50.000 ton bantuan bahan
bakar. Selanjutnya, sesuai dengan tahap kedua Rencana Aksi, yang lain 950.000 ton
bahan bakar minyak akan disampaikan bersama dengan bantuan ekonomi, energi,
dan kemanusiaan lainnya jika Korea Utara menonaktifkan program senjata
nuklirnya.

Kemudian pada tanggal 19 Maret 2007 aset Korea Utara di Banco Delta Asia
dirilis dan kembali dapat dicairkan. Kemudian pada tanggal 14 Juli, IAEA
menegaskan penutupan fasilitas nuklir Yongbyon di Korea Utara. Pada bulan
Oktober 2007, Six Party Talks sepakat untuk Rencana Aksi tahap kedua yang
menyerukan Korea Utara untuk menonaktifkan fasilitas nuklir utamanya di
Yongbyon dan selanjutnya menyerahkan deklarasi penuh bahwa Korea Utara telah
menonaktifkan seluruh program nuklirnya pada 31 Desember 2007.

66

4. Second Korean Summit


Menurut situs Global Asia yang penulis akses pada 2 Agustus 2013, Korean
Summit kedua dilakukan pada tanggal 2-4 Oktober 2007. Roh Moo-hyun
mendatangi Korea Utara melalui jalan darat. Dalam Korea Summit tersebut
kedua Korea menandatangani 45 kesepakatan mengenai penyelesaian
permasalahan Semenanjung Korea, terutama dalam hal perdamaian,
rekonsiliansi dan kesejahteraan bersama, serta pertukaran dan unifikasi
bersama.

67

BAB IV

PENERAPAN THE POLICY OF PEACE AND PROSPERITY

Dalam bab ini, penulis melakukan analisa serta mengelaborasi mengenai


penerapan dari the Policy of Peace and Prosperity yang dijalani oleh pemerintah Roh
Moo-hyun. Pembahasan dalam bab ini adalah terkait instrumen kebijakan luar negeri
yang digunakan. Penulis melakukan analisa terhadap penerapan kebijakan Roh Moohyun dengan menggunakan tiga konsep teori utama yang telah dibahas pada bab pertama,
yakni kebijakan luar negeri, diplomasi, dan bantuan luar negeri.

A. Penerapan the Policy of Peace and Prosperity di Masa Pemerintahan Roh Moohyun

Kebijakan luar negeri menurut Howard Lentner (dalam Jemadu, 2008: 65) harus
mencakup tiga elemen dasar, yaitu: penentuan tujuan yang hendak dicapai, pengerahan
sumber daya atau instrumen untuk mencapai tujuan tersebut, dan pelaksaan dari
kebijakan yang terdiri dari rangkaian tindakan dengan secara aktual menggunakan
sumber daya yang sudah ditetapkan.

The Policy of Peace and Prosperity sebagai kebijakan luar negeri yang resmi
dijalankan oleh pemerintahan Korea Selatan terhadap Korea Utara juga mencakup ketiga
elemen yang dikonsepkan oleh Howard Lenter tersebut. Elemen pertama adalah
penentuan tujuan yang hendak dicapai. Menurut white paper dari the Policy of Peace and

68

Prosperity (dalam The Ministry of National Defense of the Republic of Korea, 2003: 3132) tujuan kebijakan tersebut secara umum yakni untuk membangun perdamaian dan
kemakmuran di Timur Laut Asia berdasarkan pada penyelesaian secara damai terhadap
permasalahan Korea Utara dan membangun komunitas ekonomi antar Korea. Dengan
kata lain, tujuan yang ingin dicapai bukan hanya dalam sektor ekonomi, tapi juga dalam
sektor militer/keamanan. Kebijakan tersebut menekankan pada pendekatan keseimbangan
antara perdamaian dan kesejahteraan.

Elemen kedua dalam kebijakan luar negeri adalah pengerahan sumber daya atau
instrumen untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam menjalankan kebijakannya, pemerintah
Roh Moo-hyun mendasarkan kebijakannya pada visi yang ditujukan untuk membentuk
Semenanjung Korea yang damai dan sejahtera. Kebijakanya tersebut meliputi kerjasama
politik, ekonomi dan keamanan antara Korea Selatan dan Korea Utara. (Kim, 2006: 37).

Elemen terakhir dalam kebijakan luar negeri yang dikonsepkan oleh Howard
Lentner adalah pelaksaan dari kebijakan yang terdiri dari rangkaian tindakan dengan
secara aktual menggunakan sumber daya yang sudah ditetapkan. Dalam pelaksanaanya,
the Policy of Peace and Prosperity mengikuti empat prinsip dasar yang telah diulas
dalam bab sebelumnya, yakni: menggunakan dialog sebagai sarana untuk menyelesaikan
semua masalah yang tertunda, membangun rasa saling percaya dan menjaga hubungan
timbal-balik, mempromosikan kerjasama internasional pada prinsip-prinsip partisipasi
langsung dan timbal-balik, serta meningkatkan transparansi, memperluas partisipasi
warga, dan mengamankan dukungan bipartisan. (In-duk, 2003: 5-6). Sementara itu dalam

69

pelaksannya, the Policy of Peace and Prosperity menggunakan instrumen kebijakan


sebagai sarana untuk mencapai tujuan nasionalnya.

B. Instrumen dalam The Policy of Peace and Prosperity

Berdasarkan empat prinsip utama dari the policy of peace and prosperity,
pemerintah Roh Moo-hyun menekankan penggunaan diplomasi sebagai instrumen utama
yang digunakan dalam penerapan kebijakannya. Diplomasi dalam konteks kebijakan luar
negeri menurut John Baylis dan Steve Smith (2005: 398-399) mengacu pada penggunaan
diplomasi sebagai instrumen kebijakan yang memiliki peluang lebih besar karena
memiliki hubungan dengan instrumen lainya, seperti kekuatan ekonomi atau militer
untuk memungkinkan aktor internasional dapat mencapai tujuan kebijakannya. Secara
garis besar, terdapat tiga jenis instrumen kebijakan yang digunakan dalam kebijakan luar
negeri, yakni penggunaan angkatan militer, penggunaan langkah-langkah ekonomi, dan
subversi.

Pemerintah Roh Moo-hyun dalam kebijakannya cenderung menerapkan


instrument kedua dari tiga jenis instrumen yang dikonsepkan tersebut, yakni penggunaan
langkah-langkah ekonomi. Dalam penerapan kebijakannya, ia meningkatkan kerjasama
ekonomi, maupun pemberian bantuan terhadap Korea Utara. Perningkatan hubungan
ekonomi antara Korea Selatan dengan Korea Utara dilakukan bukan hanya untuk
mengurangi permasalahan ekonomi di Korea Utara, tapi juga untuk memoderatori
perubahan perilaku dan kebijakan Korea Utara terhadap dunia internasional. Upaya
peningkatan kerjasama ekonomi tersebut antara lain dilakukan melalui pembangunan
Kaesong Industrial Complex (KIC) dan melanjutkan pengenbangan Gunung Kumgang.
70

Melalui KIC, pemerintah Roh Moo-hyun terlibat salah satunya melalui pemberian
bantuan/insentif kepada perusahaan-perusahaan swata Korea Selatan yang beroperasi di
Kaesong yang bertujuan untuk merangsang para pemilik modal agar mau menanamkan
modalnya di KIC, dengan demikian maka akan turut mengembangkan KIC. Pemberian
insentif terhadap perusahaan Korea Selatan di KIC dilakukan dengan menggunakan
anggaran negara. Proyek KIC tersebut menunjukkan hasil seperti ketika pada tahun 2007,
sebanyak 65 perusahaan swasta milik Korea Selatan beroperasi di Kaesong dengan
mempekerjakan sebanyak 23,000 pekerja Korea Utara dan menghasilkan keuntungan
$185 juta dalam satu tahun.

KIC merupakan perusahaan bersama antara Korea Utara dengan Korea Selatan.
Menurut analisa penulis, KIC merupakan elemen yang mampu menjadi penengah dari
kedua Korea melalui pendekatan ekonomi dan perdagangan. KIC di satu sisi memberikan
keuntungan bagi Korea Selatan karena dengan memberikan modal serta teknologinya ke
KIC, perusahaan-perusahaan Korea Selatan dapat menekan biaya produksi seperti upah
pekerja dan sewa lahan. Di sisi lain, Korea Utara juga mendapatkan nilai ekonomis,
karena dengan beroperasinya KIC, tenaga kerja Korea Utara dapat terserap dan menekan
angka pengangguran di Korea Utara.Seperti yang dapat dilihat pada tabel III.B.1
(Halaman 53), bahwa jumlah tenaga kerja yang lebih banyak mengoperasikan persahaanperusahaan di KIC adalah berasal dari Korea Utara. Seperti data pada tahun 2007 yang
menyebutkan bahwa jumlah pekerja Korea Utara yang bekerja di KIC berjumlah 23,000
pekerja. Jumlah yang lebih besar daripada pekerja dari Korea Selatan yang hanya
berjumlah 800 pekerja.

71

Akan tetapi, menurut penulis, KIC pada masa pemerintahan Roh Moo-hyun
belum memiliki dasar hukum atau upaya membentuk dasar hukum yang kuat. Sehingga
pasca pemerintahannya, proses produksi di KIC terganggu dengan hubungan Korea
Selatan-Korea Utara yang belum stabil. Sehingga ketika terjadi ketegangan terutama
dalam hal militer atau senjata nuklir, perusahaan-perusahaan di KIC bisa tiba-tiba
dibekukan untuk beroperasi. Sehingga hal tersebut mengganggu produksi barang yang
juga berpengaruh pada kepercayaan pihak lain terhadap produksi barang dari KIC yang
dapat berhenti setiap saat. Upaya membentuk dasar hukum yang kuat di KIC muncul
baru-baru ini (September 2013) dimana Korea Selatan dan Korea Utara melakukan
perjanjian pembukaan kembali KIC (setelah ditutup sejak Maret 2013) dan sepakat untuk
melakukan upaya menarik invenstor asing untuk menanam modal di KIC. Bagi Korea
Selatan, upaya tersebut penting dilakukan agar memberkuat dasar hukum KIC, sehingga
Korea Utara tidak lagi dapat membekukan KIC secara sepihak.

