Anda di halaman 1dari 6

http://ikhwanlampung.multiply.

com

PEMBERSIHAN HATI *
Cara, Metode dan Urgensinya Dalam Kehidupan Muslim

Assalamualaikum WrWb

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah atas semua nikmat yang masih sempat kita
nikmati hingga saat ini, Terutama nikmat kesempatan untuk saling mengingatkan pada
kajian kali ini.
Sholawat tak henti-hentinya terucap kepada Rasulullah Muhammad, beserta keluarga,
sahabat serta pengikut sunnahnya.

Terdapat tiga hal pokok yang diperlukan dalam mencapai keberhasilan dakwah, yakni
jiwa yang bersih, kuatnya struktur gerakan dakwah, serta dakwah yang terprogram rapih
dan berkesinambungan. Karena jiwa yang bersih merupakan modal utama bagi para
pelaku dakwah. Tanpa ini, tak akan mungkin tercapai kemenangan hakiki dalam
dakwah. Di dalam jiwa yang bersih itu pula muncul kecintaan untuk memperjuangkan
risalah illahiah serta menolak berbagai kemungkaran dan keburukan dalam kehidupan.

Jiwa yang bersih bisa dicapai dengan pembersihan diri secara total; bermula dari bagian
yang pokok dan vital dalam dirinya, yaitu hati. Sesungguhnya, inilah urgensi
pembersihan hati (tazkiyah) bagi kehidupan dai dan dakwah Islam. Pembersihan hati
dari segala macam penyakit dan kekotoran. Pembersihan hari dari racun-racun yang
potensial merusak hari. Penyucian hari dari syubhat dan fitnah. Inilah tazkiyah, yang
merupakan hajat mendasar (asasiyah) dalam dakwah.

Fenomena kemenangan dakwah dalam Perang Badr, Perang Khaibar, Perang Qadisiyah,
dan perang-perang lainnya pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat, dilakukan
oleh generasi yang berhati bersih. Selain itu, juga dilakukan oleh para aktivis dakwah
yang kontinu melakukan pembersihan diri, melakukan tazkiyah sepanjang hari.

Untuk itulah, pembersihan hati atau jiwa (tazkiyah) merupakan fondasi untuk meraih
sukses dalam dakwah. Dakwah akan mencapai keberhasilan hanya dengan hati yang
bersih. Kekotoran hati adalah penghalang utama dakwah. Kekusutan jiwa dan
kegersangan ruhaniah adalah penghambat kesuksesan dakwah.

MARI MENJAGA HATI


Hati laksana sebuah cermin, kata Imam Ghazali. Hati yang bersih laksana cermin yang
jernih, sehingga memudahkan seseorang untuk mengaca adakah cacat ditubuhnya. Hati
yang kotor laksana cermin yang buram dan kusam, membuat seseorang sulit mengaca
dan bahkan tidak tahu lagi rupa diri, apakah ada cacat di tubuhnya.

Bila seseorang sudah tidak lagi tahu siapa dirinya dan tidak tahu cacat di wajahnya,
maka dia sudah tidak lagi mempunyai rasa malu. Dia merasa dirinya sempurna dan

Redha Herdianto
* Disampaikan pada KajianOnline KlabSantri
Jum’at, 22 Januari 2010
tidak ada lagi tempat untuk mempertimbangkan semua sepak terjang yang
dilakukannya.

Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik, baiklah jasad
seluruhnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah jasad seluruhnya. Sepotong
daging itu adalah hati. (HR Bukhari dan Muslim)

Allah SWT telah memberi peringatan dalam firman-Nya :

”Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Neraka Jahanam kebanyakan dari
jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk
memahami ayat-ayat Allah; mereka mempunyai mata, tetapi tidak
dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah; mereka
mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. (Al
Ar’af : 179)

Oleh karena itu, untuk memelihara dan membersihkan hati dari noda-noda maksiat dan
dosa, seseorang dituntut pula untuk menjaga aktivitasnya. Untuk itu, setiap larangan
Allah swt dan Rasulullah saw wajib ditinggalkan jauh-jauh. Begitu pula sebaliknya,
segala perintah wajib dikerjakan sesuai kemampuan kita. Sebagaimana telah disabdakan
Rasulullah saw ;

”Apa-apa yang telah kami (Rasul) larang untukmu, maka jauhilah. Dan apa-
apa yang telah kami perintahkan kepadamu, maka kerjakanlah sebisamu” (HR.
Bukhari dan Muslim)

Ada kalanya hati ini sulit diajak kepada kebaikan. Meski kadang sudah terbersit niat
baik untuk melaksanakan perintah ALLAH dan menjauhi segala larangannya, namun
terasa berat dan lelah untuk merealisasikannya. Selanjutnya kembali lagi kepada
maksiat, meski diiringi penyesalan yang dalam. Namun kemudian kemaksiatan itu
terulang lagi dan selalu terulang. Jika kondisi sudah sedemikian adanya, maka sudah
saatnya hati untuk dibersihkan. Jangan lagi menunggu lain waktu, karena setan sudah
siap menerkam kita dalam pelukannya.

”Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
Sesungguhnya, beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya
merugilah orang yang mengotorinya” (Asy Syams : 8 – 10)

MENGENAL JENIS HATI


A. Hati Yang Sehat (qalbun shahih)
Hati yang sehat adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat. Seseorang tidak akan
selamat pada hari kiamat kecuali jika menghadap Allah dengan hati yang sehat. Hal ini
ditegaskan Allah swt dalam Al Qur’an :

”Pada hari harta dan anak tidak berguna, kecuali orang yang datang
menghadap Allah dengan hati yang sehat.” (Asy-Syu’ara: 88-89)

Hati yang sehat ialah hati yang selamat dari setiap syahwat yang menentang perintah
Allah dan larangan-Nya. Hati yang terhindar dari setiap syubhat yang menentang
tuntunan-Nya. Dengan demikian, hati itu benar-benar hanya beribadah kepada Allah swt
semata, hingga harapannya pun semata-mata hanya ditujukan kepada Allah swt. Oleh
http://ikhwanlampung.multiply.com
karenanya jika ia mencintai sesuatu, maka ia mencintainya karena Allah; jika ia
membenci sesuatu maka ia membencinya juga karena Allah.

Tanda-tanda hati yang sehat, antara lain:


1. Hati yang selalu mencintai Allah Azza wa Jalla dengan bukti ia banyak
mengingatNya.
2. Hati yang selalu mendorong pemiliknya untuk selalu kembali dan bergantung
kepada Allah swt.
3. Jasmani merasa letih dalam berkhidmat kepada Allah, sementara hati tidak
merasa jemu.
4. Orang yang memiliki hati yang sehat akan merindukan untuk berkhidmat kepada
Allah, bahkan melebihi orang yang lapar dan haus dari makanan dan minuman.
5. Ketika mengerjakan sholat, maka hilanglah kegundahan dan ketegangannya
pada permasalahan dunia.
6. Lebih kikir terhadap waktu, karena takut hilang tanpa ketaatan kepada Allah.
7. Akan lebih menaruh perhatian kepada kualitas amal ketimbang kuantitas amal.
8. Apabila tidak sempat mengerjakan ketaatan kepada Allah, maka ia akan
menyesalinya.
9. Hanya memiliki satu keinginan, yaitu orientasinya hanya kepada Allah swt.
10. Selalu merasa tenteram dengan Allah, dan merana jika mengingat dan
berinteraksi dengan selain-Nya.
11. Selalu menjadikan kalam Allah Azza wa Jalla sebagai sesuatu yang paling
dicintai oleh hatinya.

Inilah tanda hati yang sehat dan juga merupakan tanda hati yang mencintai Allah.
Sebab, hati yang baik ialah hati yang selalu dipenuhi oleh rasa cinta kepada dzat Yang
Maha Mengetahui, Yang Maha Gaib, dan Yang Maha Pengampun atas semua dosa.

B. Hati Yang Mati (qalbun mayit)


Hati yang mati adalah hati yang didalamnya tidak ada kehidupan. Tidak mengenal
Rabb-Nya. Hati ini selalu bergandengan dengan nafsu syahwatnya dan kesenangan
nafsunya, sikap yang menyebabkan kemarahan dan kemurkaan Allah. Ia tidak peduli
apaah Allah senang atau marah, yang penting ia berhasil memuaskan nafsu syahwatnya.
Ia cinta, optimis, rela, marah, dan tunduk kepada selainNya. Hawa nafsunya lebih
dipilih daripada keridhaan Allah.

Sebab-sebab kematian hati, adalah :


”Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah) bahwa
Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a, apabila ia
berdo’a kepadaku...” (Al Baqarah: 186)

Suatu ketika Ibrahim bin Adham sedang berjalan-jalan di negeri Al-Bashrah. Penduduk
yang melihatnya segera datang dan bertanya, ”Ya Ibrahim, mengapa doa kami tidak
dikabulkan?”.

Ibrahim menjawab, ”Wahai penduduk Bashrah, hal itu karena hati kalian telah mati oleh
sepuluh hal. Jika demikian kondisinya, bagaimana Allah Ta’ala akan mengabulkan doa
kalian?”
”Ya Ibrahim, apakah sepuluh hal itu?” tanya penduduk Bashrah.

