Anda di halaman 1dari 5

Venitha Dwi Hertanti

240210120028

V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Hidrogen sianida merupakan rancun yang dihasilkan dari glikosida
sianogenetik yaitu senyawa dalam bahan makanan nabati. Glikosida sianogenetik
juga terdapat pada berbagai tanaman dengan nama senyawa yang berbeda-beda
seperti amigladin pada biji almond, apricot dan apel, dhurin pada biji shorgum,
dan linamarin pada kara dan talas (Winarno, 1991). Bahaya HCN pada kesehatan
terutama pada sistem pernapasan, di mana oksigen dalam darah terikat oleh
senyawa HCN dan terganggunya sistem pernapasan (Winarno, 1991). Pengaruh
lain yang disebabkan oleh keracunan HCN, kepala pusing, muntah-muntah, dan
mata berkunang-kunang.
Pengujian kandungan hidrogen sianida (HCN) dapat dilakukan dengan uji
kualitatif dan uji kuantitatif. Uji kualitatif hanya dapat menunjukkan ada atau
tidaknya hidrogen sianida pada bahan pangan. Sedangkan, pada uji kuantitatif
dapat ditentukan berapa besarnya kandungan hidrogen sianida pada bahan pangan
tersebut.
Penentuan kadar HCN secara kualitatif ini, identifikasi senyawa HCN
menggunakan kertas saring yang dicelupkan ke dalam asam pikrat jenuh,
dikeringkan dan dibasahi dengan larutan Na2CO3 8%, dimana kertas saring
digantung di dalam Erlenmeyer. Erlenmeyer tersebut telah diisi dengan larutan
sampel dan asam tartarat 5%. Pemanasan diatas penangas air selama 15 menit
membuat warna kertas pikrat berubah menjadi merah yang menunjukkan terdapat
zat atau senyawa HCN dalam sampel. Berikut ini merupakan hasil pembahasan
mengenai penetapan kadar HCN baik secara kualitatif :
5.1 Tabel Uji Kualitatif Terhadap HCN Pada Beberapa Sampel
Kelompok Sampel
Ada Tidaknya HCN
1
Daun Singkong
Positif
2
Petai
Negatif
3
Jengkol
Negatif
4
Picung
Positif
5
Leuncak
Positif
6
Daun Singkong
Positif
7
Petai
Negatif
8
Jengkol
Positif
9
Picung
Positif
10
Leunca
Positif
Sumber : Dokumentasi Pribadi (2014)

Venitha Dwi Hertanti


240210120028

Praktikum ini dilakukan juga untuk uji kuantitatif. Untuk memurnikan


kandungan HCN yang ingin ditentukan dilakukan destilasi uap dan penentuan
besarnya kandungan HCN dilakukan dengan titrasi tidak langsung.
Destilasi uap pada sampel bertujuan untuk mendapatkan HCN dalam
bentuk AgCN dengan sumber panas memanfaatkan uap panas yang berasal dari
air yang mendidih. Sampel yang telah dihaluskan ditimbang dan dimasukkan ke
dalam labu didih dan ditambahkan akuades sebagai pelarutnya. Rangkaian alat
destilasi sudah disiapkan yang terdiri atas kondensor, air dalam labu didih yang
dipanaskan pada heater mantle yang akan menghasilkan uap panas untuk destilasi
dan erlenmeyer yang berisi 50 ml larutan AgNO 3 0.02N dan 3 ml HNO3. AgNO3
akan menangkap HCN sedangkan HNO3 berfungsi untuk menciptakan suasana
asam karena dalam kondisi basa Fe3+ pada FAS akan terhidrolisis. HCN akan
menguap bersama pelarutnya dan melewati kondensor. Uap akan mengalir menuju
erlenmeyer yang berisi AgNO3 0.02N. Sebagian AgNO3 akan menangkap HCN
dan membentuk AgCN dan HNO3. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
HCN + AgNO3
AgCN + HNO3
Penentuan kadar hidrosianida (HCN) dilakukan dengan titrasi tidak
langsung. Titrasi tidak langsung ini maksudnya menentukan kadar HCN dalam
bentuk AgNO3 berlebih sebagai tanda banyaknya AgCN yang dihasilkan dari
proses destilasi. Filtrat hasil destilasi dikocok dan disaring, kemudian
ditambahkan 1 ml ammonium ferisulfat sebagai indikator Titrasi dilakukan
dengan menggunakan NH4CNS sampai terbentuk warna merah.
NH4CNS + AgNO3 sisa
AgCNS + NH4NO3
Fe3+ + CNSFeCNS2- (merah)
Penentuan kadar HCN dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
mg HCN
= (V.Blanko - V.sampel) x N AgNO3 x BM HCN x fp
berat sampel (mg)
% mgHCN
= (mg HCN/ mg sampel) x 100%
Berikut ini merupakan hasil pengamatan mengenai penetapan kadar HCN
baik secara kuantitatif:
5.2 Tabel Uji Kuantitatif Terhadap HCN Pada Beberapa Sampel
Kel
Sampel
W Sampel
V titrasi
Kadar
(mg)
( ml)
HCN (%)
1&6
Daun Singkong 20023
4,4
0,00539
2&7

Petai

20574,5

0,3

0,113

Literatur
0,04
0,05%.