Selain KIC, pemerintah Roh juga melakukan upaya revitalisasi Gunung Kumgang
yang terletak di Korea Utara, dan berbatasan langsung dengan Korea Selatan. Revitalisasi
yang dilakukan oleh pemerintah Roh Moo-hyun antara lain adalah dengan menyediakan
akses transportasi melalui jalan darat, dan menghapus jalur laut yang selama ini biasa
digunakan oleh warga Korea Selatan untuk menuju ke Gununng Kumgang. Revitalisasi
ini, menurut penulis, merupakan salah satu gerakan simbolis dari Korea Selatan untuk
melakukan pendekatan terhadap Korea Utara. Gunung Gumgang secara geografis berada
di perbatasan yang langsung dapat terhubung ke wilayah Korea Selatan. Disamping itu,
Gunung Kumgang juga merupakan salah satu tempat dilakukannya pertemuan kembali
keluarga yang terpisah, yang merupakan program antara Korea Selatan dengan Korea
72

Utara. Dengan demikian, adanya revitalisasi di Gunung Kumgang yang didukukung


pemerintahan Roh Moo-hyun merupakan simbol dari adanya keinginan dari Korea
Selatan untuk mempererat kembali hubungan kekeluargaanya dengan Korea Utara.

Revitalisasi Gunung Kumgang tersebut menurut penulis, memberikan dampak


positif bagi kedua belah pihak. Karena Korea Utara dapat terbantu dengan
meningkatkanya nilai jual Gunung Kumgang dapat menarik wisatawan (terutama yang
berasal dari Korea Selatan) untuk berkunjung. Peningkatan pengunjung tersebut dapat
merangsang pembangunan perekonomian masyarakat Korea Utara di sekitar Gunung
Kumgang dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat pendukung bagi wisatawan.
Sementara itu, bagi Korea Selatan, Gunung Kumgang dapat menjadi lokasi wisata
alternatif.

Disamping diplomasi yang dilakukan melalui ekonomi, pemerintah Roh Moohyun juga menerapak diplomasi sosial kebudayaan. Salah satunya adalah dengan
melanjutkan program pemerintah sebelumnya, yakni melakukan pertemuan kembali
keluarga yang terpisah. Hal tersebut, menurut pendapat penulis, selain ditujukan untuk
mempererat kembali jalinan keluarga yang sempat terpisah karena pembagian nasional
Korea, juga dimaksudkan untuk mempererat hubungan baik dengan Korea Utara melalui
tindakan kemanusiaan. Selain itu juga, pertemuan keluarga yang terpisah ditujukan untuk
memunculkan citra positif Korea Selatan bagi Korea Utara.

Dengan adanya program pertemuan kembali keluarga yang terpisah, menurut


penulis, Korea Selatan berupaya melakukan pendekatan secara kekeluargaan dengan
menunjukkan identitas mereka. Identitas yang penulis maksudkan disini adalah hubungan
73

Korea Utara dengan Korea selatan yang merujuk pada sejarah merupakan sebuah wilayah
yang satu, tempat dimana satu keluarga dulu bersatu. Namun karena adanya pembagian
kedua Korea tersebut, maka keluarga yang satu itupun harus terpisah. Sehingga program
pertemuan kembali keluarga yang terpisah ini, menurut penulis, merupakan pendekatan
historis yang berupa mengingatkan kembali baik kepada Korea Utara maupun dunia
internasional, bahwa kedua Korea berasal dari satu keluarga yang sama.

Selain melalui pertemuan kembali keluarga yang terpisah, indikasi penerapan


kebijakan pemerintah Roh Moo-hyun juga dapat dilihat melalui gerakan simbolik berupa
pawai yang dilakukan bersama ketika Olimpiade 2004 dan 2006. Menurut pedapat
penulis, gerakan simbolik berupa pawai bersama yang dilakukan kedua Korea
menunjukkan upaya kedua Korea yang pada saat itu sama-sama terlibat dalam olimpiade,
bahwa antara kedua Korea memiliki semangat persatuan kembali yang ditunjukkan
kepada dunia internasional melalui olimpiade dengan cara melakukan pawai bersama,
seolah mereka merupakan satu bangsa.

Selain kerjasama ekonomi, Pemerintah Roh Moo-hyun juga meningkatkan


bantuan ekonomi dan kemanusiaan terhadap Korea Utara sebagai instrumen penggerak
kebijakannya. Menurut Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani (2005:
81), bantuan luar negeri merupakan salah satu instrumen kebijakan yang sering
digunakan dalam hubungan luar negeri. Secara umum, bantuan luar negeri dapat
didefinisikan sebagai transfer sumber daya dari satu pemerintahan ke pemerintah lain
yang dapat berbentuk barang atau dana.

74

Berdasarkan teori ketergantungan (dependensia) yang dikonsepkan oleh Pearson,


Fredick S, dan Simon Payaslian (dalam Perwita dan Yani, 2005: 81- 82) menyatakan
bahwa bantuan luar negeri digunakan oleh negara kaya untuk mempengaruhi hubungan
domestik dan luar negeri negara penerima bantuan, merangkul elit politik lokal di negara
penerima bantuan untuk tujuan komersil dan keamanan nasional. Pemerintah Roh Moohyun meningkatkan pemberian bantuan ekonomi dan kemanusiaan terhadap Korea Utara
dengan tujuan untuk mengikatkan hubungan baik dengan Korea Utara dan secara
persuasif berupaya mengubah sikap agresif Korea Utara terkait isu nuklir dan keamanan
Semenanjung Korea.
Fakta yang penulis temukan dalam penelitian ini adalah bahwa pemberian
bantuan yang dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan kepada Korea Utara mengalami
peningkatan pada masa pemerintahan Roh Moo-hyun. Program pemberian bantuan
kepada Korea Utara untuk tujuan kemanusiaan sebenarnya sudah mulai dilakukan sejak
masa pemerintahan Kim Young Sam, kemudian dilanjutkan pada masa pemerintahan
Kim Dae-jung dan Roh Moo-hyun.
Bantuan yang diberikan kepada Korea Selatan berasal dari sektor swata maupun
pemerintahan. Namun sumber bantuan terbesar berasal dari pemerintah. Jumlah bantuan
yang diberikan oleh Pemerintah Roh Moo-hyun meningkat signifikan, sejak semula
$28,408 pada masa pemerintahan Kim Yong Sam dan $69,102 pada masa pemerintahan
Kim Dae Jung, menjadi $183,500 pada masa pemerintahan Roh Moo Hyun. Dari total
tersebut, sumber bantuan terbesar berasal dari pemerintah, yakni sebesar $140,253.

75

Govindasamy (2012: 7-8) menyebutkan bahwa pemberian bantuan yang diberikan


tersebut merupakan salah satu intrumen dalam the Policy of Peace and Prosperity.
Namun penulis berpendapat bahwa pemberian bantuan tersebut tidak efektif untuk
mencapai tujuan-tujuan dari the Policy of Peace and Prosperity meningkatkan
kepercayaan antar Korea, meningkatkan hubungan baik, serta meredam tensi politikmiliter antara kedua Korea. Hal tersebut dikarenakan pemberian bantuan yang dilakukan
bersifat fleksibel. Fleksibel dalam arti bahwa bantuan yang diberikan kepada Korea Utara
tidak perlu dibalas setara (dalam nominal), namun hanya perlu dibalas dengan menjaga
dan memperbaiki hubungan antar-Korea. (Govindasamy, 2012: 5).

Dengan penerapan seperti itu, menurut penulis, Korea Selatan seolah memberikan
bantuan kemanusiaan dengan nominal yang besar kepada Korea Utara secara cumacuma, karena Korea Utara tidak membalasnya dengan memperbaiki hubungan antarKorea. Hal tersebut ditunjukkan seperti misalnya dengan adanya krisis nuklir kedua pada
tahun 2006. Dengan kata lain, pemberian bantuan tersebut tidak memberikan keuntungan
yang signifikan bagi Korea Selatan. Berbeda dengan kebijakan lainnya seperti
mendorong pembangunan KIC dan revitalisasi Gunung Kumgang. Dalam kebijakan
tersebut,

Korea

Selatan

turut

bekerjasama

dengan

Korea

utara

dalam

mengembangkannya. Sehingga terjadi perputaran ekonomi yang pada akhirnya


memberikan timbal-balik secara ekonomis bagi kedua Korea.

Namun di sisi lain, penulis menilai bahwa sikap agresif yang ditunjukkan oleh
Korea Utara dengan melakukan aktivitas produksi dan percobaan senjata nuklirnya bukan
semerta-merta untuk mengancam korea Selatan, melainkan sebuah bentuk respon

76

terhadap tindakan sepihak Amerika Serikat. Hubungan Korea Utara-Amerika Serikat


mulai menunjukkan potensi ketegangan sejak awal terpilihnya George W Bush menjadi
pengganti Bill Clinton pada tahun 2001. Presiden Bush sempat ragu untuk melanjutkan
penerapan Agreed Framework 1994 dengan Korea Utara, sehingga ia dan
pemerintahannya sempat melakukan kajian komprehensif tentang kebijakannya terhadap
Korea Utara. Hingga pada 13 Juni 2001, Presiden Bush mengeluarkan pernyataan resmi
untuk melanjutkan Agreed Framework 1994 terhadap Korea Utara.

Namun kebijakan tersebut tidak berlangsung lama, karena Presiden Bush secara
sepihak menuding Korea Utara sebagai Axis of Evil pada pidato resmi tanggal 29 Januari
2002, karena menilai bahwa Korea Utara terindikasi memiliki senjata pemusnah massal.
Lebih lanjut Presiden Bush juga mengeluarkan pernyataan pada 14 November 2002
bahwa pengiriman kapal bantuan berisi bahan bakar minyak mentah dari Amerika Serikat
ke Korea Utara yang sebenarnya sudah tercantum dalam Agreed Framework 2014, akan
menjadi pengiriman terakhir jika Korea Utara tidak menghentikan produksi nuklirnya.

Korea Utara yang telah memenuhi aturan Agreed Framewok 1994 dengan
membekukan produksi reaktor nuklir serta mengijinkan adanya inspeksi rutin tim IAEA,
menyambut negatif tudingan sepihak yang dilontarkan Amerika Serikat. Sebagai respon
atas tudingan Amerika Serikat, pada akhir tahun 2002, Korea Utara mengusir tim
inspeksi IAEA dan membuang peralatan pengawasan milik IAEA.