Redha Herdianto
* Disampaikan pada KajianOnline KlabSantri
Jum’at, 22 Januari 2010
Ibrahim bin Adham menjawab, ”Sepuluh hal yang menyebabkan kematian hati dan
menghambat doa kalian adalah, pertama, kalian telah mengenal Allah, tetapi tidak
menunaikan hak-hakNya. Kedua, kalian telah membaca Al Quran, tetapi tidak
mengamalkan isinya. Ketiga, kalian mengaku cinta kepada Rasulullah, tetapi
meninggalkan Sunnahnya. Keempat, kalian mengaku benci kepada setan, tetapi kalian
justru mematuhi ajakannya. Kelima, kalian mengaku ingin masuk surga, tetapi tidak
memenuhi syarat-syaratnya. Keenam, kalian mengaku ingin selamat dari api neraka,
tetapi kalian menjerumuskan diri ke dalamnya. Ketujuh, kalian meyakini bahwa
kematian adalah kepastian, tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuk
menghadapinya. Kedelapan, kalian sibuk mengurusi keburukan orang, tetapi justru
kalian mengabaikan keburukan sendiri. Kesembilan, setiap waktu kalian mengubur
orang mati, akan tetapi kalian tidak pernah merenungkan untuk diambil pelajarannya.
Kesepuluh, kalian telah mendapatkan nikmat Allah, tetapi tidak pernah
mensyukurinya.”

C. Hati Yang Sakit (qalbun maridh)


Hati yang sakit ialah hati yang hidup, namun dalam kondisi tidak sehat. Jika hati itu
didominasi oleh rasa cinta kepada Allah, iman kepada-Nya, ikhlas kepada-Nya dan
tawakal (berpasrah diri) kepada-Nya. Sebaliknya, jika hati itu didominasi rasa cinta,
lebih memprioritaskan dan berambisi untuk mendapatkan kesenangan dunia, atau
mengembangkan dengki, ujub, sombong dengan kedudukan, jabatan, dan status yang
tinggi, selalu berbuat kerusakan di muka bumi, dan ambisius untuk meraih jabatan,
berarti itulah materi yang menyebabkan hati itu hancur dan celaka.

Jadi sesungguhnya hati kita senantiasa diuji diantara dua faktor tersebut, yaitu faktor
yang mendorong hati untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya serta faktor yang
mendorong hati untuk memilih kesenangan dunia.

Tanda-tanda hati yang sakit, antara lain:


1. Hati dikatakan sakit bila pemiliknya merasa sulit untuk mengenal Allah,
mencintaiNya dan kembali (bertobat) kepada-Nya. Tetapi begitu mudah
memenuhi keinginan duniawi dan nafsu syahwatnya daripada hak Allah.
2. Apabila berbuat maksiat ia tidak akan merasakan sakit. Beda dengan hati yang
sehat, pemiliknya merasakan kejanggalan dan kesakitan terhadap kemaksiatan.
3. Tidak merasakan sakit oleh keingintahuannya pada kebenaran. Sementara, hati
yang sehat selalu merasa sakit terhadao syubhat yang masuk padanya.
4. Hakikatnya seperti beralih dari mengkonsumsi makanan yang bermanfaat
kepada makanan yang beracun dan berbahaya.
5. Merasa tenteram dengan kesenangan duniawi, hingga ia merasa puas
dengannya. Ia tidak merasa asing didalamnya dan tidak berharap pula kepada
kesenangan akhirat.

Sabda nabi tentang wa qalbun tamuduhu madatani ialah hati yang sakit yang keimanan
tidak bisa bercokol didalamnya dan lampu keimanan pun tidak bisa bersinar di
dalamnya. Hal ini disebabkan hatinya tidak sepenuhnya mau menerima kebenaran
ajaran-Nya. Di samping hatinya terisi oleh materi yang berlawanan dengan kebenaran.
Jadi, terkadang hatinya lebih mendekati kepada keimanan, namun lain waktu lebih
dekat kepada kekufuran. Hati jenis ini menjadikan materi yang mendominasi sebagai
pegangan untuk diamalkan.

CARA MEMBERSIHKAN HATI


Ikhwan fillah yang insyaAllah selalu dinaungi rahmat Allah… Lalu bagaimana cara
http://ikhwanlampung.multiply.com
membersihkan hati-hati kita bila sudah termasuk manjadi hati yang rusak. Ustadz Aam
Amiruddin Lc. MSi menjelaskan bahwa : hati merupakan panglima untuk seluruh
anggota jasad kita. Kalau hati bening, kelakuan kita pun akan beres. Tapi kalau hati kita
rusak maka rusaklah seluruh amaliah kita. Ada sepuluh cara agar kita memiliki hati
yang suci, yaitu; introspeksi diri, perbaikan diri, tadabbur Qur’an, menjaga
kelangsungan amal saleh, mengisi waktu dengan zikir, bergaul dengan orang-
orang saleh, berbagi kasih dengan fakir miskin dan anak yatim, mengingat mati,
menghadiri majelis ta’lim, dan berdo’a kepada Allah swt.

