Anda di halaman 1dari 68

DEMAM BERDARAH

DENGUE

Dr.N.L.KD. Dewi sangawati, Sp.A


S.M.F Anak.RSUP Mataram

INDONESIA :
Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD)
Januari Mei 2004 : 64.000 (incidence Rate
29,7 per 100.000 penduduk) dengan kematian
sebanyak 724 orang (Case Fatality Rate 1,1%).
Di RSU Mataram : Januari Juni 2006, jumlah
penderita DBD yang dirawat 524, meninggal
2 orang (Case Fatality Rate 0,38 %).

PENDAHULUAN
Definisi

Demam Berdarah Dengue (DBD) ialah


penyakit demam akut terutama menyerang
pada anak disertai dengan manifestasi
perdarahan dan bertendensi menimbulkan
syok yang dapat menyebabkan kematian.
Penyebab

Virus Dengue type 1,2,3,4 ditularkan


melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan
Aedes albopictus.

VIRUS DENGUE

Golongan Arbovirus ( group B


Arthropod borne virus ).

4 serotipe : DEN-1, DEN-2,DEN-3,


DEN-4.

Indonesia : Ke-4 serotipe ada.

Nyamuk Aedes aegypti

Hidup didaerah tropis & subtropis,tidak terdapat


diketinggian 1000 m.
Vektor utama untuk Arbovirus, bersifat :

- anthropophilic : hanya menggigit manusia.

multiple biter : menggigit tidak hanya 1 x.


dapat hidup dialam bebas.
terbang/menggigit pada siang/sore hari.

Hidup dan berkembang biak pada tempat2


penampungan air bersih yang tidak berhubungan
langsung dengan tanah.

Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti .

Telur Dewasa
: 10 12 hari.
Umur nyamuk betina : 2 mg3 bl (rata-rata,1 bl)
Kemampuan terbang : 40 100 m.
Setelah menggigit manusia 3hr akan bertelur
100 butir. Dalam 2-3 hr akan menjadi jentik,49hr menjadi kepompong,1-2 hr menjadi nyamuk
dewasa.

CARA PENULARAN :

Terdapat 3 faktor yang memegang peranan pada


penularan infeksi virus dengue yaitu : manusia, virus
dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan
kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti atau Aedes albopictus.
Nyamuk dapat mengandung virus dengue pada saat
menggigit manusia yang sedang mengalami viremia.
Virus berkembang dalam tubuh nyamuk 8-10 hari
(extrinsic incubation period) sebelum ditularkan
kepada manusia pada gigitan berikutnya.
Didalam tubuh manusia virus memerlukan waktu
masa tunas 4-6 hari (intrinsic incubation period).

1 Virus transmitted to
human in mosquito
saliva
2 Virus replicates in
. target organs
3 Virus infects white
. blood cells and
lymphatic tissues
4 Virus released and
. circulates in blood

INFEKSI VIRUS DENGUE


Manifestasi infeksi Virus Dengue
Manifestasi klinis infeksi virus dengue
dapat bersifat :
- Asimptomatik atau demam yang tidak jelas.
- Demam Dengue.
- Demam Berdarah Dengue.
- Dengue dengan kebocoran plasma yang
mengakibatkan syok atau sindroma syok
atau sindroma syok dengue (SSD).

Spectrum Klinis Infeksi Virus Dengue


Infeksi Virus Dengue
Asimptomatik
Simptomatik
Demam tdk
spesifik

Demam dengue

Perdarahan (-)

Perdarahan (+)

Demam Berdarah
Dengue

Syok (-)

Syok (+)

DSS
DEMAM BERDARAH
DENGUE
DEMAM DENGUE

DEMAM TIDAK
SPESIFIK/ASIMPTO
MATIK

PATOGENESIS

Masih kontroversial : banyak teori.