Lebih lanjut, dengan adanya ancaman Amerika Serikat mengenai penghentian


bantuan bahan bakar minyak, Korea Utara kembali membuka fasilitas nuklirnya pada
akhir tahun 2002 dengan tujuan untuk pembangkit tenaga listrik, dan bukan membuat
77

senjata nuklir. Karena bantuan minyak mentah dari Amerika Serikat setiap tahunya sejak
pemberlakuan Agreed Framework 1994, digunakan oleh Korea Utara untuk energi
pembangkit tenaga listrik dan digunakan juga sebagai penghangat bagi masyarakat Korea
di musim dingin. Sehingga ketika Amerika Serikat menghentikan bantuan minyak, Korea
Utara membutuhkan energi lain untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.

Disamping itu, keluarnya Korea Utara dari keanggotaanya di NPT yang dilakukan
jelang pelantikan Roh Moo-hyun juga merupakan bentuk protes Korea Utara terhadap
sikap Amerika Serikat. Dengan keluarnya Korea Utara dari NPT membuat tidak adanya
jaminan mengenai keamanan nuklir di Semenanjung Korea. Hal tersebut turut berdampak
pada penerapan the Policy of Peace and Prosperity yang dijalankan oleh Roh Moo-hyun.

Sehingga, penulis sependapat dengan pernyataan Lim Dong-woon, salah satu


perancang utama Sunshine Policy (dikutip dari Moon, 2012: 79) yang secara terbuka
menyalahkan Presiden Bush dan pemikiran neo-konservatifnya atas perubahan yang
terjadi di Korea. Ia juga menyatakan bahwa sebutan Axis of Evil yang ditujukan oleh
Presiden Bush terhadap Korea Utara serta sikap Presiden Bush yang menunjukkan
keinginannya untuk menghancurkan rezim Korea Utara melalui serangan pre-emptive
yang juga membuat kejutan bagi masyarakat Korea Selatan.

Karena dengan ketegangan yang terjadi di Semenanjung Korea, Roh Moo-hyun


sulit untuk menerapkan prinsip kebijakannya, terutama untuk meningkatkan kepercayaan
antara kedua Korea.

78

Namun dalam menghadapi sikap Korea Utara, Presiden Roh Moo-hyun tetap
menjalankan prinsip-prinsip kebijakannya. Seung-chan Boo yang merupakan research
fellow di

Kim Dae-Jung Presidential Library, Yonsei University Korea Selatan

menyatakan bahwa Presiden Roh tetap menjalankan berbagai kerjasama dengan korea
Utara, termasuk juga mengirimkan bantuan (wawancara melalui surat elektronik (email)
pada 29 Mei 2013 terdapat pada lampiran I). Roh Moo-hyun juga terlibat aktif dengan
Korea Utara dalam melakukan dialog, termasuk di dalam Six Party Talks. Hal tersebut
sejalan dengan prinsip the Policy of Peace and Prosperity yang mengutamakan dialog
untuk mencari jalan keluar permasalahan nuklir di Semenanjung Korea.

Seung-chan Boo menyatakan bahwa pemerintahan Roh Moo-hyun menjalankan


the policy of peace and prosperity terhadap Korea Utara dengan menekankan pada
ketidaksetujuan atas senjata nuklir Korea Utara, resolusi damai atas masalah nuklir Korea
Utara, serta peran aktif dari pemerintah Korea Selatan. Pemerintah Roh Moo-hyun
memanfaatkan jalur dialog dalam penerapan kebijakannya tersebut, baik dialog bilateral
(the South-North dialogue) maupun dialog multilateral (Six-Party Talks).

Menurut Penulis, hubungan antar-Korea mencakup berbagai isu baik politik,


ekonomi, dan keamanan. Presiden Roh Moo-hyun menyadari kebutuhan peningkatan
akan isu-isu tersebut terhadap Korea Utara. Oleh karena itu, ia melakukan pendekatan
kembali antara dua Korea bergantung tidak hanya pada konteks politik dan ekonomi, tapi
juga pada kenyataan pada politik internasional dalam menerapkan kebijakannya. Prinsipprinsip kebijakannya menurut penulis mampu mengeliminir penggunaan nuklir di

79

Semenanjung Korea. Karena Roh Moo-hyun menggunakan cara-cara damai tanpa


konfrontasi senjata maupun militer.

Namun upaya Roh Moo-hyun tersebut terhambat dengan sikap Amerika Serikat
yang dipimpin oleh George W Bush. Presiden Bush kerap memberlakukan kebijakankebijakan maupun klaim sepihak terhadap Korea Utara yang memicu timbulnya
ketegangan di Semenanjung. Sehingga Roh Moo-hyun mengalami kesulitan dalam
mencapai tujuannya seperti mencari resolusi damai terhadap nuklir Korea Utara serta
membangun kepercayaan militer antara kedua belah pihak.

Roh Moo-hyun memiliki tiga tahap pembangunan hubungan dengan Korea Utara
berdasarkan kerangka kebijakannya. Menurut penulis, Roh Moo-hyun bisa dikatakan
behasil membangun dua tahap pertama, yakni melakukan upaya perdamaian dan
mengembangkan kerjasama ekonomi kedua belah pihak. Namun Roh Moo-hyun
kesulitan dalam menjalankan tahap ketiga, yakni meluncurkan rezim perdamaian di
Semenanjung Korea. Pasalnya, Roh Moo-hyun tidak berhasil mencari penyelesaian atas
perjanjian gencatan senjata tahun 1953 dan menggantinya dengan perjanjian damai.
Dengan demikian, Korea Selatan dan korea Utara secara resmi masih berada dalam
keadaan konflik.

Menurut Seung-chan Boo, isu antar Korea dapat dianalisa melalui berbagai
perspektif termasuk ideologi, politik, ekonomi dan kekuatan militer. Permasalahan utama
antara kedua Korea terletak pada perbedaan metodologi untuk membangun sistem
perdamaian di Semenanjung Korea.

80

Pasca perjanjian gencatan senjata, Korea Selatan dan Korea Utara menfokuskan
legitimasi keamanan pada masing-masing pemerintahan dan inisiatif dalam konteks
keamanan.
Seung Chan-boo menilai bahwafaktor utama yang juga menjadi penghambat atas
perdamaian sepenuhnya di Semenanjung Korea adalah karena kedua Korea memiliki cara
pandang yang berbeda mengenai penyelesaian masalah di Semenanjung Korea. Seung
Chan-boo menggambarkan perbedaan metodologi tersebut.
Bagi Korea Selatan terutama pada masa pemerintahan Kim Dae-jung dan Roh
Moo-hyun, tahapan penyelesaian permasalahan semenanjung Korea adalah sebagai
berikut: maintaining cease-fire enlarging exchange and cooperation confidence
building measures signing peace agreement US troop withdrawal building
permanent peace.
Sementara itu, bagi Korea Utara, tahapan penyelesaian masalah Semenanjung
Korea adalah sebagai berikut: abrogating cease-fire agreement signing North-US
peace agreement US troop withdrawal building permanent peace.
Perbedaan cara pandang tersebut itulah yang juga menjadi penghambat dan alasan
mengapa kebijakan Roh Moo-hyun tidak sepenuhnya dpaat mencapai tujuan yang
diharapkan.

81

BAB V
KESIMPULAN

The Policy of Peace and Prosperity yang diterapkan melalui beberapa


prinsip seperti menyelesaikan masalah melalui dialog, membangun kepercayaan satu
sama lain antara dua Korea, dan meningkatkan kerjasama internasional, dan yakni
pembagunan rezim perdamaian di Semenanjung Korea merupakan kebijakan yang
menyadari bahwa permasalahan Semenanjung Korea mencakup berbagai isu termasuk
ekonomi, politik dan keamanan. Roh Moo-hyun berhasil merangkumnya dalam
rumusan kebijakannya tersebut.

Penerapan kebijakan Roh Moo-hyun melalui instrumen kerjasama ekonomi


seperti melalui KIC dan Gunung Kumgang merupakan langkah yang tepat dan efektif.
Pasalnya, dalam kerjasama ekonomi tersebut, sekalipun belum memiliki landasan
yang sempurna, namun dapat mengikutsertakan Korea Utara untuk berperan dan
berpartisipasi di dalamnya. Selain itu, kerjasama ekonomi juga membawa keuntungan
secara ekonomis bagi kedua belah pihak.

Instrumen kebijakan yang diterapkan melalui program pertemuan kembali


keluarga terpisah dan berbagai gerakan simbolik cukup memberikan pengaruh bagi
pencitraan hubungan baik kedua Korea di mata internasional. Hal tersebut membawa
serta kesadaran nasional mengenai kesamaan identitas kedua Korea yang semula
berasal dari satu keluarga.

Namun penerapan kebijakan melalui pemberian bantuan kemanusiaan


merupakan instrumen yang kurang efektif untuk diterapkan. Pasalnya tidak ada aturan

82

yang jelas mengenai mekanisme timbal balik yang diterapkan oleh Korea Selatan.
Sehingga anggaran pemerintah yang merupakan sumber pendaan terbesar bagi
pemberian bantuan tersebut, tidak membawa perubahan yang cukup signifikan bagi
perbaikan hubungan kedua Korea. Akan lebih efektif jika anggaran tersebut
dialokasikan pada peningkatan pembangunan kerjasama ekonomi antara kedua Korea,
sehingga dapat menghasilkan keuntungan ekonomi lebih besar bagi kedua belah pihak
yang kemudian dapat berujung pada saling hubungan ketergantungan dalam bidang
ekonomi. Dengan meningkatnya hubungan saling ketergantungan ekonomi tersebut di
sisi lain akan mampu mengeliminasi potensi konflik dan penggunaan senjata di
Semenanjung Korea.

Akan tetapi, kebijakan pemberian bantuan tersebut juga patut diapresiasi


sebagai bentuk konsistensi Roh Moo-hyun dalam menjalankan kebijakan yang telah
dirumuskannya. Roh Moo-hyun bertahan dengan kebijakannya, sekalipun dalam
keadaan yang tidak menguntungkan bagi Korea Selatan.

