Anda di halaman 1dari 39

STUDI KASUS ATAS PENGGUNAAN CONSEPTUAL

FRAMEWORK DALAM PELAPORAN KEUANGAN


TRANSFORMASI PT. JAMSOSTEK KE BPJS KETENAGAKERJAAN DAN
PELAPORAN KEUANGAN RUMAH SAKIT BADAN LAYANAN UMUM

OLEH
YUDIANTO
ENDANG TRI PRATIWI
SRI APRIYANTI HUSAIN

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Pelaporan Korporat yang
diampu oleh Ibu Mirna Mirya, SE., MSA., Ak., AAP A

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Akuntansi sebagai penyedia informasi bagi pengambil keputusan yang bersifat
ekonomi juga dipengaruhi oleh lingkungan bisnis yang terus-menerus berubah
karena adanya globalisasi, baik lingkungan bisnis yang bertumbuh bagus, dalam
keadaan stagnas maupun depresi. Tiap-tiap negara tentu saja mempunyai standar
akuntansi yang berbeda dengan negara yan lain. Hal ini disebabkan oleh berbagai
faktor antara lain kondisi ekonomi, paham ekonomi yang dianut serta perbedaan
kondisi politik dan sosial di tiap-tiap negara. Dengan keadaan yang seperti ini,
tentu saja laporan akuntansi pada perusahaan di masing-masing negara juga
berbeda (Sadjiarto,1999).
Adanya transaksi antar negara dan prinsip akuntansi yang berbeda antar
negara mengakibatkan munculnya kebutuhan akan standar akuntansi yang berlaku
secara international. Oleh karena itu, muncul organisasi yang bernama IASB atau
International Accounting Standard Board yang mengeluarkan International
Financial Reported Standard (IFRS). IFRS kemudian dijadikan sebagai pedoman
penyajian laporan keuangan diberbagai negara. Masalah selanjutnya muncul
adalah bagaimana penerapan IFRS di masing-masing negara mengingat perbedaan
lingkungan ekonomi, politik, hokum, dan sosial.
Lingkungan adalah salah satu isu utama dalam masyarakat dan menjadi bagian
yang signifikan dalam pengaruhnya terhadap perekonomian suatu negara. Alasan
utama penyajian laporan keuangan yang memenuhi standar adalah untuk
kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri di masa depan, baik ditinjau dari segi
pengguna internal maupun pengguna eksternal. Pengakuan publik akan
kelengkapan dan ketransparanan laporan keuangan sebuah perseroan terbuka
meningkatkan tekanan sektor bisnis untuk menyediakan laporan keuangan yang
kompatibel dan sesuai standar (Imanuella, 2007).
Namun dalam prosesnya terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam
melakukan konvergensi ke IFRS ini. Mulai dari perbedaan budaya tiap negara,
perbedaan sistem pemerintahan, perbedaan kepentingan antar perusahaan, serta
tingginya biaya yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan prinsip akuntansi.
Konvergensi PSAK ke IFRS di Indonesia telah berlaku efektif dan full
adoption sejak tahun 2012. SAK yang dikonvergensikan dengan IFRS ini

2 | Page

diterapkan pada entitas-entitas yang memilii fungsi fidusia (memegang


kepentingan orang banyak) atau disebut juga dengan berakuntabilitas publik.
Contoh entitas yang memiliki fungsi fidusia adalah entitas perbankan, BUMN,
dan entitas yang menjual saham di pasar modal. Komponen utama dari SAK
adalah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang diadopsi dari
International Accounting Standard (IAS) dan International Financial Reporting
Standard (IFRS), dan Interpretasi atas Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) yang
diadopsi dari Standard Interpretation Committee (SIC) dan International
Financial Reporting Interpretation Committee (IFRIC). Hal ini berarti bahwa
IFRSs terdiri dari IAS, IFRS, IFRIC dan SIC. Perbedaanya, IAS dibuat oleh
International Accounting Standard Committee (IASC) organisasi pendahulu IASB
yang berdiri pada tahun 1973. IASC ini kemudian direstrukturisasi menjadi IASB
pada tahun 1999. Pada tahun 2001, IASC menjadi foundation (IASCF) yang
mendanai IASB. Sejak saat itu, IASB meneruskan tugas dari IASC. Untuk
membedakan produk buatan IASC dan IASB, standar-standar yang selanjutnya
dibuat oleh IASB dinamai dengan IFRS. SIC dibuat oleh Interpretation
Committee, suatu komite khusus yang berfungsi membuat interpretasi dari IAS
yang Principle Based. Interpretasi ini sifatnya menjelaskan lebih lanjut mengenai
hal-hal yang lebih detail. IFRIC dibuat oleh International Financial Reporting
Interpretation Committee, suatu komite khusu yang membuat interpretasi dari
IFRS.
Perkembangan ekonomi dan dunia usaha telah menimbulkan persaingan yang
makin tajam, demikian halnya dengan badan-badan pelayanan publik seperti PT
Jamsostek yang bertransformasi menjadi BPJS Ketenagakerjaan maupun industri
pelayanan kesehatan ikut merasakan dampak dari perubahan interpretasi prinsip
akuntansi yang ada. Selain harus memberikan pelayanan yang baik kepada
masyarakat, organisasi tersebut juga harus bertanggungjawab atas pengelolaan
keuangannya berdasarkan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia. Begitupun
dampak dari kemajuan teknologi, menuntut pembiayaan dan investasi yang sangat
mahal, sementara itu kemampuan pemerintah dalam membiayai pelayanan
kesehatan masyarakat semakin terbatas. Oleh karena itu perlunya memberikan
otonomi dengan ruang gerak yang lebih leluasa bagi organisasi yang bergerak

3 | Page

pada pelayanan publik dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang


dimilikinya.
Upaya yang perlu dilakukan adalah penataan kembali secara administratif
maupun dalam pengelolaan keuangan, agar kekayaan negara yang tertanam pada
organisasi tersebut dapat dipergunakan secara lebih optimal. Salah satu upayanya
adalah dapat beroperasi dengan lebih efektif dan efisien dalam penyelenggaraan
pelayanan kepada masyarakat, maka perlu diberikan status Badan Layanan Umum
(BLU) terhadap rumah sakit yang berorientasi pada usaha pelayanan masyarakat
dan status badan pelayanan umum pada PT Jamsostek yang sebelumnya
berbentuk perseroan beralih menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Diharapkan dengan
status tersebut pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih baik dan mutu
pelayanan kesehatan dapat meningkat. Disamping itu kemandirian BLU rumah
sakit dalam pemupukan dan pengelolaan sumber daya dapat lebih ditingkatkan.
Peningkatan kebutuhan masyarakat atas pelayanan kesehatan yang diberikan
BLU rumah sakit, menuntut manajemen BLU rumah sakit untuk bekerja secara
profesional. Selain itu, walaupun sumber daya yang tersedia sangat terbatas BLU
rumah sakit tetap diharuskan untuk dapat bekerja secara lebih efektif dan efisien.
Sebagai ciri khusus dari usaha jasa pelayanan kesehatan di BLU rumah sakit
adalah sulitnya meramalkan kebutuhan pelayanan, baik jenis, jumlah maupun
mutu pelayanan yang diperlukan masyarakat. Sementara itu, di sisi lain BLU
rumah sakit dituntut untuk selalu siap dalam memberikan pelayanan. Oleh karena
itu, penyediaan sarana dan prasarana, tenaga serta dana yang dibutuhkan harus
selalu siap dalam rangka mendukung pelayanan tersebut.
Selanjutnya dalam pengelolaan sumber daya, BLU rumah sakit juga dituntut
untuk dapat menyajikan data dan informasi yang akurat, tersaji secara tepat waktu
bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas
pengelolaan sumber daya di bidang keuangan, meliputi transaksi keuangan yang
mencakup sumber daya, pendapatan dan beban, maka diperlukan sarana dalam
bentuk laporan keuangan.
Laporan