Infeksi pertama menyebabkan Demam Dengue.
Infeksi ke dua menyebabkan Demam Berdarah
Dengue.
S.Halstead(1969) : DBD terjadi o.k Infeksi kedua dari
virus dengue dengan serotipe yang berbeda.
Infeksi pertama menimbulkan antibodi,infeksi kedua
terjadi reaksi antigen antibodi yg akan mengaktivasi
sistem komplemen untuk melepaskan mediator yang
mengakibatkan peningkatan permeabilitas dinding
pembuluh darah sehingga terjadi perembesan
plasma.Perembesan plasma dapat mengakibatkan
syok.Syok dapat mengakibatkan kematian.
Pada DBD terjadi perembesan plasma, pada DD tidak

Patogenesis
Secondary heterelogoeus dengue infection

Kompleks virus-antibodi

Aktivasi komplemen

Anafilatoksin (C3a,C5a)

Permeabilitas kapiler meningkat


Ht meningkat
Perembesan plasma

Na menurun
Cairan dlm rongga

Hipovolumea

Syok
Anoksia

Asidosis
Meninggal

serosa

Secondary heterelogous dengue infection.

Replikasi virus

Anamnestic antibody response

Kompleks Virus antibody

Agregasi trombosit

Aktivasi koagulasi

Aktivasi

komplemen

Penghancuran

Pengeluaran

Trombosit oleh RES

Platelet faktor III

Aktivasi faktor Hageman

Anafilatoksin
Trombositopenia

Koagulopati

Sistem kinin

konsumtif
Gangguan
Fungsi trombosit

kinin
Penurunan faktor

Peningkatan
permeabilitas

Pembekuan

kapiler
FDP meningkat

Perdarahan masif

PATOGENESIS PERDARAHAN PADA DBD

Syok

DIAGNOSIS

Masa inkubasi dalam tubuh manusia


sekitar 4-6 hr (rentang 3-14 hr),
timbul gejala prodromal yang tidak
khas seperti : nyeri kepala, nyeri
tulang belakang dan perasaan lelah

DEMAM DENGUE

Merupakan penyakit demam akut selama


2-7 hr, ditandai dengan dua atau lebih
manifestasi klinik sebagai berikut :
- Nyeri kepala.
- Nyeri retro-orbital.
- Mialgia/artralgia.
- Ruam kulit.
- Manifestasi perdarahan (petekie atau uji
bendung positip ).
- leukopenia.

DEMAM BERDARAH DENGUE


1. Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari biasanya bifasik.
2. Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan
berikut : - Uji bendung (Rumple Leed ) positif.
- Petekie, ekimosis, atau purpura.
- Perdarahan mukosa (tersering epistaksis atau perdarahan gusi), atau perdarahan di tempat lain.
- Hematemesis atau melena.
3. Trombositopenia (jumlah trombocyt <100.000/ml ).
4. Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma leakage (kebocoran
plasma) sebagai berikut :
- Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar
sesuai dengan umur dan jenis kelamin.

- Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat


terapi cairan, dibandingkan dengan nilai
hematokrit sebelumnya.
-Tanda kebocoran plasma seperti : Efusi pleura,
asites,hipoproteinemia, atau hiponatremia.

DEMAM PADA DD/DBD

Fase Demam

Fase Kritis

Fase Penyembuhan

PENGENALAN DINI KASUS DBD


Tidak mudah.
Gejala awal menyerupai
penyakit virus lainnya.
Lebih jelas pada sakit hari
ke 3 ( lab ).

Cara uji Rumpel Leede/Turniket


(uji resistensi kapiler dari Hess)

Ukur tekanan sistole dan diastole.


Cari pertengahan antara sistole dan diastole
( Sistole+Diastole) dibagi 2 = x mmhg.
Pertahankan manset pd tekanan x selama 5*
Perhatikan adanya petekie dibagian volair lengan
bawah.
Bila 10 petekie : RL positip.

DIAGNOSIS LABORATORIUM
Lab.spesifik
Identifikasi virus : isolasi virus/partikelnya
pemeriksaan serologi
deteksi antibodi dengue dlm serum
deteksi antigen virus atau RNA dalam jaringan
atau serum

Lab. tidak spesifik


hitung leukosit
limfosit plasma biru
hitung trombosit
hematokrit/Ht
Lain-lain :

Albumin

Gas darah

GOT, GPT

PT, APTT, Fibrinogen, D-dimer

Ureum, kreatinin

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DEMAM DENGUE


HARI
DEMAM

JENIS PEMERIKSAAN

1-2

HEMATOLOGI :
Hemoglobin (Hb)
Hematokrit (Ht)
Hitung Lekosit
Hitung Trombosit

HEMATOLOGI :
Hemoglobin (Hb)
Hematokrit (Ht)