Selain itu, kebijakan Roh Moo-hyun yang dilakukan dengan keterlibatannya di


Six Party Talks menunjukkan bahwa ia menerapkan prinsip kebijakannya dengan
baik, yakni melalui jalur dialog. Akan tetapi, Six Party Talks yang dijalankan pada
masa pemerintahan Roh Moo-hyun tidak menunjukkan perkembangan yang
signifikan dan berpengaruh bagi perbaikan hubungan kedua Korea.

Penerapan kebijakan Roh Moo-hyun tidak terlepas dari pengaruh faktor


eksternal. Dalam hal ini, Amerika Serikat ditempatkan pada posisi yang berpengaruh
dalam keberlangsungan hubungan Korea Selatan dan Korea Utara.

83

Memburuknya hubungan Korea Utara dengan Amerika Serikat yang


disebabkan oleh kebijakan serta berbagai tudingan sepihak yang dilontarkan oleh
Korea Utara. Dengan demikian, Amerika Serikat turut menjadi penyebab atas kurang
sempurnanya pencapaian yang diraih dari penerapan the Policy of Peace and
Prosperity. Disamping itu, Korea Selatan dan Korea Utara memiliki pandangan serta
metodologi yang berbeda mengenai tahapan menuju penyelesaian masalah
Semenanjung Korea. Hal tersebut dapat juga dikatakan sebagai salah satu penghambat
proses perdamaian seutuhnya di Semenanjung Korea.

84

Daftar Pustaka
1. Buku

Banyu Perwita, Anak Agung & Yanyan Mochamad Yani, 2005.


Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya

Baylis, John and Steve Smith. 2005. The Globalization of World Politics.
United States : Oxford University Press

Cahyo, Agus N. 2012. Perang-Perang Paling Fenomenal, Dari


KlasikSampai Modern. Yogyakarta: Bukubiru

Eby Hara Abubakar. 2011. Analisis Politik Luar Negeri. Bandung:


Nuansa.

Han, Ki-shik S.J. 2001. Understanding Korean Politics. USA: State


University of New York Press

Jakti, Kuntjoro. 1995.

Ekonomi Politik Internasional di Asia Pasifik.

Jakarta: Erlangga

Jemadu, Aleksius. 2008. Politik Global dalam Teori & Praktik.


Yogyakarta: Graha Ilmu.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat. 2008. Departemen


Pendidikan Nasional

Lew, Young Ick. 2000. Brief History of Korea; A Bird's Eye View. New
York: The Korea Society

xvi

Moon, Chung-In. 2012. The Sunshine Policy; In Defense of Engagement


as a Path to Peace in Korea. ROK: Yonsei University Press

Nahm, Andrew C. 1993. Introduction to Korean History and Culture,.


Seoul: Hollym International

Oberdorfer, Don. 2001. The Two Koreas: A Contemporary History. USA:


Basic Books

Pelayanan Kebudayaan dan Informasi Korea. 2008. Fakta-Fakta Tentang


Korea. Seoul, Republik Korea

Soong Hoom dan Chung-in Moon. 2001. Understanding Korean Politics;


an Introduction. USA: State University of New York Press
Yoon, Yung Seung dan MohtarMasoed. 2004.

Politik Luar Negeri

Korea Selatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Yukhoon, Kim. 2007. Korean History for International Citizens. Seoul:


Northeast Asia Foundation

Zhongying, Pang. 2009. The Six-Party Progress, Regional Security


Mechanism, and China-US Cooperation: Toward a Regional Security
Mechanism for a New Northeast Asia?. USA: The Brookings Institution

2. Jurnal

Armstrong, Charles K. Inter-Korean Relations in Historical Perspective.


Vol. 14, No. 2, 2005

xvii

Cha, Victor D, Rhee-straint: The Origins of the U.S.-ROK Alliance.


International Journal of Korean Studies Vol. XV, No. 1, 2011

Moon, Chung-in. The Sunshine Policy and the Korean Summit:


Assessment and Prospects. East Asia Review, Vol. 12, No. 4, Winter 2000

Creswell, J.W. Research Design: Qualitative & Quantitative Approaches.


London: SAGE Publications, 1994
Do-Hyeogn Cha.Challenges and Opportunities: The Participatory
Governments Policy Toward North Korea. East Asian Review. Vol. 16,
No. 2. Summer 2004

Govindasamy, Geetha. Kim Dae Jung and The Sunshine Policy: An


Appealing Policy Option for Inter-Korean Relations. Sarjana. Vol. 27. No.
1, June 2012

Henneka, Andreas. Reflections on Korean history and Its Impacts on the


US-North Korean Conflict. ISYP Journal on Science and World Affairs,
Vol. 2, No. 1, 2006

Haggars Stephan dan Marcus Noland. North Korea in 2007 Shuffling in


from the Cold. Asian Survey, Vol. XLVIII, No. 1, January/February 2008

Hosup Kim, Masyuki Tadokor dan Brian Bridges. Managing Another


North Korea Crisis: South Korean, Japanese, and US Approaches. Asian
Perspective, the Institute for Far Eastern Studies: Kyungnam University,
Seoul, Korea. Vol. 27 no. 3, 2003
In-duk, Kang. Toward Peace and Prosperity: The New Governments
North Korea Policy. East Asia Review, Vol. 15, No. 1, Spring 2003

xviii

Jae-nam, Ko. The Policy of Peace and Prosperity and South Korea-Russia
Cooperation. East Asian Review.Vol. 16, No. 3, Auntum 2004
Kim Choong Nam. The Roh Moo Hyun Governments Policy Toward
North Korea. International Journal of Korean Studies, Vol. IX,
Fall/Winter, No. 2005

Kim, Hong Nack. South-North Korean Relations Under The Roh MooHyun Government. International Journal of Korean Studies., Vol. X,
No.1, 2006
Kim, Hong Nack. The Lee Myung-Bak Governments North Korea Policy
And the Prospects for Inter-Korean Relations. International Journal of
Korean Studies. Vol. XII, No.1

Kyung-suk, Chae. The Future of the Sunshine Policy: Strategic for


Survival. East Asian Review, Vol. 14, No. 4, Winter 2002

Manyin, Mark E. and Nanto, Dick K. The Kaesong North-South Korean


Industrial Complex. USA: Congressional Research Service, 2011
Yoo, Chanyul. South Koreas Sunshine Policy Revisited. Korean Social
Science Journal, XXXI No. 2. 2004

3. Dokumen elektronik

The ministry of National Defense of the Republic of

Korea. 2003.

Participatory Government Defense Policy diunduh 27 April 2013


(merln.ndu.edu/whitepapers/SouthKorea2003main_eng.pdf)

xix

Inventory of International Nonproliferation Organizations and Regimes


Six Party Talks. Diunduh 29 Agustus 2013, Center for Nonproliferation
Studies
(cns.miis.edu/inventory/pdfs/6ptalks.pdf)

Agreed Framework of 21 October 1994


(www.iaea.org/Publications/Documents/Infcircs/.../infcirc457.pdf)

4. Internet
http://news.bbc.co.uk/2/hi/7317086.stm diakses pada 25 Juni 2012
http://www.koreafocus.or.kr diakses pada 25 Februari 2013
http://www.ncnk.org/resources/briefing-papers/all-briefing-papers/mt.kumgang-and-inter-korean-relations diakses pada 20 Juli 2013
http://globalasia.org/articles/issue4/iss4_8.html diakses pada 2 Agustus
2013

xx

Lampiran I
Narasumber

: Seung-chan Boo

Jabatan

: Research Fellow with Kim Dae-Jung Presidential Library & Museum


in Yonsei University

Waktu Wawancara

: 29 Mei 2013

Keterangan

: Wawancara dilakukan melalui surat elektronik (email). Penulis


terlebih dahulu menghubungi profesor ilmu politik Yonsei University,
Chung-in Moon dengan alamat email cimoon@yonsei.ac.kr untuk
mengajukan wawancara dan kemudian disetujui oleh Profesor Chungin Moon. Namun karena kesibukannya, wawancara dialihkan oleh
Profesor Chung-in Moon ke Seung-chan Boo dengan alamat email
baramy1001@naver.com.

HASIL WAWANCARA
1. Q: In continuing the policy of his predecessor (Sunshine Policy under Kim Dae-jung
administration), would you please tell me, what are the barriers and the challenging
that faced by the Roh Moo-hyun administration at the beginning of his reign? Is the
changing of international condition, such as the aggressiveness of US government
policy toward DPRK under President George W. Bush influenced the application of
that policy?

A: The impediments Roh Moo-hyun administration faced can be divided into national
and international factors. Nationally Roh administration faced South-South conflict
that was triggered by Kim-Dae-jung administrations Sunshine Policy and the
controversy over compensation of the inter-Korean summit and over-policization of
policy toward North Korea. Internationally, motive for continuing Sunshine Policy
was considerably weakened as President Bush indicated North Korea as a rogue
state, an axis of evil along with Iraq and Iran. Especially on October 2002 the
xxi

second nuclear crisis broke out, on December of the same year North Korea
demanded monitoring system on Yongbyon facilities be removed and on January
2003 unilaterally declared withdrawal from NPT. These all contributed to unfolding
worst conditions for US-north Korea relationships as well as inter-Korean
relationships.

2. Q: In addition to diplomacy, foreign aid, and cooperation, what are the instrument
used by the Roh Moo-hyuns administration in implementing the Policy of Peace and
Prosperity? How those instruments applied in inter-Korean relations?

A: Roh Administration, in carrying policy of peace and prosperity toward North,


emphasized disapproval of North Korean nuclear arms, peaceful resolution of nuclear
issues and an active role of South Korean Government. Roh Administration made use
of both bilateral (the South-North dialogue) and multilateral (six-party talks)
diplomatic channels. Also, while participating in United Nations Security Council
Resolution on North Korea, Roh Administration tried to solve nuclear issues
peacefully through dialogue.

3. Q: Generally, I am curious, actually how did ROK Societys response to President


Roh Moo-hyuns policy toward DPRK compared to the Kim Dae-jungs policy at that
time?

A: Roh Administration faced poor conditions for policy toward North Korea as did
Kim Dae-jung administration. Both of them saw ideological conflicts within Korea
and rampant discords. Conservative civil society and political powers disparaged
xxii

economic exchange and humanitarian assistance for North as giving too much.
Especially Roh Administration had to suffer more criticism and distrust than Kim
Administration did as concerns for the first nuclear test and North Koreas human
rights issues rose.