Keuangan

BLU rumah sakit

menyediakan informasi yang menyangkut

disusun dengan tujuan untuk

posisi

keuangan,

kinerja

dan

perubahan posisi keuangan. Selain itu laporan keuangan BLU rumah sakit juga

4 | Page

dapat dipergunakan sebagai bahan untuk pengambilan keputusan. Suatu laporan


keuangan akan bermanfaat apabila informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan tersebut dapat dipahami, relevan, andal dan dapat diperbandingkan.
Perlu diketahui bahwa laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi
yang mungkin dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan BLU
rumah sakit, karena secara umum laporan

keuangan hanya menggambarkan

pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk
menyediakan informasi non-keuangan. Walaupun demikian, dalam beberapa hal
BLU rumah sakit perlu menyediakan informasi non-keuangan yang mempunyai
pengaruh keuangan di masa depan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam Paper ini yaitu:
1) Bagaimana Conceptual Framework dalam pelaporan keuangan ?
2) Bagaimana Transformasi PT. Jamsostek ke BPJS Ketenagakerjaan ?
3) Bagaimana Pelaporan keuangan Rumah Sakit yang berbentuk Badan Layanan
Umum (BLU)?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan Paper ini yaitu:
1) Untuk mengetahui Conceptual Framework dalam pelaporan keuangan.
2) Untuk mengetahui transformasi PT. Jamsostek ke BPJS Ketenagakerjaan.
3) Untuk mengetahui pelaporan keuangan rumah sakit berbentuk Badan
Layanan Umum.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Conseptual Framework pada Pelaporan Keuangan

5 | Page

Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) didefinisikan oleh FASB


sebagai : a coherent system of interrelated objectives and fundamentals that is
expected to lead to consistent standards and that presecribes the nature, function,
and limits of financial accounting and reporting. Definisi FASB, menyatakan
bahwa kerangka konseptual akuntansi adalah : suatu sistem yang koheren; sub-sub
sistemnya adalah (1) tujuan (objectives) dan (2) Konsep fundamental yang saling
terkait. Yang dimaksud tujuan adalah konsep-konsep yang mendasari akuntansi
keuangan, yakni yang menuntun kepada pemilihan transaksi, kejadian, dan
keadaan-keadaan

yang

harus

dipertanggungjawabkan,

pengakuan

dan

pengukurannya, cara meringkas serta mengkomunikasikannya kepada pihak-pihak


yang berkepentingan.
Kerangka dasar ini merumuskan konsep yang mendasari penyusunan dan
penyajian laporan keuangan bagi para pemakai eksternal. Tujuan kerangka dasar
ini adalah untuk digunakan sebagai acuan bagi:
a. Komite penyusun standar akuntansi keuangan, dalam pelaksanaan tugasnya;
b. Penyusun laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah akuntansi yang
belum diatur dalam standar akuntansi keuangan;
c. Auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan
disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum; dan
d. Para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi
keuangan.
Institut Akuntan Indonesia pada bulan September 1994 memutuskan
mengadopsi kerangka konseptual yang disusun oleh International Accounting
Standard Committee (IASC) sebagai dasar penyusunan dan informasi keuangan di
Indonesia. Sedangkan Negara-negara Amerika dan Australia sudah memiliki
kerangka konseptual sendiri. Kerangka konseptual yang akan dibahas dalam teori
akuntansi akan mengacu pada kerangka konseptual yang dikembangkan di USA.
2.1.1

The role of A Conceptual Framework (Peran Kerangka Konseptual)


Peran kerangka kerja konseptual dari tingkat akuntansi, bertujuan untuk

menyediakan struktur teori akuntansi. Kerangka konseptual dapat dipandang

6 | Page

sebagai teori akutansi yang terstruktur (Belkaoui, 1993), karena struktur kerangka
konseptual sama dengan struktur teori akutansi yang didasarkan pada proses
penalaran logis. Yang dapat digambarkan dalam bentuk hierarki yang memiliki
beberapa tingkatan yaitu :
1) Pada tingkat tertinggi yang teoritis : Kerangka konseptual menyatakan ruang
lingkup dan tujuan pelaporan keuangan.
2) Pada tingkatan selanjutnya : Kerangka konseptual mengidentifikasi dan
mendefinisikan karakteristik kualitatif informasi keuangan (seperti relevansi,
keandalan, komparatif, dan dimengerti) dan elemen dasar akuntansi (seperti
aktiva, kewajiban, ekuitas, biaya pendapatan, dan keuntungan).
3) Pada tingkat operasional yang lebih rendah : Kerangka konseptual berkaitan
dengan prinsip-prinsip dan aturan-aturan (Rules) tentang pengukuran dan
pengakuan elemen laporan keuangan dan tipe informasi yang perlu disajikan.
2.1.2

Objectives of Conceptual Framework (Tujuan Kerangka Konseptual)


Tujuan kerangka konseptual adalah untuk memberikan pedoman dalam

penyusunan dan penyajian laporan keuangan bertujuan umum (General purposes


financial statements). IASB dan FASB mempertimbangkan kerangka tujuan utama
pelaporan keuangan adalah untuk mengkomunikasikan informasi keuangan
kepada pengguna. Informasi tersebut akan dipilih salah satu dasar kegunaannya
dalam proses pengambilan keputusan ekonomi. Tujuan ini terlihat ingin dicapai
dalam pelaporan yaitu:
1) Berguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.
2) Berguna dalam menilai prospek arus kas.
3) Tentang sumber daya perusahaan, klaim terhadap sumber daya dan perubahan
di dalamnya.
Kerangka IASB dikembangkan mengikuti jejak dari pembuat standar AS,
FASB, pada periode 1987-2000 FASB menerbitkan laporan konsep tujuh
mencakup topik-topik berikut:
1) Tujuan dari pelaporan keuangan oleh perusahaan bisnis dan organisasi nonprofit.
2) Karakteristik kualitatif informasi akuntansi yang berguna.
3) Unsur-unsur laporan keuangan.
4) Kriteria untuk pengakuan dan pengukuran unsur-unsur laporan keuangan.

7 | Page

5) Penggunaan arus kas dan menyajikan informasi nilai dalam pengukuran


akuntansi.
Tujuan utama laporan keuangan adalah memberikan informasi yang :
1) Bermanfaat dalam membuat keputusan kredit dan investasi oleh pihak yang
ingin memahami kegiatan ekonomik dan bisnis perusahaan.
2) Membantu kreditor dan investor yang ada atau yang potensial, serta pemakai
lain dalam menentukan jumlah, waktu dan ketidakpastian aliran kas di masa
yang akan datang.
Mengenai sumber sumber ekonomi, tuntutan terhadap sumber ekonomi, dan
perubahan di dalamnya. Oleh karena itu tujuan laporan keuangan dapat di
klasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu:
1) Tujuan secara luas adalah menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi
investor, kreditor dan pemakai lainnya untuk membuat keputusan.
2) Tujuan secara sempit adalah menyampaikan informasi yang berkaitan dengan
kepentingan kreditor, investor untuk menaksirkan penerimaan kas dari
investasi, pinjaman kepada perusahaan.
3) Tujuan yang terakhir adalah menyampaikan informasi yang bermanfaat untuk
penentuan prospek aliran kas bagi usaha perusahaan.
2.1.3 Sifat Kerangka Konseptual
Kebutuhan akan pengembangan kerangka konseptual didasarkan pada
beberapa alasan antara lain :
1) Bermanfaat; Penentuan standar akutansi harus dikembangkan/dibangun dan
berkaitan dengan konsep dan tujuan yang telah ditetapkan.
2) Masalah-masalah praktik baru dan berisiko tinggi terhadap perkembangan
akuntansi harus secara cepat di pecahkan, dengan melihat kerangka dasar teori
yang ada.
3) Kerangka konseptual meningkatkan pemahaman pemakai statement keuangan
dan kepercayaan terhadap laporan keuangan.
4) Kerangka konseptual mendukung komparabilitas pernyataan informasi
laporan keuangan suatu perusahaan.
2.1.4 Pengembangan Kerangka Konseptual