CATATAN / INTERPRETASI
Biasanya Normal

Hitung Lekosit

Hitung Trombosit

Hemoglobin meningkat
Hemokonsentrasi (peningkatan Ht 20% dari asal)
Ht/Hb 3,5 dipertimbangkan DBD*
Leukopenia
Limfositosis relatif ( > 45 % dari total leko)
Limfosit plasma biru
(>15% dari total leuko / >4% dari total limfosit)
Trombositopeni(< 100.000/L)/ penurunan serial
Trombosit < 2/100 eri/LPB
(min dilihat 10 lapang pandang)

HARI
DEMAM
4-7

JENIS PEMERIKSAAN

CATATAN / INTERPRETASI

HEMATOLOGI

Hb
Ht
Hitung leukosit
Hitung trombosit
Hapus darah tepi

IMUNOSEROLOGI

Anti-Dengue IgM, IgG

Uji HI

KIMIA

Waspadai DIC
(PT>,APTT>,D-Dimer +, atau Fibrin Monomer +,
Fibrinogen <)
Indikasi pemberian darah :
-FFP : perdarahan masif, APTT>1,5 x N
-Trombosit : bila perdarahan masif

Peningkatan IgM dan atau IgG


IgM +, IgG - : Inf Primer
Ig M+, IgG+ : Inf Sekunder
IgM -, Ig G+: Riwayat terpapar / Dugaan Inf Sekunder
IgM - , IgG - : Bukan Inf Flavivirus,
ulang 3-5 hr bila curiga

1:2560 Inf Sekunder Flavivirus

SGOT/SGPT , allbumin ,
AGD (syok> : asidosis metabolik)
Ureum , kreatinin (acute tubular necrosis)

HARI
DEMAM

JENIS PEMERIKSAAN

8-10 HEMATOLOGI

11-12

Hb
Ht
Hitung leukosit
Hitung trombosit
Hapus darah tepi

IMUNOSEROLOGI
Uji HI

CATATAN / INTERPRETASI

Normal pada fase penyembuhan

Peningkatan titer > 4 x


1 : 1280 Inf Flavivirus Akut Primer
1 : 2560 Inf Flavivirus Akut Sekunder

* Pada Lab dg kemampuan terbatas

(Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Indonesia 2004)

INTERPRETASI HASIL
PEMERIKSAAN IgM dan IgG
IgM
(+)
(+)
(-)

IgG
(-)
(+)
(+)

(-)

(-)

Interpretasi
Infeksi primer
Infeksi sekunder
Tersangka
infeksi sekunder
Tidak ada
infeksi

KELAINAN

LABORATORIUM PADA DBD

trombositopenia
hemokonsentrasi
leukopenia

- paling sering ditemukan


- biasanya hari ke 3-4
- hit trombosit < 100.000/L
- beratnya hemokonsentrasi
beratnya syok

Akibat kebocoran plasma


hipoalbuminemia
kenaikan serum transaminase

PT & APTT memanjang


Risiko
pe kadar F. II, V, IX dan XI
perdarahan
hipofibrinogenemia
ditemukan selama fase
hipovolemik
pe FDP

Limfosit Plasma
Biru

DIAGNOSA BANDING

Demam tifoid.
Campak.
Influenza.
Chikungunya.
Leptospirosis.
Malaria.

Perbedaan utama antara Demam Dengue


dengan Demam Derdarah Dengue ditemukan
adanya kebocoran plasma pada DBD.

Derajat beratnya penyakit


( Demam Berdarah Dengue )
Derajat I

: Demam & Uji tourniquet positif.

+ tanda kebocoran plasma.


Derajat II : Derajat I & perdarahan spontan.
+ tanda kebocoran plasma.
Derajat III : Didapatkan kegagalan sirkulasi
(nadi cepat,hipotensi,acral dingin anak
tampak gelisah ).
Derajat IV : Syok berat.

