Anda di halaman 1dari 9

http://seminarakuntansi.warsidi.com/2010/05/tugas-seminar-akuntansi-kelasreguler.

html

CRITICAL REVIEW TERHADAP JURNAL PENELITIAN Struktur Meta


Teori Akuntansi Keuangan

CRITICAL REVIEW
TERHADAP JURNAL PENELITIAN
Struktur Meta Teori Akuntansi Keuangan (Sebuah Telaah dan Perbandingan antara
FASB dan IASC). Karya I Made Narsa Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga,
Surabaya.
Oleh :
Th. A. Dian Kusumasari C1C007011
Syarifa Yulianti C1C007014
M. Aditya Abdillah C1C007038
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS EKONOMI
2010

BAB I
PENDAHULUAN
International Financial Reporting Standards (IFRS), merupakan standar tunggal
pelaporan akuntansi berkualitas tinggi dan kerangka akuntasi berbasiskan prinsip yang meliputi
penilaian profesional yang kuat dengan disclosures yang jelas dan transparan mengenai substansi
ekonomis transaksi, penjelasan hingga mencapai kesimpulan tertentu, dan akuntansi terkait
transaksi tersebut. Dengan demikian, pengguna laporan keuangan dapat dengan mudah
membandingkan informasi keuangan entitas antarnegara di berbagai belahan dunia.
Implikasinya, mengadopsi IFRS berarti mengadopsi bahasa pelaporan keuangan global yang
akan membuat suatu perusahaan dapat dimengerti oleh pasar global. Suatu perusahaan akan
memiliki daya saing yang lebih besar ketika mengadopsi IFRS dalam laporan keuangannya.

Tidak mengherankan, banyak perusahaan yang telah mengadopsi IFRS mengalami kemajuan
yang signifikan saat memasuki pasar modal global. Perubahan tata cara pelaporan keuangan dari
Generally Accepted Accounting Principles (GAAP), PSAK, atau lainnya ke IFRS berdampak
sangat luas. IFRS akan menjadi kompetensi wajib-baru bagi akuntan publik, penilai
(appraiser), akuntan manajemen, regulator dan akuntan pendidik. Dengan kesiapan adopsi IFRS
sebagai standar akuntansi global yang tunggal, perusahaan Indonesia akan siap dan mampu
untuk bertransaksi, termasuk merger dan akuisisi (M&A), lintasnegara. Karena IFRS
dimaksudkan sebagai standar akuntansi tunggal global, kesiapan industri akuntansi Indonesia
untuk mengadopsi IFRS akan menjadi daya saing di tingkat global. Inilah keuntungan dari
mengadopsi IFRS. Dan kami melakukan article review, yaitu studi empiris terhadap penelitian
telaah dan perbandingan antara IASB dan IASC. Melalui article review ini, kami mencoba
memahami rancangan penelitian, tujuan penelitian,metode penelitian dan memberikan
rekomendasi untuk penelitian selanjutnya berdasarkan penelitian tersebut.

BAB II
ISI Kerangka Konseptual IFRS
1. Kerangka Konseptual IFRS
Kerangka:
mendefinisikan tujuan laporan keuangan
mengidentifikasi karakteristik kualitatif yang membuat informasi dalam laporan keuangan
berguna
mendefinisikan unsur-unsur dasar laporan keuangan dan konsep-konsep untuk mengakui dan
mengukur mereka dalam laporan keuangan
menyediakan konsep pemeliharaan modal
2. Tujuan umum Laporan Keuangan
Tujuan umum laporan keuangan entitas bisnis (baik dalam sektor publik atau swasta)
adalah mempersiapkan dan menyajikan laporan keuangan setidaknya setiap tahun untuk
memenuhi kebutuhan informasi umum dari berbagai pengguna di luar entitas. Oleh karena itu,
Kerangka ini tidak selalu berlaku untuk tujuan khusus laporan keuangan seperti laporan kepada
aparat pajak, laporan kepada badan pengawas pemerintah, prospektus untuk penawaran
sekuritas, dan laporan untuk kombinasi bisnis.
3. Pengguna dan Kebutuhan Informasi
Kelas utama pengguna laporan keuangan adalah investor, karyawan, pemberi pinjaman,
pemasok dan kreditur perdagangan lainnya, pelanggan, pemerintah dan badan-badan mereka