8 | Page

Pengembangan

Kerangka

konseptual

menggambarkan

ruang

lingkup

keseluruhan dari kerangka konseptual dan mencantumkan dokumen-dokumen


yang berhubungan dan diterbitkan sampai dengan tahun 1982 oleh FASB.
Pada tingkat pertama, tujuan menunjukan sasaran dan maksud dari
akuntansi. Statement of Financial Accounting Concepts No. 1 (Objectives of
Financial Reporting by Business Enterprises) menyajikan sasaran dan maksud
dari akuntansi untuk perusahaan bisnis. Statement of Financial Accounting
Concepts No. 4 (Objectives of Financial Reporting by Non business
Organizations) menyajikan sasaran dan maksud dari akutansi untuk organisasiorganisasi non bisnis.
Pada Tingkat kedua, hal-hal yang fundamental meliputi karakteristik
kualitatif dari informasi akuntansi (Statement of Financial Accounting Concepts
No. 2) dan definisi dari elemen-elemen dalam laporan keuangan (Statement of
Financial Accounting No. 3) . Secara ringkas, lima Statement of Financial
Accounting Concepts yang dikeluarkan dan berhubungan dengan pelaporan
keuangan untuk perusahaan bisnis adalah :
1) SFAC

No.

1,

Objectives

of

Financial

Reporting

by

Business

Enterprises, yang menyajikan sasaran dan maksud dari akuntansi.


2) SFAC No. 2, Qualitative Characteristics of Accounting Information, yang
melihat karakteristik-karakteristik yang membuat informasi akutansi berguna.
3) SFAC No. 3, Elemen of Financial Statements of Business
Enterprises, yang memberikan definisi mengenai elemen-elemen dalam
laporan keuangan, seperti aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban.
4) SFAC No. 5, Recognition and Measurement in Financial Statements of
Business Enterprises, yang menetapkan pengakuan dan kriteria pengukuran
fundamental serta pedoman mengenai bagaimana informasi sebaikanya secara
formal dicantumkan dalam laporan keuangan.
5) SFAC No. 6, Elements of Financial Statements, yang menggantikan SFAC
No. 3 dan memperluas ruang lingkupnya untuk ikut mencakup organisasiorganisasi nirlaba.
6) SFAC No. 7, Using Cash Flow Information and Present Value in
Accounting

Measurements,

memberikan

sebuah

kerangka

untuk

menggunakan arus kas dan menyajikan nilai-nilai sebagai basis pengukuran.

9 | Page

Tingkat ketiga, pedoman operasional yang dipergunakan oleh akuntan dalam


menentukan dan menerapkan standar akutansi meliputi kriteria pengakuan,
laporan keuangan versus pelaporan keuangan dan pengukuran (Statement of
Financial Accounting Standards No. 33).
Tingkat

keempat,

mekanisme

penyajian

yang

digunakan

untuk

menyampaikan informasi akuntansi meliputi pelaporan penghasilan, pelaporan


arus dana dan likuiditas, dan pelaporan posisi keuangan.
2.1.5 The objective of Financial Statement (Tujuan Laporan Keuangan)
1. Tujuan Laporan Keuangan Perusahaan Bisnis
FASB memulai usahanya dalam mengembangkan sebuah konstitusi bagian
akuntansi dan pelaporan keuangan pada bulan November tahun 1978, FASB
menerbitkan pedoman luas yang bersifat perintah yang menyatakan tujuan dari
pelaporan keuangan dalam Statment of Financial Accounting Concepts No. 1,
Objectives of Financial Reporting by Business. Pernyataan ini tidak hanya
dibatasi pada isi dari laporan keuangan saja.
Pelaporan keuangan tidak hanya membuat laporan keuangan namun juga caracara lain dalam mengkomunikasikan informasi yang berhubungan, baik secara
langsung maupun tidak langsung, dengan informasi yang diberikan oleh sistem
akuntansi yaitu: informasi mengenai sumber daya, kewajiban, penghasilan
perusahaan, dan lain-lain. Adapun tujuan dari laporan keuangan adalah sebagai
berikut:
a) Memberikan informasi yang berguna bagi para calon investor dan kreditor
maupun yang sudah ada dan para pengguna lainnya dalam membuat investasi,
kredit, dan keputusan-keputusan lain yang serupa secara rasional.
b) Memberikan informasi untuk membantu para calon investor dan kreditor serta
para pangguna lain yang sudah ada dalam menilai jumlah, waktu dan
ketidakpastian dari penerimaan kas prospektif untuk deviden atau bunga dan
penerimaan dari penjualan, penebusan, atau jatuh temponya surat berharga
atau pinjaman.
c) Memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi dari perusahaan,
klaim untuk sumber daya tersebut (kewajiban dari perusahaan untuk
mentransfer sumber daya ke entitas dan ekuitas pemilik lainnya), serta dampak

10 | P a g e

dari transaksi-transaksi, peristiwa, dan kejadian yang mengubah sumber daya


dan klaim atas sumber daya tersebut.
d) Memberikan informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan selama periode
tersebut.
e) Memberikan informasi mengenai bagaimana perusahaan memperoleh dan
menggunakan kasnya, mengenai pinjaman dan pembayaran kembali pinjaman
tersebut, mengenai transaksi-transaksi modalnya, termasuk dividen kas dan
distribusi sumber daya ekonomi lainnya kepada pemilik.
f) Memberikan informasi mengenai bagaimana manajemen dari sebuah
perusahaan menggunakan tanggung jawab pengurusannya kepada pemilik
(pemegang saham) untuk penggunaan sumber daya perusahaan yang
dipercayakan kepadanya.
g) Memberikan informasi yang berguna bagi para manajer dan direktur dalam
mengambil keputusan yang sesuai dengan keinginan dari pemilik.
2. Tujuan Laporan Keuangan Perusahaan Non Bisnis
Tujuan pelaporan keuangan oleh organisasi-organisasi non bisnis antara lain
sebagai berikut:
a) Tidak memiliki indikator kinerja yang dapat dibandingkan dengan laba pada
perusahaan bisnis.
b) Pada umumnya tidak menjadi subjek ujian dari kompetisi dalam pasar.
Tiga karakteristik utama yang membedakan organisasi-organisasi non bisnis
adalah sebagai berikut:
a) Sejumlah besar sumber daya diterima dari penyedia sumber daya, yang tidak
mengharapkan untuk menerima pembayaran kembali ataupun keuntungan
ekonomi yang proposional terhadap sumber daya yang telah mereka berikan.
b) Operasi bisnisnya terutama bergerak untuk tujuan-tujuan selain penyediaan
barang atau jasa yang mendapatkan laba atau ekuivalen laba.
c) Tidak ada saham kepemilikan yang pasti yang dapat dijual, dialihkan, atau
ditebus, atau yang akan menjadi hak atas bagian dari distribusi nilai sisa dari
sumber daya pada saat organisasi dilikuidasi.
Terdapat empat kelompok yang khususnya berkepentingan dengan informasi
yang disajikan oleh pelaporan keuangan oleh organisasi non bisnis :
a) Penyedia sumber daya: pemimjam, pemasok, karyawan, pembayar pajak,
anggota dan kontributor.

