Anda di halaman 1dari 58

ANALISIS PERSENTASE BERAT SEDIMEN TERSUSPENSI DI

PERAIRAN TEMPAT PENDARATAN IKAN LAMPULO


KOTA BANDA ACEH PROVINSI ACEH

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan


memenuhi syarat-syarat guna memperoleh
Gelar Sarjana Kelautan

SKRIPSI

Oleh:
KURNIATI
0908105010011

JURUSAN ILMU KELAUTAN


KOORDINATORAT KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
DESEMBER 2013

ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji tentang analisis persentase berat sedimen tersuspensi di
perairan Tempat Pendaratan Ikan Lampulo Kota Banda Aceh Provinsi Aceh. Analisis
fraksi sedimen tersuspensi dilakukan dengan menggunakan ayakan bertingkat yang
berukuran 1 mm. 0,50 mm, 0,25 mm, 0,125 mm, 0,075 mm dan 0,038 mm. Metode
yang digunakan yaitu metode pengayakan basah. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa berat sedimen tersuspensi tertinggi terdapat pada Stasiun I dengan nilai
sebesar 121,5 gram. Daerah aliran sungai Tempat Pendaratan Ikan lampulo memiliki
enam fraksi yaitu pasir kasar, pasir sedang, pasir halus, pasir sangat halus, lanau
kasar dan lanau lumpuran. Hasil sebaran fraksi sedimen tersuspensi didominasi oleh
lanau lumpuran. Nilai ukuran butir rata-rata (d) tertinggi terdapat pada Stasiun II
dengan nilai sebesar 0,12 gram termasuk dalam kategori pasir halus, sedangkan
Stasiun I dan III dengan nilai sebesar 0,11 mm termasuk dalam kategori pasir sangat
halus.
Kata kunci : Sedimen, tersuspensi, fraksi, ukuran butir, ayakan.

iii

ABSTRACT
This research studied about the weight percentage of suspended sediment analysis in
Lampulo fishing port of Banda Aceh in Aceh Province. Analysis of suspended
sediment fractions were conducted by using nested sieves with size of 1 mm, 0.50
mm, 0.25 mm, 0.125 mm, 0.075 mm and 0.038 mm with wet sieves method. Result
of the research showed that the highest weight of the sediment was located in Station
I with value of 121.5 gram. Watershed area of Lampulo fishing port has 6 fractions,
namely course sand, medium sand, fine sand, very fine sand, coarse silt and muddy
silt. Result of suspended sediment fractions were dominated by muddy silt. The
highest average grain size (d) was located in Station II with value of 0,12 mm which
is included in fine sand category, mean while in Station I and III with value of 0,11
mm which is include very fine sand category.
Keywords: Sediment, suspended, fraction, grain size, sieves

iv

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis telah dapat menyelesaikan
penyusunan skripsi ini dengan judul Analisis Persentase Berat Sedimen
Tersuspensi di Perairan Tempat Pendaratan Ikan Lampulo Kota Banda Aceh
Provinsi aceh . Selanjutnya shalawat beserta salam kepada Nabi Muhammad SAW
yang telah membawa kita ke alam yang berilmu pengetahuan.
Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk melengkapi tugas-tugas dan
memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kelautan pada Jurusan Ilmu
Kelautan Koordinatorat Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala. Terakhir
penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari segala kekurangan dan
kesalahan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun demi kesempurnaan di masa yang akan datang. Meskipun demikian
penulis tetap berharap semoga skripsi ini ada manfaatnya.
Amin.

Banda Aceh, Desember 2013

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillahirabbilalamin.
Penyusunan skripsi ini telah dapat terselesaikan atas izin Allah SWT. Dalam
penyusunan skripsi ini telah banyak menyita waktu, tenaga dan biaya, namun berkat
bantuan dari berbagai pihak, semuanya dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu
penulis dengan tulus ikhlas mengucapkan terimakasih dan memberikan penghargaan
(apresiasi) yang setinggi-tingginya kepada :
1.

AyahandaZulkifli, IbundaFatimah, kakandaRajudin, Jasmi Liana, Faisalbeserta


Adinda Laila Ertina, Nurul Hikmah, Ahmad Mazrizi dan Hamdiati danOki
Muliyadi, Jamaluddin beserta sanak saudara,atassegalacinta, kasihsayang,
doadandukungan yang telahdiberikantanpahenti untuk menyelesaikan kripsi ini.

2.

Bapak Ichsan Setiawan, M.Si, selaku Ketua Jurusan Ilmu Kelautan sekaligus
pembimbing Utama dan Bapak Syahrul Purnawan M.Si, selaku pembimbing
pembantu yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis sejak
awal penulisan proposal skripsi sampai selesainya penulisan skripsi ini.

3.

Bapak Drs. Muhammad, M.Si, dan Bapak Junaidi M. Affan, M.Si, selaku tim
penguji yang telah memberikan masukan-masukan yang bermanfaat bagi
penulis.

4.

Bapak Dr. Musri Musman, M.Sc, sebagai dosen wali yang telah memberikan
dukungannya.

5.

SeluruhDosendanStafPengajarpadaJurusanIlmuKelautan
telahmendidikpenulisselamamenjadimahasiswa di Jurusantersebut.

vi

yang

6.

Seluruh teman-teman terbaikku (May, Fina, Bahrul, Leri, Irman, T haris,


Saeddan Satria) dan special my best friend (deknur), sertateman-teman
seperjuangan mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Angkatan 2009 yang telah
membantu dan member semangat penulis.
Terakhir penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari segala

kekurangan dan kesalahan, namun penulis tetap berharap semoga skripsi ini ada
manfaatnya.
Amin.

Darussalam, Desember 2013

Penulis

vii

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL... ...................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN... .....................................................................

ii

ABSTRAK......................................................................................................

iii

ABSTRACT ...................................................................................................

iv

KATA PENGANTAR ....................................................................................

UCAPAN TERIMAKASIH ...........................................................................

vi

DAFTAR ISI.......................................................................................................

viii

DAFTAR TABEL ..........................................................................................

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

xii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..........................................................................
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................
1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................
1.4 Manfaat Penelitian ....................................................................

1
2
3
3

BAB IITINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Dari Sedimen ..........................................................
2.2 Klasifikasi Sedimen ..................................................................
2.3 Mekanisme Angkutan Sedimen di Sungai ................................
2.4 Sedimentasi di Muara Sungai ....................................................

4
4
7
9

BAB III METODE PENELITIAN


3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian .....................................................
3.2 Ruang Lingkup Penelitian .........................................................
3.3 Alat dan Bahan .........................................................................
3.4 Metode Penelitian dan Pengumpulan Data. ...............................
3.5 Prosedur Penelitian. ..................................................................
3.5.1 Penentuan Lokasi .............................................................
3.5.2 Pengambilan Sampel Sedimen .........................................
3.5.3 Teknik Analisis ................................................................
3.6 Analisa Data .............................................................................
3.6.1 Menghitung Persentase Berat Sedimen ............................

12
13
13
13
14
14
14
16
17
17

viii

3.6.2 PenentuanNilaiUkuranButirRata-rata ...............................


BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian .............................................................................
4.2 Distribusi Sedimen Tersuspensi di Daerah Perairan Sungai
Tempat Pendaratan Ikan Lampulo ..................................................
4.3 Sebaran Hasil Persentase Berat Fraksi Rata-rata Sedimen
Tersuspensi di Setiap Stasiun Pengamatan.....................................
4.4Dampak yang Diakibatkan oleh Sedimen .......................................

18

19
21
25
26

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan ................................................................................... 28
5.2 Saran ............................................................................................. 28
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 29
LAMPIRAN .................................................................................................... 31
BIODATA

ix

DAFTAR TABEL
Tabel

Halaman

2.1 Skala Wentworth .......... ................................................................................ 6


3.1 Alat dan Bahan. ............ ................................................................................ 13
3.2 Data Sedimen Tersuspensi ............................................................................ 15
4.1 Persentase Berat Sedimen Tersuspensi pada Stasiun I ................................... 22
4.2 Persentase Berat Sedimen Tersuspensi pada Stasiun II .................................. 22
4.3Persentase Berat Sedimen Tersuspensi pada Stasiun III... ............................... 23

DAFTAR GAMBAR
Gambar

Halaman

3.1 Peta Lokasi Pengambilan Sampel ................................................................. 12


3.2 Alat Pengambilan Sampel Sedimen Tersuspensi............................................ 15
3.3 Saringan Sedimen Bertingkat... ..................................................................... 17
3.4 Diagram Segi Tiga Shepard... ........................................................................ 18
4.1Data hasil berat rata-rata sampel sedimen tersuspensi disetiap stasiun ............ 19
4.2 Data hasil ukuran butir rata-rata d (mm) sedimen tersuspensi di setiap stasiun. 24
4.3 Data Persentase Berat Fraksi Rata-rata Sedimen di Setiap Stasiun ... ............. 25

xi

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran

Halaman

1. Data Berat Sedimen Tersuspensi ..................................................................

31

2. Analisa Data Berat Sedimen Tersuspensi .....................................................

32

3. Data Hasil Persentase Berat Sedimen Tersuspensi ........................................

41

4. Data Ukuran Butir Rata-rata (d) ...................................................................

42

5.Dokumentasi .................................................................................................

