Anda di halaman 1dari 8

Nama : Mateus Frans Julio Naibaho

NIM : 12012040
Teknik Geologi ITB 2012
1. Cekungan Sumatera Selatan
Menurut Salim dkk (1995) Cekungan Sumatra Selatan merupakan cekungan belakang
busur karena berada di belakang Pegunungan Barisan sebagai volcanic-arc-nya. Cekungan ini
berumur Tersier yang terbentuk sebagai akibat adanya interaksi antara Paparan Sunda sebagai
bagian dari Lempeng Kontinen Asia dan Lempeng Samudera India. Daerah cekungan ini
meliputi daerah seluas 330 x 510 km2, bagian barat daya dibatasi oleh singkapan Pra-Tersier
Bukit Barisan, di sebelah timur oleh Paparan Sunda (Sundaland), sebelah barat dibatasi oleh
Pegunungan Tigapuluh dan ke arah tenggara dibatasi oleh Tinggian Lampung.
Menurut Suta dan Xiaoguang (2005; dalam Satya, 2010) perkembangan struktur
maupun evolusi cekungan sejak Tersier merupakan hasil interaksi dari ketiga arah struktur
utama yaitu, berarah timurlaut-baratdaya atau disebut Pola Jambi, berarah baratlaut-tenggara
atau disebut Pola Sumatra, dan berarah utara-selatan atau disebut Pola Sunda. Hal inilah yang
membuat struktur geologi di daerah Cekungan Sumatra Selatan lebih kompleks dibandingkan
cekungan lainnya di Pulau Sumatra. Struktur geologi berarah timurlaut-baratdaya atau Pola
Jambi sangat jelas teramati di Sub-Cekungan Jambi. Terbentuknya struktur berarah timurlautbaratdaya di daerah ini berasosiasi dengan terbentuknya sistem graben di Cekungan Sumatra
Selatan. Struktur lipatan yang berkembang pada Pola Jambi diakibatkan oleh pengaktifan
kembali sesar-sesar normal tersebut pada periode kompresif Plio-Plistosen yang berasosiasi
dengan sesar mendatar (wrench fault). Namun, intensitas perlipatan pada arah ini tidak begitu
kuat.
Pola Sumatra sangat mendominasi di daerah Sub-Cekungan Palembang (Pulunggono
dan Cameron, 1984). Manifestasi struktur Pola Lematang saat ini berupa perlipatan yang
berasosiasi dengan sesar naik yang terbentuk akibat gaya kompresi Plio-Pleistosen. Struktur
geologi berarah utara-selatan atau Pola Sunda juga terlihat di Cekungan Sumatra Selatan.
Pola Sunda yang pada awalnya dimanifestasikan dengan sesar normal, pada periode tektonik
Plio-Pleistosen teraktifkan kembali sebagai sesar mendatar yang sering kali memperlihatkan
pola perlipatan di permukaan.

Gambar 2. Elemen Struktur Utama pada Cekungan


Sumatra Selatan. Orientasi Timurlaut-baratdaya
atau Utara-Selatan Menunjukkan Umur EoOligosen dan Struktur Inversi Menunjukkan Umur
Plio-Pleistosen (Ginger dan Fielding, 2005).
Perkembangan Tektonik
Peristiwa Tektonik yang berperan dalam
perkembangan Pulau Sumatra dan Cekungan
Sumatra Selatan menurut Pulonggono dkk (1992)
adalah:

Fase kompresi yang berlangsung dari


Jurasik awal sampai Kapur. Tektonik ini
menghasilkan sesar geser dekstral WNW ESE
seperti Sesar Lematang, Kepayang, Saka, Pantai
Selatan Lampung, Musi Lineament dan N S
trend. Terjadi wrench movement dan intrusi granit
berumur Jurasik Kapur.