11 | P a g e

b) Elemen penyusun yang menggunakan dan memperoleh keuntungan dari jasajasa yang diberikan oleh organisasi.
c) Badan-badan penyelenggara dan pengawas yang bertanggungjawab untuk
membuat kebijakan dan mengawasi serta menilai para manajer dari organisasi
non bisnis.
d) Manajer organisasi-organisasi nonbisnis.
Untuk memenuhi kebutuhan informasi dari pengguna-pengguna diatas, FASB
mengeluarkan exposure draft yang memberikan tujuan-tujuan berikut ini:
1) Informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan mengenai alokasi
sumber daya.
2) Informasi yang bermanfaat dalam menilai jasa dan kemampuan untuk
memberikan jasa.
3) Informasi yang bermanfaat dalam menilai kepengurusan dan kinerja
manajemen.
4) Informasi mengenai sumber daya ekonomi, kewajiban, sumber daya bersih,
dan pembebanan-pembebanannya.
5) Kinerja organisasional: pelaporan keuangan oleh organisasi non bisnis
hendaknya meberikan informasi mengenai kinerja organisasi dalam periode
tertentu.
6) Likuiditas: Pelaporan keuangan oleh organisasi non bisnis hendaknya
memberikan

informasi

mengenai

bagaimana

organisasi

non

bisnis

memperoleh dan menggunakan dana kasnya, mengenai pinjaman dan


pembayaran kembali pinjaman tersebut, serta mengenai faktor-faktor lain yang
dapat mempengaruhi likuiditas organisasi.
7) Penjelasan dan interpretasi manajer: pelaporan keuangan oleh organisasi non
bisnis hendaknya mencakup penjelasan dan interpretasi untuk membantu
penyedia sumber daya dan pengguna-pengguna lain memahami informasi
keuangan yang diterima.
2.1.6

Qualitative Characteristic of Accounting Information (Karakteristik

Kualitatif Informasi Akuntansi)


1. Karakteristik kualitatif dari informasi akutansi
a) Kualitas Primer : Relevansi dan Reliabilitas
Relevansi: Informasi akuntansi mampu untuk mempengaruhi keputusan
pengguna informasi dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa
masa lalu, masa kini atau masa depan.

12 | P a g e

Predective value: membantu memuat prediksi tentang hasil akhir dari

masa lalu, kini dan masa depan.


Feed-back value: menjustifikasi atau mengoreksi harapan masa lalu.
Timeliness: harus tersedia sebelum informasi tersebut kehilangan kapasitas

untuk mempengaruhi keputusan.


Reliabilitas: Jika bebas dari

pengertian

menyesatkan,

kesalahan

menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan untuk pengambilan


keputusan. Keandalan suatu informasi tergantung pada tingkat ketepatan

penyajiannya atas suatu peristiwa.


Verifiability: hasil yang serupa akan dihasilkan jika digunakan metode

pengukuran yang sama oleh pengukur-pengukur independen.


Representational & Faithfulness: angka-angka dan penjelasan mewakili

apa yang betul-betul ada dan terjadi.


Neutrality: informasi tidak dapat dipilih untuk kepentingan kelompok
tertentu, informasi tidak bias sehingga tidak mengarahkan penerima
informasi kepada hasil yang diinginkan atau mempengaruhi mode prilaku

tertentu.
2. Kualitas Sekunder
Komparabilitas: Pemakai harus dapat memperbandingkan laporan keuangan
antar periode untuk mengidentifikasikan kecenderungan (trend) posisi dan kinerja
keuangan. Pemakai juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan antar
perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi
keuangan secara relatif. Oleh karena itu pengukuran penyajian dampak keuangan
transaksi dan peristiwa lain yang serupa harus dilakukan secara konsisten untuk
perusahaan tersebut, antar periode perusahaan yang sama dan periode yang
berbeda.
Konsistensi: Mengaplikasikan perlakuan akutansi yang sama untuk kejadian
yang serupa setiap periode. Perusahaan dapat mengganti satu metode ke metode
lainnya asalkan dapat menunjukkan bahwa metode yang baru lebih baik daripada
metode sebelumnya.
2.2 Transformasi PT Jamsostek ke BPJS Ketenagakerjaan
2.2.1 Perintah Transformasi

13 | P a g e

Perintah transformasi kelembagaan badan penyelenggara jaminan sosial diatur


dalam UU No.40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN).
Penjelasan Umum alinea kesepuluh UU SJSN menjelaskan bahwa, Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang dibentuk oleh UU SJSN adalah
transformasi dari badan penyelenggara jaminan sosial yang tengah berjalan dan
dimungkinkan membentuk badan penyelenggara baru.
Transformasi badan penyelenggara diatur lebih rinci dalam UU No. 24 tahun
2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS). UU BPJS adalah
pelaksanaan Putusan Mahkamah Konstitusi atas Perkara No. 007/PUU-III/2005.
Penjelasan Umum UU BPJS alinea keempat mengemukakan bahwa UU BPJS
merupakan pelaksanaan Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 52 UU SJSN pasca Putusan
Mahkamah Konstitusi. Kedua pasal ini mengamanatkan pembentukan BPJS dan
transformasi kelembagaan PT ASKES (Persero), PT ASABRI (Persero), PT
JAMSOSTEK (Persero) dan PT TASPEN (Persero) menjadi BPJS. Transformasi
kelembagaan diikuti adanya pengalihan peserta, program, aset dan liabilitas, serta
hak dan kewajiban.

2.2.2

Makna Transformasi
UU SJSN dan UU BPJS memberi arti kata transformasi sebagai perubahan

bentuk BUMN Persero yang menyelenggarakan program jaminan sosial, menjadi


BPJS. Perubahan bentuk bermakna perubahan karakteristik badan penyelenggara
jaminan sosial sebagai penyesuaian atas perubahan filosofi penyelenggaraan
program jaminan sosial. Perubahan karakteristik berarti perubahan bentuk badan
hukum yang mencakup pendirian, ruang lingkup kerja dan kewenangan badan
yang selanjutnya diikuti dengan perubahan struktur organisasi, prosedur kerja dan
budaya organisasi.

14 | P a g e

1. Perubahan Filosofi Penyelenggaraan Jaminan Sosial


BUMN Persero penyelenggara jaminan sosial terdiri dari PT ASKES, PT
ASABRI, PT JAMSOSTEK, PT TASPEN. Keempatnya adalah badan hukum
privat yang didirikan sesuai ketentuan UU No.19 Tahun 2003 Tentang BUMN dan
tatakelolanya tunduk pada ketentuan yang diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas.
Misi yang dilaksanakan oleh keempat Persero tersebut merujuk pada peraturan
perundangan yang mengatur program-program jaminan sosial bagi berbagai
kelompok pekerja. Walaupun program-program jaminan sosial yang tengah
berlangsung saat ini diatur dalam peraturan perundangan yang berlainan, keempat
Persero mengemban misi yang sama, yaitu menyelenggarakan program jaminan
sosial untuk menggairahkan semangat kerja para pekerja.
Program JAMSOSTEK diselenggarakan dengan pertimbangan selain untuk
memberikan ketenangan kerja juga karena dianggap mempunyai dampak positif
terhadap usaha-usaha peningkatan disiplin dan produktifitas tenaga kerja.
Program JAMSOSTEK diselenggarakan untuk memberikan perlindungan dasar
untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal bagi tenaga kerja dan keluarganya,
serta merupakan penghargaan kepada tenaga kerja yang telah menyumbangkan
tenaga dan pikirannya kepada perusahaan tempat mereka bekerja.
Begitu pula dengan Program ASKES dan Program TASPEN, penyelenggaraan
kedua program jaminan sosial bagi pegawai negeri sipil adalah insentif yang
bertujuan untuk meningkatkan kegairahan bekerja. Program ASABRI adalah
bagian dari hak prajurit dan anggota POLRI atas penghasilan yang layak.
Sebaliknya di era SJSN, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
merepresentasikan negara dalam mewujudkan hak konstitusional warga negara
atas jaminan sosial dan hak atas penghidupan yang layak. Penyelenggaraan
jaminan sosial berbasis kepada hak konstitusional setiap orang dan sebagai wujud
tanggung jawab negara sebagaimana diamanatkan dalam UUD Negara RI Tahun
1945 Pasal 28 H ayat (3) dan Pasal 34 ayat (2). Penyelenggaraan sistem jaminan