44

xii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sedimen merupakan material berupa partikel-partikel yang bergerak akibat
aliran air (arus dan gelombang). Salah satu tempat tersuspensinya sedimen yang ada
di lautan adalah muara dan daerah aliran sungai di sekitarnya. Estuaria atau muara
merupakan bagian dari daerah aliran sungai tempat terjadinya percampuran massa air
laut yang dipengaruhi oleh pasang surut dengan air tawar yang berasal dari daratan.
Hal ini menyebabkan kondisinya sangat tergantung pada kondisi air laut dan air
tawar yang masuk ke dalamnya. Semakin tinggi kandungan tersuspensi yang dibawa
air tersebut semakin tinggi pula endapan di estuaria. Menurut Nybakken (1992),
menyatakan bahwa pembentukan endapan juga mendapat pengaruh dari laut karena
air laut juga mengandung cukup banyak materi tersuspensi.
Meningkatnya aktivitas manusia akhir-akhir ini di sepanjang aliran sungai
telah memberi pengaruh terhadap ekosistem muara. Kegiatan yang memberikan
dampak terhadap muara tersebut antara lain penebangan hutan di bagian hulu.
Kegiatan ini menyebabkan meningkatnya pengikisan tanah di sepanjang aliran
sungai. Sebagai dampaknya jumlah sedimen di dalam sungai (suspended solid)
bertambah dan menyebabkan pendangkalan. Faktor yang mempengaruhi proses
sedimentasi yang terjadi di muara antara lain aktivitas gelombang dan pola arus
(Efriyeldi, 1999).

Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Lampulo merupakan tempat pendaratan ikan


yang terluas yang ada di Kota Banda Aceh. TPI ini bertempat di Gampong Lampulo,
Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. TPI ini sangat bermanfaat bagi
masyarakat setempat, salah satunya untuk memudahkan akses bagi masyarakat untuk
membeli ikan dan juga sumber perekonomian bagi mereka.
Hubungan antara sedimen tersuspensi dengan TPI Lampulo sangat erat
dikarenakan semakin banyak sedimen yang mengendap di suatu muara, dapat
mengakibatkan pendangkalan pada muara tersebut. Dasar muara perairan di daerah
Tempat Pendaratan Ikan Lampulo akan meninggi akibat dari sedimentasi akibatnya
air tidak mengalir sehingga meningkatkan kemungkinan banjir. Pengaruh dari proses
sedimentasi akan menyebabkan beberapa kelurahan di daerah TPI Lampulo akan
menyebabkan kebanjiran. Dampak lain dari proses sedimentasi mengakibatkan
rusaknya ekosistem pesisir sehingga biota-biota akan kehilangan habitatnya.
Rusaknya ekosistem pesisir juga berdampak pada menyusutnya hasil tanggkapan
nelayan karena di daerah tersebut telah terjadi pendangkalan sehingga ikan-ikan
akan berpindah ke daerah lain. Bagi pelayaran, dampak pendangkalan berupa
menyempitnya alur. Akibatnya, perahu dan kapal semakin terbatas ruang geraknya.
Oleh sebab itu diperlukan penelitian tentang proses terjadinya sedimentasi di muara
TPI Lampulo sehingga dapat dilakukan pengerukan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas sedimentasi dapat mempengaruhi
lingkungan, ekosistem perikanan disekitar muara sungai oleh karena itu, perlu

dilakukan suatu kajian untuk mengetahui persentase berat sedimen tersuspensi di


perairan TPI Lampulo, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh.
1.3 Tujuan Penelitian.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase berat sedimen
tersuspensi yang terkandung di perairan TPI Lampulo, Kota Banda Aceh, Provinsi
Aceh.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi awal kepada
pihak terkait mengenai proses sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan pada
muara sungai TPI Lampulo sehingga masalah pendangkalan di muara sungai dapat
diatasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sedimen


Menurut para ahli mendefinisikan dalam beberapa pengertian sedimen.
Pipkin (1977) menyatakan bahwa sedimen adalah pecahan, mineral, atau material
organik yang ditransforkan dari berbagai sumber dan diendapkan oleh udara, angin,
es, atau oleh air dan juga termasuk di dalamnya material yang diendapkan dari
material yang melayang dalam air atau dalam bentuk larutan kimia. Sedangkan
menurut Pettijohn (1975) mendefinisikan sedimentasi sebagai proses pembentukan
sedimen atau batuan sedimen yang diakibatkan oleh pengendapan dari material
pembentuk atau asalnya pada suatu tempat yang disebut dengan lingkungan
pengendapan berupa sungai, muara, danau, delta, estuaria, laut dangkal sampai laut
dalam. Gross (1972) mendefinisikan sedimen laut sebagai akumulasi dari mineralmineral dan pecahan-pecahan batuan yang bercampur dengan hancuran cangkang
dan tulang dari organisme laut serta beberapa partikel lain yang terbentuk lewat
proses kimia yang terjadi di laut.

2.2 Klasifikasi Sedimen


Sedimen dicirikan atau dikarakterisasi menurut sifat-sifat alami yang
dimilikinya, yaitu : ukuran butir (grain size), densitas, kecepatan jatuh, komposisi,
porositas, bentuk dan sebagainya. Dalam studi angkutan sedimen, ukuran butir
merupakan karakter sedimen yang sangat

penting karena dipakai untuk

mempresentasikan resistensinya terhadap agen pengangkutnya. Ukuran butir

sedimen adalah millimeter (mm) dan micrometer (m) (Poerbandono dan Djunasjah,
2005).

Ukuran partikel-partikel sedimen sangat ditentukan oleh sifat-sifat fisiknya


dan sebagai akibatnya sedimen yang terdapat pada berbagai tempat di dunia
mempunyai sifat-sifat yang sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh
sebagian besar dalam ditutupi oleh jenis partikel-partikel yang berukuran kecil yang
terdiri dari sedimen halus. Sedangkan hampir semua pantai-pantai ditutupi oleh jenis
partikel-partikel yang berukuran besar dan sedimen kasar. Berdasarkan ukuran
butirnya, sedimen diklasifikasikan: lumpur (silt), pasir (sand), dan kerikil (clay).
Klasifikasi tersebut mengikuti kriteria wentworth. Dari berbagai sifat tersebut ukuran
butir menjadi sangat penting karena umumnya menjadi dasar dalam penamaan
sedimen yang bersangkutan serta membantu analisa proses pengendapan karena
ukuran butir berhubungan erat dengan dinamika transportasi dan deposisi (Krumbein
dan Slosss, 1963).
Ada beberapa jenis skema dan pembagian kategori, tetapi sedimentologist
cenderung menggunakan Skala Wentworth untuk menentukan dan menamakan
endapan klastik terrigenous yang dikenal umum dengan nama Skala Wentworth.
Skala ini dipilih karena pembagian menampilkan pencerminan distribusi alami.

