Anda di halaman 1dari 6

Kendaraan mempunyai lebih sedikit karakteristik dan variasi dibandingkan dengan

pemakai jalan dan hal ini dapat dikendalikan melalui peraturan-peraturan pada batas batas
yang ditentukan. Peraturan dapat membatasi karakteristik keseluruhan, berat dan dimensi
termasuk persyaratan minimum untuk instrumen seperti rem, perlampauan dan indikatorindikator lainnya.
Kendaraan di jalan mempunyai berbagai bentuk dan kemampuan, karena
masing-masing kendaraan direncanakan untuk kegunaan tertentu. Di Indonesia
ditetapkan ukuran maksimum kendaraan sebesar: lebar 2,25 m dan tinggi 3,50 m.
Karakteristik Kendaraan
UNJUK KERJA
Daerah Pandangan
Daerah yang bisa terlihat oleh pengemudi dari tempat duduknya. Daerah pandangan
umumnya ditentukan
: Kaca depan (wind screen) untuk arah depan. Umumnya daerah pandangan depan tidak
simetris terhadap sumbu kendaraan karena posisi pengemudi tidak ditengah-tengah
kendaraannya.
Cermin (spion) untuk arah belakang.
daerah pandangan samping (spion kanan-kiri) diperlukan untuk membelok

Gambar 1. Lingkup pandangan mobil (saloon) pada umumnya

Tahanan Guling (rolling resistance)


Tahanan guling timbul karena
Adanya gesekan antara ban dan jalan.
Adanya perubahan bentuk ban pada permukaan jalan karena berat kendaraan
Karena tidak ratanya jalan
Adanya gesekan pada bagian mesin kendaraan sendiri
Untuk kecepatan sampai 100 km/jam, suatu mobil penumpang akan mempunyai tahanan
guling sebesar 13,5 kg/ton berat kendaraan bila bergerka pada jalan yang licin. Sedangkan
pada jalan yang aspalnya tidak baik maka tahanan guling bisa sampai 25 kg/ton berat
kendaraan
Tahanan Udara (wind resistance)
Tahanan udara disebabkan oleh adanya pengaruh udara di depan kendaraan,gesekan di
samping dan di bawah, serta tekanan negatif di belakang kendaraan.
Untuk kendaraan penumpang besarnya:
R = 0,0011 . A . V2
Keterangan:
R = tahanan (kg)
A = luas bidang muka (m 2)
V = kecepatan (km/jam)
Tahanan terhadap Kelandaian
Besarnya sama dengan komponen dari gaya berat sendiri yang berarah ke bawah
dan sejajarlereng tersebut.
R = 10 w g
Keterangan:
R = tahanan (kg)
w = berat total kendaraan (ton)
g = kelandaian (%)
Tahanan terhadap Tikungan
Timbul pada saat melalui tikungan, bekerja melalui sentuhan roda depan dengan
perkerasan jalan
Gaya tahanan membesar dengan:

oNaiknya kecepatan
oMengecilnya jari-jari.
Tahanan Kelembaban (inertia resistance)
Gaya tahanan ini timbul saat menambah kecepatan dan merupakan fungsi dari
berat kendaraan dan besar percepatannya.
R = 2 8 . W. a
keterangan:
R = tahanan (kg)
w = berat total kendaraan (ton)
a = percepatan kendaraan (km/jam)
Kekuatan Mesin
Tenaga maksimum yang bisa dihasilkan oleh mesin kendaraan dan dinyatakan dalam
tenaga kuda. Tenaga yang digunakan untuk mendorong adalah:
P = 0,0036 R V
keterangan:
P = tenaga yang dihasilkan (T.K)
R = jumlah tahanan terhadap pergerakan (kg)
V = kecepatan (km/jam)
Perbandingan berat kendaraan terhadap kekuatan mesin
Berguna sebagai petunjuk untuk mengetahui kemampuan kendaraan secara umum
= (berat total kendaraan)/(jumlah tenaga kuda)
Makin besar nilainya, makin lamban pergerakannya.
Radius putar
jarak putar minimun kendaraan dihitung dari posisi terluar pada perputaran 180". Semakin
tinggi nilainya semakin kurang stabil saat menikung. Rata-rata pada angka 5 s/d 6 meter
Percepatan
Kemampuan mempercepat kendaraan bermotor berguna untuk mempelajari gerakan menyalip
atau menentukan panjang jalur percepatan pada pertemuan jalan. Percepatan tergantung dari