Gambar 3. Fase Kompresi Jurasik Awal


Sampai Kapur dan Elipsoid Model
(Pulonggono dkk, 1992).
Fase tensional pada Kapur Akhir
sampai Tersier Awal yang menghasilkan
sesar normal dan sesar tumbuh berarah
S dan WNW ESE. Sedimentasi
mengisi cekungan atau terban di atas
batuan dasar bersamaan dengan
kegiatan gunung api. Terjadi pengisian
awal dari cekungan yaitu Formasi
Lahat.

Gambar 4. Fase Tensional Kapur Akhir


Sampai Tersier Awal dan Elipsoid Model
(Pulonggono dkk, 1992).
Fase ketiga yaitu adanya aktivitas tektonik
Miosen atau Intra Miosen menyebabkan
pengangkatan tepi-tepi cekungan dan
diikuti pengendapan bahan-bahan klastika.
Yaitu terendapkannya Formasi Talang Akar,
Formasi Baturaja, Formasi Gumai, Formasi
Air Benakat, dan Formasi Muara Enim.
Fase keempat berupa gerak kompresional
pada Plio-Plistosen menyebabkan sebagian Formasi Air Benakat dan Formasi Muara Enim
telah menjadi tinggian tererosi, sedangkan pada daerah yang relatif turun diendapkan Formasi
Kasai. Selanjutnya, terjadi pengangkatan dan perlipatan berarah barat laut di seluruh daerah
cekungan yang mengakhiri pengendapan Tersier di Cekungan Sumatra Selatan. Selain itu
terjadi aktivitas volkanisme pada cekungan belakang busur.

Gambar 5. Fase Kompresi Miosen Tengah Sampai Sekarang dan Elipsoid Model
(Pulonggono dkk, 1992).

2. Cekungan Sumatera Utara


Daerah ini merupakan bagian dari Back-arc Basin lempeng Sunda yang meliputi suatu
jalur sempit yang terbentang dari Medan sapai ke Banda Aceh. Di sebelah barat jalur ini jelas
dibatasi oleh singkapan-singkapan pra-Tersier. Dapat dikatakan bahwa yang dikenal sebagai
lempung hitam (black clay) dan batupasir bermika (micaceous sandstone), mungkin
merupakan pengendapan non-marin. Transgresi baru dimulai dengan batupasir Peunulin atau
batupasir Belumai, yang tertindih oleh Formasi Telaga. Formasi regresi diwakili oleh Formasi
Keutapang dan Formasi Seureula yang merupakan lapisan resevoir utama. Daerah cekungan
ini juga terdiri dari cekungan yang dikendalikan oleh patahan batuan dasar. Semua cekungan
tersebut adalah pendalaman Paseh (Paseh deep). Di sini jugalah letak dearah terangkat blok
Arun, yang dibatasi oleh patahan yang menjurus ke utara-selatan.
Cekungan Paseh membuka ke arah utara ke lepas pantai, ke sebelah selatan tempat
depresi Tamiang dan depresi Medan. Di antara kedua depresi tersebut terdapat daerah tinggi,
dan di sana Formasi Peunulin/Telaga/Belumai langsung menutupi batuan dasar. Minyak
ditemui pada formasi ini (Diski, Batumandi), lebih ke selatan lagi terdapat depresi Siantara
dan kemudian daerah cekungan dibatasi oleh lengkung Asahan dari cekungan Sumatera
Tengah. Struktur daerah cekungan Sumatera Utara diwakili oleh berbagai lipatan yang relatif
ketat yang membujut barat laut-tenggara yang diikuti oleh sesar naik. Di sini diketahui bagian
barat relatif naik terhadap bagian timur. Perlipatan terjadi di Plio-Plistosen. Semua unsur
struktur yang lebih tua direfleksikan pada paleotopografi batuan dasar, seperti misalnya di
blik Arun yang menjurus ke utara-selatan.
Cekungan sumatera utara secara tektonik terdiri dari berbagai elemen yang berupa
tinggian, cekungan maupun peralihannya, dimana cekungan ini terjadi setelah
berlangsungnya gerakan tektonik pada zaman Mesozoikum atau sebelum mulai
berlangsungnya pengendapan sedimen tersier dalam cekungan sumatera utara. Tektonik yang
terjadi pada akhir Tersier menghasilkan bentuk cekungan bulat memanjang dan berarah barat
laut tenggara. Proses sedimentasi yang terjadi selama Tersier secara umum dimulai dengan
trangressi, kemudian disusul dengan regresi dan diikuti gerakan tektonik pada akhir Tersier.
Pola struktur cekungan sumatera utara terlihat adanya perlipatan-perlipatan dan pergeseranpergeseran yang berarah lebih kurang lebih barat laut tenggara Sedimentasi dimulai dengan
sub cekungan yang terisolasi berarah utara pada bagian bertopografi rendah dan palung yang
tersesarkan. Pengendapan Tersier Bawah ditandai dengan adanya ketidak selarasan antara
sedimen dengan batuan dasar yang berumur Pra-tersier, merupakan hasil trangressi,
membentuk endapan berbutir kasar halus, batu lempung hitam, napal, batulempung
gampingan dan serpih.
Transgressi mencapai puncaknya pada Miosen Bawah, kemudian berhenti dan
lingkungan berubah menjadi tenang ditandai dengan adanya endapan napal yang kaya akan
fosil foraminifora planktonik dari formasi Peutu. Di bagian timur cekungan ini diendapkan
formasi Belumai yang berkembang menjadi 2 facies yaitu klastik dan karbonat. Kondisi
tenang terus berlangsung sampai Miosen tengah dengan pengendapan serpih dari formasi
Baong. Setelah pengendapan laut mencapai maksimum, kemudian terjadi proses regresi yang
mengendapkan sedimen klastik (formasi Keutapang, Seurula dan Julu Rayeuk) secara selaras
diendapkan diatas Formasi Baong, kemudian secara tidak selaras diatasnya diendapkan Tufa
Toba Alluvial.