SINDROM SYOK DENGUE


(SSD); SINDROMA RENJATAN DENGUE

Seluruh kriteria diatas untuk DBD disertai


kegagalan sirkulasi dengan manifestasi
nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi
turun (20 mmHg), hipotensi
dibandingkan standar sesuai umur, kulit
dingin dan lembab serta gelisah)

TANDA AWAL SYOK PADA DBD


Anak tampak gelisah.
Kesadaran menurun
Nafas cepat.
Dapat disertai nyeri perut.
Nadi cepat,tekanan nadi <20 mm hg.
Tekanan darah menurun.
Ujung tangan & kaki dingin.
Diuresis kurang.

TATA LAKSANA
Perjalanan penyakit DBD terbagi atas 3 fase :
1. Fase demam yang belangsung selama 2-7 hari
2. Fase kritis/bocornya plasma yang berlangsung
umumnya hanya 24-48 jam.
3. Fase penyembuhan (2-7 hari).

TATALAKSANA DD / DBD

Fase Demam Fase Kritis

Fase Penyembuhan

Berdasarkan perjalanan penyakit tersebut


maka tatalaksana kasus DBD secara umum
dapat dibagi atas 3 fase tadi :
1. Fase demam ( hari 1 3 ) :
* Terapi simtomatik dan suportif.
a. Parasetamol 10mg/kg/dosis setiap 4-6 jam
( aspirin dan ibuprofen kontra indikasi).Kompres
hangat diberikan apabila pasien masih tetap
panas.
b. Terapi suportif yang dapat diberikan antara lain
larutan oralit, jus buah atau susu dan lain-lain.

* Apabila pasien memperlihatkan tanda dehidrasi dan


muntah hebat, berikan cairan sesuai kebutuhan. Apabila
perlu berikan cairan intra vena.
* Semua pasien tersangka dengue harus diawasi dengan
ketat setiap hari sejak hari sakit ke-3.
Selama fase demam sulit untuk membedakan antara
pasien DD dengan DBD. Ruam makulopapular dan
mialgia/artralgia lebih banyak ditemukan pada pasien
demam dengue. Setelah bebas demam selama 24 jam
tanpa antipiretik, pasien demam dengue akan masuk
kedalam fase penyembuhan,sedangkan pasien DBD
memasuki fase kritis. Sebagian pasien ini sembuh
setelah pemberian cairan intra vena, sedangkan kasus
berat akan jatuh kedalam syok.

PEMANTAUAN :
1. Pemeriksaan fisis :
* Tanda vital : waspadai gejala syok.
* Perabaan hati :
- Hati yang membesar dan lunak merupakan
indikasi mendekati fase kritis, pasien harus
diawasi ketat dan dirawat di RS.
2. Pemeriksaan laboratorium :
* Leukopenia <5000 dan limfositosis relatif,
peningkatan limfosit atipikal (mengindikasikan
dalam waktu 24 jam pasien akan bebas
demam serta memasuki fase kritis).

- Trombositopenia mengindikasikan pasien

memasuki fase kritis dan memerlukan


pengawasan ketat di rumah sakit.

- Peningkatan nilai Ht 10-20% mengindikasikan


pasien memasuki fase kritis dan memerlukan
terapi cairan intra vena apabila pasien tidak
dapat minum oral. Pasien harus dirawat dan
diberi cairan sesuai kebutuhan. Penurunan Ht
merupakan tanda-tanda perdarahan.

Berikan penerangan kepada orang tua mengenai petanda


gejala syok yang mengharuskan orang tua membawa
anaknya ke rumah sakit, antara lain :
Keadaan memburuk sewaktu pasien mengalami penurunan suhu.
Setiap perdarahan.
Nyeri abdominal akut dan hebat.
Mengantuk, lemah badan, tidur sepanjang hari.
Menolak untuk makan dan minum.
Lemah badan, gelisah.
Perubahan tingkah laku.
Kulit dingin, lembab.
Tidak buang air kecil selama 4 - 6 jam.