15 | P a g e

sosial berdasarkan asas antara lain asas kemanusiaan yang berkaitan dengan
martabat manusia. BPJS mengemban misi perlindungan finansial untuk
terpenuhinya kehidupan dasar warga negara dengan layak. Yang dimaksud dengan
kebutuhan dasar hidup adalah kebutuhan esensial setiap orang agar dapat hidup
layak, demi terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Transformasi BUMN Persero menjadi BPJS bertujuan untuk memenuhi
prinsip dana amanat dan prinsip nir laba SJSN, di mana dana yang dikumpulkan
oleh BPJS adalah dana amanat peserta yang dikelola oleh BPJS untuk
memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi peserta.
Penyelenggaraan program jaminan sosial oleh BUMN Perseroan tidak sesuai
dengan filosofi penyelenggaraan program jaminan sosial pasca amandemen UUD
NRI 1945. Pendirian BUMN Persero antara lain bertujuan untuk memberikan
sumbangan pada perekonomian nasional dan pendapatan negara serta untuk
mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan. Tujuan pendirian
BUMN jelas bertentangan dengan tujuan penyelenggaraan sistem jaminan sosial
nasional sebagaiman diuraikan di atas.

2. Perubahan Badan Hukum


Keempat BUMN Persero penyelenggara program jaminan sosial PT
ASKES, PT ASABRI, PT JAMSOSTEK, PT TASPEN, adalah empat badan privat
yang terdiri dari persekutuan modal dan bertanggung jawab kepada pemegang
saham. Keempatnya bertindak sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh
dan sesuai dengan keputusan pemilik saham yang tergabung dalam Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS).
Sebagai badan hukum privat, BUMN Persero tidak didirikan oleh penguasa
negara dengan Undang-Undang, melainkan ia didirikan oleh perseorangan
selayaknya perusahaan umum lainnya, didaftarkan pada notaris dan diberi
keabsahan oleh Kementerian Hukum dan HAM. Menteri mendirikan persero

16 | P a g e

setelah berkonsultasi dengan Presiden dan setelah dikaji oleh Menteri Teknis dan
Menteri Keuangan.
Sebaliknya, pendirian BPJS oleh penguasa negara dengan Undang-Undang,
yaitu UU SJSN dan UU BPJS. Pendirian BPJS tidak didaftarkan pada notaris dan
tidak perlu pengabsahan dari lembaga pemerintah.
RUPS adalah organ Persero yang memegang kekuasaan tertinggi dalam
Persero dan memegang wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau
Komisaris. Transformasi kelembagaan jaminan sosial mengeluarkan badan
penyelenggara jaminan sosial dari tatanan Persero yang berdasar pada
kepemilikan saham dan kewenangan RUPS, menuju tatanan badan hukum publik
sebagai pelaksana amanat konstitusi dan peraturan perundangan.
Selanjutnya, perubahan berlanjut pada organisasi badan penyelenggara.
Didasari pada kondisi bahwa kekayaan Negara dan saham tidak dikenal dalam
SJSN, maka RUPS tidak dikenal dalam organ BPJS. Organ BPJS terdiri dari
Dewan Pengawas dan Direksi. Dewan Pengawas berfungsi melakukan
pengawasan atas pelaksanaan tugas BPJS, sedangkan Direksi berfungsi
melaksanakan penyelenggaraan kegiatan operasional BPJS. Anggota Direksi
diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Berbeda dengan Dewan Pengawas
BUMN Persero, Dewan Pengawas BPJS ditetapkan oleh Presiden. Pemilihan
Dewan Pengawas BPJS dilakukan oleh Presiden dan DPR. Presiden memilih
anggota Dewan Pengawas dari unsur pemerintah, sedangkan DPR memilih
anggota Dewan Pengawas dari unsur pekerja, unsur pemberi kerja dan unsur
tokoh masyarakat.
Sebagai badan hukum privat, keempat BUMN Persero tersebut tidak memiliki
kewenangan publik yang seharusnya dimiliki oleh badan penyelenggara jaminan
sosial. Hambatan utama yang dialami oleh keempat BUMN Persero adalah
ketidakefektifan penegakan hukum jaminan sosial karena ketiadaan kewenangan
untuk mengatur, mengawasi maupun menjatuhkan sanksi kepada peserta.
Sebaliknya, BPJS selaku badan hukum publik memiliki kekuasaan dan

17 | P a g e

kewenangan untuk mengatur publik melalui kewenangan membuat peraturanperaturan yang mengikat publik.
Sebagai

badan

hukum

publik,

BPJS

wajib

menyampaikan

pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya kepada pejabat publik yang


diwakili oleh Presiden. BPJS menyampaikan kinerjanya dalam bentuk laporan
pengelolaan program dan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit oleh
akuntan publik kepada Presiden, dengan tembusan kepada DJSN, paling lambat
30 Juni tahun berikutnya.
Perubahan terakhir dari serangkaian proses transformasi badan penyelenggara
jaminan sosial adalah perubahan budaya organisasi. Reposisi kedudukan peserta
dan kepemilikan dana dalam tatanan penyelenggaraan jaminan sosial mengubah
perilaku dan kinerja badan penyelenggara. Pasal 40 ayat (2) UU BPJS
mewajibkan BPJS memisahkan aset BPJS dan aset Dana Jaminan Sosial. Pasal 40
ayat (3) UU BPJS menegaskan bahwa aset Dana Jaminan Sosial bukan
merupakan aset BPJS. Penegasan ini untuk memastikan bahwa Dana Jaminan
Sosial merupakan dana amanat milik seluruh peserta yang tidak merupakan aset
BPJS. BPJS merupakan badan hukum publik karena memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
1. Dibentuk dengan Undang-Undang (Pasal 5 UU BPJS).
2. Berfungsi untuk menyelenggarakan kepentingan umum, yaitu Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN) yang berdasarkan asas kemanusiaan, manfaat dan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Pasal 2 UU BPJS).
3. Diberi delegasi kewenangan untuk membuat aturan yang mengikat umum
(Pasal 48 ayat (3) UU BPJS).
4. Dibentuk dengan Undang-Undang (Pasal 5 UU BPJS).
5. Berfungsi untuk menyelenggarakan kepentingan umum, yaitu Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN) yang berdasarkan asas kemanusiaan, manfaat dan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Pasal 2 UU BPJS).
18 | P a g e

6. Diberi delegasi kewenangan untuk membuat aturan yang mengikat umum


(Pasal 48 ayat (3) UU BPJS).
7. Bertugas mengelola dana publik, yaitu dana jaminan sosial untuk kepentingan
peserta (Pasal 10 huruf d UU BPJS).
8. Berwenang melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan peserta
dan pemberi kerja dalam memenuhi kewajibannya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan jaminan sosial nasional (Pasal 11 huruf c UU
BPJS).
9. Bertindak mewakili Negara RI sebagai anggota organisasi atau lembaga
internasional (Pasal 51 ayat (3) UU BPJS).
10. Berwenang mengenakan sanksi administratif kepada peserta atau pemberi
kerja yang tidak memenuhi kewajibannya (Pasal 11 huruf f UU BPJS).
11. Pengangkatan Angggota Dewan Pengawas dan Anggota Direksi oleh Presiden,
setelah melalui proses seleksi publik (Pasal 28 s/d Pasal 30 UU BPJS).