Tabel 2.1 Skala Wentworth untuk mengklasifikasi skala partikel-partikel sedimen


Klasifikasi Ukuran Butir Skala Wentworth

Kerikil

Kerikil

Pasir Sangat Kasar

Pasir kasar
500
420
350
300
250
210
177
149
125
105
88
74
62,5
53
44
37
31
15,6
7,8
3,9
2,0
0,98
0,49
0,24
0,12
0,06

Pasir Sedang

Pasir

3,36
2,83
2,38
2,00
1,68
1,41
1,19
1,00
0,84
0,71
0,59
0,50
0,42
0,35
0,30
0,25
0,210
0,177
0,149
0,125
0,105
0,088
0,074
0,0625
0,0530
0,0440
0,0370
0,0310
0,0156
0,0078
0,0039
0,0020
0,00098
0,00049
0,00024
0,00012
0,00006

Pasir Halus

Pasir Sangat Halus

Lanau Kasar

Lanau Sedang
Lanau halus
Lanau Sangat Halus

Lumpur

Milimeter

Lempung

Sumber : Dyer (1986)


Dalam suatu proses sedimentasi, zat-zat yang masuk ke laut berakhir menjadi
sedimen. Dalam hal ini zat yang ada terlibat proses biologi dan kimia yang terjadi
sepanjang kedalaman laut. Sebelum mencapai dasar laut dan menjadi sedimen, zat
tersebut melayang-layang di dalam laut. Setelah mencapai dasar lautpun, sedimen

tidak diam tetapi sedimen akan terganggu ketika hewan laut mencari makan.
Sebagian sedimen mengalami erosi dan tersuspensi kembali oleh arus bawah
sebelum kemudian jatuh kembali dan tertimbun. Terjadi reaksi kimia antara butirbutir mineral dan air laut sepanjang perjalannya ke dasar laut dan reaksi tetap
berlangsung penimbunan, yaitu ketika air laut terperangkap di antara butiran mineral
(Hartono, 2006).

2.3 Mekanisme Angkutan Sedimen di Sungai


Secara umum ada 3 tipe gerakan dari sedimentasi menurut pernyataan Ilyas
(2002), yaitu angkutan dasar (bed load), angkutan suspensi (suspended load), dan
angkutan kuras (wash load) bahwa muatan dasar adalah partikel yang terangkut
dengan cara bergeser, bergelinding atau berlompat-lompat, dan selalu dekat atau
hampir mengendap pada dasar sungai. Angkutan dasar (bed load) terdiri dari
partrikel kasar, seperti kerikil atau pasir yang bergerak teratur atau acak dan selalu
menyentuh dasar sungai. Angkutan suspensi (suspended load) bergerak melayang
tanpa menyentuh dasar sungai, atau setidak-tidaknya mempunyai lintasan yang
panjang sebelum menyentuh dasar sungai. muatan material angkutan dasar (bed
load) maupun dari angkutan melayang (suspended load) yang ditentukan oleh
kondisi dari dasar gerakan aliran.
Dalam proses pembentukan sedimen diperlukan suatu media transport dan
sekaligus pengendap material. Media tersebut pada perairan dangkal adalah elemenelemen disebabkan karena berat jenis angin relative lebih kecil dari air. Oleh karena
itu angin sangat susah mengangkut sedimen yang ukurannya sangat besar. Besar
maksimum dari ukuran sedimen yang mampu terangkut oleh angin umumnya sebesar

ukuran pasir. Hal ini disebabkan pula karena sistem yang ada pada angin bukanlah
sistem yang dibatasi (confined) seperti layaknya sungai maka menyebabkan sedimen
cenderung tersebar di daerah yang sangat luas bahkan sampai menuju atmosfir (Ilyas,
2002).
Anasiru (2006), menggambarkan bahwa angkutan sedimen di sungai yang
bergerak oleh aliran air, sangat erat berhubungan dengan erosi tanah permukaan
karena hujan. Air yang meresap ke tanah dapat mengakibatkan longsoran tanah yang
kemudian masuk ke sungai mempunyai andil yang sangat besar pada jumlah
angkutan sedimen di sungai. Seluruh proses merupakan sikrus yang saling terkait
antara erosi tanah, angkutan sedimen, pengendapan. Karena muatan dasar senantiasa
bergerak, maka permukaan dasar sungai kadang-kadang naik (agradasi) tetapi
kadang-kadang turun (degradasi) dan naik turunnya dasar sungai disebut alterasi
dasar sungai (river bed alteration). Muatan melayang tidak berpengaruh pada alterasi
dasar sungai, tetapi dapat mengendap di dasar waduk atau muara sungai, yang
menimbulkan pendangkalan-pendangkalan waduk atau muara sungai tersebut yang
menyebabkan timbulnya berbagai masalah. Dasar sungai biasanya tersusun oleh
endapan dari material angkutan sedimen yang terbawa oleh aliran sungai, material
tersebut dapat terangkut kembali apabila terjadi kenaikan kecepatan aliran cukup
tinggi. Besarnya volume angkutan sedimen tergantung dari pada perubahan
kecepatan aliran dan adanya kegiatan di palung sungai. Sebagai akibat dari
perubahan volume angkutan sedimen adalah terjadinya penggerusan di beberapa
tempat serta terjadinya pengendapan di tempat lain pada dasar sungai sehingga
dengan demikian bentuk dari dasar sungai akan selalu berubah.

2.4 Sedimentasi di Muara Sungai


Dalam muara, air sungai bercampur dengan air laut melalui aktivitas pasang
surut dan gelombang (Neilson et al., 1989). Salah satu peran penting muara sungai
adalah sebagai tempat pengeluaran / pembuangan debit sungai yang membawa
material yang disuplai dari darat. Material ini sebagian akan mengendap di muara
sungai, dan sisanya akan diteruskan ke laut. Gross (1972) dalam Satriadi dan Widada
(2004). Menekankan bahwa pasang mendominasi sirkulasi air di sebagian besar
muara sungai, sehingga suplai air di muara sungai bergantung pada peristiwa pasang
surut. Arus pasang akan mampu mengaduk sedimen yang ada di muara sungai
dimana hal ini terkait pula dengan konsentrasi Muatan Padatan Tersuspensi (MPT)
yang ada di muara sungai.
Mulut sungai adalah bagian paling hilir dari muara sungai yang langsung
bertemu dengan laut, sedangkan estuari adalah bagian dari sungai yang dipengaruhi
oleh pasang surut (Triatmodjo, 1999). Muara sungai berperan cukup penting dalam
proses transpor sedimen dari darat yang akan menuju ke laut. Proses transpor
sedimen ini juga dipengaruhi oleh proses-proses fisika oseanografi yang terjadi di
lautan seperti arus, gelombang, dan pasang surut.
Adanya arus di laut disebabkan oleh perbedaan densitas masa air laut, angin
yang bertiup terus menerus di atas permukaan laut dan pasang surut terutama di
daerah-daerah pantai (Rahardjo dan Sanusi, 1983). Arus di perairan pantai
dipengaruhi oleh gelombang dan pasang surut (Dahuri et al., 1996). Pola arus pantai
ini ditentukan oleh besarnya sudut yang dibentuk antara gelombang yang datang
dengan garis pantai. Di perairan sempit dan semi tertutup, pasut merupakan gaya

10

penggerak utama sirkulasi massa air. Arus pasang surut merupakan parameter yang
penting dalam proses pengangkutan pasir dari mulut teluk menuju wilayah hulu.
Menurut Triatmodjo (1999), kecepatan angin akan menimbulkan tegangan
pada permukaan laut, sehingga permukaan air yang semula tenang akan terganggu
dan timbul riak gelombang kecil di atas permukaan air. Gelombang berpengaruh
terhadap transpor sedimen pada pantai yang selanjutnya dapat bergerak masuk ke
muara sungai dan karena di daerah tersebut kondisi gelombang sudah tenang, maka
sedimen akan mengendap. Semakin besar gelombang semakin besar transpor
sedimen dan semakin banyak sedimen yang mengendap di muara.
Pada saat pasang, volume air di daerah muara sungai bertambah dengan air
yang berasal dari laut. Penambahan air laut ini akan menyebabkan konsentrasi MPT
di perairan berubah. Begitu juga pada saat surut, air akan berkurang sehingga
konsentrasi MPT di perairan akan berubah lagi. Konsentrasi MPT ini akan berkaitan
dengan laju sedimentasi yang terjadi di muara sungai.
MPT dikenal pula dengan sebutan suspended sediment load atau suspended
particulate material. MPT adalah partikel-partikel yang melayang dalam air, terdiri
dari komponen hidup dan komponen mati. Komponen hidup terdiri dari fitoplankton,
bakteri, fungi, dan sebagainya. Sedang komponen mati terdiri dari detritus dan
partikel-partikel anorganik (Hutagalung et al., 1997). Partikel tersuspensi dapat
diklasifikasikan menjadi zat padat terapung yang selalu bersifat organik dan zat padat
terendap yang dapat bersifat organik dan anorganik. Selanjutnya Alaerts dan Santika
(1987) menjelaskan keberadaan MPT di perairan dapat berupa pasir, lumpur, tanah
liat, koloid, serta bahan bahan organik seperti plankton dan organisme lain.