4. Q: How did the Roh Moo-hyuns administration respond -through the Policy of Peace
and Prosperity- in the face of DPRKs aggressiveness through DPRKs nuclear crisis
in 2003 & 2006?

A: Roh Administration, through three inter-Korean ministerial-level talks in 2003,


urged North Korea to engage in dialogues, emphasizing the necessity of multi-lateral
talks to solve nuclear issues. This contributed to Beijing trialogue in April 2003, the
first Six-Party Talks in August 2003 and the second six-party talk in February 2004 to
be held. In May 2003 Roh Administration, thorough Korea-US summit, drew
consensus of solving North Korean nuclear issues with USA and paralleling interKorean relations. In the third Six-Party Talk in June 2004, South Korea demanded
North Korea dismantle all the nuclear programs transparently and thoroughly under
international verification. USA and Japan joined South Korea, demanding transparent
and thorough dismantling nuclear weapons program.
North Korean nuclear test of 9th October, 2006 greatly aggravated
circumstances inside Korean Peninsula. South Korean government made it clear that
it will never put up with any nuclear test and that it will respect United
Nations Security Council Resolution 1718. Yet, after the nuclear test, South Korean
government endeavored continuously to effectively solve nuclear problems by
reopening Six-Party Talks and contacting with members of Six-Party Talks. Later in
xxiii

February 2007 members of Six-Party Talks drew 2.13 nuclear agreements as initial
actions for fulfilling September agreement.

5. Q: In the application of the policy, Roh Moo-hyun sought to put the inter-Korean
policy, regional policy, and ROK-US alliances in one basket.

How did these

policies influence the relationship between two Korea, especially during the period of
2003 to 2008?

A: Roh Administrations 5-year-policies toward North Korea greatly contributed to


peace in Korean Peninsula. Even in the time of the second nuclear crisis, Roh
Administration proceeded with the policy of peace and prosperity, regularizing interKorean talks and advancing inter-Korean exchange and cooperation, which finally led
to the second inter-Korean summit.
Particularly nongovernmental interchange and economic cooperation saw
active advancement, establishing foundations for institutionalization of separated
families. In 2003 temporary rail links on the east and west were constructed and in
2004 passing through land route kicked into high gear. Inter-Korean economic
cooperation steadily expanded with Kaesong Industrial Complex and tours to Mount
Kumgang.
Roh Administration, regarding security concerns such as US troop reduction
and withdrawl, saw condition changes which necessitated alliance reestablishment
from a new perspective. Roh Administration put forth a new perspective in regard to
alliance reestablishment: cooperative self-reliant defense that emphasized Korean
military capabilities and power restoration along with national defense reorganization.
This was in search for relieving the reduction of the US Forces in Korea, national
xxiv

security vacuum and anxiety that were likely to follow Global Defense Posture
Review and wartime operational control transfer. Under these difficulties, despite
both domestic and international controversies, Roh Administration sent troops to Iraq
for political considerations for US-Korean alliance and national interests from
participating in the restoration project.

6. Q: In addition to Second Korean Summit, Mt. Kumgang tourism project, and


development of Kaesong Industrial Complex, what the achievement of the Roh Moohyuns policy? How did they influence the reunification progress of two Korea?

A: First, deciding to regularly hold the South-North dialogues such as high-level


talks, inter-Korean military talks and the South-North Red Cross talks, motives for
inter-Korean relationships development were made possible even in the face of
Korean Peninsula crisis.
Second, humanitarian assistance for North Korea was expanded. Humanitarian
assistance for North Korea included policies for improving quality of life in
agriculture, health and medical treatment and vulnerable social group, helping North
Korean defectors settle down and improving North Koreans human rights.
Third, separated families faced improvements both in quality and quantity.
Interchange between private sectors as well as government made active progress.

7. Q: How did the role of Six Party Talks in advance of the Policy of Peace and
Prosperitys implementation?

xxv

A: China introduced itself as a mediator after the second nuclear issue and the Three
Party Talks between South Korea, North Korea and the USA were held in Beijing,
April 2003. The talks, however, produced no fruits other than confirming each others
intentions. Three Party Talks turned to Six-Party Talks including North Korea, South
Korea and four surrounding powerful nations. These nations tried to solve problems
by discussing and consulting with each other. Accordingly, starting with the first SixParty Salks, six times of six party talks were held in times of Roh Government. The
fourth six party talks produced 9.19 joint declarations with 6 provisions including
principle of denuclearization of the Korean peninsula which provided a fundamental
base for solving North Korean nuclear issues. In 2007 2.13 nuclear agreements
provided a clue for solving North Korean nuclear issues.
8. Q: Refer to your point of view, what are your criticism to the ROKs policy toward
the DPRK, both in the Kim Dae-jung and the Roh Moo-huns administrations? And
how do you respond about the Sunshine Policy (and also the Policy of Peace and
Prosperity) that in some writings questionable on effectiveness and even blamed for a
failed policy?

A: President Roh Moo-hyun, tried to carry forward the engagement policy towards
North Korea in the midst of citizens agreements and participations. However,
challenged by the conservatives which resulted in South-South conflicts, the policy
met with serious difficulties. The conservatives argued that, as North Korea tried
developing nuclear weapons for their own safety and thus threatening the peace of
Korean peninsula, the engagement policy showed its limitations in persuading North
Korea which enlarged controversy over giving too much. Also, they criticized that
xxvi

as humanitarian assistance was intermittently suspended, North Koreans food


shortage and financial difficulties were enlarged and made North Korea continue
military adventurism.

9. Q: In your opinion, what are, actually, the main problems between two Korea,
looking back from the history and the current issue? Why it seemed so hard to make a
peace in the Peninsula? What are the constraints? What it takes to make Korean
Unification become real?

A: While inter-Korean issues can be analyzed from a variety of perspectives including


ideology, politics, economy and military powers, the core to the issue lies in the
difference of methodology for peace system of Korean peninsula. After the cease-fire
agreement, North and South Korea have focused on securing legitimacy of each
government and taking the initiative in terms of power. While Kim and Roh
government brought in stages of maintaining cease-fire enlarging exchange and
cooperation confidence building measures signing peace agreement US
troop withdrawal building permanent peace, North Korea insisted in stages of
abrogating cease-fire agreement signing North-US peace agreement US
troop withdrawal building permanent peace. The difference found in this term
cannot be narrowed down unless nuclear issues are solved. The perceived gap, yet,
drew the fruits for reaching for the nexus however insignificant. Inter-Korean
relationships faced the worst as events like North Korea's attack on the Cheonan and
Yeonpyeong Island, missile and long-range rocket launches and the second, third
nuclear tests broke out. Therefore, taking a lesson from Kim and Rohs policies
xxvii

toward North, strong response to North Koreas provocations and continued exchange
and cooperation are necessary for peace to settle in Korean peninsula. Of course,
governmental endeavors to solve South-South conflicts should precede to carry those
policies.

10. Q: On last wednesday (10/04/13), I attend to the festival of Kim Il Sung flower in
Jakarta, Indonesia. I met DPRKs ambassador for Indonesia, Ri Jong Ryul. Related to
ROK-DPRKs issue, he said that, "We (DPRK) actually want peace, we do not want
war. But we are also not afraid of war. Refer to his statement, I can conclude that
actually, in DPRKs point of view, they want to make a peace in Peninsula. Then, I
am curious about your opinion, how does the ROKs point of view toward making
peace with DPRK? Are they feel the same?

A: South Korea and North Korea both agree to establish a peace regime on the
Korean Peninsula. However, due to different political systems and national power
gap, they are of different opinions in terms of approach. As Lee Myung-bak
governments policies showed, North Korea, due to these recent circumstances, is
threatened of reunification through absorption. Hence, Korean government should
help North Korea to relieve the anxiety and enter into reform an open-door policy.
Only in that way is easier the peace establishment. There is no discussion over peace
regime on the Korean Peninsula at present. North and South are making a trial of
strength and burning energy out. Other than multi-lateral talks like Six Party Talks,
resolution of nuclear issues is hard to find. Korean government should not be too
subordinate to North Korean nuclear issues, but continue private humanitarian

xxviii

assistance to build inter-Korean trust and endeavor to build structural basis for interKorean exchange and cooperation.
Q: Question/pertanyaan

xxix

A: Answer/jawaban

INF
INFCIRC/457
2 November 1994

International Atomic Energy Agency

INFORMATION CIRCULAR

GENERAL Distr.
Original: ENGLISH

AGREED FRAMEWORK OF 21 OCTOBER 1994


BETWEEN THE UNITED STATES OF AMERCIA
AND THE DEMOCRATIC PEOPLES REPUBLIC OF KOREA

The attached text of the Agreed Framework between the United States of America
and the Democratic Peoples Republic of Korea, signed in Geneva on 21 October 1994, is
being circulated to all Member States of the Agency at the request of the Resident
Representative of the United States of America.

94-04871

INFCIRC/457
Attachment

AGREED FRAMEWORK BETWEEN


THE UNITED STATES OF AMERICA AND
T H E D E M O C R A T I C P E O P LE ' S R E P U B L I C O F K O R E A
GENEVA, OCTOBER 21, 1994
Delegations of the Governments of the United States of
America (U.S.) and the Democratic People's Repub lic of Korea
(DPRK) held talks in Geneva from September 23 to October 21,
1994, to negotiate an overall resolution of the nuclear issue
on the Korean Peninsula.
Both sides reaffirmed the importance of attaining the
objectives contained in the August 12, 1994 agreed statement
between the U.S. and the DPRK and upholding the principles of
the June 11, 1993 joint statement of the U.S. and the DPRK to
achieve peace and security on a nuclear- free Korean Peninsula.
The U.S. and DPRK decided to take the following actions for the
resolution of the nuclear issue:
I.
Both sides will cooperate to replace the DPRK's
graphite- moderated reactors and related facilities with
light - water reactor (LWR) power plants.
1)

In accordance with the October 20, 1994 letter of


assurance from the U.S. President, the U.S. will
undertake to make arrangements for the provision to
the DPRK of a LWR project with a total generating
capacity of approximately 2,000 MW(E) by a target
date of 2003.
--

The U.S. will organize under its leadership an


international consortium to finance and supply
the LWR project to be provided to the DPRK.
The U.S., representing the international
consortium, will serve as the principal point
of contact with the DPRK for the LWR project.