2.2.3 Proses Transformasi


UU BPJS mengatur seluruh ketentuan pembubaran dan pengalihan PT ASKES
(Persero) dan PT JAMSOSTEK (Persero). Ketentuan pembubaran BUMN Persero
tidak berlaku bagi pembubaran PT ASKES (Persero) dan PT JAMSOSTEK
(Persero). Pembubaran kedua Persero tersebut tidak perlu diikuti dengan
likuidasi, dan tidak perlu ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Namun, UU
BPJS tidak jelas mengatur apakah ketentuan ini juga berlaku bagi pembubaran
dan transformasi PT ASABRI (Persero) dan PT TASPEN (Persero).
Proses transformasi keempat BUMN Persero tersebut tidaklah sederajat. Ada
tiga derajat transformasi dalam UU BPJS:

19 | P a g e

1) Tingkat tertinggi adalah transformasi tegas. UU BPJS dengan tegas mengubah


PT JAMSOSTEK (Persero) menjadi BPJS Ketenagakerjaan, membubarkan
PT JAMSOSTEK (Persero) dan mencabut UU No. 3 Tahun 1992 tentang
JAMSOSTEK.
2) Tingkat kedua adalah transformasi tidak tegas. UU BPJS tidak secara eksplisit
mengubah PT ASKES (Persero) menjadi BPJS Kesehatan, maupun
pencabutan peraturan perundangan terkait pembentukan PT ASKES (Persero).
UU BPJS hanya menyatakan pembubaran PT ASKES (Persero) menjadi BPJS
Kesehatan sejak beroperasinya BPJS Kesehatan pada 1 Januari 2014.
Perubahan PT ASKES (Persero) menjadi BPJS Kesehatan tersirat dalam kata
pembubaran PT ASKES (Persero) dan beroperasinya BPJS Kesehatan.
3) Tingkat ketiga adalah tidak bertransformasi. UU BPJS tidak menyatakan
perubahan maupun pembubaran PT ASABRI (Persero) dan PT TASPEN
(Persero). UU BPJS hanya mengalihkan program dan fungsi kedua Persero
sebagai pembayar pensiun ke BPJS Ketenagakerjaan selambatnya pada tahun
2029. Bagaimana nasib kedua Persero tersebut masih menunggu rumusan
peraturan Pemerintah yang didelegasikan oleh Pasal 66 UU BPJS.
Di samping terdapat tingkatan transformasi, UU BPJS menetapkan dua
kriteria proses transformasi BPJS. UU BPJS memberi tenggat 2 tahun sejak
pengundangan UU BPJS pada 25 November 2011 kepada PT ASKES (Persero)
dan PT JAMSOSTEK (Persero) untuk beralih dari Perseroan menjadi badan
hukum publik BPJS. Namun, saat mulai beroperasi BPJS Kesehatan dan BPJS
Ketenagakerjaan terpaut 1,5 tahun.
Kriteria pertama adalah transformasi simultan. PT ASKES (Persero) pada
waktu yang sama bertransformasi menjadi BPJS Kesehatan dan beroperasi. Mulai
1 Januari 2014 PT ASKES (Persero) berubah menjadi BPJS Kesehatan dan pada
saat yang sama BPJS Kesehatan menyelenggarakan program jaminan kesehatan
sesuai ketentuan UU SJSN.

20 | P a g e

Kriteria kedua adalah transformasi bertahap. PT JAMSOSTEK (Persero)


bertransformasi dan beroperasi secara bertahap. Pada 1 Januari 2014, PT
JAMSOSTEK (Persero) bubar dan berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan,
namun tetap melanjutkan penyelenggaraan tiga program PT JAMSOSTEK
(Persero)jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian dan jaminan hari
tua. BPJS Ketenagakerjaan diberi waktu 1,5 tahun untuk menyesuaikan
penyelenggaraan ketiga program tersebut dengan ketentuan UU SJSN dan
menambahkan program jaminan pensiun ke dalam pengelolaannya. Selambatlambatnya pada 1 Juli 2015, BPJS Ketenagakerjaan telah menyelenggarakan
program jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua dan
jaminan pensiun sesuai UU SJSN.

2.2.4

Transformasi PT ASKES (Persero) Menjadi BPJS Ketenagakerjaan


Transformasi PT ASKES (Persero), transformasi PT Jamsostek dilakukan

dalam dua tahap:


1. Tahap pertama adalah masa peralihan PT JAMSOSTEK (Persero) menjadi
BPJS Ketenagakerjaan berlangsung selama 2 tahun, mulai 25 November 2011
sampai dengan 31 Desember 2013. Tahap pertama diakhiri dengan pendirian
BPJS Ketenagakerjaan pada 1 Januari 2014.
2. Tahap kedua, adalah tahap penyiapan operasionalisasi BPJS Ketenagakerjaan
untuk penyelenggaraan program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua,
jaminan pensiun dan jaminan kematian sesuai dengan ketentuan UU SJSN.
Persiapan tahap kedua berlangsung selambat-lambatnya hingga 30 Juni 2015
dan

diakhiri

dengan

beroperasinya

BPJS

Ketenagakerjaan

untuk

penyelenggaraan keempat program tersebut sesuai dengan ketentuan UU


SJSN selambatnya pada 1 Juli 2015.
Selama masa persiapan, Dewan Komisaris dan Direksi PT Jamsostek
(Persero) ditugasi untuk menyiapkan:

21 | P a g e

1. Pengalihan program jaminan kesehatan Jamsostek kepada BPJS Kesehatan.


2. Pengalihan asset dan liabilitas, serta hak dan kewajiban program jaminan
pemeliharaan kesehatan PT Jamsostek (Persero) ke BPJS Kesehatan.
3. Penyiapan beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan berupa pembangunan sistem
dan prosedur bagi penyelenggaraan program jaminan kecelakaan kerja,
jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian, serta sosialisasi
program kepada publik.
4. Pengalihan asset dan liabilitas, pegawai serta hak dan kewajiban PT Jamsostek
(Persero) ke BPJS Ketenagakerjaan.
Penyiapan pengalihan asset dan liabilitas, pegawai serta hak dan kewajiban PT
Jamsostek (Persero) ke BPJS Ketenagakerjaan mencakup penunjukan kantor
akuntan publik untuk melakukan audit atas:
1. Laporan keuangan penutup PT Askes(Persero),
2. Laporan posisi keuangan pembukaan BPJS Kesehatan.
3. Laporan posisi keuangan pembukaan dana jaminan kesehatan.
Seperti halnya pembubaran PT ASKES (Persero), pada 1 Januari 2014 PT
Jamsostek (Persero) dinyatakan bubar tanpa likuidasi dan PT Jamsostek (Persero)
berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Peraturan Pemerintah No.36 Tahun 1995
tentang Penetapan Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(JAMSOSTEK) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.
Semua asset dan liabilitas serta hak dan kewajiban hukum PT Jamsostek
(Persero) menjadi asset dan liabilitas serta hak dan kewajiban hukum BPJS
Ketenagakerjaan. Semua pegawai PT Jamsostek (Persero) menjadi pegawai BPJS
Ketenagakerjaan.
Pada saat pembubaran, Menteri BUMN selaku RUPS mengesahkan laporan
posisi keuangan penutup PT Jamsostek (Persero) setelah dilakukan audit oleh
22 | P a g e