11

Chester (1990) dalam Satriadi dan Widada (2004). Menggambarkan secara


umum sumber - sumber material tersuspensi yang dapat berasal dari aliran sungai
berupa hasil pelapukan, material darat, oksihidroksida, dan bahan pencemar; dari
atmosfer berupa debu-debu atau abu yang melayang; dari laut berupa sedimen
anorganik yang terbentuk dilaut, dan sedimen biogenous dari sisa rangka organisme
dan bahan organik lainnya; serta dari estuari berupa hasil flokulasi, presipitasi
sedimen dan produksi biologis organisme estuari. Konsentrasi dan komposisi MPT
bervariasi secara temporal dan spasial tergantung pada faktor-faktor fisik dan
biologis yang mempengaruhinya. Faktor fisik yang mempengaruhi distribusi MPT
terutama adalah pola sirkulasi air, pengendapan gravitional, deposisi, dan resuspensi
sedimen.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kawasan perairan TPI Lampulo, Kecamatan Kuta
Alam, Kota Banda Aceh yang bertempat di gampong Keudah dengan koordinat 5o
33 12 LU dan 95o 19 20 BT, gampong Lampulo dengan koordinat 5o 34 25 LU
dan 95o 19 22 BT, dan gampong Jawa dengan koordinat 5o 35 33 LU dan 95o 19
39 BT. Kegiatan penelitian ini meliputi kegiatan pangambilan sampel di lapangan
dan analisa sampel di Laboratorium Koordinatorat Kelautan dan Perikanan.Penelitian
ini dilaksanakan dari Bulan April 2013 sampai dengan Bulan Mei 2013.

Sumber: google maps


Gambar 3.1 Peta lokasi penelitian

12

13

3.2. Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup dari penelitian ini hanya terbatas pada perhitungan jumlah
persentase sedimen sebanyak 8 kali pengambilan selama 2 bulan dalam rentang
waktu 1 minggu sekali.

3.3. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini ditunjukkan
padaTabel 3.1.
Tabel 3.1 Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian
No

Alat dan Bahan

Banyak

Fungsi

1.

GPS

1 Unit

Penentuan posisi sampling

2.

Tubecore (Paralon)

3 Batang

3.

Saringan bertingkat (sediment


siever)

1 Set

4.

Kamera

1 Unit

5.

Plastic bag

6.

Alat tulis menulis

7.

Timbangan Digital

3 Buah
1 Set
1 Unit

Pengambilan sampel
(sampling) sedimen
Melakukan pemisahan butir
sampel sedimen
Dokumentasi
Wadah peyimpanan sampel
sedimen
Pencatat
Menimbang berat sampel
sedimen (Persen berat)

3.4. Metode Penelitian dan Pengumpulan Data


Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei dengan
teknik pengambilan data observasi langsung ke lapang. Metode survei merupakan
suatu pengamatn secara langsung untuk mendapatkan fakta-fakta dari gejala yang
ada untuk mencari keterangan secara faktual untuk mencari kebenaran kondisi suatu
daerah (Nazir, 2005). Teknik observasi merupakan pengambilan data yang dilakukan
secara langsung atau in-situ.

14

3.5. Prosedur Penelitian


3.5.1 Penentuan Lokasi
Posisi stasiun diketahui dengan menggunakan Global Positioning System
(GPS), merupakan teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan sendiri.
Penentuan stasiun didasarkan pada arah aliran sungai dan stasiun pangamatan terbagi
atas 3 titik, diantaranya: Stasiun 1 merupakan daerah hilir yaitu daerah yang jauh dari
gangguan kapal, Stasiun 2 merupakan daerah muara yaitu daerah pendaratan ikan,
dan Stasiun 3 merupakan daerah yang dekat dengan laut yaitu daerah yang jauh dari
jangkauan masyarakat. Stasiun pengamatan dapat dilihat pada gambar 3.1
3.5.2 Prosedur Pengambilan Sampel Sedimen
Pengambilan sampel sedimen sebanyak tiga stasiun dilakukan pada tiga titik
yang pertama yaitu pada bagian daerah yang jauh dari jangkauan kapal, daerah
Tempat Pendaratan Ikan, dan

daerah yang jauh dari jangkauan masyarakat.

Pengambilan sampel sedimen dilakukan dengan menggunakan pipa paralon dengan


diameter 5 cm kemudian untuk menunjang penggunaan pipa paralon ini
menggunakan pemberat yang diikat di bawah pipa. Kemudian dari pemberat ke pipa
sepanjang 1 m, pada ujung pipa bagian atas diikat seutas tali yang digunakan untuk
diikatkan pada tiang penyangga. Untuk lebih jelas pipa paralon bisa dilihat pada
Gambar 3.

15

Gambar 3.2 Alat pengambilan sampel sedimen tersuspensi

Sampel sedimen yang didapat dimasukkan ke dalam wadah yang telah


disediakan dan dilakukan pemisahan sesuai dengan lokasi dan waktu pengambilan.
Pengambilan sampel sedimen dilakukan di ketiga stasiun dengan delapan kali
pengambilan sampel selama dua bulan dalam rentang waktu satu minggu sekali.
Sampel sedimen kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.
Tabel 3.2 Data sedimen tersuspensi
No

Minggu

Stasiun
I

II

III

IV

VI

VII

VIII

II

III

16

3.5.1 Teknik Analisis


Analisis fraksi sedimen tersuspensi dilakukan dengan menggunakan ayakan
bertingkat untuk memisahkan butiran sedimen berdasarkan fraksi ukuran butiran
(Gambar 3.3). yang masing-masing memiliki ukuran bukaan 1 mm, 0,50 mm, 0,25
mm, 0,125 mm, 0,075 mm dan 0,038 mm (Wenworth, 1922). Metode yang
digunakan yaitu metode pengayakan basah. Fraksi-fraksi ditentukan berdasarkan
segi tiga Shepard (1954) diacu dalam Dyer ( 1986), dimana tiap fraksi dibagi atas :
-

Fraksi kerikil (silt): gabungan material ukuran kerikil dan kerakal.

Fraksi pasir (sand): gabungan material ukuran pasir halus sampai kasar.

Fraksi lumpur (clay): gabungan material lempung dan lanau.


Segi tiga Shepard yang digunakan dalam klasifikasi jenis sedimen merupakan

pembagian atas tiga jenis sedimen, yaitu pasir, lanau dan lempung. Untuk klasifikasi
pada sampel dengan ukuran butiran yang cenderung kecil, metode segitiga Shepard
lebih sesuai digunakan dibandingkan metode segitiga Folk.
Untuk analisis metode ayak basah ini yang pertama sampel sedimen dicuci
terlebih dahulu sampai aliran air jernih dan ditadah menggunakan media penampung.
Setelah dicuci sampel sedimen, kemudian dikeringkan sampai kering. Tahapan yang
dilakukan

selanjutnya

adalah

melakukan

penimbangan.

Setelah

itu

baru

disuspensikan serta didiamkan selama 5 menit agar sedimen mengendap. Disiapkan


saringan bertingkat dan wadah tadahan terlebih dahulu. Setelah itu baru dilakukan
pengayakan, sampel sedimen yang tertinggal dicuci dan dialirkan air dengan
menyiapkan wadah tadahan terlebih dahulu. Lalu dikeringkan sedimen yang
tertinggal pada wadah tadahan (bagian paling bawah) setelah itu dipisahkan sedimen

17

yang tertinggal dari tiap-tiap saringan kedalam wadah, diberi label sedimen yang
tertinggal sesuai dengan ukuran diameter saringan, kemudian ditimbang serta dicatat
hasilnya.

Gambar 3.3 Saringan sedimen bertingkat

3.6. Analisa Data


3.6.1 Menghitung Persentase Berat Sedimen
Menghitung persentase berat sedimen dapat diketahui dari masing masing
fraksi sedimen tersebut dengan menggunakan perhitungan persentase berat sedimen.
Persamaan untuk menghitung persen berat fraksi sedimen adalah sebagai berikut:

Persen berat fraksi sedimen i=

berat sedimen i
berat sampel sedimen

x 100%

Dimana: berat fraksi sedimen i = Berat tiap-tiap ukuran butir (g)

18

Setelah diketahui persentase dari masing masing fraksi sedimen tersebut,


kemudian diberi nama

jenis sedimen tersebut berdasarkan segi tiga Sheppard

(Gambar 3.4).