Stratigrafi Cekungan Sumatera Utara


Proses tektonik cekungan tersebut telah membuat stratigrafi regional cekungan Sumatera
Utara dengan urutan dari tua ke muda adalah sebagai berikut :
1. Formasi Parapat
Formasi Parapat berumur Oligosen dengan komposisi batupasir berbutir kasar dan
konglomerat di bagian bawah, serta sisipan serpih yang diendapkan secara tidak selaras.
Bagian bawah Formasi ini diendapkan dalam lingkungan laut dangkal dengan dijumpai fosil
Nummulites
2. Formasi Bampo
Formasi Bampo berumur Oligosen atas sampai Miosen bawah dengan komposisi utama
adalah serpih hitam dan tidak berlapis, dan umumnya berasosiasi dengan pirit dan gamping.
Lapisan tipis batugamping, ataupun batulempung berkarbonatan dan mikaan sering pula
dijumpai. Ketebalan formasi amat berbeda dan berkisar antara 100 2400 meter.
3. Formasi Belumai
Formasi Belumai berumur Miosen awal terdiri dari batupasir glaukonit berselang seling
dengan serpih dan batugamping. Didaerah Formasi Arun bagian atas berkembang lapisan
batupasir kalkarenit dan kalsilutit dengan selingan serpih. Formasi Belumai terdapat secara
selaras diatas Formasi Bampo dan juga selaras dengan Formasi Baong, ketebalan
diperkirakan antara 200 700 meter.
4. Formasi Baong
Formasi Baong berumur Miosn tengah hingga atas terdiri atas batulempung abu-abu
kehijauan, napalan, lanauan, pasiran. Umumnya kaya fosil Orbulina sp, dan diselingi suatu
lapisan tipis pasir halus serpihan. Didaerah Langkat Aru beberapa selingan batupasir
glaukonitan serta batugampingan yang terdapat pada bagian tengah.
5. Formasi Keutapang
Formasi Keutapang tersusun selang-seling antara serpih, batulempung, beberapa sisipan
batugampingan dan batupasir berlapis tebal terdiri atas kuarsa pyrite, sedikit mika, dan
karbonan terdapat pada bagian atas dijumpai hidrokarbon. Ketebalan formasi ini berkisar
antara 404 1534 meter.
6. Formasi Seurula
Formasi Seurula merupakan kelanjutan facies regresi, dengan lithologinya terdiri dari
batupasir, serpih dan dominan batulempung. Dibandingkan dengan Formasi Keutapang,
Formasi Seurula berbutir lebih kasar banyak ditemukan pecahan cangkang moluska dan
kandungan fornifera plangtonik lebih banyak. Ketebalan Formasi ini diperkirakan antara 397
720 meter. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan bersifat laut selama awal Pliosen.
7. Formasi Julu Rayeu
Formasi Julu Rayeu merupakan formasi teratas dari siklus endapan laut dicekungan sumatera
utara. Dengan lithologinya terdiri atas batupasir halus sampai kasar, batulempung dengan
mengandung mika, dan pecahan cangkang moluska. Ketebalannya mencapai 1400 meter,
lingkungan pengendapan laut dangkal pada akhir Pliosen sampai Plistosen.
8. Vulkanik Toba
Vulkanik Toba merupakan tufa hasil kegiatan vukanisme toba yang berlangsung pada PlioPlistosen. Lithologinya berupa tufa dan endapan-endapan kontinen seperti kerakal, pasir dan
lempung. Tufa toba diendapkan tidak selaras diatas formasi Julu Rayeu. Ketebalan lapisan ini
diperkirakan antara 150 200 meter berumur Plistosen.
9. Alluvial
Satuan alluvial ini terdiri dari endapan sungai ( pasir, kerikil, batugamping dan batulempung )
dan endapan pantai yaitu, pasir sampai lumpur. Ketebalan satuan alluvial diperkirakan
mencapai 20 meter.