kantor akuntan publik. Menteri Keuangan mengesahkan posissi laporan keuangan


pembukaan BPJS Ketenagakerjaan dan laporan posisi keuangan pembukaan dana
jaminan ketenagakerjaan. Sejak 1 Januari 2014 hingga selambat-lambatnya 30
Juni 2015, BPJS Ketenagakerjaan melanjutkan penyelenggaraan tiga program
yang selama ini diselenggarakan oleh PT Jamsostek (Persero), yaitu program
jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua dan jaminan kematian, termasuk
menerima peserta baru. Penyelenggaraan ketiga program tersebut oleh BPJS
Ketenagakerjaan masih berpedoman pada ketentuan Pasal 8 sampai dengan Pasal
15 UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek.
Selambat-lambatnya pada 1 Juli 2015, BPJS Ketenagakerjaan beroperasi
sesuai dengan ketentuan UU SJSN. Seluruh pasal UU Jamsostek dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku. BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan program
jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan
kematian sesuai dengan ketentuan UU SJSN untuk seluruh pekerja kecuali
Pegawai Negeri Sipil, Anggota TNI dan POLRI. Untuk pertama kali, Presiden
mengangkat Dewan Komisaris dan Direksi PT Jamsostek (Persero) menjadi
aggota Dewan Pengawas dan anggota Direksi BPJS Ketenagakerjaan untuk
jangka waktu paling lama 2 tahun sejak BPJS Ketenagakerjaan mulai beroperasi.
Ketentuan ini berpotensi menimbulkan kekosongan pimpinan dan pengawas BPJS
Ketenagakerjaan di masa transisi, mulai saat pembubaran PT JAMSOSTEK pada
1 Januari 2014 hingga beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan pada 1 Juli 2015.

2.2.5 Peraturan Pelaksanaan UU BPJS


Telaah enam berlalu sejak pengundangan UU BPJS, belum satupun peraturan
pelaksanaan UU BPJS selesai diundangkan. Terdapat duapuluh satu pasal UU
BPJS mendelegasikan pengaturan teknis operasional ke peraturan di bawah
undang-undang. Delapan pasal mendelegasikan peraturan pelaksanaan ke dalam
Peraturan Pemerintah. Delapan pasal mendelegasikan ke dalam Peraturan
Presiden. Satu pasal mendelegasikan ke Keputusan Presiden. Satu pasal

23 | P a g e

mendelegasikan ke Peraturan BPJS. Dua pasal mendelegasikan ke Peraturan


Direktur dan 1 pasal mendelegasikan ke Peraturan Dewan Pengawas.
Delapan pasal mendelegasikan ke dalam Peraturan Pemerintah untuk
mengatur hal-hal di bawah ini:
1. Tata cara pengenaan sanksi administratif kepada pemberi kerja selain
penyelenggara Negara dan setiap orang yang tidak mendaftarkan diri kepada
BPJS; pendelegasian dari pasal 17 ayat (5).
2. Besaran dan tata cara pembayaran iuran program jaminan kecelakaan kerja,
jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian; pendelegasian dari
pasal 19 ayat (5) huruf b.
3. Sumber aset BPJS dan penggunaannya; pendelegasian dari pasal 41 ayat (3).
4. Sumber aset dana jaminan sosial dan penggunaannya; pendelegasian dari pasal
43 ayat (3).
5. Presentase dana operasional BPJS dari iuran yang diterima dan/atau dari dana
hasil pengembangan; pendelegasian dari pasal 45 ayat (2).
6. Tata cara hubungan BPJS dengan lembaga-lembaga di dalam negeri dan di
luar negeri, serta bertindak mewakili Negara RI sebagai anggota
organisasi/lembaga internasional; pendelegasian dari pasal 51 ayat (4).
7. Tatacara pengenaan sanksi administratif kepada anggota Dewan Pengawas
atau anggota Direksi yang melanggar ketentuan larangan; pendelegasian dari
pasal 53 ayat (4).
8. Tata cara pengalihan program Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia dan program pembayaran pensiun dari PT ASABRI (Persero) dan
pengalihan program tabungan hari tua dan program pembayaran pensiun dari
PT TASPEN (Persero) ke BPJS Ketenagakerjaan; pendelegasian dari pasal 66.

24 | P a g e

Delapan pasal mendelegasikan ke Peraturan Presiden untuk mengatur hal-hal


di bawah ini:
1. Tata cara penahapan kepesertaan wajib bagi Pemberi Kerja untuk
mendaftarkan dirinya dan Pekerjanya sebagai Peserta kepada BPJS sesuai
dengan program Jaminan Sosial yang diikuti; pendelegasian dari pasal 15 ayat
(3).
2. Besaran dan tata cara pembayaran Iuran program jaminan kesehatan;
pendelegasian dari pasal 19 ayat (5) huruf a.
3. Tata cara pemilihan dan penetapan Dewan Pengawas dan Direksi;
pendelegasian dari pasal 31.
4. Tata cara pemilihan dan penetapan calon anggota pengganti antarwaktu;
pendelegasian dari pasal 36 ayat (5).
5. Bentuk dan isi laporan pengelolaan program; pendelegasian dari pasal 37 ayat
(7).
6. Gaji atau Upah dan manfaat tambahan lainnya serta insentif bagi anggota
Dewan Pengawas dan anggota Direksi; pendelegasian dari pasal 44 ayat (8).
7. Daftar pelayanan kesehatan tertentu berkaitan dengan kegiatan operasional
Kementerian Pertahanan, TNI dan POLRI dan tidak dialihkan kepada BPJS
Kesehatan; pendelegasian dari pasal 57 huruf c dan pasal 60 ayat (2) huruf b.
Satu pasal mendelegasikan ke keputusan Presiden untuk menetapkan
keanggotaan panitia seleksi untuk memilih dan menetapkan anggota Dewan
Pengawas dan anggota Direksi; pendelegasian dari pasal 28 ayat (3). Satu pasal
mendelegasikan ke Peraturan BPJS untuk mengatur pembentukan unit pengendali
mutu dan penanganan pengaduan Peserta serta tatakelolanya; pendelegasian dari
pasal 48 ayat (3). Dua pasal mendelegasikan ke Peraturan Direktur untuk
mengatur:

25 | P a g e

1. Tata cara pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenang Direksi; pendelegasian


dari pasal 24 ayat (4).
2. Gaji atau Upah dan manfaat tambahan lainnya serta insentif bagi karyawan
BPJS; pendelegasian dari pasal 44 ayat (7). Satu pasal mendelegasikan ke
Peraturan Dewan Pengawas untuk mengatur tata cara pelaksanaan fungsi,
tugas, dan wewenang Dewan Pengawas.

2.2.6 Peraturan Pelaksanaan UU SJSN


Setelah hampir delapan tahun pengundangan UU SJSN pada 19 Oktober 2004,
baru satu perintah pendelegasian yang dilaksanakan dari 22 pasal yang
memerintahkan pengaturan lanjut materi muatan UU SJSN. Perintah yang telah
dilaksanakan adalah pembentukan Peraturan Presiden tentang susunan organisasi
dan tata kerja Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN). Perintah lainnya yang
telah dilaksanakan adalah putusan Mahkamah Konstitusi atas perkara No.
007/PUU-III/2005, yaitu membentuk UU BPJS.
Duapuluh satu perintah pengaturan lanjut tentang penyelenggaraan jaminan
sosial dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Tujuh Peraturan Pemerintah:


1. Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja.
2. Penyelenggaraan Program Jaminan Hari Tua.
3. Penyelenggaraan Program Jaminan Pensiun.
4. Penyelenggaraan Program Jaminan Kematian.
5. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Sosial.
6. Tata cara pengelolaan dan pengembangan dana jaminan sosial.

26 | P a g e

7. Cadangan Teknis

Dua Peraturan Presiden:


1. Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan.
2. Penahapan pendaftaran peserta.