berat kendaraan, daya yag tersedia, kecepatan (makin besar kecepatannya makin kecil
percepatan yang bisa dihasilkan)
Perlambatan
Perlambatan maksimum dicapai dengan menginjak rem. Kemampuan kendaraan untuk
berhenti dengan cepat dan dapat dikendalikan dengan baik merupakan persyaratan yang
penting bagi sistem pengereman dan faktor utama dalam keselamtan lalu lintas. Apabila
sistem rem bekerja efektif maka gaya rem akan mengakibatkan bergesernya roda terhadap
perkerasan, sehingga perlambatan sangat tergantung pada permukaan perkerasan. Pada waktu
pengereman sebagian beban dipindahkan dari roda belakang ke roda depan dan ini akan
mempengaruhi sumbu terkunci untuk koefisien gesek dan pusat gaya berat tertentu. Pada
kondisi tertentu kombinasi penguncian roda dapat menyebabkan putaran (selip) yang
membahayakan bagi pengemudi.
Pada perlambatan sampai berhenti dikenal dua macam jarak yaitu jarak henti dan jarak rem.
Jarak rem bisa dihitung dengan:

Keterangan:
S : jarak henti minimum (m)
V : kecepatan (km/jam)
f : koefisien kelandaian
g : kelandaian (%)
Koefisien gesekan yang dipakai untuk perencanaan adalah (AASTHO)
Km/jam
1

32.2
0.40

48.2
0.36

64.4
0.33

DIMENSI DAN BERAT KENDARAAN

80.5
0.31

96.5
0.30

112.6
0.29

128.7
0.27

Ukuran dan berat kendaraan merupakan pertimbangan penting dalam perancangan jalan,
persimpangan dan fasilitas parkir.
MENURUT MKJI 1997 Bab.5 tentang jalan perkotaan
Penggolongan tipe kendaraan untuk jalan dalam kota berdasarkan MKJI 1997 adalah
sebagai berikut:
1. Kendaraan ringan / Light Vehicle (LV)
Kendaraan bermotor dua as beroda empat dengan jarak as 2,0 -3,0m (termasuk mobil
penumpang, opelet, mikrobis, pick-up dan truk kecil sesuai sistem klasifikasi binamarga)
2. Kendaraan berat / Heavy Vehicle (HV)
Kendaraan bermotor dengan jarak as lebih dari 3,50 m, biasanya beroda lebih dari empat,
(meliputi : bis, truk dua as, truk tiga as dan truk kombinasi sesuai sistem klasifikasi Bina
Marga)
3. Sepeda motor / Motor Cycle (MC)
Kendaraan bermotor dengan dua atau tiga roda (termasuk sepeda motor, kendaraan roda
tiga sesuai sistem klasifikasi Bina Marga)
4. Kendaraan tak bermotor / Unmotorised (UM)
Kendaraan beroda yang bertenaga manusia atau hewan (meliputi sepeda, becak, kereta
kuda dan kereta dorong sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

Sumber
http://www.scribd.com/doc/53019411/Bag-2-Elemen-Lalu-Lintas
Ir. Alizar, MT. Modul 2 Rekayasa Transportasi. Pusat Pemngembangan Bahan Ajar
UMB.
Hoobs, F.D. 1995. Perencanaan dan Teknik Lalu Lintas. Edisi kedua. Diterjemahkan oleh
Ir. Suprapto dan Waldijono. Yogyakarta: Gadjah Mada Press (yang distabilo kuning)