--

The U.S., representing the consortium, will


make best efforts to secure the conclusion of
a supply contract with the DPRK within six
months of the date of this document for the provision
of the LWR project. Contract talks
will begin as soon as possible after the date
of this document.

--

As necessary, the U.S. and the DPRK will


conclude a bilateral agreement for cooperation
in the field of peaceful uses of nuclear
energy.

- 2-

2)

3)

I n a c c o r d a n c e w i t h t h e O c t o b e r 2 0 , 1 99 4 l e t t e r o f
assurance from the U.S. President, the U.S.,
representing the consortium, will make arrangements
to offset the energy foregone due to the freeze of
the DPRK's graphite- moderated reactors and related
facilities, pending completion of the first LWR unit.
--

Alternative energy will be provided in the


form of heavy oil for heating and electricity
production.

--

Deliveries of heavy
three months of the
will reach a rate of
accordance with an

oil will begin within


date of this document and
500,000 tons annually, in
agreed schedule of deliveries.

Upon receipt of U.S. assurances for the provision of


LWR's and for arrangements for interim energy
alternatives, the DPRK will freeze its
graphite- moderated reactors and related facilities
and will eventually dismantle these reactors and
related facilities.
--

The freeze on the DPRK's graphite- moderated


reactors and related facilities will be fully
implemented within one month of the date of
t h is d o c u m e n t . D u r i n g t h i s o n e - m o n t h p e r i o d ,
and throughout the freeze, the International
Atomic Energy Agency (IAEA) will be allowed to
monitor this freeze, and the DPRK will provide
full cooperation to the IAEA for this purpose.

--

Disma ntlement of the DPRK's graphite- moderated


reactors and related facilities will be
completed when the LWR project is completed.

--

The U.S. and DPRK will cooperate in finding a


method to store safely the spent fuel from the
5 MW(E) experimental reactor during the
construction of the LWR project, and to
dispose of the fuel in a safe manner that does
not involve reprocessing in the DPRK.

- 3-

4)

II.

As soon as possible after the date of this document,


U.S. and DPRK experts will hold two sets of experts
talks.
--

At one set of talks, experts will discuss


issues related to alternative energy and the
replacement of the graphite- moderated reactor
program with the LWR project.

--

At the other set of talks, experts will


discuss specific arrangements for spent fuel
storage and ultimate disposition.

The two sides will move toward full normalization of


political and economic relations.
1)

Within three months of the date of this document,


b o t h s id e s w i l l r e d u c e b a r r i e r s t o t r a d e a n d
investment, including restrictions on
telecommunications services and financial
transactions.

2)

Each side will open a liaison office in the other's


capital following resolution of consular and other
t e c h n ic a l i s s u e s t h r o u g h e x p e r t l e v e l d i s c u s s i o n s .

3)

As progress is made on issues of concern to each


side, the U.S. and DPRK will upgrade bilateral
relations to the ambassadorial level.

III. Both sides will work together for peace and security on
a n u c le a r - f r e e K o r e a n P e n i n s u l a .
1)

The U.S. will provide formal assurances to the DPRK,


against the threat or use of nuclear weapons by the
U.S.

2)

The DPRK will consistently take steps to implement


t h e N o r t h- S o u t h J o i n t D e c l a r a t i o n o n t h e
Denuclear ization of the Korean Peninsula.

3)

T h e D P R K w i l l e n g a g e i n N o r t h- S o u t h d i a l o g u e , a s
this agreed framework will help create an atmosphere
that promotes such dialogue.

- 4-

IV. Both sides will work together to strengthen the


i n t e r n a t i o n a l n u c l e a r n o n- p r o l i f e r a t i o n r e g i m e .
1)

The DPRK will remain a party to the Treaty on


t h e N o n- P r o l i f e r a t i o n o f N u c l e a r W e a p o n s ( N P T ) a n d w i l l
allow implementation of its Safeguards Agreement
under the Treaty.

2)

U p o n c o n c l u s i o n o f t h e s u p p l y c o n t r a c t f o r t he
provision of the LWR project, ad hoc and routine
inspections will resume under the DPRK's Safeguards
Agreement with the IAEA with respect to the
facilities not subject to the freeze. Pending
conclusion of the supply contract, inspections
r e q ui r e d b y t h e I A E A f o r t h e c o n t i n u i t y o f
safeguards will continue at the facilities not
subject to the freeze.

3)

When a significant portion of the LWR project is


completed, but before delivery of key nuclear
components, the DPRK will come into full compliance
with its Safeguards Agreement with the IAEA
(INFCIRC/403), including taking all steps that may
be deemed necessary by the IAEA, following
consultations with the Agency with regard to
verifying the accuracy and completeness of the
DPRK's initial report on all nuclear material in the
DPRK.

____________________
Kang Sok Ju

____________________
Robert L. Gallucci

Head of the Delegation


of the Democratic
People's Repub lic of
Korea, First Vice- Minister
of Foreign Affairs of the
Democratic People's
Republic of Korea

Head of the Delegation


of United States of America,
Ambassador at Large of the
United States of America

SIX-PARTY TALKS

SIX-PARTY TALKS
Initiated: 27 August 2003
Participants: China, Democratic Peoples Republic
of Korea (DPRK), Japan, Russian Federation,
Republic of Korea (ROK), and the United States.

Background:
The goal of the Six-Party Talks is to identify a course
of action to bring security and stability to the Korean
Peninsula. The main issue that the talks address is the
DPRKs nuclear weapons program. The Six-Party
Talks began in 2003, shortly after the DPRK
announced its intention to withdraw from the Treaty
on the Non-proliferation of Nuclear Weapons (NPT).
The United States requested the participation of
China, Japan, South Korea, and Russia due to the
DPRKs breaches of the bilateral Agreed Framework
of 1994. Talks have taken place in Beijing, China.

Participants:
China: China, the DPRKs main trading partner, has
provided Pyongyang with an enormous amount of
humanitarian and energy assistance. Because of this
relationship, China plays a vital role in acting as a
mediator for the Six-Party Talks. China has an
interest in preserving stability in the DPRK due to the
large number of refugees it would receive if tensions
rose. Regional stability is also needed to ensure
Chinas continued economic growth.
DPRK: The leadership of the DPRK has made it
clear that it believes its nuclear weapons program
provides vital national security benefits. Energy
production is also one of the primary concerns of the
DPRK leadership. The DPRK economy is weak, and
the nation has suffered multiple famines in recent
years that have killed large numbers of its citizens.
Within the Six-Party Talks, the leaders of the DPRK
seek to gain security, energy, and economic benefits.
Japan: Japan believes that the DPRKs nuclear
weapons program directly threatens its national
security. Besides seeking the denuclearization of the
Korean Peninsula, Japan wishes to address other
issues in the Six-Party Talks, such as the abduction of
Japanese citizens by the DPRK government.

Russian Federation: Russia exerts less influence on


the DPRK than China, as Russian trade with the
DPRK has hit historic lows in recent years. Due to a
shared border, Russia is also concerned about the
flow of refugees that would occur in the event of a
conflict. Russia wishes to see the DPRKs nuclear
weapons program dismantled in order to prevent the
proliferation of nuclear materials and technology to
both state and non-state actors.
Republic of Korea: In 1953 the United States,
China, and the DPRK reached an armistice that ended
the fighting of the Korean War. This agreement was
not signed by South Korean President Syngman
Rhee; therefore, the two Koreas technically remain at
war. South Korea is interested in seeing the DPRK
dismantle its nuclear weapons program as it poses a
direct security threat to peace and security on the
Korean Peninsula. Due to a change in policy towards
the DPRK that occurred in the late 1990s with the
Sunshine Policy, which aimed at promoting
reunification, another one of South Koreas main
goals within the Six-Party Talks is to create a
political atmosphere in which reunification of the two
nations can be achieved.
United States: The United States wishes to see the
DPRK nuclear weapons program dismantled in order
to prevent the proliferation of nuclear technology and
materials to both state and non-state actors. The
United States is committed to defend South Korea in
accordance with the Mutual Security Agreement
signed in 1953. The United States has approximately
37,000 troops stationed in South Korea.

Developments:
For related information, see sections on Joint
Declaration of South and North Korea, KEDO, and
IAEA
2012: On 23 February, talks between the United
States and North Korea resumed in Beijing. The
DPRK agreed to halt their nuclear tests, long-range
missile launches and enrichment activities at
Yongbyon nuclear complex. In addition, they
promised to allow IAEA inspectors to monitor the
moratorium on uranium enrichment at the complex.
In return, the United States pledged to resume

Inventory of International Nonproliferation Organizations and Regimes


Center for Nonproliferation Studies
Last updated: 05/24/2012

SP-1

SIX-PARTY TALKS
240,000 metric-tons of food aid. The agreement was
known informally as the Leap day agreement.
In commemoration of the late president Kim IlSungs 100th birthday, North Korea launched the
Kwangmyongsong-3 satellite on April 6, which failed
to reach orbit. The United States and South Korea
viewed the act as a test of missile technology and
suspended food aid to the DPRK. The United States
has since been meeting with other Six-Party members
including ROK and Japan individually regarding a
peaceful solution to the issue.
On May 3 during the first preparatory meeting for the
2015 NPT Review Conference in Vienna, the five
permanent members of the UN Security Council
issued a joint statement strongly urging the DPRK to
fulfill its commitments under the 2005 Joint
Statement of the Six-Party Talks, and to fully comply
with the obligations under UN Security Council
Resolutions 1718 and 1874, including abandoning all
its nuclear weapons and existing nuclear programs
and immediately ceasing all related activities.
On May 22, North Korea vowed to move ahead with
its nuclear program and take self-defense measures
to protect itself from U.S. hostility regarding its
satellite launch in April. There is concern among the
Six-Party members that a nuclear test could follow
shortly, as it has in the case of past rocket/satellite
launches. In response, U.S. Special Envoy Glyn
Davies emphasized the need for sanctions against the
DPRK during meetings with Chinese officials in
Beijing. Despite statements by North Korea that it
does not intend to test a nuclear device, satellite
images indicate construction at rocket launch sites is
progressing rapidly.
2011: Despite threats from North Korea, the United
States and South Korea started their annual joint
military exercises on February 28. The exercises,
designed to test force preparedness for a conflict with
North Korea, were described by both parties as
defensive in nature but were viewed by the DPRK
as acts of aggression. They will continue through 30
April.
On March 15, North Korea indicated to Russia its
willingness to return to the Six-Party Talks if they
were resumed unconditionally. Russia responded the
next day indicating its readiness to restart the SixParty Talks.
Also on March 15 the G8 Foreign Ministers
condemned DPRKs continued violation of UN
Security Council Resolutions 1718 and 1874
following DPRKs disclosure of uranium enrichment
activities.