INDIKASI RAWAT :
- Adanya tanda-tanda syok.
- Sangat lemah sehingga asupan oral tidak mencukupi.
- Perdarahan.
- Hitung trombosit 100.000 dan atau peningkatan Ht
10-20%.
- Mengantuk, lemah badan, tidur sepanjang hari ketika
penurunan suhu.
- Nyeri abdominal akut hebat.
- Tempat tinggal yang jauh dari Rumah Sakit

2.Fase kritis (hari ke 3 sampai dengan hari ke 5)


A. Tatalaksana umum :
- Rawat di bangsal khusus atau sudut tersendiri
sehingga pasien mudah diawasi .
- Catat tanda vital, asupan dan keluaran cairan
dalam lembar khusus.
- Berikan oksigen pada kasus dengan syok.
- Hentikan perdarahan dengan tindakan yang
tepat.
- Hindari tindakan prosedur yang tidak perlu,
seperti pemasangan pipa nasogastrik pada
perdarahan saluran cerna

B. Kewaspadaan perlu ditingkatkan pada pasien


resiko tinggi , seperti :
- Bayi.
- DBD derajat III dan IV.
- Obesitas.
- Perdarahan masif.
- Penurunan kesadaran.
- Mempunyai penyulit lain, seperti
talasemia dll.
- Rujukan.

C. Tatalaksana cairan :
Indikasi pemberian cairan intravena :
- Trombositopenia, peningkatan Ht 10-20%, pasien
tidak dapat makan dan minum oral.
- Syok.

Jenis cairan pilihan :


- Kristalloid (jenis cairan pilihan diantaranya Ringer
Laktat dan Asetat terutama pada fase syok).
- Koloid (diindikasikan pada keadaan syok berulang
atau syok berkepanjangan).

Jumlah cairan :
* Selama fase kritis pasien harus menerima sejumlah
cairan rumatan ditambah defisit 5-8% atau setara
dehidrasi sedang.
* Pada pasien dengan BB>40 kg, total cairan intravena
setara dengan 2 kali rumatan.
* Pada pasien obesitas, perhitungkan cairan intravena
berdasar atas BB ideal.
Tetesan :
* Pasien non syok : BB <15 kg, awali dengan 6-7 ml/kg/jam.
ml/kg/jam.

BB 15-40 kg
BB > 40 kg

5
3-4 ml/kg/jam.

* DBD derajat III : mulai dengan tetesan 10 ml/kg/jam.

* Kasus DBD derajat lV :


Berikan cairan 10 ml/kgBB atau tetesan lepas selama 1015 menit sampai tekanan darah dan nadi dapat diukur
kemudian turunkan sampai 10 ml/kg/jam.
Penyesuaian tetesan :
Setelah masa kritis terlampaui maka pasien akan masuk
kedalam fase penyembuhan, yang mana pada saat ini
keadaan overload mengancam. Pada pasien DBD cairan
intravena harus diberikan dalam jumlah minimal agar
sirkulasi intra vaskuler tetap memadai, sebab apabila lebih
banyak cairan yang diberikan akan terjadi kebocoran
kedalam rongga pleura dan abdominal yang akan
meyebabkan distres pernafasan dikemudian hari.

Tetesan intravena harus disesuaikan dengan :


* Kondisi klinis : penampilan umum, pengisian kapiler,
selera makan.
* Tanda vital : tekanan darah, suhu tubuh, frekwensi
nafas.
* Hematokrit.
* Luaran urin.
6 - 12 jam pertama setelah syok, tekanan darah dan
nadi merupakan parameter penting untuk menentukan
tetesan, tetapi kemudian perhitungkan semua
parameter sekaligus sebelum mengatur tetesan.

D. Pemantauan syok :
* setelah resusitasi awal, pantau pasien 1 sampai 2 jam.
Apabila tetesan tidak dapat dikurangi menjadi
<10ml/kg/jam, oleh karena tanda vital tidak stabil
(tekanan nadi sempit,cepat dan lemah) ulangi
pemeriksaan Ht.
* Apabila ada kenaikan Ht, ganti cairan dengan koloid,
dengan tetesan 10ml/kg/jam, siapkan darah dan nilai
kembali pasien untuk kemungkinan pemberian transfusi
darah apabila diperlukan.
* Pada pasien dengan syok:
- Apabila nilai Ht awal rendah, pikirkan kemungkinan
perdarahan intravena dan pantau nilai Ht lebih sering,
apabila ada indikasi berikan transfusi darah

*Koreksi gangguan metabolit dan elektrolit, seperti


hipoglikemia, hiponatremia, hipokalsemia dan asidosis.
* Setelah 6 jam, apabila Ht menurun, meski telah
diberikan sejumlah besar cairan pengganti, tetesan tidak
dapat diturunkan sampai <10ml/kg/jam, maka
pertimbangkan untuk pemberian transfusi segera.