serta masyarakat umum. Semua pengguna dengan kategori ini bergantung pada laporan
keuangan untuk membantu mereka dalam pengambilan keputusan.
Kerangka ini juga menyimpulkan bahwa investor adalah penyedia modal risiko kepada
entitas sehingga laporan keuangan yang memenuhi kebutuhan mereka juga akan memenuhi
sebagian besar kebutuhan untuk pengguna lain. Informasi yang berguba untuk semua kelompokkelompok pengguna ini adalah ketertarikan mereka pada kemampuan dari suatu badan untuk
menghasilkan kas dan setara kas serta waktu dan kepastian arus kas masa depan.
The Framework mencatat bahwa laporan keuangan tidak dapat memberikan semua
informasi yang pengguna perlukan dalam membuat keputusan ekonomi. Untuk satu hal, laporan
keuangan menunjukkan dampak keuangan dari peristiwa dan transaksi masa lalu, sedangkan
keputusan sebagian besar pengguna laporan keuangan adalah membuat keputusan yang
berhubungan dengan masa depan. Lebih jauh lagi, laporan keuangan hanya memberikan
sejumlah non-informasi keuangan yang terbatas yang dibutuhkan oleh pengguna laporan
keuangan.
Walaupun semua kebutuhan informasi dari kelompok-kelompok pengguna tersebut tidak dapat
dipenuhi, ada kebutuhan informasi yang umum bagi semua pengguna, dan tujuan umum laporan
keuangan berfokus pada pemenuhan kebutuhan ini.
4. Tanggung jawab atas Laporan Keuangan
Manajemen dari sebuah entitas memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan dan
menyajikan laporan keuangan entitas tersebut.
5. Tujuan dari Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan,
kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu entitas yang berguna untuk berbagai pengguna
dalam membuat keputusan ekonomi.
6. Posisi Keuangan
Posisi keuangan suatu entitas dipengaruhi oleh kontrol sumber daya ekonomi, struktur keuangan,
dengan likuiditas dan solvabilitas, dan kapasitas untuk beradaptasi dengan perubahan dalam
lingkungan di mana ia beroperasi. Neraca menyajikan informasi semacam ini.
7. Kinerja
Kinerja adalah kemampuan dari suatu badan untuk memperoleh keuntungan dari sumber
daya yang telah diinvestasikan ke dalamnya. Informasi tentang jumlah dan variabilitas laba
membantu dalam memprediksi arus kas masa depan dari entitas yang ada dalam perkiraan
sumber daya dan potensi tambahan arus kas dari sumber daya tambahan yang dapat
diinvestasikan dalam entitas.

Kerangka ini menyatakan bahwa informasi tentang kinerja terutama diberikan dalam
laporan laba rugi. IAS 1 menambahkan keempat dasar laporan keuangan, pernyataan yang
menunjukkan perubahan ekuitas.
8. Perubahan dalam Posisi Keuangan
Pengguna laporan keuangan mencari informasi tentang investasi, pembiayaan dan aktivitas
operasi bahwa suatu entitas telah beroperasi selama periode pelaporan. Informasi ini membantu
dalam menilai seberapa baik entitas mampu menghasilkan kas dan setara kas dan bagaimana
menggunakan arus kas tersebut. Pernyataan arus kas memberikan informasi seperti ini.
Tambahan catatan dan Jadwal.
Laporan keuangan juga berisi catatan dan jadwal tambahan dan informasi lain bahwa (a)
menjelaskan item dalam neraca dan laporan pendapatan, (b) mengungkapkan risiko dan
ketidakpastian yang mempengaruhi entitas, dan (c) menjelaskan kewajiban setiap sumber daya
dan tidak diakui dalam neraca.
9. Asumsi yang mendasari
Kerangka ini menetapkan asumsi-asumsi yang mendasari laporan keuangan:
Basis Akrual. Transaksi dan peristiwa lain diakui ketika mereka terjadi, bukan pada saat kas
atau yang ekuivalen dengan kas diterima atau dibayar, dan mereka dilaporkan dalam laporan
keuangan periode yang terkait.
Going Concern. Laporan keuangan menganggap bahwa suatu entitas akan terus beroperasi
tanpa batas waktu atau, jika tidak, pengungkapan dan pelaporan dasar yang berbeda diperlukan.
10. Karakteristik kualitatif Laporan Keuangan
Karakteristik ini adalah atribut yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi
investor, kreditur, dan lain-lain. Kerangka mengidentifikasi empat karakteristik kualitatif pokok:
Understandability
Relevansi
Keandalan
Keterbandingan
11. Understandability
Informasi harus disajikan dengan cara yang mudah dipahami oleh pengguna yang memiliki
pengetahuan tentang bisnis, kegiatan ekonomi, akuntansi dan yang bersedia untuk mempelajari
informasi dengan tekun.