On 17 March, South Korea rejected North Korean


proposals to return to the Six-Party Talks to discuss
its uranium enrichment capabilities. The South
Korean Foreign Minister Kim Sung-hwan said that
the DPRK must show its commitment to
disarmament not just in words but also in action,
demanding disarmament steps taken by the DPRK
before resuming negotiations.
On July 22, nuclear negotiators from South Korea
and the DPRK met on the sidelines of the ASEAN
Regional Forum in Bali. The meeting represented the
first direct engagement between the two countries
since 2008. After the meeting, both sides confirmed
that they were prepared to undertake efforts to restart
Six-Party Talks.
U.S. Secretary of State Hillary Clinton, who attended
the ASEAN Regional Forum, declared that the
United States was encouraged by the dialogue
between the North and South, but that the DPRK
must undergo a change in behavior before talks can
be resumed. Clinton then met with Japanese Foreign
Minister Takeaki Matsumoto and South Korean
Foreign Minister Kim Sung-hwan. Following the
meeting, they issued a trilateral statement declaring
that talks between the two Koreas must be a
sustained process and that Six-Party dialogue would
not resume until the DPRK displayed a sincere
effort to reconcile with South Korea. On the last day
of the Bali forum, Clinton invited Kim Kye Gwan,
North Koreas vice foreign minister and former chief
nuclear envoy, to New York for exploratory talks
on the resumption of Six-Party dialogue.
On July 28 and 29, the U.S. Special Envoy to North
Korea, Stephen Bosworth, met with North Korean
First Vice Minister Kim Kye Gwan in New York to
discuss the possibility of a resumption of Six-Party
Talks. Following their meetings, Kim stated, I am
satisfied with talks this time, and expressed North
Koreas intention to continue dialogue in the future.
Kim specifically called for more bilateral talks to
precede a resumption of Six-Party negotiations. On
August 10, South Korea's top security advisor, Chun
Young-woo, arrived in the United States for three
days of meetings with top U.S. officials to discuss
recent developments surrounding the possible
resumption of Six-Party Talks.
On August 24, Kim Jong-Il met with Russian
President Dimitry Medvedev to discuss the possible
resumption of Six-Party Talks. The North Korean
leader declared that he would be willing to return to
talks without preconditions and to negotiate a
moratorium on the production and testing of nuclear
weapons once the talks had resumed. Kim Jong-Il

Inventory of International Nonproliferation Organizations and Regimes


Center for Nonproliferation Studies
Last updated: 05/24/2012

SP-2

SIX-PARTY TALKS
and Medvedev also discussed a range of joint energy
and infrastructure projects, and Russia pledged to
provide the DPRK with 50,000 tons of wheat.
South Korea and the United States responded
skeptically to Kim Jong-Ils statements, and both
called for the DPRK to take meaningful, tangible
steps toward denuclearization before Six-Party talks
could resume.
On September 27, DPRK Deputy Foreign Minister
Pak Kil Yon stated at the United Nations, that the
DPRK was ready for an unconditional resumption
of Six-Party Talks. Pak Kil Yon also called for
mechanisms that will make Security Council
Resolutions related to peace and security (i.e.
sanctions and use of force), subject to United Nations
General Assembly approval.
On 19 December, North Korea announced that Kim
Jong-Il died.
2010: On 11 January, DPRK Foreign Minister Paek
Nam Sun stated that the formation of a peace treaty
with the United States was a precondition for his
countrys return to the Six-Party Talks.
On 4 February, Kurt Campbell, U.S. Assistant
Secretary of State for East Asian and Pacific Affairs
responded by announcing that United States would
continue to hold the DPRKs return to the Six-Party
Talks as an essential precondition to discussing a
peace treaty or lifting any sanctions imposed by the
United Nations.
On 26 March, a South Korean warship, the Cheonan,
sank after coming into contact with a torpedo, killing
46 soldiers. In May, South Korea formally accused
DPRK of launching a torpedo against its warship, but
North Korea denied having any involvement in the
explosion. South Korean officials stated they would
not resume Six-Party Talks until the Cheonan
incident was resolved and an official policy response
from North Korea was given.
On 22 April, Russian Foreign Minister Sergei Lavrov
called for a reconvening of Six-Party Talks, after
DPRK announced it would not eliminate its nuclear
weapons program, but instead wanted to work with
other nuclear weapons states in their
nonproliferation efforts.
On 27 August, North Koreas Kim Jong-Il met with
Chinese President Hu Jintao in an attempt by China
to re-engage North Korea in Six-Party Talks. During
the meeting Kim Jong-Il expressed hope for the
early resumption of the talks.

On November 8, IAEA Director General Yukiya


Amano called on Six-Party countries to resume talks
at an appropriate time. However, South Korean
military exercises near a disputed sea border
prompted DPRK to shell South Korean Yeonpyeong
Island on November 23. Artillery fire was exchanged
amidst international fears of further attacks and
military escalation.
On November 28, China called for emergency talks
with the Six-Party nations in an attempt to ease
tensions on the Korean peninsula and strengthen
communication among the Six-Party members.
Although China stated that emergency consultations
do not mean a resumption of Six-Party Talks, the
idea was negatively received by South Korea, Japan,
and the United States who felt the timing was not
right for talks and that DPRK needed to fulfill its
disarmament obligations before Six-Party talks could
resume.
In that same month, North Korea unveiled its secret
2,000 centrifuge uranium enrichment facility at the
Yongbyon complex. North Korea stated that the
facility would produce LEU for a light-water reactor
under construction in the same complex. However,
the plant can also be converted to produce HEU for
nuclear weapons.
After returning from an unofficial visit to North
Korea on December 20, New Mexico Governor Bill
Richardson announced that DPRK agreed to allow
IAEA inspectors into its enrichment facility to verify
that it is not producing HEU. Both the United States
and South Korea expressed skepticism about the
offer, while China called on North Korea to follow
through and accept an inspection.
In his annual New Years message, South Korea
President Lee Myung-bak called for a revival of SixParty Talks with North Korea in an attempt to ease
tensions on the peninsula and reopen diplomatic
channels.
2009: On April 5, 2009, the DPRK attempted to
place a satellite into orbit with a 3-stage Taepodong-2
missile. The DPRK attempted unsuccessfully to
launch the same missile in 2006. During the 2009
test, stage one of the missile fell into the Sea of Japan
while the remaining stages along with the payload
landed in the Pacific Ocean. This missile test was
widely condemned by the international community
and was recognized as a violation of United Nations
Resolutions 1695 and 1718.
On 13 April, members of the United Nations Security
Council unanimously adopted a presidential
statement condemning the rocket launch as a

Inventory of International Nonproliferation Organizations and Regimes


Center for Nonproliferation Studies
Last updated: 05/24/2012

SP-3

SIX-PARTY TALKS
violation of United Nations Security Council
Resolution 1718. The statement demanded that the
DPRK not conduct any additional launches. It also
established a committee to determine whether an
adjustment of sanctions would be possible. This
statement was drafted after the permanent members
of the Security Council failed to agree on a new
resolution that included sanctions.
In response to the Security Council statement, on
April 14, the DPRK announced its withdrawal from
the Six-Party Talks and its intention to restore the
nuclear facilities that had been shut down under the
disablement process. On the same day, the DPRKs
state-run Korean Central News Agency reported:
The DPRK threatened to conduct a nuclear test and
more ballistic missile tests if the United Nations
Security Council does not apologize to the DPRK
and withdraw its condemnation of Pyongyangs
rocket launch earlier this month.
On May 25, the DPRK conducted an underground
nuclear test about 70 kilometers northwest of
Kimchaek, the site of the 2006 underground nuclear
test. The international community, including all five
permanent members of the United Nations Security
Council, strongly condemned this act.
On June 12, the United Nations Security Council
unanimously adopted Resolution 1874. This
resolution imposed further economic and commercial
sanctions on the DPRK and authorized UN Member
States to interdict and search DPRK vessels for
prohibited cargo. The resolution also called upon the
DPRK to retract its announced withdrawal from the
NPT and return to the Six-Party Talks.
In September, DPRK leader Kim Jong-Il was quoted
by Chinas Xinhua news agency as saying that he
would be open to bilateral talks with the United
States in order to resolve relevant issues.
In October, Chinese Prime Minister Wen Jiabao
visited the DPRK and met with Kim Jong-Il.
Afterwards, the Prime Minister announced that the
DPRK was ready to return to the Six-Party Talks. He
also made it clear that DPRK participation in the
talks would be dependant on whether progress was
made in the bilateral negotiations with the United
States. At the time of this announcement, the South
Korean news agency Yonhap reported that the DPRK
had nearly completed the restoration of its main
nuclear facility in Yongbyon.
In December, U.S. special representative to North
Korea Stephen Bosworth met with DPRK officials in
Pyongyang. The talks did not produce any concrete
commitments, though Bosworth reported that he had

reached a common understanding with his


counterparts that the DPRK needed to reaffirm its
2005 commitment to abandon nuclear weapons in
return for economic aid.
2008: In May 2008, the DPRK provided the United
States with the documents that outlined its nuclear
program. A month later they released a declaration of
all nuclear activities to all members of the Six-Party
Talks. The United States reported having found
traces of highly enriched uranium on the documents,
which was problematic since the DPRK denied
having an active uranium enrichment program. The
United States also felt that the DPRK documents
were insufficient because they did not give an
account of proliferation actions with other countries
such as Libya and did not contain the exact number
of nuclear weapons that the DPRK had produced.
While behind schedule, disablement of Yongbyon
was reported to be nearing completion and the DPRK
submitted its long-overdue nuclear declaration on
June 26. The following day, in an effort to
demonstrate its commitment to the denuclearization
process, the DPRK destroyed the cooling tower of its
5 Mw(e) experimental reactor at Yongbyon. The SixParty Talks resumed negotiations to map out a
verification plan.
In October, the DPRK agreed to a number of
verification measures, and the United States removed
it from their list of State Sponsors of Terrorism.
In November, the DPRK prevented environmental
samples from being taken from its main nuclear
complex. These samples would have been used to
verify the DPRKs account of past nuclear activities.
2007: On February 13, the DPRK agreed to an
Action Plan based on the 2005 Statement of
Principles. Under the deal, the DPRK would shut
down its nuclear facilities at Yongbyon within 60
days in exchange for 50,000 tons of heavy-fuel aid.
Separate bilateral talks with the United States and
Japan would also begin in order to normalize
relations. Furthermore, in accordance with the Action
Plans second phase, another 950,000 tons of heavy
fuel oil would be delivered along with other
humanitarian, economic, and energy aid if the DPRK
disabled its nuclear weapons program entirely.
On 19 March, DPRK assets in Banco Delta Asia
were released and on July 14, the IAEA confirmed
the shutdown of Yongbyon nuclear facilities. In
October 2007, the six parties agreed to a SecondPhase Action Plan which called for the DPRK to
disable its key nuclear facilities at Yongbyon and