Gambar 3.4 Diagram Segitiga Shepard (1954)

3.6.2 Penentuan Nilai Ukuran Butir Rata-rata


Penentuan ukuran butir rata-rata dapat diketahui dari masing masing sampel
sedimen tersebut dengan menggunakan persamaan

d=

%berat fraksi x ukuran butiran


100

Dimana : d = Nilai ukuran butir rata-rata (mm)

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di lapangan berat sampel
sedimen tersuspensi yang didapatkan selama penelitian di masing-masing stasiun
pengambilan tertera pada Gambar 4.1.

Berat Sampel awal (g)

125
120
115
110

105
100
I

II

III

Stasiun Pengamatan

Gambar 4.1. Data hasil berat rata-rata sampel sedimen tersuspensi disetiap stasiun
Dari Gambar 4.1. Terlihat bahwa berat sampel rata-rata sedimen tersuspensi
di masing-masing stasiun pengamatan terdapat perbedaan di tiap-tiap periode
pengambilan. Dari hasil analisa berat sampel sedimen terlihat bahwa lanau lumpur
merupakan sebaran yang merata ditemukan pada setiap stasiun dengan nilai berat
yang berbeda beda.
Karakteristik sedimen yang mengendap pada Stasiun I umumnya dijumpai
sedimen yang berukuran berat pasir kasar dengan nilai 21 gram, pasir sedang dengan
nilai 30 gram, pasir halus dengan nilai 160 gram, pasir sangat halus dengan nilai 22

19

20

gram, lanau kasar dengan nilai 22 gram, lanau lumpur 717 gram. Karakteristik
sedimen yang mengendap pada Stasiun II umumnya dijumpai sedimen yang
berukuran berat pasir kasar dengan nilai 20 gram, pasir sedang dengan nilai 37 gram,
pasir halus dengan nilai 174 gram, pasir sangat halus dengan nilai 20 gram, lanau
kasar dengan nilai 21 gram, lanau lumpur 598 gram. Karakteristik sedimen yang
mengendap pada Stasiun III umumnya dijumpai sedimen yang berukuran berat pasir
kasar dengan nilai 18 gram, pasir sedang dengan nilai 27 gram, pasir halus dengan
nilai 118 gram, pasir sangat halus dengan nilai 21 gram, lanau kasar dengan nilai 18
gram, lanau lumpur dengan nilai 640 gram.
Dari ke tiga stasiun diatas terlihat bahwa di setiap stasiun data berat sedimen
tersuspensi tertinggi terdapat pada Stasiun I sebesar 121,5 gram dari delapan minggu
pengambilan. Pada Stasiun I pengendapan sedimen lebih tinggi dibandingkan dengan
Stasiun II dan III. Hal ini diduga karna pada Stasiun I banyak limbah-limbah rumah
tangga dari masyarakat setempat sehingga menyebabkan sedimen tersuspensi di
stasiun ini lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun lain. Salah satu faktor yang
mempengaruhi proses transfor sedimen dipengaruhi oleh proses-proses fisika
oseanografi yang terjadi di lautan seperti arus, gelombang dan pasang surut. Menurut
Triatmajo (1999) melaporkan bahwa gelombang berpengaruh terhadap transfor
sedimen pada pantai yang selanjutnya dapat bergerak masuk ke muara sungai dan di
daerah tersebut kondisi gelombang sudah tenang, maka akan mengendap. Semakin
besar transfor sedimen dan semakin banyak sedimen yang mengendap di muara.
Data berat sampel sedimen tersuspensi terlampir pada Lampiran 1.

21

4.2. Distribusi Sedimen Tersuspensi di Daerah Perairan Sungai Tempat


Pendaraan Ikan Lampulo
Hasil analisa berat sampel sedimen tersuspensi di daerah aliran sungai
Tempat Pendaratan Ikan Lampulo menunjukkan enam fraksi sedimen yang ada di
daerah tersebut yaitu pasir kasar, pasir sedang, pasir halus, pasir sangat halus, lanau
kasar, dan lanau lumpuran yang memiliki persentase berat yang berbeda-beda di
setiap stasiun pada setiap minggunya. Data hasil pengamatan dan persentase berat
sedimen di masing-masing stasiun terlampir pada Lampiran 3.
Jumlah Stasiun pengambilan sampel sedimen terdiri dari tiga titik setiap
minggunya, pada Stasiun I aliran sungai yang jauh dari gangguan kapal bertempat di
gampong Keddah, Stasiun II daerah Tempat Pendaratan Ikan bertempat di gampong
Lampulo dan Stasiun III daerah yang jauh dari jangkauan masyarakat bertempat di
gampong Jawa. Pengambilan data sedimen dilakukan setiap minggu selama dua
bulan dengan periode pengambilan yaitu April I, April II, April III, April IV dan Mei
I, Mei II, Mei III, Mei IV. Dengan menggunakan saringan bertingkat dengan cara
pengayakan basah.
Hasil analisis ukuran butir diperoleh sebaran fraksi sedimen tersuspensi pada
Stasiun I adalah sebagai berikut: pasir kasar dengan kisaran 1,76-3,3 %, pasir sedang
dengan kisaran 2,35-5 %, pasir halus dengan kisaran 15,15-18,75 %, pasir sangat
halus dengan kisaran 1,51-5 %, lanau kasar dengan kisaran 1,76-5 %, lanau
lumpuran dengan kisaran 65-75 %. Lebih lengkap sebaran persentase fraksi sedimen
pada tiap-tiap stasiun dengan delapan minggu pengamatan dapat dilihat pada Tabel
4.1.

22

Tabel 4.1 Persentase berat sedimen tersuspensi pada Stasiun I

Sangat
kasar
>1
(mm)

Minggu

Kasar
1-0,5
(mm)

Persentase berat sedimen (%)


Pasir
Sangat
Sedang
Halus
Halus
0,50-0,25
0,25-0,125
0,125-0,75
(mm)
(mm)
(mm)

Lumpur
Lanau
Lanau
Kasar
Lumpur
0,75-0,038
< 0,038
(mm)
(mm)

(d)
Ukuran
butirrata
rata (mm)

2,27

3,03

16,66

1,51

1,51

75

0,11

II
III
IV
V
VI
VII
VIII

2,22
3,33
2,11
1,81
2,3
1,76
2,5

4,44
16,66
3,33
16,66
2,81
17,6
2,42
15,15
3,07
15,38
2,35
16,47
5
18,75
RATA-RATA

3,33
3,33
2,11
1,18
2,3
1,17
5

2,23
5
2,11
1,18
2,3
1,76
3,75

71,11
68,33
73,94
77,57
75,38
76,47
65

0,11
0,12
0,11
0,10
0,11
0,10
0,13
0,11

Stasiun II hasil analisis ukuran butir diperoleh sebaran fraksi sedimen sebagai
berikut: pasir kasar dengan kisaran 1,53-3,57 %, pasir sedang dengan kisaran 2,225,95 %, pasir halus dengan kisaran 2,22-28,75 %, pasir sangat halus dengan kisaran
1,13-4,44 %, lanau kasar dengan kisaran 1,66-4,49 %, lanau lumpuran dengan
kisaran 58,75-76,6 %.Lebih lengkap sebaran persentase fraksi sedimen pada tiap-tiap
stasiun dengan delapan minggu pengamatan dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Persentase berat sedimen tersuspensi pada Stasiun II

Minggu

II
III
IV
V
VI
VII
VIII

Sangat
kasar
>1
(mm)

Kasar
1-0,5
(mm)

3,57
3,37
1,53
1,7
2,22
2,22
2,5
2,5

Persentase berat sedimen (%)


Pasir
Sangat
Sedang
Halus
Halus
0,50-0,25
0,25-0,125
0,125-0,75
(mm)
(mm)
(mm)

5,95
23,8
3,37
13,48
3,07
20
2,27
17,04
3,33
2,22
2,22
21,11
3,75
28,75
3,33
20
RATA-RATA

2,38
2,24
1,53
1,13
2,22
4,44
3,75
2,5

Lumpur
Lanau
Lanau
Kasar
Lumpur
0,75-0,038
< 0,038
(mm)
(mm)

2,38
4,49
2,3
1,7
2,22
3,33
2,5
1,66

61,9
73,03
72,3
76,7
67,77
66,66
58,75
70

(d)
Ukuran
butirrata
rata (mm)