12. Relevansi
Informasi dalam laporan keuangan yang relevan adalah ketika hal tersebut mempengaruhi
keputusan ekonomi pengguna. Yaitu, hal tersebut dapat (a) membantu mereka mengevaluasi
masa lalu, sekarang, atau kejadian masa depan yang berkaitan dengan suatu entitas (b)
mengkonfirmasi atau mengoreksi masa lalu evaluasi yang telah mereka buat.
Materialitas adalah komponen relevansi. Informasi adalah material jika kelalaian atau kesalahan
pernyataan dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna. Ketepatan waktu adalah
komponen lain relevansi. Untuk menjadi berguna, informasi harus diberikan kepada pengguna
dalam jangka waktu yang kemungkinan besar dapat mempengaruhi keputusan mereka.
13. Keandalan
Informasi dalam laporan keuangan dapat diandalkan jika hal tersebut bebas dari kesalahan dan
bias dan dapat diandalkan oleh pengguna untuk mewakili peristiwa dan transaks. Kadang-kadang
ada tradeoff antara relevansi dan keandalan - dan penghakiman diperlukan untuk memberikan
keseimbangan yang tepat. Keandalan dipengaruhi oleh penggunaan perkiraan dan ketidakpastian
yang terkait dengan item yang diakui dan diukur dalam laporan keuangan. Ketidakpastian ini
ditangani dengan, sebagian, dengan pengungkapan dan sebagian, dengan menjalankan prinsip
kehati-hatian dalam menyusun laporan keuangan. Kehati-hatian adalah dimasukkannya tingkat
kehati-hatian dalam pelaksanaan penilaian yang diperlukan dalam membuat perkiraan yang
diperlukan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aset atau pendapatan tidak dilebih-lebihkan
dan kewajiban atau pengeluaran yang tidak sederhana. Namun, kebijaksanaan hanya dapat
dilakukan dalam konteks karakteristik kualitatif lainnya dalam Kerangka, terutama relevansi dan
representasi setia transaksi dalam laporan keuangan. Kebijaksanaan tidak membenarkan
disengaja berlebihan dari kewajiban atau pengeluaran, atau sengaja meremehkan aset atau
pendapatan, karena laporan keuangan tidak akan netral dan, karenanya, tidak memiliki kualitas
kehandalan.
14. Keterbandingan
Pengguna harus dapat membandingkan laporan keuangan dari suatu badan dari waktu ke waktu
sehingga mereka dapat mengidentifikasi tren dalam posisi keuangan dan kinerja. Pengguna harus
juga dapat membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda. Pengungkapan kebijakan
akuntansi yang penting untuk perbandingan.

BAB III
PEMBAHASAN CRITICAL REVIEW TERHADAP JURNAL PENELITIAN
A. JUDUL PENELITIAN
Struktur Meta Teori Akuntansi Keuangan (Sebuah Telaah dan Perbandingan antara FASB dan
IASC). Karya I Made Narsa Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya.

B. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk membahas struktur meta teori yang dipergunakan oleh
FASB dan IASC dalam mengembangkan rerangka konseptual, menelaah perbedaan-perbedaan
mendasar, menganalisis hambatan-hambatan yang dialami serta mengidentifikasi upaya-upaya
yang harus dilakukan agar IFRS diterapkan oleh negara-negara anggota.
C. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode study comperative yang dilakukan dengan cara
membandingkan rerangka dasar yang diatur dalam FASB dan IASC dan kemudian menganalisa
hambatan yang timbul dengan adanya penerapan IFRS dan mengidentifikasi bagaimana
hambatan tersebut dapat diselesaikan.
D. HASIL
Sangat diharapkan ada sebuah standar yang dapat diterima oleh semua Negara di dunia.
Dengan adanya standar yang diterima secara internasional, diharapkan laporan keuangan
memiliki daya keterbandingan yang lebih tinggi antar negara. Tentu saja upaya-upaya kearah
harmonisasi internasional ini bukanlah pekerjaan mudah.
Faktanya dalam dunia akuntansi saat ini standar akuntansi yang berlaku di Amerika
Serikat yang disusun oleh Financial Accounting Standards Board (FASB), diikuti oleh beberapa
negara, baik secara langsung maupun modifikasi. Sementara International Accounting Standards
(IASs) yang dikeluarkan oleh International Accounting Standards Committee (IASC), belum
diikuti oleh semua negara, bahkan oleh negara-negara anggota yang tergabung dalam IASC
tersebut.
FASB akhirnya berhasil membuat sebuah model rerangka konseptual yang mapan
disebut, Statement of Financial Accounting
Concepts (SFAC). SFAC ini dianggap lengkap dan terdiri dari 6 statements, yaitu SFAC
No 1 (1978), SFAC No 2 (1980), SFAC No 3 (1980), SFAC No 4 (1980), SFAC No 5 (1984),
dan SFAC No 6 tahun 1985. SFAC No 6 menggantikan SFAC no 3 dan mengamandemen SFAC
no 2. Sedangkan draft SFAC 7 sampai saat ini belum pernah definitif.
Model rerangka konseptual FASB ini mencakup empat komponen dasar, yaitu (1) tujuan
pelaporan keuangan yang dituangkan pada SFAC no 1 dan SFAC no 4. (2) Kriteria kualitas
informasi yang dituangkan pada SFAC no 2, (3) Elemen-elemen laporan keuangan yang
dituangkan pada SFCA no 6 (pengganti SFAC no 3) (4) Pengukuran dan Pengakuan yang
dituangkan pada SFAC no. 5. Model ini dirancang dengan cukup luas dan mencakup perusahaan
bisnis dan nonbisnis. Rerangka ini merupakan dasar teoritis bagi FASB dalam mengembangkan
standard akuntansi keuangan (Statement of Financial Accounting Standard) di Amerika Serikat.
Globalisasi dunia menuntut adanya standar akuntansi yang seragam. Namun untuk
mencapai sebuah keseragaman tidaklah mudah. Kondisi ini memerlukan adanya sebuah badan

penyusun standar internasional. Salah satunya adalah International Accounting Standards