Lama pemberian cairan :


* Jangan melebihi 24-48 jam.

Indikasi transfusi darah :


* Perdarahan saluran cerna berat (melena).
* Kehilangan darah bermakna, mis.>10% volume darah total.
(Total volume darah=80 ml/kg). Berikan darah sesuai
kebutuhan. Apabila Packed Red Cell (PRC) tidak tersedia,
dapat diberikan darah segar.

* Pasien dengan perdarahan tersembunyi.


Penurunan Ht dan tanda vital yang tidak stabil
meski telah diberi cairan pengganti dengan
volume yang cukup banyak, berikan sediaan
darah segar 10ml/kg/kali atau PRC 5
ml/kg/kali.

Indikasi transfusi trombosit :


* Hanya diberikan bila ada perdarahan masif.
Dosis: 0,2u/kg/dosis

3. Fase penyembuhan :
Secara umum, sebagian besar pasien DBD akan sembuh
tanpa komplikasi dalam waktu 24-48 jam setelah syok.
Indikasi pasien masuk kedalam fase penyembuhan adalah :
- Keadaan membaik.
- Meningkatnya selera makan.
- Tanda vital stabil.
- Ht stabil dan menurun sampai 35-40%.
- Diuresis cukup.
- Dapat ditemukan confluent petechial rash (30%)
_ Sinus bradikardi.

Cairan intravena harus dihentikan


segera apabila memasuki fase ini.
Apabila nafsu makan tidak
meningkat dan perut terlihat
kembung dengan atau tanpa
penurunan atau menghilangnya
bising usus, kadar kalium harus
diperiksa oleh karena sering terjadi
fase hipokalemia pada fase ini (fase
diuresis). Buah-buahan atau jus buah
atau larutan oralit dapat diberikan
untuk menanggulangi gangguan
elektrolit ini.

Kriteria Memulangkan Pasien


Pasien dapat dipulangkan,apabila memenuhi semua
keadaan dibawah ini :
1. Tampak perbaikan secara klinis
2. Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
3. Tidak dijumpai distres pernafasan ( disebabkan efusi pleura atau
asidosis ).
4. Hematokrit stabil.
5. Jumlah trombocyt cenderung naik > 50.000/l.
6. Tiga hari setelah syok teratasi.
7. Nafsu makan membaik.

STRATEGI PENGOBATAN DBD


TERAPI SUPORTIF & SIMPTOMATIS
PENGGANTIAN VOLUME PLASMA
PEMILIHAN JENIS CAIRAN

Faktor Prognosis DBD

Keterlambatan datang berobat.


Keterlambatan/kesalahan diagnosis.
Kurang mengenal tanda DBD yang tidak
lazim.
Kurang mengenal tanda kegawatan.

PENCEGAHAN
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada
pengendalian vektornya,yaitu nyamuk Aedes aegypti.
Pengendalian nyamuk dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :
1. Lingkungan :
Pemberantasan Sarang Nyamuk ( PSN ) : 3 M
2. Biologis :
Menggunakan ikan pemakan jentik dan bakteri
3. Kimiawi :
- Pengasapan / fogging.
- Memberikan bubuk Abate ( temephos ).

KESIMPULAN :
Untuk mendiagnosis & memberikan
pengobatan yang tepat, pengetahuan
mengenai perjalanan infeksi virus
dengue harus dikuasai oleh seorang
dokter dengan baik.
Pemantauan klinis & laboratorium
secara berkala merupakan kunci
tatalaksana DBD.

Infeksi virus dengue tidak selalu


menyebabkan DBD.
Perbedaan antara DD dengan DBD
adalah adanya kebocoran plasma.
Fase kritis ditandai dengan penurunan
demam dan berlangsung 24 48 jam.
Resusitasi awal dan tatalaksana fase
kritis menentukan prognosis.
Kinetik antibodi pada infeksi virus
dengue harus difahami dengan benar.
Pencegahan harus dilaksanakan secara
terpadu dengan melibatkan masyarakat
secara aktif, terutama dengan 3M.

NYAMUK AEDES AEGYPTI

Anda mungkin juga menyukai