0,15

0,11
0,11
0,10
0,12
0,11
0,14
0,12
0,12

23

Stasiun III analisis ukuran butir diperoleh sebaran fraksi sedimen sebagai
berikut: pasir kasar dengan kisaran 1,42-2,5 %, pasir sedang dengan kisaran 2,2220,83 %, pasir halus dengan kisaran 17,14-25,86 %, pasir sangat halus dengan
kisaran 1,42-2,72 %, lanau kasar dengan kisaran 1,6-2,85 %, lanau lumpuran dengan
kisaran 64,65-75%. Lebih lengkap sebaran persentase fraksi sedimen pada tiap-tiap
stasiun dengan delapan minggu pengamatan dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Persentase berat sedimen tersuspensi pada Stasiun III

Minggu

II
III
IV
V
VI
VII
VIII

Sangat
kasar
>1
(mm)

Kasar
1-0,5
(mm)

1,72
1,81
2,22
2,43
2,5
1,42
1,66
1,6

Persentase berat sedimen (%)


Pasir
Sangat
Sedang
Halus
Halus
0,50-0,25
0,25-0,125 0,125-0,75
(mm)
(mm)
(mm)

3,44
25,86
3,63
22,72
2,22
24,44
4,44
22,22
2,5
18,33
2,85
17,14
20,83
20,83
2,4
18,4
RATA-RATA

2,68
2,72
2,22
2,43
2,5
1,42
25
2,4

Lumpur
Lanau
Lanau
Kasar
Lumpur
0,75-0,038
< 0,038
(mm)
(mm)

1,72
1,81
2,22
2,43
1,66
2,85
1,66
1,6

64,65
68,18
66,66
66,66
72,5
75
70,83
74,4

(d)
Ukuran
butirrata
rata (mm)

0,12
0,12
0,12
0,13
0,11
0,10
0,11
0,10
0,11

Data hasil rata-rata ukuran butir sedimen tersuspensi pada tiap-tiap stasiun,
menunjukkan nilai ukuran butir rata-rata pada Stasiun I sebesar 0,11 mm, Stasiun II
sebesar 0,12 mm dan Stasiun III sebesar 0,11 mm dari tiap-tiap stasiun terlampir
pada Gambar 4.3.

Rata-rata d (mm)

24

0,122
0,12
0,118
0,116
0,114
0,112
0,11
0,108
0,106
0,104
I

II

III

Stasiun Pengamatan

Gambar 4.2 Data hasil ukuran butir rata-ratad (mm) sedimen tersuspensi pada
tiap-tiap stasiun
Berdasarkan hasil penelitian ukuran butir rata-rata (d) sedimen tersuspensi
yang telah didapatkan dari penelitian ini nilai yang diperoleh di masing-masing
stasiun. Stasiun I sebesar 0,11 mm, Stasiun II sebesar 0,12 mm dan Stasiun III
sebesar 0,11 mm.
Dari ketiga stasiun telihat bahwa nilai ukuran butir rata-rata tertinggi pada
Stasiun II dengan rata-rata (d) 0,12 mm yang termasuk ke dalam kategori pasir halus
(berdasarkan skala wentworth). Hal ini disebabkan banyaknya aktivitas pemukiman
masyarakat di sekitar sungai. Sedangkan nilai ukuran butir rata-rata pada Stasiun I
dan III memiliki nilai yang sama yaitu 0,11 mm. Ukuran ini termasuk ke dalam
klasifikasi pasir sangat halus. Sebaran nilai ukuran butir rata-rata terlampir pada
Lampiran 4.
Ukuran butiran sedimen di lokasi penelitian tidak terlepas dari kondisi
lingkungan di sekitarnya yang membantu pembentukan sedimen salah satunya adalah
sumber komponensedimen yang berasal dari daratan seperti proses abrasi atau erosi
yang kemudian terbawa oleh sungai. Faktor yang mempengaruhi ukuran butiran

25

sedimen adalah mekanisme tranport material sedimen yang akan menentukan variasi
pengendapan yang terjadi sesuai dengan pernyataan Rahman (2008) dalam Astuty
(2011) menyatakan bahwa ukuran partikel sedimen yang kasar akan dengan
mudahdiendapkan, tetapi untuk ukuran yang halus termasuk lanau dan lempung
lebihlama terendapkan karena terbawa arus menjauh dari pantai.Darlan (1996) juga
menyebutkan bahwa distribusi fraksi-fraksi sedimen dipengaruhi oleh proses proses
oseanografi seperti arus. Pada daerah dengan turbulensi tinggi, fraksi yang memiliki
kenampakan megaskopis seperti kerikil dan pasir akan lebih cepat mengendap
dibandingkan fraksi yang berukuran mikroskopis seperti lumpur.

persentase berat (%)

4.3. Sebaran Hasil Persentase Berat Fraksi Rata-rata Sedimen Tersuspensi


diSetiap Stasiun Pengamatan
80
70
60
50
40
30
20
10
0

Kasar
Sedang
Halus
Sangat halus
Lanau Kasar
I

II

III

Lanau Lumpur

Stasiun

Gambar 4.3 Data persentase berat fraksi rata-rata sedimen tersuspensi di setiap
stasiun
Berdasarkan Gambar 4.3 dapat dilihat bahwa di semua lokasi Stasiun
penelitian di dominasi oleh lanau lumpuran. Hal ini di karenakan daerah aliran
sungai ini merupakan daerah bagian paling hilir dari muara sungai yang bertemu
langsung dengan laut, Tingginya persentase lanau lumpuran pada aliran sungai
Tempat Pendaratan Ikan ini karena perairan ini terlindung dari pengaruh gelombang

26

laut serta banyaknya bahan organik atau detritus yang dibawa air sungaimenumpuk
di perairan ini, terutama pada saat arus lambat. Nybakken(1992) menyatakan
bahwakeberadaan

lumpur

di

dasar

perairansangat

dipengaruhi

oleh

banyaknyapartikel tersuspensi yang dibawaoleh air tawar dan air laut sertafaktorfaktor yang mempengaruhipenggumpalan, pengendapan bahantersuspensi tersebut,
seperti arusdari laut.

Seperti Knox (1986) menyatakanbahwa sedimen estuaria

merupakanlingkungan yang sangat kompleks,karena sedimen yang berada dimuara


berasal dari beberapa sumber,meliputi dari daratan yang dibawaair sungai (fluvial
sediment), dansedimen dari laut (marine sediment).
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di lapangan di tiap-tiap stasiun
pengamatan tidak ditemukan hasil sebaran yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan
letak stasiun terlalu dekat sehingga hasil yang didapatkan di tiap-tiap stasiun
cenderung sama.
4.4. Dampak yang Diakibatkan oleh Sedimen
Dari penelitian ini sedimen dapat berdampak negatif dan berdampak positif ,
dampak negatifnya proses sedimentasi di perairan dapat menimbulkan pendangkalan
dan penurunan kualitas air. Seperti yang dilaporkan olehSolihuddin (2011)
menjelaskan bahwa banyaknya partikel sedimen yang dibawa oleh aliran sungai ke
laut akan diendapkan di sekitar muara sungai, sehingga potensial menggangu alur
pelayaran dan menyebabkan banjir apabila musim hujan tiba. Dampak positif
membentuk tanah sedimen yang subur dan seperti dalam jangka panjang sedimentasi
dalam jutaan tahun kembali akan menghasilkan mineral yang berguna untuk energi
seperti minyak dan gas seperti pengendapan yang terjadi di sungai, banyak yang

27

menggali dan menambang pasir di daerah sungai. Gas merupakan bahan untuk
perapian rumah tangga, dan pasir sangat bermanfaat sebagai bahan bangunan, pasir
yang berasal dari sedimen sungai lebih memiliki kualitas yang tinggi dibandingkan
dengan yang lain nya karena sedimentasi menyebabkan kualitas pasir menjadi bagus
untuk bahan bangunan dan untuk membuat jalan. Adapun yang lebih hebat sedimen
sungai kadang mengandung bahan tambang yang sangat mahal dipasaran misalnya
emas.