3. Cekungan Sumatera Tengah


Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan sedimentasi tersier penghasil
hidrokarbon terbesar di Indonesia. Ditinjau dari posisi tektoniknya, Cekungan Sumatra
tengah merupakan cekungan belakang busur. Faktor pengontrol utama struktur geologi
regional di cekungan Sumatra tengah adalah adanya Sesar Sumatra yang terbentuk pada
zaman kapur.
Struktur geologi daerah cekungan Sumatra tengah memiliki pola yang hampir sama
dengan cekungan Sumatra Selatan, dimana pola struktur utama yang berkembang berupa
struktur Barat laut-Tenggara dan Utara-Selatan. Walaupun demikian, struktur berarah UtaraSelatan jauh lebih dominan dibandingkan struktur Barat lautTenggara.

Gambar: Kerangka Tektonik Regional Cekungan Sumatera Tengah


(modifikasi Yarmanto dkk.,1997)
Cekungan Sumatra Tengah mempunyai 2 (dua) set sesar yang berarah utara-selatan
dan barat laut-tenggara. Sesar-sesar yang berarah utara-selatan diperkirakan berumur
Paleogen, sedangkan yang berarah barat laut-tenggara diperkirakan berumur Neogen Akhir.
Kedua set sesar tersebut berulang kali diaktifkan kembali sepanjang Tersier oleh gaya-gaya
yang bekerja.
Berdasarkan teori tektonik lempeng, tektonisme Sumatra zaman Neogen dikontrol
oleh bertemunya Lempeng Samudera Hindia dengan Lempeng Benua Asia. Batas lempeng
ditandai oleh adanya zona subduksi di Sumatra-Jawa. Struktur-struktur di Sumatra
membentuk sudut yang besar terhadap vektor konvergen, maka terbentuklah dextral wrench
fault yang meluas ke arah barat laut sepanjang busur vulkanik Sumatra yang berasosiasi
dengan zona subduksi.
Perkembangan cekungan tertier sumatera tengah
Perkembangan tektonik di Cekungan Sumatra Tengah dibagi menjadi 4 episode
tektonik, yaitu:

1.
Pre-Tertier
Batuan dasar Pra Tersier di Cekungan Sumatra Tengah terdiri dari lempeng-lempeng
benua dan samudera yang berbentuk mozaik. Orientasi struktur pada batuan dasar
memberikan efek pada lapisan sedimen Tersier yang menumpang di atasnya dan kemudian
mengontrol arah tarikan dan pengaktifan ulang yang terjadi kemudian. Pola struktur tersebut
disebut debagai elemen struktur pra tertier. Ada 2 (dua) struktur utama pada batuan dasar.
Pertama kelurusan utara-selatan yang merupakan sesar geser (Transform/Wrench Tectonic)
berumur Karbon dan mengalami reaktifisasi selama Permo-Trias, Jura, Kapur dan Tersier.
Tinggian-tinggian yang terbentuk pada fase ini adalah Tinggian Mutiara, Kampar, Napuh,
Kubu, Pinang dan Ujung Pandang. Tinggian-tinggian tersebut menjadi batas yang penting
pada pengendapan sedimen selanjutnya.
2. Eosen-Oligosen
Pada kala Eosen-Oligosen disebut juga Rift Phase. Pada zaman ini, terjadi deformasi
akibat Rifting dengan arah Strike timur laut, diikuti oleh reaktifisasi struktur-struktur tua.
Akibat tumbukan Lempeng Samudera Hindia terhadap Lempeng Benua Asia maka
terbentuklah suatu sistem rekahan Transtensional yang memanjang ke arah selatan dari Cina
bagian selatan ke Thailand dan ke Malaysia hingga Sumatra dan Kalimantan Selatan.
Perekahan ini membentuk serangkaian Horst dan Graben di Cekungan Sumatra Tengah.
Horst-Graben ini kemudian menjadi danau tempat diendapkannya sedimen-sedimen
Kelompok Pematang. Pada akhir eosen-oligosen terjadi peralihan dari perekahan menjadi
penurunan cekungan ditandai oleh pembalikan struktur yang lemah, denudasi dan
pembentukan daratan Peneplain. Hasil dari erosi tersebut berupa paleosol yang diendapkan di
atas Formasi Upper Red Bed.
3. Miosen Awal-Miosen Tengah
Pada kala Miosen Awal terjadi fase amblesan (sag phase), diikuti oleh pembentukan
Dextral Wrench Fault secara regional dan pembentukan Transtensional Fracture Zone. Pada
struktur tua yang berarah utara-selatan terjadi Release, sehingga terbentuk Listric Fault,
Normal Fault, Graben, dan Half Graben. Struktur yang terbentuk berarah relatif barat lauttenggara. Pada masa ini, Cekungan Sumatra Tengah mengalami transgresi dan
mengendapkan batuan reservoar utama dari kelompok Sihapas, tektonik Sumatra relatif
tenang. Sedimen klastik diendapkan, terutama bersumber dari daratan Sunda dan dari arah
Timur laut meliputi Semenanjung Malaya. Proses akumulasi sedimen dari arah timur laut
Pulau Sumatra menuju cekungan, diakomodir oleh adanya struktur-struktur berarah UtaraSelatan.
4. Miosen Tengah-Resen.
Pada kala Miosen Tengah-Resen disebut juga Barisan Compressional Phase. Pada
masa ini, terjadi pembalikan struktur akibat gaya kompresi menghasilkan reverse dan Thrust
Fault di sepanjang jalur Wrench Fault yang terbentuk sebelumnya. Proses kompresi ini terjadi
bersamaan dengan pembentukan Dextral Wrench Fault di sepanjang Bukit Barisan. Struktur
yang terbentuk umumnya berarah barat laut-tenggara. Pada Cekungan Sumatra Tengah
mengalami regresi dan sedimen-sedimen-sedimen Formasi Petani diendapkan, diikuti
pengendapan sedimen-sedimen Formasi Minas secara tidak selaras.

Sumber :

Barber, A.J., Crow, M.J. dan Milsom, J.S. 2005. Sumatra : Geology, Resources and
Tectonic Evolution. London : Geological Society of London
Slide presentasi Lemigas : The North Sumatera Basin : Geological Framework and
Petroleum System Rewiew
https://www.academia.edu/7362680/cekungan-sumatera (diakses 27 Februari 2015)