Committee (IASC). Tujuan dibentuknya IASC adalah memformulasi standar dan mendorong
keberterimaan dan ditaatinya IFRS secara luas di dunia. (Solomons 1986: 60). Sampai saat ini
IASC beranggotakan sekitar 150 organisasi atau badan penyusun standard akuntansi dari 113
negara (media akuntansi, 2000), dan telah berhasil merumuskan model teoritis yang juga
mengadopsi meta teori dengan menempatkan tujuan sebagai top level. Model ini disebut
Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statements (FPPFS).
Kerangka dasar ini pada hakikatnya memuat lima unsur utama, yaitu (1) tujuan laporan
keuangan yang dituangkan dalam paragraf 12-21, (2) asumsi dasar dituangkan pada paragraf 2223, dan konsep modal dan pemeliharaan modal yang dituangkan pada paragraf 102-110, (3)
karakteristik kualitatif yang menentukan manfaat informasi dalam laporan keuangan yang
dituangkan pada paragraf 24-46, (4) elemen-elemen laporan keuangan yang dituangkan pada
paragraf 47-81, (5) definisi, pengakuan dituangkan pada paragraf 82-98, dan pengukuran unsurunsur yang membentuk laporan keuangan dituangkan pada paragraf 99-101.
Kerangka dasar ini dimaksudkan sebagai acuan bagi komite penyusun standar akuntansi
keuangan dalam pengembangan standar akuntansi keuangan dimasa depan dan dalam peninjaun
kembali terhadap standar akuntansi keuangan yang berlaku.
TELAAH DAN PERBANDINGAN
Kedua struktur meta teori versi FASB dan versi IASC, memiliki unsur-unsur yang mirip.
Tetapi ada beberapa perbedaan prinsip dalam kedua model tersebut. Pertama, pernyataan tujuan
di FASB adalah tujuan pelaporan keuangan, tetapi di IASC tujuan laporan keuangan. Meskipun
IASC pada paragraf 07 menyatakan bahwa, Financial statements form part of the process of
financial reporting, tetapi sebenarnya ada hal mendasar yang menyebabkan kedua pernyataan
tujuan tersebut berbeda, yaitu lingkup penerapannya. Lingkup penerapan FASB adalah di
Amerika Serikat yang tentu saja mempertimbangkan karakteristik lingkungan.
Sedangkan lingkup penerapan IASC adalah internasional, sehingga karaktristik
lingkungan local/Negara menjadi tidak relevan. Ketiadaan konteks karakteristik lingkungan
inilah yang barangkali menyebabkan IASC menggunakan pernyataan tujuan laporan keuangan,
karena pelaporan keuangan mengandung konteks lingkungan. Kedua, fokus utama tujuan
pelaporan keuangan. Dalam FASB fokus utama adalah investor dan kreditor? Hal ini disebabkan
investor dan kreditor adalah pengguna mayoritas dan pelaku utama di pasar modal Amerika yang
sangat berkembang pesat. Sementara di IASC target pemakai dinyatakan secara umum tidak
fokus pada kelompok tertentu. Hal ini disebabkan karena harus mempertimbangkan karakteristik
pelaku utama di berbagai negara, dengan tingkatan pertumbuhan ekonomi yang berbeda,
tingkatan kecanggihan pasar keuangan yang juga berbeda, sehingga dinyatakan secara umum.
Ketiga, Asumsi yang mendasari penyusunan laporan keuangan (underlying assumption)
paragraf 22-23, dan konsep modal dan konsep mempertahankan modal paragraf 102-110, secara
ekspisit dinyatakan dalam IASC. Tetapi FASB tidak menyajikan kedua komponen tersebut
sebagai komponen konsep yang terpisah, karena kedua hal tersebut merupakan konsep dasar

yang digunakan oleh FASB dalam penjelasan, argumen dan penalaran yang menyertai setiap
komponen konsep.
HAMBATAN-HAMBATAN DAN UPAYA DALAM PENERAPAN IFRS
Meskipun sebagian besar anggota IASC telah menyetujui IFRS, tetapi tidak semua anggota
IASC menerapkan dinegaranya masing-masing. banyak sekali faktor lingkungan yang
berpengaruh terhadap pengembangan tujuan, standar, dan praktik akuntansi. Rerangka ini
mencakup delapan faktor, yang secara umum kedelapan faktor tersebut ada di setiap negara,
tentu dengan tingkatan dan karakteristik yang sangat berbeda.
Hambatan lain yang muncul adalah adanya perbedaan kebutuhan dan keinginan antara
Negara maju dengan yang belum maju dan antara Negara yang tingkat pertumbuhan ekonominya
sangat tinggi dan Negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi lebih rendah bahkan sangat
rendah.
E. KESIMPULAN PENELITIAN
FASB dan IASC dalam menyusun standar sama-sama berbasis pada meta teori akuntansi
keuangan, yang menempatkan tujuan pelaporan pada tingkat paling tinggi. Rerangka konseptual
FASB merupakan dasar teoritis pengembangan standar akuntansi di Amerika Serikat, sehingga
memasukkan konteks lingkungan. Tetapi rerangka konseptual IASC yang menjadi landasan
teoritis pengembangan standar akuntansi keuangan internasional, konteks lingkungan menjadi
tidak relevan.
Terdapat beberapa perbedaan antara kedua rerangka konseptual tersebut, yaitu pertama
pernyataan tujuan, dimana FASB menyatakan tujuan pelaporan keuangan, sementara IASC
menyatakan tujuan laporan keuangan. Kedua, fokus utama pelaporan menurut FASB adalah
investor dan kreditor, sementara IASC tidak fokus pada salah satu kelompok tertentu. Ketiga,
Asumsi dasar dan konsep modal dan konsep pemeliharaan modal, secara eksplisit dinyatakan
terpisah oleh IASC, sementara FASB menggunakan konsepkonsep tersebut pada setiap konsep
yang diajukan sebagai penjelasan, argumen, dan penalaran.
Penerapan IFRS ternyata mengalami hambatan yang sangat serius, karena banyak sekali
terdapat perbedaan antar negara-negara anggota, baik dalam konteks sosial budaya, hukum,
ekonomi, politik, pendidikan, sistem pemerintahan, sistem pajak, dan lain sebagainya.
IASC harus mengupayakan pengakuan dari International Organization of Securities
Commissions, supaya perusahaan-perusahaan yang melakukan cross-border listing menggunakan
IFRS. Hal ini dapat mendorong perusahaan-perusahaan multinasional untuk melakukan listing di
mancanegara. Hal lain yang dapat dilakukan IASC adalah melakukan restrukturisasi badan
penyusun standar untuk mendorong kemandirian baik dari segi dana maupun operasional.