Inventory of International Nonproliferation Organizations and Regimes


Center for Nonproliferation Studies
Last updated: 05/24/2012

SP-4

SIX-PARTY TALKS
furthermore to submit a full declaration of its entire
nuclear program by December 31, 2007.
2006: As a result of failed talks, North Korea tested
seven missiles including several long-range missiles
in July and announced plans to test a nuclear device.
On 9 October 2006, the DPRK tested its first nuclear
device at 10:35am (local time) at Mount Mantap
near Punggye-ri, Kilchu-kun, North Hamgyong
Province. The yield from the test appeared to be less
than 1 kiloton; the DPRK reportedly was expecting at
least a 4 kiloton yield, possibly indicating that the
nuclear program still had a number of technical
hurdles to overcome before it could deploy a usable
warhead. In reaction to the test, the UN Security
Council passed Resolution 1718 placing sanctions on
the DPRK.
With Beijings behind the scenes negotiations, the
DPRK returned to the Six-Party Talks in from
November (phase 1) and December 2006 (phase 2)
in which the parties reaffirm the September 19, 2005
Joint Statement. The talks would continue into a third
phase in 2007.
2005: On 10 February, the DPRK announced that it
had manufactured nuclear weapons and was
suspending talks for an indefinite period.
In April, the ROK claimed the North has shut down
its reactor to extract fissile material for nuclear
weapons. On May 1, the DPRK partook in another
missile test.
A fourth round of Six-Party Talks took place in two
phases: from July 27 to August 7 and from
September 13 to 19. The first phase of the Fourth
Round of Six-Party Talks was largely unsuccessful in
that no agreements could be made, thus they were
recessed until Septembers second phase.
On 19 September, the DPRKs delegation to the SixParty Talks signed a Statement of Principles
whereby Pyongyang agreed to abandon all nuclear
programs and return to the NPT and restore IAEA
safeguards in exchange for a U.S.-provided lightwater reactor. Implementation was delayed because
the DPRK and the United States had desired that the
other side fulfill its obligations under the agreement
first.
Despite the Statement of Principles, the Six-Party
Talks process was put on hold for over a year. A key
issue holding back the talks was a disagreement over
financial sanctions placed by the United States on
businesses working with the DPRK. In September
2005, Washington froze the assets of Macao-based
Banco Delta Asia. The reasons for this action was

controversial, with the United States claiming that the


bank was involved in money laundering unrelated to
the nuclear issue, while experts claimed it was to gain
negotiating leverage over the DPRK nuclear weapons
program. As a result, North Korea refused to return to
talks and sought to resume building its own nuclear
reactor in light of U.S. refusal to implement the
Agreed Framework.
2004: In January, U.S. nuclear scientist Dr. Siegfried
Hecker was allowed unofficial access to the
Yongbyon nuclear facilities. Although he did not find
enought evidence to prove they had a weapons
program, he did discern they most likely have the
ability to produce plutonium.
The Second Round of Six-Party Talks resumed from
February 25-28. While mostly inconclusive, the
participants did express their commitment to a
nuclear-weapon-free Korean Peninsula and their
willingness to coexist peacefully. All parties agreed
to coordinate steps to address the nuclear and related
concerns and to hold a third round of talks.
The Third Round of Six-Party Talks took place June
23-26 in Beijing where parties stressed the need for
words for words and actions for actions and
reaffirmed their commitments to the denuclearization
of the Korean Peninsula. They agreed, in principle, to
a fourth round of talks to be held in September 2004.
2003: On 10 January, DPRK announced its
withdrawal from NPT.
On 5 February, North Korean officials declared they
had reactivated the Yongbyon nuclear reactor to
produce electricity at the present stage. Despite the
DPRKs reassurances of the peaceful nature of
program, the IAEA referred the case to the UN
Security Council on February 12.
On February 17, the U.S. and the ROK announce
they will hold joint military exercises in March,
which the DPRK responds to with a missile launch
on February 24 and a second on March 10.
On April 12, North Korean officials indicated interest
in returning to multilateral talks. China hosts trilateral
talks between the U.S. and DPRK in Beijing at the
end of April.
No agreement was made between the parties during
the first round of Six-Party Talks held from August
27-29, but all participants expressed a willingness to
continue talks at a future date.
2002: On January 29 during his State of the Union
address, U.S. President George W. Bush referred to

Inventory of International Nonproliferation Organizations and Regimes


Center for Nonproliferation Studies
Last updated: 05/24/2012

SP-5

SIX-PARTY TALKS
North Korea as a member of the axis of evil due to
their suspected nuclear weapons program.
Through April, U.S. and South Korean officials
attended several meetings to discuss the possible
resumption of U.S. negotiations with North Korea to
reinvigorate the 1994 Agreed Framework. South
Korean presidential aide Lim Dong Won met with
North Korean officials, including leader Kim Jong-Il,
who agreed to receive U.S. diplomat Jack Pritchard
to discuss restarting U.S.-North Korean negotiations
on the Agreed Framework. At issue were the IAEA
inspections of North Koreas nuclear facilities, called
for in the 1994 agreement when a significant
portion of the new reactors was completed. U.S.
officials said the inspections could take three to four
years to conduct, making their early commencement
necessary to avoid interruption or delay in U.S. aid
for building the two LWRs intended to supply
electricity to North Korea. North Korean officials,
however, were reluctant to allow the inspections in
the wake of U.S. President Bushs January axis of
evil speech, and due to concerns that the United
States would renege on its pledge to help the country
complete the LWRs.
During a visit to the DPRK from October 3-5, U.S.
Assistant Secretary James A. Kelly and his
delegation advised the North Koreans that the United
States had recently acquired information indicating
that North Korea had a program to enrich uranium for
nuclear weapons in violation of the Agreed
Framework and other agreements. On October 16,
U.S. officials claimed that North Korea
acknowledged they had such a program; however,
there is still much conflict over the interpretation of
North Korean statements if they really admitted
possession or asserted their right to possession. The
following day, Kim Jong-Il stated he would allow
inspections of decommissioned nuclear facilities.
On November 14, U.S. President George W. Bush
declared that November oil shipments to North Korea
would be the last if the North did not agree to put a
halt to its weapons programs.
On December 12, the DPRK threatened to reactivate
nuclear facilities for energy generation as a
consequence of the Americans decision to halt oil
shipments Finally, North Korea expelled IAEA
inspectors and stated plans to reopen its reprocessing
facilities.
2001: On February 22, North Korea threatened to
abandon its participation in the Agreed Framework if
the Bush administration followed a different North
Korea policy from that of the Clinton administration.

North Korea also accused the United States of not


sincerely implementing the Agreed Framework and
emphasized that, should the United States continue to
delay implementation, it would not be bound to the
agreement any longer. The United States stated in
response that it was willing to continue dialogue with
the DPRK on security issues and that it would honor
the Agreed Framework.
On 6 March, U.S. Secretary of State Colin Powell
announced that the United States planned to engage
with North Korea and pick up where President
Clinton had left off. The administration noted some
promising elements that had been left on the table.
President Bush further noted that he was looking
forward, at some point in the future, to having a
dialogue with the DPRK. However, such dialogue
would require complete verification of the terms of a
potential agreement. The DPRK called the new U.S.
policy hostile.
On 6 June, the United States announced its
determination to resume serious discussions on a
broad agenda with the DPRK, i.e., comprehensive
negotiations, including improved implementation of
the Agreed Framework, verifiable missile ban and
North Korean conventional forces on the peninsula.
Some experts interpreted the new comprehensive
approach as linkage between progress on nuclear
issues with missile, and conventional issues in
dealing with North Korea. The DPRK refused to
resume talks with the United States on such a
comprehensive
basis,
accusing
the
Bush
administration of committing to a policy of isolation
and suppression of North Korea. The DPRK stated
that instead of holding comprehensive discussions,
bilateral talks should focus on compensating the
DPRK for the loss of electricity due to delays in the
construction of the Light Water Reactor (LWR)
under the Agreed Framework and warned that the
accord was in danger of collapse. The Bush
administration stated that it was committed to the
Agreed Framework; however, construction of the
LWR, required by the accord, had not yet begun.
However, on 7 June, President Bush announced that
his administration would not immediately resume
negotiations with the DPRK, he expressed concerns
about the ability to verify any agreement with a
closed society like North Korea. U.S. officials stated
that the administration was conducting a
comprehensive review of U.S. policy towards the
DPRK.
US Congressional Republican leaders urged the
administration to reconsider the terms of the Agreed
Framework by abandoning the LWR project in favor

Inventory of International Nonproliferation Organizations and Regimes


Center for Nonproliferation Studies
Last updated: 05/24/2012

SP-6

SIX-PARTY TALKS
of conventional power plants to meet North Koreas
civilian energy needs. They called into question
Pyongyang's track record and said that North
Korea's regime could hardly be trusted with LWR
technology or fissile material.
On 13 June, U.S. special envoy Jack Pritchard met
North Koreas UN envoy in New York, beginning a
dialogue between the Bush administration and the
government in Pyongyang. This meeting was
followed by the U.S. administrations decision to
resume negotiations with North Korea after a threemonth review.

Inventory of International Nonproliferation Organizations and Regimes


Center for Nonproliferation Studies
Last updated: 05/24/2012

SP-7