28

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Data berat sedimen tersuspensi tertinggi terdapat pada Stasiun I dengan nilai
sebesar 121,5 gram.
2. Daerah aliran sungai Tempat Pendaratan Ikan Lampulo memilki enam fraksi
sedimen yaitu pasir kasar, pasir sedang, pasir halus, pasir sangat halus, lanau
kasar dan lanau lumpuran.
3. Sebaran fraksi sedimen tersuspensi di aliran sungai Tempat Pendaratan Ikan
Lampulo didominasi oleh lanau lumpuran.
4. Data sampel sedimen tersuspensi pada tiap-tiap stasiun menunjukkan nilai
ukuran butir rata-rata (d) tertinggi pada Stasiun II sebesar 0,12 mm termasuk
dalam kategori pasir halus (berdasarkan skala wentworth) sedangkan ukuran
butir rata-rata (d) di Stasiun I dan III memiliki nilai yang sama yaitu 0,11
mm termasuk dalam kategori pasir sangat halus.
5.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian terhadap banyaknya sedimen yang terkandung di
perairan sungai Tempat Pendaratan Ikan Lampulo agar tidak terjadi sedimentasi serta
pendangkalan. Diharapkan kepada penelitian selanjutnya tidak memilih lokasi
pengambilan yang terlalu dekat jarak antara stasiun dengan stasiun lainnya.

28

DAFTAR PUSTAKA
Alaert, G dan S. S. Santika. 1987. Metoda Penelitian Air. Usaha Nasional, Surabaya
Anasiru, T. 2006. Angkutan Sedimen Pada Muara Sungai Palu. Jurnal SMARTek.
Vol 4 (1) : 25-33
Astuti, R.D. 2011. Kandungan Logam Berat cd dan cu Berdasarkan Ukuran Partikel
Sedimen di Perairan Teluk Jakarta. Skripsi Jurusan Ilmu Kelautan dan
Teknologi Kelautan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Chester, R. 1990. Marine Geochemistry. Unwin Hyman Ltd, London.
Dahuri, R. J, Rais, S.P., Ginting, dan M. J. Sitepu, 1996. Pengelolaan Sumber Daya
Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT Pradnya Paramita, Jakarta.
Darlan, Y. 1996. Geomorfologi Wilayah Pesisir. Aplikasi Untuk Penelitian Wilayah
Pantai, Pusat Pengembangan Geologi Kelautan, Bandung.
Dyer, K.R. J. 1986. Coastal and Estuary Sediment DynamicChicester-New YorkBrisbane-Toronto-singapore.
Effendi H, 2003. Telaah kualitas air bagi pengolaan sumber daya dan lingkungan
perairan. Yogyakarta : Penerbit kanisius.
Efriyeldi, 1999. Sebaran Spasial Karakteristik Sedimen Dan Kualitas Air Muara
Sungai Bantan Tengah, Bengkalis Kaitannya Dengan Budidaya KJA. Jurnal
Natur Indonesia. Vol I1(1) : 85-92.
Gross, M. G. 1972. Oceanography. A View of The Earth. Prentice Hall Inc New
Jersey.
Hartini, 2009. Efek Sedimentasi Terhadap Terumbu Karang di Pantai Timur
Kabupaten Bintan. Skripsi Jurusan Ilmu Pengolaan Sumberdaya Pesisir dan
Lautan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Hartono. 2006.Potensi Sumber Daya Geologi di Daerah Cekungan Bandung dan
Sekitarnya. Jurnal Geologi Indonesia, Vol.1 (1) : 9-18.
Hutagalung, H. P., D. Setiapermana dan S. H. Riyono. 1997. Metode Analisis Air
Laut, Sedimen dan Biota. Buku 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Oseanologi LIPI, Jakarta.
Ilyas, M. A. 2002. Sedimentasi Dan Dampaknya Pada DPS Citarum Hulu. Jurnal
Teknologi Lingkungan. Vol. 3 (2) : 159-164.

29

30

Jayantie, R.W.N. 2009. Pengukuran Acoustic Backscattering Strength Dasar Perairan


Selat Gaspar dan SekitarnyaMenggunakan Instrumen Simrad ek60. Skripsi
Jurusan Ilmu dan Teknologi Kelautan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Knox, G.A. 1986. Estuary Ecosystem: A System Approach. Volume I. CRC. Press,
Inc. Boca Raton, Florida. 289 pp.
Krumbrein, W.C. and L.L. Sloss. 1963, Statigraphy
W.H.Freeman and Company. San Fransisco.

and

Sedimentation

Nazir, M. 2005. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Ciawi - Bogor.Neilson, B. J.


A., Kuo and J. Brubaker. 1989. Estuarine Circulation. The Humana Press
Inc, New Jersey.
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia, Jakarta.
Penerjemah : Eidman dkk. Hal 459.
Odum, E.P. 1971. Fundamental of Ecology. W.B. Saunders Company, LondonToronto. 574 pp.
Pettijohn, F.J. 1975. Sedimentary rocks, 3rd ed. Harper and Row, New York.
Pipkin, B.W.1977. Laboratory Exercise in Oceanography. W.H Freeman and
Company. San Fransisco.
Poerbandono dan E. Djunasjah, 2005. Survei Hidrografi, Refika Aditama, Bandung.
Rachman, A. A. 2008. Sebaran Menegak Konsentrasi Pb, Cu, Zn, Cd, dan Ni di
Sedimen Pulau Pari Bagian Utara Kepulauan Seribu. [skripsi]. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor. 55 hlm.
Rahardjo, S dan H. S Sanusi. 1983. Oseanografi Perikanan 1. Departemen
Pendidikan danKebudayaan, Jakarta.
Riyadi, A, Widodo, L dan Wibowo, K. 2005. Kajian Kualitas Perairan Laut Kota
Semarang dan Kelayakannya Untuk Budidaya laut. Jurnal Teknologi
Lingkungan. Vol. 6 (3) : 497-501.
Satriadi, A. dan S. Widada. 2004. Distribusi Muatan Padatan Tersuspensi di Muara
Sungai Bodri, Kabupaten Kendal. Jurnal Ilmu Kelautan. Vol. 9 (2) : 101-107
Shepard, E.P., 1954. Nomenclature based on sand silt clay ratios. Journal Sediments
Petrology 24 : 151 - 158.
Solihudin dkk., (2011). Prediksi Laju Sedimentasi di Perairan Pemangkat, Sambas
Kalimantan Barat Menggunakan Metode Pemodelan. Jurnal Buletin Tata
Lingkungan. Vol. 21 (3) 117-126.
Triatmodjo, B. 1999. Teknik Pantai. Beta Offset,Yogyakarta.

Lampiran 1. Data Berat Bedimen Tersuspensi

No

Berat Sampel (g)

Minggu

Total

135

84

116

II

90

89

110

335
289

III

60

130

90

280

IV

142

176

90

408

165

90

120

375

VI

130

90

140

360

VII

170

80

120

370

VIII

80

120

125

325

121,5

107,375

113,875

342,75

Jumlah

Berat Sampel awal (g)

125
120
115
110
105
100
I

II
Stasiun Pengamatan

31

III

Lampiran 2. Analisa Data Persentase Berat Sedimen


Analisa Data
1. Minggu I Stasiun 1
Rumus perhitungan persentase berat sedimen sbb:
Persen berat fraksi sedimen i=

berat sedimen i
x 100%
berat sampel sedimen

Dimana: berat fraksi sedimen i = Berat tiap-tiap ukuran butir (g)