Venitha Dwi Hertanti


240210120028

3&8
4&9
5 & 10

Jengkol
Picung
Leunca

20179,9
20049,1
20212,7

0,8
3,9
4,3

0,102
0,0189
0,000799

1 - 2%
0,265 %

Sumber : Dokumentasi Pribadi (2014)

5.3
5.3.1

Pembahasan
Daun Singkong
Setelah dilakukan uji kualitatif dan uji kuantitatif, dapat dilihat di table

hasil pengamatan bahwa daun singkong positif mengandung HCN. Kadar HCN
yang terkandung dalam singkong yaitu 0,00539 %.. Menurut literature, daun
singkong mengandung 0,04 0,05%.
5.3.2 Petai
Sampel petai yang diuji secara kualitatif menunjukan bahwa dalam petai
tidak terdapat HCN karena pada saat dipanaskan tidak menunjukan warna merah
pada kertas saring yang diberi larutan asam pikrat dan Na 2CO3 8%, dan hal ini
menandakan negative. Setelah dilakukan pengujian kuantitatif didapatkan hasil
bahwa pada sampel jengkol terdapat HCN dengan kadar 0,113%
5.3.3 Jengkol
Hasil pengamatan untuk sampel jengkol yang diuji secara kualitatif
menunjukan bahwa dalam jengkol terdapat HCN karena pada saat dipanaskan ada
yang menunjukan warna merah pada kertas saring yang diberi larutan asam pikrat
dan Na2CO3 8%, adapun yang tidak. Setelah dilakukan pengujian kuantitatif
didapatkan hasil bahwa pada sampel jengkol terdapat HCN dengan kadar 0,102%.
Angka ini cukup besar namun tidak terdeteksi saat uji kualitatif.

Menurut

literature, jengkol mengandung 1 - 2% HCN.


5.3.4 Picung
Picung yang diuji secara kualitatif menunjukan bahwa dalam picung
menunujukkan hasil positif mengandung HCN. Setelah dilakukan pengujian
kuantitatif didapatkan hasil bahwa pada sampel picung terdapat HCN dengan
kadar 0,0189%. Menurut literature, picung mengandung sekitar 0,265 %
(Yuningsih et al, 2004).
5.3.5 Leunca
Uji kuantitatif leunca menunjukkan leunca tidak berubah warna menjadi
spesifik merah, namun terdapat perubahan warna sehingga menunjukkan bahwa
leunca positif mengandung HCN. Setelah dilakukan uji kuantitatif, leunca
mengandung kadar HCN sekitar 0,000799%. Angka ini cukup sedikit sehingga
pada saat uji kualitatif tidak terdeteksi.

Venitha Dwi Hertanti


240210120028

VI.
6.1

PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini diantaranya:
1. Daun singkong positif mengandung HCN sebesar 0,00539 %
2. Petai tidak terdeteksi positif saat uji kualitatif, namun mengandung 0,113

% HCN saat diuji kuantitatif


3. Jengkol positif mengandung HCN sebesar 0,102 %
4. Picung positif mengandung HCN sebesar 0,0189 %
5. Leunca positif mengandung HCN sebesar 0,000799 % meskipun kertas saring

tidak berubah warna menjadi merah karena kadar HCNnya yang sangat
sedikit
6.2

Saran

Dalam melakukan prosedur pengujian kadar HCN, harus teliti terutama


pada bagian destilasi dan titrasi sampel agar mendapatkan hasil yang
akurat.

Venitha Dwi Hertanti


240210120028

DAFTAR PUSTAKA

Sudarmadji, Slamet, Bambang Haryono dan Suhardi. 2003. Analisa Bahan


Makanan dan Pertanian. Liberty Yogyakarta Bekerja Sama Dengan Pusat
Antar Universitas Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Winarno, F.G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Yuningsih dan R. Damayanti. 2004. Studi Awal: Efektivitas Ekstrak Air Biji
Picung (Pangium edule) terhadap Mencit dan Anjing Sebagai Pengganti
Racun Strychnine dalam Upaya Eliminasi Anjing Liar. Bultin Littro Vol
XIX No. 1, 86-94.