BAB IV
REKOMENDASI UNTUK PENELITIAN SELANJUTNYA

Menurut kelompok kami untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat


memperbandingkan antara FASB sebagai dasar teoritis pengembangan standar akuntansi di
Amerika Serikat, sehingga memasukkan konteks lingkungan. Rerangka konseptual IASC yang
menjadi landasan teoritis pengembangan standar akuntansi keuangan internasional, dan PSAK
sebagai landasan teoritis pengembangan standar akuntansi di Indonesia. Selain itu, dapat juga
dijelaskan beberapa perbedaan antara rerangka konseptual FASB,IASC dan PSAK. Disamping
itu juga dijelaskan mengenai dampak dampak yang diakibatkan dengan penggunaan IFRS
sebagai pengganti FASB, IASC dan PSAK.

BAB V
KESIMPULAN
Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan jaman turut membawa perubahan yang
cukup besar dalam dunia akuntansi, dimana diantaranya adalah wacana mengenai implementasi
IFRS dalam proses akuntansi secara global. Menurut penulis, hal ini mempunyai kelebihan dan
kelemahan masing-masing. Dan uraian dibawah ini adalah pandangan penulis mengenai hal
tersebut diatas.
Pada dasarnya International Financial Reporting Standards (IFRS) memang merupakan
kesepakatan global standar akuntansi yang didukung oleh banyak negara dan badan-badan
internasional di dunia. Popularitas IFRS di tingkat global semakin meningkat dari waktu ke
waktu. Kesepakatan G-20 di Pittsburg pada tanggal 24-25 September 2009, misalnya,
menyatakan bahwa otoritas yang mengawasi aturan akuntansi internasional harus meningkatkan
standar global pada Juni 2011 untuk mengurangi kesenjangan aturan di antara negara-negara
anggota G-20. Menurut penulis, hal ini cukup baik dimana dunia akuntansi secara global
mempunyai satu pedoman inti mengenai prinsip-prinsip akuntansi sehingga terdapat keselarasan
diantara satu negara dengan negara lainnya.
Namun hal ini tidak mudah diterapkan dalam waktu yang singkat. Menurut penulis,
terdapat 2 hal pokok yang mendasari pernyataan tersebut. Faktor pertama yang menjadi
hambatan dalam penerapan standard ini (IFRS) di negara Indonesia adalah faktor budaya
(culture), karena kebiasaan menggunakan standard akuntasi domestik yang sudah menjadi
budaya akan sangat sulit mengubah cara/metode itu untuk menerapkan standard international
tersebut, kalaupun standard ini diterapkan maka akan membutuhkan waktu yang lama untuk
penyesuaian dan kemungkinan adanya sedikit perbedaan dalam implementasinya. Faktor kedua
adalah proses terjemahan bahasa akan menjadi faktor kendala dalam proses penerapannya,
karena proses penafsiran bahasa sedikitnya membawa arti yang berbeda dalam konteks
pemahaman inti/isi standard international tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting
Posted by DitzDyan at 12:02 AM