No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
3
4
22
2
2
99
135

% Berat Sampel
2,27
3,03
16,66
1,51
1,51
75
99,98

= 135 x 100% = 2,27 %


2. Minggu I Stasiun 2
No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

32

Berat Sampel
(g)
3
4
20
2
2
52
84

% Berat Sampel
3,57
5,95
23,80
2,38
2,38
61,60
99,98

3. Minggu I Stasiun 3
No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
3
4
30
3
2
75
116

% Berat Sampel
1,75
3,44
25,86
2,58
1,72
64,65
99,97

4. Minggu II Stasiun 1
No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
2
4
15
3
2
64
90

% Berat Sampel
2,22
4,44
16,66
3,33
2,22
71,11
99,99

5. Minggu II Stasiun 2
No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

33

Berat Sampel
(g)
3
3
12
2
4
65
89

% Berat Sampel
3,37
3,37
13,48
2,24
4,49
73,03
99,98

6. Minggu II Stasiun 3
No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
2
4
22
3
2
75
110

% Berat Sampel
1,81
3,63
22,72
2,72
1,81
68,18
100

7. Minggu III Stasiun 1


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
2
2
10
2
3
41
60

% Berat Sampel
3,33
3,33
16,66
3,33
5
68,33
99,98

8. Minggu III Stasiun 2


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

34

Berat Sampel
(g)
2
4
26
2
3
94
130

% Berat Sampel
1,53
3,07
20
1,53
2,30
72,30
100

9. Minggu III Stasiun 3


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
2
2
22
2
2
60
90

% Berat Sampel
2,22
2,22
24,44
2,22
2,22
66,66
99,98

10. Minggu IV Stasiun 1


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
3
4
25
3
3
105
142

% Berat Sampel
2,11
2,81
17,60
2,11
2,11
73,94
100

11. Minggu IV Stasiun 2


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

35

Berat Sampel
(g)
3
4
30
2
3
135
176

% Berat Sampel
1,70
2,27
17,04
1,13
1,70
76,70
100

12. Minggu IV Stasiun 3


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
2
4
20
2
2
60
90

% Berat Sampel
2,43
4,44
22,22
2,43
2,43
66,66
100

13. Minggu V Stasiun 1


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
3
4
25
3
3
128
165

% Berat Sampel
1,81
2,42
15,15
1,81
1,81
77,57
100

14. Minggu V Stasiun 2


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

36

Berat Sampel
(g)
2
3
20
2
2
61
90

% Berat Sampel
2,22
3,33
22,22
2,22
2,22
67,77
99.98

15. Minggu V Stasiun 3


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
3
3
22
3
2
87
120

% Berat Sampel
2,5
2,25
18,33
2,5
1,66
72,5
99,99

16. Minggu VI Stasiun 1


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
3
4
20
3
3
98
130

% Berat Sampel
2,30
3,07
15,38
2,30
2,30
75,38
100

17. Minggu VI Stasiun 2


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

37

Berat Sampel
(g)
2
2
19
4
3
60
90

% Berat Sampel
2,22
2,22
21,11
4,44
3,33
66,66
99,98

18. Minggu VI Stasiun 3


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
2
4
24
2
4
105
140

% Berat Sampel
1,42
2,85
17,14
1,42
2,85
75
100

19. Minggu VII Stasiun 1


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
3
4
28
2
3
130
170

% Berat Sampel
1,76
2,35
16,47
1,17
1,76
76,47
99.98

20. Minggu VII Stasiun 2


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

38

Berat Sampel
(g)
2
3
23
3
2
47
80

% Berat Sampel
2,5
3,75
28,75
3,75
2,5
58,75
100

21. Minggu VII Stasiun 3


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
2
3
25
3
2
85
120

% Berat Sampel
1,66
2,5
20,83
2,5
1,66
70,83
99,98

22. Minggu VIII Stasiun 1


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

Berat Sampel
(g)
2
4
15
4
3
52
80

% Berat Sampel
2,5
5
18,75
5
3,75
65
100

23. Minggu VIII Stasiun 2


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

39

Berat Sampel
(g)
3
4
24
3
2
84
120

% Berat Sampel
2,5
3,33
20
2,5
1,66
70
99,99

24. Minggu VIII Stasiun 3


No
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

Ukuran Saringan
(mm)
>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

40

Berat Sampel
(g)
2
3
23
3
2
93
125

% Berat Sampel
1,6
2,4
18,4
2,4
1,6
74,4
100

Lampiran 3. Data Hasil Persentase BeratSedimen Tersuspensi

Minggu

II

III

IV

VI

VII

VIII

Stasiun

1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3

Sangat
kasar
>1
(mm)
-

Kasar
1-0,5
(mm)
2,27
3,57
1,72
2,22
3,37
1,81
3,33
1,53
2,22
2,11
1,70
2,43
1,81
2,22
2,5
2,30
2,22
1,42
1,76
2,5
1,66
2,5
2,5
1,6

Persentase Berat Sedimen (%)


Pasir
Sangat
Sedang
Halus
Halus
0,500,250,125-0,75
0,25
0,125
(mm)
(mm)
(mm)
3,03
16,66
1,51
5,95
23,80
2,38
3,44
25,86
2,68
4,44
16,66
3,33
3,37
13,48
2,24
3,63
22,72
2,72
3,33
16,66
3,33
3,07
20
1,53
2,22
24,44
2,22
2,81
17,60
2,11
2,27
17,04
1,13
4,44
22,22
2,43
2,42
15,15
1,18
3,33
2,22
2,22
2,5
18,33
2,5
3,07
15,38
2,30
2,22
21,11
4,44
2,85
17,14
1,42
2,35
16,47
1,17
3,75
28,75
3,75
20,83
20,83
25
5
18,75
5
3,33
20
2,5
2,4
18,4
2,4

41

Lumpur
Lanau
Lanau
Kasar
lempung
0,75-0,038
< 0,038
(mm)
(mm)
1,51
2,38
1,72
2,23
4,49
1,81
5
2,30
2,22
2,11
1,70
2,43
1,18
2,22
1,66
2,30
3,33
2,85
1,76
2,5
1,66
3,75
1,66
1,6

75
61,90
64,65
71,11
73,03
68,18
68,33
72,30
66,66
73,94
76,70
66,66
77,57
67,77
72,5
75,38
66,66
75
76,47
58,75
70,83
65
70
74,4

Deskripsi

Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran
Lumpur Pasiran

Lampiran 4. Ukuran Butir rata-rata (d)

%berat fraksi x ukuran butiran

d=

100

Dimana : d = Nilai ukuran butir rata-rata (mm)

1. Stasiun 1 minggu I

No

Ukuran Saringan (mm)

Berat Sampel (g)

% Berat
Sampel

1
2
3
4
5
6
7
Jumlah

>1
0,5
0,25
0,125
0,075
0,038
< 0,038

3
4
22
2
2
99
135

2,27
3,03
16,66
1,51
1,51
75
99,98

d=

2,27 1
100

3,03 0,5
100

16,66 0,25
100

1,51 0,125
100

1,51 0,075
100

42

(d)
Ukuran butirrata rata
(mm)

0,11
75 0,038
100

= 0,11. ..

Ukuran butir rata-rata d (mm) sedimen tersuspensi pada tiap-tiap stasiun pengambilan
Periode
Minggu
I

Minggu
II

Minggu
III

Minggu
IV

Minggu
V

Minggu
VI

Minggu
VII

Minggu
VIII

1.

d (mm)
0,11

d (mm)
0,11

d (mm)
0,12

d (mm)
0,11

d (mm)
0,10

d (mm)
0,11

d (mm)
0,10

d (mm)
0,13

0,11

2.

0,15

0,11

0,11

0,10

0,12

0,11

0,14

0,12

0,12

3.

0,12

0,12

0,12

0,13

0,11

0,10

0,11

0,10

0,11

0,12

0,11

0,11

0,11

0,11

0,10

0,11

0,11

0,11

Stasiun

Rata-rata

43

Rata-rata
d (mm)

Lampiran 5. Dokumentasi

Pengambilan Sampel

Pengayakan Sampel

Analisis Sampel

Pengeringan Sampel

Penimbangan Sampel

Pelebelan Sampel

44

Lanjutan
Hasil Ayakan

>1(mm)

1- 0,5 (mm)

0,125-0,75 (mm)

0,75-0,038 (mm)

0,50-0,25 (mm)

< 0,038 (mm)

45

0,25-0,125 (mm)

BIODATA
1. Nama

: Kurniati

2. Tempat dan Tanggal Lahir : Alue Trienggadeng 01 Mei 1991


3. Agama

: Islam

4. Alamat

: Jln. Guree Syeh Beh, Dsn. Alue Trienggadeng,


Gampong Kaye Aceh, Kec. Lembah Sabil, Kab.
Aceh Barat Daya.

5. Nama Ayah

: Zulkifli

6. Pekerjaan

: Tani

7. Nama Ibu

: Fatimah Haji

8. Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga (IRT)

9. Alamat Orang Tua

: Jln. Guree Syeh Beh, Dsn. Alue Trienggadeng,


Gammpong Kaye Aceh, Kec. Lembah Sabil, Kab.
Aceh Barat Daya.

10. Riwayat Pendidikan

No

Jenis
pendidikan

Bidang Studi

1.

SD

2.

SMP

3.

SMA

IPA

4.

SI

Ilmu Kelautan

Tahun
Tamat

Tempat
SD N 3 Menasah Sukon,
ABDYA
SMP N 2 Manggeng, ABDYA
SMA N Lembah Sabil,
ABDYA
Universitas Syiah Kuala,
Banda Aceh

11. Karya Tulis


:
No
Judul
Analisis Persentase Berat Sedimen Tersuspensi di Perairan
1. Tempat Pendaratan Ikan Lampulo Kota Banda Aceh Provinsi
Aceh

2003
2006
2009
2013

Tahun
2013

Banda Aceh, Desember2013

Kurniati