1. Introspeksi diri,
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap
diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (Q.S.Al-Hasyr 59 : 18)

2. Perbaikan diri,
"Hai orang-orang yang beriman, Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang
semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-
kesalahanmu dan memasukkah kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai,..” (Q.S.At-Tahrim 66:8)

3. Tadabbur Qur’an,
“Mengapa mereka tidak tadabbur (memperhatikan) Al-Qur’an, ataukah hati
mereka terkunci atau tertutup.” (Q.S.Muhammad 47 : 24)

4. Menjaga kelangsungan amal saleh,


"…Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan
sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah
amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit." (H.R. Bukhari)

5. Mengisi waktu dengan zikir,


“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan
bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-
Baqarah 2 :152)

6. Bergaul dengan orang-orang saleh,


“Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di
waktu pagi dan petang, mereka mengharapkan keridoan-Nya, dan janganlah kamu
palingkan kedua matamu dari mereka karena menghendaki perhiasan hidup dunia.
Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari
mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya; dan adalah keadaan itu melewati
batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18 : 28)

7. Berbagi kasih dengan fakir miskin dan anak yatim,


“Abu Hurairah r.a. bercerita, bahwa seseorang melaporkan kepada Rasulullah
saw. tentang kegersangan hati yang dialaminya. Beliau saw. menegaskan, “Bila
engkau mau melunakkan (menghidupkan) hatimu, beri makanlah orang-orang
miskin dan sayangi anak-anak yatim.” (H.R. Ahmad).
Redha Herdianto
* Disampaikan pada KajianOnline KlabSantri
Jum’at, 22 Januari 2010
8. Mengingat mati,
“Anas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dulu, aku pernah
melarang kalian berziarah ke kuburan. Namun sekarang, berziarahlah, karena ia
dapat melembutkan hati, mencucurkan air mata, dan mengingatkan akan hari
akhirat.” (H.R.Hakim)

9. Menghadiri majelis ta’lim, dan


“Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah, kecuali malakikat akan
menghampirinya, meliputinya dengan rahmat dan diturunkan ketenangan kepada
mereka, dan Allah akan menyebutnya pada kumpulan (malaikat) yang ada di sisi-
Nya.” (H.R. Muslim)

10. Berdo’a kepada Allah swt.


“Syahr bin Hausyab r.a. mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu
Salamah, “Wahai ibu orang-orang yang beriman, do’a apa yang selalu diucapkan
Rasulullah saw. saat berada di sampingmu?” Ia menjawab: “Do’a yang banyak
diucapkannya ialah, ‘Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai
yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah qalbuku pada agama-Mu).” ” Ummu
Salamah melanjutkan, “Aku pernah bertanya juga, “Wahai Rasulullah, alangkah
seringnya engkau membaca do’a: “Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa
diinika.” Beliau menjawab: “Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusia
pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan Yang Maha Rahman. Maka
siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa yang Dia kehendaki, Dia
biarkan dalam kesesatan.” (H.R.Ahmad dan Tirmidzi. Menurutnya hadits ini hasan)

Ya akhi wa ukhti fillah, tidak ada manusia yang sempurna dan lepas dari kesalahan,
tetapi itu semua bukan sebuah alasan untuk kita tidak menjadi baik. Mudah-mudahan
Allah selalu memberi kepada kita hati yang bening. Dan semoga Allah Azza WaJalla
me-ridhoi semua proses yang ingin dan sedang kita jalankan ini. Wallahualam
Bishowab.

Mohon maaf bila ada kekurangan dan kesalahan, tidak lebih karena saya hanyalah
mahluk Allah yang dhoif. Kepada Allah saya tunduk dan mohon ampun.

Subhanallahumma wabihamdika, Asyhadu ala ila anta, Astagfiruka waatuubuilaik

Billahi taufik wal hidayah, Wassalamualaikum WrWb

*referensi
- Kitab Tazkiyah; Metode Pembersihan Hati Aktivis Dakwah. Cahyadi
Takariawan & Ghazali Mukri
- Kitab Ta’lim Fadhilah Amal. Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandahlawi.
- Cara Membersihkan Hati. Saung Akang (http://kangmaman.multiply.com)