2.3 PELAPORAN KEUANGAN RUMAH SAKIT BADAN LAYANAN


UMUM
2.3.1 Karakteristik BLU Rumah Sakit
Berdasarkan peraturan perundang-undangan BLU rumah sakit memiliki
karakteristik, antara lain, sebagai berikut :
1) BLU rumah sakit bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan
keuangan berdasarkan prinsip efisiensi dan produktivitas, dan penerapan
praktik bisnis yang etis dan sehat, serta tidak semata-mata mencari
keuntungan.
2) BLU rumah sakit merupakan unit pelaksana teknis Kementerian Kesehatan
yang diberi tugas dan wewenang untuk menyelenggarakan kegiatan jasa
pelayanan, pendidikan, penelitian, dan pengembangan serta usaha lain dalam
bidang kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan
senantiasa berorientasi kepada kepentingan masyarakat.
3) Untuk mendukung pembiayaan kegiatan sesuai dengan

tugas

dan

wewenangnya, BLU rumah sakit:


a) Dapat menerima bantuan dan atau subsidi yang berasal dari APBN/APBD
berupa uang ataupun barang;
b) Berhak menerima pembayaran hasil jasa pelayanan, pendidikan, dan
penelitian di bidang kesehatan serta hasil usaha-usaha lain yang sah;
c) Dapat menerima hasil kerja sama dengan pihak lain yang terkait.
d) Penerimaan yang diperoleh sebagai imbalan jasa yang diberikan BLU
rumah sakit merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
4) Dalam rangka pengembangan usaha, BLU rumah sakit dapat :

27 | P a g e

a) Menerima hibah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang


berlaku;
b) Menerima pinjaman dari bank, lembaga keuangan lain dan atau
pinjaman dari luar negeri berdasarkan usulan
Menteri Keuangan; dan Bekerja

BLU

atas persetujuan

sama dengan lembaga lain yang

mempunyai keterkaitan fungsi.


5) Kekayaan BLU rumah sakit merupakan kekayaan negara yang tidak
dipisahkan, yang dikelola dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk membiayai
kegiatan operasional BLU rumah sakit.
6) Modal BLU rumah sakit tidak terbagi atas saham-saham.
2.3.2 Akuntansi Rumah Sakit
1. Perlakuan Akuntansi
a) Pengakuan (Recognition)
1) Kas dan setara kas diakui pada saat diterima oleh BLU;
2) Kas dan setara kas berkurang pada saat digunakan; dan
3) Kas dan setara kas berkurang pada saat dicadangkan.
b) Pengukuran (Measurement):
1) Kas dan setara kas dicatat sebesar nilai nominal; dan
2) Kas dan setara kas diukur sebesar nilai nominal pada saat diterima.
c) Penyajian (Presentation)
Kas dan setara kas merupakan pos/akun yang paling likuid (lancar) dan lazim
disajikan pada urutan pertama unsur aset / aset dalam neraca.
d) Pengungkapan (Disclosure)
1) Kebijakan yang diterapkan dalam menentukan komponen kas dan setara
kas.
2) Rincian jenis dan jumlah kas dan setara kas, sebagai berikut:
(a) Kas;
(b) Bank; dan
(c) Setara kas.
3) Kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya tidak dapat
diklasifikasikan sebagai kas dan setara kas dalam aset lancar. Kas dan
setara kas tersebut harus diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar.

28 | P a g e

2. Ilustrasi Jurnal
a) Pada saat penerimaan kas dan setara kas:
Kas/setara kas.

xxx

Pendapatan pelayanan

xxx

Piutang

xxx

Ekuitas

xxx

Akun yang dituju lainnya

xxxx

b) Pada saat penggunaan kas dan setara kas :


Aset lain.

xxx

Utang..

xxx

Beban yang dikeluarkan

xxx

Dana dicadangkan.

xxx

Akun yang dipengaruhi lain

xxx

Kas/setara kas.

Xxx

Laporan Keuangan yang lengkap terdiri dari:


1) Neraca;
2) Laporan Aktivitas;
3) Laporan Arus Kas; dan
4) Catatan Atas Laporan Keuangan

29 | P a g e

3. Ilustrasi Laporan Aktivitas

30 | P a g e

31 | P a g e

32 | P a g e

33 | P a g e

4. Ilustrasi Laporan Arus Kas

34 | P a g e

35 | P a g e

36 | P a g e

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Mencermati ruang lingkup pengaturan transformasi badan penyelenggara
jaminan sosial yang diatur dalam UU SJSN dan UU BPJS, keberhasilan
transformasi bergantung pada ketersediaan peraturan pelaksanaan yang harmonis,
konsisten dan dilaksanakan secara efektif. Kemauan politik yang kuat dari
pemerintah

dan

komitmen

pemangku

kepentingan

untuk

melaksanakan

trasnformasi setidaknya tercermin dari kesungguhan menyelesaikan agendaagenda regulasi yang terbengkalai. Peraturan perundangan jaminan sosial yang
efektif akan berdampak pada kepercayaan dan dukungan publik akan transformasi
badan penyelenggara. Publik hendaknya dapat melihat dan merasakan bahwa
transformasi badan penyelenggara bermanfaat bagi peningkatan efisiensi dan
efektifitas penyelenggaraan SJSN, sebagai salah satu pilar untuk mewujudkan
kesejahteraan sosial. Pembangunan dukungan publik diiringi dengan sosialisasi
yang intensif dan menjangkau segenap lapisan masyarakat. Sosialisasi diharapkan
dapat menumbuhkan kesadaran pentingnya penyelenggaraan SJSN dan penataan
kembali penyelenggaraan program jaminan sosial agar sesuai dengan prinsipprinsip jaminan sosial yang universal, sebagaimana diatur dalam Konstitusi dan
UU SJSN.
Selanjutnya dalam pengelolaan sumber daya, dengan status BLU yang
diberikan pada rumah sakit diharapkan dapat menyajikan informasi keuangan
yang akurat, tersaji secara tepat waktu bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pengelolaan sumber daya di bidang
keuangan, meliputi transaksi keuangan yang mencakup sumber daya, pendapatan
dan beban, maka diperlukan sarana dalam bentuk laporan keuangan.
3.2 Saran
SAK di Indonesia telah mengadopsi penuh IFRS sejak tahun 2012. Hal ini
diharapkan akan semakin membawa perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat
bersaing dengan perusahaan internasional lainnya. Karena dengan melakukan

37 | P a g e

adopsi ini tentunya penyajian laporan keuangan yang dilakukan oleh perusahaan
juga akan semakin akuntabel dan transparan.
Perusahaan atau organisasi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat
sebaiknya segera menerapkan standar akuntansi keuangan berbasis IFRS. Hal ini
terkait adanya perubahan terhadap Conseptual Framework Standar Akuntansi
Keuangan yang telah dikonvergensi IFRS.

38 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
Imanuella, Intan. 2009. Adopsi Penuh dan Harmonisasi Standar Akuntansi
Internasional. Jurnal Ilmiah Widya Warta, Vol.33, No.1, Hal. 69-75.
Mediaty. 2012. Implementasi IFRS dan Isu-Isu Krusial dalam Konvergensi IFRS.
Laporan Penulisan Buku Ajar Universitas Hasanuddin. Makassar.
Sadjiarto, Arya. 1999. Akuntansi Internasional: Harmonisasi versus Standarisasi.
Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol.1, No.2, Hal.144-161.
Warta Jams. 2013. Bertransformasi untuk Memberikan Layanan & Manfaat yang
Lebih Baik. Buletin Jamsostek, Vol.01.
UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
UU No. 19 Tahun 2003 Tentang BUMN
UU No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
UU No. 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
http://erika0391989.wordpress.com/2012/02/08/a-conceptual-framework-forfinancial-accounting-and-reporting/
http://financeacountingtraining.blogspot.com
http://henrich27.blogspot.com/2013/05/conceptual-framework-for-financial.html
http://staff.blog.ui.ac.id/martani/
www.iaiglobal.ac.id
www.jamsostek.co.id

39 | P a g e

Anda mungkin juga menyukai